12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Galungan Ngelawang Barong Bangkung, Imlek Ngelawang Barongsai

Julio Saputra by Julio Saputra
January 23, 2020
in Khas
Galungan Ngelawang Barong Bangkung, Imlek Ngelawang Barongsai

Pementasan Barongsai di Vihara Amurva Bhumi Blahbatuh tahun 2019. Sumber foto : Rony Kurniawan

Menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan di Bali, di jalan-jalan, baik jalan besar atau jalan kecil, baik di pedesaan atau pun pusat kota, akan nampak anak-anak berkeliling sambil mengarak barong bangkung, sebuah barong berbentuk babi berwarna gelap, lengkap dengan iring-iringan seperangkat gamelan sederhana. Di sepanjang jalan, masyarakat sudah menunggu kedatangan mereka dengan sangat antusias tatkala mendengar suara gamelan yang dimainkan.  Anak-anak itu akan berhenti di suatu titik, kemudian menarikan barong bangkung yang mereka arak, menunjukan atraksi yang mereka siapkan. Setelah itu, masyarakat akan memberi upah, bisa uang, bisa juga bukan uang, seperti permen, jajanan khas bali, atau cemilan lainnya.

 Itulah tradisi ngelawang, tradisi yang hanya dilakukan 6 bulan sekali, tradisi milik masyarakat Bali yang katanya sudah ada sejak lama. Sebenarnya tak hanya barong bangkung saja yang bisa digunakan untuk ngelawang, jenis-jenis barong lainnya pun sering dipentaskan, seperti barong ket atau barong macan, namun barong bangkung memang yang paling sering dipentaskan untuk ngelawang. Saat ini, banyak yang mengaggap tradisi ngelawang menjadi tradisi yang sangat unik dan menarik, karena dapat menjadi hiburan untuk disaksikan, baik bagi masyarakat setempat, ataupun bagi wisatawan yang kebetulan sedang melancong di Bali. “Yah, tradisi orang Bali memang sangat unik,” begitu kira-kira kata mereka.

Namun ternyata, bukan hanya orang Bali saja yang memiliki tradisi ngelawang. Jika diperhatikan, ada tradisi serupa yang dilakukan di beberapa pusat keramaian, seperti di vihara, klenteng, dan sebagainya. Tradisi yang dilakukan sama-sama unik dan manarik, sama-sama dapat menghibur masyarakat dengan tarian dan atraksi yang disiapkan, pun sama-sama dilengkapi dengan seperangkat gamelan. Bedanya barong yang digunakan bukanlah barong berbentuk babi, tapi berbentuk singa. Warnanya pun bervariasi, ada hitam, ada putih, ada hijau, kuning juga ada, merah apalagi, sudah pasti ada, karena warna merah identik dengan hari raya yang akan disambutnya.

Ya, itulah barongsai, tradisi ngelawang ala masyarakat etnis Tionghoa yang dilakukan di berbagai acara penting, seperti pembukaan restoran, pendirian klenteng, dan tentu saja saat Tahun Baru Imlek. Sejatinya sekali, masyarakat etnis Tionghoa menyebutnya hanya sebagai tarian barongsai saja, atau tarian singa oleh masyarakat etnis Tionghoa di negara-negara lain. Namun di Bali, tarian barongsai tentu dapat dikatakan sebagai tradisi ngelawang versi cina, karena antara tradisi ngelawang orang bali dan tarian barongsai memiliki beberapa persamaan. Tradisi ngelawang versi Bali biasanya dilakukan di jalan-jalan.

Mereka akan mengarak barong mengelilingi daerah tempat mereka tinggal, masuk dari satu pintu ke pintu lainnya, kemudian menerima upah dari masyarakat, baik uang ataupun jajanan. Tradisi ngelawang versi Cina juga dilakukan di jalan. Hanya saja ngelawang bagi mereka lebih dikenal dengan kirab, seperti yang dilakukan oleh warga Banjar Dharmasraya Semadhi yang menjadi umat di Vihara Dharmayana Kuta.

