24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Galungan Ngelawang Barong Bangkung, Imlek Ngelawang Barongsai

Julio Saputra by Julio Saputra
January 23, 2020
in Khas
Galungan Ngelawang Barong Bangkung, Imlek Ngelawang Barongsai

Pementasan Barongsai di Vihara Amurva Bhumi Blahbatuh tahun 2019. Sumber foto : Rony Kurniawan

Menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan di Bali, di jalan-jalan, baik jalan besar atau jalan kecil, baik di pedesaan atau pun pusat kota, akan nampak anak-anak berkeliling sambil mengarak barong bangkung, sebuah barong berbentuk babi berwarna gelap, lengkap dengan iring-iringan seperangkat gamelan sederhana. Di sepanjang jalan, masyarakat sudah menunggu kedatangan mereka dengan sangat antusias tatkala mendengar suara gamelan yang dimainkan.  Anak-anak itu akan berhenti di suatu titik, kemudian menarikan barong bangkung yang mereka arak, menunjukan atraksi yang mereka siapkan. Setelah itu, masyarakat akan memberi upah, bisa uang, bisa juga bukan uang, seperti permen, jajanan khas bali, atau cemilan lainnya.

 Itulah tradisi ngelawang, tradisi yang hanya dilakukan 6 bulan sekali, tradisi milik masyarakat Bali yang katanya sudah ada sejak lama. Sebenarnya tak hanya barong bangkung saja yang bisa digunakan untuk ngelawang, jenis-jenis barong lainnya pun sering dipentaskan, seperti barong ket atau barong macan, namun barong bangkung memang yang paling sering dipentaskan untuk ngelawang. Saat ini, banyak yang mengaggap tradisi ngelawang menjadi tradisi yang sangat unik dan menarik, karena dapat menjadi hiburan untuk disaksikan, baik bagi masyarakat setempat, ataupun bagi wisatawan yang kebetulan sedang melancong di Bali. “Yah, tradisi orang Bali memang sangat unik,” begitu kira-kira kata mereka.

Namun ternyata, bukan hanya orang Bali saja yang memiliki tradisi ngelawang. Jika diperhatikan, ada tradisi serupa yang dilakukan di beberapa pusat keramaian, seperti di vihara, klenteng, dan sebagainya. Tradisi yang dilakukan sama-sama unik dan manarik, sama-sama dapat menghibur masyarakat dengan tarian dan atraksi yang disiapkan, pun sama-sama dilengkapi dengan seperangkat gamelan. Bedanya barong yang digunakan bukanlah barong berbentuk babi, tapi berbentuk singa. Warnanya pun bervariasi, ada hitam, ada putih, ada hijau, kuning juga ada, merah apalagi, sudah pasti ada, karena warna merah identik dengan hari raya yang akan disambutnya.

Ya, itulah barongsai, tradisi ngelawang ala masyarakat etnis Tionghoa yang dilakukan di berbagai acara penting, seperti pembukaan restoran, pendirian klenteng, dan tentu saja saat Tahun Baru Imlek. Sejatinya sekali, masyarakat etnis Tionghoa menyebutnya hanya sebagai tarian barongsai saja, atau tarian singa oleh masyarakat etnis Tionghoa di negara-negara lain. Namun di Bali, tarian barongsai tentu dapat dikatakan sebagai tradisi ngelawang versi cina, karena antara tradisi ngelawang orang bali dan tarian barongsai memiliki beberapa persamaan. Tradisi ngelawang versi Bali biasanya dilakukan di jalan-jalan.

Mereka akan mengarak barong mengelilingi daerah tempat mereka tinggal, masuk dari satu pintu ke pintu lainnya, kemudian menerima upah dari masyarakat, baik uang ataupun jajanan. Tradisi ngelawang versi Cina juga dilakukan di jalan. Hanya saja ngelawang bagi mereka lebih dikenal dengan kirab, seperti yang dilakukan oleh warga Banjar Dharmasraya Semadhi yang menjadi umat di Vihara Dharmayana Kuta.

