2 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Itu “Coffee Shop” Minggir Dulu, Kopi Banyuatis Mau Lewat

Azman H. Bahbereh by Azman H. Bahbereh
June 2, 2022
in Esai
Itu “Coffee Shop” Minggir Dulu, Kopi Banyuatis Mau Lewat

Azman (penulis) sedang ngopi

“Bila kau pergi, lantas apa yang kucicipi.” Kiranya kata-kata Al-Hallaj itu yang bisa saya ambil dan plintir sedikit endingnya, untuk menjadi wali perasaan saya, di samping relevansi dan kecocokan akan tulisan ini.

Biarlah tanpa uang 2 hari, gak makan dari subuh sampai malam, dan keseharian yang enggak produktif , yang penting Kopi Banyuatis masih satu toples di dapur kontrakan. Itu sudah bikin saya tenang dan tak terlalu was-was untuk menghadapi kehidupan yang serba fana ini. Aduh aduh aduhhhh.

Karena hanya Kopi Banyuatis yang bisa buat saya merasa menjadi orang yang intelek dan melek kebudayaan. Tanpanya, saya hanyalah buih di lautan, mengambang-ngambang ikuti arus zaman yang tak karuan. Mih, bungutee.

Bukti sederhananya, yakinlah, ketika saya menyelesaikan tulisan ini, total 4 gelas Kopi Banyuatis telah membanjiri kerongkongan saya. 1 gelas di pagi hari, siang sepulang kuliah 1 gelas lagi, dan 2 gelas dari awal sampai selesainya tulisan ini. Dan teman-teman di pojokan yang sedang duduk di ruang tamu, khusyuk bercinta dengan masing-masing segelas pekat Kopi Banyuatis juga.

“Uger-Uger Pikolih Kopi”, Undang-Undang Kopi Bali 1920

Di Kota Malang, eksistensi Kopi Banyuatis di kontrakan bagi saya lebih fundamental, daripada kehadiran kekasih dalam pelukan. Kopi Banyuatis bukan lagi sekadar sruput sebangun tidur dan sruput sepulang kerja atau kuliah. Tapi sudah menjadi sandang pangan yang punya kontribusi lebih besar ketimbang beras dan baju. Dan adanya Kopi Banyuatis di kontrakan, adalah salah satu alasan kenapa saya masih dalam keadaan waras.

Namun, mengurung diri dalam pelukan Kopi Banyuatis sambil baca Don Quixote, bukan berarti saya kampungan dan tak mengenal coffee shop ala-ala gen Z. Kadang sebulan sekali saya menyempatkan diri menerima ajakan teman buat nongki di tempat begituan. Bukan karena saya suka kopinya, melainkan menghargai ajakan kawan saja, plus ramai ukhti-uktinya juga sihh.

Dan di Kota Malang, tempat saya kost dan kuliah, pembangunan-pembangunan coffee shop semakin marak, hampir di segala tempat ada coffee Shop, entah yang konvensional atau yang kontemporer. Di kawasan UIN dan Unisma, coffe shop didominasi bentuk tradisional, dengan pengunjung yang rata-rata adalah mahasiswa-mahasiswa organisasi akut stadium 4. Sedangkan kawasan UB dan UMM, ramai coffee shop modern. Biasanya  gen Z di sana nongki cuman buat pamer FWB dan outfit yang jilbabnya nyekik leher.

Seiring pembangunan itu pun, saya seakan digiring untuk berhijrah menjadi hedonis yang totalitas. Untungnya, persuasif terselubung semacam itu, terbentengi dengan bubuk pahit nagih-nagih dari Kopi Banyuatis yang bertumpuk-tumpuk di dapur kontrakan.

Jujur saya sedikit menjaga bibir saya dari kopi yang dimix-mix gitu, yang diart-art gitu. Di samping alasan tak terlalu suka, saya juga takut keintelektualan yang merasuk ke diri saya dari memagut pahit Banyuatis itu, memudar sedikit demi sedikit.

Jadinya saya harus sehati-hati mungkin  menjaga kontak fisik, agar tak terkontaminasi dengan kopi yang manis-manis bergambar-gambar itu. Dan, oh iya, juga dengan ice coffee, yang bila es batunya meleleh, rasanya jadi hambar.

Kopi Banyuatis, mungkin bagi teman-teman saya yang bukan orang Bali cuman seonggok bubuk cokelat legam. Tapi bagi saya, Kopi Banyuatis adalah penyokong kehidupan saya dan mahasiswa-mahasiswa Bali di Malang, yang di dalamnya mengandung partikel-partikel gaib yang menyegarkan elemen-elemen tubuh.

Tanpa Kopi Banyuatis, saya tak mungkin kuat baca bukunya Metamorfosis Kafka, Kritikus Adinan, apalagi tulisan-tulisan Afrizal Malna. Tanpa Kopi Banyuatis juga, sebatang rokok country dan lucky strike tak memiliki kenikmatan yang hakiki.

Dan posisi itu tidak bisa digantikan dengan kopi-kopi yang ada di coffee Shop di sekitaran Malang. Saya lebih memilih minum kopikap yang dijual WM (Warung Madura), ketimbang minum kopi latte dan kopi art-art itu.

