23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tantangan Guru sebagai “Generator” dan Penggerak Literasi pada Era Industri 4.0 | Catatan Hari Guru

I Gede Eka Putra Adnyana by I Gede Eka Putra Adnyana
November 25, 2021
in Esai
Tantangan Guru sebagai “Generator” dan Penggerak Literasi pada Era Industri 4.0 | Catatan Hari Guru

Penulis (kanan) bersama teman-teman guru pada peringatan Hari Guru Nasional, 25 November 2021

Fenomena riil negeri ini hingga pada era industri 4.0 atau abad 21 atau era milenial dan kemajuan revolusi industri dewasa ini ternyata masih ada warga atau masyarakat yang kurang respek terhadap literasi atau bahkan tuna aksara. Warga yang tak melek membaca itu pun tidak sedikit jika ditakar secara kuantitas atau dapat dikatakan hampir separuh bahkan lebih dari jumlah warga kita.

Yang lebih menyedihkan adalah usia-usia yang masih produktif atau para generasi muda penerus dan garda bangsa ini yang sangat lemah kualitas membacanya. Problem ini sesungguhnya menguak mata hati nurani kita, terutama yang merasa lebih intelek, terlebih lagi selaku pendidik atau guru. Ironis memang, bila kondisi warga ini ditengarai oleh faktor ekonomi atau kemiskinan sehingga mereka lebih mementingkan upaya menyambung hidup ketimbang melakukan kegiatan literasi.

Berpijak pada fenomena tersebut, tugas kita selaku warga yang memiliki kemampuan lebih dalam hal literasasi adalah membantu mereka, menyadarkan dan membangun budaya literat dengan penuh kesungguhan. Sudah tentu bantuan yang diberikan dalam hal ini berupa jasa yakni mengubah paradigma mereka agar melek huruf, melek baca-tulis untuk pencerdasan kehidupan mereka tentunya sesuai dengan  hak dalam memperoleh pendidikan yang layak.

Untuk mengejawantahkan kondisi itu perlu komitmen, kesukarelaan, dan pengabdian tanpa batas. Namun dibalik itu, ada pertanyaan mendasar muncul, apakah perlu sentuhan guru untuk upaya menjadikan anak-anak dalam berliterasi? Jika dijawab tidak, mungkin terlalu naif, mengingat di masyarakat tidak terlalu responsif terhadap pola asuh membaca, sekaligus tidak ada agenda-agenda khusus yang berani mengelola masyarakat untuk sebuah misi literasi akhir-akhir ini. Oleh karena itu, bagaimana solusi yang bisa diwujudkan untuk hal ini?

Tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara pernah berseru bahwa perlu adanya mobilisasi intelektual. Sebuah ajakan yang bersifat brilian untuk seluruh intelekual Indonesia yang pada saat itu (tahun 1936) juga melakukan wajib belajar. Semua orang yang melek huruf (bisa membaca menulis, berbicara dengan baik) diminta menularkan kemampuannya kepada semua orang yang ada di sekitarnya.

Dengan semboyan “semua rumah menjadi tempat kegiatan belajar-mengajar dan semua intelektual menjadi guru”. Pada esensinya kini, kegiatan ini secara realistis sangat memungkinkan dilakukan mengingat pentingnya kecakapan literasi baca-tulis pada abad 21 atau jaman milenial ini. Dengan ini diharapkan tidak ada lagi saudara sebangsa yang tidak melek membaca apalagi tuna aksara.

Seandainya anjuran Ki Hadjar Dewantara yang begitu brilian dan bijasana, dengan tujuan agar semua orang yang memiliki kemampuan literasi mau dan mampu mengimplementasikan kemampuannya itu kepada warga masyarakat yang memiliki daya literasi rendah, maka bangsa ini secara perlahan dengan penuh keyakinan akan memiliki warga yang melek baca, cerdas, dan mampu bersaing sesuai tuntutan jaman.

