13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wayan Sukerena, Sang Pewaris Kesenian Renganis

Jaswanto by Jaswanto
February 21, 2024
in Persona
Wayan Sukerena, Sang Pewaris Kesenian Renganis

Nyoman Sukerena | Foto: Jaswanto

LELAKI tua itu duduk di sofa bermotif bunga. Di sebelah kanannya baling-baling kipas kecang berputar mereda panas. Kelambu di belakangnya melambai-lambai diterpa angin dari alat penemuan insinyur dan ilmuwan asal Amerika Serikat itu—barangkali Dr. Wheeler tidak pernah membayangkan bahwa teknologi temuannya akan jatuh di sebuah rumah sederhana dan kini mengipasi seorang seniman tua yang sedang menceritakan kisah hidupnya.

Di luar sore mulai beranjak. Udara panas berkesiur bersama debu dan daunan gugur. Anjing itu masih saja menyalak, bersahut-sahutan dengan kicau burung dalam sangkar. Seniman yang mengaku sebagai generasi ketiga itu, membenarkan letak duduknya. Tatapannya was-was bak petarung dengan sisa-sisa kekuatan yang tergurat di tubuhnya. Dan ia memang juga seorang pendekar di masa mudanya.

“Itu foto guru silat saya,” ujarnya sembari menunjuk sebuah foto hitam-putih yang tercantel di dinding ruang tamunya. Dalam foto berbingkai sederhana itu, terpampang sosok kakek tua dengan wajah karismatik dan terlihat agak sedikit “ganas”. Di samping kanan kirinya, beberapa foto dengan ukuran lebih besar ditata begitu rupa. Tak rapi, memang, tapi juga tak berantakan amat. “Sudah lama saya meninggalkan silat,” sambungnya.

Itu bukan tanpa alasan. Ia meninggalkan silat sebab, selain sudah bekerja, juga ada kesenian lain yang sedang ia tekuni. Kesenian yang lahir dari tangan dingin leluhurnya. Kesenian yang kini ia warisi, jaga, dan lestarikan. Kesenian yang bernama Renganis. “Sejak kecil saya sudah dekat dengan kesenian Renganis,” tutur seniman tua itu. Dan ia kemudian bercerita bagaimana ia belajar kesenian tersebut, dulu.

Namanya Wayan Sukerena. Orang-orang biasa memanggilnya Pak Yan. Saat ini, ia merupakan seorang seniman Renganis Penglatan yang cukup otoritatif. Maksudnya, jika ingin tahu seluk-beluk Renganis, tanyakan saja kepadanya. Maka ia akan menjawabnya dengan antusias. Memang tak semua dapat terjawab, tapi setidaknya lebih baik daripada hanya meraba-raba di dunia layar yang muat dalam saku celana itu.

Pak Yan lahir tahun 1960, tiga tahun sebelum Gunung Agung meletus. Ia lahir dari keluarga petani yang kurang mampu. Wayan Sanggra, ayahnya, hanya seorang penyakap di Penglatan. Sedang sang ibu, Wayan Sanggri, meninggal pada tahun 1971. Meski demikian, Pak Yan tetap bersyukur sebab kakeknya merupakan orang yang memprakarsai dan menciptakan kesenian unik dan khas, kesenian suara dan sastra lisan, yang kini menjadi identitas Desa Penglatan: Renganis.

Kesenian Renganis diciptakan oleh dua orang bernama I Ketut Sridana (akrab dipanggil Pan Madra) dan I Ketut Widra—atau yang lebih dikenal dengan panggilan Pan Kaler. Kedua seniman-tani itu menggubah pupuh dangdang gendis—salah satu pupuh dalam tembang macapat—setelah mendengar cerita pengalaman seorang bernama Gusti Made Alit.

Alkisah, pada malam buta tahun 1930-an, saat Gusti Made Alit sedang menjaga hasil panen di sawah, suasana malam begitu menenangkan. Bersama suara katak yang bersahut-sahutan, nyaring  jangkrik menggesek sayap, dan gemericik air mengalir, di tengah malam bersinar lampu sentir, Made Alit melantunkan pupuh dangdang gendis. Saat itu ia merasa senang dan tenang. Ia merasa mendapat sunia. Keesokan harinya, Made Alit menceritakan hal tersebut kepada kedua temannya, Pan Madra dan Pan Kaler.

Sejak saat itulah, Pan Madra dan Pan Kaler mengkreasikan pupuh dangdang gendis dengan suara-suara katak di musim hujan. Penambahan unsur suara katak di sela-sela lantunan kidung itu kemudian dikenal dengan istilah ongkekan.