Dari tahun ke tahun, mereka menggelar pawai atau kirab barongsai dimulai dari Jalan Blambangan menuju Jalan Kalianget, dan Jalaan Raya Kuta serta arah sebaliknya. Di sanalah, masyarakat setempat juga akan memberi angpao, bahkan ada pula pedagang-pedagang yang menggantung angponya di depan toko mereka, dengan harapan akan lebih banyak rezeki yang datang. Di samping sama-sama dilakukan dari di jalan, dari satu tempat ke tempat lainnya, masih ada beberapa persamaan yang dimiliki oleh tradisi ngelawang dan tarian barongsai.

Keduanya Sama-Sama Diyakini Dapat Menolak Bala

Di samping sebagai perayaan atas kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (kebatilan), jika dilihat dari segi makna, tradisi ngelawang dan tarian barongsai dapat dikatakan sama karena keduanya dipercaya dan diyakini dapat menolak bala, mengusir roh-roh jahat, dan  menghapus pengaruh-pengaruh negatif, serta aura-aura buruk lainnya yang dapat menganggu hidup dan kehidupan manusia.

Bahkan, kata orang-orang bijak, tradisi ngelawang dan tarian barongsai juga dapat memotivasi manusia untuk lebih peduli terhadap lingkungan, sehingga mereka bisa menjaga kebersihan dan alam sekitar, seperti menjaga keberadaan hutan, sehingga tidak ada satu pun perkara tersebarnya berbagai wabah penyakit atau perkara terjadinya banjir yang cukup merugikan. Ngelawang adalah melanglang lingkungan. Makna tolak bala dari kedua tradisi tersebut berasal dari mitologi yang diyakini masing-masing oleh orang Bali dan orang etnis Tionghoa.

Mitologi Orang Bali

Tradisi ngelawang menurut orang Bali didasari pada mitologi Dewi Ulun Danu yang diceritakan pernah menjelma menjadi seorang raksasa yang kemudian membantu umat manusia mengusir roh-roh jahat yang ada di dunia. Mitologi lain yang berkaitan dengan tradisi ngelawang adalah Siwa Tatwa. Konon, di zaman dahulu, setiap hari terjadi bencana dan musibah yang menyebabkan dunia gonjang-ganjing dan penuh kehancuran. Melihat dunia sedang berada dalam keadaan yang tidak baik, Sang Hyang Siwa bersedih, kemudian memikirkan cara untuk kembali menciptakan kedamaian dan mengembalikan ketenangan dunia seperi sedia kala.

Kemudian, diutuslah para dewata untuk turun ke dunia. Masing-masing berperan sebagai penari, penabuh, dalang, dan sebagainya untuk menghibur manusia. Dunia pun kembali tenang dan damai saat semua manusia berbahagia dan terhibur oleh kesenian yang ditampilkan para dewata. Mitologi Siwa Tatwa tersebut juga dikaitkan erat dengan tolak bala dalam legenda hancurnya keangkaramurkaan Mayadanawa yang menjadi awal mula adanya Hari Raya Galungan dan Kuningan di Bali.


Pementasan barongsai di Vihara Buddha Sakyamuni Denpasar Tahun 2019. Sumber foto : Chealney Lim

Mitologi Orang Cina

Sementara itu, tarian barongsai didasari oleh beberapa versi, namun Nian atau monster menjadi versi yang paling populer di kalangan masyarakat etnis Tionghoa di belahan dunia manapun. Dikisahkan, pada masa Dinasti Qing berdiri, di sebuah wilayah di negeri Tiongkok, ada seekor monster atau Nian yang selalu muncul di hari pertama tahun baru. Moster tersebut sangat merugikan masyarakat karena selalu menganggu kehidupan mereka, memakan semua ternak yang ada, sampai hasil pertanian juga dilahap habis. Bahkan, monster tersebut katanya juga suka memakan manusia, terutama anak-anak.

