2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Hidup Baik Untuk Belajar Mati” | Pesan Wayang Cenk-Blonk di Bulan Bahasa Bali

Redaksi Tatkala Denpasar by Redaksi Tatkala Denpasar
February 11, 2024
in Panggung
“Hidup Baik Untuk Belajar Mati” | Pesan Wayang Cenk-Blonk di Bulan Bahasa Bali

Pertunjukan wayang cenk blonk serangkaian Bulan bahasa Bali 2024 di Taman Budaya Provinsi Bali

“Orang hidup untuk meyasa kerti, menjalani hidup dengan sepenuh hati. Maka itu, menjalani hidup dengan baik  untuk belajar mati. Dalam hidup agar selalu berbuat baik untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat dan lingkungan. Maka ketika mati, nama baik itu akan selalu dikenang, sehingga menjadi selalu hidup!”

Itu, antara lain, kalimat yang dilontarkan Tualen—tokoh punakawan Pandawa, dalam pementasan Wayang Cenk Blonk dengan Jero Dalang I Wayan Nardayana di Kalangan Madya Mandala, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu malam, 10 Februari 2024.

Pertunjukan wayang itu merupakan program “Sesolahan” (Panggung Apresiasi Seni Sastra) serangkaian festival atau perayaan Bulan Bahasa Bali (BBB) VI yang diselenggarakan Pemprov Bali melalui Dinas Kebudayaan Bali.

Dialog antara Tualen dan Merdah—pasangan ayah-anak punakawan Pandawa itu—di tangan Jero Dalang Nardayana, memang selalu sarat dengan petuah-petuah tentang kehidupan yang dikemas lucu dan komunikatif. Bahasanya, tentu saja bahasa Bali, yang kadang kental dengan dialek Belayu-Marga, Tabanan, desa tempat tinggal Jero Dalang.

Barangkali karena itulah pertunjukan Wayang Cenk Blonk selalu ditunggu-tunggu, dan selalu ramai penonton.   

Pada Sabtu malam itu, penonton di Taman Budaya sudah berdatangan sejak sore, dan penuh hingga malam. Meski waktu pentasnya molor—jadwalnya pukul 20.00 Wita, namun baru bisa dimulai pukul 21.05 Wita karena lalulintas macet—namun penonton tetap sabar menunggu.

Malam itu, Wayang Cenk-Blonk menampilkan kisah dengan judul Dharma Wangsa Wijaya. Itu sesuai dengan tema BBB VI “Jana Kerthi Dharma Sadhu Nuraga”, tentang kualitas manusia yang menjadi kunci kesuksesan.

Dialog tentang kualitas manusia muncul dalam dialog Tualen dan Merdah, ketika dua punakawan itu mengikuti paruman bersama tokoh-tokoh Pandawa.

Tualen mengawali pujian terhadap pertemanan dan persaudaraan antara Dharma Wangsa Kresna. Itu sebuah pertemanan dan persaudaraan yang tulus, dengan keakraban yang sejati, tanpa kebohongan.

Sebagaimana gaya main Jero Dalang Nardayana, tokoh-tokoh punakawan selalu dimainkan untuk menyindir keadaan zaman di masa kini. Tualen menyindir, persahabatan para pemimpin di zaman ini yang tentu saja tidak tulus, hanya berdasarkan kepentingan pribadi.

Tualen kemudian mengingatkan untuk mencari “kesugihan” (kekayaan) itu dengan cara yang halal agar menjadi langgeng.

Di situlah Tualen kemudian bahwa mengingatkan orang hidup itu sesungguhnya untuk belajar mati. Ketika kita menjalani hidup dengan selalu berbuat baik, maka ketika mati, nama baik itu akan selalu dikenang, sehingga menjadi selalu hidup.

Selain Tualen dan Merdah, pasangan punakawan Korawa, Delem dan Sangut, yang muncul kemudian juga tak kalah lucunya. Delem dan Sangut keluar dan menari penuh riang. Delem menyanyikan dengan nada besar dan keras. Sangut melantunkan tembang berbahasa Indonesia tentang kisah reformasi yang kini mewarnai medos. Masih adanya kasus korupsi, para elit suka bersandiwara, dan harga barang yang telah naik. Ketika ada penonton yang tertawa, Sangut merespon, sehingga pertunjukan menjadi komunikatif.

Pasangan tokoh rakyat yang muncul kemudian benar-benar membuat suasana pecah. Mereka adalah Ceng dan Blong. Dua tokoh rakyat jelata itu keluar di tengah-tengah sengitnya pertempuran antara Pandawa dan Korawa. Ceng mengatakan, Pandawa Sakti itu karena dekat dengan Dewa (Tuhan), sementara Korawa justru menjauhi Tuhan.

