2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekaa Gong Legendaris Jagaraga, Momentum Menghidupkan Kembali Jiwa dan Spirit Gde Manik

Jaswanto by Jaswanto
February 14, 2024
in Liputan Khusus
Sekaa Gong Legendaris Jagaraga, Momentum Menghidupkan Kembali Jiwa dan Spirit Gde Manik

Pak Kranca saat latihan gong kebyar Jagaraga di Desa Jagaraga Buleleng | Foto: Hizkia

MALAM yang basah. Di balai banjar yang berdiri tepat di samping pasar desa, seorang lelaki tua sedang meraba-raba ingatan. Tampak keras ia mencoba memainkan  ugal. Sedang pria tua lainnya duduk terdiam dengan tatapan mengibakan. Ia seperti mengenang sesuatu di masa lalu.

Di depan pagar tempat sebarung gong disimpan dan diletakkan, tergeletak begitu saja dua buntal kangkung milik pedagang. Selayaknya pasar, macam-macam bau tercium, tak terkecuali pesing dari gang sempit yang becek.

Dua lelaki muda baru saja datang. Rombongan orang tua menyusul kemudian. Mereka semua memakai kamen dan udeng—dua barang penanda bahwa mereka tidak sedang ingin nongkrong-nongkrong dan membual. Memangnya orang macam apa yang—meski mungkin ada—memakai kamen dan udeng hanya untuk nongkrong dan membual?

Mereka saling bertegur sapa. Beberapa orang duduk di posisi-posisi masing-masing, lebih tepatnya duduk di belakang gamelan masing-masing. Sedang sisanya duduk di luar pagar sambil berbincang dan merokok. Mereka semua sedang menunggu seseorang.

Tak lama kemudian, yang sama-sama ditunggu telah datang. Sosok lelaki tua dengan kemeja biru, kamen dan udeng, muncul dari ujung gang bersama seorang pemuda yang memboncengnya. Orang tua itu berjalan dengan sangat pelan dan hati-hati. Melihat caranya berjalan, lantai pasar seperti menjelma setapak yang licin.

Pak Kranca di tengah latihan sekaa gong di desa Jagaraga, Buleleng | Foto: Hizkia

Pria tua itu bernama Made Kranca, sang maestro gong kebyar, cucu Pan Wandres yang legendaris, dan murid sang legenda Gde Manik. Malam itu, ia akan melatih para penabuh gong legendaris Jagaraga—orang Jagaraga menyebutnya gong gede—yang sudah lama tidak bergaung di panggung-panggung besar di Bali.

Seniman tua itu duduk di depan gangsa setelah berusaha menaiki satu-dua anak tangga tempat latihan. Segera ia meminta beberapa orang untuk menabuh gamelan berbilah itu. Jika ada nada yang salah, ia akan  segera menunjukkan yang benar dengan suara mulut atau gamelan di depannya. Dasar maestro, ia menabuh gamelan semudah mengedipkan kedua mata.

Seorang lelaki paruh baya yang duduk tepat di depannya, tampaknya lumayan memiliki kendala. Berkali-kali Kranca harus menunjukkan nada yang benar. Dengan sabar ia menabuh gamelannya dengan gerakan lambat, supaya murid paruh bayanya itu mengerti dan dapat mengingatnya.

Setelah dirasa mengerti, ia mempercepat gerakannya.  Semakin cepat. Sampai panggul itu seperti melayang dan tak menyentuh bilah gamelan. Si murid mengikutinya. Guru dan murid itu kemudian tertawa.

Malam penuh nyamuk. Tampaknya semua orang sudah datang. Tua-muda sudah berada di tempatnya masing-masing. Gendang dikeluarkan dari wadahnya. Mereka berdoa sebelum tabuh Terunajaya membangkitkan kembali gairah berkesenian di Jagaraga yang selama ini rebah dan menutup mata.

Para penabuh sekaa gong Desa Jagaraga, Buleleng, sedang latihan | Foto: Hizkia

Para penabuh, tua-muda, saling beradu kebolehan dalam satu irama. Yang muda lebih enerjik dan menggairahkan, yang tua tampak lebih kalem, sabar, dan bijaksana. Seperti conductor dalam orkestra, Kranca berdiri memukul-mukul udara. Ia mengedarkan pandangan sambil tetap menggerakkan panggul di tangannya. Seniman tua itu seperti melihat sang guru duduk di antara kakek-kakek tua yang ikut berlatih malam itu. 

Mereka semua fokus. Mereka semua serius. Para muda dan tua itu, akan pentas di panggung Pesta Kesenian Bali (PKB) Juni mendatang. Tahun ini, saatnya Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma, Desa Adat Jagaraga, Kecamatan Sawan, mewakili Kabupaten Buleleng di PKB 2024.

