12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dharma Pawayangan: “Saking Swara Nuju Iswara”

Gusti Putu Sudarta by Gusti Putu Sudarta
February 2, 2024
in Esai
Dharma Pawayangan: “Saking Swara Nuju Iswara”

Lontar dharma pewayangan

Dharma Pawayangan merupakan pustaka khusus yang isinya memuat petunjuk yang membimbing  para dalang dalam melaksanakan dharma kewajibannya sebagai dalang. Pustaka Dharma Pawayangan merupakan rambu-rambu yang mengikat dalang untuk tidak menyimpang dari dharma yang dilakoninya. Spiritual (jnyana hening) yang menjadi dasar dan tuntunan dalam segala laku (tri kaya parisudha) sehingga senantiasa berada dalam kesadaran  sunya (dedeg pageh tan obah, landuh) (Sugriwa, 1963: 21; Hooykass, 1973: 17; Rota, 1992: 3). Teks Dharma Pawayangan tidak hanya merupakan tuntunan bagi para dalang dalam mempelajari ketrampilan ngwayang, akan tetapi mencakup ketrampilan dalam menghayati dan melaksanakan unsur-unsur metafisik dari pertunjukan wayang.

I Gusti Bagus Sugriwa (1963); I wayan Kawen (1976); I Ketut Rinda (1976); dan Ida Bagus Sarga (1976) menyebutkan bahwa penguasaan isi teks Dharma Pawayangan dan penggunaannya sebagai tuntunan dalam melaksanakan pagelaran wayang, merupakan keharusan bagi setiap dalang. Sehingga diharapkan dengan mempelahari isi naskah tersebut disadari atau tidak akan meningkatakan pengetahuan dan ketrampilan dalang sebagai seniman. Sugriwa (1963: 21 dalam Wicaksana, 2018: xix) dengan tegas menyatakan bahwa Dharma Pawayangan sebagai ajaran suci bagi para dalang yang statusnya digolongkan sebagai sulinggih. Tidak sedikit sebenarnya keterampilan dan pengetahuan yang harus dikuasai oleh seorang yang ingin menjadi dalang. Disamping harus terampil memainkan wayang, terampil menabuh gamelan, menguasai berbagai jenis kakawin (tembang), menguasai bahasa Kawi dan bahasa Bali secara baik, memiliki pengetahuan umum yang luas.

Dalam teks Dharma Pawayangan memuat spiritual, dimensi agama, susastra, dan estetika susastra weda yang memuat tentang  dunia ide/gagasan dunia dewani mengandung keindahan spiritual menuju pada Tuhan. Dalang dengan segala kesadarannya (pradhana) dituntun oleh Yang Maha Kuasa (Sanghyang Iswara Dewaning ringgit) menyuarakan intisari Weda dalam alur dramatic lakon-lakon wayang di balik kelir, dan wayang dengan segala aparatusnya sebagai prakerti yakni unsur ketidaksadaran.

Dalang memuja Sang Hyang Tigajnyana, Sanghyang Gurureka, Sang Hyang Saraswati, Sang Hyang Kawiswara sebagai ilham penuntun dari Tuhan (Sang Hyang Suksma). Konsep teo- estetikanya adalah; Gurureka adalah penjaga pemikiran (idep), mengilhami alur cerita dalam pertunjukan wayang, Saraswati sebagai asala mula bentuk verbal, terutama teks tertulis (sabda wayang), dan Kawiswara memberdayakan kekuatan vokal swara (bayu) untuk menghidupkan cerita dan bahasa pertunjukan wayang.

I Gusti Putu Sudarta (penulis) sedang membaca lontar dharma pawayangan | Foto: Dok. pribadi

Dharma Pawayangan secara garis besarnya digolongkan menjadi 10 bagian  (Hooykaas seperti dikutip Rota (1992: 29-31). Berikut  uraian singkat dengan merujuk bait teks Dharma Pewayangan yang disarikan dari Disertasi yang berjudul “Implementasi Estetika Hindu Dharma Pawayangan Oleh Dalang Wayang Kulit Di Bali” Oleh I Dewa Ketut Wicaksana, Program Pascasarjana Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar Tahun 2018.

