2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Skenario Besar di Balik Tambahan Lirik Lagu “Bintang Kecil” di Bali | Meli tipat sing ada dagang

Gede Gita Wiastra by Gede Gita Wiastra
January 24, 2021
in Esai
Skenario Besar di Balik Tambahan Lirik Lagu “Bintang Kecil” di Bali | Meli tipat sing ada dagang

Ilustrasi tatkala.co [diolah dari sumber gambar di Google]

Orang Bali punya lagu Bintang Kecil versinya sendiri. Tak ada yang tahu, ini ulah siapa dan dimulai kapan. Jelasnya, orang Bali, dari anak-anak sampai orang tua, umumnya mengenal versi ini. 


Bintang kecil di langit yang biru

Amat banyak menghias angkasa

Aku ingin terbang dan menari

Jauh tinggi ke tempat kau berada


Liriknya asyik, pesannya kuat. Sungguh hebat Pak Dal karena mampu mencipta lagu dengan sempurna. Pantas lagu ini populer. Begitulah kata orang-orang yang mengulas lagu penyerta tumbuh anak Indonesia ini.

Ada pula yang mengkritik kesesatan pada liriknya. Tak ada bintang di langit yang biru, adanya di langit yang gelap, katanya. Berdasarkan pertimbangan rima, sahut seorang lainnya dengan niat membenarkan, kata yang benar bukan biru, tetapi tinggi. Jadi Bintang kecil di langit yang tinggi.

Tulisan ini bukan bermaksud mengulas bagian-bagian di atas. Tulisan ini hanya bercerita tentang lagu Bintang Kecil-nya orang Bali. Dikatakan milik orang Bali karena mengandung tambahan lirik berbahasa Bali. Dari hasil tanya-tanya, orang dari berbagai daerah di Bali rupanya mengenal versi ini. Jadi, dapat dikatakan populer. 

Begini! Usai menyanyikan lirik di atas, lagu bernada sederhana ini diberi tambahan lirik berikut.


Meli tipat sing ada dagang                         (Beli lontong tak ada dagang)

Meli kacang sing ngidang makpak            (Beli kacang tak bisa ngunyah)

Liriknya absurd, apalagi pesannya. Sungguh lancang si pencetus tambahan lirik ini. Kok bisa-bisanya versi ini populer. Begitulah kata seorang teman, panggil saja si Bingungis (karena sering bingung), yang tetiba mengingat lagu masa kecilnya itu. 

“Kok bisa meli tipat? Kok sing ada dagang?”, gerutunya, tentu dengan ekspresi bingung karena baru menyadari keunikan tambahan lirik itu. 

Si Fundamentalis bertanya, “Mengapa harus ditambahkan ya? Apa dirasa kurang?”

Si Konspi-rasis menyela “Ini benar-benar aneh! Kok bisa tambahan lirik itu sepopuler ini? Bagaimana proses penyebarannya? Ini pasti ulah elite lokal! Skenario apa yang ada di balik bintang kecil dan dagang tipat?

Yang lagi ngin-tips memberi pengakuan bahwa tambahan lirik Bintang Kecil yang didapatinya bukan hanya meli tipat dan meli kacang semata, tapi juga meli bubuh dan aes (maksudnya es krim). Begini lengkapnya!


Meli tipat sing ada dagang                         (Beli ketupat tak ada dagang)

Meli kacang sing ngidang makpak            (Beli kacang tak bisa ngunyah)

Meli bubuh sing ngidang nguluh               (Beli bubur tak bisa menelan)

Meli aes pesu tenges                                  (Beli es keluar ingus)


Bak virus, lirik lagu “Bintang Kecil”-nya orang Bali ini ternyata telah bermutasi. Mulai dari dagang tipat sampai aes pun terpapar.


“Nah itu!”, si Analitis memulai menyampaikan hasil analisisnya, “Sudah ketemu polanya. Kata seorang ahli, laku budaya tercermin dalam laku bahasa seseorang. Bila ini (suka nambahin) terkategori sebagai laku bahasa, mungkinkah ini cermin budaya orang Bali?”, tanya si Analitis (pertanyaannya biasanya akan dijawab olehnya sendiri).

“Orang Bali suka penuh. Citra penuh (meriah, berhias, bersolek) dapat ditemui di segala lini mulai dari pekarangan rumah hingga produk-produk keseniannya (lukisan, gamelan, ukiran, arsitektur), bahkan masakan Bali.”, kata si Analitis mengutip pernyataan Aryantha Soethama tentang orang Bali.

“Lalu?”

“Mungkin lirik Bintang Kecil dirasa terlalu pendek. Masih ada sisa nafas usai menyanyikan lirik lagu ini. Karena suka penuh dan agar penuh, sisa nafas tadi baiknya ditambahkan lirik, supaya tidak sia-sia. Asane sing genep pailehe, bila masih ada ruang kosong.”