Kopi Susu + Telur Ayam Arab Setengah Matang | Legenda Ngopi di Kota Tua Singaraja

Pernah, suatu ketika sekitaran tahun lalu. Stok Kopi Banyuatis di kontrakan saya sudah di ambang ajal. Sontak saya panik, sampai mau bikin storydi Instagram, dan ngetweet di Twitter, biar netizen bantu nyari solusi. Saya bingung harus beli di mana, karena Kopi Banyuatis tidak beredar di pulau Jawa. Pun, teman-teman mahasiwa Bali sudah ada di Malang semua. Kalaupun lewat jasa pengiriman dari Bali ke Malang, tentu tak kebayang berapa pengeluaran yang harus saya rogoh dari kantong. Alhasil pelarian saya hanyalah Sidomukti dan Kapal Api, yang rasanya rada-rada mirip Kopi Banyuatis.

Namun, hanya Kopi Banyuatis yang bisa menopang saya untuk kuat selama berjam-jam di depan laptop, menggarap tugas dan maratonin series Game of Thrones. Kopi Banyuatis adalah foundation of my strength, bisa dibilang begitu. Hanya kepahitan Kopi Banyuatis saja yang bisa buat badan saya tegak dan mata saya tak layu buat berlama-lama di depan laptop dan buku.

Oleh sebab itu, ketika saya kehabisan Kopi Banyuatis, cuman sisa satu sendok teh bubuknya doang. Saya dan teman-teman satu kontrakan, secara tidak langsung merancang manajemen pendistribusian Kopi Banyuatis dari Bali ke Malang. Pokoknya, setiap masing-masing kami yang akan berangkat ke Malang, hukumnya sunnah muakad (diharuskan) membawa minimal 1 bungkus Kopi Banyuatis ukuran 500 gram. Entah itu beli di toko pak kadek, kelontongan orang cina, ataupun warung pak samsul.

Dengan manajemen pendistribusian yang kami rancang secara kolektif. Perkiraan stok Kopi Banyuatis yang kami bawa dari masing-masing rumah, bisa habis dalam kurun waktu 3 sampai 4 bulan. Kalau ngopinya pakai akhlak sih. Ya kalau gak pakai akhlak, 2 bulan itu Kopi Banyuatis udah raib dari ruang penyimpanan, inguh be ngalih dije ne ngadep.

Makanya saya sangat berhati-hati untuk mengatur kecukupan pangan dan sandang (Kopi Banyuatis) kami di kontrakan. Yang penting dari kami semua ngopinya pakai akhlak dan otak aja. Itu perlu dilakukan, untuk kesejahteraan kami semua ketika menikmati Kopi Banyuatis.

Di sini, tak jarang beberapa pikiran muncul secara tiba-tiba dalam diri saya. Dan salah satunya adalah, saya sangat menginginkan Kopi Banyuatis beredar di pulau Jawa, tak hanya Bali dan NTB saja. Padahal kalau dilihat, mahasiswa-mahasiswa Bali yang merantau ke pulau Jawa itu banyak banget, kan. Dan yang namanya Kopi Banyuatis sangat penting ada di sisi kami. Dan saya pribadi berharap Pak Gede Pusaka (Bos Kopi Banyuatis) bisa memikirkan hal ini. Jadi tak terbatas mengedukasi orang minum kopi dengan benar di Bali dan NTB saja. Tapi juga Pulau Jawa perlu deh kayaknya.

Dan saat ini, alhamdulillah stok Kopi Banyuatis saya dan teman-teman kontrakan masih cukup untuk dua bulan kedepan. Ditambah ada beberapa teman yang akan ke Malang nantinya bawa Kopi Banyuatis juga. Dengan itu saya tak perlu lagi khawatir, tak perlu lagi story di Instagram dan ngeteweet di Twitter, dan tak perlu lagi beli kopikap di WM (Warung Madura). Apalagi beralih ke coffe shop. Biarlah teman-teman saya yang hedon aja ngopi di sana, sambil ngomongin rencana collab bareng Bayu Skak dan Juragan 99. [T]

Tags: bulelengkopi balikopi banyuatis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gong Kebyar Legendaris | Sekaa Gong Gunung Sari dari Peliatan, Mendunia Sejak 1930-an

Next Post

Siap Grak, Maju Jalan…! Buleleng Bersiap Gelar Lomba Gerak Jalan

Azman H. Bahbereh

Azman H. Bahbereh

Lahir di Singaraja, Bali, 30 Januari 2001. Bekerja sebagai tukang jagal ayam yang selain gemar membaca juga gemar menulis. Kalian bisa menemukannya di akun Instagram : @azmnhssmb

Related Posts

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails

Memang Pasar Malam

by Angga Wijaya
May 30, 2026
0
Memang Pasar Malam

BUKAN di sebuah kota kabupaten di Jawa. Bukan pula di lapangan alun-alun yang hanya ramai ketika ada perayaan tertentu. Pasar...

Read moreDetails

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

by I Gusti Made Darma Putra
May 29, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi...

Read moreDetails

‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

by Ruben Cornelius Siagian
May 29, 2026
0
‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai...

Read moreDetails
Next Post
Siap Grak, Maju Jalan…! Buleleng Bersiap Gelar Lomba Gerak Jalan

Siap Grak, Maju Jalan…! Buleleng Bersiap Gelar Lomba Gerak Jalan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati
Khas

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

by Emi Suy
June 1, 2026
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif
Esai

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara
Budaya

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

BAYANGKAN sebuah dunia tanpa warna, tanpa garis, dan tanpa bayangan sejak pertama kali kamu membuka mata di dunia. Bagi kebanyakan...

by Satria Aditya
May 31, 2026
Radio Tua Kakek Panjul
Dongeng

Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi
Cerpen

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu
Puisi

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya
Ulas Buku

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co