Akibatnya, masyarakat berada dalam keresahan dan ketakutan. Sampai pada suatu hari, muncul singa yang menghalangi monster tersebut. Alhasil, monster itu kalah dan lari tunggang langgang meninggalkan desa. Saat semua masyarakat sudah merasa aman, singa itu pergi entah ke mana. Namun siapa sangka, monster yang meresahkan itu kembali karena sakit hati dan berniat balas dendam. Masyarakat yang tidak tahu keberadaan singa yang pernah menolong mereka dulu akhirnya menciptakan kostum menyerupai singa tersebut. Sekali lagi, monster itu lari tunggang langgang karena ketakutan. Itulah yang kemudian menjadi alasan mengapa tarian barongsai kerap dijumpai menjelang Tahun Baru Imlek.

Karena diyakini dapat menolak bala, tak jarang tradisi ngelawang dan tarian barongsai dilakukan di lokasi-lokasi strategis, seperti tradisi ngelawang yang kerap berkeliling desa, masing dari satu pintu satu ke pintu lainnya, menyususri jalan-jalan di desa baik jalan besar atau pun jalan kecil. Sementara tari barongsai dapat dijumpai di klenteng dan vihara, atau lokasi-lokasi lain yang perlu dipentaskan tarian barongsai, seperti saat menjelang tahun Baru Imlek di bulan Februari tahun 2019 kemarin, tarian barongsai dipentaskan di tengah-tengah Pasar Badung (Eks Tiara Grosir) Denpasar yang kabarnya dulu adalah kuburan cina, sehingga dirasa perlu adanya pementasan tarian barongsai yang diharapkan dapat memberi keselamatan dan menetralisir aura-aura negatif yang ada.

Tarian barongsaii di Pasar Badung tersebut tentu saja menarik, karena tak hanya dirayakan oleh masyarakat etnis Tionghoa saja, namun juga oleh para pedagang dari seluruh agama yang ada, baik Hindu, Kristen, ataupun Islam. Bahkan, para pedagang tersebut juga ikut mengahaturkan sesajen berupa buah-buahan, makanan, dan minuman. Mereka juga memohon berkah dan rezeki dengan memberi angpao kepada para penari barongsai saat barongsai tersebut ditarikan mengelilingi los dan kios dagangan mereka. Harapannya, rezeki mereka akan dimudahkan dan dilipatgandakan.

Keduanya Sama-Sama Sakral dan Magis

Tradisi ngelawang dan tarian barongsai bisa dikatakan merupakan tradisi yang sakral, karena berangkat dari mitologi dan filosofi dewa-dewi serta hal-hal gaib lainnya. Namun, bukan itu saja yang menjadikan tradisi ngelawang dan tarian barongsai sakral. Keduanya selalu dihubungkan dengan kekuatan dan kesaktian magis. Keduanya pula diyakini sebagai jembatan yang dapat menghubungkan manusia dengan alam supranatural.

Kesakralan Tradisi Ngelawang

Pada awalnya, tradisi ngelawang dikategorikan sebagai sebuah tindakan keagamaan yang bersifat seremonial dan tertata, sakral dan magis. Biasanya, barong, rangda, serta benda-benda keramat lainnya diusung ke luar areal pura, di jalan-jalan, diusung mengelilingi lingkungan desa atau banjar setempat. Benda-benda keramat tersebut tentu digolongkan sebagai benda yang memiliki tingkat kesucian yang tinggi, yang telah melewati tahap sakralisasi untuk menghapus noda-noda atau leteh yang ada pada bahan-bahan pembuatannya, sampai ritual menempatkan kekuatan gaib yang meminta sendiri untuk berdiam di dalam benda-benda keramat tersebut. Hal tersebut tentu menambah kesakralan tradisi ngelawang yang ada di Bali. Pengusungan benda-benda keramat keliling desa secara niskala diyakini sebagai perlindungan bagi seluruh masyarakat desa setempat dan diibaratkan sebagai pembersihan terhadap segala energi-energi kotor yang ada di sekitaran desa dan di sekitaran masyarakat.

