15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rwa Bhineda Pasti Ada

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
April 11, 2024
in Esai
Rwa Bhineda Pasti Ada

Foto ilustrasi dari penulis

SUDAH barang tentu tidak ada seseorang yang ingin sedih dalam kehidupan ini, semua orang menginginkan kebahagiaan. Namun pada realitasnya, hitam dan putih kehidupan pasti selalu ada. Kebahagiaan pasti akan selalu ditemani oleh kesedihan, kebaikan pasti akan selalu disertai kejahatan, serta kehidupan pasti akan selalu dihampiri kematian. Jadi bagaimana cara agar insan bisa menikmati dualitas yang menggelikan ini?

Semesta sebenarnya telah memberikan berbagai ajaran luhur tentang konsep dualitas yang tidak terbantahkan. Setiap konsep yang lahir, hadir sebagai jalan luhur untuk mengarahkan jiwa mencapai kebahagiaan abadi. Nah salah satunya adalah ajaran luhur yang dikenal dengan istilah Rwa Bhineda.

Secara etimologi, Rwa Bhineda terbentuk dari dua buah kata, yaitu ‘Rwa’ dan ‘Bhineda’, Rwaartinya dua, sementara Bhineda artinya berbeda. Dengan demikian, Rwa Bhineda adalah ajaran luhur yang mengisyaratkan pada dua hal berbeda, dua hal yang beroposisi, dua hal yang memiliki sifat bertentangan, namun selalu ada sebagai dualitas yang membuat hidup harmoni (Segara, 2000: 5). Dalam hal ini, Rwa Bhineda tergolong dalam Kasuistik “Oposisi Hubungan.”

Bahkan dalam sastra Siwaistik, dua hal yang beroposisi justru menjadi entitas yang berjasa dalam membentuk berbagai macam pengetahuan, kehidupan, alam semesta, beserta isi yang ada di dalamnya. Dualitas ini tertuang dalam konsep yang bernama Cetana dan Acetana. Cetana merupakan energi Tuhan sebagai sumber kehidupan berupa atma yang bersifat serba tahu, dan selalu ada untuk selamanya.Sementara Acetana merupakan unsur kebendaan yang memiliki sifat layaknya benda mati seperti batu, tanpa pengetahuan dan tidak kekal. Namun walaupun memiliki sifat yang bertentangan, dalam Wrhaspati Tattwa disebutkan (dalam Jendra dan Jumadiah, 2014: 11) “Atemu pwekang cetana lawan acetana, ya ta mangdadyaken sarwa tattwa” yang artinya “Bertemunya Cetana dengan Acetana melahirkan berbagai macam Tattwa.”

Kemudian dari sini, dikenal juga konsep Rwa Bhineda lainnya yaitu Purusa sebagai unsur jiwa dan Prakerti sebagai unsur pembentuk alam semesta, Sukla sebagai benih maskulin dan Swanita sebagai benih feminim. Ditemui juga, contoh Rwa Bhineda dalam berbagai sudut kehidupan yang lebih sederhana, seperti adanya siang dan malam, suka dan duka, panas dan dingin, ingat dan lupa, hitam dan putih, serta berbagai contoh lainnya.

Setelah mengetahui esensi dan contoh Rwa Bhineda dalam kehidupan, sebuah pertanyaan dasar pun muncul. Bagaimana memaknai ajaran Rwa Bhineda itu sendiri dalam mencapai kehidupan yang damai? Jawabannya, dapat ditemui lewat pesan Sang Kresna kepada Sang Arjuna dalam Bhagavad Gita 2. 15 (Maswinara, 1997: 123) yang berbunyi sebagai berikut:

yam hi na vyathayanty ete purusham purusharsabha,

sama-duhkha-sukham dhiram so ’mrtatvaya kalpate.

Terjemahannya:

“Orang yang tidak tergoyahkan oleh hal-hal ini, wahai pemimpin di antara manusia Arjuna, yang tetap sama dalam menerima kedukaan dan kesenangan, dan yang bijaksana, menjadikan dirinya layak untuk hidup abadi mencapai pembebasan.”

Dengan mengetahui pengetahuan akan hakikat Rwa Bhineda, kemudian ditambah dengan adanya petuah luhur, sudah sepatutnya manusia yang dibekali dengan Citta atau alam pikiran mampu memaknai ajaran Rwa Bhineda dengan menerima segala dualitas yang ada di dunia ini. Jangan terlalu menyombongkan diri jika diri menerima kesenangan, dan jangan juga terlalu berlarut-larut sedih ketika diri mengalami kemalangan. Mari sama-sama berusaha tetap bersikap seimbang, menerima segala dualitas yang ada baik itu panas dan dingin, suka dan duka dengan tangan terbuka sesuai hukum Rta dan Karma yang berjalan. layaknya pesan seorang Guru Bijaksana yang pernah berujar (Prama, 2009: 10):

“Orang yang tenang ketika dalam suka adalah jiwa yang biasa, namun orang yang sudah terbiasa tenang baik dalam suka maupun duka ialah jiwa yang luar biasa.”

DAFTAR PUSTAKA

Jendra, Jro Mangku Nyoman & Jumadiah, Sri. 2018.Kapamangkuan, Wrhaspati Tattwa. Denpasar: Dharma Pura.

Prama, Gede. 2009. Bali Shanti: Percikan-percikan Renungan dari Kedalaman Keheningan. Surabaya: Paramita.

Maswinara, I Wayan. 1997. Bhagavad Gita: Dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Surabaya: Paramita.

Segara, Nyoman. 2000. Mengenal Barong & Rangda. Surabaya: Paramita.


BACA artikel lain dari penulis DEWA GEDE DARMA PERMANA

Suka-Duka-Lara-Pati, Mengenal 4 Serangkai Bekal Abadi
Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni
Wahai Wakil Rakyat Terpilih dalam Pemilu, Resapilah Ini Untuk Jadi Pemimpin yang Teladan
Mendalami Sang ‘Dharma’ di Hari Kemenangannya
Tags: renunganRwa Bhinedasastra bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Uyang Paling”, Hadiah Dek Ulik untuk Ulang Tahun Widi Widiana

Next Post

Kegembiraan dan Kecemasan, Setelah Tiga Buku dari Belanda Dikembalikan ke Gedong Kirtya

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
Kegembiraan dan Kecemasan, Setelah Tiga Buku dari Belanda Dikembalikan ke Gedong Kirtya

Kegembiraan dan Kecemasan, Setelah Tiga Buku dari Belanda Dikembalikan ke Gedong Kirtya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co