Dari tahun ke tahun, mereka menggelar pawai atau kirab barongsai dimulai dari Jalan Blambangan menuju Jalan Kalianget, dan Jalaan Raya Kuta serta arah sebaliknya. Di sanalah, masyarakat setempat juga akan memberi angpao, bahkan ada pula pedagang-pedagang yang menggantung angponya di depan toko mereka, dengan harapan akan lebih banyak rezeki yang datang. Di samping sama-sama dilakukan dari di jalan, dari satu tempat ke tempat lainnya, masih ada beberapa persamaan yang dimiliki oleh tradisi ngelawang dan tarian barongsai.

Keduanya Sama-Sama Diyakini Dapat Menolak Bala

Di samping sebagai perayaan atas kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (kebatilan), jika dilihat dari segi makna, tradisi ngelawang dan tarian barongsai dapat dikatakan sama karena keduanya dipercaya dan diyakini dapat menolak bala, mengusir roh-roh jahat, dan  menghapus pengaruh-pengaruh negatif, serta aura-aura buruk lainnya yang dapat menganggu hidup dan kehidupan manusia.

Bahkan, kata orang-orang bijak, tradisi ngelawang dan tarian barongsai juga dapat memotivasi manusia untuk lebih peduli terhadap lingkungan, sehingga mereka bisa menjaga kebersihan dan alam sekitar, seperti menjaga keberadaan hutan, sehingga tidak ada satu pun perkara tersebarnya berbagai wabah penyakit atau perkara terjadinya banjir yang cukup merugikan. Ngelawang adalah melanglang lingkungan. Makna tolak bala dari kedua tradisi tersebut berasal dari mitologi yang diyakini masing-masing oleh orang Bali dan orang etnis Tionghoa.

Mitologi Orang Bali

Tradisi ngelawang menurut orang Bali didasari pada mitologi Dewi Ulun Danu yang diceritakan pernah menjelma menjadi seorang raksasa yang kemudian membantu umat manusia mengusir roh-roh jahat yang ada di dunia. Mitologi lain yang berkaitan dengan tradisi ngelawang adalah Siwa Tatwa. Konon, di zaman dahulu, setiap hari terjadi bencana dan musibah yang menyebabkan dunia gonjang-ganjing dan penuh kehancuran. Melihat dunia sedang berada dalam keadaan yang tidak baik, Sang Hyang Siwa bersedih, kemudian memikirkan cara untuk kembali menciptakan kedamaian dan mengembalikan ketenangan dunia seperi sedia kala.

Kemudian, diutuslah para dewata untuk turun ke dunia. Masing-masing berperan sebagai penari, penabuh, dalang, dan sebagainya untuk menghibur manusia. Dunia pun kembali tenang dan damai saat semua manusia berbahagia dan terhibur oleh kesenian yang ditampilkan para dewata. Mitologi Siwa Tatwa tersebut juga dikaitkan erat dengan tolak bala dalam legenda hancurnya keangkaramurkaan Mayadanawa yang menjadi awal mula adanya Hari Raya Galungan dan Kuningan di Bali.


Pementasan barongsai di Vihara Buddha Sakyamuni Denpasar Tahun 2019. Sumber foto : Chealney Lim

Mitologi Orang Cina

Sementara itu, tarian barongsai didasari oleh beberapa versi, namun Nian atau monster menjadi versi yang paling populer di kalangan masyarakat etnis Tionghoa di belahan dunia manapun. Dikisahkan, pada masa Dinasti Qing berdiri, di sebuah wilayah di negeri Tiongkok, ada seekor monster atau Nian yang selalu muncul di hari pertama tahun baru. Moster tersebut sangat merugikan masyarakat karena selalu menganggu kehidupan mereka, memakan semua ternak yang ada, sampai hasil pertanian juga dilahap habis. Bahkan, monster tersebut katanya juga suka memakan manusia, terutama anak-anak.