1. Bagian Pendahuluan

Bagian ini mengangdung hal-hal yang bersifat metafisik seperti:  (a) merupakan kewajiban setiap dalang agar mempelajari dan melaksanakan isi Lontar Dharma Pawayanga; (b) sang amangku (dapat) bertindak  sebagai bumi, butha, dan dewa (“…..mawak gumi, mawak butha, mawak dewa); (c) hendaknya sang mangku dalang maklum akan adanya yang disebut dalang caturlokapala (4 macam dalang) seperti; dalang samirana, dalang anteban, dalang sampurna, dan dalang jaruman; (d) tempat para tokoh wayang dalam badan manusia, seperti wayang kiri (pengiwa) bertempat di hati, dan wayang kanan (panengen) bertempat di nyali; (e) demikian juga panakawan (pendasar/panasar) Delem, Sangut, Merdah, Tualen dalam tubuh.

(a) Merupakan kewajiban setiap dalang agar mempelajari dan melaksanakan teks Dharma Pawayangan, antara lain:

1) “…..Om awignamastu namos sidham. Niha Tutur Purwa Wacana ngaranya, dharma pawayangan, wenang ingangge de sang amangku dalang, ring wong tumaki-taki mangwayang, Sudha maka utamaning dalang….”

Terjemahannya: Ya Tuhan semoga hamba tidak ada halangan dan selalu dalam lindunganMu. Ini adalah tutur purwa wacana (sastra tatwa awal yang utama) yang disebut dharma pawayangan, harus diketahui dan digunakan oleh sang mangku dalang, ketika mulai belajar ‘ngewayang’, kesucian merupakan keutamaan sang dalang.

2) “…Kawruhakna kang dalang, ring sariraning suksma, kang dalang ring pantaraning papusuh, gagadingnya, rupanya endah, swaranya sakawuwus-wuwus, tutur jati ngaranya, suksma, triwikrama tingkahing suksma, ndi ya ta lwirnya…”

Terjemahannya: Ketahuilah oleh sang dalang, dalam diri seorang dalang di ujung jantung pusatnya, beragam wujud yang indah, suaranya bergetar, membahana memenuhi ruang, hakekat diri sejati yang bersifat sangat halus dan rahasia, bertransformasi melampaui lapisan-lapisan kesadaran, diantaranya adalah….

6) “…Mwang sang ngamong sang mangku dalang, tiga lwiran ing Hyang Suksma, Sanghyang Gurureka ring idep, Sanghyang Saraswati ring canteling lidah, Sanghyang Kawiswara ring  wayaning sabda…”

Terjemahannya: juga yang melindungi sang  dalang adalah Tuhan dalam tiga murti manifestasi yaitu Sanghyang Gurureka ada dalam benih pikiran, Sanghyang Saraswati berada pada cantelin lidah, Sanghyang Kawiswara pada sumber suara yang bertransformasi dalam berbagai rupa.

(b) Sang Amangku Dalang (bisa) bersifat dan bertindak sebagai bhumi, bhuta, dan dewa.

5) “…Sang mangku dalang mawak gumi, mawak butha, mawak dewa, dalang ngaranya waneh, karana dadi Siwa, karana dadi Parama Siwa, karananya dadi Sada Siwa, karana dadi Hyang Achintya, mapan Sanghyan Acintya panunggalan ring bhuwana kabeh, wenang umilihaken lungguhnya, mangkana sangkanya ngaran dalang, sira ta wenang mangwasaken kata, prayatnakna de sang amangku dalang den apened, matemu ring papusuh, metu sabdanya, Mahadewa witning sabda, Wisnu pukuhing sabda, Brahma madyaning sabda, Iswara tungtungning sabda, Bhatara Guru mulaning sabda, ya sangkaning mulih ring kuwungning ati, ri witning ati ngaranya, ya ta dadi Hyang Ening, ya dadi Hyang Amerta, ya dadi pati, ya dadi urip, metu aksara roro, Am, Ah, ya dadi sor luhur, akasa lawan pertiwi kalinganya, ala kalawan ayu, dewa lan buta…”