Contoh nglawang sakral tersebut dapat ditemui di Desa Pekraman Banjar Serokadan, Susut, Bangli. Setiap hari raya Kuningan, masyarakat adat di sana rutin menggelar Ngelawang Agung, atau disebut juga Barong Nguya yang mengusung seluruh duwe desa berupa 8 barong yang disakralkan. Di sana, ada duwe yang dipercaya berusia lebih dari 1000 tahun. Karena dianggap sangat sangkral, apabila ada bulu-bulu barong yang jatuh tercecer, maka warga akan memungutnya, menyimpannya, kemudiannya menjadikannya sebagai obat mujarab, jimat atau benda bertuah lainnya.

Kesakralan Tarian Barongsai

Tarian barongsai juga dianggap sakral karena memiliki kekuatan magis, namun kesrakralannya juga diperkuat oleh makna-makna yang terkandung dalam barongsai itu sendiri. Barongsai menjadi sakral karena sarat akan makna. Warna-warni pada kostum barongsai memiliki makna yang berbeda-beda. Warna kuning melambangkan bumi (pusat), hitam melambangkan air (utara), hijau melambangkan kayu (timur), merah melambangkan api (selatan), dan putih melambangkan logam (barat). Di bagian kepala sang barongsai, tanduk menjadi lambang kehidupan dan regenerasi, yang juga melambangkan unsur perempuan. Telinga dan ekor menjadi simbol kebijaksaaan dan keberuntungan. Tulang belakangnya yang mirip ular menggambarkan pesona dan kekayaan. Dahi dan jenggotnya yang menyerupai naga mewakili kekuatan, kepemimpian, dan juga unsur laki-laki. Terakhir, punuk belakang pada punggung Barongsai menyerupai kura-kura menjadi simbol panjang umur dan umur panjang.

Sebelum tarian barongsai dipentaskan, ada beberapa rangkaian ritual yang harus dilewati. Barongsai yang akan ditampilakn pertama-tama diletakan di atas altar, lengkap dengan sesajen berupa buah-buahan. Di Bali, tak jarang masyarakat etnis Tionghoa juga menggunakan banten dan sebagainya. Melalui ritual ini, diharapkan pertunjukan dan pementasan barongsai akan berjalan lancar tanpa halangan apapun. Para pemain barongsai juga harus melaksanakan ritual agar para dewa datang menyaksikan atraksi mereka dan memberkahi mereka dengan kekuatan dan keselamatan. Para pemain harus sembahyang sebelum atraksi dimulai, kemudian kertas yang bertintakan darah dari upacara potong lidah ditempelkan pada kepala sang barongsai oleh pemangku ritual yang terlebih dahulu sudah dirasuki roh leluhur. Pentingnya ritual-ritual yang harus dilewati sebelum pementasan barongsai menjadikan perkumpulan-perkumpulan barongsai berada di bawah naungan klenteng.

Ada banyak barongsai sakral yang dapat ditemui di Bali, seperti di Vihara Dharmayana Kuta, ada barongsai sakral yang dibuat dan didatangkan dari Semarang, Jawa Tengah, sejak tahun 2002, saat tradisi, kebudayaan, dan masyarakat etnis Tionghoa sudah mendapat hak yang sama di depan publik. Di teras vihara sebelah kiri jika posisinya dilihat dari depan vihara, terdapat sebuah lemari kaca dengan tinggi kurang lebih 1 meter dan bertengger di atas meja besar. Di dalam sana, barongsai sakral tersebut di simpan. Dupa-dupa bekas sembahyang juga dapat dilihat di depan lemari kaca tersebut.

