22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komang Sujana Kenalkan Renganis Lewat Puisi Bali Modern | Catatan dari Ulas Buku Klub Buku Singaraja #2

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
February 18, 2024
in Khas
Komang Sujana Kenalkan Renganis Lewat Puisi Bali Modern | Catatan dari Ulas Buku Klub Buku Singaraja #2

Komang Sujana dan Gus Surya Bharata

SETELAH hujan benar-benar lewat dan menjauh, yang tersisa malam itu hanya becek tanah dan rembesan sisa air hujan yang menetes diantara tembok dan dedaunan. Dari jarak kurang lebih 10 meter dari pagar rumah, di dalam sana, suara orang berbincang sayup-sayup terdengar. Kadangkala mereka tertawa, kadang pula mereka terlihat serius.

Di atas meja, rokok berbagai macam merk tergeletak begitu saja. Ada yang kretek, ada yang mild, ada juga yang ngelinting. Suasana malam itu benar-benar syahdu. Dingin malam, bercampur dengan hangatnya orang-orang yang sedang bertukar pikiran. Sesekali, terdengar suara kidung dari salah satu handphone milik mereka.

Meski kopi sudah tinggal ampas, obrolan mereka masih mengalir begitu saja. Sedang yang lainnya, tampak disibukan dengan kabel-kabel yang belum terpasang dengan benar.

Malam itu, Sabtu 17 Februari 2024, di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Jalan Pantai Indah Singaraja, sedang berlangsung acara Ulas Buku yang diinisiasi oleh Klub Buku Singaraja edisi ke dua–setelah pada minggu lalu menyelenggarakan acara perdana dengan tajuk “Berkenalan dengan Buku”.0

Klub Buku Singaraja kali ini hadir dengan tema Ulas Buku Kumpulan Puisi Bali Modern yang berjudul “Renganis” karya komang Sujana–penulis yang meraih penghargaan Gerip Maurip 2023 itu.

Acara benar-benar dimulai sesaat setelah moderator mempersilahkan narasumber untuk menempati tempat yang disediakan. Dan, sebelum moderator benar-benar menyerahkan kepada narasumber untuk memaparkan hasil karyanya itu, ia memuji bahwa apa yang ditulis oleh Komang Sujana kali ini, adalah semacam sebuah perubahan—atau bisa dikatakan peng-upgrade-an—dari gaya penulisan Komang Sujana dengan karya sebelumnya yang berjudul Cangkit Den Bukit.

Acara itu dihadiri oleh beberapa tokoh penting di Buleleng. Sebut saja, Ida Bagus Gde Surya Bharata, yang menjadi pemateri ulasan dalam acara itu. Gus Surya, begitu ia dipanggil, adalah penggerak literasi sekaligus juga penulis puisi Bali modern. Saat ini ia menjabat sebagai Sekretaris Dinas Pendidikan Buleleng.

Hadir juga Made Adnyana Ole, sastrawan cum Pemred tatkala.co. Dan, Kadek Sonia Piscayanti, dosen sekaligus pendiri Rumah Belajar Komunitas Mahima. Serta, nama-nama lain seperti I Nengah Juliawan (dosen STAHN Mpu Kuturan), Yahya Umar (wartawan), dan Wayan Sukarena selaku salah satu tokoh pelestari seni Renganis asal Desa Pengelatan, Buleleng, Bali.

Benar, malam itu, di depan rak buku milik Komunitas Mahima, wartawan, sastrawan, budayawan serta akademisi, itu sedang berkumpul membahas tentang sastra, seni dan budaya.

Ida Bagus Gde Surya Bharata, mengaku menikmati betul puisi-puisi berbahasa Bali. Meskipun, ia juga mengaku masih memiliki kekurangan dalam mengartikan beberapa kosa kata yang ada di dalam puisi Bali Modern itu sendiri.