Terjemahannya: Sang mangku dalang menjadi wujud bumi, berwujud bhuta, berwujud dewa, begitulah dalang, karenanya bisa menjadi Siwa, Paramasiwa, menjadi Sadasiwa, Sanghyang Acintya menyatu dengan alam semesta, bisa berada dimana saja, itulah yang disebut dalang. Beliau menguasai cerita peristiwa semesta alam. Hendaknya diperhatikan dengan seksama dan sungguh-sungguh, semuanya bertemu dan menyatu di jantung menjadi suara (sabda). Mahadewa merupakan awal dari suara, Wisnu merupakan pangkal suara, Brahma merupakan tengah suara, sedangkan Iswara merupakan ujungnya (akhir) suara, Bhatara Guru mula (penyebab) suara, itu yang menyebabkan pulang di lingkaran dalam hati, asal mulanya hati namanya. Itu yang menyebabkan beliau mewujud menjadi Sanghyang Hening dan juga menjadi Sanghyang Amerta. Menjadi mati dan hidup, menjadi dua aksara Ang, Ah (purusa-pradana), yang menyebabkan ada atas-bawah, langit dan tanah, karenanya ada buruk dan baik, dewa dan bhuta.

(c) Tempat para tokoh wayang dalam badan manusia, seperti wayang kiri (pangiwa) bertempat di Hati, dan wayang kanan (panengen) bertempat di nyali:

3) “…Punang wayang pangiwa mulih ring ati, wayang panengen mulih ring nyali, Krepa Swatama Salya mulih ring tengen, kakayonan mulih ring tengah pupusuh, mawa carita wayang….”

Terjemahannya: Wayang yang di kiri kembali ke hati, wayang yang kanan kembali ke empedu, Krepa Swatama Salya kembali di kanan, kayonan kembali dalam jantung, menjadi cerita wayang.

(d) Demikian juga pandasar/panasar (panakawan): Delem bertempat di jantung (pupusuh), twalen di hati, Mredah bertempat di ginjal, dan Sangut di nyali.

4) “…Malih kang pandasar, Delem magenah ri pagantunganing papusuh, Twalen magenah ri pagantunganing ati, Mredah magenah ri pagantunganing babuwahan, Sangut magenah ri pagantunganing nyali….”

Terjemahannya: Lagi tentang panakawan, Delem bertempat di jantung, Twalen bertempat di pagantunganing hati, Mredah bertemat di pegantunganing ginjal, Sangut bertempat di pagantunganing empedu.

2. Bagian yang menggambarkan perbuatan (laku, tikas) dan mantra-mantra yang dianggap penting bagi sang dalang, antara lain:

(a) Apa yang mesti dilakukan ketika pergi ngewayang dan keluar dari pintu gerbang pekarangan (pamesuan); (b) apa yang diperbuat atau dilakukan pada waktu sampai di rumah orang yang menanggap wayang; (c) mantra untuk pasepan (dupa); (d) mantra pada waktu nebah keropak ping tiga (mengetuk gedog/kotak wayang tiga kali); (e) mantra pada waktu mengambil wayang; (f) mantra pada waktu akan memainkan Kekayonan; (g) hal-hal yang harus dilakukan pada waktu mulai duduk ngwayang, dan mantra yang diucapkan, seperti meningktakan volume suara gedog/kotak, cepala, dan dalang (pangembak swaraning kropak, cepala mwang swaraning amuwus; (h) mantra pada waktu membuat pengeger (menarik perhatian penonton), seperti, pengalup swara (suara besar dan panjang), pangraksa jiwa (jiwa sang dalang menjadi aman), pangurip wayang (wayang terasa hidup), nyimpen wayang (menyimpan wayang), penyimpenan pandasar (menyimpan wayang punakawan), serta bagian yang menggambarkan perbuatan dan mantra-mantra yang dianggap penting bagi sang dalang.

(a) Apa yang mesti dilakukan ketika pergi ngewayang dan keluar dari pintu gerbang pekarangan (pamesuan).

“…Mwah yan sira lunga mangwayang, yan sira lumaku, mandeg sira ring pameswanira, tatabana uswasanira, yan adres kiwa, suku kiwa tindakang rumuhun, yan adres tengen, suku tengen tindakang rumuhun, yan sama adresnya, mancogan laris lumaku…”

Terjemahannya: Jika dalang pergi ngewayang, saat kamu berjalan, berhenti sejenak di depan pintu gerbang pekarangan, Tarik dan hembuskan nafas, rasakan kalau deras hidung kiri, kaki kiri melangkah duluan, kalau deras hidung kanan, kaki kanan melangkah duluan, kalau keduanya sama deras meloncat lalu berjalan.

