2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kegagalan Partai Politik dalam Merekrut Kader

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
November 24, 2023
in Esai
Kekuatan Politik Baru Itu Bernama Majelis Desa Adat

Gambar ilustrasi: tatkala.co

“Tanggung jawab pertama seorang politisi itu adalah kepada rakyat” – Sabam Sirait

PADA TAHUN 1950 hingga 1970-an, politisi dianggap sebagai profesi yang mulia. Banyak orang tua yang menginginkan anaknya menjadi seorang politisi, dengan harapan dapat menciptakan kesejahteraan bagi orang banyak. Setidaknya itu yang disampaikan oleh Anies Baswedan pada Dialog Publik yang diinisiasi Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Surakarta beberapa waktu lalu.

Memang benar, politisi adalah jalan untuk merengkuh kekuasaan, dan melalui kekuasaan yang dibarengi dengan kewenangan tertentu, maka si pemilik kekuasaan dapat melahirkan kebijakan-kebijakan yang dapat memudahkan kehidupan rakyat.

Namun, belakangan ini fenomena yang terjadi justru berbeda. Jamaknya pejabat publik yang notabene seorang politisi tertangkap tangan melakukan korupsi menggerus kepercayaan publik. Benarkah politisi masih menjadi profesi yang mulia dan dianggap mampu menghadirkan kesejahteraan bagi orang banyak? Pertanyaan ini perlu terus dihidupkan sebagai bentuk evaluasi terhadap pemimpin-pemimpin bangsa yang menyelewengkan kepercayaan rakyat.

Sebelum menyoroti politisi lebih mendalam, peran dari partai politik tentu tidak bisa dilepaskan dari situasi saat ini. Politisi lahir dari rahim-rahim partai politik yang memiliki ideologinya masing-masing—setidaknya ideologi yang dianut partai politik di Indonesia tidak lepas dari Pancasila dan UUD NRI 1945.

Partai politik oleh UUD NRI diberikan kewenangan yang sangat besar, karena hanya melalui partai politiklah pemimpin-pemimpin bangsa dapat dilahirkan. Anda ingin duduk di kursi eksekutif maupun legislatif wajib melalui sebuah organisasi yang bernama partai politik. Mengingat pentingnya peran yang diemban, partai politik tidak boleh setengah-setengah dalam menjalankan fungsinya ini.

Menurut Miriam Budiardjo dalam Dasar-Dasar Ilmu Politik, salah satu fungsi penting dari partai politik adalah “rekrutmen politik”—hal-hal yang berkaitan erat dengan masalah seleksi kepemimpinan, baik kepemimpinan di internal partai maupun kepemimpinan nasional. Partai politik memiliki tanggung jawab untuk mencetak kader-kader berkualitas, tidak hanya demi kepentingan internal partai, tetapi yang lebih penting lagi adalah untuk kepentingan bangsa yang lebih luas.

Jalan Pintas

Sayangnya partai politik hari ini menyuguhkan cara-cara yang instan dalam merekrut kader di internal partainya. Berlandaskan atas popularitas yang dimiliki individu, partai politik melakukan rekrutmen demi kepentingan meraih suara di ajang pemilu. Tidak heran banyak partai politik di Indonesia merekrut pesohor-pesohor negeri yang telah memiliki popularitas di tengah masyarakat, sehingga memudahkan mereka dalam memperkenalkan diri.

Mengutip apa yang dikatakan oleh Alissa Wahid, “Negeri ini membutuhkan orang yang cerdas dalam memimpin, bukan orang yang ngetop”, maka partai politik di negeri ini telah keliru dalam memahami fungsinya.

Salah satu rekrutmen yang membikin gempar negeri adalah bergabungnya Kaesang Pangarep (putra bungsu Joko Widodo) ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Hanya butuh dua hari saja pasca menerima kartu tanda anggota (KTA), Kaesang langsung didapuk sebagai Ketua Umum oleh Dewan Pembina PSI. Apa yang terjadi di tubuh PSI tentu membuat banyak pakar geleng-geleng kepala.

Keberhasilan Kaesang menjadi Ketua Umum tentu tidak lepas dari kelebihan yang dimilikinya—putra seorang Presiden RI, hehe. Saya menduga bahwa popularitas, media, serta akses yang dimiliki oleh Kaesang menjadi pertimbangan utama bagi PSI mengangkatnya sebagai Ketua Umum, meski baru dua hari secara resmi menjadi anggota.

Saya pun tidak pernah membayangkan bahwa partai politik dapat melakukan rekrutmen secepat kilat semacam itu. Sebagai orang yang aktif di organisasi, saya pikir untuk menjadi pemimpin sebuah organisasi, harus ada proses yang harus dilalui, setidaknya jenjang kaderisasi di internal organisasi—begitu pun dengan partai politik.

Fenomena tersebut menunjukkan secara terang ke hadapan publik bahwa partai politik telah gagal melakukan kaderisasi di internal partainya. Langkah merekrut pesohor negeri jelang pemilu demi meraup suara lebih yang nantinya dikonversi sebagai kursi, juga langkah kilat mengangkat seseorang menjadi ketua umum meski baru menjadi anggota selama dua hari adalah fakta politik yang menunjukkan bahwa partai politik telah gagal dalam menjalankan fungsinya.

Fenomena partai politik seperti ini sudah dijelaskan oleh Andrew Heywood. Menurutnya, partai politik modern hari ini telah masuk dalam kategori yang diistilahkan oleh Otto Kirchheimer sebagai “catch all party” atau “partai tangkap semua”.

Sebuah istilah yang menunjukkan bahwa partai politik secara drastis mengurangi muatan ideologis mereka dalam rangka memenuhi sebanyak mungkin jumlah pemilih dan kemenangan dalam pemilu. Singkatnya, partai politik hari ini lebih mengedepankan pragmatisme semata tinimbang kepentingan-kepentingan besar lainnya.

Fenomena-fenomena semacam ini menunjukkan bahwa demokrasi hari ini sedang mengalami defisit. Turunnya kepercayaan publik terhadap partai politik yang notabene memiliki peran penting dalam menyiapkan pemimpin bangsa masa depan justru mempertontonkan cara-cara instan dalam mencapai kepentingan kelompoknya.

Hal ini kemudian yang menyebabkan banyak partai dan wakil rakyat kehilangan hubungan dengan rakyat yang diwakilinya. Kalau sudah begini, apakah kita akan tetap begini-begini saja tanpa melakukan penghakiman terhadap mereka?[T]

  • Baca esai-esai politik TEDDY CHRISPRIMANATA PUTRA lainnya DI SINI
Tags: Partai PolitikPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Refleksi Hari Guru Nasional 2023: Karmayoga Seorang Guru

Next Post

Whoosh…Mencari Kerja Secepat Laju Kereta Api Ekspres

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Whoosh…Mencari Kerja Secepat Laju Kereta Api Ekspres

Whoosh…Mencari Kerja Secepat Laju Kereta Api Ekspres

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co