24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ditunggu Karena Makna, Isi Angpao itu Bonus | Cerita Engkong Tentang Imlek

Julio Saputra by Julio Saputra
February 10, 2021
in Esai

Foto koleksi penulis

SAYA warga keturunan. Keturunan Tionghoa sekaligus keturunan Bali. Di tubuh saya mengalir darah Tionghoa dari leluhur Tionghoa, dan darah Bali dari ibu kandung saya.

Sebagai warga keturunan Tionghoa, sudah pasti saya merayakan hari terpenting dalam tradisi Cina, yaitu Tahun Baru Cina atau yang biasa disebut Imlek. Tapi, sebagai warga keuturunan juga, saya tak sepenuhnya paham tentang sejumlah hal di hari raya itu, sehingga sejak kecil saya rajin bertanya.

Orang yang menjadi sasaran pertanyaan saya adalah engkong saya. Karena engkong saya-lah di keluarga saya orang Tionghoa tulen, bukan campuran seperti saya.

Pertanyaannya standar-standar saja, seperti pertanyaan anak-anak pada umumnya. Kenapa Imlek dirayakan secara meriah bahkan sudah ditungu-tunggu dan disiapkan jauh-jauh hari sebelum Imlek tiba? Kenapa Imlek itu penting? Kenapa menggunakan ini? Kenapa menggunakan itu dan lain sebagainya?

Misalnya saya melihat berbagai dekorasi dan pernak-pernik khas hari raya berwarna merah, seperti lampion, pohon angpao, ucapan-ucapan selamat tahun baru, atau dekorasi berupa barangsai dan naga. Semua dekorasi tersebut dapat saya jumpai di mana-mana, mulai dari rumah, restorant, bandara, lobi hotel, pusat perbelanjaan dan lain-lain. Kenapa ya? Kenapa Imlek ditunggu-tunggu? Apakah karena saat Imlek ada pembagian angpao? Atau karena saat Imlek akan ada berbagai hidangan lezat?

Jawaban engkong saya, ya singkat saja. “Semua itu karena makna!” katanya.

Ya, kata engkong, karena makna. Katanya, maknalah yang membuat Imlek itu penting. Katanya, segala sesuatu dalam Imlek memiliki makna. Maknalah yang membuat Imlek penuh sukacita.

Maknalah yang membuat Imlek selalu ditunggu-tunggu, bukan isi angpao tapi makna angpao, bukan hidangan lezat tapi makna hidangan. Isi angpao dan lezatnya hidangan adalah bonus.

Kembali muncul pertanyaan dalam pikiran saya, memang maknanya apa sampai-sampai masyarakat Tionghoa termasuk keluargaku merayakannya dengan sangat bahagia? Maka engkong pun bercerita agak panjang.

Asal Mula Imlek

Kata engkong, Imlek dirayakan untuk memperingati kemenangan manusia melawan hewan mitos bernama Nian. Hewan itu selalu muncul saat hari pertama tahun baru, memakan semua ternak warga, hasil pertanian, bahkan ia juga memakan orang saat itu, terutama anak-anak. Agar mereka semua selamat, orang-orang mulai menaruh sejumlah makanan di depan pintu rumah mereka, berharap Nian akan memakan makanan yang mereka berikan.

Mereka percaya bahwa Nian yang sudah memakan makanan yang di depan rumah tidak akan lagi memangsa ternak mereka. Katanya lagi, pernah ada yang melihat Nian lari ketakutan dan lari dari seorang anak kecil berbaju merah. Sejak itu, orang-orang menggantung lentera atau lampion merah di depan rumah mereka, dan sejak itu pula, Nian tak pernah lagi muncul di desa mereka.

Itulah mengapa warna merah dipercaya dapat mengusir setan atau roh jahat, selain membawa keberuntungan, berkah, dan kesejahteraan, katanya.

Kemudian, engkong melanjutkan dengan makna-makna yang bisa dijumpai saat Imlek. Saya mendengarkan engkong penuh rasa penasaran, dan satupun tidak saya lewatkan. Engkong memberi tahu makna-makna dalam jeruk mandarin, mie, kue keranjang, permen dan manisan, angpao, tebu, dan lampion.

Jeruk Mandarin

Katanya, jeruk mandarin merupakan simbol kekayaan dalam kepercayaan dan budaya Cina. Kenapa? Karena jeruk mandarin terlihat seperti bola-bola emas, dan dalam bahasa mandarin kata jeruk dan emas memilki kesamaan. Engkong juga bercerita bahwa jeruk mandarin sebaiknya dihaturkan atau dihidangkan lengkap dengan daunnya, karena jeruk yang lengkap dengan daunnya dapat menggambarkan keawetan. Orang-orang Tionghoa selalu mengharapkan keawetan.

