12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Misteri Kematian

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
August 9, 2021
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

“Manusia menyisipkan hati dan perasaan pada energi.”

Itulah gagasan yang saya pikirkan, hari-hari ini, saat menyaksikan begitu banyak kematian. Tanpa hati dan perasaan, seperti juga kelahiran dan pertumbuhan, maka kematian hanyalah reaksi energi biasa. Mirip seperti es yang mencair, lalu air yang menguap dan uap yang berubah menjadi titik-titik air, kesemuanya adalah perubahan-perubahan energi tanpa disertai hati dan perasaan yang membuatnya menjadi alami dan diam-diam.

Maka hati dan perasaan adalah satu elemen abstrak maha karya misterius. Terasa namun tak berwujud, menguasai namun tak bertenaga, selalu hadir namun tak bertempat. Adakah ia bersemayam di hati, jantung atau otak? Banyak di antara kita mengeluh maag-nya kumat saat cemas atau galau. Ataukah ia ikut mengalir dalam darah kita yang menyertai pembagian energi ke seluruh tubuh? Lalu ia menyisip ke dalam energi tubuh yang pada dasarnya netral dan mengubahnya menjadi energi-energi yang kemudian mengejawantah sebagai sikap dan prilaku manusia yang sedemikan beragam.

Dalam pemahaman saya yang sangat terbatas sebagai orang Hindu, kematian adalah siklus energi. Dalam filsafat Panca Sradha atau lima keyakina dasar Hindu, kelimanya adalah siklus energi kontemplatif yang tak terputus. Siklus yang meminta kita nothing to loose karena ia faktual, adil dan otomatis. Mungkin ini yang dalam teori fisika modern disebut sebagai hukum kekekalan energi.

Eksistensi yang identik dengan poin ke-3 dari Panca Sradha yaitu hukum Karmaphala. Hukum ini eksak dan adil, namun karena sisipan hati dan perasaan manusialah yang membuatnya kemudian sering tampak menjadi tak adil, kejam atau justru sebuah keajaiban yang menggetarkan. Bahwa kita sering kali menyangkal nasib buruk kita adalah sepenuhnya akibat dari ulah buruk kita sendiri. Dan sebaliknya, umumnya kita dengan riang menerima keberuntungan tanpa harus sibuk mencari tahu apa sebabnya. Kita sendiri memang cenderung tak adil.

Poin pertama Panca Sradha adalah Brahman, energi terbesar alam semesta yaitu Tuhan. Saya meyakini, seperti halnya manusia (mikrokosmos), maka alam semesta (makrokosmos) ini tidaklah sempurna. Hanya karena energi positif/kebaikan yang lebih mendominasi, maka baik alam semesta dan manusia masih lestari saat ini. Jika energi negatif telah menguasai tubuh seorang manusia, ia akan mengalami kematian. Baik karena penyakit ganas yang menggerogotinya atau tindakan nekatnya mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

Maka dalam hal ini, saya cenderung melihat Tuhan sebagai sifat-sifat, bukanlah subyek. Ini dapat menjawab misteri lain dalam filsafat Hindu soal Awathara atau juru selamat yang kesepuluh. Bahwa siapapun punya kans menjadi seorang juru selamat meski dalam porsi sekecil apapun. Sebuah pengakuan maha agung kepada setiap kebaikan. Karena ia adalah manifestasi Tuhan atau sifat Ketuhanan itu sendiri.

Poin kedua adalah Atman, energi Tuhan pada setiap mahluk. Gagasan ini mudah saja dipahami, ketiadaan energi yang koheren dengan pusat energi terbesar maka kehidupan takkan pernah ada. Berbagai jejas yang menodai energi manusia semasa hidupnya yang terdata eksak secara kosmis akan menghalanginya bersatu dengan pusat energi/Brahman. Keadaan inilah yang menurut keyakinan agama-agama Samawi adalah neraka. Atau energi lepas tak terkendali yang menurut kepercayaan masyarakat Jawa sebagai roh/arwah gentayangan.

