24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyanyikan “Bagimu Negeri”: Maaf, Kami Lupa Bagian yang Satu itu…

Gede Gita Wiastra by Gede Gita Wiastra
February 2, 2018
in Opini

NEGERI, dengarkanlah curhatan kami. Akhir-akhir ini kami merasakan sesuatu yang aneh dalam diri kami. Ini benar-benar aneh. Seken-seken aneh! Mengapa tiap bernyanyi lagu wajib nasional “Padamu Negeri (Bagimu Negeri)”, kami selalu lupa lirik ketiga?

Ah, situ memangnya ingat? Coba nyanyi!

//Padamu negeri kami berjanji/Padamu negeri kami berbakti/ Padamu negeri kami mengabdi/ Bagimu Negeri jiwa raga kami…//

Eh, ingat? Jadi, Anda benar-benar ingat? Yah, kalau Anda ingat, tak jadi dong saya cerita. Ah, jangan dengarkan dia, Negeri! Cukup dengarkan curhatan kami!

***

Suatu kali dalam upacara, dinyanyikanlah lagu “Padamu Negeri (Bagimu Negeri)”. Kami (para peserta) bersiap. Tatapan mata lurus ke depan, tak lupa dada dibusungkan dan tangan memeras santan (bukan susu). Napas dalam dada telah siap menjelma nada.

Setelah aba-aba diisyaratkan, maka bernyanyilah kami: “Padamu negeri kami berjanji. Lirik itu tentu diucapkan dengan pasti dan tegas. Pun pada lirik kedua: Padamu negeri kami berbakti. Rasanya bulu kuduk mulai merinding, mata mulai berbinar, langit berubah nyala merah, kami merasa hanyut dalam suasana patriotik. Tentu, nada dan lirik yang kami ucapkan benar.

Nah, giliran lirik ketiga dilantunkan: Padamu negeri kami meng…, tiba-tiba kami mengubah notasi menjadi ritardando. Suara melemah dan hampir hilang. Kami tak bisa mengucapkan lirik itu. Kami lupa. Tetapi, sampai pada lirik terakhir, tiba-tiba kami kembali ke jalan yang benar, dengan yakin, keras, dan membahana mengucapkan: Bagimu negeri jiwa raga kami…

Begitulah, Negeri. Begitulah ilustrasi yang bisa kami gambarkan tentang fenomena menyanyikan lagu sakral karya Pak Khusbini, yang sejak kecil telah kami dengar dan nyanyikan itu. Semestinya, karena begitu akrab di telinga, kami tak melupakannya. Namun, pada kenyataannya kami benar-benar lupa. Sekian kali bernyanyi, sekian kali lupa. Lupa lirik ketiga: Padamu negeri kami mengabdi.

Di sanalah kadang kami merasa aneh. Ya, memang soal lupa lirik saat bernyanyi adalah hal yang biasa. Tapi, tiap nyanyi lagu itu kok selalu lupa lirik yang itu. Sekali lagi lirik yang itu: Padamu Negeri kami mengabdi. Lupa yang terjadi secara kolektif, bukankah itu hal yang aneh, Negeri?

Kami jadi curiga. Jangan-jangan, ini bukan lupa biasa, tetapi lupa yang telah mendarah daging, mungkin sampai ke tulang. Kami sengaja tidak mengingat itu. Kami sengaja melupakan “Padamu negeri kami mengabdi”.

Ah, jangan-jangan ini cerminan kami, Negeri. Iya, cerminan kami. Kami menemukan pola yang sama antara cara kami menyanyikan lagu “Padamu Negeri (Bagimu Negeri)” dengan cara kami menjadi anakmu (baca: Anak Negeri)”

Padamu Negeri Kami Berjanji

Seperti ilustrasi di atas, “padamu negeri kami berjanji”” diucapkan seterang janji-janji yang ditebarkan. Yang terang dan tegas hanya janjinya, soal menepatinya biarkan diterbangkan angin lalu. Mungkin jumlah janji yang (hanya) diucapkan melebihi jumlah hutang yang dibuat atas namaku, negeri yang katanya tanah surga ini. Munculnya, istilah “obral janji”, menandakan betapa mudahnya kami berjanji. Nasib janji di negeri ini, layaknya lapak baju di pasar, diobral murah-meriah-menanah, membusuk (Selain membuat program seribu rumah bersubsidi, tampaknya pemerintah juga perlu membuat toko-toko yang khusus mengobral janji. Kalau yang ini bukan tokonya yang disubsidi, tapi janjinya. Hohoho). Begitulah, Negeri. Namanya juga usaha!