Mie

Katanya lagi, mie merupakan simbol panjang umur bagi orang-orang Tionghoa. Itulah mengapa mie saat Imlek kerap kali disebut sebagai mie panjang umur, dibuat sepanjang mungkin dengan harapan orang-orang yang memakannya akan memiliki umur yang panjang. Berarti saya harus banyak-banyak makan mie panjang umur agar saya berumur panjang. Hhhmm, saya kan tidak suka mie. Tapi, saya ingat, itulah makna.

Kue Keranjang

Kue keranjang, kata engkong, harus dimakan sebelum memakan nasi dan lauk pauknya. Katanya sebagai sebuah penghargaan agar selalu beruntung dalam melakukan pekerjaan apapun. Kue keranjang selalu disusun bertingkat dan tinggi. Katanya lagi, makin ke atas makin mengecil kue yang disusun. Itu menunjukan peningkatan rezeki dan peningkatan kemakmuran bagi orang-orang Tionghoa. Selain itu, kata engkong lagi, kue keranjang juga bermakan kerekatan hubungan dalam keluarga, persaudaraan bahkan juga pertemanan. Hhmmmm, begitu rupanya.

Permen dan Manisan

“Permen dan Manis tentu rasanya manis,” kata engkong. Saya bergumam dalam hati, “Tentu saja, kalau asin itu namanya asinan Kong, bukan manisan”. Kemudian engkong melanjutkan lagi, permen dan manisan ini katanya mewakili harapan, keingan dan cita-cita orang-orang Tionghoa yang ingin diraih di tahun yang baru. Kenapa manisan? Agar harapan dan cita-cita yang diraih juga terasa manis. Manis dalam artian penuh suka cita.

Angpao

Nah, untuk yang satu ini sebenarnya saya berharap engkong bercerita sambil memberikan satu atau dua angpao ke saya. Katanya, Hongbao (Hong = Merah, Bao = tas, kantung) atau yang lumrah disebut angpao, bermakna hadiah bagi anak-anak karena umur mereka bertambah.

Kalau dulu, katanya anak-anak diberikan yang manis-manis, seperti makanan, manisan dan lain-lain. “Lalu kenapa sekarang uang?” tanyaku lagi.
Katanya, lebih baik memberikan anak-anak uang agar mereka lebih mudah memilih atau membeli hadiah yang mereka inginkan. Angpao juga berwarna merah karena warna merah katanya membawa berkah dan rezeki.

Saya bergumam, “Kalau angapo warna merah isinya juga merah, ya bagus, kalau angpao warna merah tapi isinya warna biru apalagi hijau, kan sedih,”. Namun, saya ingat lagi kata engkong: bukan isi angpao tapi makna angpao, bukan hidangan lezat tapi makna hidangan. Isi angpao dan lezatnya hidangan adalah bonus. Jadi, saya tetap dapat makna, meski bonusnya sedikit.

Tebu

Setiap Imlek, biasanya orang-orang akan memasang pohon tebu di pintu masuk pekarangan rumah meraka. Kata engkong, tebu memilki makna sebagai keberuntungan dan symbol panjang umur. “Semakin panjang dan semakin banyak ruas pada tebu yang kau pakai, semakin beruntung juga kau nanti,” tambah engkong. Tebu juga manis, diharapkan hidup yang dijalani orang Tionghoa juga manis, seperti tebu.

Lampion

Lampion, kata engkong, menggambarkan kebahagian seseorang. Itulah mengapa lampion-lampion tidak hanya ditemukan saat Imlek saja, tetapi juga dalam acara-acara kebahagiaan, seperti pernikahan, peresmian sebuah tempat suci dan lain-lain. Adanya lampion katanya juga diharapkan sebagai penerang jalan orang0orang Tionghoa agar tidak tersesat dalam kegelapan.

Akhirnya saya simpulkan sendiri, Imlek selalu dirayakan penuh sukacita karena ternyata memang karena Imlek penuh makna yang sangat mendalam. Kepercayaannya selalu memiliki nilai yang sangat berharga bagi orang-orang Tionghoa.  Saya tak lagi heran, mengapa Imlek selalu dinanti-nanti orang-orang Tionghoa, karena engkong sudah memberikan jawabannya: penuh makna.

Tentu masih ada banyak makna dalam Imlek yang belum disampaikan engkong. Biarlah nanti saya cari sendiri. Xin Nian Kuai Le, Gong Xi Fa Cai. (T)

Baca juga: Di Bali, Imlek juga Disebut Galungan Cina

Tags: baliImlekTionghoa
Share63TweetSendShareSend
Previous Post

Di Bali, Imlek juga Disebut Galungan Cina

Next Post

Sedikit-Sedikit Mengenai Puisi Wislawa Szymborska: Keanggunan Berpikir, Kenakalan Perspektif

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post

Sedikit-Sedikit Mengenai Puisi Wislawa Szymborska: Keanggunan Berpikir, Kenakalan Perspektif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co