Meski begitu, ia memuji karya Komang Sujana. Ia mengatakan bahwa, penulis dengan karya kreatifnya kali ini, mencoba mengenalkan Renganis sebagai sastra tradisional asal Desa Penglatan.

Lebih dari itu, menurut Gus Surya, penulis mencoba menggambarkan Renganis secara keseluruhan lewat karya puisinya itu, dari proses lahir, cara kerja sampai ke tahap spiritual.

Namun, ironis memang, menurut Gus Surya, Renganis di era kini nyaris di tinggalkan, bahkan di desa asalnya. “Padahal, Renganis mampu dijadikan sebagai media belajar bahasa Bali dan media perekat rasa bahasa dan sastra dresta, untuk memahami desa kaje-kangin di Buleleng,” katanya.

Maka dari itu, diperlukan adanya atensi dari pihak-pihak terkait, untuk keberlangsungan Renganis sebagai karya sastra tradisonal khas Buleleng.

Sedangkan, Komang Sujana, selaku penulis buku yang sedang di bedah malam itu, mengatakan bahwa dirinya merasa bersyukur dengan adanya ruang-ruang kretaif seperti yang ada di Komunitas Mahima. Menurutnya, ruang-ruang seperti itu adalah obat untuk mengobati dahaganya dalam proses belajarnya

“Saya bersyukur dikelilingi oleh orang-orang kreatif yang senantiasa menyediakan ruang belajar untuk saya,” katanya.

Alasan dipilihnya Renganis sebagai judul buku puisinya adalah sebagai bentuk upayanya dalam mengekspresikan hal-hal yang indah di sekelilingnya. Hal itu serupa dengan makna Renganis sendiri yakni, suara indah dari kesunyian.

Ia mengaku, bahwa, puisinya kali ini lebih banyak membahas tentang fenomena-fenomena yang ia temukan sehari-hari. Dan, menurut Putu Eka Guna Yasa, dalam kolomnya yang berjudul Wirangrong pada laman tatkala.co, menyebutkan bahwa puisi semacam itu adalah sastra yang lahir dari perjalanan.

“Tujuan saya menulis bukan untuk dikenal,” akunya.

Komang–begitu ia akrab dipanggil, mengatakan bahwa, tujuannya menulis adalah sebagai bahan ajar berbahasa Bali untuk murid-muridnya.

Ya, selain sebagai penulis, Komang adalah seorang guru di SMPN 2 Sawan. Dan, sebelum memutuskan menjadi guru, ia pernah beberapa kali menggeluti berbagai profesi. Diantaranya: sebagai Penyuluh Bahasa Bali pada tahun 2016-2017, kemudian berganti menjadi Perangkat Desa Tajun pada tahun 2017-2020.

Setelah Komang Sujana selesai dengan pemaparannya, salah satu peserta bedah buku yg hadir pada malam itu, bernama Juliawan–akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja–mencoba membaca satu puisi karya komang yang berjudul metapel kala. Puisi berbahasa Bali itu, dibacanya dengan lugas dan tegas. Seakan, puisi itu adalah semacam ungkapan yang lahir dari hatinya.

Setelah selesai membacanya, Juliawan mencoba menafsirkan puisi karya Komang tersebut. Menurutnya, di dalam puisi itu, penulis mencoba menghadirkan sebuah keresahan tentang pemimpin-pemimpin yang saat ini sedang menggunakan topeng-topeng dengan bentuk berbagai rupa.

“Menurut saya, saat ini Renganis sedang pingsan. Semoga, cepat sadar kembali,” ujar Juliawan sebelum mempersilahkan peserta yang lain untuk memaparkan tanggapannya.

Yahya Umar–wartawan senior Buleleng, sekaligus Pemred Balisharing.com, tak ingin kalah dengan Juliawan. Ia membaca puisi karya Komang yang berjudul TPS.

“Karena ini suasananya masih pemilu, saya ingin membaca puisi Komang yang berjudul TPS” ucapnya.

