22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Uger-Uger Pikolih Kopi”, Undang-Undang Kopi Bali 1920

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 23, 2022
in Esai
HINDU & KEJAWEN BERHALA?

— Catatan Harian Sugi Lanus, 23 Februari 2022

Pengalaman berbagai kunjungan (karena diundang) untuk membaca lontar-lontar koleksi keluarga di pelosok-pelosok Bali dan Lombok, membuat saya bisa masuk ke dalam rumah-rumah penduduk. Bukan hanya berkesempatan membaca koleksi lontar-lontarnya, kadang surat pajak, pusaka keluarga, cincin keramat, keris, dll.

Yang paling juga perlu diantisipasi adalah sejarah kepemilikan dan pewarisan benda-benda pusaka di keluarga yang dikunjungi. Kadang ada yang berkonflik dalam pewarisan, kadang jadi asset bersama, kadang lontar-lontar dicarikan jalan keluar ditempatkan di mrajan atau sanggah keluarga sehingga menjadi “duwe tengah” (asset bersama anggota keluarga).

Hal yang menarik lainnya, kalau berkunjung memeriksa lontar-lontar keluarga, adalah perlunya mengantisipasi diri jika ada salah satu keluarga kesurupan/kodal/melingse/kerauhan atau kejadian serupa dan sejenis. Ini hal yang tidak aneh dalam pengalaman seorang pembaca lontar yang sering diundang ke rumah-rumah atau pura-pura dan mrajan keluarga. Bahkan, sudah sampai di lokasi bisa batal atau ditunda, karena bisa seorang anggota bermimpi atau merasa dapat wangsit bahwa lontarnya tidak boleh diturunkan.

Masuk ke gedong penyimpenan atau ruang suci penyimpanan pusaka lontar (atau lontar-lontar yang dikeramatkan) kita belajar banyak bagaimana manner (tata-titi) dan anggah-ungguh bagaimana sebuah keluarga menjamu tamu. Bagaimana sebuah keluarga membatasi dan membuka ruang privat atau domain pribadi keluarganya untuk pihak luar. Di sini saya mendapati dan menjadi sepenuhnya sadar, bahwa, di Bali memang ada pola asuh, pola tutur-bahasa, pola tindak, yang beragam karena tradisi varna atau wangsa memang terasa hadir dan memang pernah menjadi stratifikasi sosial yang kuat di era kerajaan.

Masuk ke ruang keluarga-keluarga di pegunungan, biasanya sangat banyak kejutan yang bisa dinikmati. Kadang dapat bonus disamping lontar-lontar ada buku-buku tua bisa dilirik.

Contohnya: Buku “Uger-Uger Pikolih Kopi” atau undang-undang/kesepakatan/aturan kelompok/ yang berisi aturan bagaimana pemerolehan bibit kopi dan panen, yang menjadi acuan desa-desa penanam kopi tahun 1920-an, ini saya temukan bertumpuk dengan koleksi lontar di daerah Gobleg yang menjadi daerah perintis perkebunan kopi di Bali Utara.

Isinya bagaimana aturan perolehan bibit kopi, panen, dan aturan keorganisasian, serta kesepakatan untuk tunduk pada aturan yang tercantum — jika tidak manut siap disidang (perintah Belanda) — menunjukkan bagaimana tahun 1920-an pemerintah kolonial jauh-jauh datang dari Eropa untuk secara serius mengembangkan kopi, sangat serius dalam penanganan mengikat dan memonitor petani kopi.

Buku “Uger-uger Pikolih Kopi” {Foto-foto Sugi Lanus]

Buku “Uger-Uger Pikolih Kopi” ini membuat saya merenung: Sebagai pencinta kopi, yang memang doyan nongkrong di pangkalan kopi di berbagai terminal, stasiun, airport-airport, dan kota-kota tua di berbagai wilayah dan negara; “Dari sekian banyak orang Bali yang saya kunjungi, kenapa tidak pernah mendapat sajian kopi serius?”