“Kami persiapan sejak Agustus tahun lalu,” Nyoman Arya Suriawan, seniman tari Jagaraga, membuka perbincangan saat ditemui di rumahnya di Banjar Dinas Kauh Teben, Desa Jagaraga, Sabtu (10/2/2024) siang.

Nyoman Arya memiliki posisi penting dalam pementasan kali ini. Ia ditunjuk sebagai ketua, atau koordinator, untuk menyiapkan segala hal, dari pra sampai pasca nantinya. Menurutnya, ini sesuatu yang berat. “Tapi mau bagaimana lagi, tanggung jawab harus diselesaikan,” ujarnya sembari tertawa.

Sebuah Momentum

Desa Jagaraga, sampai saat ini, masih dianggap—bahkan banyak orang yang meyakini—sebagai tempat lahir kesenian Bali bernama Gong Kebyar. Pada 1915—sebagaimana Colin McPhee menulis dalam catatannya yang monumental, Music in Form and Instrumental, Oganization in Balinese Orchestral Music (1986)—di Jagaraga sudah ada gong mebarung. Pria Kanada itu menulis demikian atas dasar tuturan Anak Agung Gede Gusti Jelantik, Regen Buleleng saat itu, pada tahun 1937.

Pak Kranca | Foto Hizkia

Terlepas dari kepastian apakah Gong Kebyar lahir di Jagaraga atau desa di sekitarnya, yang jelas, dalam khazanah Gong Kebyar, Jagaraga tak boleh dilupakan. Bagi penduduk Jagaraga, I Wayan Paraupan atau  Pan Wandres, kakek Made Kranca, adalah sosok pencipta gong kebyar dengan karyanya yang dikenal dengan Tari Kebyar Legong.

Pada tahun 1915, seniman tabuh dan tari itu menciptakan sebuah tarian yang dibawakan oleh dua orang penari. Elemen-elemen yang dijadikan konstruksi tari berdurasi panjang itu, sebagaimana disampaikan beberapa sumber terkait, merupakan kombinasi Tari Baris, Jauk, dan Legong.

Tak jelas, apakah karena ada penggalan pengawak Legong-nya yang menyebabkan tari ini disebut Kebyar Legong. Yang pasti, tari ini sejak awal memang diiringi dengan Gong Kebyar—gamelan yang kini hampir dimiliki oleh setiap banjar atau desa di Bali.

Tersebutlah dua sosok penari Kebyar Legong yang pertama, yaitu I Gde Manik bersama pasangannya, Mangku Ongka. Pada tahun 1925, Gde Manik menunjukkan bakat dan jati dirinya sebagai seorang kreator tari. Berorientasi dari Tari Kebyar Legong yang sering dibawakannya, ia menelurkan karya Tari Kebyar Legong versi lain—yang berdurasi lebih pendek namun tetap menunjukkan karakteristik tari yang dinamis. Pada tahun 1950-an, tari yang bernuansa gelora teruna nan heroik itu, belakangan diberi nama oleh Presiden Soekarno: Tari Terunajaya. Gde Manik menerimanya dengan bangga.

Saat itu, nama Gde Manik menjadi buah bibir. Ia menjadi bintang, dielu-elukan, dianggap, dan dijadikan sebagai guru. Namanya harum di pelosok-pelosok Bali. Seniman-seniman besar mendatanginya. Akademisi-akademisi menjadikan karyanya sebagai bahan penelitian. Banyak sanggar hidup dari karya-karyanya. Pariwisata semakin manis atas hadirnya Tari Terunajaya.

Gde Manik terbang ke luar negeri, ke Amerika, Eropa, dan daratan lain yang mungkin tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dunia bangga dan menaruh hormat padanya. “Tetapi kakek tetap miskin, tak punya rumah. Ia sering utang beras—bahkan tembakau selinting saja tak punya,” ujar Nyoman Arya Suriawan, cucu Made Raka—adik kandung Gde Manik. Mendengar suara Nyoman Arya, seketika dunia seperti berhenti berputar.

Pada kisaran tahun 1950-an, desa yang bertengger di ketinggian 125 meter di atas permukaan laut yang diapit oleh Sungai Aya dan Sungai Gelung itu, dihuni banyak seniman tabuh maupun tari yang miskin. Seniman-seniman di masa itu hanya mengandalkan pertanian sebagai tumpuan utama, termasuk Gde Manik. Malahan, ia tak punya tanah. Ia hidup sebagai penyakap—atau penggarap lahan milik orang lain.

