30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kopi Susu + Telur Ayam Arab Setengah Matang | Legenda Ngopi di Kota Tua Singaraja

Tobing Crysnanjaya by Tobing Crysnanjaya
August 9, 2021
in Khas
Kopi Susu + Telur Ayam Arab Setengah Matang | Legenda Ngopi di Kota Tua Singaraja

Warung Kopi milik Ko Gunawan di kawasan Kampung Tinggi, Singaraja [Foto: Tobing]

Kopi plus telur setengah matang dengan taburan merica kini seakan menjadi trend dan gaya hidup di Bali, terutama pada malam hari. Kini banyak ditemui lapak penjual kopi plus telur ayam kampung setengah matang di atas trotoar atau di tepi jalan, semisal di Denpasar, Singaraja dan kota-kota lain.

Banyak yang menganggap, telur setengah matang adalah trend baru di tengah kehidupan anak muda malam hari. Padahal, berpuluh-puluh tahun lalu di Kota Singaraja sudah ada warung kopi plus telur setengah matang yang seakan sudah jadi legenda. Banyak orang Singaraja menganggap warung itu sebagai warung kopi penuh kenangan bersama kawan, bahkan juga pacar.

Warung itu letaknya di kawasan kota tua Singaraja, di wilayah Kampung Tinggi, Jalan Surapati, Singaraja. Jika kenal dengan warung nasi syobak Che Kelok, nah, di sebelah baratnya, kira-kira 20 meter dari warung Che Kelok, di situlah tempatnya. Penjualnya, kini sudah generasi ketiga, namanya Ko Gunawan, 44 tahun usianya.

Warung kopi ini kalau dilihat dari tampilannya tampak biasa saja. Yang menjadikannya istimewa, justru karena biasa-biasa saja. Ciri ketuaan warung itu masih terlihat dengan jelas. Kayu-kayu pintu dan tembok sepertinya tak pernah diganti sejak warung itu dibuat, mungkin dibuat pada zaman kolonial.

Tapi tunggu dulu, Meski tak ditata dengan gaya warung kopi modern, semacam kafe khas anak muda zaman sekarang, namun tempat ini selalu ramai dikunjungi oleh pelanggan. Orang-orang pesan kopi, telur setengah matang dengan taburan merica, dengan gaya biasa-biasa juga. Sesekali mereka ngobrol bersama teman sesama ngopi.  

Ko Gunawan dan telur ayam arab di dalam gelas

Telur Ayam Arab

Akhir pekan lalu, dalam perjalanan ke Desa Panji dari Desa Bungkulan, bersama seorang sahabat, saya singgah di warung itu untuk membeli telur setengah matang di Kampung Tinggi.

Sejak SMP saya sudah terbiasa menghabiskan waktu di tempat ini, rasa kopi susunya tidak pernah berubah, dan settingan peralatan dan tempatnya terlihat masih sama, mulai dari gelas kopi, gelas tempat telur setengah matang, meja dari triplek halus hingga kursi kayu panjang yang digunakan menyimpan kenangan tersendiri bagi diri saya. Dulu saya sering diajak oleh almarhum bapak untuk ngopi di tempat ini.

Bersyukur sekali saat saya ke sana warung kondisinya sedikit lenggang, saya pikir ini waktu yang tepat untuk bisa mengulik cerita-cerita menarik di balik usaha warung kopi legendaris ini. Warung kopi ini dimiliki dan dikelola Ko Gunawan bersama istrinya. Ia memiliki nama asli Wang Siang, Ko adalah sebutan kakak untuk warga keturunan Tionghoa.  

Bluk-bluk-bluk, suara air mendidih dari dalam panci itu terdengar jelas di telinga, terlihat tangan istri dari Ko Gunawan dengan terampilnya memasukkan dua butir telur ayam ke dalam panci, sementara itu dia langsung membuat racikan kopi susu, diambilnya dengan cepat beberapa sendok kopi, ditambahkannya gula lantas diberikan susu.

Dari sisi lain dia tampak mengambil teko yang berisi air panas langsung dari tungku, digunakannya air panas itu menyeduh racikan kopi tersebut.

