2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anak-anak dan Media: Antara Manfaat, Bahaya, dan Pembentukan Identitas

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
October 8, 2024
in Esai
Anak-anak dan Media: Antara Manfaat, Bahaya, dan Pembentukan Identitas

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari Canva

ANAK-ANAK kita kini telah menjadi konsumen media yang loyal dan rakus. Mereka mengakses berbagai konten dari aplikasi bioskop online,  channel televisi online, berbagai platform media sosial , TikTok, YouTube, hingga game online.  Jika kita tidak aware, yang nampak demikian memang hanyalah sebagai hiburan yang sederhana.

Namun tidaklah demikian karena ini adalah suatu ekosistem kompleks, di mana otak, perasaan, dan identitas mereka kemudian perlahan terbentuk secara diam-diam, di luar pengawasan kita.  Setiap hari, mereka terpapar konten yang memengaruhi pola pikir, emosi, dan cara pandang mereka terhadap lingkungan sekitar mereka dari lingkup kecil keluarga, tetangga, sekolah, hingga dunia.

Janganlah sampai kita kemudian tertipu oleh kesenangan yang anak-anak ini rasakan saat bermain gadget, karena media tidak hanya sekadar alat hiburan, tetapi seperti kata Marshall McLuhan dalam bukunya  “Understanding Media:The Extensions of Man”, media juga agen yang membentuk masa depan generasi ini tanpa kita sadari (McLuhan, 1964). Bagaimana teori yang sudah lama ini masih relevan hingga sekarang? Mari kita tilik pelan-pelan.

Frekuensi dan Durasi Konsumsi Media

Kita kembali ke Marshall McLuhan yang pernah mengatakan bahwa “the medium is the message”. Artinya dalam konteks ini, media yang anak-anak konsumsi bukan hanya alat untuk menyampaikan konten, tetapi juga akan mengubah cara mereka berpikir, menyelami, dan memahami dunia. Jika dalam sehari mereka beberapa kali membuka Instagram atau TikTok, hal ini bukan semata hanya soal durasi, tetapi bagaimana kemudian media ini lalu bisa membentuk dan mengatur pola pikir mereka.

Anak-anak yang terlalu sering terpaku pada media sosial cenderung kehilangan kemampuan untuk fokus dan berpikir kritis. Ada suatu kebiasaan dalam konsumsi gadget yaitu berpindah dari satu konten ke konten lain dalam hitungan detik  seperti doomscrolling, doom surfing atau ada juga yang menyebut sebagai content grazing, hal ini menciptakan budaya instan yang bisa berbahaya bagi perkembangan kognitif dan afektif anak dalam jangka panjang. Konsumsi konten media yang macam ini membuat mereka terbiasa dengan interaksi cepat dan serba tanggap, tapi sayangnya, dangkal.

Penelitian menunjukkan bahwa hal ini bisa memengaruhi kemampuan berpikir secara mendalam.

Menurut laporan Common Sense Media (2022), rata-rata anak-anak menghabiskan 7,5 jam per hari di depan layar gadget. Sekali lagi mengingatkan, ini bukan hanya soal kehilangan waktu untuk bermain atau belajar, tetapi juga menyoal bagaimana media secara perlahan menggantikan cara mereka berinteraksi dengan dunia nyata. Coba kita amati, mereka lebih banyak mendapatkan informasi dari layar yang mereka pegang, ketimbang mendapatkan pengalaman langsung, dan inilah yang kemudian membentuk pola pikir mereka, membentuk cara mereka memahami lingkungan di sekitar mereka (Carr, 2010).

Pengaruh Konten

Di satu sisi, konten media memang diakui  bisa memberikan manfaat edukatif yang signifikan. Video tutorial, dokumenter tentang alam, hingga berbagai aplikasi edukasi yang dapat menstimulasi perkembangan intelektual anak. Sesuai dengan teori Jean Piaget tentang perkembangan kognitif, anak-anak membutuhkan konten yang selaras dengan tahap perkembangan mereka, agar mentalnya dapat berkembang secara  optimal.

 Harapannya demikian, tapi realitasnya, banyak dari mereka justru terpapar konten yang jauh dari itu—kekerasan, seksualisasi dini, dan promosi gaya hidup adiktif menjadi bom waktu bagi perkembangan moral dan emosional anak. Konten-konten ini bukan hanya tidak sesuai, tapi juga bisa menghambat perkembangan kognitif yang seharusnya terjadi secara bertahap, seperti dijelaskan oleh Piaget. Misalnya, paparan kekerasan di video game atau film sering kali membuat anak lebih agresif dan tumpul terhadap kekerasan nyata (Anderson & Bushman, 2001). Tidak hanya kekerasan, seksualitas dini dan sensualitas juga kerap disisipkan dalam game dan film.

Penuh Persahabatan Virtual namun Kesepian di Dunia Nyata

Media sosial telah mengubah cara anak-anak jaman sekarang berinteraksi dengan teman sebaya dan keluarga mereka. Lewat platform seperti Instagram, TikTok, atau WhatsApp, mereka dapat berkomunikasi secara instan, intens, dan terus-menerus.

Namun, apakah ini membuat interaksi sosial mereka lebih kaya dan bermakna? Atau justru semakin dangkal dan hampa? Menurut teori perkembangan kognitif Lev Vygotsky, interaksi sosial adalah komponen kunci dalam perkembangan mental anak (Vygotsky, 1978).