Gde Manik (tengah) bersama Michael Tanzer (kiri) dan I Wayan Suweca (kanan) | Foto> Dok Nyoman Arya

Pada tahun 1963, saat Gunung Agung meletus, yang kata Anna Mathews menelan 1.500 korban itu, serangan kelaparan yang mengerikan membayangi orang-orang Jagaraga. Sawah tertimbun pasir. Padi menolak tumbuh. Makan ketela adalah pilihan satu-satunya. Maka wajar, pada kisaran tahun 70-an, banyak orang meninggalkan Jagaraga. Mereka ke Denpasar, Jakarta, sampai jauh ke Sulawesi.

Pria-wanita yang sudah maupun yang belum berkeluarga mengemas barang meninggalkan kampung halaman, baik demi memperbaiki kesejahteraan, meniti karier, mengundi nasib, atau menikmati segala kemewahan yang ditawarkan kota. Banyak dari mereka enggan mudik ke desa kecuali upacara. Uang-uang yang dihasilkan di tanah rantau juga tidak selalu merembes ke kampung.

Tahun-tahun itu, Jagaraga kehilangan banyak seniman, tenaga kerja produktif, lahan pertanian tak tergarap, gairah hidup, juga harapan. Kondisi tersebut diperparah saat sang maestro tari dan tabuh, Gde Manik, meninggal dunia pada tahun 1985. Gong Kebyar Jagaraga seolah lenyap di jagat kesenian Bali bersama abu kremasi sang maestro yang akrab dipanggil Pan Resik itu.

“Tak banyak yang mau meneruskan perjuangan kakek. Katanya tak menguntungkan, sing ada pis. Pada tahun itu orang Jagaraga terpaksa lacur, mungkin sampai hari ini. Saat ini saja, misalnya, hanya Pak Kranca yang masih punya semangat. Kalau misalnya dia sudah tidak ada, siapa lagi yang meneruskan?” ujar Nyoman Arya. Ia bertanya, “Siapa lagi yang meneruskan?”, Padahal ia juga sudah tahu jawabannya.

Bertahun-tahun sudah Jagaraga menjadi pusat perhatian, baik kesenian maupun sejarah pilu di masa lalu. Desa ini selalu disinggung jika berbicara tentang kegemilangan Gong Kebyar dan perlawanan di masa kolonial. Jagaraga, desa kecil yang subur, memang menyimpan banyak cerita sedih. Pada tahun 1848 hingga 1849, terjadi pertempuran dahsyat di sana, antara pihak Patih Jelantik dengan penjajah Belanda. “Bahkan, saking sedihnya, Desa Jagaraga, yang notabene sebagai desa yang melahirkan Gong Kebyar, dari zaman Pan Wanres sampai sekarang, tak mampu membeli sebarung gamelan. Gamelan yang dipakai latihan semalam itu sudah ada sejak zaman 1915,” ujar Nyoman Arya.

Suasana latihan sekaa gong Desa Jagaraga | Foto: Hizkia

Sepeninggalan Gde Manik, Jagaraga telah lama luput dari perhatian, tidak saja oleh mata pemerintah, orang asing, dan pelancong etnografis, tapi juga oleh pemerhati pariwisata di zaman kita kini. Dengan sudut mata pun bahkan tak dilirik.

Namun, tahun ini, bisa jadi pusat perhatian itu akan kembali tertuju padanya. Orang-orang akan kembali mendengar dan melihat Terunajaya ditarikan oleh mereka yang lahir dari tangan dingin Gde Manik di panggung PKB 2024. Orang-orang akan kembali merasakan kebyar Jagaraga yang selama ini tenggelam oleh kebyar-kebyar di wilayah lain—yang jauh lebih ngebyar tentu saja.

Mengenai hal tersebut, sebagaimana telah disampaikan Nyoman Arya di awal, bahwa Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma sudah melakukan persiapan sejak bulan Agustus tahun lalu. Sebagai orang yang ditunjuk untuk memimpin sekaa, Arya mengaku telah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk desa. “Agustus kami mulai mengumpulkan para penabuh. Lalu menyepakati jadwal latihan,” ujarnya.

Pada saat mengumpulkan para penabuh—yang notabene setengahnya berumur 60 tahun ke atas—Arya dan perangkat desa kembali harus menyampaikan kejayaan Gong Kebyar Jagaraga di masa lalu. Perangkat desa dinas maupun adat membangkitkan kembali ingatan-ingatan para seniman tua itu akan perjuangan Gde Manik, suka-duka berkesenian, sampai mereka tak ada keraguan sedikit pun untuk ikut berpartisipasi.

