12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ditunggu Karena Makna, Isi Angpao itu Bonus | Cerita Engkong Tentang Imlek

Julio Saputra by Julio Saputra
February 10, 2021
in Esai

Foto koleksi penulis

SAYA warga keturunan. Keturunan Tionghoa sekaligus keturunan Bali. Di tubuh saya mengalir darah Tionghoa dari leluhur Tionghoa, dan darah Bali dari ibu kandung saya.

Sebagai warga keturunan Tionghoa, sudah pasti saya merayakan hari terpenting dalam tradisi Cina, yaitu Tahun Baru Cina atau yang biasa disebut Imlek. Tapi, sebagai warga keuturunan juga, saya tak sepenuhnya paham tentang sejumlah hal di hari raya itu, sehingga sejak kecil saya rajin bertanya.

Orang yang menjadi sasaran pertanyaan saya adalah engkong saya. Karena engkong saya-lah di keluarga saya orang Tionghoa tulen, bukan campuran seperti saya.

Pertanyaannya standar-standar saja, seperti pertanyaan anak-anak pada umumnya. Kenapa Imlek dirayakan secara meriah bahkan sudah ditungu-tunggu dan disiapkan jauh-jauh hari sebelum Imlek tiba? Kenapa Imlek itu penting? Kenapa menggunakan ini? Kenapa menggunakan itu dan lain sebagainya?

Misalnya saya melihat berbagai dekorasi dan pernak-pernik khas hari raya berwarna merah, seperti lampion, pohon angpao, ucapan-ucapan selamat tahun baru, atau dekorasi berupa barangsai dan naga. Semua dekorasi tersebut dapat saya jumpai di mana-mana, mulai dari rumah, restorant, bandara, lobi hotel, pusat perbelanjaan dan lain-lain. Kenapa ya? Kenapa Imlek ditunggu-tunggu? Apakah karena saat Imlek ada pembagian angpao? Atau karena saat Imlek akan ada berbagai hidangan lezat?

Jawaban engkong saya, ya singkat saja. “Semua itu karena makna!” katanya.

Ya, kata engkong, karena makna. Katanya, maknalah yang membuat Imlek itu penting. Katanya, segala sesuatu dalam Imlek memiliki makna. Maknalah yang membuat Imlek penuh sukacita.

Maknalah yang membuat Imlek selalu ditunggu-tunggu, bukan isi angpao tapi makna angpao, bukan hidangan lezat tapi makna hidangan. Isi angpao dan lezatnya hidangan adalah bonus.

Kembali muncul pertanyaan dalam pikiran saya, memang maknanya apa sampai-sampai masyarakat Tionghoa termasuk keluargaku merayakannya dengan sangat bahagia? Maka engkong pun bercerita agak panjang.

Asal Mula Imlek

Kata engkong, Imlek dirayakan untuk memperingati kemenangan manusia melawan hewan mitos bernama Nian. Hewan itu selalu muncul saat hari pertama tahun baru, memakan semua ternak warga, hasil pertanian, bahkan ia juga memakan orang saat itu, terutama anak-anak. Agar mereka semua selamat, orang-orang mulai menaruh sejumlah makanan di depan pintu rumah mereka, berharap Nian akan memakan makanan yang mereka berikan.

Mereka percaya bahwa Nian yang sudah memakan makanan yang di depan rumah tidak akan lagi memangsa ternak mereka. Katanya lagi, pernah ada yang melihat Nian lari ketakutan dan lari dari seorang anak kecil berbaju merah. Sejak itu, orang-orang menggantung lentera atau lampion merah di depan rumah mereka, dan sejak itu pula, Nian tak pernah lagi muncul di desa mereka.

Itulah mengapa warna merah dipercaya dapat mengusir setan atau roh jahat, selain membawa keberuntungan, berkah, dan kesejahteraan, katanya.

Kemudian, engkong melanjutkan dengan makna-makna yang bisa dijumpai saat Imlek. Saya mendengarkan engkong penuh rasa penasaran, dan satupun tidak saya lewatkan. Engkong memberi tahu makna-makna dalam jeruk mandarin, mie, kue keranjang, permen dan manisan, angpao, tebu, dan lampion.

Jeruk Mandarin

Katanya, jeruk mandarin merupakan simbol kekayaan dalam kepercayaan dan budaya Cina. Kenapa? Karena jeruk mandarin terlihat seperti bola-bola emas, dan dalam bahasa mandarin kata jeruk dan emas memilki kesamaan. Engkong juga bercerita bahwa jeruk mandarin sebaiknya dihaturkan atau dihidangkan lengkap dengan daunnya, karena jeruk yang lengkap dengan daunnya dapat menggambarkan keawetan. Orang-orang Tionghoa selalu mengharapkan keawetan.