Akibatnya, masyarakat berada dalam keresahan dan ketakutan. Sampai pada suatu hari, muncul singa yang menghalangi monster tersebut. Alhasil, monster itu kalah dan lari tunggang langgang meninggalkan desa. Saat semua masyarakat sudah merasa aman, singa itu pergi entah ke mana. Namun siapa sangka, monster yang meresahkan itu kembali karena sakit hati dan berniat balas dendam. Masyarakat yang tidak tahu keberadaan singa yang pernah menolong mereka dulu akhirnya menciptakan kostum menyerupai singa tersebut. Sekali lagi, monster itu lari tunggang langgang karena ketakutan. Itulah yang kemudian menjadi alasan mengapa tarian barongsai kerap dijumpai menjelang Tahun Baru Imlek.

Karena diyakini dapat menolak bala, tak jarang tradisi ngelawang dan tarian barongsai dilakukan di lokasi-lokasi strategis, seperti tradisi ngelawang yang kerap berkeliling desa, masing dari satu pintu satu ke pintu lainnya, menyususri jalan-jalan di desa baik jalan besar atau pun jalan kecil. Sementara tari barongsai dapat dijumpai di klenteng dan vihara, atau lokasi-lokasi lain yang perlu dipentaskan tarian barongsai, seperti saat menjelang tahun Baru Imlek di bulan Februari tahun 2019 kemarin, tarian barongsai dipentaskan di tengah-tengah Pasar Badung (Eks Tiara Grosir) Denpasar yang kabarnya dulu adalah kuburan cina, sehingga dirasa perlu adanya pementasan tarian barongsai yang diharapkan dapat memberi keselamatan dan menetralisir aura-aura negatif yang ada.

Tarian barongsaii di Pasar Badung tersebut tentu saja menarik, karena tak hanya dirayakan oleh masyarakat etnis Tionghoa saja, namun juga oleh para pedagang dari seluruh agama yang ada, baik Hindu, Kristen, ataupun Islam. Bahkan, para pedagang tersebut juga ikut mengahaturkan sesajen berupa buah-buahan, makanan, dan minuman. Mereka juga memohon berkah dan rezeki dengan memberi angpao kepada para penari barongsai saat barongsai tersebut ditarikan mengelilingi los dan kios dagangan mereka. Harapannya, rezeki mereka akan dimudahkan dan dilipatgandakan.

Keduanya Sama-Sama Sakral dan Magis

Tradisi ngelawang dan tarian barongsai bisa dikatakan merupakan tradisi yang sakral, karena berangkat dari mitologi dan filosofi dewa-dewi serta hal-hal gaib lainnya. Namun, bukan itu saja yang menjadikan tradisi ngelawang dan tarian barongsai sakral. Keduanya selalu dihubungkan dengan kekuatan dan kesaktian magis. Keduanya pula diyakini sebagai jembatan yang dapat menghubungkan manusia dengan alam supranatural.

Kesakralan Tradisi Ngelawang

Pada awalnya, tradisi ngelawang dikategorikan sebagai sebuah tindakan keagamaan yang bersifat seremonial dan tertata, sakral dan magis. Biasanya, barong, rangda, serta benda-benda keramat lainnya diusung ke luar areal pura, di jalan-jalan, diusung mengelilingi lingkungan desa atau banjar setempat. Benda-benda keramat tersebut tentu digolongkan sebagai benda yang memiliki tingkat kesucian yang tinggi, yang telah melewati tahap sakralisasi untuk menghapus noda-noda atau leteh yang ada pada bahan-bahan pembuatannya, sampai ritual menempatkan kekuatan gaib yang meminta sendiri untuk berdiam di dalam benda-benda keramat tersebut. Hal tersebut tentu menambah kesakralan tradisi ngelawang yang ada di Bali. Pengusungan benda-benda keramat keliling desa secara niskala diyakini sebagai perlindungan bagi seluruh masyarakat desa setempat dan diibaratkan sebagai pembersihan terhadap segala energi-energi kotor yang ada di sekitaran desa dan di sekitaran masyarakat.

