24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Misteri Kematian

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
August 9, 2021
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

“Manusia menyisipkan hati dan perasaan pada energi.”

Itulah gagasan yang saya pikirkan, hari-hari ini, saat menyaksikan begitu banyak kematian. Tanpa hati dan perasaan, seperti juga kelahiran dan pertumbuhan, maka kematian hanyalah reaksi energi biasa. Mirip seperti es yang mencair, lalu air yang menguap dan uap yang berubah menjadi titik-titik air, kesemuanya adalah perubahan-perubahan energi tanpa disertai hati dan perasaan yang membuatnya menjadi alami dan diam-diam.

Maka hati dan perasaan adalah satu elemen abstrak maha karya misterius. Terasa namun tak berwujud, menguasai namun tak bertenaga, selalu hadir namun tak bertempat. Adakah ia bersemayam di hati, jantung atau otak? Banyak di antara kita mengeluh maag-nya kumat saat cemas atau galau. Ataukah ia ikut mengalir dalam darah kita yang menyertai pembagian energi ke seluruh tubuh? Lalu ia menyisip ke dalam energi tubuh yang pada dasarnya netral dan mengubahnya menjadi energi-energi yang kemudian mengejawantah sebagai sikap dan prilaku manusia yang sedemikan beragam.

Dalam pemahaman saya yang sangat terbatas sebagai orang Hindu, kematian adalah siklus energi. Dalam filsafat Panca Sradha atau lima keyakina dasar Hindu, kelimanya adalah siklus energi kontemplatif yang tak terputus. Siklus yang meminta kita nothing to loose karena ia faktual, adil dan otomatis. Mungkin ini yang dalam teori fisika modern disebut sebagai hukum kekekalan energi.

Eksistensi yang identik dengan poin ke-3 dari Panca Sradha yaitu hukum Karmaphala. Hukum ini eksak dan adil, namun karena sisipan hati dan perasaan manusialah yang membuatnya kemudian sering tampak menjadi tak adil, kejam atau justru sebuah keajaiban yang menggetarkan. Bahwa kita sering kali menyangkal nasib buruk kita adalah sepenuhnya akibat dari ulah buruk kita sendiri. Dan sebaliknya, umumnya kita dengan riang menerima keberuntungan tanpa harus sibuk mencari tahu apa sebabnya. Kita sendiri memang cenderung tak adil.

Poin pertama Panca Sradha adalah Brahman, energi terbesar alam semesta yaitu Tuhan. Saya meyakini, seperti halnya manusia (mikrokosmos), maka alam semesta (makrokosmos) ini tidaklah sempurna. Hanya karena energi positif/kebaikan yang lebih mendominasi, maka baik alam semesta dan manusia masih lestari saat ini. Jika energi negatif telah menguasai tubuh seorang manusia, ia akan mengalami kematian. Baik karena penyakit ganas yang menggerogotinya atau tindakan nekatnya mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

Maka dalam hal ini, saya cenderung melihat Tuhan sebagai sifat-sifat, bukanlah subyek. Ini dapat menjawab misteri lain dalam filsafat Hindu soal Awathara atau juru selamat yang kesepuluh. Bahwa siapapun punya kans menjadi seorang juru selamat meski dalam porsi sekecil apapun. Sebuah pengakuan maha agung kepada setiap kebaikan. Karena ia adalah manifestasi Tuhan atau sifat Ketuhanan itu sendiri.

Poin kedua adalah Atman, energi Tuhan pada setiap mahluk. Gagasan ini mudah saja dipahami, ketiadaan energi yang koheren dengan pusat energi terbesar maka kehidupan takkan pernah ada. Berbagai jejas yang menodai energi manusia semasa hidupnya yang terdata eksak secara kosmis akan menghalanginya bersatu dengan pusat energi/Brahman. Keadaan inilah yang menurut keyakinan agama-agama Samawi adalah neraka. Atau energi lepas tak terkendali yang menurut kepercayaan masyarakat Jawa sebagai roh/arwah gentayangan.