Barongsai sakral tersebut tidak bisa sembarang dimainkan. Jika tidak ada upacara keagamaan, maka barongsai sakral tersebut tidak akan dikeluarkan. Sang barongsai akan tetap disimpan di dalam lemari. Uniknya, barongsai sakral tersebut juga mendapat perlakuan khusus. Sehari-hari, umat setempat melakukan pemujaan dan persembahyangan, itulah mengapa disediakan tempat dupa di depan lemari penyimpanan barongsai sakral tersebut. Saat hari besar keagamaan, mereka akan menghaturkan sesajen, baik banten maupun buah-buahan saat upacara keagamaan, seperti Tahun Baru Imlek atau Cap Gomeh.

Kilin, Hewan Rekaan Tersakral dalam Budaya Tionghoa

Di Indonesia, ada juga barongsai sakral dan langka yang memiliki perlakuan amat spesial, yaitu Barongsai Kilin, hewan rekaan jenis barong yang menduduki kasta tertinggi di dalam kebudayaan Tionghoa. Satu-satunya perguruan di Indonesia yang masih melestarikan Barongsai Kilin dengan segala ritual budayanya adalah Perguruan Gerak Badan (PGB) Bangau Putih, Bogor. Keistimewaan Kilin ini berawal dari keyakinan orang-orang Cina bahwa Kilin adalah tunggangan para dewa-dewi, keluarnya pun tidak bisa sembarangan. Hanya saat upacara keagamaan saja. Itupun jika para dewa dan roh-roh leluhur mengkehendakinya.

Dilihat dari perawakannya, Barongsai Kilin memiliki ukuran yang relatif sama seperti barongsai pada umumnya, namun Barongsai Kilin berwarna hijau, memiliki bulu yang lebih sedikit, terlihat dari sisik dan kepalanya yang minim bulu. Perawaknnya lebih dominan sebagai seekor naga ketimbang barongsai karena memiliki tanduk di kepalanya dan juga jenggot yang panjang.

Karena kedudukannya yang istimewa, para pemain juga memerlukan keterampilan khusus. Pasalnya, Kilin merupakan perwujudan 13 unsur hewan yang berbeda. seperti tanduk rusa menjangan, sisik naga, empat kaki dari binatang yang berbeda seperti kuda, dan bebek, sedangkan ekornya kura-kura, sehingga saat mementaskan Barongsai Kilin, para penarinya harus melakukan gerakan yang sangat kompleks. Orang yang memainkan Barongsai Kilin pun tidak boleh sembarangan, harus memenuhi persyaratan tertentu, seperti ahli bela diri silat minimum sabuk merah, dan berusia minimal 15 tabuh dengan perawakan yang proporsional.

Hal itu berkaitan dengan ketahanan fisik saat memainkan Barongsai Kilin yang gerakannya bisa sangat lambat bisa juga sangat cepat, dan kekuatan kepala dan badan Barongsai Kilin yang harus ditopang dengan seimbang. Bahkan, para pemain dalam satu tim pun diharuskan berpuasa, tidak makan daging, atau hewan yang bernyawa selama 15 hari sebelum ditampikannya Barongsai Kilin. Selama 15 hari itu, juga dilakukan berbagai ritual lainnya, seperti meminta restu dari leluhur, hingga memandikan Barongsai Kilin itu sendiri. Tambur yang digunakan untuk mengiringi atraksi dari Barongsai Kilin pun berbeda dengan barongsai pada umumnya. Ketukan-ketukan khusus menjadikannya lebih terkesan berwibawa dan sakral.


Keduanya Sama-sama Tidak Bisa Berdiri Sendiri

Di luar konteks magis dan seni yang ada pada tradisi ngelawang dan tarian barongsai, keduanya merupakan tradisi yang memang harus dipentaskan secara bersama-sama. Tradisi ngelawang dan tarian barongsai tidak bisa dilakukan hanya oleh satu orang saja. Jika hanya satu orang, tidak akan ada yang memainkan badan barong, atau tidak ada yang memainkan kepala barong. Kalau pun berhasil sendiri entah dengan cara bagaimana, masih ada iringan gamelan yang harus dimainkan untuk mendukung pementasan dan atraksi saat ngelawang ataupun menarikan barongsai. Keduanya harus dilakukan bersama-sama, para pemain barong dan para pemain gamelan harus bersinergi. Hal tersebut sekaligus menjadi upaya untuk mempererat hubungan satu dengan yang lainnya.

