3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Misteri Kematian

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
August 9, 2021
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

“Manusia menyisipkan hati dan perasaan pada energi.”

Itulah gagasan yang saya pikirkan, hari-hari ini, saat menyaksikan begitu banyak kematian. Tanpa hati dan perasaan, seperti juga kelahiran dan pertumbuhan, maka kematian hanyalah reaksi energi biasa. Mirip seperti es yang mencair, lalu air yang menguap dan uap yang berubah menjadi titik-titik air, kesemuanya adalah perubahan-perubahan energi tanpa disertai hati dan perasaan yang membuatnya menjadi alami dan diam-diam.

Maka hati dan perasaan adalah satu elemen abstrak maha karya misterius. Terasa namun tak berwujud, menguasai namun tak bertenaga, selalu hadir namun tak bertempat. Adakah ia bersemayam di hati, jantung atau otak? Banyak di antara kita mengeluh maag-nya kumat saat cemas atau galau. Ataukah ia ikut mengalir dalam darah kita yang menyertai pembagian energi ke seluruh tubuh? Lalu ia menyisip ke dalam energi tubuh yang pada dasarnya netral dan mengubahnya menjadi energi-energi yang kemudian mengejawantah sebagai sikap dan prilaku manusia yang sedemikan beragam.

Dalam pemahaman saya yang sangat terbatas sebagai orang Hindu, kematian adalah siklus energi. Dalam filsafat Panca Sradha atau lima keyakina dasar Hindu, kelimanya adalah siklus energi kontemplatif yang tak terputus. Siklus yang meminta kita nothing to loose karena ia faktual, adil dan otomatis. Mungkin ini yang dalam teori fisika modern disebut sebagai hukum kekekalan energi.

Eksistensi yang identik dengan poin ke-3 dari Panca Sradha yaitu hukum Karmaphala. Hukum ini eksak dan adil, namun karena sisipan hati dan perasaan manusialah yang membuatnya kemudian sering tampak menjadi tak adil, kejam atau justru sebuah keajaiban yang menggetarkan. Bahwa kita sering kali menyangkal nasib buruk kita adalah sepenuhnya akibat dari ulah buruk kita sendiri. Dan sebaliknya, umumnya kita dengan riang menerima keberuntungan tanpa harus sibuk mencari tahu apa sebabnya. Kita sendiri memang cenderung tak adil.

Poin pertama Panca Sradha adalah Brahman, energi terbesar alam semesta yaitu Tuhan. Saya meyakini, seperti halnya manusia (mikrokosmos), maka alam semesta (makrokosmos) ini tidaklah sempurna. Hanya karena energi positif/kebaikan yang lebih mendominasi, maka baik alam semesta dan manusia masih lestari saat ini. Jika energi negatif telah menguasai tubuh seorang manusia, ia akan mengalami kematian. Baik karena penyakit ganas yang menggerogotinya atau tindakan nekatnya mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

Maka dalam hal ini, saya cenderung melihat Tuhan sebagai sifat-sifat, bukanlah subyek. Ini dapat menjawab misteri lain dalam filsafat Hindu soal Awathara atau juru selamat yang kesepuluh. Bahwa siapapun punya kans menjadi seorang juru selamat meski dalam porsi sekecil apapun. Sebuah pengakuan maha agung kepada setiap kebaikan. Karena ia adalah manifestasi Tuhan atau sifat Ketuhanan itu sendiri.

Poin kedua adalah Atman, energi Tuhan pada setiap mahluk. Gagasan ini mudah saja dipahami, ketiadaan energi yang koheren dengan pusat energi terbesar maka kehidupan takkan pernah ada. Berbagai jejas yang menodai energi manusia semasa hidupnya yang terdata eksak secara kosmis akan menghalanginya bersatu dengan pusat energi/Brahman. Keadaan inilah yang menurut keyakinan agama-agama Samawi adalah neraka. Atau energi lepas tak terkendali yang menurut kepercayaan masyarakat Jawa sebagai roh/arwah gentayangan.

