22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kapitan Lie Eng Tjie, Rumah Besar dan Jejak Kampung Pecinan di Singaraja

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
February 12, 2024
in Khas
Kapitan Lie Eng Tjie, Rumah Besar dan Jejak Kampung Pecinan di Singaraja

Kondisi rumah Kapitan Lie Eng Tjie sekarang | Foto: Dian Suryantini

RUMAH Besar. Begitulah warga sekitar menyebutnya. Terletak di Kelurahan Kampung Baru, Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, kemegahan bangunan tua dengan arsitektur bergaya Cina Selatan itu, benar-benar menarik perhatian mata yang melihatnya.

Rumah itu adalah milik salah satu pejabat zaman kolonial Belanda di Buleleng, yang bernama Kapitan Lie Eng Tjie. Memang, pada zaman kolonial Belanda, orang-orang Tionghoa di Indonesia yang memiliki kuasa atau pengaruh terhadap kelompoknya, akan diberikan pangkat Mayor dan Kapitan. Tentu, pangkat tersebut diberikan sesuai dengan harta kekayan yang ia miliki.

Konon, menurut penuturan keturunannya, Lie Eng Tjie berasal dari Eng-Chun, sebuah daerah yang saat ini dikenal sebagai Yongchun, salah satu kabupaten yang terletak di Prefektur Quanzhou, Provinsi Fujian, Tiongkok. Dan, mayoritas keturunan Tionghoa di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia, berasal dari daerah ini, yang kemudian dikenal sebagai Orang Hokkian.

Salah satu keturunan dari Lie Eng Tjie adalah Ketut Jaya Sugita (Lie Tjen Yung). Lelaki tua dengan rambut yang hampir sepenuhnya berwarna putih itu adalah generasi keempat dari Kapitan Lie Eng Tjie.

Menurutnya, kongco-nya (kakek buyutnya) pada mulanya mendarat di Pura Pabean, Desa Banyupoh, Kecamatan Seririt, Buleleng, Bali. Namun, sebelum menetap di Buleleng, Lie Eng Tjie sempat bermukim di Kembangsari, Kintamani, Bali. 

Meski tak diketahui dengan pasti kapan tepatnya Lie Eng Tjie berangkat dari Yongchun dan tiba di Bali, namun Sugita meyakini kakek buyutnya itu tiba di Bali pada saat Dinasti Qing masih berkuasa di Tiongkok.

Hal itu dibuktikan dengan adanya potret hitam putih milik Lie Eng Tjie yang masih memiliki potongan rambut yang mirip dengan model rambut Jet Lie saat memerankan film-film kolosal China bergenre kungfu, itu. Model rambut setengah botak dan berkepang panjang itu dikenal dengan model bianzi (toucang) yang diberlakukan di Tiongkok dari tahun 1644 sampai dengan 1911.

“Rumah ini dibangun sekitar tahun 1800-an. Kalau persisnya tidak tahu,” kata Sugita kepada tatkala.co, saat ditemui di kediamannya, Jum’at (09/02/24) malam.

Ia mengaku bahwa tidak begitu mengingat tentang kenangan masalalunya di rumah tersebut. Namun, menurutnya, saat ia masih kecil, tempat sekeliling tinggalnya itu masih berupa persawahan. Dan, sebagian tanah disana adalah milik kakek buyutnya.

“Dulu di area sini masih sawah, dan di sebelah sana itu kebun keluarga. Kebun sayur,” katanya. Sesaat memberi jeda, ia menambahkan, “Makanya di sini dikenal dengan nama Sayuran,” jelasnya.

Sebagai seorang keturunan dari sang Kapitan, Sugita mengaku tidak mengetahui banyak tentang sejarah kakek buyutnya itu. Hal itu ia yakini sebab ia kurang mendapatkan informasi mengenai kakek buyutnya itu dari generasi sebelumnya.

“Karena generasi di atas saya orangnya sangat tertutup, sehingga untuk cerita-cerita mengenai sejarah keluarga itu tidak pernah diceritakan,” ujarnya.

Potret Kapitan Lie Eng Tjie bersama keluarganya di depan rumahnya | Dok. keluarga | Foto repro: Yudi

Keterputusan informasi mengenai sejarah keluarganya tersebut semakin kabur semenjak ia hijrah meninggalkan Buleleng. “Saya tinggal di sini sampai Sekolah Dasar (SD) saja. Kemudian setelah itu saya pindah ke Denpasar sampai lulus SMA,” jelasnya.

Tak sampai di  situ, masa hidupnya pun dihabiskan kurang lebih tiga puluh tahun untuk merantau di Surabaya dan Jakarta. Hal tersebut yang membuat memori ingatannya tentang rumah tersebut menjadi semakin menipis.

Namun, meskipun begitu, satu hal yang masih ia ingat. “Yang masih saya ingat betul, sih, kalau pas imlek bangun pagi-pagi cari angpau,” katanya sembari tertawa.

Rumah Besar peninggalan Kapitan Lie Eng Tjie memang kaya akan nilai sejarah. Kontribusi Lie Eng Tjie terhadap kehidupan multikultur di Buleleng, yang masih bisa dilihat sampai sekarang adalah keberadaan patung Dewa Cheng Huang Ye (Seng Ong Ya) di Klenteng Seng Hong Bio, yang terletak di Kelurahan Kampung Baru, Buleleng, Bali.