Di dalam satu tim pementasan tradisi ngelawang dan tarian barongsai yang biasanya terdiri dari para pemain dan penabuh, dibutuhkan sebuah bentuk kerjasama yang melebihi sebuah definisi tentang kata pengertian satu sama lain sehingga dapat menampilkan suatu atraksi yang kompak. Perasaan saling menerima antarpemain tentu akan menimbulkan rasa aman dan nyaman, sehingga sikap dan rasa peduli mereka terhadap suatu masalah yang dihadapi oleh teman-teman antarpemain akan semakin terdorong dan semakin tinggi. Pada akhirnya, sebuah hubungan timbal balik akan lahir, mereka akan saling memberi dan saling membantu sesama. Mereka juga akan menjadi satu rasa. Kesulitan satu orang pemain adalah kesulitan bersama, sama-sama dirasakan. Sebaliknya, apabila tidak ada kekompakan antarpemain, tentu permainan dan atraksi yang ditampilkan menjadi berantakan dan mereka akan gagal untuk menampilkan atraksi terbaik. Itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa tradisi ngelawang dan tarian barongsai harus disiapkan dengan matang. Bahkan para pemain tarian barongsai harus berlatih keras agar bisa menampilkan atraksi-atraksinya yang dominan menampilkan seni bela diri kungfu saat menarikan barongsai.

Perkumpulan kelompok pelaku tradisi ngelawang dan tarian barongsai umumnya beranggotakan anak-anak dan remaja, dan umumnya lagi, anak-anak dan remaja memiliki emosi yang masih agak labil. Tak heran jika kemudian saat berlatih, ada sedikit ketersinggungan atau kesalahpahaman saat ada yang memberikan kritik dan masukan tentang gerakan-gerakan yang mereka lakukan, yang berujung pada keributan kecil, namun tetap dapat diselesaikan secara bersama tanpa menyisakan dendam. Saat di luar latihan atau di luar perkumpulan pun mereka tentu masih menjadi teman, dan selayaknya seorang teman, mereka dapat berbagi keluh kesah masing-masing. Mereka boleh bercerita tentang apa saja, tentang kehidupan mereka, tentang kegiatan mereka, atau tentang masalah-masalah yang mereka hadapi, sehingga nantinya mereka bisa membantu satu sama lain.

Keduanya Sama-sama Mengalami Perubahan

 Jika ditinjau secara seksama, rupaya tradisi ngelawang di Bali dan tarian barongsai pada umumnya di Indonesia sudah berubah jika dibandingkan dengan bentuk keduanya di masa lalu. Mengutip perkataan seorang Budayawan Bali, I Wayan Dibia, yang dimuat kumparan.com, bahwa tradisi ngelawang memang mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman yang terjadi. Sebagaimana maknanya sebagai penolak bala, zaman dahulu, tradisi ngelawang dilakukan sampai masuk ke rumah-rumah warga, memberi “ruatan” pada beberapa sudut halaman rumah yang dianggap memiliki aura negatif. Sedangkan saat ini, sedikit sekali tradisi ngelawang yang benar-benar sampai masuk ke rumah warga, kebanyakan hanya ngelawang di jalanan. Ia juga melihat ada yang harus dibenahi dari tradisi ngelawang saat ini dilihat dari segi kualitasnya mengingat anak-anak memiliki antusiasme yang sangat tinggi dalam melestarikan kesenian dan kebudayaan Bali. Baginya, tradisi ngelawang saat ini lebih condong ke tujuan sekuler, yaitu mencari uang, bukan untuk melengkapi dan menyambut hari raya Galungan dan Kuningan.

