3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Elegi Kesenian Renganis Penglatan

Jaswanto by Jaswanto
February 20, 2024
in Liputan Khusus
Elegi Kesenian Renganis Penglatan

Sekaa Renganis Penglatan saat pentas di PKB 2023 | Foto: Tangkapan layar dari YouTube

PADA 1930-an, ada seorang lelaki sedang menjaga hasil panen padi di sawah miliknya. Masa itu, setelah panen, padi tidak langsung dibawa ke rumah—penduduk sekitar biasanya menumpuknya di pematang dan menungguinya sampai hasil panen benar-benar dibawa ke rumah dan diamankan di lumbung.

Lelaki itu bernama Gusti Made Alit. Ia menjaga hasil panen di malam buta di sebuah gubuk rumbia yang sudah reyot. Malam tetap saja gelap, meski lampu sentir masih menyala dan meliuk terbawa angin. Di tengah malam, di tengah kesunyian, Made Alit melantunkan pupuh dangdang gendis—salah satu bagian dari tembang macapat.

Saat melantunkan pupuh itu, semesta seolah ikut serta. Suara-suara sawah di gelap malam, seperti nyaring suara katak, jangkrik, air gemericik, mengiringi tembang yang dilantunkan Made Alit. Saat itu ia merasa sangat tenang dan senang—bahkan mungkin merasakan sebuah perasaan yang belum ternamakan sebelumnya. Yang jelas, ia seperti terbang ke awang-awang. Made Alit mendapatkan sunia.

Keesokan harinya, Made Alit menuturkan pengalaman menakjubkannya itu kepada dua temannya, yakni I Ketut Sridana (akrab dipanggil Pan Madra) dan I Ketut Widra—atau yang lebih dikenal dengan panggilan Pan Kaler.

Pan Madra dan Pan Kaler mencoba menggubah pupuh tersebut menjadi teramat unik dan khas. Kedua tokoh tersebut mencoba menambahkan unsur-unsur suara seperti katak di sela-sela lantunan pupuh. Tambahan unsur inilah yang disebut ongkekan (cecandetan khas suara katak) yang membuat kesenian tersebut terdengar lebih ritmis sekaligus jenaka. Lalu, bersama teman-temannya—seperti Ketut Suka, Sutiaji, Pogot, dan termasuk Gusti Made Alit—Pan Madra dan Pan Kaler mencoba melantunkan dangdang gendis yang sudah digubah, diaransemen itu, secara bersama-sama.

I Ketut Sridana (Pan Madra) | Foto: Dok. Sekaa Renganis Penglatan

Sejak saat itulah muncul ide untuk menjadikan kegiatan tersebut sebagai sebuah bentuk kesenian suara dan sastra lisan yang kemudian hari dikenal dengan nama kesenian Renganis—kesenian yang memadukan berbagai unsur suara, seperti suara gamelan, geguritan, dan suara binatang, yang semua perpaduan itu dimainkan hanya dengan suara mulut.

Sedangkan terkait namanya, beberapa orang menganggap istilah renganis berasal dari dua suku kata, yaitu reng manis—karena pakem dasarnya menggunakan pupuh dangdang gendis. Pendapat lain mengatakan bahwa renganis berasal dari kata renge nis, yang berarti suara dari kesunyian. Terlepas dari itu semua, Renganis kemudian menjelma menjadi kesenian yang, tak hanya sekadar menjadi hiburan, tapi juga sarana spiritual orang-orang Penglatan.

Begitulah Wayan Sukerena, 64, menceritakan asal-usul Renganis di rumahnya yang sederhana di Gang Sukun, sebelah timur SMP Negeri 5 Singaraja di Desa Penglatan, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Bali. Sore itu, lelaki sepuh itu menggebu dengan suara lantang bertempo lambat. Sesekali ia terdiam sebelum cerita masa lalu itu mengalir deras dari bibirnya.

“Pada saat itulah, setiap purnama kedasa, pada saat menjelang panen padi, Renganis dijadikan sebagai iringan upacara Ngusaba Nini—ucapan syukur kepada Hyang Widhi dalam perwujudannya sebagai Dewi Sri yang telah melindungi pertanian di Penglatan,” tutur Wayan Sukerena, suaranya bersahut-sahutan dengan kicau burung—yang terdengar timbul tenggelam—dan gonggong anjing yang diikat di pekarangannya.

