13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anak-anak dan Media: Antara Manfaat, Bahaya, dan Pembentukan Identitas

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
October 8, 2024
in Esai
Anak-anak dan Media: Antara Manfaat, Bahaya, dan Pembentukan Identitas

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari Canva

ANAK-ANAK kita kini telah menjadi konsumen media yang loyal dan rakus. Mereka mengakses berbagai konten dari aplikasi bioskop online,  channel televisi online, berbagai platform media sosial , TikTok, YouTube, hingga game online.  Jika kita tidak aware, yang nampak demikian memang hanyalah sebagai hiburan yang sederhana.

Namun tidaklah demikian karena ini adalah suatu ekosistem kompleks, di mana otak, perasaan, dan identitas mereka kemudian perlahan terbentuk secara diam-diam, di luar pengawasan kita.  Setiap hari, mereka terpapar konten yang memengaruhi pola pikir, emosi, dan cara pandang mereka terhadap lingkungan sekitar mereka dari lingkup kecil keluarga, tetangga, sekolah, hingga dunia.

Janganlah sampai kita kemudian tertipu oleh kesenangan yang anak-anak ini rasakan saat bermain gadget, karena media tidak hanya sekadar alat hiburan, tetapi seperti kata Marshall McLuhan dalam bukunya  “Understanding Media:The Extensions of Man”, media juga agen yang membentuk masa depan generasi ini tanpa kita sadari (McLuhan, 1964). Bagaimana teori yang sudah lama ini masih relevan hingga sekarang? Mari kita tilik pelan-pelan.

Frekuensi dan Durasi Konsumsi Media

Kita kembali ke Marshall McLuhan yang pernah mengatakan bahwa “the medium is the message”. Artinya dalam konteks ini, media yang anak-anak konsumsi bukan hanya alat untuk menyampaikan konten, tetapi juga akan mengubah cara mereka berpikir, menyelami, dan memahami dunia. Jika dalam sehari mereka beberapa kali membuka Instagram atau TikTok, hal ini bukan semata hanya soal durasi, tetapi bagaimana kemudian media ini lalu bisa membentuk dan mengatur pola pikir mereka.

Anak-anak yang terlalu sering terpaku pada media sosial cenderung kehilangan kemampuan untuk fokus dan berpikir kritis. Ada suatu kebiasaan dalam konsumsi gadget yaitu berpindah dari satu konten ke konten lain dalam hitungan detik  seperti doomscrolling, doom surfing atau ada juga yang menyebut sebagai content grazing, hal ini menciptakan budaya instan yang bisa berbahaya bagi perkembangan kognitif dan afektif anak dalam jangka panjang. Konsumsi konten media yang macam ini membuat mereka terbiasa dengan interaksi cepat dan serba tanggap, tapi sayangnya, dangkal.

Penelitian menunjukkan bahwa hal ini bisa memengaruhi kemampuan berpikir secara mendalam.

Menurut laporan Common Sense Media (2022), rata-rata anak-anak menghabiskan 7,5 jam per hari di depan layar gadget. Sekali lagi mengingatkan, ini bukan hanya soal kehilangan waktu untuk bermain atau belajar, tetapi juga menyoal bagaimana media secara perlahan menggantikan cara mereka berinteraksi dengan dunia nyata. Coba kita amati, mereka lebih banyak mendapatkan informasi dari layar yang mereka pegang, ketimbang mendapatkan pengalaman langsung, dan inilah yang kemudian membentuk pola pikir mereka, membentuk cara mereka memahami lingkungan di sekitar mereka (Carr, 2010).

Pengaruh Konten

Di satu sisi, konten media memang diakui  bisa memberikan manfaat edukatif yang signifikan. Video tutorial, dokumenter tentang alam, hingga berbagai aplikasi edukasi yang dapat menstimulasi perkembangan intelektual anak. Sesuai dengan teori Jean Piaget tentang perkembangan kognitif, anak-anak membutuhkan konten yang selaras dengan tahap perkembangan mereka, agar mentalnya dapat berkembang secara  optimal.

 Harapannya demikian, tapi realitasnya, banyak dari mereka justru terpapar konten yang jauh dari itu—kekerasan, seksualisasi dini, dan promosi gaya hidup adiktif menjadi bom waktu bagi perkembangan moral dan emosional anak. Konten-konten ini bukan hanya tidak sesuai, tapi juga bisa menghambat perkembangan kognitif yang seharusnya terjadi secara bertahap, seperti dijelaskan oleh Piaget. Misalnya, paparan kekerasan di video game atau film sering kali membuat anak lebih agresif dan tumpul terhadap kekerasan nyata (Anderson & Bushman, 2001). Tidak hanya kekerasan, seksualitas dini dan sensualitas juga kerap disisipkan dalam game dan film.

Penuh Persahabatan Virtual namun Kesepian di Dunia Nyata

Media sosial telah mengubah cara anak-anak jaman sekarang berinteraksi dengan teman sebaya dan keluarga mereka. Lewat platform seperti Instagram, TikTok, atau WhatsApp, mereka dapat berkomunikasi secara instan, intens, dan terus-menerus.

Namun, apakah ini membuat interaksi sosial mereka lebih kaya dan bermakna? Atau justru semakin dangkal dan hampa? Menurut teori perkembangan kognitif Lev Vygotsky, interaksi sosial adalah komponen kunci dalam perkembangan mental anak (Vygotsky, 1978).

