2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Relevansi Kritik Sosial Lagu “Didi Benjol” Karya Doel Sumbang Pada Era  Pasca Reformasi

Son Lomri by Son Lomri
March 9, 2024
in Esai
Relevansi Kritik Sosial Lagu “Didi Benjol” Karya Doel Sumbang Pada Era  Pasca Reformasi

Doel Sumbang | Gambar diolah dari internet

TAHUN 1980 hingga 1990-an, penulisan lirik lagu balada atau cerita dapat dibilang sangat musim, seperti pada lagu-lagu yang dibawakan oleh Doel Sumbang dan Iwan Fals, misalnya. Lagu-lagu mereka dapat kita jumpai, di mana di setiap lirik lagunya terdengar saperti bercerita atau semacam mendongeng sambil bernyanyi.

Doel Soembang merupakan penyanyi pop asal Sunda yang ketenarannya bisa disamakan dengan Iwan Fals. Bahkan, kemiripan di antara keduanya nyaris terdengar sama, terutama pada awal karir mereka, misalnya pada petikan gitar pada bagian pembuka atau intro.

Mereka dapat dikatakan sebagai genre musik pop atau folk yang menceritakan nasib bangsa yang lebih banyak kelamnya, mulai dari zaman Orba hingga reformasi, dan sesekali menyanyikan lagu cinta juga.

Proses kreatif Doel Sumbang lumayan panjang. Ia pernah berproses di sebuah komunitas teater bernama Braga yang di dalamnya terdapat sastrawan besar seperti Remy Sylado. Doel  banyak belajar dari Braga walaupun secara karakter ia masih dibayangi rasa kesukuannya hingga ciri khas yang tak bisa ditinggalkan dalam membuat lagu yang acak kadut alias nyeleneh, tengil dan vulgar. Karena itulah ia mesti di panggil dengan nama belakang “Sumbang”, yang artinya nyeleneh, oleh kawan-kawannya semasa di teater.

Mengapa saya menyebut ia dibayangi kesukuan yang memengaruhi kekonyolannya dalam membuat lagu? Masyarakat Sunda sendiri sudah lama mengenal sisindiran atau satir dalam bentuk lucu atau lawak dalam menyampaikan pesan moral. Atau orang-orang biasa menyebutnya bobodor. Ciri khas dari suku Sunda sendiri adalah masyarakatnya suka mendongeng atau bercerita, atau ngebanyol alias kuat sekali kalo ngomong dalam obrolan.

Setelah berduet dengan Nini Karlina dalam lagu Kalau Bulan Bisa Ngomong (1999) dan Ikko lewat lagu Cuma Kamu (1995), nama Dul Sumbang kian menjadi semakin tenar dan dicari-cari setiap keluaran kasetnya di pasaran. Mungkin lagu-lagu seperti itulah yang membuat orang-orang masih menganggap bahwa dia, Wahyu Affandi—nama asli Doel Sumbang, bukanlah penyanyi paling sinting, meski tetap tampak ia membuat lagu dengan cara paling beda. Padahal, tentu saja ia tetap “sinting” sebagaimana kerap ia ungkapkan dalam lirik lagu-lagunya.

Beberapa lagu dalam album Reformasi (1998), seperti Ceu Romlah, Polisi Noban, Aku Tidak Sinting, Didi Benjol, dan lain-lain, tetap menunjukkan bahwa ia masih bertahan dalam lagu atau musik balada.

Ia banyak menyajikan lirik berkisah humor yang jika didengar seperti main-main tetapi memuat satir yang justru bukan main-main mencekiknya. Bahkan dari lagu-lagunya yang seperti itulah kemudian membuat dirinya tujuh kali di penjara, empat kali pencekalan, dan tiga kali diancam dibunuh oleh orang tak dikenal (Tonton Kanal Youtube Budi Dalton NGOBAT Official)

Di masa-masa itu tentara seakan menjadi polisi moral yang tak segan menangkap siapa saja yang dianggap ngelantur pada pemerintahan Soeharto. Doel Sumbang dengan lirik-lirik yang ngelantur itu juga merasakan beberapa kali jadi “tangkapan”. Sampai-sampai, ia keseringan menjadi langganan tahanan di Kodim.

Tentara yang biasa menahannya sampai menjadi sangat akrab saat berada di dalam penahanan. Bahkan sesekali mereka bermain catur-mengobrol mengusir suntuk bersama.

Di satu moment, di sela-sela berbincang hangat pernah dirinya bertanya pada salah tentara di sana.

“Ke Pak, ieumah abi naros. Ari bapak resep teu ka lagu-lagu abdi? (Sebentar, pak, inimah saya nanya. Kalo bapak sebenarnya suka gak ke lagu-lagu saya?)”
“Resep atuh! (Sukalah!)”
“Naha atuh bet di tewak? (Terus kenapa kok saya ditangkap?)”
“Kan aingmah tugas, koplok! (Kan saya tugas, bego!)”

