14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Banda Sawitra, Gong Legendaris dari Desa Kedis: Ngebyar Sejak Tahun 1900

Dyah Sri Khrisna Aryantini by Dyah Sri Khrisna Aryantini
April 29, 2023
in Khas
Banda Sawitra, Gong Legendaris dari Desa Kedis: Ngebyar Sejak Tahun 1900

Sekaa Gong Kebyar Legendaris dari Desa Kedis, Buleleng, sedang latihan untuk persiapan Pesta Kesenian Bali tahun 2023

TIDAK PERLU disangsikan lagi, Desa Kedis di Kecamatan Busungbiu, Buleleng, Bali, adalah desa yang punya peran besar dalam perkembangan gong kebyar di Bali. Dari desa ini lahir seniman-seniman besar dengan karya-karya besar, baik karya karawitan maupun tari-tarian.

Merujuk buku “Music in Bali’ yang ditulis Colin McPhee, gong kebyar pertama kali diperdengarkan di depan umum pada Desember 1915, ketika dipergelarkan acara gong mebarung di Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Buleleng.

Banyak kemudian yang mencatat gong kebyar lahir pada tahun 1915. Padahal, sebelum diperdengarkan pada khalayak umum di Jagaraga, gong kebyar tentu saja sudah mengalaami proses penciptaan yang cukup panjang.

Artinya, sebelum tahun 1915 itu gong kebyar sudah berkembang di sejumlah desa di Buleleng, termasuk di Desa Kedis, Kecamatan Busungbiu. Dalam buku “Gong Kebyar Buleleng: Perubahan dan Keberlanjutan Tradisi Gong Kebyar” yang ditulis Pande Made Sukerta bahkan dijelaskan gong kebyar Desa Kedis sudah ada sejak awal tahun 1900-an.

Karena memiliki sejarah yang panjang itulah, Sekaa Gong Kebyar Banda Sawitra dari Desa Kedis mendapat tempat khusus untuk tampil pada Parade Gong Kebyar Legendaris, Pesta Kesenian Bali (PKB) ke45, Juni 2023 ini.

Persiapan 85 Persen

Adalah Kadek Anggara Rismandika, seniman karawitan dari Desa Kedis yang diberi kepercayaan untuk menggarap kembali karya-karya lawas dari Desa Kedis untuk ditampilkan di hadapan khalayak umum di PKB, di Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar.

“Kami sudah mulai latihan secara intensif,” kata lelaki yang biasa dipanggil dengan nama Dek Anggara itu.

Dek Anggara adalah generasi keempat dari Sekaa Gong Banda Sawitra di Desa Kedis yang ptetap punya niat besar untuk mengembangkan tari dan tabuh yang pernah diciptakan di Desa Kedis.

“Yang nanti tampil dalam PKB ini adalah Sekaa Gong Kebyar Banda Sawitra generasi ketiga dan keempat,” kata Dek Anggara.

Jika sepenuhnya menampilkan sekaa dari generasi ketiga, kata Dek Anggara, hal itu tidaklah mungkin. Anggotanya sudah banyak yang meninggal, sementara yang tersisa kebanyakan sudah tua. “Jadi, kami dari generasi keempat membantu untuk melengkapi permainan instrumen biar jadi lengkap,” kata Dek Anggara.

Sekaa Gong Kebyar Wanita Banda Sawitra, Desa Kedis, Kecamatan Busungbiu, sebagai duta dari Kabupaten Buleleng pada Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-43 tahun 2021 | Foto: Dok tatkala.co

Latihan sudah dilakukan sejak beberapa bulan lalu, dan saat ini persiapan untuk tampil sudah mencapai 85 persen. “Tinggal memantapkan saja,” kata Dek Anggara.

Saat tampil di PKB nanti, Sekaa Gong Banda Sawitra membawakan empat garapan, yakni Tabuh Kreasi Kuntul Anglayang, Tabuh Kreasi Kebyar Susun, Tari Kreasi Wiranjaya, dan Tari Nelayan.

Ketokohan Ketut Merdana

Dek Anggara yang kini menjadi dosen di Prodi Pendidikan Seni Budaya dan Keagamaan Hundu STAH N Mpu Kuturan Singaraja ini memaparkan, terpilihnya Desa Kedis sebagai gong legendaris karena Desa Kedis punya peran penting dalam perkembangan gong kebyar di Bali dan memiliki sejarah y6ang sangat panjang.

Gong Kebyar Desa Kedis diberi nama Gong Kebyar Banda Sawitra pasa masa pascakemerdekaan. Saat itu gong kebyar ini dipimpin I Ketut Merdana, I Nyoman Sukandia (kakak dari I Ketut Merdana), dan I Putu Sumiasa (anak dari I Nyoman Sukandia, ponakan dari I Ketut Merdana).