Untuk bagian selanjutnya pada bagian dua ini tidak diuraikan lagi karena bagian pendahuluan ini menarik dibahas dengan harapan dapat memahami dengan lebih jelas apa yang dimaksud dalam teks bertolak dari beberapa penekanan yang penulis anggap penting untuk didiskusikan.

Kalau menyimak bagian pendahuluan dari Lontar Dharma Pawayangan yang menguraikan tentang dharmaning dalang, disiplin, kewajiban, dan siapa sesungguhnya sang dalang, akan didapati phrase kata-kata petunjuk, yang sesungguhnya mengacu kepada  kesucian, panunggalan alam semesta, penyatuan kepada dewa yang dipuja, dan kesadaran yang berada pada tingkat pencerahan supra (jnyana hening).

Sudha maka utamaning dalang yang menyatakan bahwa dalang harus senantiasa berada dalam kesucian lahir bathin. Kesucian tetap terjaga dengan menjalankan sadhana atau disiplin sehingga pikiran tidak lagi memerintah dengan segala keinginannya yang tidak pernah habis. Pikiran menjadi berada dalam keadaan dedeg landuh (jnyana hening).

Rupanya endah, swaranya sakawuwus-wuwus, tutur jati ngaranya, suksma, triwikrama tingkahing suksma, ketika dalang melampau dimensi ruang dan waktu, dalang dalam posisi di dalam Padma hredaya berwujud beragam rupa, suara membahana memenuhi dan melampaui segala pemaknaan rupa, hakekat diri sejati yang bersifat sangat halus dan rahasia, bertransformasi melampaui lapisan-lapisan kesadaran.

Hyang Suksma, Sanghyang Gurureka ring idep, Sanghyang Saraswati ring canteling lidah, Sanghyang Kawiswara ring  wayaning sabda…”

Seorang dalang selalu berada dalam keheningan yang terjaga, berada dalam kesadaran budhi (bodhi citta) yang telah melampaui lapisan-lapisan kesadaran rendah (citta, manah, ahamkara). Kama (obsesi, nafsu keinginan) tidak lagi menguasai pikiran karena pikiran itu sendiri telah terlampaui. Keheningan adalah Hyang Suksma, ketika berada dalam keheningan berada dalam kesadaran ilahi yang tidak bisa dijelaskan. Dalam terangnya budhi akan senantiasa bisa menghadirkan ilham (Sanghyang Gurureka, idep), mendapatkan  pengetahuan pencerahan (Sanghyang saraswati, sabda), dan menumbuhkan kreativitas penciptaan (Sanghyang Kawiswara, bayu). (duk manahe tan memanah, ring budine tan mabudhi, ring tawange tan manawang, ditu ida jenek linggih, ditu ida rumaga jati, sangkan arang anak tahu, wireh Ida tanpa rupa,twara tepuk yan tan purun ngutang rasa).

Sang mangku dalang mawak gumi, mawak butha, mawak dewa.

Sang mangku dalang menguasai semua sifat-sifat alam dan kekuatan-kekuatan alam sehingga menjadi sakti, namun tidak terikat dan melampaui  sifat-sifat itu.

 Dalang ngaranya waneh, karana dadi Siwa, karana dadi Parama Siwa, karananya dadi Sada Siwa, oleh karenanya sang mangku dalang senantiasa berada dalam kesadaran Siwa.

 Karana dadi Hyang Acintya, mapan Sanghyang Acintya panunggalan ring bhuwana kabeh,

Manunggal dengan keberadaan, senantiasa selaras dengan alam semesta, keberadaan dan ketiadaan menyatu, berpikir, pikiran, dan yang dipikirkan telah lebur,  itulah Hyang Acintya, Sanghyang Acintya.

 Wenang umilihaken lungguhnya, mangkana sangkanya ngaran dalang, sira ta wenang mangwasaken kata, sang mangku dalang mengetahui dan menguasai berbagai cerita tentang alam semesta, peristiwa dan berbagai konflik dan fenomena kehidupan, dan solusi pembebasan dari peristiwa itu, sehingga mampu menuturkan kisah dan peristiwa dengan indah dan mencerahkan.

