3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekaa Gong Legendaris Jagaraga, Momentum Menghidupkan Kembali Jiwa dan Spirit Gde Manik

Jaswanto by Jaswanto
February 14, 2024
in Liputan Khusus
Sekaa Gong Legendaris Jagaraga, Momentum Menghidupkan Kembali Jiwa dan Spirit Gde Manik

Pak Kranca saat latihan gong kebyar Jagaraga di Desa Jagaraga Buleleng | Foto: Hizkia

MALAM yang basah. Di balai banjar yang berdiri tepat di samping pasar desa, seorang lelaki tua sedang meraba-raba ingatan. Tampak keras ia mencoba memainkan  ugal. Sedang pria tua lainnya duduk terdiam dengan tatapan mengibakan. Ia seperti mengenang sesuatu di masa lalu.

Di depan pagar tempat sebarung gong disimpan dan diletakkan, tergeletak begitu saja dua buntal kangkung milik pedagang. Selayaknya pasar, macam-macam bau tercium, tak terkecuali pesing dari gang sempit yang becek.

Dua lelaki muda baru saja datang. Rombongan orang tua menyusul kemudian. Mereka semua memakai kamen dan udeng—dua barang penanda bahwa mereka tidak sedang ingin nongkrong-nongkrong dan membual. Memangnya orang macam apa yang—meski mungkin ada—memakai kamen dan udeng hanya untuk nongkrong dan membual?

Mereka saling bertegur sapa. Beberapa orang duduk di posisi-posisi masing-masing, lebih tepatnya duduk di belakang gamelan masing-masing. Sedang sisanya duduk di luar pagar sambil berbincang dan merokok. Mereka semua sedang menunggu seseorang.

Tak lama kemudian, yang sama-sama ditunggu telah datang. Sosok lelaki tua dengan kemeja biru, kamen dan udeng, muncul dari ujung gang bersama seorang pemuda yang memboncengnya. Orang tua itu berjalan dengan sangat pelan dan hati-hati. Melihat caranya berjalan, lantai pasar seperti menjelma setapak yang licin.

Pak Kranca di tengah latihan sekaa gong di desa Jagaraga, Buleleng | Foto: Hizkia

Pria tua itu bernama Made Kranca, sang maestro gong kebyar, cucu Pan Wandres yang legendaris, dan murid sang legenda Gde Manik. Malam itu, ia akan melatih para penabuh gong legendaris Jagaraga—orang Jagaraga menyebutnya gong gede—yang sudah lama tidak bergaung di panggung-panggung besar di Bali.

Seniman tua itu duduk di depan gangsa setelah berusaha menaiki satu-dua anak tangga tempat latihan. Segera ia meminta beberapa orang untuk menabuh gamelan berbilah itu. Jika ada nada yang salah, ia akan  segera menunjukkan yang benar dengan suara mulut atau gamelan di depannya. Dasar maestro, ia menabuh gamelan semudah mengedipkan kedua mata.

Seorang lelaki paruh baya yang duduk tepat di depannya, tampaknya lumayan memiliki kendala. Berkali-kali Kranca harus menunjukkan nada yang benar. Dengan sabar ia menabuh gamelannya dengan gerakan lambat, supaya murid paruh bayanya itu mengerti dan dapat mengingatnya.

Setelah dirasa mengerti, ia mempercepat gerakannya.  Semakin cepat. Sampai panggul itu seperti melayang dan tak menyentuh bilah gamelan. Si murid mengikutinya. Guru dan murid itu kemudian tertawa.

Malam penuh nyamuk. Tampaknya semua orang sudah datang. Tua-muda sudah berada di tempatnya masing-masing. Gendang dikeluarkan dari wadahnya. Mereka berdoa sebelum tabuh Terunajaya membangkitkan kembali gairah berkesenian di Jagaraga yang selama ini rebah dan menutup mata.

Para penabuh sekaa gong Desa Jagaraga, Buleleng, sedang latihan | Foto: Hizkia

Para penabuh, tua-muda, saling beradu kebolehan dalam satu irama. Yang muda lebih enerjik dan menggairahkan, yang tua tampak lebih kalem, sabar, dan bijaksana. Seperti conductor dalam orkestra, Kranca berdiri memukul-mukul udara. Ia mengedarkan pandangan sambil tetap menggerakkan panggul di tangannya. Seniman tua itu seperti melihat sang guru duduk di antara kakek-kakek tua yang ikut berlatih malam itu. 

Mereka semua fokus. Mereka semua serius. Para muda dan tua itu, akan pentas di panggung Pesta Kesenian Bali (PKB) Juni mendatang. Tahun ini, saatnya Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma, Desa Adat Jagaraga, Kecamatan Sawan, mewakili Kabupaten Buleleng di PKB 2024.

