22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anak-anak dan Media: Antara Manfaat, Bahaya, dan Pembentukan Identitas

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
October 8, 2024
in Esai
Anak-anak dan Media: Antara Manfaat, Bahaya, dan Pembentukan Identitas

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari Canva

ANAK-ANAK kita kini telah menjadi konsumen media yang loyal dan rakus. Mereka mengakses berbagai konten dari aplikasi bioskop online,  channel televisi online, berbagai platform media sosial , TikTok, YouTube, hingga game online.  Jika kita tidak aware, yang nampak demikian memang hanyalah sebagai hiburan yang sederhana.

Namun tidaklah demikian karena ini adalah suatu ekosistem kompleks, di mana otak, perasaan, dan identitas mereka kemudian perlahan terbentuk secara diam-diam, di luar pengawasan kita.  Setiap hari, mereka terpapar konten yang memengaruhi pola pikir, emosi, dan cara pandang mereka terhadap lingkungan sekitar mereka dari lingkup kecil keluarga, tetangga, sekolah, hingga dunia.

Janganlah sampai kita kemudian tertipu oleh kesenangan yang anak-anak ini rasakan saat bermain gadget, karena media tidak hanya sekadar alat hiburan, tetapi seperti kata Marshall McLuhan dalam bukunya  “Understanding Media:The Extensions of Man”, media juga agen yang membentuk masa depan generasi ini tanpa kita sadari (McLuhan, 1964). Bagaimana teori yang sudah lama ini masih relevan hingga sekarang? Mari kita tilik pelan-pelan.

Frekuensi dan Durasi Konsumsi Media

Kita kembali ke Marshall McLuhan yang pernah mengatakan bahwa “the medium is the message”. Artinya dalam konteks ini, media yang anak-anak konsumsi bukan hanya alat untuk menyampaikan konten, tetapi juga akan mengubah cara mereka berpikir, menyelami, dan memahami dunia. Jika dalam sehari mereka beberapa kali membuka Instagram atau TikTok, hal ini bukan semata hanya soal durasi, tetapi bagaimana kemudian media ini lalu bisa membentuk dan mengatur pola pikir mereka.

Anak-anak yang terlalu sering terpaku pada media sosial cenderung kehilangan kemampuan untuk fokus dan berpikir kritis. Ada suatu kebiasaan dalam konsumsi gadget yaitu berpindah dari satu konten ke konten lain dalam hitungan detik  seperti doomscrolling, doom surfing atau ada juga yang menyebut sebagai content grazing, hal ini menciptakan budaya instan yang bisa berbahaya bagi perkembangan kognitif dan afektif anak dalam jangka panjang. Konsumsi konten media yang macam ini membuat mereka terbiasa dengan interaksi cepat dan serba tanggap, tapi sayangnya, dangkal.

Penelitian menunjukkan bahwa hal ini bisa memengaruhi kemampuan berpikir secara mendalam.

Menurut laporan Common Sense Media (2022), rata-rata anak-anak menghabiskan 7,5 jam per hari di depan layar gadget. Sekali lagi mengingatkan, ini bukan hanya soal kehilangan waktu untuk bermain atau belajar, tetapi juga menyoal bagaimana media secara perlahan menggantikan cara mereka berinteraksi dengan dunia nyata. Coba kita amati, mereka lebih banyak mendapatkan informasi dari layar yang mereka pegang, ketimbang mendapatkan pengalaman langsung, dan inilah yang kemudian membentuk pola pikir mereka, membentuk cara mereka memahami lingkungan di sekitar mereka (Carr, 2010).

Pengaruh Konten

Di satu sisi, konten media memang diakui  bisa memberikan manfaat edukatif yang signifikan. Video tutorial, dokumenter tentang alam, hingga berbagai aplikasi edukasi yang dapat menstimulasi perkembangan intelektual anak. Sesuai dengan teori Jean Piaget tentang perkembangan kognitif, anak-anak membutuhkan konten yang selaras dengan tahap perkembangan mereka, agar mentalnya dapat berkembang secara  optimal.

 Harapannya demikian, tapi realitasnya, banyak dari mereka justru terpapar konten yang jauh dari itu—kekerasan, seksualisasi dini, dan promosi gaya hidup adiktif menjadi bom waktu bagi perkembangan moral dan emosional anak. Konten-konten ini bukan hanya tidak sesuai, tapi juga bisa menghambat perkembangan kognitif yang seharusnya terjadi secara bertahap, seperti dijelaskan oleh Piaget. Misalnya, paparan kekerasan di video game atau film sering kali membuat anak lebih agresif dan tumpul terhadap kekerasan nyata (Anderson & Bushman, 2001). Tidak hanya kekerasan, seksualitas dini dan sensualitas juga kerap disisipkan dalam game dan film.

Penuh Persahabatan Virtual namun Kesepian di Dunia Nyata

Media sosial telah mengubah cara anak-anak jaman sekarang berinteraksi dengan teman sebaya dan keluarga mereka. Lewat platform seperti Instagram, TikTok, atau WhatsApp, mereka dapat berkomunikasi secara instan, intens, dan terus-menerus.

Namun, apakah ini membuat interaksi sosial mereka lebih kaya dan bermakna? Atau justru semakin dangkal dan hampa? Menurut teori perkembangan kognitif Lev Vygotsky, interaksi sosial adalah komponen kunci dalam perkembangan mental anak (Vygotsky, 1978).