Mengira-ngira kembali lagu “Didi Benjol’ dan Relevansinya Saat ini

Melalui lagu berjudul Didi Benjol dalam album Reformasi tersebut, Doel Sumbang mencoba mengkritik keadaan pendidikan atau kepintaran seorang anak dalam sebuah keluarga miskin. Lagu itu menceritakan keadaan seorang anak yang bodohnya tidak ketulungan itu, akibat hidup di bawah garis kemiskinan pada sebuah keluarga di desa biasanya.

Didi Benjol sebagai tokoh utamanya dalam lagu, digambarkan memiliki keadaan dengan bibir sumbing bermata juling dan di kepalanya terdapat benjolan serta panu dan koreng di punggung. Adalah anak yang tak terurus dengan nasib kira-kira suram. Seperti pada penggalan lirik berikut:

Si Didi Benjol anaknya bego, bibirnya sumbing, matanya juling.
Tubuhnya kerempeng dan kurang gizi menghawatirkan organisasi kesehatan dunia.
Di betisnya banyak korengan dan di punggungnya ada panu besar membentuk gambar buaya.
Si Didi pelajar SD inpres tapi gobloknya kebangetan
Waktu gurunya bertanya “siapa President Filipina Di..?”
Didi cuma menjawab “Mang Engkos, Pak.”

Sebagai negara berkembang atau masih merangkak untuk maju di tahun-tahun 80-an dan sekitarnya, masyarakat yang masih buta huruf atau tidak bisa membaca kala itu masih cukup banyak dan memprihatinkan, terutama di pelosok pedesaan. Padahal di zaman Orde baru, Soeharto sebagai presiden sangatlah berkuasa. Tapi di tengah kekuasaan itu tak banyak ada program pembantaian buta huruf, justru yang terjadi adalah pembantaian manusia tahun 1965 dan penculikan hingga tahun 1999-an.

Dan pula sangat sulit mendeteksi bagaimana seseorang kekurangan gizi, atau seseorang yang buta huruf atau tidak bisa membaca, pada keluarga miskin. Sehingga saat itu muncul pola hidup bodo amat. Lingkungan masyarakat lapisan terbawah garis kemiskinan yang biasa hidup kumuh atau tidak kumuh-kumuh amat, tetapi sumber daya manusianya sama-sama di bawah rata-rata.

Hal demikian tentu saja dipengaruhi oleh apa yang mereka konsumsi dan kebiasaan seperti apa yang telah mereka terapkan. Tentu. Ekonomi dalam hal ini menjadi satu persoalan serius dalam menciptakan. Harus ada upaya keras untuk menciptakan gizi yang cukup dan pendidikan yang bagus, dalam sebuah keluarga, sebagai penunjang memberantas kebodohan.

Si Didi bukan guyon memang geblek kagak pernah ngapalin,
Kerja sehari-harinya cuma
Minta duit main layangan,
E bloon padahal umurnya sudah hampir delapan belas tahun
Ea itu si super bego.
Ibunya cuma penjual lotek kangkung dan rujak cuka.
Bapaknya cuma penjaja sumbu
kompor dan karet kolor
Yang selalu berharap agar si Didi kelak bisa
jadi pejabat tinggi tapi jangan korupsi
Wah jauh
Didi baru duduk di bangku kelas lima padahal di SD sudah hampir sebelas tahun
Waktu Didi duduk di bangku kelas empat, Didi pernah disidangkan di BP4 (Apaan tu?) Didi
Lantaran Didi bikin bunting putri Mr. Bejo yang menjabat sebagai direktur jenderal becak dan bemo
Nah. gituan tahu? Bisa, lagi

Kemiskinan pada masyarakat di dalam suatu negara tidak bisa diyakini bahwa hanya karena rakyatnya malas bekerja atau sebab pekerjaannya terlalu receh, tetapi ketersediaan lapangan pekerjaan dengan upah yang layak. Tingkat Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) pada suatu bangsa mesti pula menjadi perhitungan. Sebab hal tersebutlah yang sebenarnya adalah sumber penyakit sosial mengapa masyarakat tak pernah berkembang kepintarannya dalam pendidikan dan sejahtera hidupnya jika para pejabatnya masih suka korupsi dan sering tak berbuat adil pada pekerja atau setengah-setengah dalam menciptakan lapangan pekerjaan karena kemiskinan dipelihara saat itu.

Ha waktu ditanya pencipta lagu
Indonesia Raya aja
Ngejawabnya “Haji Oma Irama”
Ha haha itu mah Adu Domba atuh Didi…
Tempo hari si Didi menangis lantaran si bopi anjing kesayangannya ditembak mati oleh polisi sebab tanpa permisi berani gigit pantat Ibu Walikota
Nah itu terjadi ketika ibu walikota lewat di depan rumah si Didi
Dimana pada waktu itu ibu walikota jadi ketua tim penilai Lomba Kebersihan selokan antar kecamatan, Lomba kesehatan kakus antar RW dan lomba kebersihan belahan
pantat anak anak di bawah umur 13 tahun.
Mau mauan periksa yang begitu he.
Ibu ama Didi, sama sama aja, pret hahaha…

Indonesia adalah negara yang masih diliputi berbagai persoalan. Persoalan pendidikan, ketimpangan dan hukum serta keadilannya masih di garis persoalan juga. Seakan-akan tak pernah mau habis persoalan pada bangsa ini walau zaman sudah merdeka dua kali: dari Kolonial Penjajah dan Pemimpin yang diktator. Relevansi kiritik sosial pada lagu Didi Benjol dalam album Reformasi (1998) karya Doel Sumbang sangat mungkin masih dapat dirasakan hingga saat ini walaupun dengan kondisinya berbeda.