Dalam sains mungkin saja ini adalah senyawa radikal bebas yang sering mengganggu kesehatan manusia. Satu elemen yang sama, dapat saja memberi berbagai persepsi dalam dimensi yang berbeda. Apabila Atman seorang manusia cuma mengonversi energi baik/positif semata yang terbentuk dari hati dan perasaan, sikap dan prilaku, maka pada saatnya, energi kosmisnya akan bersatu dengan pusat energi positif. Inilah yang disebut surga, poin kelima dalam Panca Sradha yaitu Moksa. Sesuatu yang begitu sulit bisa digapai. Mestinya upacara Ngaben semegah apapun takkan bisa mengantarkan Atman masuk surga. Dalam tradisi Kristen, seseorang yang telah mengabdikan dirinya pada kebaikan dan pelayanan untuk manusia yang heroik, ia diberikan gelar sebagai Santo, yang telah disucikan dan bertemu Tuhan di surga. Pandangan ini lebih rasional.

Hindu meyakini, atas dasar kalkulasi yang eksak tersebut, pencapaian Moksa itu akan teramat sulit. Maka, energi yang belum sempurna itu akan kembali ke alam semesta/bumi untuk memulai siklus energi yang panjang. Sebuah penderitaan sesungguhnya. Gagasan ini adalah poin ke-4 dalam Panca Sradha yaitu Punarbawa atau reinkarnasi.

Mengapa jumlah manusia semakin banyak? Atau, maaf, penderitaan semakin banyak? Dengan mudah dapat kita pahami, karena kita memang telah menjalinkan rantai energi negatif semakin panjang. Dari apa yang kita sebut sebagai libido. Yang menurut Sigmund Freud sangat menentukan kesehatan dan kewarasan manusia. Atas pemahaman ini, segelintir manusia kemudian diidentifikasi menempuh hidup selibat atau tanpa seks dan bereproduksi. Sebut saja kehidupan biksu/biksuni dan pastor/biarawati. Tentu saja, memiliki pasangan atau belahan jiwa, kemudian buah hati, atau jika buah hati kita sakit adalah berbagai potensi reaksi energi yang menciptakan jejas dan noda dalam energi kosmis seorang manusia.  

Saya telah menulis tentang kematian dalam buku Merayakan Ingatan (Mahima, 2019), “Orang mati, bukanlah karena sungai yang deras dengan deretan jeram terjal, atau bukan karena sebuah pesawat terbang berada dalam sekapan badai. Orang mati karena sebuah hukum kekekalan energi yang eksak.”

Mungkin pandangan ini dapat sedikit mendamaikan kita dengan segala tragedi memilukan yang hari-hari ini terjadi akibat wabah virus corona baru yang tak kenal kasihan. Hati dan perasaan kita telah membuat bumi dan hidup kita hingar bingar dan penuh warna, terpisah dari kehidupan biksu dan pastor yang hening dan datar. Maka, tanpa kita sadari, sesungguhnya kita adalah sang para pencipta, namun belum siap menerima hasil dari reaksi energi yang tak kita inginkan. [T]

___

Baca ESAI tentang berbagai RENUNGAN atau esai lain dari DOKTER ARYA NUGRAHA

Tags: Dokter Arya Nugrahakesehatanrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Organisasi Penulis Satupena Dipimpin Kolektif 5 Orang Ketua | Bambang Harymurti sebagai Ketua Tim Rekonsiliasi

Next Post

Kopi Susu + Telur Ayam Arab Setengah Matang | Legenda Ngopi di Kota Tua Singaraja

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kopi Susu + Telur Ayam Arab Setengah Matang | Legenda Ngopi di Kota Tua Singaraja

Kopi Susu + Telur Ayam Arab Setengah Matang | Legenda Ngopi di Kota Tua Singaraja

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co