Yahya Umar membaca puisi berjudul TPS itu dengan gayanya sendiri–puisi Bahasa Bali yang dibaca dengan logat Madura Khas Yahya Umar. Setelah selesai membacanya, ia melontarkan pertanyaan kepada penulis “Mengapa membuat puisi bertema Pemilu?” tanyanya.

Menanggapi hal tersebut, Komang menceritakan tentang proses lahirnya karya puisi berjudul TPS tersebut. Ia mengaku bahwa, latar belakang puisinya tercipta, ketika ia melihat anak didiknya memungut barang barang bekas di TPS. Ia melihat bahwa ada semacam kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka ketika memungut barang bekas itu.

“Mereka bahagia ketika memungut barang bekas di TPS, karena dengan memungut barang bekas itu, mereka mendapatkan uang untuk bekalnya di sekolah,” katanya.

Sesaat setelah memberi jeda, ia menambahkan “Namun, di TPS yang lain, ada janji-janji manis yang mengakibatkan anak-anak itu harus memungut barang bekas,” imbuhnya.

Ya, meski janji-janji manis hanya dijadikan sebagai alat untuk mengeruk suara diajang pertarungan Pemilu, setidaknya, masih ada hal positif dari itu semua. Seperti, anak kecil yang menjadikan hasil dari menjual barang bekas itu sebagai tambahan uang sakunya, janji-janji manis juga sebagai inspirasi Komang untuk melahirkan sebuah puisi. 

Sedangkan menurut Kadek Sonia Piscayanti, Renganis lebih manis daripada karya Komang sebelumnya. Bahasa yang disuguhkan di dalam karyanya kali ini mulai berkembang. Dan, tentu saja perkembangan bahasa dipengaruhi oleh lingkungan tempat tempat tinggalnya, yang Sonia–Panggilan akrabnya– sebut dengan istilah Self Culture Konteks.

Namun, Sonia, kemudian mencerca penulis dengan berbagai pertanyaan kritisnya–mengingat bahwa Sonia adalah seorang akademisi pilih tanding–“Apakah bahasa yang ditemukan (kebaharuan kata) bisa mewakili Komang yang sesungguhnya? Bagaimana Tajun hadir di dalam puisi Renganis?”

Meski di awal Sonia mengatakan bahwa Renganis lebih manis dari Cangkit Den Bukit, ia tetap belum menemukan keautentikan dari Komang secara gaya dan pemilihan kata dalam puisi-puisinya yang seakan masih terkurung dalam pakem-pakem Bahasa Bali. Hal itu yang membuat seakan kreatifitas Komang dalam memilih dan menemukan gaya bahasanya tertutup.

“Padahal, sebuah Karya kreatif harus menabrak aturan-aturan yang berlaku untuk keluar dari keterkurungan itu sampai ke titik keauntetikan diri sang penulis,” terangnya.

Menjawab hal itu, Komang mengaku bahwa sebagai seorang Sarjana Bahasa Bali, menyebabkan ia merasa terikat dengan pemilihan dan penggunaan kata yang ia jadikan didalam karya-karyanya harus sesuai dengan kamus Bahasa Bali. Meskipun, pada dasarnya ia juga sadar, bahwa, setiap daerah memiliki kekhasan bahasanya sendiri.

Meskipun begitu, Komang, menegaskan bahwa kecintaanya dengan desanya lah yang menjadi stimulusnya untuk tetap menulis. “Saya harus menulis khusus tentang apa yg ada di Desa Tajun. Karena saya berprinsip bahwa, tulislah apa yang kamu ketahui,” ujarnya.

Senada dengan Sonia, Gus Surya, juga mengatakan bahwa ia belum menemukan Komang secara pribadi yang lahir dari Desa Tajun di dalam puisinya kali ini. Menurutnya,  Pemilihan Bahasa bali umum yang dipilih Komang untuk mengeskpresikan apa yang diketahui Komang dengan puisinya menjadikan tidak munculnya keauntetikan dari diri Komang.