Tetapi, sambung Sukerena, yang dijadikan sebagai iringan Ngusaba Nini hanya kidungnya, bukan ongkekan-nya. “Jadi, ada yang untuk sarana spiritual, ada juga untuk hiburan,” kata orang tua pensiunan kehutanan itu.

Di Penglatan, Renganis memiliki hubungan erat dengan padi. Pada saat menjelang panen raya padi—beberapa orang Bali menyebutnya kerta masa—penduduk Penglatan, sebagaimana diterangkan Sukerena di atas, akan menyelenggarakan upacara Ngusaba Nini.

Upacara ini selalu diadakan setiap purnama kedasa. Nini diyakini sebagai simbol perwujudan Dewi Sri. Tak sembarang padi bisa digunakan untuk membuat Nini. Hanya padi yang tumbuh di sawah yang terletak di hulu air mengalir—orang-orang setempat menyebutnya sawah pengalapan.

Di sawah-sawah itulah, padi-padi dipetik untuk dibuat menjadi Nini berjumlah dua. Dalam proses pembuatannya, dengan berbagai sesajen menurut kepercayaan penduduk Penglatan, orang-orang secara bersama-sama akan menembangkan kidung Renganis. Beberapa orang yang mampu bahkan menambahkan iringannya dengan gamelan.

Seusai Nini dibuat, petani-petani Penglatan yang membuatnya akan menggotongnya, memundut, sampai ke lumbung masing-masing. Di Penglatan, sebagaimana (mungkin) juga di daerah lain di Bali, ada tiga jenis lumbung dengan nama dan ukuran yang berbeda-beda. Ada lumbung bernama jineng, glebeg, dan klumpu.

Jineng merupakan lumbung padi yang berukuran besar, tinggi, dan bertingkat—semacam rumah panggung yang di bawahnya masih dapat dijadikan sebagai tempat untuk beraktivitas. Sebaliknya, glebeg hanya terbatas sebagai tempat penyimpanan padi. Sedangkan klumpu merupakan lumbung padi yang berukuran lebih kecil daripada glebeg.

Tiga jenis lumbung ini biasanya berkaitan dengan strata sosial dan kemampuan masyarakat di Penglatan. Semakin kaya petani dan memiliki sawah yang luas, misalnya, maka tak mungkin hanya akan membangun glebeg atau klumpu, pasti ia akan mendirikan jineng. Mengingat, selain mampu, juga muat untuk menampung hasil padinya yang melimpah.

Setahun setelah Nini disimpan di lumbung, orang-orang akan menurunkannya. Kini saatnya Nini ditumbuk, dipisahkan kulit dengan bulir berasnya. Proses ini kemudian melahirkan satu kesenian lagi bernama Ngoncang—memukul lesung menggunakan alu.

Wayan Sukerena | Foto: Jaswanto

“Beras itu kami sebut galih,” ujar Wayan Sukerena, Kelian Sekaa Renganis Penglatan. Bulir galih dipercaya telah mendapat karunia dari Dewi Sri. Galih biasanya disimpan di sebuah tempat yang, dalam bahasa Bali, disebut gebeh—semacam tempayan tempat air.

“Setiap masak nasi, orang-orang sini akan mengambil beberapa bulir galih untuk dicampur. Misalnya masak beras sekilo, cukup ambil barang lima atau sepuluh butir galih. Karena dipercaya sudah diberkati oleh Dewi Sri, maka nasinya jadi mesari. Kalau ada upacara besar di desa, penduduk juga menyumbang galih mereka untuk diolah menjadi jajanan,” kata lelaki yang akrab dipanggil Pak Yan itu.

Jika menjelang panen, pada saat Ngusaba Nini orang-orang Penglatan hanya melantunkan kidungnya saja, maka menjelang tanam pagi, saat orang-orang istirahat, penat setelah membajak, mereka akan memainkan Renganis lengkap dengan okekan-nya.

Dalam pakem kesenian Renganis, setidaknya ada tiga jenis ongkekan atau tabuh dalam karawitan, yakni bebatelan, peangklungan, dan gegambangan. Kalau dalam khazanah karawitan, tabuh bebatelan identik dengan sesuatu yang keras, maskulin.