“Kami persiapan sejak Agustus tahun lalu,” Nyoman Arya Suriawan, seniman tari Jagaraga, membuka perbincangan saat ditemui di rumahnya di Banjar Dinas Kauh Teben, Desa Jagaraga, Sabtu (10/2/2024) siang.

Nyoman Arya memiliki posisi penting dalam pementasan kali ini. Ia ditunjuk sebagai ketua, atau koordinator, untuk menyiapkan segala hal, dari pra sampai pasca nantinya. Menurutnya, ini sesuatu yang berat. “Tapi mau bagaimana lagi, tanggung jawab harus diselesaikan,” ujarnya sembari tertawa.

Sebuah Momentum

Desa Jagaraga, sampai saat ini, masih dianggap—bahkan banyak orang yang meyakini—sebagai tempat lahir kesenian Bali bernama Gong Kebyar. Pada 1915—sebagaimana Colin McPhee menulis dalam catatannya yang monumental, Music in Form and Instrumental, Oganization in Balinese Orchestral Music (1986)—di Jagaraga sudah ada gong mebarung. Pria Kanada itu menulis demikian atas dasar tuturan Anak Agung Gede Gusti Jelantik, Regen Buleleng saat itu, pada tahun 1937.

Pak Kranca | Foto Hizkia

Terlepas dari kepastian apakah Gong Kebyar lahir di Jagaraga atau desa di sekitarnya, yang jelas, dalam khazanah Gong Kebyar, Jagaraga tak boleh dilupakan. Bagi penduduk Jagaraga, I Wayan Paraupan atau  Pan Wandres, kakek Made Kranca, adalah sosok pencipta gong kebyar dengan karyanya yang dikenal dengan Tari Kebyar Legong.

Pada tahun 1915, seniman tabuh dan tari itu menciptakan sebuah tarian yang dibawakan oleh dua orang penari. Elemen-elemen yang dijadikan konstruksi tari berdurasi panjang itu, sebagaimana disampaikan beberapa sumber terkait, merupakan kombinasi Tari Baris, Jauk, dan Legong.

Tak jelas, apakah karena ada penggalan pengawak Legong-nya yang menyebabkan tari ini disebut Kebyar Legong. Yang pasti, tari ini sejak awal memang diiringi dengan Gong Kebyar—gamelan yang kini hampir dimiliki oleh setiap banjar atau desa di Bali.

Tersebutlah dua sosok penari Kebyar Legong yang pertama, yaitu I Gde Manik bersama pasangannya, Mangku Ongka. Pada tahun 1925, Gde Manik menunjukkan bakat dan jati dirinya sebagai seorang kreator tari. Berorientasi dari Tari Kebyar Legong yang sering dibawakannya, ia menelurkan karya Tari Kebyar Legong versi lain—yang berdurasi lebih pendek namun tetap menunjukkan karakteristik tari yang dinamis. Pada tahun 1950-an, tari yang bernuansa gelora teruna nan heroik itu, belakangan diberi nama oleh Presiden Soekarno: Tari Terunajaya. Gde Manik menerimanya dengan bangga.

Saat itu, nama Gde Manik menjadi buah bibir. Ia menjadi bintang, dielu-elukan, dianggap, dan dijadikan sebagai guru. Namanya harum di pelosok-pelosok Bali. Seniman-seniman besar mendatanginya. Akademisi-akademisi menjadikan karyanya sebagai bahan penelitian. Banyak sanggar hidup dari karya-karyanya. Pariwisata semakin manis atas hadirnya Tari Terunajaya.

Gde Manik terbang ke luar negeri, ke Amerika, Eropa, dan daratan lain yang mungkin tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dunia bangga dan menaruh hormat padanya. “Tetapi kakek tetap miskin, tak punya rumah. Ia sering utang beras—bahkan tembakau selinting saja tak punya,” ujar Nyoman Arya Suriawan, cucu Made Raka—adik kandung Gde Manik. Mendengar suara Nyoman Arya, seketika dunia seperti berhenti berputar.

Pada kisaran tahun 1950-an, desa yang bertengger di ketinggian 125 meter di atas permukaan laut yang diapit oleh Sungai Aya dan Sungai Gelung itu, dihuni banyak seniman tabuh maupun tari yang miskin. Seniman-seniman di masa itu hanya mengandalkan pertanian sebagai tumpuan utama, termasuk Gde Manik. Malahan, ia tak punya tanah. Ia hidup sebagai penyakap—atau penggarap lahan milik orang lain.