Nah, mereka inilah yang dikenal melahirkan karya-karya yang terkenal dan sekarang diwarisi Desa Kedis. Dan predikat legendaris ini karena gong kebyar dari Desa Kedis ini memberi sumbangsih awal terbentuknya dan menjaga terus keberlanjutan gong kebyar.

“Karya-karya dari I Ketut Merdana tidak lepas dengan pengalaman dia yang memang bergaul erat dengan kebudayaan nusantara,” kata Dek Anggara.

Dari tangan Merdana lahir berbagai jenis karya tari dan tabuh seperti Tari Nelayan yang banyak ditarikan seniman-seniman muda di Bali.

Selain Tari Nelayan, Merdana juga menciptakan Tari Kreasi Wiranjaya, Tari Merpati, Tari Buruh, Tari Ngalap Kopi, Tari Tani, Tari Badminton, Tabuh Kreasi Kuntul Anglayang, Tabuh Kreasi Kebyar Susun, dan Tabuh Kreasi Gambang Suling.

Tari Merpati ciptaan Ketut Merdana saat dipentaskan pada Pesta Kesenian Bali ke-43 tahun 2021 | Foto: Dok tatkala.co

Saat ini Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng bahkan sedang melakukan rekontruksi Tari Kreasi Pancasila yang diperkirakan akan rampung Mei 2023.

Dek Anggara mengatakan, Merdana pada zamannya memang sering berkunjung ke luar daerah, apalagi ponakannya saat itu sedang menempuh pendidikan di tanah Jawa. Dari pergaulan itu, tak sedikit karya karawitan yang diciptakan Merdana terpengaruh dari nuansa lagu-lagu jawa.

Sayang sekali Merdana menjadi korban saat terjadi tragedi politik tahun 1965. Meski Merdana sudah tidak ada, tapi karya-karyanya tetap bergema hingga kini. Bahkan sejumlah ciptaannya yang terkubur oleh ingatan, kini digali-gali kembali untuk dipelajari dan pewariskan kepada generasi muda seniman di Bali.

Tiga Gong Legendaris

Selain Sekaa Gong Banda Sawitra Desa Kedis, pada PKB tahun 2023 ini terdapat dua lagi sekaa gong legendary dari Buleleng yang akan tampil pada ajang seni tahunan itu. Dua sekaa lainnya adalah Sekaa Gong Saraswati Desa Menyali Kecamatan Sawan dan Sekaa Gong Sabha Sawitra Desa/Kecamatan Tejakula.

“Penampilan gong kebyar legendaris ini salah satu bentuk penghargaan dan penghormatan atas komitmen dan dedikasi penabuh senior melestarikan seni tabuh di Buleleng,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Buleleng I Nyoman Wisandika.

Di PKB nanti Sekaa Gong Banda Sawitra Desa Kedis akan tampil pada 12 Juli bersama dengan Sekaa Tedung Agung Puri Saren Ubud. Sementara Sekaa Gong Saraswati akan tampil pada 3 Juli bersama Sekaa Gong Somadiyasa Ababi Karangasem.

Sementara, Sekaa Gong Sabha Sawitra Tejakula yang akan tampil pada 12 Juli mendatang bersama dengan Sekaa Bajra Suara Murthi Bebalang Bangli. [T][Adv]

Penulis: Dyah Sri Khrisna Aryantini/Editor: Made Adnyana Ole

  • Catatan: Artikel ini ditulis dan disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Kominfosanti) Kabupaten Buleleng.
Gong Legendaris ISI Denpasar Ngayah pada Upacara Tawur Tabuh Gentuh di Pelataran Pura Besakih
Gong Legendaris Mengulang Kenangan Manis Gong Kebyar
Gong Kebyar Legendaris | Sekaa Gong Gunung Sari dari Peliatan, Mendunia Sejak 1930-an
Tags: bulelengDesa Kedisgong kebyarGong Legendariskesenian baliPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2023
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pertimbangan untuk Putus bagi Kalian yang Doinya Sering Kaya Gini

Next Post

Sanggar Seni Kebo Iwa: Anak Adalah Aset Kebudayaan Kita

Dyah Sri Khrisna Aryantini

Dyah Sri Khrisna Aryantini

Lahir di Singaraja, tahun 2002. Mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi di STAH N Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Sanggar Seni Kebo Iwa: Anak Adalah Aset Kebudayaan Kita

Sanggar Seni Kebo Iwa: Anak Adalah Aset Kebudayaan Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co