Di sisi lain, pemerintah sebagai penentu kebijakan tidak perlu beban memuat regulasi untuk program literasi, biaya banyak, mencari atau membentuk fasilitator untuk memberdayakan warga agar memiliki budaya literat. Jika saja semu rumah bisa dijadadikan tempat belajar membaca dan menulis, pemerintah pun tidak terlalu payah merancang biaya untuk sekadar membangun areal belajar untuk membangun warga yang memiliki kesadaran literasi. Waktu belajar membaca-menulis pun tidak mesti terlalu padat. Kegiatan belajar-mengajar yang bernuansa literasi dapat dilakukan secara rileks, misalnya dilakukan satu atau dua kali pertemuan dalam seminggu dan setiap pertemuan paling lama dua jam.

Kondisi ini dilakukan secara konsisten dan kontinyu dengan target indikator yang telah direncanakan yakni melatihkan, membudayakan, mencintai, dan membentuk mental-mental yang literat. Bukan tidak mungkin dalam jangka waktu setahun ke depan warga kita, anak-anak bangsa ini akan memiliki kesadaran terhadap literasi dan akan memahami dengan sepenuh hati terhadap arti penting membaca bagi kehidupan.

Masalahnya sekarang, tinggal bagaimana memobilisasi guru dan para intelektual turut serta dalam memberdayakan budaya literasi di kalangan warga anak-anak saat ini. Mobilisasi ini bukan hal yang muluk-muluk atau mustahil sekalipun. Para penentu kebijakan bisa menghemat biaya negara, misalnya dengan mengajak semua para intelektual yang ada di masyarakat dengan penuh kesadaran untuk mau menjadi guru yang memiliki misi membangun kesadaran literat untuk anak-anak saat ini. Memang persoalan di lapangan tentu tidak sesederhana itu. Akan tetapi, paling tidak jika anjuran Ki Hadjar Dewantara tersebut dapat dijadikan bahan perenungan bersama, apalagi dijadikan sebagai sebuah gerakan pembelajaran yang bersifat nasional. Dengan begitu negara ini akan menghemat anggaran yang tidak sedikit hanya untuk program literasi.

Supaya tidak sekadar wacana, yang paling urgen adalah pengimplementasian program secara realistis dengan metode apa saja yang akan digunakan untuk membangun kesadaran budaya literasi secara merata sehingga tidak ada ketimpangan. Harus terbukti secara riil, yang tentu saja tidak bisa dengan mudah diwujudkan. Perlu kerja keras, komitmen, saling koordinasi, dan kesungguhan hati dari semua stick holder sehingga tidak sekadar seni retorika yang pada akhirnya hanya meninggalkan jejak tipis. Begitu pula dengan warga anak-anak yang akan disasar, tidak usah merasa beban apalagi risau. Usaha yang diupayakan oleh pemerintah untuk pendidikan bagi seluruh warga negara patut disambut dengan semangat dan dilakoni demi kecakapan masyarakat itu sendiri.

Pada akhirnya sepakat, dengan meminjam istilah Bapak Fuad Hasan, kita tidak terlalu memerlukan guru yang pintar, tetapi sangat dibutuhkan guru yang mampu menghidupkan dan menggerakkan “generator” pemikiran anak bangsa ini.

Selamat hari guru untuk para guru tercinta! [T]

Tags: Hari GuruHari Guru NasionalLiterasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

The Power of Money, Slavery, Misery, Tantangan Kemanusiaan di Era Kekinian

Next Post

Guru Berprestasi Layak Dapat Hadiah | Bupati Suradnyana Puji Disdikpora Buleleng

I Gede Eka Putra Adnyana

I Gede Eka Putra Adnyana

Ceo_Kumunitas Tanpa Laut,Pengajar, Penulis, Pekerja freelance

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Guru Berprestasi Layak Dapat Hadiah | Bupati Suradnyana Puji Disdikpora Buleleng

Guru Berprestasi Layak Dapat Hadiah | Bupati Suradnyana Puji Disdikpora Buleleng

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co