Semisal, pada fenomena buta huruf di zaman sekarang memang hampir tidak ada tapi bukan berarti sama sekali tidak ada. Paling tidak tak sebanyak zaman dulu. Namun, tentunya hal demikian marupakan tetap sebagai PR pemerintah yang punya wilayah untuk menyelesaikannya segera. Memberantas kebodohan sampai ke akar-akarnya. Tapi bagaimana kalau pemerintah itu sendiri yang bodoh, bukan rakyatnya? Nah ini saya tak tau caranya.

Yang jelas pemerintah selalu punya banyak cara mengejar ketertinggalan. Semisalnya, menggelar sekolah paket A-C merupakan jalan ninja mereka agar rakyatnya bisa baca dan punya ijazah untuk bekerja. Alih-alih menjadi baik, tapi justru menciptakan ruang hitam; jual beli ijazah di oleh oknum-oknum setempat. Sehingga kemudian menjadi tambahan catatan buruk pada budaya kita setelah budaya korupsi.

Kecerdasan Didi Benjol Kecerdasan Bangsa Kita?

Intelligence Quotient (IQ) atau kecerdasan rata-rata pada orang Indonesia adalah 78,49 — peringkat ke-126 dari 199 negara. Peringkat ke-10 di Asia dari 11 negara. Sedang pada Program for International Student Assessment (PISA) untuk tahun 2022, Indonesia menduduki peringkat ke-68 dari 81 negara.

Jika dibanding negara Malaysia yang kemerderkaannya lebih dulu dari kita, IQ mereka justru berada di peringkat ke-6 di Asia Tenggara setelah Thailand. Mereka lebih maju beberapa persen dari kita. Dari mata uang saja, nilai ringgit lebih besar dari rupiah. Sehingga indeks pendapatan masyarakat, pun lebih menjanjikan di negara tetangga. Apalagi kalau dihubungkan dengan Singapura, lebih jauh lagi. Sehingga banyak dari masyarakat kita melakukan atau memilih bekerja ke negara lain sebab pekerjaan di negara sendiri dianggap lebih sulit dan murah.

Pemerintah mesti merenungi lagu ‘Didi Benjol”. Bagaimana ekonomi mesti ditingkatkan karena berdampak sangat besar. Terutama pada kecerdasan generasi bangsa yang diimpikan kita semua sebagai generasi emas yang maju dan mengkilat.

Stunting memang sudah turun menjadi 21,6% dari 24,4%. Tapi itu mesti diturunkan lagi. Tinggal memantapkan kembali agar bisa lebih menipis. Sedang untuk gaji buruh dan karyawan pada kabupaten yang UMR-nya masih kecil, itulah baru yang mesti ditingkatkan. Agar mereka tak melahirkan generasi Didi Benjol karena tak cukup membeli ikan dan membayar les sepulang sekolah atau lainnya.

Tak hanya itu. Pemerintah juga mesti merenungkan kembali kastanisasi pendidikan yang kerap menjadi persoalan, terutama dalam hal fasilitas sebagai penunjang pembelajaran. Bukan rahasia umum lagi, bahwa hanya orang elit bisa ke sekolah elit swasta. Orang pas-pasan atau nyaris melarat hidupnya, mesti besar hati sekolah di negeri atau tempat biasa-biasa saja dengan toiletnya bau pesing dan atapnya yang masih bocor tak tersentuh pembangunan. Bayangkan hal tersebut jika masih ada sekarang di pelosok terutama. Bukan omong kosong jika nasib generasi kita bisa jadi Didi Benjol di tahun-tahun mendatang. {T]

Baca esai dan tulisan lain dari penulis SONHAJI ABDULLAH

Bicara “Topi Saya Bundar”, Bicara Definisi Kehormatan
Skenario Besar di Balik Tambahan Lirik Lagu “Bintang Kecil” di Bali | Meli tipat sing ada dagang
Catatan Sekilas tentang Musik Klasik, Mereka yang Terbaik di Piano Klasik, serta Pentingnya Pendidikan Musik
Tags: Doel SumbangIwan Falskritik sosiallagulagu baladamusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perempuan Dalam Politik Indonesia

Next Post

Hujan Deras Melanda Bali Utara, Bencana Terjadi di Mana-Mana

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Hujan Deras Melanda Bali Utara, Bencana Terjadi di Mana-Mana

Hujan Deras Melanda Bali Utara, Bencana Terjadi di Mana-Mana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co