24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gede Artana, Sun Go Kong dari Desa Pedawa

Gede Agus Eka Pratama by Gede Agus Eka Pratama
April 25, 2024
in Khas
Gede Artana, Sun Go Kong dari Desa Pedawa

Gokong duduk di depan rumahnya | Foto: Gus Eka

“DARI kelas satu SD saya suka manjat pohon,” ujar lelaki itu sambil menghapus keringatnya yang bercucuran. Kerutan di wajahnya menggambarkan betapa keras hari-hari yang ia lalui. Nyaris setiap hari, menjelang matahari menghilang, ia baru akan kembali ke rumahnya dari mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Sore itu ia sedang duduk sambil menyender dengan mulut mengisap rokok dan secangkir kopi yang selalu menemaninya. Pria berumur kepala empat itu menceritakan suka-duka hidup yang ia jalani, tentang kegemarannya dalam memanjat pohon sejak kelas satu SD.

Di gazebo—orang Bali menyebutnya bale bengong—sederhana itulah ia duduk. Benar. Di sana, di bale bengong, selain sebagai tempat menyimpan beberapa peralatan tempur yang digunakan untuk mengais rezeki, seperti celurit, tali tambang, karung, dan tas gandong, juga biasa dijadikan tempat untuk bertukar pikiran.

“Dulu, waktu itu kelas satu, iseng-iseng saya nyoba manjat pohon jambu, pendek sih, namun yang namanya nasib nggak ada yang tahu, ranting yang saya jadikan pegangan patah, hingga saya terjatuh dan tangan saya bergeser sampai sekarang. Nih, bisa dilihat agak melengkung,” ceritanya sambil menunjukan tangannya yang cedera.

Gede Artana atau Gokong | Foto: Gus Eka

Pria kelahiran Pedawa, 7 November 1982, itu bernama lengkap Gede Artana. Ketika masih muda, ia mengaku bercita-cita menjadi pegawai kantoran. Tetapi, karena keterbatasan ekonomi, akhirnya ia mengubur dalam-dalam mimpi tersebut.

Lelaki yang akrab disapa Gokong itu saat ini berprofesi sebagai tukang panjat pohon di Desa Pedawa. Pohon apa saja pernah ia panjat. Ini profesi yang mengagumkan dan tak pernah terbayangkan oleh banyak orang.

Dan mengenai sejarah lahirnya nama panggilan yang cukup unik ini, ia berspekulasi mungkin karena keahliannya dalam memanjat pohon. Kita tahu, di film, Sun Go Kong memang tak ada lawan dalam hal ini.

“Panggilan itu sudah dari zaman saya masih SMP. Mungkin karena saya suka memanjat, makanya sampai dipanggil Gokong, seperti yang ada di film Sun Go Kong itu,” terangnya sambil tertawa.

Di Banjar Dinas Lambo, Desa Pedawa, di rumah sederhana dengan dinding anyaman bambu itu Gokong berlindung dari dinginnya malam dan panasnya matahari. Rumah yang jauh dari kata mewah. Tidak ada hiburan sama sekali di sana. Jangankan handphone, televisi saja ia tak punya.

Gokong bercerita sambil masih mengisap rokok dan sesekali menyeruput kopinya. Saat ini ia hidup sendiri karena memang belum menikah lagi.

Tahun 2004 ia pernah menikah, katanya. Tapi rumah tangganya hanya bertahan seumur jagung, harus kandas setelah enam bulan. “Biasalah, masalah keuangan saja. Mantan istri saya tidak kuat hidup susah, dan akhirnya pergi,” tuturnya dengan sorot mata yang agak sedih.

Berawal dari kesukaannya memanjat pohon sejak kecil itulah yang membuat Gokong melakoni perkerjaan yang “berbahaya”, yang tak banyak orang bisa melakukannya, yaitu tukang panjat pohon.

Tak banyak ia mendapat upah dari pekerjaan langka ini. Bahkan kadang-kadang ia malah tidak dibayar sepeser pun. Hal tersebut tentu tidak sebanding dengan risiko yang ia hadapi.

“Kalau tetangga yang nyuruh, palingan dikasih rokok saja. Tapi kalau musim panen cengkeh, upahnya 100 ribu per 8 jam kerja. Sekarang ini lagi musim buah ceroring, saya dibayar 12.000 per jamnya,” ujar Gokong sambil membuka topi yang ia gunakan ketika bekerja.