 Namun, media sosial cenderung membatasi interaksi menjadi teks singkat, emoji, dan gambar, yang sering kali tidak dapat menggantikan kedalaman komunikasi tatap muka.

Sebuah penelitian oleh Twenge et al. (2018) menemukan bahwa peningkatan penggunaan media sosial pada anak-anak justru berkorelasi dengan peningkatan kesepian, depresi, dan kecemasan sosial. Hal ini tentu saja lalu menjadi serius.

 Dampak negatif lain dari media sosial adalah meningkatnya kasus cyberbullying. UNICEF mencatat, sepertiga anak muda di 32 negara melaporkan alami perundungan di dunia maya atau cyber bullying, yang bisa berdampak buruk pada kesehatan mental mereka. Interaksi sosial yang seharusnya memperkaya kehidupan anak-anak justru berubah menjadi arena yang penuh tekanan dan kecemasan.

Bahaya Tersembunyi Media Sosial

Tahap perkembangan identitas, seperti yang dijelaskan oleh Erik Erikson, adalah periode kritis dalam hidup anak-anak, terutama selama masa remaja (Erikson, 1968). Dikuatkan oleh Jane Kroger (2007), dalam bukunya “Identity Development: Adolescence Through Adulthood”, pada tahap ini, anak-anak mulai mencari tahu siapa mereka sebenarnya dan bagaimana mereka ingin dilihat oleh dunia. Media sosial saat ini, dengan berbagai tipe gaya influencer dan tren yang berubah-ubah, memainkan peran besar dalam pembentukan identitas ini.

Namun sayangnya pengaruh media sosial sering kali lebih merusak daripada membantu. Anak-anak dibanjiri dengan citra tubuh yang sempurna, gaya hidup mewah, dan tren yang tidak realistis, yang dapat menimbulkan rasa tidak puas terhadap diri mereka sendiri dan keluarga mereka.

Sebuah studi oleh Tiggemann & Slater (2014) menemukan bahwa remaja yang sering terpapar media sosial cenderung memiliki citra tubuh yang negatif dan lebih rentan terhadap masalah kesehatan mental seperti anoreksia atau bulimia.

Bagaimana anak-anak dapat membangun identitas yang sehat di tengah banjir informasi ini? Salah satu kuncinya adalah membekali mereka dengan kesadaran kritis. Orang tua dan para pendidik perlu mengajarkan anak-anak untuk memandang media dengan skeptis, artinya memberikan suatu pemahaman, bahwa apa yang mereka lihat di media sosial tidak selalu mencerminkan kenyataan. Banyak yang merupakan suatu pseudeo reality, kenyataan semu. Erikson menekankan pentingnya pencarian identitas yang autentik, dan media sosial dapat menjadi alat untuk eksplorasi, selama digunakan dengan kesadaran penuh (Erikson, 1968). Tentu saja ini memerlukan peran pendampingan dan bimbingan orang tua.

Apakah Kita Memilih Kalah?

Di era di mana media telah menyusup ke dalam hampir setiap aspek kehidupan anak-anak, penting bagi kita sebagai orang dewasa untuk tidak melepaskan kendali begitu saja. Media bukan sekadar alat komunikasi namun ia adalah kekuatan yang membentuk cara berpikir, merasa, dan bertindak anak-anak kita.

Jika kita hanya diam dan tidak bertindak, pola konsumsi media anak-anak akan membentuk masa depan mereka dengan cara yang mungkin tidak pernah kita inginkan. Anda bisa bayangkan, setiap kali mereka menggulir layar ponsel, algoritma di balik platform-platform besar sedang mengukir pikiran mereka, menentukan apa yang harus mereka prioritaskan, bagaimana mereka merasa, bahkan siapa mereka, dan seharusnya menjadi apa. Semua ini bahkan sudah terjadi tanpa pengawasan kita, tanpa kita memahami, betapa kuatnya pengaruh media dalam hidup anak-anak kita ini.

Maka dari itu, penulis yakin ini saatnya kita bertindak, bukan dengan cara melarang, tetapi dengan cara mendampingi mereka untuk memahami dan menggunakan media secara bijak. Jangan biarkan mereka tersesat dalam suatu dunia yang mereka sendiri tidak paham, terjebak dalam ilusi kesempurnaan yang ditawarkan oleh influencer atau tren yang terus berganti, demi cuan dan popularitas. Kita harus mengambil alih kendali, waspada, jangan gadaikan masa depan mereka pada layar yang berpendar. Pertanyaan reflektif untuk kita semua: Apakah kita sudah kalah? [T]

ACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Merdeka Berbangsa, Merdeka Bermedia
Iklan Modern: Seni Menjual Mimpi atau Manipulasi Tersembunyi?
Candu Media Sosial dan Kesehatan Mental
Media Sosial dan Judi Online: Kombinasi Mematikan bagi Ketahanan Negara
Teknologi Komunikasi dan Perubahan Masyarakat
Transformasi Radio: Menolak Mati dalam Gelombang Digitalisasi
Tags: anak-anakInstagrammedia sosialtiktok
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berguru ke Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Next Post

Pentas Produksi Teater Gadhang: Gog dan Magog

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Pentas Produksi Teater Gadhang: Gog dan Magog

Pentas Produksi Teater Gadhang: Gog dan Magog

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co