Gde Manik (tengah) bersama Michael Tanzer (kiri) dan I Wayan Suweca (kanan) | Foto> Dok Nyoman Arya

Pada tahun 1963, saat Gunung Agung meletus, yang kata Anna Mathews menelan 1.500 korban itu, serangan kelaparan yang mengerikan membayangi orang-orang Jagaraga. Sawah tertimbun pasir. Padi menolak tumbuh. Makan ketela adalah pilihan satu-satunya. Maka wajar, pada kisaran tahun 70-an, banyak orang meninggalkan Jagaraga. Mereka ke Denpasar, Jakarta, sampai jauh ke Sulawesi.

Pria-wanita yang sudah maupun yang belum berkeluarga mengemas barang meninggalkan kampung halaman, baik demi memperbaiki kesejahteraan, meniti karier, mengundi nasib, atau menikmati segala kemewahan yang ditawarkan kota. Banyak dari mereka enggan mudik ke desa kecuali upacara. Uang-uang yang dihasilkan di tanah rantau juga tidak selalu merembes ke kampung.

Tahun-tahun itu, Jagaraga kehilangan banyak seniman, tenaga kerja produktif, lahan pertanian tak tergarap, gairah hidup, juga harapan. Kondisi tersebut diperparah saat sang maestro tari dan tabuh, Gde Manik, meninggal dunia pada tahun 1985. Gong Kebyar Jagaraga seolah lenyap di jagat kesenian Bali bersama abu kremasi sang maestro yang akrab dipanggil Pan Resik itu.

“Tak banyak yang mau meneruskan perjuangan kakek. Katanya tak menguntungkan, sing ada pis. Pada tahun itu orang Jagaraga terpaksa lacur, mungkin sampai hari ini. Saat ini saja, misalnya, hanya Pak Kranca yang masih punya semangat. Kalau misalnya dia sudah tidak ada, siapa lagi yang meneruskan?” ujar Nyoman Arya. Ia bertanya, “Siapa lagi yang meneruskan?”, Padahal ia juga sudah tahu jawabannya.

Bertahun-tahun sudah Jagaraga menjadi pusat perhatian, baik kesenian maupun sejarah pilu di masa lalu. Desa ini selalu disinggung jika berbicara tentang kegemilangan Gong Kebyar dan perlawanan di masa kolonial. Jagaraga, desa kecil yang subur, memang menyimpan banyak cerita sedih. Pada tahun 1848 hingga 1849, terjadi pertempuran dahsyat di sana, antara pihak Patih Jelantik dengan penjajah Belanda. “Bahkan, saking sedihnya, Desa Jagaraga, yang notabene sebagai desa yang melahirkan Gong Kebyar, dari zaman Pan Wanres sampai sekarang, tak mampu membeli sebarung gamelan. Gamelan yang dipakai latihan semalam itu sudah ada sejak zaman 1915,” ujar Nyoman Arya.

Suasana latihan sekaa gong Desa Jagaraga | Foto: Hizkia

Sepeninggalan Gde Manik, Jagaraga telah lama luput dari perhatian, tidak saja oleh mata pemerintah, orang asing, dan pelancong etnografis, tapi juga oleh pemerhati pariwisata di zaman kita kini. Dengan sudut mata pun bahkan tak dilirik.

Namun, tahun ini, bisa jadi pusat perhatian itu akan kembali tertuju padanya. Orang-orang akan kembali mendengar dan melihat Terunajaya ditarikan oleh mereka yang lahir dari tangan dingin Gde Manik di panggung PKB 2024. Orang-orang akan kembali merasakan kebyar Jagaraga yang selama ini tenggelam oleh kebyar-kebyar di wilayah lain—yang jauh lebih ngebyar tentu saja.

Mengenai hal tersebut, sebagaimana telah disampaikan Nyoman Arya di awal, bahwa Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma sudah melakukan persiapan sejak bulan Agustus tahun lalu. Sebagai orang yang ditunjuk untuk memimpin sekaa, Arya mengaku telah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk desa. “Agustus kami mulai mengumpulkan para penabuh. Lalu menyepakati jadwal latihan,” ujarnya.

Pada saat mengumpulkan para penabuh—yang notabene setengahnya berumur 60 tahun ke atas—Arya dan perangkat desa kembali harus menyampaikan kejayaan Gong Kebyar Jagaraga di masa lalu. Perangkat desa dinas maupun adat membangkitkan kembali ingatan-ingatan para seniman tua itu akan perjuangan Gde Manik, suka-duka berkesenian, sampai mereka tak ada keraguan sedikit pun untuk ikut berpartisipasi.

“Pada saat pertemuan mereka sangat meyakinkan. Ketika kepala desa menyerukan kata setuju, mereka menyahut setuju. Tapi waktu latihan, tidak ada yang datang,” tutur Arya disusul dengan tawa yang tak terbendung.

