2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membedah Walli Jing-Kang dan Teka-Teki di Dalamnya

Jaswanto by Jaswanto
June 1, 2022
in Khas
Membedah Walli Jing-Kang dan Teka-Teki di Dalamnya

Manik Sukadana

Manik Sukadana senyam-senyum di kursi kayu itu. Wajahnya memancarkan kegembiraan¾walaupun sedikit tampak gusar dan berdebar. Ia memegang sebuah bulpoin dan buku catatan. Meyakinkan diri sendiri, bahwa malam itu ia tidak sedang bermimpi.

Ya, malam itu, tepatnya hari Sabtu, 21 Mei 2022, pada acara Tatkala May May May yang digelar tatkala.co di Rumah Belajar Mahima, adalah malam yang menggembirakan, khususnya bagi Manik. Apa pasal? Novel pertamanya yang berjudul Kota Kabut Walli Jing-Kang, dibedah. Memang, salah satu kegembiraan seorang penulis adalah saat karyanya dibicarakan, diapresiasi, dan dianggap penting. Penluis pikir, Makik pun demikian.

Pada kesempatan kali ini, tatkala.co menghadirkan dua pembicara untuk membedah Walli Jing-Kang dan teka-teki di dalamnya. Pembedah pertama, Komang Adnyana, seorang sastrawan; dan kedua, IK Eriadi Ariana atau Jero Penyarikan Duuran Batur, seorang jurnalis. Sementara itu, Anak Agung Ayu Rahatri Ningrat bertugas sebagai moderator.

Foto: Moderator Rahatri dan dua pembedah, Komang Adnyana dan IK Eriadi (Jero Penyarikan Duuran Batur)

Menurut Komang Adnyana, tema yang diangkat Manik ini sangat jarang di dunia sastra Bali¾novel Kota Kabu Walli Jing-Kang memang bertemakan kolosal. “Bagi saya, topik ini menarik untuk digali. Dan berungtung ada Manik yang menuliskan,” kata sastrawan muda ini membuka diskusi.

“Sebagai sebuah novel debut, Manik melampaui ekspektasi awal saya. Penulisannya cukup rapi. Secara ringkas, isu utama yang saya soroti adalah strategi bertutur filosofis yang dipakai sama Manik Sukadana. Di novel ini, isu-isu yang dibahas (berkaitan) dengan isu-isu kemanusiaan, ekologisme, religiusitas. Dan ini disampaikan dengan gaya bertutur filosofis,” tambahnya.

Dalam acara yang bertajuk “Bedah Bedih di Warung Kopi Gajah Mada”, Guna Yasa, seorang pemerhati lontar, juga mengatakan bahwa novel debutnya Manki ini mengandung tiga topik utama, yaitu: Makna Filosofis, Humanis dan Magis Ekologis.

Lebih lanjut, Adnyana menjelaskan tentang bahwa gaya bertutur filosofis ini agak riskan karena begitu banyak dialog; banyak petuah filosofis yang di sampaikan antar beberapa tokoh. Dan dialog itu beberapa kali berulang. Sebenarnya, menurut Adnyana, strategi ini sangat berisiko kebosanan pembaca, tetapi dalam novel ini, Manik cukup berhasil mengakalinya. “Meskipun sebenarnya bisa diperkuat lagi.”

Manik (paling kanan) bersama para pembedah

Kemudian untuk ceritanya sendiri, menurut Adnyana, novel ini memiliki alur cerita yang sederhana. Ada seorang raja yang diserang, lalu mengusi, bertahan, dan merencanakan penyerangan kembali untuk merebut kota Walli Jing-Kang. “Tapi di balik itu, ada yang menarik karena ada kandungan sejarah yang mencoba digali di situ¾walaupun saya agak menjaga jarak dari kaitannya dengan tempat yang mungkin bisa dirujuk (dalam sejarah),” jelas Adnyana.

“Saya menanggapi novel ini sebagai sebuah cerita yang utuh. Sebuah cerita baru yang mengandung nilai-nilai yang penting untuk dicermati.”

Sementara itu, Jero Penyarikan menyampaikan hal yang agak berbeda dengan Adnyana dalam membaca novel yang hampir 300 halaman ini. Menurut Jero, saat membaca novel kolosal ini, ia agak susah menghilangkan perspektifnya terhadap sejarah dalam novel tersebut.

“Karena banyak sekali anasir-anasir yang terkait dengan (sejarah) Kintamani,” Kata penulis buku Ekologisme Batur itu.