 Namun, media sosial cenderung membatasi interaksi menjadi teks singkat, emoji, dan gambar, yang sering kali tidak dapat menggantikan kedalaman komunikasi tatap muka.

Sebuah penelitian oleh Twenge et al. (2018) menemukan bahwa peningkatan penggunaan media sosial pada anak-anak justru berkorelasi dengan peningkatan kesepian, depresi, dan kecemasan sosial. Hal ini tentu saja lalu menjadi serius.

 Dampak negatif lain dari media sosial adalah meningkatnya kasus cyberbullying. UNICEF mencatat, sepertiga anak muda di 32 negara melaporkan alami perundungan di dunia maya atau cyber bullying, yang bisa berdampak buruk pada kesehatan mental mereka. Interaksi sosial yang seharusnya memperkaya kehidupan anak-anak justru berubah menjadi arena yang penuh tekanan dan kecemasan.

Bahaya Tersembunyi Media Sosial

Tahap perkembangan identitas, seperti yang dijelaskan oleh Erik Erikson, adalah periode kritis dalam hidup anak-anak, terutama selama masa remaja (Erikson, 1968). Dikuatkan oleh Jane Kroger (2007), dalam bukunya “Identity Development: Adolescence Through Adulthood”, pada tahap ini, anak-anak mulai mencari tahu siapa mereka sebenarnya dan bagaimana mereka ingin dilihat oleh dunia. Media sosial saat ini, dengan berbagai tipe gaya influencer dan tren yang berubah-ubah, memainkan peran besar dalam pembentukan identitas ini.

Namun sayangnya pengaruh media sosial sering kali lebih merusak daripada membantu. Anak-anak dibanjiri dengan citra tubuh yang sempurna, gaya hidup mewah, dan tren yang tidak realistis, yang dapat menimbulkan rasa tidak puas terhadap diri mereka sendiri dan keluarga mereka.

Sebuah studi oleh Tiggemann & Slater (2014) menemukan bahwa remaja yang sering terpapar media sosial cenderung memiliki citra tubuh yang negatif dan lebih rentan terhadap masalah kesehatan mental seperti anoreksia atau bulimia.

Bagaimana anak-anak dapat membangun identitas yang sehat di tengah banjir informasi ini? Salah satu kuncinya adalah membekali mereka dengan kesadaran kritis. Orang tua dan para pendidik perlu mengajarkan anak-anak untuk memandang media dengan skeptis, artinya memberikan suatu pemahaman, bahwa apa yang mereka lihat di media sosial tidak selalu mencerminkan kenyataan. Banyak yang merupakan suatu pseudeo reality, kenyataan semu. Erikson menekankan pentingnya pencarian identitas yang autentik, dan media sosial dapat menjadi alat untuk eksplorasi, selama digunakan dengan kesadaran penuh (Erikson, 1968). Tentu saja ini memerlukan peran pendampingan dan bimbingan orang tua.

Apakah Kita Memilih Kalah?

Di era di mana media telah menyusup ke dalam hampir setiap aspek kehidupan anak-anak, penting bagi kita sebagai orang dewasa untuk tidak melepaskan kendali begitu saja. Media bukan sekadar alat komunikasi namun ia adalah kekuatan yang membentuk cara berpikir, merasa, dan bertindak anak-anak kita.

Jika kita hanya diam dan tidak bertindak, pola konsumsi media anak-anak akan membentuk masa depan mereka dengan cara yang mungkin tidak pernah kita inginkan. Anda bisa bayangkan, setiap kali mereka menggulir layar ponsel, algoritma di balik platform-platform besar sedang mengukir pikiran mereka, menentukan apa yang harus mereka prioritaskan, bagaimana mereka merasa, bahkan siapa mereka, dan seharusnya menjadi apa. Semua ini bahkan sudah terjadi tanpa pengawasan kita, tanpa kita memahami, betapa kuatnya pengaruh media dalam hidup anak-anak kita ini.

Maka dari itu, penulis yakin ini saatnya kita bertindak, bukan dengan cara melarang, tetapi dengan cara mendampingi mereka untuk memahami dan menggunakan media secara bijak. Jangan biarkan mereka tersesat dalam suatu dunia yang mereka sendiri tidak paham, terjebak dalam ilusi kesempurnaan yang ditawarkan oleh influencer atau tren yang terus berganti, demi cuan dan popularitas. Kita harus mengambil alih kendali, waspada, jangan gadaikan masa depan mereka pada layar yang berpendar. Pertanyaan reflektif untuk kita semua: Apakah kita sudah kalah? [T]

ACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Merdeka Berbangsa, Merdeka Bermedia
Iklan Modern: Seni Menjual Mimpi atau Manipulasi Tersembunyi?
Candu Media Sosial dan Kesehatan Mental
Media Sosial dan Judi Online: Kombinasi Mematikan bagi Ketahanan Negara
Teknologi Komunikasi dan Perubahan Masyarakat
Transformasi Radio: Menolak Mati dalam Gelombang Digitalisasi
Tags: anak-anakInstagrammedia sosialtiktok
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berguru ke Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Next Post

Pentas Produksi Teater Gadhang: Gog dan Magog

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Pentas Produksi Teater Gadhang: Gog dan Magog

Pentas Produksi Teater Gadhang: Gog dan Magog

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co