2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gong Kebyar Legendaris | Sekaa Gong Gunung Sari dari Peliatan, Mendunia Sejak 1930-an

tatkala by tatkala
June 2, 2022
in Khas
Gong Kebyar Legendaris | Sekaa Gong Gunung Sari dari Peliatan, Mendunia Sejak 1930-an

Penampilan sekaa gong kebyar Gunung Sari, Peliatan, Ubud, Gianyar | Foto Tim Dokumentasi Natya Sani, Peliatan Ubud

Malam itu, Senin, 30 Mei 2022, di Ancak Saji Puri Agung Peliatan, Ubud, Gianyar, suasana begitu meriah. Dua sekaa gong legendaris, yakni Sekaa Gong Gunung Sari, Peliatan, dan Sekaa Gong Dharma Kesuma (Gong Pinda) mempertunjukkan kelihaian mereka memainkan gong kebyar.

Para penabuh senang, penari riang, penonton gembira. Masyarakat dari berbagai daerah di Gianyar, bahkan luar daerah seni itu menyaksikan pertemuan dua sekaa gong yang tersohor itu.

Penampilan sekaa gong itu pada malam itu sebagai ujicoba atau persiapan bakal tampil di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIV Tahun 2022.

Kedua sekaa ini sebagai mutiara seni dari kabupaten Gianyar yang memiliki perjalanan panjang dalam menempa potensi seni sehingga mampu melahirkan seniman-seniman besar dan mencapai masa gemilangnya pada awal abad ke 19 -an.

Selain pecinta seni warga lokal, para turis asing pun tak mau melewatkan moment penting ketika sekaa legend itu tampil di panggung, paska Pandemi yang memaksa segala aktivitas berhenti total.

Dua sekaa gong legend itu masing-masing menampilkan tari dan tabuh-tabuh yang mampu menghipnotis masyarakat yang hadir.

Sekaa Gong Gunung Sari

Sekaa Gong Gunung Sari Peliatan, Ubud, memang sudah tenar sejak bertahun-tahun lalu di Bali dan dunia. Dan pada malam itu ketenaran sekaa itu masih terasa hingga saat ini. Salah satu grup kesenian  lengendaris ini tak bisa dilepaskan dari perannya mempromosikan budaya Bali di kancah dunia sejak Tahun 1930-an.

Awal berdirinya Sekaa Gong Peliatan dengan media gamelan gong kebyar  diprakarsai oleh Alm. Anak Agung Gede Ngurah Mandera yang didampingi oleh Alm. I Made Lebah, Alm. I Gusti Kompiang Pangkung beserta anggota-anggota lainnya.

Pada malam di Ancak Saji Puri Agung Peliatan itu Sekaa Gong Gunung Sari mementaskan Tabuh Pisan Lelambatan dengan genre lelambatan pepanggulan serta menggunakan sistem kolotomi pegongan dan struktur tabuh yang pendek (pegongan pisan).

Kebyar Terompong | Kredit foto: Tim Dokumentasi Natya Sani, Peliatan Ubud

Selanjutnya mereka menyajikan Tari Kebyar Trompong yang dilanjutkan dengan Tari Kebyar Duduk. Karya tari ini diciptakan oleh Alm. I Ketut Marya (Mario) yang memiliki daya spontanitas, kelenturan dan keluwesan gerak tubuh, yang dilakukan dalam posisi duduk sambil dengan lincah dan ekspresifnya memainkan instrumen terompong.

Pada penempilan berikutnya, sekaa itu menyajikan Tabuh Kapiraja, yang menggambarkan keagungan dan kewibawaan Sang Raja Kera (Sugriwa) dengan dinamika yang kompleks sebagai cerminan situasi dan kondisi pada masa awal abad ke-19.

Di akhir pertunjuukan, mereka menyajikan, Tari Oleg Tambulilingan. Tari ini diciptakan Alm. I Ketut Marya dengan menggunakan konsep koreografi Ballet dengan materi gerak Bali. Tari ini menggambarkan seekor kumbang yang terbang mengitari bunga seakan memuji keindahan, kecantikan, dan keharumannya.