Dalam kesenian Renganis, ada tiga ongkekan yang menjadi pakemnya, yaitu bebatelan, peangklungan, dan gegambangan. Ketiganya memiliki pakemnya masing-masing. Bebatelan lebih dekat kepada tabuh-tabuh yang keras, maskulin; sebaliknya, peangklungan mewakili sesuatu yang lembut, halus; dan gegambangan dilantunkan seperti irama gambang dalam karawitan.

***

“Ketut Widra itu kakek kandung saya. Sedangkan Ketut Sridana merupakan ipar dari kakek saya. Jadi, Sridana juga kakek saya,” ujar Wayan Sukerena. Lahir dari keluarga seniman-tani Renganis, Pak Yan telah mendengar dangdang gendis bahkan ketika masih dalam perut ibunya. Tapi semua orang di Bali sepertinya sadar, mereka terlahir sebagai seniman. Dalam tubuh mereka mengalir darah seniman-seniman ulung di masa lalu.

Meski demikian, Pak Yan mengaku baru serius belajar Renganis pada tahun 1980-an, saat usianya sekitar 22 tahun. Bersama lima orang lainnya, ia dinobatkan sebagai generasi ketiga penerus kesenian Renganis Penglatan. Di samping menekuni kesenian Renganis, di kisaran tahun tersebut, tepatnya tahun 1983, Pak Yan bekerja di sektor kehutanan. Hingga tiga tahun setelahnya, ia diangkat negara menjadi pegawai negeri kelas rendah.

Tahun 1930-an sampai 1980-an, kesenian di Bali memang sedang bergeliat, termasuk kesenian di Buleleng. Orang-orang seperti Gde Manik dan Ketut Merdana dalam khazanah kesenian Gong Kebyar di Buleleng, adalah seniman pilih tanding dalam rentang tahun itu. Dan pada tahun 1980-an, jika di Jagaraga, di Kedis, atau kebanyakan orang di Bali sedang gencar-gencarnya belajar kebyar, di Penglatan Renganis juga sedang populer-populernya.

Desa Penglatan, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, tahun itu bisa dibilang sebagai sebuah laboratorium untuk mengolah berbagai jenis seni suara dan sastra lisan. Memang, sejak tahun 1980-an, kelompok-kelompok pesantian yang menembangkan berbagai jenis seni suara dan sastra, seperti kekawin, kidung, dan geguritan, berkembang pesat di seluruh pelosok Bali. Namun, tampaknya, hanya para seniman di Desa Penglatan yang lebih berani memberi sentuhan nada-nada unik dalam tiap tembang-tembang yang mereka lantunkan.

Atas keberanian itulah kemudian tumbuh sebuah kesenian langka dan teramat khas. Namanya seni Renganis, sebuah seni yang memadukan berbagai unsur suara, seperti suara gamelan, geguritan, dan suara binatang, yang semua perpaduan itu dimainkan hanya dengan suara mulut. Bahkan, tak hanya sebatas sebagai hiburan, sebagaimana telah dijelaskan Pak Yan, kesenian yang murni menggunakan mulut itu juga dijadikan sebagai bagian dalam upacara-upacara penting dan sakral seperti Ngusaba Nini—sebuah upacara yang dilakukan untuk mendapat karunia dari Dewi Sri—atau  piodalan di Pura Taman.

Seperti halnya kesenian Sanghyang, Renganis juga lahir dan tumbuh dari sebuah kultur masyarakat agraris yang punya kecintaan begitu kental terhadap alam dan lingkungan. Maka dari itu, Renganis sangat berhubungan dengan padi—tumbuhan yang tak semata mengusir lapar, tetapi juga memikat mitos. Tumbuhan yang sejak belasan ribu tahun lalu tumbuh di lahan-lahan subur Asia. Tumbuhan yang kini memasok perut lebih separuh warga bumi.

Pada tahun 70 sampai 80-an, di saat sawah dan padi di Penglatan masih luas dan melimpah, sebelum masifnya alih fungsi lahan dan semakin berkurangnya petani, saat Pak Yan mulai serius belajar, kesenian Renganis seperti telah mencapai puncak kejayaannya—walaupun pada tahun 1963, saat Gunung Agung meletus, kesenian ini tidak lagi dipentaskan karena lahan pertanian rusak dan padi menolak tumbuh. Pada tahun yang sama, upacara Ngusaba Nini juga tidak dilakukan.

“Bagaimana mau diselenggarakan, orang padinya tidak ada,” kata Sukerena sembari tertawa. Tetapi, di balik tawa itu, seperti ada sesuatu yang mengganjal tenggorokannya sehingga ia tercekat. Dan benar, sesaat setelah mengatakan hal tersebut, ia menangis. Terbata-bata ia berkata, “Kami hanya makan singkong.”

