23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Skenario Besar di Balik Tambahan Lirik Lagu “Bintang Kecil” di Bali | Meli tipat sing ada dagang

Gede Gita Wiastra by Gede Gita Wiastra
January 24, 2021
in Esai
Skenario Besar di Balik Tambahan Lirik Lagu “Bintang Kecil” di Bali | Meli tipat sing ada dagang

Ilustrasi tatkala.co [diolah dari sumber gambar di Google]

Orang Bali punya lagu Bintang Kecil versinya sendiri. Tak ada yang tahu, ini ulah siapa dan dimulai kapan. Jelasnya, orang Bali, dari anak-anak sampai orang tua, umumnya mengenal versi ini. 


Bintang kecil di langit yang biru

Amat banyak menghias angkasa

Aku ingin terbang dan menari

Jauh tinggi ke tempat kau berada


Liriknya asyik, pesannya kuat. Sungguh hebat Pak Dal karena mampu mencipta lagu dengan sempurna. Pantas lagu ini populer. Begitulah kata orang-orang yang mengulas lagu penyerta tumbuh anak Indonesia ini.

Ada pula yang mengkritik kesesatan pada liriknya. Tak ada bintang di langit yang biru, adanya di langit yang gelap, katanya. Berdasarkan pertimbangan rima, sahut seorang lainnya dengan niat membenarkan, kata yang benar bukan biru, tetapi tinggi. Jadi Bintang kecil di langit yang tinggi.

Tulisan ini bukan bermaksud mengulas bagian-bagian di atas. Tulisan ini hanya bercerita tentang lagu Bintang Kecil-nya orang Bali. Dikatakan milik orang Bali karena mengandung tambahan lirik berbahasa Bali. Dari hasil tanya-tanya, orang dari berbagai daerah di Bali rupanya mengenal versi ini. Jadi, dapat dikatakan populer. 

Begini! Usai menyanyikan lirik di atas, lagu bernada sederhana ini diberi tambahan lirik berikut.


Meli tipat sing ada dagang                         (Beli lontong tak ada dagang)

Meli kacang sing ngidang makpak            (Beli kacang tak bisa ngunyah)

Liriknya absurd, apalagi pesannya. Sungguh lancang si pencetus tambahan lirik ini. Kok bisa-bisanya versi ini populer. Begitulah kata seorang teman, panggil saja si Bingungis (karena sering bingung), yang tetiba mengingat lagu masa kecilnya itu. 

“Kok bisa meli tipat? Kok sing ada dagang?”, gerutunya, tentu dengan ekspresi bingung karena baru menyadari keunikan tambahan lirik itu. 

Si Fundamentalis bertanya, “Mengapa harus ditambahkan ya? Apa dirasa kurang?”

Si Konspi-rasis menyela “Ini benar-benar aneh! Kok bisa tambahan lirik itu sepopuler ini? Bagaimana proses penyebarannya? Ini pasti ulah elite lokal! Skenario apa yang ada di balik bintang kecil dan dagang tipat?

Yang lagi ngin-tips memberi pengakuan bahwa tambahan lirik Bintang Kecil yang didapatinya bukan hanya meli tipat dan meli kacang semata, tapi juga meli bubuh dan aes (maksudnya es krim). Begini lengkapnya!


Meli tipat sing ada dagang                         (Beli ketupat tak ada dagang)

Meli kacang sing ngidang makpak            (Beli kacang tak bisa ngunyah)

Meli bubuh sing ngidang nguluh               (Beli bubur tak bisa menelan)

Meli aes pesu tenges                                  (Beli es keluar ingus)


Bak virus, lirik lagu “Bintang Kecil”-nya orang Bali ini ternyata telah bermutasi. Mulai dari dagang tipat sampai aes pun terpapar.


“Nah itu!”, si Analitis memulai menyampaikan hasil analisisnya, “Sudah ketemu polanya. Kata seorang ahli, laku budaya tercermin dalam laku bahasa seseorang. Bila ini (suka nambahin) terkategori sebagai laku bahasa, mungkinkah ini cermin budaya orang Bali?”, tanya si Analitis (pertanyaannya biasanya akan dijawab olehnya sendiri).

“Orang Bali suka penuh. Citra penuh (meriah, berhias, bersolek) dapat ditemui di segala lini mulai dari pekarangan rumah hingga produk-produk keseniannya (lukisan, gamelan, ukiran, arsitektur), bahkan masakan Bali.”, kata si Analitis mengutip pernyataan Aryantha Soethama tentang orang Bali.

“Lalu?”

“Mungkin lirik Bintang Kecil dirasa terlalu pendek. Masih ada sisa nafas usai menyanyikan lirik lagu ini. Karena suka penuh dan agar penuh, sisa nafas tadi baiknya ditambahkan lirik, supaya tidak sia-sia. Asane sing genep pailehe, bila masih ada ruang kosong.”

