2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Nyepi Tanpa Pecalang, Beranikah Kita?

I Gede Teddy Setiadi by I Gede Teddy Setiadi
March 28, 2023
in Esai
Hari Nyepi Tanpa Pecalang, Beranikah Kita?

Foto ilustrasi dari penulis

HARI RAYA NYEPI Tahun Saka 1945 sudah selesai. Kini aktivitas masyarakat Bali sudah mulai tampak normal kembali. Kepulan asap kendaraan yang membuat sesak sudah mulai kita hirup kembali. Bising bunyi knalpot dan suara klakson kendaraan menjadi normal kembali seperti hari-hari normal sebelumnya. Satu lagi yang mungkin sangat penting sekali yaitu sinyal Internet sudah mulai pulih normal kembali.

Hari Raya Nyepi, terutama di Bali, mungkin lebih sangat terasa. Masyarakat Bali yang sudah kita tahu sendiri adalah masyarakat yang mayoritas penduduknya beragama Hindu yang tentu, oleh karena itu, perayaan Nyepi di Bali menjadi perayaan tahunan yang masih dilaksanakan lengkap dengan menjalankan Catur Berata Penyepian.

Di Bali, masyarakat non Hindu mengikuti aturan selama perayaan hari raya Nyepi seperti ikut tidak bepergian, ikut tidak menyalakan lampu ketika malam hari. Untuk masyarakat yang beragama Islam, mereka beribadah tidak menggunakan pengeras suara. Toleransi tak perlu diragukan lagi. Jika ada riak kecil, itu hanya beberapa orang saja yang mungkin belum paham sepenuhnya tentang Nyepi dan juga tentang toleransi.

Banyak warga non Hindu yang ikut tertib mentaati aturan-aturan yang disepakati pada saat perayaan Nyepi. Bukan hanya pada Hari Nyepi tahun Saka 1945 ini, namun juga pada perayaan-perayaan Nyepi tahun-ahun sebelumnya. Bahkan Banser dan organisasi mayarakat agama lain pun ikut membantu pecalang dalam hal menjaga keamanan bersama agar perayaan Nyepi berlangsung dengan lancar dan hikmat.

Penjagaan oleh pecalang dan unsur keamanan atau organisasi masyarakat lainnya yang disiagakan oleh masing-masing Desa Adat tujuannya, selain mengamankan situasi dalam hal keamanan pada saat perayaan Nyepi, juga menjadikan masyarakat taat menjalankan pantangan yang ada di catur berata penyepian, yakni Amati Geni (tidak menyalakan api) , Amati Karya (tidak berkerja) , Amati Lelungan (tidak bepergian) dan Amati Lelanguan (tidak mencari Hiburan).

Para penjaga keamanan, dalam hal ini pecalang dan unsur yang terlibat lainnya, tidak segan untuk menghimbau kepada masyarakat yang melanggar agar kiranya dapat mematuhi pantangan yang ada di Catur Berata Penyepian.

Jangankan untuk menyalakan pengeras suara atau bepergian keluar rumah, menyalakan api untuk memasak saja saya rasa banyak di antara masyarakat yang takut karena mungkin ada beberapa dari Desa Adat yang menjalankan sangsi ke masyarakatnya bilamana ditemukan pelanggaran-pelanggaran dalam pelaksanaan Catur Berata Penyepian.

Penjagaan oleh unsur keamanan seperti pecalang dan dari unsur lainnya sepertinya harus dan sangat perlu dilakukan agar pelaksaan Nyepi berjalan dengan hitmat. Bahkan kehitmatan perayaan Nyepi oleh masyarakat Bali juga dipikirkan oleh Pemerintah Provinsi Bali, salah satunya mematikan jaringan Internet untuk masyarakat. Hanya obyek-obyek yang dianggap vital saja yang masih bisa beroperasi.

Mungkin dimatikannya jaringan internet untuk masyarakat adalah salah satu cara pemerintah membantu masyarakat Bali terkusus bagi umat yang menjalankan Catur Berata Penyepian agar kiranya lebih fokus dan khusuk menjalankan perayaan Nyepi.

Selain makna dan arti luas dari perayaan Nyepi yang dilaksanakan setiap satu tahun ini, secara filosofi, sederhanya, perayaan Nyepi adalah menghentikan sejenak rutinitas-rutinitas dan ini menjadi ajang perenungan diri.

Nyepi menjadi proses mengintrofeksi diri sendiri, atau memberikan ruang bagi alam semesta dan mahluk lainnya untuk merasakan kebebasan sehari tanpa gangguan dari kita sebagai manusia.  

Seperti halnya sebuah lagu yang dinyanyikan salah satu band dari Bali, yaitu Navicula, yang mengangkat tema tentang Nyepi yang dilaksanakan di Bali. Salah satu liriknya berbunyi “saat semua semakin cepat Bali berani berhenti dan menyepi”.

Lirik  itu seakan menjadi penegasan bahwa hiruk pikuk rutinitas masyarakat Bali dan kegiatan gemerlap pariwisata Bali yang begitu derasnya dihentikan dengan perayaan hari raya tahunan yang di sebut sebagai Nyepi. Dalam sehari Bali menjadi sepi, menepi, sunyi, hening.

Bali dengan lalu lintas penerbangannya yang menjadi salah satu penerbangan tersibuk di Indonesia, aktifitas bising club malam di Kuta yang hampir setiap hari terdengar, asap kendaraan dan asap pabrik yang ada di Bali yang hampir setiap hari kita hirup, aksi penebangan pohon, itu semua terhenti.

