2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mendayung di antara Dua Karang: Sebuah Refleksi HUT PGRI dan Hari Guru Nasional 2023

I Wayan Suarsa Dharmana by I Wayan Suarsa Dharmana
November 20, 2023
in Esai
Mendayung di antara Dua Karang: Sebuah Refleksi HUT PGRI dan Hari Guru Nasional 2023

Ilustrasi diolah dari Canva

TULISAN INI muncul diawali kegelisahan ketika oknum “guru itu” menjadi objek pengadilan medsos dengan kata-kata hujatan yang vulgar. Lalu apakah hujatan vulgar itu berhubungan dengan situasi, sifat, emosi kolektif masyarakat Bali? Atau apakah berhubungan dengan krisis dan situasi sosial masyarakat Bali?—jika meminjam istilah yang dimunculkan Anak Agung Paramita dalam Buku “Wajah Tuhan dan Sifat Pemuja”.

Resah dan gelisah. Mungkin demikian yang dirasakan guru-guru ketika sebuah video viral di media sosial belakangan ini menghebohkan masyarakat di Bali. Terlihat dalam rekaman video tersebut seorang guru hendak mencukur rambut muridnya. Berbagai persepsi muncul, mirisnya sosok guru tersebut—yang tampaknya guru senior—menjadi sasaran “pengadilan medsos” dari netizen. Jika di video guru “dipersepsikan” sebagai pelaku kekerasan, maka di media sosial guru menjadi “korban” tindakan kekerasan.

Kondisi ini menjadi sebuah sinyal bagi guru sebagai pendidik dalam upaya pembentukan disiplin dan karakter murid. Pola-pola lama tentunya tidak lagi relevan untuk diterapkan, sedangkan pola-pola baru dalam pembentukan disiplin dan karakter masih mencari-cari bentuknya.

Menyikapi situasi ini mengingatkan kembali pidato Bung Hatta 2 September 1948, “Mendayung di antara Dua Karang”, yaitu menggambarkan posisi Indonesia ketika terjadi perebutan pengaruh antara Uni Soviet dengan Amerika Serikat. Posisi Indonesia saat itu ibarat kapal yang sedang berlayar di laut lepas, dan harus melewati dua karang raksasa.

Kondisi dan situasi yang dihadapi Indonesia pada masa itu relevan dengan kondisi dan situasi yang dihadapi guru di masa kini. Ibaratnya berlayar di laut lepas agar tidak membentur karang, maka guru mulai mentransformasikan diri ketika dihadapkan membentuk disiplin dan karakter murid.

Pola-pola lama tidak lagi relevan diterapkan, sedangkan di sisi lain pola-pola baru belum menemukan bentuknya. Pertanyaan besarnya adalah apa dan bagaimana yang boleh dilakukan guru untuk membentuk disiplin dan karakter? Mengingat masih besarnya porsi yang “dibebankan” kepada sekolah dalam pembentukan disiplin dan karakter. Zaman telah berubah namun pola fikir bahwa sekolah satu-satunya tempat anak dididik masih belum berubah.

Mendidik dan mendisplinkan Gen Z tentunya berbeda dengan generasi sebelumnya. Lickona (2012) mengungkapkan bahwa ada sepuluh indikasi penurunan moral anak muda yang perlu mendapatkan perhatian agar bertransformasi ke arah yang lebih baik, salah satunya adalah “pengabaian terhadap aturan yang berlaku”. Inilah sebuah kondisi yang dihadapi oleh guru dan perlu suatu langkah dalam menyikapinya agar tidak berbenturan dengan aturan yang berlaku.

Di sinilah perlunya peran serta dari orang tua dan jangan menyerahkan sepenuhnya kepada institusi sekolah. Sekolah jangan diibaratkan seperti “mesin cuci” untuk membersihkan anak dari “kekotoran” yang dibentuk oleh lingkungan tempat tinggal.

Pemikiran usang bahwa pendidikan bagi putra putri mereka adalah tanggung jawab sekolah harus ditinggalkan. Mental laundry hendaknya ditinggalkan, anak dilihat sebagai baju kotor, sekolah dapat mencuci mereka sampai bersih dan orang tua tinggal mengambil jika sudah bersih, (Freire, 2002).  

“Ketika ada permasalahan dengan anak di sekolah agar melakukan komunikasi dengan orang tua/wali,” demikian kata-kata yang sering terucap. Gampang dikatakan namun implementasinya memerlukan pemikiran lebih karena akan bertemu dengan berbagai karakter orang tua dan pola asuhnya terhadap anak.