 Prayatnakna de sang amangku dalang den apened, matemu ring papusuh, metu sabdanya, Mahadewa witning sabda, Wisnu pukuhing sabda, Brahma madyaning sabda, Iswara tungtungning sabda, Bhatara Guru mulaning sabda, ya sangkaning mulih ring kuwungning ati, ri witning ati ngaranya, ya ta dadi Hyang Ening, ya dadi Hyang Amerta, ya dadi pati, ya dadi urip, metu aksara roro, Am, Ah, ya dadi sor luhur, akasa lawan pertiwi kalinganya, ala kalawan ayu, dewa lan buta…”  Sang mangku dalang senantiasa harus tetap waspada, selalu berada dalam keadaan jaga, dalam kesadaran padma hati (hredaya), selaras dengan alam, badan menjadi instrument tabung (hologram) untuk menerima vibrasi alam semesta sehingga sadar akan asal mula suara Ilahi Nada Brahma. Saat vibrasi selaras dengan paranawa OM atau Nada Brahma suara awal yang melahirkan kehidupan, pranawa dalam diri menjadi sabda, sabda yang bertransformasi  mewujud menjadi bija aksara (sacred syllable) Ang, Ah, menjadi dualitas yang hadir untuk keberlangsungan alam semesta, hidup-mati, baik-buruk, atas-bawah, langit-tanah, dewa-buta.

Langkah Awal Sebagai Dasar Mempelajari Dharma Pawayangan

Sesungguhnya bagian manggala teks Dharma Pawayangan telah dengan jelas menyatakan bahwa kesadaran diri, kesadaran akan hakekat diri sejati menjadi sangat penting untuk menjadi sang mangku dalang. Diperlukan persiapan yang matang untuk dapat menyelami dan mengaplikasikan dharmaning sang mangku dalang dengan sadhana atau disiplin yang terjaga dalam laku kehidupan. Pengembaraan ke dalam diri dengan melampaui lapisan-lapisan kesadaran tubuh, emosi, pikiran, intelejensia, sehingga sampai kepada kesadaran diri sejati. Dalam tradisi Bali ini yang disebut dengan Kandan Jagat Daging Awak, Kandan Awak Daging Jagat.

Wayang | Foto: Dok. pribadi

Persiapan awal yang dilakukan dengan mempelajari lontar yang berkaitan dengan  kelahiran dan keberadaan manusia. Lontar Anggastia Prana bisa menjadi salah satu acuan disertai dengan lontar Kanda Pat tentang kelahiran manusia dengan saudara empat. Lontar Dasaksara yang membahas tentang suara dan aksara (wreastra, swalalita, modre) dalam tubuh, panunggalan aksara yang berkaitan dengan lapisan kesadaran, aksara sebagai yantra, bija aksara dalam mantra. Pengetahuan, pemahaman dan sadhana yoga perlu dijadikan dasar penting. Karena dalam yoga dijelaskan dengan tuntas tentang keberadaan sang diri, disiplin yama dan niyama brata, memberdaya diri dengan olah pernapasan (pranayama) dan olah tubuh (asana), aliran nadhi dalam tubuh, kundhalini, sapta kandha, sapta Ongkara (tujuh lapisan kesadaran, tujuh cakra).

Gagelaran Dalang

“…mangkana sayogyanira sang dalang utama, siniwi ring jnyananira utama, mangisep tatwa carita, mangisep sarwa sastra ganal alit, ring bhuwana agung tekeng bhuwana alit, panunggalaning wayang ring jnyana ening, Paramasiwa ikana utama….”

Sepatunya seorang dalang yang utama (mangku dalang) beliau Sang Maha Dalang selalu dipuja dalam hati (hredaya, jnyana) yang utama, menyerap tatwa tutur (fisafat) dan cerita, menyerap semua sastra (swara, aksara) dan menyatu dalam diri, penyatuan alam semesta dalam diri, menyatukan wayang dengan diri dalam bathin yang suci, berada dalam kesadaran dan kekuatan Siwa yang tanpa batas itulah yang utama.