Dalam sains mungkin saja ini adalah senyawa radikal bebas yang sering mengganggu kesehatan manusia. Satu elemen yang sama, dapat saja memberi berbagai persepsi dalam dimensi yang berbeda. Apabila Atman seorang manusia cuma mengonversi energi baik/positif semata yang terbentuk dari hati dan perasaan, sikap dan prilaku, maka pada saatnya, energi kosmisnya akan bersatu dengan pusat energi positif. Inilah yang disebut surga, poin kelima dalam Panca Sradha yaitu Moksa. Sesuatu yang begitu sulit bisa digapai. Mestinya upacara Ngaben semegah apapun takkan bisa mengantarkan Atman masuk surga. Dalam tradisi Kristen, seseorang yang telah mengabdikan dirinya pada kebaikan dan pelayanan untuk manusia yang heroik, ia diberikan gelar sebagai Santo, yang telah disucikan dan bertemu Tuhan di surga. Pandangan ini lebih rasional.

Hindu meyakini, atas dasar kalkulasi yang eksak tersebut, pencapaian Moksa itu akan teramat sulit. Maka, energi yang belum sempurna itu akan kembali ke alam semesta/bumi untuk memulai siklus energi yang panjang. Sebuah penderitaan sesungguhnya. Gagasan ini adalah poin ke-4 dalam Panca Sradha yaitu Punarbawa atau reinkarnasi.

Mengapa jumlah manusia semakin banyak? Atau, maaf, penderitaan semakin banyak? Dengan mudah dapat kita pahami, karena kita memang telah menjalinkan rantai energi negatif semakin panjang. Dari apa yang kita sebut sebagai libido. Yang menurut Sigmund Freud sangat menentukan kesehatan dan kewarasan manusia. Atas pemahaman ini, segelintir manusia kemudian diidentifikasi menempuh hidup selibat atau tanpa seks dan bereproduksi. Sebut saja kehidupan biksu/biksuni dan pastor/biarawati. Tentu saja, memiliki pasangan atau belahan jiwa, kemudian buah hati, atau jika buah hati kita sakit adalah berbagai potensi reaksi energi yang menciptakan jejas dan noda dalam energi kosmis seorang manusia.  

Saya telah menulis tentang kematian dalam buku Merayakan Ingatan (Mahima, 2019), “Orang mati, bukanlah karena sungai yang deras dengan deretan jeram terjal, atau bukan karena sebuah pesawat terbang berada dalam sekapan badai. Orang mati karena sebuah hukum kekekalan energi yang eksak.”

Mungkin pandangan ini dapat sedikit mendamaikan kita dengan segala tragedi memilukan yang hari-hari ini terjadi akibat wabah virus corona baru yang tak kenal kasihan. Hati dan perasaan kita telah membuat bumi dan hidup kita hingar bingar dan penuh warna, terpisah dari kehidupan biksu dan pastor yang hening dan datar. Maka, tanpa kita sadari, sesungguhnya kita adalah sang para pencipta, namun belum siap menerima hasil dari reaksi energi yang tak kita inginkan. [T]

___

Baca ESAI tentang berbagai RENUNGAN atau esai lain dari DOKTER ARYA NUGRAHA

Tags: Dokter Arya Nugrahakesehatanrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Organisasi Penulis Satupena Dipimpin Kolektif 5 Orang Ketua | Bambang Harymurti sebagai Ketua Tim Rekonsiliasi

Next Post

Kopi Susu + Telur Ayam Arab Setengah Matang | Legenda Ngopi di Kota Tua Singaraja

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Kopi Susu + Telur Ayam Arab Setengah Matang | Legenda Ngopi di Kota Tua Singaraja

Kopi Susu + Telur Ayam Arab Setengah Matang | Legenda Ngopi di Kota Tua Singaraja

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co