Permisif salah satunya. Orang tua dengan pola asuh permisif cenderung memprioritaskan kenyamanan anak, sehingga mereka akan bersikap layaknya teman kepada anak. Anak yang menerima pola asuh ini juga jarang mendapatkan aturan yang ketat atau hukuman.

Namun di sisi lain, orang tua menjadi lemah terhadap setiap keinginan anak. Sehingga mereka tidak bisa mengatakan “tidak” dan cenderung memanjakan anaknya. Akibat yang muncul salah satunya adalah anak tidak dapat mengikuti aturan.

Sesuai tema HUT PGRI dan Hari Guru Nasional tahun ini, “Transformasi Guru, Wujudkan Indonesia Maju”, guru dituntut untuk bertransformasi meningkatkan kompetensi dirinya dengan salah satu caranya adalah membentuk disiplin dan karakter murid sesuai dengan kewajiban guru namun tidak berbenturan dengan aturan yang berlaku.

Guru masih “gamang” dengan implementasi hal tersebut sesuai amanat Permedikbud No. 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan—yang masih dalam fase sosialisasi dan memerlukan waktu menemukan bentuk dan formulasi yang tepat. Terus apa yang dapat dilakukan guru agar tidak berbenturan dengan “karang”?

Upaya awal yang sekiranya dapat dilakukan adalah, pertama, membuat kesepakatan kelas antara murid, guru mapel, dan wali kelas. Kesepakatan kelas adalah pernyataan tujuan bersama dan standar perilaku antara siswa dan guru dalam lingkungan kelas. Kesepakatan ini menetapkan harapan untuk semua orang di kelas dan mendorong rasa saling menghormati, kerja sama, dan keamanan. Dalam pembuatannya harus menyertakan daftar konsekuensi jika melanggar perjanjian, sehingga setiap orang yang terlibat tahu apa yang akan terjadi jika mereka menyimpang dari aturan.

Kedua, guru bersama-sama memperhatikan disiplin murid dan selalu mengingatkan disiplin sebelum memulai pembelajaran. Semakin banyak yang mengingatkan disiplin kepada murid, maka semakin banyak informasi yang terserap dalam pikiran dan alam bawah sadar murid. Dan efektivitasnya pasti akan meningkat. Ranah mengingatkan disiplin bukan hanya ranah BK atau Kesiswaan, namun menjadi tanggung jawab bersama semua guru.

Ketiga, membangun komunikasi yang lebih erat dengan orang tua murid, yang dimulai dari wali kelas dan BK, dan mengundang orang tua murid untuk membicarakan permasalahan disiplin anaknya di sekolah atau melakukan homevisit setiap permasalahan murid yang sulit ditangani. Langkah ini memang lebih menguras waktu, tenaga, dan pikiran guru namun langkah ini menjadi solusi yang lebih efektif agar konektivitas antara sekolah dan orang tua berada dalam satu jalur.

Keempat, satuan pendidikan lebih intens mengundang orang tua murid sebagai guru tamu atau sekadar berkunjung melihat proses pendidikan putra-putri dan mensosialisasikan program-program sekolah, terutama tata tertib sekolah sebagai langkah untuk penyamaan persepsi.

Komunikasi yang kurang bagus akan berimbas pada persepsi yang berbeda. Walapun dalam konteks ini, belum tentu semua orang tua/wali meluangkan waktunya untuk hadir, tapi dapat disikapi dengan mengirimkan notulen hasil keputusan agar diketahui oleh orang tua/wali.

Selamat HUT PGRI dan Hari Guru Nasional 2023.[T]

Catatan Kecil Pelaksanaan Kemitraan antara Dosen dan Guru di  Sekolah
Bukan Guru Abal-Abal
Serdik: Senjata Sakti dan Tajam bagi Guru dalam Peperangan
Tags: guruPGRIsekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kuliah Kerja Nangkil: Perjalanan ke Pura Base, Melewati Sungai dan Hutan Tangkil

Next Post

Di Peti Kopi, Kita Bisa Minum Kopi ala Barista dengan Harga Terjangkau

I Wayan Suarsa Dharmana

I Wayan Suarsa Dharmana

Pendidik di SMK Negeri 1 Tampaksiring, Lulusan Pendidikan Sejarah Undiksha Singaraja dapat dijumpai pada akun media sosial FB Suarsa Dharmana

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Di Peti Kopi, Kita Bisa Minum Kopi ala Barista dengan Harga Terjangkau

Di Peti Kopi, Kita Bisa Minum Kopi ala Barista dengan Harga Terjangkau

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co