“….Sanghyang Menget tengah ing hati, anerius ring sabda, swara prakasa mijil maring hati, swara halus mijil maring nyali, swara galak amanis mijil maring papusuh, swara asih mijil maring tengahing ati, ring Smara Manodbawa. Mangkana sayogyaning swara mijil utama, denira Sanghyang Kawi Swara, murtining utama ring Dharma Pawayangan, binusana de sang amangku dalang.

Sanghyang menget di tengah ati, mengalir pada suara, suara prakasa dari hati, suara halus keluar dari nyali, suara galak manis keluar dari jantung, swara lulut asih keluar dari tengah hati, yang dijiwai keindahan Hyang Smara, demikianlah hendaknya mengeluarkan suara yang utama, yang diwujudkan oleh beliau Sanghyang Kawi Swara, semua perwujudan dari kautamaan Dharma Pawayangan, diketahui dan dijalankan oleh sang amangku dalang.

“…mangkana tingkah dalang utama, wekasira Sanghyang Gururekha, Hyang Saraswati, Hyang Kawiswara anggawa ring bayu sabda idep, ya ta sadenira angregepana, kadi ling aksara iki…”

Demikianlah perilaku seorang dalang utama, perwujudan Sanghyang Gururekha, Hyang Saraswati, Hyang Kawiswara dibawa (manunggal) dalam energi, suara, dan pikiran, itulah yang disatukan dan ditransformasikan, seperti yang diamanatkan dalam aksara ini.

Apa yang diuraikan dalam tiga alinea di atas sudah dengan jelas menyatakan apa yang mesti menjadi gagelaran atau kekuatan, modal dasar yang harus dikuasai oleh sang mangku dalang. Pada suatu kesempatan penulis pernah bertanya kepada Pekak Nyoman Rajeg (almarhum) seorang dalang dari Desa Tunjuk, Tabanan. Pertanyaan saya kepada beliau, apa sesungguhnya yang  menjadi gagelaran seorang dalang. Penulis mengharapkan suatu jawaban yang sangat spesial dan rahasia, selain Dharma Pawayangan.

Beliau dengan singkat dan tegas menjawab pertanyaan penulis hanya dengan tiga kata, bahwa gegelaran seorang dalang adalah Ucap-ucap Tatwa Carita. Setelah lama dipikirkan dan direnungkan dengan dalam bahwa apa yang beliau katakan itu juga yang ditulis dalam teks Dharma Pawayangan. Ucap-ucap Tatwa Carita menjadi formula yang sangat efektif untuk sampai kepada Inti Dharma Pawayangan. Dalam phrase Ucap-ucap Tatwa Carita sudah mencakup penerapan teori dan praktis dalam upaya memberdaya diri sehingga menjadi seorang dalang. Dalam proses pembelajaran bertolak dari penguasaan pengetahuan dan ketrampilan seni, filsafat dan spiritual. Selanjutnya dibahas secara ringkas apa yang dimaksud dengan Ucap-ucap Tatwa Carita.

Ucap-ucap

Seorang dalang harus mempunyai modal suara yang bagus. Suara diberdayakan dengan teknik olah vokal yang benar. Pemahaman letak dan fungsi instrument (organ) dalam tubuh yang memproduksi suara menjadi penting. Dengan demikian diketahui sumber suara  dan kekuatan kapasitas suara. Setiap orang mempunyai kapasitas (intensitas) suara yang berbeda-beda sesuai dengan organ produksi suara yang dimiliki, ini berkaitan dengan bawaan lahir setiap individu yang menjadi ciri khas dan keunikan warna suara, tonika suara, keras lembut, luas wilayah nada, dan tinggi rendah nada suara yang bisa dicapai.

Menembang (angidung), kemampuan menyanyi yang bagus menjadi suatu keharusan bagi sang dalang. Bagaimana membangun melodi, dengan elaborasi, ornamentasi, dengan teknik yang benar sesuai dengan jenis tembang yang dilantunkan. Kemampuan improvisasi melodi menjadi penting untuk  menghadirkan ruang penceritaan, mood, penghayatan dalam imajinasi penonton. Kepekaan nada dan laras menjadi kunci, oleh karenanya penguasaan musik menjadi dasar utama.