 Namun, media sosial cenderung membatasi interaksi menjadi teks singkat, emoji, dan gambar, yang sering kali tidak dapat menggantikan kedalaman komunikasi tatap muka.

Sebuah penelitian oleh Twenge et al. (2018) menemukan bahwa peningkatan penggunaan media sosial pada anak-anak justru berkorelasi dengan peningkatan kesepian, depresi, dan kecemasan sosial. Hal ini tentu saja lalu menjadi serius.

 Dampak negatif lain dari media sosial adalah meningkatnya kasus cyberbullying. UNICEF mencatat, sepertiga anak muda di 32 negara melaporkan alami perundungan di dunia maya atau cyber bullying, yang bisa berdampak buruk pada kesehatan mental mereka. Interaksi sosial yang seharusnya memperkaya kehidupan anak-anak justru berubah menjadi arena yang penuh tekanan dan kecemasan.

Bahaya Tersembunyi Media Sosial

Tahap perkembangan identitas, seperti yang dijelaskan oleh Erik Erikson, adalah periode kritis dalam hidup anak-anak, terutama selama masa remaja (Erikson, 1968). Dikuatkan oleh Jane Kroger (2007), dalam bukunya “Identity Development: Adolescence Through Adulthood”, pada tahap ini, anak-anak mulai mencari tahu siapa mereka sebenarnya dan bagaimana mereka ingin dilihat oleh dunia. Media sosial saat ini, dengan berbagai tipe gaya influencer dan tren yang berubah-ubah, memainkan peran besar dalam pembentukan identitas ini.

Namun sayangnya pengaruh media sosial sering kali lebih merusak daripada membantu. Anak-anak dibanjiri dengan citra tubuh yang sempurna, gaya hidup mewah, dan tren yang tidak realistis, yang dapat menimbulkan rasa tidak puas terhadap diri mereka sendiri dan keluarga mereka.

Sebuah studi oleh Tiggemann & Slater (2014) menemukan bahwa remaja yang sering terpapar media sosial cenderung memiliki citra tubuh yang negatif dan lebih rentan terhadap masalah kesehatan mental seperti anoreksia atau bulimia.

Bagaimana anak-anak dapat membangun identitas yang sehat di tengah banjir informasi ini? Salah satu kuncinya adalah membekali mereka dengan kesadaran kritis. Orang tua dan para pendidik perlu mengajarkan anak-anak untuk memandang media dengan skeptis, artinya memberikan suatu pemahaman, bahwa apa yang mereka lihat di media sosial tidak selalu mencerminkan kenyataan. Banyak yang merupakan suatu pseudeo reality, kenyataan semu. Erikson menekankan pentingnya pencarian identitas yang autentik, dan media sosial dapat menjadi alat untuk eksplorasi, selama digunakan dengan kesadaran penuh (Erikson, 1968). Tentu saja ini memerlukan peran pendampingan dan bimbingan orang tua.

Apakah Kita Memilih Kalah?

Di era di mana media telah menyusup ke dalam hampir setiap aspek kehidupan anak-anak, penting bagi kita sebagai orang dewasa untuk tidak melepaskan kendali begitu saja. Media bukan sekadar alat komunikasi namun ia adalah kekuatan yang membentuk cara berpikir, merasa, dan bertindak anak-anak kita.

Jika kita hanya diam dan tidak bertindak, pola konsumsi media anak-anak akan membentuk masa depan mereka dengan cara yang mungkin tidak pernah kita inginkan. Anda bisa bayangkan, setiap kali mereka menggulir layar ponsel, algoritma di balik platform-platform besar sedang mengukir pikiran mereka, menentukan apa yang harus mereka prioritaskan, bagaimana mereka merasa, bahkan siapa mereka, dan seharusnya menjadi apa. Semua ini bahkan sudah terjadi tanpa pengawasan kita, tanpa kita memahami, betapa kuatnya pengaruh media dalam hidup anak-anak kita ini.

Maka dari itu, penulis yakin ini saatnya kita bertindak, bukan dengan cara melarang, tetapi dengan cara mendampingi mereka untuk memahami dan menggunakan media secara bijak. Jangan biarkan mereka tersesat dalam suatu dunia yang mereka sendiri tidak paham, terjebak dalam ilusi kesempurnaan yang ditawarkan oleh influencer atau tren yang terus berganti, demi cuan dan popularitas. Kita harus mengambil alih kendali, waspada, jangan gadaikan masa depan mereka pada layar yang berpendar. Pertanyaan reflektif untuk kita semua: Apakah kita sudah kalah? [T]

ACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Merdeka Berbangsa, Merdeka Bermedia
Iklan Modern: Seni Menjual Mimpi atau Manipulasi Tersembunyi?
Candu Media Sosial dan Kesehatan Mental
Media Sosial dan Judi Online: Kombinasi Mematikan bagi Ketahanan Negara
Teknologi Komunikasi dan Perubahan Masyarakat
Transformasi Radio: Menolak Mati dalam Gelombang Digitalisasi
Tags: anak-anakInstagrammedia sosialtiktok
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berguru ke Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Next Post

Pentas Produksi Teater Gadhang: Gog dan Magog

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Pentas Produksi Teater Gadhang: Gog dan Magog

Pentas Produksi Teater Gadhang: Gog dan Magog

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co