2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyanyikan “Bagimu Negeri”: Maaf, Kami Lupa Bagian yang Satu itu…

Gede Gita Wiastra by Gede Gita Wiastra
February 2, 2018
in Opini

NEGERI, dengarkanlah curhatan kami. Akhir-akhir ini kami merasakan sesuatu yang aneh dalam diri kami. Ini benar-benar aneh. Seken-seken aneh! Mengapa tiap bernyanyi lagu wajib nasional “Padamu Negeri (Bagimu Negeri)”, kami selalu lupa lirik ketiga?

Ah, situ memangnya ingat? Coba nyanyi!

//Padamu negeri kami berjanji/Padamu negeri kami berbakti/ Padamu negeri kami mengabdi/ Bagimu Negeri jiwa raga kami…//

Eh, ingat? Jadi, Anda benar-benar ingat? Yah, kalau Anda ingat, tak jadi dong saya cerita. Ah, jangan dengarkan dia, Negeri! Cukup dengarkan curhatan kami!

***

Suatu kali dalam upacara, dinyanyikanlah lagu “Padamu Negeri (Bagimu Negeri)”. Kami (para peserta) bersiap. Tatapan mata lurus ke depan, tak lupa dada dibusungkan dan tangan memeras santan (bukan susu). Napas dalam dada telah siap menjelma nada.

Setelah aba-aba diisyaratkan, maka bernyanyilah kami: “Padamu negeri kami berjanji. Lirik itu tentu diucapkan dengan pasti dan tegas. Pun pada lirik kedua: Padamu negeri kami berbakti. Rasanya bulu kuduk mulai merinding, mata mulai berbinar, langit berubah nyala merah, kami merasa hanyut dalam suasana patriotik. Tentu, nada dan lirik yang kami ucapkan benar.

Nah, giliran lirik ketiga dilantunkan: Padamu negeri kami meng…, tiba-tiba kami mengubah notasi menjadi ritardando. Suara melemah dan hampir hilang. Kami tak bisa mengucapkan lirik itu. Kami lupa. Tetapi, sampai pada lirik terakhir, tiba-tiba kami kembali ke jalan yang benar, dengan yakin, keras, dan membahana mengucapkan: Bagimu negeri jiwa raga kami…

Begitulah, Negeri. Begitulah ilustrasi yang bisa kami gambarkan tentang fenomena menyanyikan lagu sakral karya Pak Khusbini, yang sejak kecil telah kami dengar dan nyanyikan itu. Semestinya, karena begitu akrab di telinga, kami tak melupakannya. Namun, pada kenyataannya kami benar-benar lupa. Sekian kali bernyanyi, sekian kali lupa. Lupa lirik ketiga: Padamu negeri kami mengabdi.

Di sanalah kadang kami merasa aneh. Ya, memang soal lupa lirik saat bernyanyi adalah hal yang biasa. Tapi, tiap nyanyi lagu itu kok selalu lupa lirik yang itu. Sekali lagi lirik yang itu: Padamu Negeri kami mengabdi. Lupa yang terjadi secara kolektif, bukankah itu hal yang aneh, Negeri?

Kami jadi curiga. Jangan-jangan, ini bukan lupa biasa, tetapi lupa yang telah mendarah daging, mungkin sampai ke tulang. Kami sengaja tidak mengingat itu. Kami sengaja melupakan “Padamu negeri kami mengabdi”.

Ah, jangan-jangan ini cerminan kami, Negeri. Iya, cerminan kami. Kami menemukan pola yang sama antara cara kami menyanyikan lagu “Padamu Negeri (Bagimu Negeri)” dengan cara kami menjadi anakmu (baca: Anak Negeri)”

Padamu Negeri Kami Berjanji

Seperti ilustrasi di atas, “padamu negeri kami berjanji”” diucapkan seterang janji-janji yang ditebarkan. Yang terang dan tegas hanya janjinya, soal menepatinya biarkan diterbangkan angin lalu. Mungkin jumlah janji yang (hanya) diucapkan melebihi jumlah hutang yang dibuat atas namaku, negeri yang katanya tanah surga ini. Munculnya, istilah “obral janji”, menandakan betapa mudahnya kami berjanji. Nasib janji di negeri ini, layaknya lapak baju di pasar, diobral murah-meriah-menanah, membusuk (Selain membuat program seribu rumah bersubsidi, tampaknya pemerintah juga perlu membuat toko-toko yang khusus mengobral janji. Kalau yang ini bukan tokonya yang disubsidi, tapi janjinya. Hohoho). Begitulah, Negeri. Namanya juga usaha!