Mengolah suara untuk berbagai karakter wayang memerlukan teknik dan latihan khusus dan konsisten. Bagaimana gaya irama (klentum) karakter keras, halus, panasar, dan karakter asura digarap dengan kemampuan bersuara yang memadai. Kemampuan bersuara keras (ngerak, ngelur, gregel gempuk, mengad) untuk kepentingan penggambaran suasana adegan, suasana dramatik dalam  keseluruhan alur lakon memerlukan teknik olah vokal yang cukup berat.

Kemampuan berbahasa, baik itu bahasa Kawi dan bahasa Bali merupakan kebutuhan primer. Penguasaan kosa kata, gaya bahasa, aturan sor singgih basa, bagaimana menyusun kalimat yang benar dan efektif sesuai dengan kepentingan dramatic pewayangan. Kemampuan retorika yang baik menjadi hal yang sangat penting untuk keberhasilan menyampaikan semua gagasan yang dibangun dalam antawacana, sehingga bisa ditangkap oleh penanggap (audience).

Untuk latihan olah vokal dalang bisa dibarengi dengan latihan pernapasan atau pranayama. Bagaimana penarikan napas, penahanan napas atau napas jeda, dan menghembuskan napas ( puraka, kumbaka, recaka). Latihan pernapasan menjadi penting karena berkaitan langsung dengan prana (life force), yang mempengaruhi ketenangan pikiran dan control emosi. Oleh karenanya sadhana yoga menjadi bagian dalam kehidupan sang dalang yang secara otomatis membangun vitalitas suara dan juga sebagai seni pemberdayaan diri (Patanjali Yoga Sutra, Dharma Patanjala).

Keseluruhan proses olah suara bisa dilakukan bersamaan dengan pembacaan  sastra Kawi-Bali. Belajar menembang dilakukan bersamaan dengan pembacaan kakawin (tembang gede), geguritan (tembang macepat), dan kidung (sekar madya). Setiap pembacaan kakawin tentunya langkah awalnya harus mampu menembangkan berbagai  metrum wirama. Dalam proses inilah latihan olah suara dilakukan, sehingga dalam belajar menembang memperoleh penguasaan sastra, nilai dan makna kehidupan dalam sastra, filsafat dan spiritual, yang memberikan pencerahan. Pembacaan sastra parwa yang dilakukan dengan palawakia (bahasa berirama) juga bermanfaat untuk olah suara dalang karena palawakia sebagai dasar ucapan antawacana wayang. Ada ungkapan dikalangan praktisi sastra Kawi-Bali “Melajah sambilang matembang, matembang sambilang malajah” yang berarti, belajar (tentang kehidupan) sambil bernyanyi, bernyanyi sambil belajar.

Lebih jauh lagi, setelah segala bentuk olah suara untuk kepentingan pewayangan dikuasai, yang lebih penting lagi harus dipelajari adalah suara kaitannya dengan pengembaraan ke dalam diri untuk sampai kepada hakekat diri sejati. Proses ini dilakukan dengan mendalami aksara (dasaksara), bagaimana suara dari setiap bija aksara menjadi vibrasi yang mengantarkan kepada kesadaran lapisan-lapisan kesadaran dalam tubuh (sapta kanda, sapta Ongkara) sampai kepada suara aksara Pranawa yang menjadi sumber kehidupan.

Tatwa

Sang mangku dalang tentunya harus menguasi tatwa atau filsafat dan Spiritual. Tatwa adalah sistem filsafat yang ada di Bali. Kata tatwa berasal dari bahasa Sanskerta (tattva) yang artinya kebenaran atau kenyataan (Adhi, 2015: 1 dalam Wicaksana, 2018: 265). Dalam lontar-lontar di Bali, kata tattva inilah yang dipakai untuk mengatakan kebenaran itu, karena dalam memandang kebenaran itu berbeda-beda, maka kebenaran itu tampaknya berbeda-beda, sesuai dengan segi memandangnya, walaupun kebenaran itu tetap satu adanya. Lontar-lontar yang memuat tentang tatwa adalah; Bhuwana Kosa, Bhuwana Sangksepa, Jnyana Siddhanta, Ganapati Tatwa, Wrhaspati tatwa, Tatwa Jnyana, dan yang lainnya.

Dalam hemat penulis dalam karya sastra kakawin juga ada yang memuat ajaran filsafat seperti Kakawin Sutasoma, kakawin Dharma Sunia, dan salah satu geguritan yang memuat ajaran yoga dan samkya adalah Geguritan Sucita-Subudi karya Ida Ketut Jelantik (almarhum) dari Geria Banjar, Buleleng.