Sebaliknya, peangklungan merupakan sisi lainnya, mewakili sesuatu yang halus, lembut. Sedang gegambangan, menurut Sukerena, diucapkan sebagaimana irama gambang. Renganis mengadopsi irama gambangan, bukan pukulannya, katanya.

Renganis—sebagaimana dikutip dari artikel Renganis, Seni Suara Tradisional Khas Desa Penglatan (2008) tulisan Made Adnyana Ole—dimainkan oleh sekelompok orang yang kalau dalam musik pop bisa dipadankan dengan sebuah kelompok vokal tanpa musik.

Dalam renganis, tulis pensiunan wartawan Bali Post itu, “masing-masing orang memainkan nada yang berbeda-beda sehingga sebuah lagu akan terdengar sangat atraktif, meriah, yang terkadang diselipi nada jenaka. Dalam istilah Bali, lagu-lagu itu dimainkan dengan suara mecandetan”.

Menurut Ole, meski sama-sama menggunakan musik mulut, Renganis sangat berbeda dengan Cak yang berkembang di Badung dan Gianyar atau dengan seni Genjek dan Cakepung yang tumbuh pesat di Buleleng dan Karangasem. Hal ini juga dikatakan oleh Wayan Sukerena.

Jika Genjek lebih banyak memainkan lagu-lagu rakyat yang lebih populer, sebaliknya, Renganis lebih memilih tembang-tembang yang dikreasikan dari kakawin, kidung, dan geguritan. Sedangkan Cak, kata Ole, meski juga memainkan cecandetan dengan suara yang berbeda-beda, namun kata yang diucapkan oleh masing-masing pemain adalah kata yang sama, yakni cak.

“Namun, dalam Renganis, cecandetan atau cecangkitan itu dimainkan dalam sebuah lagu. Nada yang disuarakan pemainnya berbeda-beda dan saling candetin sehingga menjadi satu rangkaian nada yang manis,” tulisnya.

Nada suara dalam seni Renganis menjadi lebih hidup saat dikombinasikan dengan cecandetan yang menyerupai suara katak. Sehingga, dalam Renganis, ada sejumlah pemain yang berfungsi sebagai pengugal, penyandet, atau pengokek. “Itulah Renganis,” kata Sukerena.

Renganis, Setelah Kejayaannya

Pada tahun 1930-an sampai 1980-an, kesenian di Bali memang sedang bergeliat, termasuk kesenian di Buleleng, Bali bagian utara. Orang-orang seperti Gde Manik dan Ketut Merdana dalam khazanah kesenian Gong Kebyar di Buleleng, termasuk seniman pilih tanding dalam rentang tahun itu. Dan pada tahun 50-an, jika di Jagaraga atau di Kedis orang-orang sedang gencar-gencarnya belajar kebyar, di Penglatan kesenian Renganis sedang populer-populernya.

Desa Penglatan bisa dibilang sebagai sebuah laboratorium untuk mengolah berbagai jenis seni suara dan sastra lisan. Memang, sejak tahun 1980-an, kelompok-kelompok pesantian yang menembangkan berbagai jenis seni suara dan sastra, seperti kekawin, kidung, dan geguritan, berkembang pesat di seluruh pelosok Bali. Namun, tampaknya, hanya para seniman di Desa Penglatan yang lebih berani memberi sentuhan nada-nada unik dalam tiap tembang-tembang yang mereka lantunkan.

Atas keberanian itulah kemudian tumbuh sebuah kesenian langka dan teramat khas. Namanya seni Renganis, sebuah seni yang memadukan berbagai unsur suara, seperti suara gamelan, geguritan, dan suara binatang, yang semua perpaduan itu dimainkan hanya dengan suara mulut.

Bahkan, tak hanya sebatas sebagai hiburan, sebagaimana telah dijelaskan Sukerena di atas, kesenian yang murni menggunakan mulut itu juga dijadikan sebagai bagian dalam upacara-upacara penting dan sakral seperti Ngusaba Nini atau  piodalan di Pura Taman.

Sebagaimana kesenian Sanghyang, Renganis juga lahir dan tumbuh dari sebuah kultur masyarakat agraris yang punya kecintaan begitu kental terhadap alam dan lingkungan. Maka dari itu, Renganis sangat berhubungan dengan padi—tumbuhan yang tak semata mengusir lapar, tetapi juga memikat mitos. Tumbuhan yang sejak belasan ribu tahun lalu tumbuh di lahan-lahan subur Asia. Tumbuhan yang kini memasok perut lebih separuh warga bumi.