 Cresss…. aroma kopi susu itu tercium sampai ke hidung, membuat diri tak kuasa menahan nafsu untuk bisa menikmati kopi susu spesial itu. Hanya diperlukan waktu dua menit untuk menyiapkan itu semua. Sementara di waktu yang bersamaan, diangkatnya dua telor dari panci itu, lalu dibasuhnya dengan air mengalir untuk kemudian dikupas dan dimasukkan ke dalam gelas kecil. Lagi-lagi hanya perlu kurang dua menit untuk menyiapkan itu semua, benar-benar kecepatan yang luar biasa.

Kopi susu dan dua telur tersaji di meja, terlihat sari kuning telur itu begitu menggoda, lumer dan begitu nikmat. Lantas saya menambahkan serbuk lada alias merica di atasnya, sedikit garam dan diaduk sampai rata. Putih telur dan lumernya sari kuning tercampur rata.

Perlahan-lahan saya nikmati, apalagi langsung dinikmati sembari menyeruput kopi susu. Sungguh nikmat terasa pagi itu. Selang beberapa lama, Ko Gunawan menghampiri saya, dan kesempatan itu saya gunakan untuk menanyakan kira-kira sudah berapa lama usaha ini dirintis,

Ko Gunawan menceritakan kalau usaha kopi ini dirintis oleh kakeknya. Dia sudah tidak tahu tahun persisnya. Usaha ini sudah diwariskan dari tiga generasi mulai dari ayahnya, pamannya, dan hingga kini dilanjutkan oleh dirinya dan sepupunya Ko Tata. Koko Tata sendiri juga punya warung yang persis sama cara penyajian dan kualitas kopi serta telurnya.

Ko Gunawan menuturkan, dia mendapatkan amanat dari sang kakek untuk terus menjaga usaha ini,  serta teringat nasehatnya tentang pentingnya kejujuran, kesederhanaan dan kerja keras dalam membangun usaha.

Sejak kecil dia selalu ditanamkan sebuah nilai yang terkadang jarang kita dengarkan, bahwa melihat uang itu mestilah dilihat dari perputarannya. Untuk itulah dia selalu konsisten menjaga amanah itu, walau usaha itu kecil, namun perputaran ekonominya mampu menghidupi kebutuhan dia dan keluarganya. Dia punya dua anak.

Harga telur setengah matang sendiri dipatok diharga Rp. 3.000 per butir, dan secangkir kopi susu seharga Rp. 3.000. Saya biasanya memesan cukup dua butir saja ditemani satu cangkir kopi susu. Kebiasaan saya ini dihapal betul oleh Ko Gunawan. Kalau saya masuk warung, dia sudah tahu kalau paket sekali duduk untuk saya adalah Rp. 10.000. Selain itu di sana juga dijual telur madu, dan aneka kue yang bisa dinikmati sembari minum kopi atau setelah minum kopi sambil ngobrol-ngobrol.

Sehari Ko Gunawan sendiri menghabiskan telur sekitar 100 sampai 150 butir, belum termasuk sepupunya yang bukanya lebih pagi. Jika digabung mereka bisa sampai menghabiskan 300 butir (10 tere) seharinya.

Dulu telur yang dijual adalah telur ayam kampung, tapi kemudian telur yang digunakan adalah telur dari ras ayam arab, bentuknya menyerupai telor ayam kampung. Alasan dia menggunakan telur ayam arab karena memang saat ini sulit untuk mencari ketersediaan telur ayam kampung lokal. Kalau pun ada, susah untuk mendapatkan secara terus-menerus setiap harinya. Dia membeli satu tere telur itu seharga sekitar Rp. 70.000 di pasaran, dan katanya telur itu dipasok dari Jawa.

Dia berkilah, di tengah kondisi pandemi yang tak tentu kapan akan selesainya, menjalankan usaha haruslah tetap semangat, walau sepi, harus tetap buka, protokol kesehatan tetap jalan, namun ekonomi keluarga juga menjadi prioritas. [T]

___

Baca artikel TOBING CRYSNANJAYA lain

Tags: kulinernostalgiaSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Misteri Kematian

Next Post

Sugantika Lekung | “Udah Gitu Aja!”

Tobing Crysnanjaya

Tobing Crysnanjaya

Pegawai, petani, bapak rumah tangga. Kini sedang mengikuti kelas Creative Writing di Mahima Institute Indonesia

Related Posts

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

Read moreDetails

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails
Next Post
Sugantika Lekung | “Udah Gitu Aja!”

Sugantika Lekung | “Udah Gitu Aja!”

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co