Contoh nglawang sakral tersebut dapat ditemui di Desa Pekraman Banjar Serokadan, Susut, Bangli. Setiap hari raya Kuningan, masyarakat adat di sana rutin menggelar Ngelawang Agung, atau disebut juga Barong Nguya yang mengusung seluruh duwe desa berupa 8 barong yang disakralkan. Di sana, ada duwe yang dipercaya berusia lebih dari 1000 tahun. Karena dianggap sangat sangkral, apabila ada bulu-bulu barong yang jatuh tercecer, maka warga akan memungutnya, menyimpannya, kemudiannya menjadikannya sebagai obat mujarab, jimat atau benda bertuah lainnya.

Kesakralan Tarian Barongsai

Tarian barongsai juga dianggap sakral karena memiliki kekuatan magis, namun kesrakralannya juga diperkuat oleh makna-makna yang terkandung dalam barongsai itu sendiri. Barongsai menjadi sakral karena sarat akan makna. Warna-warni pada kostum barongsai memiliki makna yang berbeda-beda. Warna kuning melambangkan bumi (pusat), hitam melambangkan air (utara), hijau melambangkan kayu (timur), merah melambangkan api (selatan), dan putih melambangkan logam (barat). Di bagian kepala sang barongsai, tanduk menjadi lambang kehidupan dan regenerasi, yang juga melambangkan unsur perempuan. Telinga dan ekor menjadi simbol kebijaksaaan dan keberuntungan. Tulang belakangnya yang mirip ular menggambarkan pesona dan kekayaan. Dahi dan jenggotnya yang menyerupai naga mewakili kekuatan, kepemimpian, dan juga unsur laki-laki. Terakhir, punuk belakang pada punggung Barongsai menyerupai kura-kura menjadi simbol panjang umur dan umur panjang.

Sebelum tarian barongsai dipentaskan, ada beberapa rangkaian ritual yang harus dilewati. Barongsai yang akan ditampilakn pertama-tama diletakan di atas altar, lengkap dengan sesajen berupa buah-buahan. Di Bali, tak jarang masyarakat etnis Tionghoa juga menggunakan banten dan sebagainya. Melalui ritual ini, diharapkan pertunjukan dan pementasan barongsai akan berjalan lancar tanpa halangan apapun. Para pemain barongsai juga harus melaksanakan ritual agar para dewa datang menyaksikan atraksi mereka dan memberkahi mereka dengan kekuatan dan keselamatan. Para pemain harus sembahyang sebelum atraksi dimulai, kemudian kertas yang bertintakan darah dari upacara potong lidah ditempelkan pada kepala sang barongsai oleh pemangku ritual yang terlebih dahulu sudah dirasuki roh leluhur. Pentingnya ritual-ritual yang harus dilewati sebelum pementasan barongsai menjadikan perkumpulan-perkumpulan barongsai berada di bawah naungan klenteng.

Ada banyak barongsai sakral yang dapat ditemui di Bali, seperti di Vihara Dharmayana Kuta, ada barongsai sakral yang dibuat dan didatangkan dari Semarang, Jawa Tengah, sejak tahun 2002, saat tradisi, kebudayaan, dan masyarakat etnis Tionghoa sudah mendapat hak yang sama di depan publik. Di teras vihara sebelah kiri jika posisinya dilihat dari depan vihara, terdapat sebuah lemari kaca dengan tinggi kurang lebih 1 meter dan bertengger di atas meja besar. Di dalam sana, barongsai sakral tersebut di simpan. Dupa-dupa bekas sembahyang juga dapat dilihat di depan lemari kaca tersebut.