Pada tahun 70 sampai 80-an, di saat sawah dan padi di Penglatan masih luas dan melimpah, sebelum masifnya alih fungsi lahan dan semakin berkurangnya petani, kesenian Renganis seperti telah mencapai puncak kejayaannya—walaupun pada tahun 1963, saat Gunung Agung meletus, kesenian ini tidak lagi dipentaskan karena lahan pertanian rusak dan padi menolak tumbuh. Pada tahun yang sama, upacara Ngusaba Nini juga tidak dilakukan.

“Bagaimana mau diselenggarakan, orang padinya tidak ada,” kata Sukerena sembari tertawa. Tetapi, di balik tawa itu, seperti ada sesuatu yang mengganjal tenggorokannya sehingga ia tercekat. Dan benar, sesaat setelah mengatakan hal tersebut, ia menangis. Terbata-bata ia berkata, “Kami hanya makan singkong.”

Setelah tahun-tahun yang penuh tragedi itu—dua tahun setelah Gunung Agung muntah, terjadi goro-goro kemanusiaan yang masuk dalam catatan kelam sejarah bangsa Indonesia, Gestok atau G30S—Renganis bangkit, eksis kembali meski berkali-kali ”pingsan” dan nyaris ”mati”.

Menanam dan panen padi dirayakan kembali. Menyambut tamu penting, ulang tahun STT, orang-orang bayar kaul (naur sesangi), sampai upacara kematian, Renganis nyaris tak pernah ketinggalan. Pada kisaran tahun-tahun itu, kesenian ini sudah mendarah-daging, menjadi bagian hidup orang-orang Penglatan.

Tetapi, pada tahun 1990-an, saat generasi pertama dan kedua, ketika orang-orang seperti  Ketut Suka, Sutiaji, Pogot, Gusti Made Alit, Pan Madra, dan Pan Kaler sudah kembali ke Asal, dan maraknya alih fungsi lahan, juga masifnya kampanye pariwisata di Bali bagian selatan, Renganis seperti dicampakkan oleh sebagian orang Penglatan. Hal ini juga terjadi di dunia kebyar di Buleleng.

I Ketut Widra (Pan Kaler) | Foto: Dok. Sekaa Renganis Penglatan

Maka dari itulah, menurut Wayan Sukerena, yang notabene sebagai cucu kandung I Ketut Widra—atau yang lebih dikenal dengan Pan Kaler, founding father Renganis—pada tahun 2000-an, Renganis mengalami pergulatan kreasi, kolaborasi, dan modifikasi. Hal tersebut dilakukan untuk menarik minat masyarakat dan sebagai sebuah usaha melestarikan kesenian Renganis. Misalnya, mulai masuknya unsur-unsur cerita dalam tiap lagu yang dimainkan.

Cerita-cerita itu biasanya diambil dari kisah-kisah kerajaan atau kisah panji, seperti Raden Putra Kahuripan, Galuh Daha, dan Anglung Semara. Selain itu, jenis-jenis cecandetan-nya juga makin beragam sehingga lagu-lagu yang dimainkan menjadi makin manis sekaligus bernas.

Namun, meski demikian, seperti halnya seni tradisional lainnya, Renganis kini tetap berada di ambang kepunahan. Zaman melesat seperti kijang berlari. Padi seperti nyaris tak bisa dijnakkan. Rencana-rencana swasembada bisa ambruk oleh wabah dan bencana—dan akibatnya bisa fatal secara politis.

Beras adalah topik yang hangat saban tahun, apalagi di musim kampanye saat para politisi berkoar soal perut rakyat yang lapar. Memastikan produksi beras adalah tanggung jawab negara, dan beban itu diletakkan pada pundak kaum petani di desa-desa, termasuk Penglatan. Sayangnya, orang-orang Penglatan sudah tidak hanya berprofesi sebagai petani. Banyak sawah dialihfungsikan. Renganis sudah jarang dipentaskan di sawah-sawah setelah penat membajak.

