22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Nyepi Tanpa Pecalang, Beranikah Kita?

I Gede Teddy Setiadi by I Gede Teddy Setiadi
March 28, 2023
in Esai
Hari Nyepi Tanpa Pecalang, Beranikah Kita?

Foto ilustrasi dari penulis

HARI RAYA NYEPI Tahun Saka 1945 sudah selesai. Kini aktivitas masyarakat Bali sudah mulai tampak normal kembali. Kepulan asap kendaraan yang membuat sesak sudah mulai kita hirup kembali. Bising bunyi knalpot dan suara klakson kendaraan menjadi normal kembali seperti hari-hari normal sebelumnya. Satu lagi yang mungkin sangat penting sekali yaitu sinyal Internet sudah mulai pulih normal kembali.

Hari Raya Nyepi, terutama di Bali, mungkin lebih sangat terasa. Masyarakat Bali yang sudah kita tahu sendiri adalah masyarakat yang mayoritas penduduknya beragama Hindu yang tentu, oleh karena itu, perayaan Nyepi di Bali menjadi perayaan tahunan yang masih dilaksanakan lengkap dengan menjalankan Catur Berata Penyepian.

Di Bali, masyarakat non Hindu mengikuti aturan selama perayaan hari raya Nyepi seperti ikut tidak bepergian, ikut tidak menyalakan lampu ketika malam hari. Untuk masyarakat yang beragama Islam, mereka beribadah tidak menggunakan pengeras suara. Toleransi tak perlu diragukan lagi. Jika ada riak kecil, itu hanya beberapa orang saja yang mungkin belum paham sepenuhnya tentang Nyepi dan juga tentang toleransi.

Banyak warga non Hindu yang ikut tertib mentaati aturan-aturan yang disepakati pada saat perayaan Nyepi. Bukan hanya pada Hari Nyepi tahun Saka 1945 ini, namun juga pada perayaan-perayaan Nyepi tahun-ahun sebelumnya. Bahkan Banser dan organisasi mayarakat agama lain pun ikut membantu pecalang dalam hal menjaga keamanan bersama agar perayaan Nyepi berlangsung dengan lancar dan hikmat.

Penjagaan oleh pecalang dan unsur keamanan atau organisasi masyarakat lainnya yang disiagakan oleh masing-masing Desa Adat tujuannya, selain mengamankan situasi dalam hal keamanan pada saat perayaan Nyepi, juga menjadikan masyarakat taat menjalankan pantangan yang ada di catur berata penyepian, yakni Amati Geni (tidak menyalakan api) , Amati Karya (tidak berkerja) , Amati Lelungan (tidak bepergian) dan Amati Lelanguan (tidak mencari Hiburan).

Para penjaga keamanan, dalam hal ini pecalang dan unsur yang terlibat lainnya, tidak segan untuk menghimbau kepada masyarakat yang melanggar agar kiranya dapat mematuhi pantangan yang ada di Catur Berata Penyepian.

Jangankan untuk menyalakan pengeras suara atau bepergian keluar rumah, menyalakan api untuk memasak saja saya rasa banyak di antara masyarakat yang takut karena mungkin ada beberapa dari Desa Adat yang menjalankan sangsi ke masyarakatnya bilamana ditemukan pelanggaran-pelanggaran dalam pelaksanaan Catur Berata Penyepian.

Penjagaan oleh unsur keamanan seperti pecalang dan dari unsur lainnya sepertinya harus dan sangat perlu dilakukan agar pelaksaan Nyepi berjalan dengan hitmat. Bahkan kehitmatan perayaan Nyepi oleh masyarakat Bali juga dipikirkan oleh Pemerintah Provinsi Bali, salah satunya mematikan jaringan Internet untuk masyarakat. Hanya obyek-obyek yang dianggap vital saja yang masih bisa beroperasi.

Mungkin dimatikannya jaringan internet untuk masyarakat adalah salah satu cara pemerintah membantu masyarakat Bali terkusus bagi umat yang menjalankan Catur Berata Penyepian agar kiranya lebih fokus dan khusuk menjalankan perayaan Nyepi.

Selain makna dan arti luas dari perayaan Nyepi yang dilaksanakan setiap satu tahun ini, secara filosofi, sederhanya, perayaan Nyepi adalah menghentikan sejenak rutinitas-rutinitas dan ini menjadi ajang perenungan diri.

Nyepi menjadi proses mengintrofeksi diri sendiri, atau memberikan ruang bagi alam semesta dan mahluk lainnya untuk merasakan kebebasan sehari tanpa gangguan dari kita sebagai manusia.  

Seperti halnya sebuah lagu yang dinyanyikan salah satu band dari Bali, yaitu Navicula, yang mengangkat tema tentang Nyepi yang dilaksanakan di Bali. Salah satu liriknya berbunyi “saat semua semakin cepat Bali berani berhenti dan menyepi”.

Lirik  itu seakan menjadi penegasan bahwa hiruk pikuk rutinitas masyarakat Bali dan kegiatan gemerlap pariwisata Bali yang begitu derasnya dihentikan dengan perayaan hari raya tahunan yang di sebut sebagai Nyepi. Dalam sehari Bali menjadi sepi, menepi, sunyi, hening.

Bali dengan lalu lintas penerbangannya yang menjadi salah satu penerbangan tersibuk di Indonesia, aktifitas bising club malam di Kuta yang hampir setiap hari terdengar, asap kendaraan dan asap pabrik yang ada di Bali yang hampir setiap hari kita hirup, aksi penebangan pohon, itu semua terhenti.