Barongsai sakral tersebut tidak bisa sembarang dimainkan. Jika tidak ada upacara keagamaan, maka barongsai sakral tersebut tidak akan dikeluarkan. Sang barongsai akan tetap disimpan di dalam lemari. Uniknya, barongsai sakral tersebut juga mendapat perlakuan khusus. Sehari-hari, umat setempat melakukan pemujaan dan persembahyangan, itulah mengapa disediakan tempat dupa di depan lemari penyimpanan barongsai sakral tersebut. Saat hari besar keagamaan, mereka akan menghaturkan sesajen, baik banten maupun buah-buahan saat upacara keagamaan, seperti Tahun Baru Imlek atau Cap Gomeh.

Kilin, Hewan Rekaan Tersakral dalam Budaya Tionghoa

Di Indonesia, ada juga barongsai sakral dan langka yang memiliki perlakuan amat spesial, yaitu Barongsai Kilin, hewan rekaan jenis barong yang menduduki kasta tertinggi di dalam kebudayaan Tionghoa. Satu-satunya perguruan di Indonesia yang masih melestarikan Barongsai Kilin dengan segala ritual budayanya adalah Perguruan Gerak Badan (PGB) Bangau Putih, Bogor. Keistimewaan Kilin ini berawal dari keyakinan orang-orang Cina bahwa Kilin adalah tunggangan para dewa-dewi, keluarnya pun tidak bisa sembarangan. Hanya saat upacara keagamaan saja. Itupun jika para dewa dan roh-roh leluhur mengkehendakinya.

Dilihat dari perawakannya, Barongsai Kilin memiliki ukuran yang relatif sama seperti barongsai pada umumnya, namun Barongsai Kilin berwarna hijau, memiliki bulu yang lebih sedikit, terlihat dari sisik dan kepalanya yang minim bulu. Perawaknnya lebih dominan sebagai seekor naga ketimbang barongsai karena memiliki tanduk di kepalanya dan juga jenggot yang panjang.

Karena kedudukannya yang istimewa, para pemain juga memerlukan keterampilan khusus. Pasalnya, Kilin merupakan perwujudan 13 unsur hewan yang berbeda. seperti tanduk rusa menjangan, sisik naga, empat kaki dari binatang yang berbeda seperti kuda, dan bebek, sedangkan ekornya kura-kura, sehingga saat mementaskan Barongsai Kilin, para penarinya harus melakukan gerakan yang sangat kompleks. Orang yang memainkan Barongsai Kilin pun tidak boleh sembarangan, harus memenuhi persyaratan tertentu, seperti ahli bela diri silat minimum sabuk merah, dan berusia minimal 15 tabuh dengan perawakan yang proporsional.

Hal itu berkaitan dengan ketahanan fisik saat memainkan Barongsai Kilin yang gerakannya bisa sangat lambat bisa juga sangat cepat, dan kekuatan kepala dan badan Barongsai Kilin yang harus ditopang dengan seimbang. Bahkan, para pemain dalam satu tim pun diharuskan berpuasa, tidak makan daging, atau hewan yang bernyawa selama 15 hari sebelum ditampikannya Barongsai Kilin. Selama 15 hari itu, juga dilakukan berbagai ritual lainnya, seperti meminta restu dari leluhur, hingga memandikan Barongsai Kilin itu sendiri. Tambur yang digunakan untuk mengiringi atraksi dari Barongsai Kilin pun berbeda dengan barongsai pada umumnya. Ketukan-ketukan khusus menjadikannya lebih terkesan berwibawa dan sakral.


Keduanya Sama-sama Tidak Bisa Berdiri Sendiri

Di luar konteks magis dan seni yang ada pada tradisi ngelawang dan tarian barongsai, keduanya merupakan tradisi yang memang harus dipentaskan secara bersama-sama. Tradisi ngelawang dan tarian barongsai tidak bisa dilakukan hanya oleh satu orang saja. Jika hanya satu orang, tidak akan ada yang memainkan badan barong, atau tidak ada yang memainkan kepala barong. Kalau pun berhasil sendiri entah dengan cara bagaimana, masih ada iringan gamelan yang harus dimainkan untuk mendukung pementasan dan atraksi saat ngelawang ataupun menarikan barongsai. Keduanya harus dilakukan bersama-sama, para pemain barong dan para pemain gamelan harus bersinergi. Hal tersebut sekaligus menjadi upaya untuk mempererat hubungan satu dengan yang lainnya.