“Kalau lagu lain kok tidak ditambahkan? Lagu anak lainnya kan liriknya juga pendek?”, kata Bingungis, tentu masih konsisten dengan wajah bingungnya.

“Walau sama-sama pendek, lagu anak lainnya kan sudah terisi penuh oleh senandung lalala atau hehehe di akhir liriknya. Yang lebih kreatif caca marica he hei pada lagu Anak Kambing Saya atau tek dung lalala pada lagu Burung Kakak Tua. Jadi, tidak perlu tambahan lagi! Pailehe sube genep!”, jawab si Analitis bermaksud meyakinkan.

Semua mengangguk, tanda menyetujuinya.

“Kok sing ada dagang? Kan dagang tipat dan kacang ada di mana-mana? Begitu juga dagang bubuh? Apalagi dagang aes? Apa saat lirik ini dibuat belum ada dagang ya? Dari lirik sing ada dagang, para pedagang terinspirasi medagang, agar ada dagang?” ulang salah satu di antara mereka.

“Masalahnya bukan terletak pada ada atau sing dagang. Tapi LI…, maksudku MELI!”, si Analitis kembali meneruskan sambil memelintir kumis tipisnya.

“ME ngaranin pengater, LI ngaranin ….,”

Celetukan si Maknais itu langsung dipotong (baca: disensor) si Analitis. “Bukan begitu! Lagu Bintang Kecil kan membicarakan hasrat (keinginan) anak ane joh gati sing tanggung-tanggung: terbang tinggi menggapai bintang hanya untuk menari. Coba pikir! Sementara itu, hasrat yang muncul pada lirik versi orang Bali ini ialah meli alias belanja.”

“Maksudmu orang Bali suka belanja, gitu? Semua orang juga suka belanja keles”, sela salah satu di antara mereka.

“Mungkin juga. Tapi maksudku,” lanjut si Analitis, “seluruh keinginan itu terasa sia-sia. Ini tercermin dari tambahan lirik sing ada dagang, sing ngidang makpak, sing ngidang nguluh. Which is, ini menggambarkan aktivitas konsumsi yang memprioritaskan keinginan (want), tinimbang kebutuhan (need)!  Dengan kata lain, kita telah membeli imaji-imaji (yang ditandai tipat, kacang, bubuh, aes) yang sesungguhnya tak ada gunanya (sing ngidang makpak, sing ngudang nguluh).” 

“Orientasi pada gaya hidup membuat orang-orang mengikuti trend. Bila trend-nya belanja, keterlibatan padanya adalah keterlibatan terhadap kehidupan. Belanja menjadi ukuran dari kebahagiaan dan kesenangan. Dulu ada istilah  populer dari Descartes: ‘Aku berpikir maka aku ada’. Saat tambahan lirik itu diciptakan jadi: ‘Aku belanja maka aku ada!’.

Artine, konsumerisme telah merasuk dalam pikiran dan tubuh kita sejak anak-anak not ci, serem to!  Pang ci nawang, menurut Baudrillard, …”

“Kreeeoook! kreeeokkk! kreeook!”, terdengar perut salah satu dari mereka protes memotong pernyataan menggebu-gebu si Analitis yang sejak tadi melafalkan kutipan-kutipan yang ia hafalkan dari artikel internet.

“Terik-terik gini, tipat cantok plus es daluman Warung NEW WOD kayaknya mantap!” potong si pemilik perut.

“Gas! ORDER!”, sahut semua orang.

“Oke! tipat cantok lima, pedas tiga, biasa dua, aes daluman lima, Oke fix! Bayar!”, ucap si Analitis, lalu menutup aplikasi pesan antar makanan online di gawainya. “Sampai mana tadi?”

Mereka kembali melanjutkan percakapan tentang Bintang Kecil sembari menunggu pesanan. [T]

_________________

BACA JUGA:

Menyanyikan “Bagimu Negeri”: Maaf, Kami Lupa Bagian yang Satu itu…

Foto: Mursal Buyung

Bicara “Topi Saya Bundar”, Bicara Definisi Kehormatan

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teknologi Berkembang, Budaya Bali Tetap Lestari

Next Post

Berkenalan dengan Karya Sastra Kuno Lewat Cara Kekinian | Novel “Jerum” Oka Rusmini

Gede Gita Wiastra

Gede Gita Wiastra

Suka bercerita, suka melucu, suka tertawa. Pernah menulis puisi, tapi lebih jago memusikkan atau melagukan puisi. Status menikah dengan (baru) satu anak

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Berkenalan dengan Karya Sastra Kuno Lewat Cara Kekinian | Novel “Jerum” Oka Rusmini

Berkenalan dengan Karya Sastra Kuno Lewat Cara Kekinian | Novel “Jerum” Oka Rusmini

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co