“Pada saat pertemuan mereka sangat meyakinkan. Ketika kepala desa menyerukan kata setuju, mereka menyahut setuju. Tapi waktu latihan, tidak ada yang datang,” tutur Arya disusul dengan tawa yang tak terbendung.

I Made Andreas Dylon, seniman muda Jagaraga yang ditunjuk untuk memainkan gendang, mengatakan persiapan Sekaa Gong Jaya Kusuma untuk PKB 2024 sudah sekitar enam puluh persen. Mahasiswa semester 4 ISI Denpasar itu bisa dikatakan salah satu—jika bukan satu-satunya—generasi muda Jagaraga yang serius belajar kesenian, khususnya karawitan. Ia mengaku belajar berkesenian sejak usia kanak-kanak.

“Saya sudah menyiapkan semua, dari meluangkan waktu, bolak-balik Denpasar-Singaraja, mental, sampai mempelajari materi-mater yang diberikan,” ujar pemuda yang akrab dipanggil Andreas Dylon itu.

Sejauh ini, selama proses produksi, Nyoman Arya masih mengeluarkan biaya sendiri. Dari keperluan perbaikan gamelan, sampai menyediakan air, kopi, dan kudapan. Itu semua ia lakukan, supaya Gong Kebyar Jagaraga kembali muncul ke permukaan, bukan hanya dianggap peninggalan masa silam yang terkubur bersama mendiang mestronya. “Kendang itu pun punya saya pribadi,” katanya.

Pada Pesta Kesenian Bali 2024 ini, Sekaa Gong Legendaris Jagaraga akan membawakan dua tabuh dan dua tari karya Gde Manik, yakni Tabuh Baratayuda, Tabuh Manik Amutus, Tari Terunajaya, dan Tari Palawakya.[T]

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

BACA liputan GONG LEGENDARIS lain di Bali

Sekaa Gong Legendaris dari Desa Angantaka, Ngebyar Sebelum Indonesia Merdeka
Sekaa Gong Legendaris Sengguan Singapadu Bernostalgia dengan Karya-karya Tahun 1982  
Banda Sawitra, Gong Legendaris dari Desa Kedis: Ngebyar Sejak Tahun 1900
Sekaa Gong Legendaris dari Perean Kangin di PKB | Mainkan Gong Tua yang Pernah Dikubur dalam Tanah
Tags: bali utarabulelengDesa Jagaragagong kebyarGong Legendariskesenian baliPesta Kesenian Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Politik Uang Tampaknya Masih Tumbuh Subur Pada Pemilu 2024

Next Post

“Hidup Baik Untuk Belajar Mati” | Pesan Wayang Cenk-Blonk di Bulan Bahasa Bali

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

by Jaswanto
June 29, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota...

Read moreDetails

Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

by Jaswanto
June 28, 2026
0
Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar....

Read moreDetails

Hikayat Tuak

by Jaswanto
May 30, 2026
0
Hikayat Tuak

KAKEK tua itu memanjat pohon lontar—yang tinggi—sesantai menaiki anak tangga. Meski sudah berumur, tangannya masih kuat mencengkeram, sedang sedikit pun...

Read moreDetails

Ritual Menanam Beras Merah

by Jaswanto
May 28, 2026
0
Ritual Menanam Beras Merah

“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih,...

Read moreDetails

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

by Jaswanto
May 15, 2026
0
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

Read moreDetails

Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

by Jaswanto
April 14, 2026
0
Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

PERAYAAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-422 Kota Singaraja tahun 2026 berlangsung sepanjang Maret dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat luas....

Read moreDetails

Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

by Jaswanto
March 20, 2026
0
Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

“SAYA belum pernah merasakan Nyepi di Bali; tapi sering diberitahu orang-orang kalau Nyepi di Bali itu kebanyakan tidak diisi dengan...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

HINGGA saat ini, di daerah Tejakula, sebut saja seperti Sembiran, Pacung, Julah, dan Bondalem, masih banyak perajin tenun. Tentu saja...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

PADA tulisan sebelumnya, saya telah uraikan bukti-bukti kuat yang menyatakan bahwa Bali Utara—khususnya wilayah Tejakula dan sekitarnya—merupakan jalur dagang pada...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

DALAM sejarah, Singaraja (Buleleng) di Bali Utara tercatat sebagai jalur perdagangan yang semarak dan hidup. Apalagi saat wilayah yang didirikan...

Read moreDetails
Next Post
“Hidup Baik Untuk Belajar Mati” | Pesan Wayang Cenk-Blonk di Bulan Bahasa Bali

“Hidup Baik Untuk Belajar Mati” | Pesan Wayang Cenk-Blonk di Bulan Bahasa Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co