Hampir setengah dari hidupnya, ia habiskan untuk mengais rezeki dengan memanjat pepohonan. Sudah bermacam-macam jenis pohon sempat ia naiki, misalnya pohon pinang, cengkeh, kopi, durian, kelapa, manggis, ceroring, dan masih banyak lagi, sampai Gokong sendiri pun sudah lupa akan hal itu.

Matahari perlahan mulai menyembunyikan senyumnya. Di atas pohon cengkeh sebelah rumah Gokong, burung-burung berkicau dengan merdu, mengiringi setiap kisah yang diceritakan Gokong dengan sendu.

Gokong sedang memanjat pohon pinang | Foto: Gus Eka

Cuaca sangat cerah. Padahal, belakang ini biasanya di Pedawa selalu turun hujan. Tapi entah kenapa, saat itu tidak ada awan hitam terlihat, seolah langit sedang memberikan semangat kepada Gokong.

Gokong kembali bercerita. Ia tidak tamat SMA karena keterbatasan ekonomi orang tuanya. Padahal, menurutnya, sebenarnya ia ingin terus melanjutkan pendidikan. Namun, apa daya, orang tuanya tidak sanggup lagi untuk membiayainya.

“Karena kasihan, akhirnya saya berhenti dan membantu orang tua menjadi buruh tani,” tuturnya sambil memandang lurus ke depan. Entah apa yang ia lihat.

Selama ini, untuk mengisi waktu luang ketika tidak ada panggilan memanjat pohon, ia bekerja sebagai buruh tani: mencangkul, memotong rumput, dan lainnya. Pekerjaan apa pun akan ia lakukan asalkan itu menghasilkan uang.

Walaupun jam terbangnya dalam memanjat pohon sudah cukup lama, tapi namanya musibah tidak bisa ia hindari. Pada tahun 2014, saat ia mendapat pekerjaan untuk mengobati pohon cengkeh yang terserang penyakit, tanpa sengaja, pestisida yang digunakan untuk membunuh jamur di pohon cengkeh itu menetes di rokoknya. Tidak jatuh memang, tapi ia keracunan.

“Saya kira saya sudah mau mati. Saya keracunan pestisida. Untung ada tetangga yang lihat saat saya mengerang kesakitan. Saat itu saya dibawa ke rumah sakit,” kisahnya dengan berapi-api, seolah-olah menggambarkan betapa paniknya ia dulu.

Kejadian tersebut akan ia kenang seumur hidup. Itu kenangan yang cukup mendalam bagi Gokong. Ia merasa masih diberi keberuntungan oleh Tuhan karena masih berkesempatan merasakan manis pahitnya kehidupan di dunia yang semu ini. Dan sampai saat ini, selama bekerja memanjat pohon, sekali pun Gokong belum pernah jatuh. Itu seperti sebuah keajaiban.

“Waktu kecil itu saja, pas masih belajar memanjat. Ya namanya masih anak-anak waktu itu. Tapi saat saya sudah kerja menjadi tukang panjat, beruntung masih dikasih selamat oleh Tuhan,” terangnya sambil merenung, mengingat kisah masa kecilnya.[T]

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Reporter: Gede Agus Eka Pratama
Penulis: Gede Agus Eka Pratama
Editor: Jaswanto

Pondok Literasi Sabih dan Masa Depan Pedawa
Asuh Kayuan, Usaha Merawat dan Melestarikan Sumber Mata Air di Pedawa
Anak-Anak Pedawa dan Seni Melipat Kertas
Tags: Desa Pedawapemanjat pohonprofesi unik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Subak Ubung, Ketahanan Pangan, Alih Fungsi Lahan

Next Post

Tradisi Memelihara Wadak, Strategi Memperkuat Ketahanan Pangan di Desa Mengani

Gede Agus Eka Pratama

Gede Agus Eka Pratama

Mahasiswa Jurusan Dharma Duta, Ilmu Komunikasi, STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
Tradisi Memelihara Wadak, Strategi Memperkuat Ketahanan Pangan di Desa Mengani

Tradisi Memelihara Wadak, Strategi Memperkuat Ketahanan Pangan di Desa Mengani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co