Tetapi membuka pikiran tentang memaknai perayaan Nyepi di era sekarang, memang tidaklah mudah. Jangankan dituntut untuk menjalankan catur berata penyepian, dimatikan sinyal internet saja sebagian dari kita bahkan saya sendiri sudah kalang kabut atau banyak yang kontra dengan kebijakan ini.

Bahkan pada kenyataannya masih banyak sekali di antara kita yang sengaja menjadikan momen hari raya Nyepi menjadi ajang turun ke jalan raya sekedar ingin melepas penat karena seharian di dalam rumah apalagi tanpa adanya jaringan internet.

Tanpa ingin menjadi orang yang dengan keterbatasan ilmu pengetahuan tentang arti Nyepi itu sendiri lalu banyak mengajarkan tentang bagaimana seharusnya menjalani penyepian itu sendiri.

Tetapi,  sebagai umat Hindu yang setiap tahun menjalankan Nyepi, yang kita anggap dan setuju bahwa hari Nyepi adalah hari raya suci, maka bukankah kita harus ikut menyucikan dari hari raya kita ini?

Jika tulisan awal membahas tentang bagaimana toleransi yang terjadi di Bali dan dilakukan oleh umat beraga lain tentang perayaan Nyepi itu sendiri, kita sendiri sebagai masyarakat yang seharusnya menjadi pelaku atau pelaksana dari hari raya Nyepi ini tidak mentaatinya.

jangan salahkan kemudian jika ada peristiwa seperti beberapa tahun silam yang dimana masyarakat yang tidak beragama Hindu mengunggah kegiatan mereka pada saat perayaan Nyepi di media sosial, lalu banyak dari kita masyarakat Hindu menghujat perbuatan tersebut.

Selain fungsi pengawasan dari pecalang, maksud dimatikannya internet adalah untuk mengantisipasi keamanan dan menjaga kekusukan masyarakat agar bisa menjalankan Nyepi.

Yang paling penting adalah bagaimana kita sebagai umat Hindu yang seharusnya menjalankan dan yang dituntut menjadi contoh agar mentaati catur berata penyepian itu sendiri.

Tanpa harus menjadi guru, sebenarnya hal paling simpel yang bisa dilakukan pada saat Nyepi adalah dengan cukup tidak bepergian saja. Jika dirasa keempat pantangan tersebut sangat sulit dijalankan layaknya seperti saya yang tidak kuat puasa , yang masih menyalakan alat elektronik, setidaknya tidak bepergian saja itu menurut saya sudah lebih dari cukup dari pada tidak sama sekali .

Tetapi sekali lagi ini bukan masalah hal paling benar atau paling salah, bukan juga tentang paling baik dan yang lain buruk, bukan tentang menggurui atau tidak, tetapi lebih sederhana dari itu, hanya mengajak lebih membuka diri tentang bagaimana beretika dalam berhari raya .

Etika dalam berhari raya yang dimaksud adalah lebih menghargai hari raya sendiri. Tidak menghujat jika ada yang tidak menghargai hari raya kita jika kita sendiri saja tidak bisa menghargai hari raya kita. Etika dalam berhari raya juga bermaksud lebih bisa memaknai filosofi dari setiap hari raya yang kita jalankan .

Bukan tentang memperdebatkan siapa yang lebih baik dan tidak baik dalam menjalaninya , bukan tentang salah dan benarnya perilaku kita atau orang lain dalam hal memaknai hari raya suci kita . Tetapi lebih sederhana hanya dengan cukup menghormati apa yang kiranya menjadi landasan atau prinsip dasar dari hari raya itu sendiri .

Penjagaan oleh pecalang dan mematikan internet saja tidaklah akan cukup jika di antara kita tidak bisa memaknai dari perayaan hari raya Nyepi. Himbauan tidak menggunakan pengeras suara kepada umat yang beragama muslim yang ingin menjalankan ibadahnya, tidak akan cukup jika kita sendiri sebagai umat yang menjalankan Nyepi tidak memberikan ruang kepada mahluk lain untuk bebas walau sehari saja.

Perayaan Nyepi dan menjalankan catur berata penyepian seharusnya tidak menunggu arahan dari pemerintan atau Desa Adat melalui pecalangnya. Perayaan Nyepi atau sepi sesungguhnya adalah mulai dari hati lalu pikiran berikutnya adalah tindakan kita untuk lebih beretika dalam perayaan yang suci ini.

Kita sebaiknya menjadi pecalang dalam diri kita sendiri. Sehingga kita tak perlu takut pada pecalang desa adat, tapi takut pada diri sendiri. Kita mengawasai diri sendiri. Jika semua warga mengawasai dirinya sendiri, maka Nyepi barangkali tak memerlukan pecalang lagi.

Sebagai penutup, di penggalan lagu Navicula menyebutkan saat semua semakin cepat Bali Berani Berhenti dan menyepi. Sekarang saya akan tambahkan dan ganti menjadi “saat semua semakin cepat, Bali berani Nyepi tanpa pecalang dan wifi”. [T]

Tags: desa adatHari Raya Nyepihindupecalang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Manchika, Jegeg Buleleng 2023: “Everything Happens for A Reason and Everthing is Possible”

Next Post

Menikmati Tiga Peran Berbeda Sebagai Sosok Wanita

I Gede Teddy Setiadi

I Gede Teddy Setiadi

Lahir di Desa Pedawa. Kini tinggal di Singaraja

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Menikmati Tiga Peran Berbeda Sebagai Sosok Wanita

Menikmati Tiga Peran Berbeda Sebagai Sosok Wanita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co