Renganis menjelma kesenian yang tampak tumbuh secara tertatih. Sistem regenerasinya juga berjalan lambat. Jika pun masih ada anak muda yang mau belajar, jumlahnya sangat sedikit—dan itu pun biasanya masih berasal dari keluarga pendiri dan penciptanya, yang juga merupakan keluarga turunan dari Pan Madra dan Pan Kaler.

Namun, meski kondisinya demikian, Renganis Penglatan tetap menolak punah. Apalagi Pesta Kesenian Bali (PKB) memberikan Renganis kesempatan untuk menunjukkan diri. Dalam PKB tahun lalu, misalnya, Renganis ditampilkan bersama cerita Anglung Semara. Saat itu, kesenian Renganis seperti terpacak kembali dalam ingatan orang Penglatan. “Tahun itu banyak orang yang merasa memiliki Renganis,” kata Sukerena.

Menurut Wayan Sukerena, tokoh kesenian Renganis generasi ketiga itu, di Penglatan kini masih terdapat sekitar 20 anggota Sekaa Renganis yang masih siap tampil jika diperlukan. Anggota Renganis itu biasanya sekaligus masuk dalam satu sekeha pesantian yang biasa ikut ngayah dalam acara-acara suka-duka di lingkungan Desa Adat Penglatan. “Saya berharap anak saya bisa meneruskan tanggung jawab ini,” ujar Wayan Sukerena. Lelaki tua dengan tatapan bak petarung ini tampak serius dengan kata-katanya.[T]

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Sekaa Gong Legendaris Jagaraga, Momentum Menghidupkan Kembali Jiwa dan Spirit Gde Manik
Gong Kebyar Desa Kedis, Setelah 32 Tahun Mati Suri
Tags: bulelengkesenian balikesenian rakyatpertanianPesta Kesenian Bali 2023Singaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Naik Kereta Cepat Whoosh, Nyaman dan Bangga

Next Post

Wayan Sukerena, Sang Pewaris Kesenian Renganis

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Hikayat Tuak

by Jaswanto
May 30, 2026
0
Hikayat Tuak

KAKEK tua itu memanjat pohon lontar—yang tinggi—sesantai menaiki anak tangga. Meski sudah berumur, tangannya masih kuat mencengkeram, sedang sedikit pun...

Read moreDetails

Ritual Menanam Beras Merah

by Jaswanto
May 28, 2026
0
Ritual Menanam Beras Merah

“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih,...

Read moreDetails

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

by Jaswanto
May 15, 2026
0
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

Read moreDetails

Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

by Jaswanto
April 14, 2026
0
Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

PERAYAAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-422 Kota Singaraja tahun 2026 berlangsung sepanjang Maret dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat luas....

Read moreDetails

Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

by Jaswanto
March 20, 2026
0
Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

“SAYA belum pernah merasakan Nyepi di Bali; tapi sering diberitahu orang-orang kalau Nyepi di Bali itu kebanyakan tidak diisi dengan...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

HINGGA saat ini, di daerah Tejakula, sebut saja seperti Sembiran, Pacung, Julah, dan Bondalem, masih banyak perajin tenun. Tentu saja...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

PADA tulisan sebelumnya, saya telah uraikan bukti-bukti kuat yang menyatakan bahwa Bali Utara—khususnya wilayah Tejakula dan sekitarnya—merupakan jalur dagang pada...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

DALAM sejarah, Singaraja (Buleleng) di Bali Utara tercatat sebagai jalur perdagangan yang semarak dan hidup. Apalagi saat wilayah yang didirikan...

Read moreDetails

Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

by Agus Wiratama
January 9, 2026
0
Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

BERJUMPA dengan pelaku Gambuh Batuan, membuat saya bertanya: “Tubuh yang membentuk tari, atau tari yang membentuk tubuh? Karya yang membentuk...

Read moreDetails

Kontak Sosial Singaraja-Lombok: Dari Perdagangan, Perkawinan hingga Pendidikan

by Jaswanto
February 28, 2025
0
Kontak Sosial Singaraja-Lombok: Dari Perdagangan, Perkawinan hingga Pendidikan

SEBAGAIMANA Banyuwangi di Pulau Jawa, secara geografis, letak Pulau Lombok juga cukup dekat dengan Pulau Bali, sehingga memungkinkan penduduk kedua...

Read moreDetails
Next Post
Wayan Sukerena, Sang Pewaris Kesenian Renganis

Wayan Sukerena, Sang Pewaris Kesenian Renganis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co