Di dalam satu tim pementasan tradisi ngelawang dan tarian barongsai yang biasanya terdiri dari para pemain dan penabuh, dibutuhkan sebuah bentuk kerjasama yang melebihi sebuah definisi tentang kata pengertian satu sama lain sehingga dapat menampilkan suatu atraksi yang kompak. Perasaan saling menerima antarpemain tentu akan menimbulkan rasa aman dan nyaman, sehingga sikap dan rasa peduli mereka terhadap suatu masalah yang dihadapi oleh teman-teman antarpemain akan semakin terdorong dan semakin tinggi. Pada akhirnya, sebuah hubungan timbal balik akan lahir, mereka akan saling memberi dan saling membantu sesama. Mereka juga akan menjadi satu rasa. Kesulitan satu orang pemain adalah kesulitan bersama, sama-sama dirasakan. Sebaliknya, apabila tidak ada kekompakan antarpemain, tentu permainan dan atraksi yang ditampilkan menjadi berantakan dan mereka akan gagal untuk menampilkan atraksi terbaik. Itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa tradisi ngelawang dan tarian barongsai harus disiapkan dengan matang. Bahkan para pemain tarian barongsai harus berlatih keras agar bisa menampilkan atraksi-atraksinya yang dominan menampilkan seni bela diri kungfu saat menarikan barongsai.

Perkumpulan kelompok pelaku tradisi ngelawang dan tarian barongsai umumnya beranggotakan anak-anak dan remaja, dan umumnya lagi, anak-anak dan remaja memiliki emosi yang masih agak labil. Tak heran jika kemudian saat berlatih, ada sedikit ketersinggungan atau kesalahpahaman saat ada yang memberikan kritik dan masukan tentang gerakan-gerakan yang mereka lakukan, yang berujung pada keributan kecil, namun tetap dapat diselesaikan secara bersama tanpa menyisakan dendam. Saat di luar latihan atau di luar perkumpulan pun mereka tentu masih menjadi teman, dan selayaknya seorang teman, mereka dapat berbagi keluh kesah masing-masing. Mereka boleh bercerita tentang apa saja, tentang kehidupan mereka, tentang kegiatan mereka, atau tentang masalah-masalah yang mereka hadapi, sehingga nantinya mereka bisa membantu satu sama lain.

Keduanya Sama-sama Mengalami Perubahan

 Jika ditinjau secara seksama, rupaya tradisi ngelawang di Bali dan tarian barongsai pada umumnya di Indonesia sudah berubah jika dibandingkan dengan bentuk keduanya di masa lalu. Mengutip perkataan seorang Budayawan Bali, I Wayan Dibia, yang dimuat kumparan.com, bahwa tradisi ngelawang memang mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman yang terjadi. Sebagaimana maknanya sebagai penolak bala, zaman dahulu, tradisi ngelawang dilakukan sampai masuk ke rumah-rumah warga, memberi “ruatan” pada beberapa sudut halaman rumah yang dianggap memiliki aura negatif. Sedangkan saat ini, sedikit sekali tradisi ngelawang yang benar-benar sampai masuk ke rumah warga, kebanyakan hanya ngelawang di jalanan. Ia juga melihat ada yang harus dibenahi dari tradisi ngelawang saat ini dilihat dari segi kualitasnya mengingat anak-anak memiliki antusiasme yang sangat tinggi dalam melestarikan kesenian dan kebudayaan Bali. Baginya, tradisi ngelawang saat ini lebih condong ke tujuan sekuler, yaitu mencari uang, bukan untuk melengkapi dan menyambut hari raya Galungan dan Kuningan.