Setelah tahun-tahun yang penuh tragedi itu—dua tahun setelah Gunung Agung muntah, terjadi goro-goro kemanusiaan yang masuk dalam catatan kelam sejarah bangsa Indonesia, Gestok atau G30S—Renganis bangkit, eksis kembali meski berkali-kali “pingsan” dan nyaris “mati”.

Menanam dan panen padi dirayakan kembali. Ngusaba Nini diselenggarakan. Menyambut tamu penting, ulang tahun STT, orang-orang bayar kaul (naur sesangi), sampai upacara kematian, Renganis nyaris tak pernah ketinggalan. Pada kisaran tahun-tahun itu, kesenian ini sudah mendarah-daging, menjadi bagian hidup orang-orang Penglatan.

Tapi kisah Renganis tak selalu semanis gula. Saat Pak Yan ditunjuk menjadi Ketua Sekaa Renganis Penglatan, zaman sudah berubah. Tahun 1990-an dunia hiburan audio visual berkembang begitu pesat. Dalam tabung berbagai ukuran, film-film ketengan dari Hongkong, India, Tiongkok, disajikan. Sinetron-sinetron keluarga dan drama kolosal diproduksi besar-besaran. Tinju dan sepak bola menjadi tontonan yang mengasyikkan. Generasi baru lahir bersama budaya, kesenian, dan selera yang berbeda dari orang-orang 1930-an. Renganis dan beberapa kesenian tradisional lainnya nyaris ditinggalkan.

“Tahun 2000-an kami mencoba berinovasi tanpa merubah pakem,” tutur Pak Yan. Suaranya berat dengan tempo yang lambat. Tahun itu Renganis mengalami pergulatan kreasi, kolaborasi, dan modifikasi. Hal tersebut dilakukan untuk menarik minat masyarakat dan sebagai sebuah usaha melestarikan kesenian Renganis. “Saat itu kami mulai memasukkan unsur-unsur cerita dalam tiap lagu yang dimainkan,” sambungnya.

Cerita-cerita itu biasanya diambil dari kisah-kisah kerajaan atau kisah panji, seperti Raden Putra Kahuripan, Galuh Daha, dan Anglung Semara. Selain itu, jenis-jenis cecandetan-nya juga makin beragam sehingga lagu-lagu yang dimainkan menjadi makin manis sekaligus bernas.

Namun, meski demikian, seperti halnya seni tradisional lainnya, Renganis kini tetap berada di ambang kepunahan. Renganis menjelma kesenian yang tampak tumbuh secara tertatih. Sistem regenerasinya juga berjalan lambat. Jika pun masih ada anak muda yang mau belajar, jumlahnya sangat sedikit—dan itu pun biasanya masih berasal dari keluarga pendiri dan penciptanya, yang juga merupakan keluarga turunan dari Pan Madra dan Pan Kaler.

Namun, meski kondisinya demikian, Renganis Penglatan tetap menolak punah. Apalagi saat Pesta Kesenian Bali (PKB) memberikan Renganis kesempatan untuk menunjukkan diri. Dalam PKB tahun lalu, misalnya, Renganis ditampilkan bersama cerita Anglung Semara. Saat itu, kesenian Renganis seperti terpacak kembali dalam ingatan orang Penglatan. “Tahun itu banyak orang yang merasa memiliki Renganis,” kata Pak Yan.

***

Angin kipas berkesiur. Menerpa sosok seniman tua yang duduk di sofa bermotif bunga itu. Sarjana pertanian Universitas Dwijendra itu, masih saja bercerita tentang perjalanan hidupnya, Renganis, dan bagaimana kondisi kesenian tersebut, kini. Pada tahun 1986, setelah ia diangkat menjadi PNS, Pak Yan melanjutkan pendidikannya. “Saya lulusan SD waktu diangkat menjadi pegawai negeri,” katanya.

Tahun 1990 ia lulus SMA. Dan tahun 2012, dua puluh dua tahun setelahnya, Pak Yan mendaftar menjadi mahasiswa di Fakultas Pertanian Universitas Dwijendra. Saat itu umurnya sudah setengah abad. Di tengah menjadi mahasiswa, Pak Yan juga bekerja di Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Penglatan.

Empat tahun setelah belajar pertanian di Undwi, Pak Yan diwisuda. Ia sah menyandang gelar sarjanan pertanian. Hingga tahun 2021, setelah bekerja selama 38 tahun, ia pensiun dari kehutanan. Di masa pensiunnya, selain mengurus Renganis—sampai sekarang, dari tahun 90-an, ia masih dipercaya untuk memimpin Sekaa Renganis Penglatan—Pak Yan juga diminta untuk mengisi siaran Sudang Lepet Jukut Undis (SLJU) di RRI Singaraja.