Jero Dalang Nardayana menyatakan rasa terima kasihnya kepada pemerintah yang memberikan kesempatan untuk tampil dalam acara Bulan Bahasa Bali VI tahun 2024 ini. Melalui pertunjukan Wayang Bali ini, ia berharap Bahasa, Aksara dan Sastra Bali tak punah di Bali.

Bahasa, Aksara dan Sastra Bali itu, kata Jero Dalang Nardayana, merupakan identitas sebagai orang Bali. Maka, melalui pertunjukan wayang ini yang sebagian besar menggunakan bahasa Bali akan dapat menjadi pembelajaran bagi anak-anak muda agar bisa lebih memahami budaya warisan leluhurnya sendiri.

“Kami sudah mengetahui tidak semua dari audien yang mengetahui bahasa Bali, maka dalam pertunjukan wayang ini disisipkan dengan bahasa Indonesia, dan terkadang bahasa Inggris sebagai bentuk sajian yang mengikuti perkembangan jaman,” katanya.

Tujuannya untuk menciptakan pertunjukan yang lebih komunikatif. Setidaknya, dapat membimbing mereka untuk mengertri tentang bahasa itu sendiri. Kalau semua mamakai bahasa Bali, kami yakin tak semua penonton itu mengerti.

“Hal itu juga sebagai cara untuk memperkaya pertunjukan itu. Dengan demikian, masyarakat Bali akan lebih mencintai bahasanya sendiri. Tidak malu berbahasa Bali, karena itulah identitas, dan itulah ciri sebagai orang Bali,” katanya.

Jana Kerthi itu kualitas SDM yang digambarkan pada tokoh Dharma Wangsa. Kalau tidak memiliki SDM tinggi, Dharma Wangsa tidak akan mungkin mengalahkan Pemurtian Ludra. Kekuatan Salya akhirnya tak berdaya dihadapan senjata Kalimasada milik Dharma Wangsa.

“Dalam hidup ini, ada suka yakni kebahagiaan dan ada duka yaitu penderitaan. Hanya orang orang yang kuat, memiliki mental, pengetahuan, serta pribadi yang kuat yang akan bisa dan mampu lolos dari suka dan duka kehidupan ini,” jelas Nardayana.

Itu artinya, agar bisa melewati kehidupan ini harus terus mengisi diri dengan pengetahuan dan kepribadian. Karena hidup ini pasti berisi suka dan duka yang tak akan luput pula dengan rintangan dan hambatan. Semua itu, bagian dari pembelajaran agar lebih berkualitas.

“Dalam hal ini, bukan membicarakan tujuan, tetapi perjalanan proses ini yang dibicarakan. Kalau proses perjalanan itu sudah bagus, maka pasti hasilnya akan lebih baik. Penting kita mencari tujuan itu, tetapi jangan memikirkan itu saja tanpa menikmati prosesnya,” kata Jero Dalang Nardayana.

Kadang-kadang proses ini tidak dinikmati, maka gol tidak akan bisa didapat. Maka ada dua hal yang rugi. Pertama perjalanan tidak dinikmati, kedua gol tidak didapati.

“Maka itu, nikmatilah perjalanan suka dan duka itu, agar gol bisa didapat. Kalau suka duka itu sudah dinikmati, maka keduanya akan didapati, proses dan gol. Proses itu yang lebih penting, karena melalui proses akan menuju tujuan itu,” ujarnya. [T][Ado]

Dharma Pawayangan: “Saking Swara Nuju Iswara”
Membaca Ekosistem Pertunjukan Wayang Kulit di Buleleng
Wayang dan Elektron: Metafora Keseimbangan dan Spektrum Energi Dalam Wayang Kayonan
Tags: Bahasa BaliBulan Bahasa BaliJero Dalang Nardayanakesenian baliwayangwayang ceng blongwayang cenk blonk
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sekaa Gong Legendaris Jagaraga, Momentum Menghidupkan Kembali Jiwa dan Spirit Gde Manik

Next Post

Kapitan Lie Eng Tjie, Rumah Besar dan Jejak Kampung Pecinan di Singaraja

Redaksi Tatkala Denpasar

Redaksi Tatkala Denpasar

Related Posts

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails
Next Post
Kapitan Lie Eng Tjie, Rumah Besar dan Jejak Kampung Pecinan di Singaraja

Kapitan Lie Eng Tjie, Rumah Besar dan Jejak Kampung Pecinan di Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co