“Kalau lagu lain kok tidak ditambahkan? Lagu anak lainnya kan liriknya juga pendek?”, kata Bingungis, tentu masih konsisten dengan wajah bingungnya.

“Walau sama-sama pendek, lagu anak lainnya kan sudah terisi penuh oleh senandung lalala atau hehehe di akhir liriknya. Yang lebih kreatif caca marica he hei pada lagu Anak Kambing Saya atau tek dung lalala pada lagu Burung Kakak Tua. Jadi, tidak perlu tambahan lagi! Pailehe sube genep!”, jawab si Analitis bermaksud meyakinkan.

Semua mengangguk, tanda menyetujuinya.

“Kok sing ada dagang? Kan dagang tipat dan kacang ada di mana-mana? Begitu juga dagang bubuh? Apalagi dagang aes? Apa saat lirik ini dibuat belum ada dagang ya? Dari lirik sing ada dagang, para pedagang terinspirasi medagang, agar ada dagang?” ulang salah satu di antara mereka.

“Masalahnya bukan terletak pada ada atau sing dagang. Tapi LI…, maksudku MELI!”, si Analitis kembali meneruskan sambil memelintir kumis tipisnya.

“ME ngaranin pengater, LI ngaranin ….,”

Celetukan si Maknais itu langsung dipotong (baca: disensor) si Analitis. “Bukan begitu! Lagu Bintang Kecil kan membicarakan hasrat (keinginan) anak ane joh gati sing tanggung-tanggung: terbang tinggi menggapai bintang hanya untuk menari. Coba pikir! Sementara itu, hasrat yang muncul pada lirik versi orang Bali ini ialah meli alias belanja.”

“Maksudmu orang Bali suka belanja, gitu? Semua orang juga suka belanja keles”, sela salah satu di antara mereka.

“Mungkin juga. Tapi maksudku,” lanjut si Analitis, “seluruh keinginan itu terasa sia-sia. Ini tercermin dari tambahan lirik sing ada dagang, sing ngidang makpak, sing ngidang nguluh. Which is, ini menggambarkan aktivitas konsumsi yang memprioritaskan keinginan (want), tinimbang kebutuhan (need)!  Dengan kata lain, kita telah membeli imaji-imaji (yang ditandai tipat, kacang, bubuh, aes) yang sesungguhnya tak ada gunanya (sing ngidang makpak, sing ngudang nguluh).” 

“Orientasi pada gaya hidup membuat orang-orang mengikuti trend. Bila trend-nya belanja, keterlibatan padanya adalah keterlibatan terhadap kehidupan. Belanja menjadi ukuran dari kebahagiaan dan kesenangan. Dulu ada istilah  populer dari Descartes: ‘Aku berpikir maka aku ada’. Saat tambahan lirik itu diciptakan jadi: ‘Aku belanja maka aku ada!’.

Artine, konsumerisme telah merasuk dalam pikiran dan tubuh kita sejak anak-anak not ci, serem to!  Pang ci nawang, menurut Baudrillard, …”

“Kreeeoook! kreeeokkk! kreeook!”, terdengar perut salah satu dari mereka protes memotong pernyataan menggebu-gebu si Analitis yang sejak tadi melafalkan kutipan-kutipan yang ia hafalkan dari artikel internet.

“Terik-terik gini, tipat cantok plus es daluman Warung NEW WOD kayaknya mantap!” potong si pemilik perut.

“Gas! ORDER!”, sahut semua orang.

“Oke! tipat cantok lima, pedas tiga, biasa dua, aes daluman lima, Oke fix! Bayar!”, ucap si Analitis, lalu menutup aplikasi pesan antar makanan online di gawainya. “Sampai mana tadi?”

Mereka kembali melanjutkan percakapan tentang Bintang Kecil sembari menunggu pesanan. [T]

_________________

BACA JUGA:

Menyanyikan “Bagimu Negeri”: Maaf, Kami Lupa Bagian yang Satu itu…

Foto: Mursal Buyung

Bicara “Topi Saya Bundar”, Bicara Definisi Kehormatan

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teknologi Berkembang, Budaya Bali Tetap Lestari

Next Post

Berkenalan dengan Karya Sastra Kuno Lewat Cara Kekinian | Novel “Jerum” Oka Rusmini

Gede Gita Wiastra

Gede Gita Wiastra

Suka bercerita, suka melucu, suka tertawa. Pernah menulis puisi, tapi lebih jago memusikkan atau melagukan puisi. Status menikah dengan (baru) satu anak

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Berkenalan dengan Karya Sastra Kuno Lewat Cara Kekinian | Novel “Jerum” Oka Rusmini

Berkenalan dengan Karya Sastra Kuno Lewat Cara Kekinian | Novel “Jerum” Oka Rusmini

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co