1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Itu “Coffee Shop” Minggir Dulu, Kopi Banyuatis Mau Lewat

Azman H. Bahbereh by Azman H. Bahbereh
June 2, 2022
in Esai
Itu “Coffee Shop” Minggir Dulu, Kopi Banyuatis Mau Lewat

Azman (penulis) sedang ngopi

“Bila kau pergi, lantas apa yang kucicipi.” Kiranya kata-kata Al-Hallaj itu yang bisa saya ambil dan plintir sedikit endingnya, untuk menjadi wali perasaan saya, di samping relevansi dan kecocokan akan tulisan ini.

Biarlah tanpa uang 2 hari, gak makan dari subuh sampai malam, dan keseharian yang enggak produktif , yang penting Kopi Banyuatis masih satu toples di dapur kontrakan. Itu sudah bikin saya tenang dan tak terlalu was-was untuk menghadapi kehidupan yang serba fana ini. Aduh aduh aduhhhh.

Karena hanya Kopi Banyuatis yang bisa buat saya merasa menjadi orang yang intelek dan melek kebudayaan. Tanpanya, saya hanyalah buih di lautan, mengambang-ngambang ikuti arus zaman yang tak karuan. Mih, bungutee.

Bukti sederhananya, yakinlah, ketika saya menyelesaikan tulisan ini, total 4 gelas Kopi Banyuatis telah membanjiri kerongkongan saya. 1 gelas di pagi hari, siang sepulang kuliah 1 gelas lagi, dan 2 gelas dari awal sampai selesainya tulisan ini. Dan teman-teman di pojokan yang sedang duduk di ruang tamu, khusyuk bercinta dengan masing-masing segelas pekat Kopi Banyuatis juga.

“Uger-Uger Pikolih Kopi”, Undang-Undang Kopi Bali 1920

Di Kota Malang, eksistensi Kopi Banyuatis di kontrakan bagi saya lebih fundamental, daripada kehadiran kekasih dalam pelukan. Kopi Banyuatis bukan lagi sekadar sruput sebangun tidur dan sruput sepulang kerja atau kuliah. Tapi sudah menjadi sandang pangan yang punya kontribusi lebih besar ketimbang beras dan baju. Dan adanya Kopi Banyuatis di kontrakan, adalah salah satu alasan kenapa saya masih dalam keadaan waras.

Namun, mengurung diri dalam pelukan Kopi Banyuatis sambil baca Don Quixote, bukan berarti saya kampungan dan tak mengenal coffee shop ala-ala gen Z. Kadang sebulan sekali saya menyempatkan diri menerima ajakan teman buat nongki di tempat begituan. Bukan karena saya suka kopinya, melainkan menghargai ajakan kawan saja, plus ramai ukhti-uktinya juga sihh.

Dan di Kota Malang, tempat saya kost dan kuliah, pembangunan-pembangunan coffee shop semakin marak, hampir di segala tempat ada coffee Shop, entah yang konvensional atau yang kontemporer. Di kawasan UIN dan Unisma, coffe shop didominasi bentuk tradisional, dengan pengunjung yang rata-rata adalah mahasiswa-mahasiswa organisasi akut stadium 4. Sedangkan kawasan UB dan UMM, ramai coffee shop modern. Biasanya  gen Z di sana nongki cuman buat pamer FWB dan outfit yang jilbabnya nyekik leher.

Seiring pembangunan itu pun, saya seakan digiring untuk berhijrah menjadi hedonis yang totalitas. Untungnya, persuasif terselubung semacam itu, terbentengi dengan bubuk pahit nagih-nagih dari Kopi Banyuatis yang bertumpuk-tumpuk di dapur kontrakan.

Jujur saya sedikit menjaga bibir saya dari kopi yang dimix-mix gitu, yang diart-art gitu. Di samping alasan tak terlalu suka, saya juga takut keintelektualan yang merasuk ke diri saya dari memagut pahit Banyuatis itu, memudar sedikit demi sedikit.

Jadinya saya harus sehati-hati mungkin  menjaga kontak fisik, agar tak terkontaminasi dengan kopi yang manis-manis bergambar-gambar itu. Dan, oh iya, juga dengan ice coffee, yang bila es batunya meleleh, rasanya jadi hambar.

Kopi Banyuatis, mungkin bagi teman-teman saya yang bukan orang Bali cuman seonggok bubuk cokelat legam. Tapi bagi saya, Kopi Banyuatis adalah penyokong kehidupan saya dan mahasiswa-mahasiswa Bali di Malang, yang di dalamnya mengandung partikel-partikel gaib yang menyegarkan elemen-elemen tubuh.

Tanpa Kopi Banyuatis, saya tak mungkin kuat baca bukunya Metamorfosis Kafka, Kritikus Adinan, apalagi tulisan-tulisan Afrizal Malna. Tanpa Kopi Banyuatis juga, sebatang rokok country dan lucky strike tak memiliki kenikmatan yang hakiki.