Ajaran filsafat selalu hadir dalam pertunjukan wayang, dikemas dalam cerita dan antawacana atau dialog wayang, disajikan dengan bahasa yang lebih sederhana sehingga bisa dipahami oleh penonton. Disinilah wayang hadir sebagai tuntunan yang senantiasa memberikan tuntunan kehidupan yang mengantarkan kepada pencerahan spiritual. Mengalami keindahan (angelung lango) dan mengalami pembebasan, pencerahan jiwa (Janyana hening, mukti, jiwan Mukti).

Carita

Penguasaan berbagai cerita pewayangan merupakan kewajiban bagi sang mangku dalang. Cerita bersumber itihasa Ramayana, Mahabharata, dan Bodha Carita. Cerita Ramayana dan Mahabharata di Bali dapat dibaca dalam lontar kakawin, parwa dan kanda. Bagaimana cerita-cerita tersebut digarap dan ditransformasikan menjadi pertunjukan wayang merupakan keahlian dan kecerdasan imjinasi, dan kreativitas penciptaan sang dalang yang disebut dengan Kawi Dalang.

Ketika mendalami cerita wayang sang mangku dalang juga mendalami filsafat, etika, dan keindahan (lango). Ramayana dan Mahabharata merupakan cerita yang sangat panjang yang di dalamnya memuat berbagai peristiwa dan konflik, fenomena kehidupan seperti; kekuasaan, pemerintahan, politik, percintaan, idialisme, strategi perang, dharma, sebab akibat, pencerahan dan pembebasan (moksa). Juga berbagai mahluk yang terlibat dalam cerita itu seperti; manusia, raksasa, dewa, asura, wenara, denawa, deitya, pisaca, para naga, gandarwa, apsara, kinara, para siddha, wil, danuja, dan yang lainnya. Pencapaian teknologi juga menjadi bagian cerita seperti cupu manik astagina, dibya caksu, berbagai senjata canggih (senjata dewa) seperti Brahma astra, brahma sirah, geni astra, wijaya capa danu, pasupati, cakra sudarsana, dan kendaran terbang canggih wimana. [T]

Daftar Bacaan

Hooykaas, C, 1973. Kama and Kala, Materials for The Study of Shadow Theatre in Bali, Verhandelingen Der Koniklje Nederlandse Akademi van wetenschappen, Afd. Leteerkunde Nieuwe Reeks, Deer 79 North, Holland Publishing Company-Amstredam, Londen.

Krishna, Anand, 2015. Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, PT. Gramedia Pustaka Utama, Kompas Gramedia, Jakarta.

Shringy, R.K., Prem Lata Sharma, 2018. Sangitaratnakara of Sarngadeva, Text and English Translation Vol. I, Munshiram Manoharlal Publisher Pvt. Ltd.

Sudarta, I Gusti Putu, 2019. Kidung Hredaya Saking Swara Ngarcana Ishwara Mengembara Dalam Diri, Pascasarjana Institut Seni Indonesia Surakarta.

Sugriwa, I Gusti Bagus, 1963. Ilmu Pedalangan/Pewayangan, Diterbitkan Oleh Konservatori Karawitan Indonesia, Denpasar, Bali.

Wicaksana, I Dewa Ketut, 2018. Implementasi Estetika Hindu Dharma Pawayangan Oleh Dalang Wayang Kulit Di Bali, Program Pascasarjana Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar.

Tags: ilmu pengetahuankesenian balilontarlontar dharma pawayanganlontar dharma pewayanganpawayanganpewayanganwayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nasib Pohon di Hari Spesial,  Berhias Molek Penuh Alat Peraga Kampanye

Next Post

Uncle Ben’s 23: Ruang Baru Untuk Hiburan dan Komunitas di Badung, Bali

Gusti Putu Sudarta

Gusti Putu Sudarta

Dr. I Gusti Putu Sudarta, SSP., M.Sn. adalah dalang dan dosen ISI Denpasar

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Uncle Ben’s 23: Ruang Baru Untuk Hiburan dan Komunitas di Badung, Bali

Uncle Ben's 23: Ruang Baru Untuk Hiburan dan Komunitas di Badung, Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co