Mie

Katanya lagi, mie merupakan simbol panjang umur bagi orang-orang Tionghoa. Itulah mengapa mie saat Imlek kerap kali disebut sebagai mie panjang umur, dibuat sepanjang mungkin dengan harapan orang-orang yang memakannya akan memiliki umur yang panjang. Berarti saya harus banyak-banyak makan mie panjang umur agar saya berumur panjang. Hhhmm, saya kan tidak suka mie. Tapi, saya ingat, itulah makna.

Kue Keranjang

Kue keranjang, kata engkong, harus dimakan sebelum memakan nasi dan lauk pauknya. Katanya sebagai sebuah penghargaan agar selalu beruntung dalam melakukan pekerjaan apapun. Kue keranjang selalu disusun bertingkat dan tinggi. Katanya lagi, makin ke atas makin mengecil kue yang disusun. Itu menunjukan peningkatan rezeki dan peningkatan kemakmuran bagi orang-orang Tionghoa. Selain itu, kata engkong lagi, kue keranjang juga bermakan kerekatan hubungan dalam keluarga, persaudaraan bahkan juga pertemanan. Hhmmmm, begitu rupanya.

Permen dan Manisan

“Permen dan Manis tentu rasanya manis,” kata engkong. Saya bergumam dalam hati, “Tentu saja, kalau asin itu namanya asinan Kong, bukan manisan”. Kemudian engkong melanjutkan lagi, permen dan manisan ini katanya mewakili harapan, keingan dan cita-cita orang-orang Tionghoa yang ingin diraih di tahun yang baru. Kenapa manisan? Agar harapan dan cita-cita yang diraih juga terasa manis. Manis dalam artian penuh suka cita.

Angpao

Nah, untuk yang satu ini sebenarnya saya berharap engkong bercerita sambil memberikan satu atau dua angpao ke saya. Katanya, Hongbao (Hong = Merah, Bao = tas, kantung) atau yang lumrah disebut angpao, bermakna hadiah bagi anak-anak karena umur mereka bertambah.

Kalau dulu, katanya anak-anak diberikan yang manis-manis, seperti makanan, manisan dan lain-lain. “Lalu kenapa sekarang uang?” tanyaku lagi.
Katanya, lebih baik memberikan anak-anak uang agar mereka lebih mudah memilih atau membeli hadiah yang mereka inginkan. Angpao juga berwarna merah karena warna merah katanya membawa berkah dan rezeki.

Saya bergumam, “Kalau angapo warna merah isinya juga merah, ya bagus, kalau angpao warna merah tapi isinya warna biru apalagi hijau, kan sedih,”. Namun, saya ingat lagi kata engkong: bukan isi angpao tapi makna angpao, bukan hidangan lezat tapi makna hidangan. Isi angpao dan lezatnya hidangan adalah bonus. Jadi, saya tetap dapat makna, meski bonusnya sedikit.

Tebu

Setiap Imlek, biasanya orang-orang akan memasang pohon tebu di pintu masuk pekarangan rumah meraka. Kata engkong, tebu memilki makna sebagai keberuntungan dan symbol panjang umur. “Semakin panjang dan semakin banyak ruas pada tebu yang kau pakai, semakin beruntung juga kau nanti,” tambah engkong. Tebu juga manis, diharapkan hidup yang dijalani orang Tionghoa juga manis, seperti tebu.

Lampion

Lampion, kata engkong, menggambarkan kebahagian seseorang. Itulah mengapa lampion-lampion tidak hanya ditemukan saat Imlek saja, tetapi juga dalam acara-acara kebahagiaan, seperti pernikahan, peresmian sebuah tempat suci dan lain-lain. Adanya lampion katanya juga diharapkan sebagai penerang jalan orang0orang Tionghoa agar tidak tersesat dalam kegelapan.

Akhirnya saya simpulkan sendiri, Imlek selalu dirayakan penuh sukacita karena ternyata memang karena Imlek penuh makna yang sangat mendalam. Kepercayaannya selalu memiliki nilai yang sangat berharga bagi orang-orang Tionghoa.  Saya tak lagi heran, mengapa Imlek selalu dinanti-nanti orang-orang Tionghoa, karena engkong sudah memberikan jawabannya: penuh makna.

Tentu masih ada banyak makna dalam Imlek yang belum disampaikan engkong. Biarlah nanti saya cari sendiri. Xin Nian Kuai Le, Gong Xi Fa Cai. (T)

Baca juga: Di Bali, Imlek juga Disebut Galungan Cina

Tags: baliImlekTionghoa
Share63TweetSendShareSend
Previous Post

Di Bali, Imlek juga Disebut Galungan Cina

Next Post

Sedikit-Sedikit Mengenai Puisi Wislawa Szymborska: Keanggunan Berpikir, Kenakalan Perspektif

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post

Sedikit-Sedikit Mengenai Puisi Wislawa Szymborska: Keanggunan Berpikir, Kenakalan Perspektif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co