Pendapat ini juga pernah disampaikan Guna Yasa. Kata Guna Yasa, sebagaimana dikutip dalam tulisan Jong Santiasa Putra, Manik dan Kabut yang Dicarinya, pengarang berusaha untuk mengacu pada sejarah di Kintamani, terhadap satu cerita Jaya Pangus dan Kang Cing Wi, konfrontasi ini dihadirkan dalam satu penyusunan nama daerah, kisah yang hampir menyerupai, serta deskripsi wilayah yang sangat dekat dengan Kawasan Kintamani.

Bagi Jero Penyarikan, daftar istilah Bali yang ditulis Manik dalam novelnya juga sangat membantu pembaca di luar Bali. Walupun, menurutnya, di sisi lain itu juga bisa menyulitkan pembaca di luar Bali karena harus membolak-balik halaman. “Banyak sekali istilah-istilah Bali yang digunakan. Dalam novel ini, anasir Balinya sangat kuat. Padahal, sebenarnya bisa mencari padanan kata dalam Bahasa Indonesia. Misalnya, damuh, bisa diterjemahkan dengan embun. Pakuleman, tempat tidur. Kemudian tiying, bambu.”

Walupun Jero Penyarikan menganggap bahwa istilah Bali dalam novel ini di satu sisi menyulitkan pembaca, tetapi di sisi lain hal ini jurtu dianggap sebagai kekuatan novel karena banyak merekam istilah Bali. Artinya, secara tidak langsung, Manik mencoba mengabadikan istilah-istilah Bali dalam novelnya.

Selanjutnya, yang membuat Jero tidak dapat mengelak dari sejarah saat membaca novel Kota Kabut Walli Jing-Kang ini, adalah banyaknya kosa kata yang merujuk pada daerah yang bersejarah¾dan kebetulan memang, Jero Penyarikan dan Manik Sukadana berasal dari derah yang sama, Bangli. “Misalnya, Wali Dwipa, dalam pemikiran saya pasti Bali Dwipa. Atau Cintamani Mal. Alas Metaum.”

Selain banyak merujuk pada tempat-tempat di Bangli, Jero juga mengungkapkan bahwa dalam novel ini juga banyak merujuk pada kosakata-kosakata yang terkait dengan irisan sejarah Bali Kuna. Misalnya kata masaka, yang menurut Jero bisa disepadankan dengan kata uang. “Jadi pajak itu dalam prasasti Bali Kuna dibayar dengan masaka.”

Secara umum, Jero Penyarikan sangat menikmati saat membaca novel ini.

Kedek Sonia Piscayanti urun pendapat terkait novel yang sedang didiskusikan. “Pertama, kesan saya membaca novel Manik itu adalah Manik itu sabar, bahasanya mengalir, dia memberikan perspektif lain dari novel-novel yang pernah saya baca.”

Menurut Sonia, novel ini menarik karena menggunakan medium-medium pengobatan menjadi bagian dari konflik. Hal ini, kata Sonia, seperti relevan dengan kondisi pandemi saat ini. “Siapa yang memegang obat dialah yang menang.” Dalam novel ini, menurut Sonia, obat-obatan itu menjadi sangat sentral.

Para peserta bedah novel Kota Kabut Walli Jing Kang

Tidak hanya memuji, Sonia juga mengutarakan kritiknya terhadap pendalaman karakter. Sonia beranggapan bahwa karakter dalam novel tidak bisa lepas dari karakter Manik sebagai pengarang. “Suara semua tokoh, rasanya, bagi saya itu suara Manik,” ujar tuan rumah Mahima ini.

Terlepas dari apa yang disampaikan oleh Komang Adnyana dan Jero Penyarikan, Manik Sukadana sebagai penulis menegaskan bahwa novel ini bukan novel sejarah. “Karena saya tidak ingin mengatakan bahwa novel ini sebagai novel sejarah,” kata Manik saat memberikan sekapur sirih di akhir diskusi.

Di akhir diskusi, Manik menyampaikan bahwa masih ada delapan novel lagi yang sedang dipersiapkannya. Luar biasa. Sambil menunggu Manik menyelesaikan satu per satu tulisannya, silakan Anda nikmati dulu novel pertamanya, Kota Kabut Walli Jing-Kang. Pahami, bicarakan, dan pecahkan teka-teki di dalamnya. Selamat, Manik.[T]

Simak video selengkapnya

Tags: novelsastraTatkala May May May 2022
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jarak, Pecahan Narasi Kota dalam Anthembawu

Next Post

Gong Kebyar Legendaris | Sekaa Gong Gunung Sari dari Peliatan, Mendunia Sejak 1930-an

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Gong Kebyar Legendaris | Sekaa Gong Gunung Sari dari Peliatan, Mendunia Sejak 1930-an

Gong Kebyar Legendaris | Sekaa Gong Gunung Sari dari Peliatan, Mendunia Sejak 1930-an

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co