Pertemuan Tiga Generasi

Menarik dari pementasan di Ancak Saji Puri Agung Peliatan adanya sebuah realita tiga masa, yakni pertemuan tiga generasi penari Kebyar Duduk Peliatan dalam satu panggung.

Pertama, Anak Agung Oka Dalem menarikan Tari Kebyar Terompong yang masih serumpun dengan Tari Kebyar Duduk. Lalu, dilanjutkan oleh Anak Agung Gde Bagus Mandera Erawan menarikan bagian awal dari Tari Kebyar Duduk yang kemudian diteruskan oleh I Made Putra Wijaya selaku generasi muda penerus yang menarikan Tari Kebyar Duduk sampai akhir.

Penempilan Tari Kebyar Duduk tiga generasi itu bagaikan sebuah konsep kehidupan yang selalu berbicara tentang masa lalu, masa kini, untuk kemudian mempersiapkan diri dalam menyongsong masa depan.

“Begitulah konsep regenerasi yang dilakukan oleh para seniman seni pertunjukan Peliatan, yang selalu bersinergi dalam menjaga warisan dari kecerdasan masa lampau para tokoh seniman pendahulu,” kata Wayan Pacet Sudiarsa selaku Ketua Lembaga Seni Natyasani Desa Peliatan sekaligus penabuh Sekaa Gong Gunung Sari, saat diwawancarai, Kamis (2/6/2022).

Kebyar Duduk | Kredit foto: Tim Dokumentasi Natya Sani, Peliatan Ubud

Lebih lanjut diceritakan, memang, kalau berbicara tentang kesenian, Peliatan menjadi salah satu pusat kreativitas dan perkembangan seni pertunjukan Bali. Nama Peliatan sudah tidak asing lagi di telinga para pecinta seni terutama seni tari dan karawitan. Terlebih ketika membahas tentang kesenian palegongan dan kekebyaran. Peliatan selain sebagai pusat akulturasi budaya, juga menjadi pusat kreativitas seni yang mempertemukan beragam ide serta kebudayaan menjadi sebuah karya seni yang menggugah jiwa.

Ngelawang ke Singaraja

Sekilas tentang Sekaa Gong Gunung Sari Peliatan, I Wayan Pacet memceritakan diawal abad ke 19, Sekaa Gong Peliatan yang sekarang dikenal dengan nama Sekaa Gong Gunung Sari Peliatan, juga mengawali organisasinya dengan membentuk sekaa atau kumpulan orang yang gemar berkesenian terutama seni karawitan dan tari.

Aktivitas awal yang dilakukan adalah ngelawang (seni pertunjukan keliling) dengan menggabungkan kesenian barong dan arja yang destinasinya sampai ke Bali Utara tepatnya di kota Singaraja.

Pada masa itu Singaraja merupakan pusat pemerintahan Hindia Belanda yang tentunya juga menjadi pusat perkembangan budaya Bali termasuk kesenian. Aktivitas sekaa ngelawang yang dilakukan sampai ke Singaraja, telah memberikan pengalaman tersendiri bagi seluruh anggota sekaa yang dalam perjalanannya banyak berjumpa dengan kesenian Bali Utara yang akhirnya menggugah hati anggota untuk membentuk sebuah seka yang lebih serius.

Bentuk kesenian Bali Utara yang menggugah hati anggota seka ngelawang Peliatan adalah kesenian gong kebyar. Kesenian inilah yang menjadi tonggak

Mendunia

Aktivitas latihan terus dilakukan dengan sepenuh hati oleh anggota sekaa. Seiring berjalan waktu dari aktivitas berkesenian, dipertemukanlah sekaa ini dengan para seniman dari seluruh Bali sehingga terjadi akulturasi budaya antara budaya Peliatan-Gianyar dengan daerah lainnya. Berbagi atau sharing pengalaman yang bermuara pada penyempurnaan ide atau gagasan revolusionerpun terjadi yang kemudian membuahkan karya-karya seni tabuh dan tari yang sampai saat ini masih bisa kita nikmati.