I Made Andreas Dylon, seniman muda Jagaraga yang ditunjuk untuk memainkan gendang, mengatakan persiapan Sekaa Gong Jaya Kusuma untuk PKB 2024 sudah sekitar enam puluh persen. Mahasiswa semester 4 ISI Denpasar itu bisa dikatakan salah satu—jika bukan satu-satunya—generasi muda Jagaraga yang serius belajar kesenian, khususnya karawitan. Ia mengaku belajar berkesenian sejak usia kanak-kanak.

“Saya sudah menyiapkan semua, dari meluangkan waktu, bolak-balik Denpasar-Singaraja, mental, sampai mempelajari materi-mater yang diberikan,” ujar pemuda yang akrab dipanggil Andreas Dylon itu.

Sejauh ini, selama proses produksi, Nyoman Arya masih mengeluarkan biaya sendiri. Dari keperluan perbaikan gamelan, sampai menyediakan air, kopi, dan kudapan. Itu semua ia lakukan, supaya Gong Kebyar Jagaraga kembali muncul ke permukaan, bukan hanya dianggap peninggalan masa silam yang terkubur bersama mendiang mestronya. “Kendang itu pun punya saya pribadi,” katanya.

Pada Pesta Kesenian Bali 2024 ini, Sekaa Gong Legendaris Jagaraga akan membawakan dua tabuh dan dua tari karya Gde Manik, yakni Tabuh Baratayuda, Tabuh Manik Amutus, Tari Terunajaya, dan Tari Palawakya.[T]

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

BACA liputan GONG LEGENDARIS lain di Bali

Sekaa Gong Legendaris dari Desa Angantaka, Ngebyar Sebelum Indonesia Merdeka
Sekaa Gong Legendaris Sengguan Singapadu Bernostalgia dengan Karya-karya Tahun 1982  
Banda Sawitra, Gong Legendaris dari Desa Kedis: Ngebyar Sejak Tahun 1900
Sekaa Gong Legendaris dari Perean Kangin di PKB | Mainkan Gong Tua yang Pernah Dikubur dalam Tanah
Tags: bali utarabulelengDesa Jagaragagong kebyarGong Legendariskesenian baliPesta Kesenian Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Politik Uang Tampaknya Masih Tumbuh Subur Pada Pemilu 2024

Next Post

“Hidup Baik Untuk Belajar Mati” | Pesan Wayang Cenk-Blonk di Bulan Bahasa Bali

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Hikayat Tuak

by Jaswanto
May 30, 2026
0
Hikayat Tuak

KAKEK tua itu memanjat pohon lontar—yang tinggi—sesantai menaiki anak tangga. Meski sudah berumur, tangannya masih kuat mencengkeram, sedang sedikit pun...

Read moreDetails

Ritual Menanam Beras Merah

by Jaswanto
May 28, 2026
0
Ritual Menanam Beras Merah

“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih,...

Read moreDetails

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

by Jaswanto
May 15, 2026
0
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

Read moreDetails

Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

by Jaswanto
April 14, 2026
0
Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

PERAYAAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-422 Kota Singaraja tahun 2026 berlangsung sepanjang Maret dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat luas....

Read moreDetails

Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

by Jaswanto
March 20, 2026
0
Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

“SAYA belum pernah merasakan Nyepi di Bali; tapi sering diberitahu orang-orang kalau Nyepi di Bali itu kebanyakan tidak diisi dengan...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

HINGGA saat ini, di daerah Tejakula, sebut saja seperti Sembiran, Pacung, Julah, dan Bondalem, masih banyak perajin tenun. Tentu saja...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

PADA tulisan sebelumnya, saya telah uraikan bukti-bukti kuat yang menyatakan bahwa Bali Utara—khususnya wilayah Tejakula dan sekitarnya—merupakan jalur dagang pada...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

DALAM sejarah, Singaraja (Buleleng) di Bali Utara tercatat sebagai jalur perdagangan yang semarak dan hidup. Apalagi saat wilayah yang didirikan...

Read moreDetails

Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

by Agus Wiratama
January 9, 2026
0
Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

BERJUMPA dengan pelaku Gambuh Batuan, membuat saya bertanya: “Tubuh yang membentuk tari, atau tari yang membentuk tubuh? Karya yang membentuk...

Read moreDetails

Kontak Sosial Singaraja-Lombok: Dari Perdagangan, Perkawinan hingga Pendidikan

by Jaswanto
February 28, 2025
0
Kontak Sosial Singaraja-Lombok: Dari Perdagangan, Perkawinan hingga Pendidikan

SEBAGAIMANA Banyuwangi di Pulau Jawa, secara geografis, letak Pulau Lombok juga cukup dekat dengan Pulau Bali, sehingga memungkinkan penduduk kedua...

Read moreDetails
Next Post
“Hidup Baik Untuk Belajar Mati” | Pesan Wayang Cenk-Blonk di Bulan Bahasa Bali

“Hidup Baik Untuk Belajar Mati” | Pesan Wayang Cenk-Blonk di Bulan Bahasa Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co