Padamu Negeri Kami Berbakti

Lirik “padamu negeri kami berbakti” juga diucapkan dengan benar dan tepat. Begitu juga dengan kami yang juga benar-benar berbakti padamu, yang disebut negeri yang bisa menyulap tongkat kayu dan batu menjadi tanaman. Tak boleh ada satu orang pun yang menghinamu (padahal mengkritik). Lihatlah! Betapa gemasnya kami mengejek dan menghukum orang yang telah melakukan kesalahan sekecil apapun terhadapmu. Betapa marahnya kami, terhadap tetangga yang mengklaim milik kami. Betapa berangnya kami ketika kau diobrak-abrik oleh segelintir orang. Bukankah itu mencerminkan bahwa kami telah berbakti?

Padamu Negeri Kami Lupa yang Satu ini

Waduh, untuk yang satu ini, begini Negeri. Ini sungguh-sungguh Negeri, dalam diri kami masih ada kok rasa ingin mengabdi itu, hanya saja kami lupa (untuk tidak menyebut sengaja). Seperti kata Teori Interferensi, “Memori yang disimpan dalam jangka panjang masih tersimpan dalam gudang memori. Proses lupa terjadi karena memori yang satu mengganggu proses mengingat memori yang lainnya. Barangkali itu yang terjadi pada kami, ada satu hal baru yang mengganggu kami untuk mengingat “mengabdi””itu.

Dulu kami memang punya memori bersama Eyang John F. Kennedy. Saat itu, kami duduk bersama di bawah pohon yang rindang, belajar bersama Eyang. Sebelum kami berpisah, Eyang berkata, “”Jangan tanyakan apa yang diberikan negeri kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negerimu!”. Memori itu masih tersimpan, hanya saja diganggu memori baru yang diberikan si Hedonis kepada kami. “Jangan tanyakan apa yang diberikan negeri kepadamu, cukup tanyakan berapa yang diberikan negeri kepadamu!”, begitu katanya.

Tapi memori yang diberikan si Hedonis itu, benar adanya. Gara-gara itu, kami punya harapan baru yang membuat kami senang. Omong kosong kata si Eyang itu, Tapi, tenang saja negeri, jiwa raga kami tetap dirimu kok!”

Sekian, Negeri. Terima kasih telah mendengarkan! Da da…

***

Setelah mendengar curhatanku, Negeri pun berbisik dalam hati:

“Memang benar kata George Orwell, “Manusia hanya mengabdi pada dirinya sendiri”. Hohohoho. Seperti ilustrasi di atas setelah kalian lupa mengabdi, lagi-lagi dengan yakin, keras, dan membahana kalian mengucapkan: BAGIMU NEGERI JIWA RAGA KAMI! Ambil smartphone, berswafoto berlatar merah-putih-buka media sosial-unggah foto. Tak lupa dengan #SayaIndonesiaSayaPancasila.” (T)”

 

Tags: Indonesialagulagu wajibNegeri
Share230TweetSendShareSend
Previous Post

Kambali Zutas# Camar-Camar di Teluk Benoa, Kepada Gadis Seksi Kolong Underpass

Next Post

Pada Bagian itu, Yo Terbunuh

Gede Gita Wiastra

Gede Gita Wiastra

Suka bercerita, suka melucu, suka tertawa. Pernah menulis puisi, tapi lebih jago memusikkan atau melagukan puisi. Status menikah dengan (baru) satu anak

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

Pada Bagian itu, Yo Terbunuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co