Peristiwa besar pertama yang membesarkan nama Sekaa Gong Peliatan adalah adanya undangan dari Pemerintah Hindia Belanda untuk tampil di World Colonial Exposition Paris pada tahun 1931 untuk memainkan karya-karyanya. Penampilan di Paris inilah yang menjadikan Seka Gong Peliatan semakin di kenal di Bali dan di kalangan masyarakat dunia.  

Sekembalinya Sekaa Gong Peliatan dari di Paris, dibentuklah suatu kesepakatan untuk membeli seperangkat gamelan dengan setiap anggota yang berjumlah 25 orang menyisihkan uang saku selama 3 bulan di Paris untuk biaya pembuatan gamelan. Kemudian disepakati Gunung Sari sebagai nama dari seka gong ini.

Kredit foto: Tim Dokumentasi Natya Sani, Peliatan Ubud

Berbekal pengalaman luar biasa dalam mengemban misi kesenian ke Paris, semangat berkesenian Seka Gong Gunung Sari Peliatan semakin membara. Aktivitas latihan secara konsisten dilakukan sehingga karya-karya baru terus tercetus.

Salah satunya adalah tari Oleg Tamulilingan yang konsepnya mengikuti pas de deux, atau tari duet, tari Ballet. Tarian ini yang diciptakan dengan mengundang I Ketut Marya dan Pak Sukra (keduanya dari Tabanan) melukiskan tentang mekar ranumnya masa remaja yang digambarkan dengan seekor kumbang mengitari bunga bagaikan memuji keindahan dan keharuman bunga (Tambulilingan Ngisep Sari).

Karya tari ini sampai sekarang masih bisa kita nikmati, begitu juga dengan karya-karya yang lainnya yang seakan tidak lekang oleh waktu. Perjalanan serta pengabdian terhadap kesenian yang dilakukan oleh Seka Gong Gunung Sari terus berlanjut, sampai melanglang buana ke beberapa negara di dunia. Berikut adalah deretan tour yang pernah dilakukan oleh Seka Gong Gunung Sari Peliatan sejak tahun 1931 sampai 1998. Tour Paris (1931), London (1932), Amerika (1952), Perancis (1953), membuat autobiografi dengan BBC London (1968), Australia di Melbourne, Sidney, dan Canberra (1971), Amerika di kota Mexico (1981), Amerika di kota LA, New York, Washington DC, dan Chicago (1996) serta tour Eropa negeri Paris, Jerman, Belanda, Belgia, dan Swiss (1998).

Begitulah setiap melahirkan karya baru para tokoh seniman Peliatan selalu membuka diri terhadap segala bentuk perkembangan sehingga terjalin hubungan-hubungan dengan para kreator seni di berbagai daerah di Bali. Para seniman Peliatan bersinergi dan secara jujur serta tulus iklas berkarya demi khasanah seni budaya Bali yang kemudian diwariskan kepada generasi penerus.

“Kali ini, Sekaa Gong Gunung Sari Peliatan, yang sampai saat ini masih tetap eksis  diundang untuk memainkan karya-karya legendarisnya dalam perhelatan akbar Pesta Kesenian Bali yang ke XLIV Tahun 2022. [T][Ado/*]

Pesta Kesenian Bali 2022 Offline | Libatkan 200 Sanggar, 16.150 Seniman
Tags: Desa Peliatangong kebyarPesta Kesenian Bali 2022Ubud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membedah Walli Jing-Kang dan Teka-Teki di Dalamnya

Next Post

Itu “Coffee Shop” Minggir Dulu, Kopi Banyuatis Mau Lewat

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Itu “Coffee Shop” Minggir Dulu, Kopi Banyuatis Mau Lewat

Itu “Coffee Shop” Minggir Dulu, Kopi Banyuatis Mau Lewat

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co