Di tengah zaman yang seolah tidak memberi tempat kesenian tradisional ini, bersama desa adat, Pak Yan berusaha untuk menjaga dan melestarikan Renganis. Sampai tahun ini, Renganis Penglatan sudah sampai pada generasi kelima. Generasi pertama dan kedua sudah tidak ada yang tersisa, semua sudah kembali ke-Asal. Untuk generasi ketiga, generasi Pak Yan, katanya masih ada beberapa.

Proses regenerasi Renganis tidak sama dengan kesenian lainnya. Jika di Gong Kebyar, misalnya, bisa dibentuk sekaa anak-anak, di Renganis, menurut Pak Yan, tidak bisa begitu. Menurutnya, antargenerasi dalam Renganis tidak bisa serta-merta diputus begitu saja. Meski ia termasuk generasi ketiga, tapi ia juga masuk dalam kelompok generasi keempat dan kelima.

Hal tersebut dilakukan supaya tidak ada pakem yang hilang atau dirubah. Dengan melakukan model semacam itu, Pak Yan percaya bahwa ongkekan, cecandetan Renganis saat ini masih sama dengan generasi terdahulu. “Dengan ada generasi sebelumnya yang masuk dalam generasi kini, secara langsung dapat menjadi patokan dan kontrol terhadap pakem Renganis,” tuturnya.

Kini, kata Pak Yan, di Penglatan masih ada sekitar 20-an orang yang menjadi seniman Renganis—yang tergabung dalam Sekaa Renganis Penglatan. Dua puluh orang inilah, yang pada tahun 2023 lalu, tampil di panggung Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-45. Mereka mementaskan Renganis bersama kisah Anglung Semara. “Tapi ya begitu, kami masih harus mencari dana tambahan sendiri,” katanya.

Pada PKB tahun itu, Sekaa Renganis Penglatan dapat gelontoran dana dari pemerintah sebesar 25 juta dipotong pajak. Tentu saja, dana itu tidak bisa mencukupi biaya produksi. “Kami latihan selama tiga bulan. Selama itu juga kami harus menyiapkan air, konsumsi, dan sarana lainnya. Belum lagi honor, transportasi, tata rias, busana, dll. Pada saat laporan pertanggungjawaban, setelah dihitung, kami menghabiskan sekitar 48 juta. Jadi berapa itu uang yang harus kami cari sendiri,” tuturnya.

Namun, demi Renganis bisa pentas, bersama anggota kelompok, Pak Yan menyebarkan proposal sederhana ke beberapa orang dan instansi. Ia juga meminta sumbangan—untuk tidak mengatakan mengemis sebagaimana ia ucapkan—kepada penduduk Penglatan. “Syukur, saat itu semua orang merasa seperti memiliki Renganis. Bahkan Undiksha menyiapkan kendaraannya untuk kami,” ujar Pak Yan.

Sebagai sebuah upaya untuk melestarikan, Desa Adat Penglatan membuat awik-awik—hukum adat—tentang Renganis. Dalam peraturan tersebut, Renganis sudah dijadikan sebagai kesenian khas, atau asli, yang lahir dari Desa Penglatan.

Anjing di pekarangan masih saja menggonggong. Tak jelas betul apa sebabnya. Pak Yan diam sejenak sebelum mengatakan bahwa ia dan kelompok Renganis saat ini belum membentuk generasi berikutnya—atau generasi keenam. Pak Yan mengaku, tak gampang mencari orang yang mau dan mampu meneruskan perjuangannya. Padahal, Renganis harus tetap dilestarikan, meskipun sawah dan petani di Penglatan sudah mulai berkurang. “Saya berharap, ada darah daging saya yang mau mewarisi kesenian ini,” katanya. Seniman pewaris kesenian renganis itu tampak serius saat mengutarakan hal tersebut. Mata tuanya sampai berkaca-kaca.[T]

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Elegi Kesenian Renganis Penglatan
Komang Sujana Kenalkan Renganis Lewat Puisi Bali Modern | Catatan dari Ulas Buku Klub Buku Singaraja #2
Dari “Renganis” Sampai “Renga Nis”
Tags: bulelengkesenian balisenimanseniman tuaSingarajaTokoh Seni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Elegi Kesenian Renganis Penglatan

Next Post

Grand Final Teruna Teruni Denpasar 2024: “Kleee, Meriah Kali Nok!”

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails
Next Post
Grand Final Teruna Teruni Denpasar 2024: “Kleee, Meriah Kali Nok!”

Grand Final Teruna Teruni Denpasar 2024: "Kleee, Meriah Kali Nok!"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co