Dan posisi itu tidak bisa digantikan dengan kopi-kopi yang ada di coffee Shop di sekitaran Malang. Saya lebih memilih minum kopikap yang dijual WM (Warung Madura), ketimbang minum kopi latte dan kopi art-art itu.

Kopi Susu + Telur Ayam Arab Setengah Matang | Legenda Ngopi di Kota Tua Singaraja

Pernah, suatu ketika sekitaran tahun lalu. Stok Kopi Banyuatis di kontrakan saya sudah di ambang ajal. Sontak saya panik, sampai mau bikin storydi Instagram, dan ngetweet di Twitter, biar netizen bantu nyari solusi. Saya bingung harus beli di mana, karena Kopi Banyuatis tidak beredar di pulau Jawa. Pun, teman-teman mahasiwa Bali sudah ada di Malang semua. Kalaupun lewat jasa pengiriman dari Bali ke Malang, tentu tak kebayang berapa pengeluaran yang harus saya rogoh dari kantong. Alhasil pelarian saya hanyalah Sidomukti dan Kapal Api, yang rasanya rada-rada mirip Kopi Banyuatis.

Namun, hanya Kopi Banyuatis yang bisa menopang saya untuk kuat selama berjam-jam di depan laptop, menggarap tugas dan maratonin series Game of Thrones. Kopi Banyuatis adalah foundation of my strength, bisa dibilang begitu. Hanya kepahitan Kopi Banyuatis saja yang bisa buat badan saya tegak dan mata saya tak layu buat berlama-lama di depan laptop dan buku.

Oleh sebab itu, ketika saya kehabisan Kopi Banyuatis, cuman sisa satu sendok teh bubuknya doang. Saya dan teman-teman satu kontrakan, secara tidak langsung merancang manajemen pendistribusian Kopi Banyuatis dari Bali ke Malang. Pokoknya, setiap masing-masing kami yang akan berangkat ke Malang, hukumnya sunnah muakad (diharuskan) membawa minimal 1 bungkus Kopi Banyuatis ukuran 500 gram. Entah itu beli di toko pak kadek, kelontongan orang cina, ataupun warung pak samsul.

Dengan manajemen pendistribusian yang kami rancang secara kolektif. Perkiraan stok Kopi Banyuatis yang kami bawa dari masing-masing rumah, bisa habis dalam kurun waktu 3 sampai 4 bulan. Kalau ngopinya pakai akhlak sih. Ya kalau gak pakai akhlak, 2 bulan itu Kopi Banyuatis udah raib dari ruang penyimpanan, inguh be ngalih dije ne ngadep.

Makanya saya sangat berhati-hati untuk mengatur kecukupan pangan dan sandang (Kopi Banyuatis) kami di kontrakan. Yang penting dari kami semua ngopinya pakai akhlak dan otak aja. Itu perlu dilakukan, untuk kesejahteraan kami semua ketika menikmati Kopi Banyuatis.

Di sini, tak jarang beberapa pikiran muncul secara tiba-tiba dalam diri saya. Dan salah satunya adalah, saya sangat menginginkan Kopi Banyuatis beredar di pulau Jawa, tak hanya Bali dan NTB saja. Padahal kalau dilihat, mahasiswa-mahasiswa Bali yang merantau ke pulau Jawa itu banyak banget, kan. Dan yang namanya Kopi Banyuatis sangat penting ada di sisi kami. Dan saya pribadi berharap Pak Gede Pusaka (Bos Kopi Banyuatis) bisa memikirkan hal ini. Jadi tak terbatas mengedukasi orang minum kopi dengan benar di Bali dan NTB saja. Tapi juga Pulau Jawa perlu deh kayaknya.

Dan saat ini, alhamdulillah stok Kopi Banyuatis saya dan teman-teman kontrakan masih cukup untuk dua bulan kedepan. Ditambah ada beberapa teman yang akan ke Malang nantinya bawa Kopi Banyuatis juga. Dengan itu saya tak perlu lagi khawatir, tak perlu lagi story di Instagram dan ngeteweet di Twitter, dan tak perlu lagi beli kopikap di WM (Warung Madura). Apalagi beralih ke coffe shop. Biarlah teman-teman saya yang hedon aja ngopi di sana, sambil ngomongin rencana collab bareng Bayu Skak dan Juragan 99. [T]

Tags: bulelengkopi balikopi banyuatis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gong Kebyar Legendaris | Sekaa Gong Gunung Sari dari Peliatan, Mendunia Sejak 1930-an

Next Post

Siap Grak, Maju Jalan…! Buleleng Bersiap Gelar Lomba Gerak Jalan

Azman H. Bahbereh

Azman H. Bahbereh

Lahir di Singaraja, Bali, 30 Januari 2001. Bekerja sebagai tukang jagal ayam yang selain gemar membaca juga gemar menulis. Kalian bisa menemukannya di akun Instagram : @azmnhssmb

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Siap Grak, Maju Jalan…! Buleleng Bersiap Gelar Lomba Gerak Jalan

Siap Grak, Maju Jalan…! Buleleng Bersiap Gelar Lomba Gerak Jalan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co