 Dibia juga menyebutkan tradisi ngelawang saat ini cenderung tidak didukung kemampuan yang memadai oleh pemainnya, baik kemampuan musik ataupun kemampuan teatrikal. Tabuh sering kali hanya sebatas bunyi, penari hanya sekadar menari, keduanya tidak menjadi sesuatu yang memadai. Oleh karena itu, ia berharap tradisi ngelawang dilakoni dengan kualitas dan persiapan yang matang sehingga ngelawang dapat menjadi tradisi yang tak hanya lestari dari segi eksistensi, tapi juga dari segi kualitas.

 Tarian barongsai saat ini juga mengalami perubahan. Dulu, Tarian Barongsai hanya ditampilkan di halaman dan lingkungan klenteng atau vihara saja dengan harapan para dewa-dewi dan roh para leluhur akan datang menyaksikan atraksi tersebut sambil membawa berkah. Terkadang, Tarian barongsai juga dimainkan di luar wilayah klenteng, seperti saat upacara akan menempati gedung baru, menyambut tamu agung, dan upacara-upcara agama lainnya. Namun, saat ini, tarian barongsai juga ditampilkan di ruang publik, seperti Mall, Televisi, bahkan dalam kegiatan yang sarat akan nuansa politik. Penampilan barongsai di ruang publik menyingkirkan kepentingan ritualitas keagamaan, dan beralih ke tujuan komersial. Pementasan barongsai di ruang publik pun menghilangkan unsur sakral yang ada. Tidak ada ritual pemujaan dan penghormatan kepada para dewa. Tidak ada berkah dan restu dari roh para leluhur. Tarian barongsai pun akhirnya hanya bersifat menghibur, dan sang barongsai pun masuk ke dalam pasar hiburan. Bisa dikatakan, tarian barongsai saat ini mengalami proses desakralisasi.

Saat ini, tarian barongsai juga dianggap mulai ditinggalkan oleh generasi penerusnya. Itulah yang dirasakan oleh Ario Rubbik, seorang sutradara yang menggarap Satu Jam Saja, Hijabers in Love dan Si Doel Anak Pinggiran, saat mendengar penuturan pamannya, Rano Karno, saat berkunjung ke daerah tempat tinggal keturunan peranakan Tionghoa Benteng pada tahun 2008. Katanya tradisi barongsai mulai ditinggal anak-anak muda. Nah, berangkat dari sana, Ario kemudian ditpercaya untuk menggarap sebuah film drama keluarga bertemakan budaya Tionghoa dengan Barongsai sebagai permasalahannya. Ario pun kemudian menggarap film berjudul The last Barongsai, sebuah film dari adaptasi novel berjudul sama yang ditulis oleh Pere Sumbada pada 2010. Tentu, melalui film yang akhirnya dirilis pada 26 Januari 2017 tersebut dapat mengingatkan anak-anak muda etnis Tionghoa sebagai generasi penerus untuk dapat melestarikan tradisi dan kebudayaan Tionghoa yang ada, khususnya tarian barongsai.

Tradisi nglawang dan tarian barongsai adalah contoh warna-warni kebudayaan yang ada di Indonesia, khususnya di Bali. Kehadiran keduanya menjadi penanda sebuah hari besar yang akan datang dalam waktu dekat. Keduanya juga membawa berkah, maka seandainya bertemu dengan salah satu dari mereka di jalan, di klenteng, atau di vihara, cobalah memohon berkah, dan jangan lupa doakan agar tradisi Bali dan kebudayaan Tionghoa, khususnya tradisi ngelawang dan tarian barongsai agar tetap lestari, baik dari segi eksistensi, ataupun dari segi keualitas. [T]

Tags: barongsaiImlek
Share25TweetSendShareSend
Previous Post

Gagasan Terpinggir Siwaratrikalpa

Next Post

Nyoman Sujana Kenyem, Kesetiaan pada Alam Sebagai Inspirasi Berkarya

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Nyoman Sujana Kenyem, Kesetiaan pada Alam Sebagai Inspirasi Berkarya

Nyoman Sujana Kenyem, Kesetiaan pada Alam Sebagai Inspirasi Berkarya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co