Bayu, wartawan RRI yang juga hadir dalam acara bedah buku malam itu juga menyampaikan sebuah pertanyaan kepada penulis.

“Puisi mana yang proses kelahirannya membutuhkan tenaga dan waktu yang lama?” tanyanya. 

Buku pupulan puisi bali modern Renganis | Foto: Yudi Setiawan

Menurut Komang, ada beberapa puisi di dalam Kumpulan Puisi Bahasa Bali Modern yang berjudul Renganis ini yang proses lahirnya memakan waktu yang cukup lama. Alasannya, karena ia harus mengenal narasumber atau objek yang akan ia jadikan sebagai puisi.

“Kadang saya sampai membuka catatan-catatan saya ketika semasa kuliah, kemudian mengkonfirmasikannya dengan pihak yang terkait tentang kevalidan data yang saya peroleh sebagai bahan menulis puisi,” jelasnya.

Tak ingin hanya menyimak saja, Ole–panggilan akrab Made Adnyana Ole– juga menyampaikan sudut pandangnya tentang sastra dan kesenian. Menururtnya, idialisme untuk mengenalkan bahasa daerah melalui puisi adalah sebuah upaya untuk mengenalkan kekayaan bahasa atau juga malah menambah khasana bahasa itu sendiri.

“Sebab, dengan puisi, kita dipaksa harus menemukan kata-kata baru yang jarang atau bahkan belum pernah dipakai orang sama sekali, dan itulah sebenarnya yang dinamakan puisi,” katanya.

Ia mengatakan bahwa “kesalahan” Komang dalam menulis puisi berbahasa Bali adalah karena Komang belajar bahasa Bali. Sebab, hal tersebut yang membuatnya tidak berani keluar dari pedoman dan pakem-pakem bahasa Bali yang berlaku. Dan, Itu menyebabkan, Komang belum menemukan kekhasan bahasa Tajun di dalam puisinya.

Sesaat setelah menuangkan pemikirannya, Ole kemudian bertanya kepada Komang, “Apakah kelahiran puisinya mengadopsi seperti proses cara kerja kelahiran Renganis sendiri?”

Menanggapi pertanyaan itu, Komang mengaku bahwa dalam proses kreatifnya menulis puisi, tidak terpikirkan untuk mengadopsi cara kerja Renganis. Hal itu disebabkan karena ia belum mempelajari Renganis secara mendalam. Dan, ia mengaku, proses kreatifnya menulis puisi hanya dari merespon apa yang ia lihat dan ia rasakan saja.

Wayan Sukerena, selaku penerus kesenian Renganis generasi ke tiga dari Desa Pengelatan, memuji karya puisi Komang telah mendapat penghargaan Gerip Maurip tahun 2023.

“Taksu Renganis menyertai Komang,” pujinya.

Setelah memberikan pujian itu, Wayan Sukerena menjelaskan sedikit tentang kesenian Renganis yang menjadi warisan leluhur dari desanya itu. Menurutnya, Renganis terdiri dari dua suku kata. Reng dan manis. (Suara merdu dan mendengarkan suara niskala).

Masih menurut penjelasan Wayan Sukerena, di dalam lantunan kidung Renganis, isinya memiliki unsur pujian-pujian yang mengadopsi suara-suara niskala. “Seperti suara kesunyian malam,” katanya.

Ya, Renganis menurutnya lahir dari kesunyian malam. “kebanyakan malam diartikan dengan kekosongan. Padahal, ketika malam hari, muncul bunyi-bunyian yang dilahirkan oleh alam,” katanya.

Di sela-sela ia bercerita tentang kesenian khas Desa Pengelatan itu, sesekali ia melantunkan kidung renganis dengan nada yang mendayu-dayu. Dan, sebagai penggelut kesenian Renganis, Ia mempunyai harapan, dengan adanya perhatian dari pemerintah untuk lebih memperhatikan Renganis. Agar kesenian adiluhur itu mampu berkelanjutan dan berkembang.