Tetapi membuka pikiran tentang memaknai perayaan Nyepi di era sekarang, memang tidaklah mudah. Jangankan dituntut untuk menjalankan catur berata penyepian, dimatikan sinyal internet saja sebagian dari kita bahkan saya sendiri sudah kalang kabut atau banyak yang kontra dengan kebijakan ini.

Bahkan pada kenyataannya masih banyak sekali di antara kita yang sengaja menjadikan momen hari raya Nyepi menjadi ajang turun ke jalan raya sekedar ingin melepas penat karena seharian di dalam rumah apalagi tanpa adanya jaringan internet.

Tanpa ingin menjadi orang yang dengan keterbatasan ilmu pengetahuan tentang arti Nyepi itu sendiri lalu banyak mengajarkan tentang bagaimana seharusnya menjalani penyepian itu sendiri.

Tetapi,  sebagai umat Hindu yang setiap tahun menjalankan Nyepi, yang kita anggap dan setuju bahwa hari Nyepi adalah hari raya suci, maka bukankah kita harus ikut menyucikan dari hari raya kita ini?

Jika tulisan awal membahas tentang bagaimana toleransi yang terjadi di Bali dan dilakukan oleh umat beraga lain tentang perayaan Nyepi itu sendiri, kita sendiri sebagai masyarakat yang seharusnya menjadi pelaku atau pelaksana dari hari raya Nyepi ini tidak mentaatinya.

jangan salahkan kemudian jika ada peristiwa seperti beberapa tahun silam yang dimana masyarakat yang tidak beragama Hindu mengunggah kegiatan mereka pada saat perayaan Nyepi di media sosial, lalu banyak dari kita masyarakat Hindu menghujat perbuatan tersebut.

Selain fungsi pengawasan dari pecalang, maksud dimatikannya internet adalah untuk mengantisipasi keamanan dan menjaga kekusukan masyarakat agar bisa menjalankan Nyepi.

Yang paling penting adalah bagaimana kita sebagai umat Hindu yang seharusnya menjalankan dan yang dituntut menjadi contoh agar mentaati catur berata penyepian itu sendiri.

Tanpa harus menjadi guru, sebenarnya hal paling simpel yang bisa dilakukan pada saat Nyepi adalah dengan cukup tidak bepergian saja. Jika dirasa keempat pantangan tersebut sangat sulit dijalankan layaknya seperti saya yang tidak kuat puasa , yang masih menyalakan alat elektronik, setidaknya tidak bepergian saja itu menurut saya sudah lebih dari cukup dari pada tidak sama sekali .

Tetapi sekali lagi ini bukan masalah hal paling benar atau paling salah, bukan juga tentang paling baik dan yang lain buruk, bukan tentang menggurui atau tidak, tetapi lebih sederhana dari itu, hanya mengajak lebih membuka diri tentang bagaimana beretika dalam berhari raya .

Etika dalam berhari raya yang dimaksud adalah lebih menghargai hari raya sendiri. Tidak menghujat jika ada yang tidak menghargai hari raya kita jika kita sendiri saja tidak bisa menghargai hari raya kita. Etika dalam berhari raya juga bermaksud lebih bisa memaknai filosofi dari setiap hari raya yang kita jalankan .

Bukan tentang memperdebatkan siapa yang lebih baik dan tidak baik dalam menjalaninya , bukan tentang salah dan benarnya perilaku kita atau orang lain dalam hal memaknai hari raya suci kita . Tetapi lebih sederhana hanya dengan cukup menghormati apa yang kiranya menjadi landasan atau prinsip dasar dari hari raya itu sendiri .

Penjagaan oleh pecalang dan mematikan internet saja tidaklah akan cukup jika di antara kita tidak bisa memaknai dari perayaan hari raya Nyepi. Himbauan tidak menggunakan pengeras suara kepada umat yang beragama muslim yang ingin menjalankan ibadahnya, tidak akan cukup jika kita sendiri sebagai umat yang menjalankan Nyepi tidak memberikan ruang kepada mahluk lain untuk bebas walau sehari saja.

Perayaan Nyepi dan menjalankan catur berata penyepian seharusnya tidak menunggu arahan dari pemerintan atau Desa Adat melalui pecalangnya. Perayaan Nyepi atau sepi sesungguhnya adalah mulai dari hati lalu pikiran berikutnya adalah tindakan kita untuk lebih beretika dalam perayaan yang suci ini.

Kita sebaiknya menjadi pecalang dalam diri kita sendiri. Sehingga kita tak perlu takut pada pecalang desa adat, tapi takut pada diri sendiri. Kita mengawasai diri sendiri. Jika semua warga mengawasai dirinya sendiri, maka Nyepi barangkali tak memerlukan pecalang lagi.

Sebagai penutup, di penggalan lagu Navicula menyebutkan saat semua semakin cepat Bali Berani Berhenti dan menyepi. Sekarang saya akan tambahkan dan ganti menjadi “saat semua semakin cepat, Bali berani Nyepi tanpa pecalang dan wifi”. [T]

Tags: desa adatHari Raya Nyepihindupecalang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Manchika, Jegeg Buleleng 2023: “Everything Happens for A Reason and Everthing is Possible”

Next Post

Menikmati Tiga Peran Berbeda Sebagai Sosok Wanita

I Gede Teddy Setiadi

I Gede Teddy Setiadi

Lahir di Desa Pedawa. Kini tinggal di Singaraja

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Menikmati Tiga Peran Berbeda Sebagai Sosok Wanita

Menikmati Tiga Peran Berbeda Sebagai Sosok Wanita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co