Dalam sains mungkin saja ini adalah senyawa radikal bebas yang sering mengganggu kesehatan manusia. Satu elemen yang sama, dapat saja memberi berbagai persepsi dalam dimensi yang berbeda. Apabila Atman seorang manusia cuma mengonversi energi baik/positif semata yang terbentuk dari hati dan perasaan, sikap dan prilaku, maka pada saatnya, energi kosmisnya akan bersatu dengan pusat energi positif. Inilah yang disebut surga, poin kelima dalam Panca Sradha yaitu Moksa. Sesuatu yang begitu sulit bisa digapai. Mestinya upacara Ngaben semegah apapun takkan bisa mengantarkan Atman masuk surga. Dalam tradisi Kristen, seseorang yang telah mengabdikan dirinya pada kebaikan dan pelayanan untuk manusia yang heroik, ia diberikan gelar sebagai Santo, yang telah disucikan dan bertemu Tuhan di surga. Pandangan ini lebih rasional.

Hindu meyakini, atas dasar kalkulasi yang eksak tersebut, pencapaian Moksa itu akan teramat sulit. Maka, energi yang belum sempurna itu akan kembali ke alam semesta/bumi untuk memulai siklus energi yang panjang. Sebuah penderitaan sesungguhnya. Gagasan ini adalah poin ke-4 dalam Panca Sradha yaitu Punarbawa atau reinkarnasi.

Mengapa jumlah manusia semakin banyak? Atau, maaf, penderitaan semakin banyak? Dengan mudah dapat kita pahami, karena kita memang telah menjalinkan rantai energi negatif semakin panjang. Dari apa yang kita sebut sebagai libido. Yang menurut Sigmund Freud sangat menentukan kesehatan dan kewarasan manusia. Atas pemahaman ini, segelintir manusia kemudian diidentifikasi menempuh hidup selibat atau tanpa seks dan bereproduksi. Sebut saja kehidupan biksu/biksuni dan pastor/biarawati. Tentu saja, memiliki pasangan atau belahan jiwa, kemudian buah hati, atau jika buah hati kita sakit adalah berbagai potensi reaksi energi yang menciptakan jejas dan noda dalam energi kosmis seorang manusia.  

Saya telah menulis tentang kematian dalam buku Merayakan Ingatan (Mahima, 2019), “Orang mati, bukanlah karena sungai yang deras dengan deretan jeram terjal, atau bukan karena sebuah pesawat terbang berada dalam sekapan badai. Orang mati karena sebuah hukum kekekalan energi yang eksak.”

Mungkin pandangan ini dapat sedikit mendamaikan kita dengan segala tragedi memilukan yang hari-hari ini terjadi akibat wabah virus corona baru yang tak kenal kasihan. Hati dan perasaan kita telah membuat bumi dan hidup kita hingar bingar dan penuh warna, terpisah dari kehidupan biksu dan pastor yang hening dan datar. Maka, tanpa kita sadari, sesungguhnya kita adalah sang para pencipta, namun belum siap menerima hasil dari reaksi energi yang tak kita inginkan. [T]

___

Baca ESAI tentang berbagai RENUNGAN atau esai lain dari DOKTER ARYA NUGRAHA

Tags: Dokter Arya Nugrahakesehatanrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Organisasi Penulis Satupena Dipimpin Kolektif 5 Orang Ketua | Bambang Harymurti sebagai Ketua Tim Rekonsiliasi

Next Post

Kopi Susu + Telur Ayam Arab Setengah Matang | Legenda Ngopi di Kota Tua Singaraja

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Kopi Susu + Telur Ayam Arab Setengah Matang | Legenda Ngopi di Kota Tua Singaraja

Kopi Susu + Telur Ayam Arab Setengah Matang | Legenda Ngopi di Kota Tua Singaraja

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co