“Pada tahun 2013, kami tampil di PKB teater dengan mengembangkan Renganis dengan inovasi baru dengan melibatkan unsur karya sastra lainnya,” akunya.

Dengan demikian, bahwa, Renganis merupakan salah satu kekayaan seni dan budaya Bali yang patut diperhatikan. Entahlah, sejauh ini, posisi Pemkab Buleleng dalam hal ini ada dimana, saya tidak berani melanjutkan.

Kembali pada topik pembahasan, Juliawan selaku akademisi cum Budayawan, menambahkan bahwa, menghilangkan sifat akademis agar dapat keluar dari pakem-pakem bahasa yg berlaku untuk melahirkan karya sastra yang auntentk itu, tidaklah mudah. Sebab, beban moral yang diemban oleh tenaga pendidik tidak mudah dihilangkan.

Ia kemudian mengutip salah satu kalimat José Miguel Covarrubias–Seniman yang menulis buku Islan Of Bali, Itu– “Jika kamu belajar bahasa Bali, belajarlah ke Buleleng dan ke Klungkung”.

Sebab, menurutnya, di kedua daerah itulah bahasa yang digunakan memiliki keauntetikan dengan ciri khas daerahnya masing-masing.

Diskusi malam itu memang menarik. Semua menyumbangkan pemikirannya tentang seni dan budaya serta cara kerja proses kelahiran puisi dengan melibatkan berbagai metode yang mungkin bisa dilakukan. Semua saling bercengkrama. Semua saling belajar. Tak ada yang menggurui, tak ada pula yang digurui.

Ya, hal itu senada dengan tujuan adanya Klub Buku Singaraja, ini. Menurut Rusdi–selaku penanggung jawab Klub Buku Singaraja–mengatakan bahwa, “Klub Buku ini membuka ruang alternatif baru untuk bercengkrama bersama kawan-kawan yang ada di Singaraja. Sekedar berbincang soal buku, sastra, musik atau semua yang tanpa ragu ingin kita ucapkan,” jelasnya.

Acara diskusi dan bedah buku itu ditutup dengan dilantunkannya kidung Renganis dari Wayan Sukerena dan Komang Sujana.

Di atas sofa merah itu, –mengutip status fb Made Adnyana Ole, kata-kata didudukkan, kreasi dimainkan, diskusi dipanggungkan, kesimpulan dibawa pulang oleh masing-masing peserta dengan kesan dan pesan yang bisa seragam, bisa juga beragam–Suara kidung dari dua lelaki pecinta bahasa Bali itu saling bersahut-sahutan.

Seakan tak ingin kalah dengan mereka berdua, di luar, di depan Rumah Belajar Komunitas Mahima, di antara becek tanah, rembesan sisa air hujan, dan di persawahan yang baru ditanami, katak dan Jangkrik pun mengeluarkan nyanyian-nyanyian malamnya. [T]

Metamorfosis Imajinasi: Sebuah Catatan Kreativitas Guru
Sehat Ketawa ala Dokter Arya: Humoris, Kritis, dan Mencerahkan
Potret Ikonis Singaraja dalam Cerpen
Tags: BukuKlub Buku SingarajaKomunitas Mahimapuisi bali anyarpuisi berbahasa balisastra bali modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

 “Jalinan Kasih” di Bulan Kasih Sayang Bersama Monarch Bali Dalung

Next Post

Majelis Buku Tipis dari Komunitas Akarpohon: Bicara 8 Buku Tipis dari 8 Penulis

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Majelis Buku Tipis dari Komunitas Akarpohon: Bicara 8 Buku Tipis dari 8 Penulis

Majelis Buku Tipis dari Komunitas Akarpohon: Bicara 8 Buku Tipis dari 8 Penulis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co