Padamu Negeri Kami Berbakti

Lirik “padamu negeri kami berbakti” juga diucapkan dengan benar dan tepat. Begitu juga dengan kami yang juga benar-benar berbakti padamu, yang disebut negeri yang bisa menyulap tongkat kayu dan batu menjadi tanaman. Tak boleh ada satu orang pun yang menghinamu (padahal mengkritik). Lihatlah! Betapa gemasnya kami mengejek dan menghukum orang yang telah melakukan kesalahan sekecil apapun terhadapmu. Betapa marahnya kami, terhadap tetangga yang mengklaim milik kami. Betapa berangnya kami ketika kau diobrak-abrik oleh segelintir orang. Bukankah itu mencerminkan bahwa kami telah berbakti?

Padamu Negeri Kami Lupa yang Satu ini

Waduh, untuk yang satu ini, begini Negeri. Ini sungguh-sungguh Negeri, dalam diri kami masih ada kok rasa ingin mengabdi itu, hanya saja kami lupa (untuk tidak menyebut sengaja). Seperti kata Teori Interferensi, “Memori yang disimpan dalam jangka panjang masih tersimpan dalam gudang memori. Proses lupa terjadi karena memori yang satu mengganggu proses mengingat memori yang lainnya. Barangkali itu yang terjadi pada kami, ada satu hal baru yang mengganggu kami untuk mengingat “mengabdi””itu.

Dulu kami memang punya memori bersama Eyang John F. Kennedy. Saat itu, kami duduk bersama di bawah pohon yang rindang, belajar bersama Eyang. Sebelum kami berpisah, Eyang berkata, “”Jangan tanyakan apa yang diberikan negeri kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negerimu!”. Memori itu masih tersimpan, hanya saja diganggu memori baru yang diberikan si Hedonis kepada kami. “Jangan tanyakan apa yang diberikan negeri kepadamu, cukup tanyakan berapa yang diberikan negeri kepadamu!”, begitu katanya.

Tapi memori yang diberikan si Hedonis itu, benar adanya. Gara-gara itu, kami punya harapan baru yang membuat kami senang. Omong kosong kata si Eyang itu, Tapi, tenang saja negeri, jiwa raga kami tetap dirimu kok!”

Sekian, Negeri. Terima kasih telah mendengarkan! Da da…

***

Setelah mendengar curhatanku, Negeri pun berbisik dalam hati:

“Memang benar kata George Orwell, “Manusia hanya mengabdi pada dirinya sendiri”. Hohohoho. Seperti ilustrasi di atas setelah kalian lupa mengabdi, lagi-lagi dengan yakin, keras, dan membahana kalian mengucapkan: BAGIMU NEGERI JIWA RAGA KAMI! Ambil smartphone, berswafoto berlatar merah-putih-buka media sosial-unggah foto. Tak lupa dengan #SayaIndonesiaSayaPancasila.” (T)”

 

Tags: Indonesialagulagu wajibNegeri
Share230TweetSendShareSend
Previous Post

Kambali Zutas# Camar-Camar di Teluk Benoa, Kepada Gadis Seksi Kolong Underpass

Next Post

Pada Bagian itu, Yo Terbunuh

Gede Gita Wiastra

Gede Gita Wiastra

Suka bercerita, suka melucu, suka tertawa. Pernah menulis puisi, tapi lebih jago memusikkan atau melagukan puisi. Status menikah dengan (baru) satu anak

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Pada Bagian itu, Yo Terbunuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co