 Dibia juga menyebutkan tradisi ngelawang saat ini cenderung tidak didukung kemampuan yang memadai oleh pemainnya, baik kemampuan musik ataupun kemampuan teatrikal. Tabuh sering kali hanya sebatas bunyi, penari hanya sekadar menari, keduanya tidak menjadi sesuatu yang memadai. Oleh karena itu, ia berharap tradisi ngelawang dilakoni dengan kualitas dan persiapan yang matang sehingga ngelawang dapat menjadi tradisi yang tak hanya lestari dari segi eksistensi, tapi juga dari segi kualitas.

 Tarian barongsai saat ini juga mengalami perubahan. Dulu, Tarian Barongsai hanya ditampilkan di halaman dan lingkungan klenteng atau vihara saja dengan harapan para dewa-dewi dan roh para leluhur akan datang menyaksikan atraksi tersebut sambil membawa berkah. Terkadang, Tarian barongsai juga dimainkan di luar wilayah klenteng, seperti saat upacara akan menempati gedung baru, menyambut tamu agung, dan upacara-upcara agama lainnya. Namun, saat ini, tarian barongsai juga ditampilkan di ruang publik, seperti Mall, Televisi, bahkan dalam kegiatan yang sarat akan nuansa politik. Penampilan barongsai di ruang publik menyingkirkan kepentingan ritualitas keagamaan, dan beralih ke tujuan komersial. Pementasan barongsai di ruang publik pun menghilangkan unsur sakral yang ada. Tidak ada ritual pemujaan dan penghormatan kepada para dewa. Tidak ada berkah dan restu dari roh para leluhur. Tarian barongsai pun akhirnya hanya bersifat menghibur, dan sang barongsai pun masuk ke dalam pasar hiburan. Bisa dikatakan, tarian barongsai saat ini mengalami proses desakralisasi.

Saat ini, tarian barongsai juga dianggap mulai ditinggalkan oleh generasi penerusnya. Itulah yang dirasakan oleh Ario Rubbik, seorang sutradara yang menggarap Satu Jam Saja, Hijabers in Love dan Si Doel Anak Pinggiran, saat mendengar penuturan pamannya, Rano Karno, saat berkunjung ke daerah tempat tinggal keturunan peranakan Tionghoa Benteng pada tahun 2008. Katanya tradisi barongsai mulai ditinggal anak-anak muda. Nah, berangkat dari sana, Ario kemudian ditpercaya untuk menggarap sebuah film drama keluarga bertemakan budaya Tionghoa dengan Barongsai sebagai permasalahannya. Ario pun kemudian menggarap film berjudul The last Barongsai, sebuah film dari adaptasi novel berjudul sama yang ditulis oleh Pere Sumbada pada 2010. Tentu, melalui film yang akhirnya dirilis pada 26 Januari 2017 tersebut dapat mengingatkan anak-anak muda etnis Tionghoa sebagai generasi penerus untuk dapat melestarikan tradisi dan kebudayaan Tionghoa yang ada, khususnya tarian barongsai.

Tradisi nglawang dan tarian barongsai adalah contoh warna-warni kebudayaan yang ada di Indonesia, khususnya di Bali. Kehadiran keduanya menjadi penanda sebuah hari besar yang akan datang dalam waktu dekat. Keduanya juga membawa berkah, maka seandainya bertemu dengan salah satu dari mereka di jalan, di klenteng, atau di vihara, cobalah memohon berkah, dan jangan lupa doakan agar tradisi Bali dan kebudayaan Tionghoa, khususnya tradisi ngelawang dan tarian barongsai agar tetap lestari, baik dari segi eksistensi, ataupun dari segi keualitas. [T]

Tags: barongsaiImlek
Share25TweetSendShareSend
Previous Post

Gagasan Terpinggir Siwaratrikalpa

Next Post

Nyoman Sujana Kenyem, Kesetiaan pada Alam Sebagai Inspirasi Berkarya

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
Nyoman Sujana Kenyem, Kesetiaan pada Alam Sebagai Inspirasi Berkarya

Nyoman Sujana Kenyem, Kesetiaan pada Alam Sebagai Inspirasi Berkarya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co