Menurut penuturan rohaniawan Pipit Budiman Teja (Pik Hong) patung yang diyakini sebagai dewa pelindung kota tersebut dibawa oleh Lie Eng Tjie bersama dua orang lainnya, Lie Chang dan Lie Ho pada saat Tiongkok dibakar huru-hara Yihetuan Movement (Boxer Rebellion).

Selain Sugita, keturunan dari Kapitan Lie Eng Tjie yang berhasil tim tatkala.co temui adalah Antika Yasa. Lelaki paruh baya itu adalah generasi keempat dari Kapitan Lie Eng Tji.

Menurut Antika, dengan melihat aset tanah yang pernah dimiliki oleh kakek buyutnya itu, ia meyakini kalau kongco-nyaadalah tuan tanah pada masanya.

“Selain memiliki tanah yang luas, kongco juga memiliki beberapa aset yang tersebar di beberapa wilayah di Bali, seperti kebun sayur, perkebunan kopi dan bisnis hasil bumi dengan merk N.V Xiang Tjoe,” jelasnya.

Namun, sebelum menuai kesuksesan tersebut, Antika menuturkan bahwa kakek buyutnya tersebut pada awalnya bekerja sebagai tukang cukur. “Sebelum menjadi tuan tanah dan punya kekayaan yang berlimpah, beliau dulu berkerja sebagai tukang cukur keliling,” akunya.

Masih menurut penuturan Antika, kekayaan yang dimiliki oleh Lie Eng Tjie tersebut selain karena keuletannya dalam berbisnis, ia diyakini memperistri seorang perempuan etnis Tionghoa yang memiliki cukup kekayaan.

“Menurut cerita turun temurun, salah satu faktor yang membuat beliau kaya itu adalah harta dari istrinya,” katanya.

Sehingga, dengan kekayaan yang dimiliki tersebut membuatnya pada tahun 1905 sampai dengan 1916, ia diangkat menjadi Kapitan oleh kolonial Belanda.

Foto Kapitan Lie Eng Tjie | Dok. keluarga | Foto repro: Yudi

Namun sayang, masa kejayaan dari Kapitan Lie Eng Tjie kini hanya menyisakan nama besar sang Kapitan dan bangunan tua tersebut. Hingga kini, sepeninggal Kapitan Lie Eng Tjie, tak banyak harta benda yang tersisa di rumahnya.

Hanya satu set kursi kayu tua saja yang tersimpan di dalam rumah besar milik Lie Eng Tjie. Kursi kayu dengan alas duduk marmer itu sudah terlihat usang. Goyang dan telah retak.

“Hanya ini yang tersisa dari harta peninggalan beliau. Ada juga altar dan meja persembahyangan yang masih utuh. Kata ayah saya, itu dibawa langsung dari Tiongkok,” tuturnya.

Konon, dulu kursi-kursi antik itu sering dipinjam oleh orang-orang etnis Tiongkok pada saat menikah. Namun, kini kursi itu sudah tidak bisa dikeluarkan dan dipinjamkan lagi, lantaran kondisinya yang sudah tidak memungkinkan.

Namun, Antika sebagai salah satu keturunan dari Kapitan Lie Eng Tjie tersebut memiliki satu cita-cita yang mulia untuk meneyelamatkan bukti dari sejarah asal-usul leluhurnya tersebut.

“Saya punya keinginan untuk menjadikan rumah ini sebagai museum keluarga,” tuturnya.

Sesaat setelah memberi jeda, ia menambahkan, “Kalau ada kesempatan dan biaya, saya ingin merestorasi rumah ini. Supaya, anak, cucu, cicit kelak, tahu tentang sejarah keluarganya,” katanya.

Dengan adanya rumah besar itu, bisa diyakini kota Singaraja, Buleleng, sebenarnya memang memiliki kampong pecinan. Selain rumah besar milik Kapitan Lie Eng Tjie itu, di sekitarnya masih terdapat bekas-bekas perkampungan orang-orang keturunan Tionghoa. Apakah Pemkab Buleleng tak punya rencana untuk menyelamatkan kampung itu, selain sebagai misi penyelamatan sejarah, juga barangkali bias dikembangkan sebagai destinasi wisata.  [T]

Reporter: Yudi Setiawan
Penulis: Yudi Setiawan
Editor: Adnyana Ole

Perayaan Imlek di Klenteng Ling Gwan Kiong: Kelincahan Barongsai, Sukacita Warga Singaraja
Di Bali, Imlek juga Disebut Galungan Cina
Ditunggu Karena Makna, Isi Angpao itu Bonus | Cerita Engkong Tentang Imlek
Galungan Ngelawang Barong Bangkung, Imlek Ngelawang Barongsai
Tags: akulturasi budayabali utarabulelengCinakampung pecinanSingarajaTionghoawarga keturunan cina
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Hidup Baik Untuk Belajar Mati” | Pesan Wayang Cenk-Blonk di Bulan Bahasa Bali

Next Post

Empat Area Kajian Sastra Pariwisata Menurut Prof. Darma Putra

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Empat Area Kajian Sastra Pariwisata Menurut Prof. Darma Putra

Empat Area Kajian Sastra Pariwisata Menurut Prof. Darma Putra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co