Yang saya maksud kopi serius adalah kopi yang terpilih dari ladang kopi yang mereka miliki, atau yang dibeli di sekitar desa mereka.

Pertanyaan itu muncul, disamping karena membaca “Uger-Uger Pikolih Kopi”, juga karena beberapa kali kunjungan membaca lontar ke petani kopi dan juga orang-orang kaya atau elit Bali yang cikal-bakal kekayaan keluarganya bermula dari generasi kakeknya yang petani kopi perintis di Bali; tetap saja kopi yang kami minum bersama keluarga atau tuan rumah, sebatas kopi yang biasa-biasa saja.

Secara umum, orang Bali memang jarang sekali memperhatikan kualitas kopi yang diminumnya, sekalipun mereka petani kopi atau elit Bali yang punya sejarah asset keluarganya terkait dengan pertanian kopi di masa lalu.

Seorang pelancong Eropa yang berkunjung ke Buleleng tahun 1930-an pernah menulis dalam catatan perjalanannya tentang buruknya kualitas kopi yang diminum di warung-warung di Buleleng; padahal kopi Buleleng yang diekspor terkenal berkualitas sangat tinggi. Kenyataannya, memang sampai saat ini, kopi yang dijual keluar Bali adalah kopi yang terpilih, dan umumnya kopi yang dikonsumsi penduduk lokal “sisan pilih” (sisa-sia dari yang terpilih), atau diolah dengan ala kadarnya.

Apakah cara pikirnya seperti ini: Kalau kopi murahan dijual laku, kenapa harus repot membuat yang berkualitas?

Di pulau ini sekarang memang telah menjamur resto dan cafe menjual kopi mahal berkualitas. Awalnya dirintis para pemodal atau pemilik resto dan cafe yang rata-rata orang asing. Belakangan orang lokal tersadar, baru ngeh, ikutan meniru orang asing membuat hal serupa.

Ada kabar baik, semenjak 10 tahun belakangan keluarga petani mulai menggeliat sadar kopi mereka mesti diolah sendiri. Di daerah Munduk telah muncul penduduk lokal keluarga petani kopi yang mengeluarkan olahan kopi berkualitas, seperti Blue Tamblingan yang dikemas oleh restoran Don Biyu. Atau di beberapa tempat di Kintamani ada kelompok pemuda lokal yang membuat kemasan olahan terseleksi hasil panen kebun mereka sendiri.

Melihat buku “Uger-Uger Pikolih Kopi” yang terbit tahun 1920 tersebut, artinya menunggu 100 tahun untuk tersadar bahwa kopi tidak harus diekspor metahannya. Bisa diolah secara lokal dan ekspor atau yang dijual adalah olahannya, bukan mentahannya.

Menunggu 100 tahun untuk tersadar bahwa kopi yang diminum sendiri sepatutnya yang terseleksi juga. Bukan semua yang terpilih dikirim keluar; sementara yang minum “kopi sisan pilih”. Perlu 100 tahun untuk itu.

Siapapun yang membaca “Uger-Uger Pikolih Kopi” ini pasti akan dibuat sadar: Ternyata 100 tahun adalah waktu yang tidak cukup untuk membuat sadar pemerintah lokal bahwa kualitas kopi dari perkebunan kopi di Bali adalah incaran kaum elit Eropa dari seabad lampau, bahkan jauh sebelum itu. [T]

Tags: buku kunobuku lawaskopikopi balipertanian
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kajian Struktur dan Nilai Bahasa dalam Buku Kumpulan Cerpen “Joged lan Bojog Lua Ane Setata Ngantiang Ulungan Bulan Rikala Bintange Makacakan di Langite”

Next Post

Membincangkan Hal-hal Buruk | Catatan Pelatihan Keamanan Menyeluruh oleh Combine Resource Institution di Banyuwangi

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Membincangkan Hal-hal Buruk | Catatan Pelatihan Keamanan Menyeluruh oleh Combine Resource Institution di Banyuwangi

Membincangkan Hal-hal Buruk | Catatan Pelatihan Keamanan Menyeluruh oleh Combine Resource Institution di Banyuwangi

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co