12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anak-anak dan Media: Antara Manfaat, Bahaya, dan Pembentukan Identitas

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
October 8, 2024
in Esai
Anak-anak dan Media: Antara Manfaat, Bahaya, dan Pembentukan Identitas

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari Canva

ANAK-ANAK kita kini telah menjadi konsumen media yang loyal dan rakus. Mereka mengakses berbagai konten dari aplikasi bioskop online,  channel televisi online, berbagai platform media sosial , TikTok, YouTube, hingga game online.  Jika kita tidak aware, yang nampak demikian memang hanyalah sebagai hiburan yang sederhana.

Namun tidaklah demikian karena ini adalah suatu ekosistem kompleks, di mana otak, perasaan, dan identitas mereka kemudian perlahan terbentuk secara diam-diam, di luar pengawasan kita.  Setiap hari, mereka terpapar konten yang memengaruhi pola pikir, emosi, dan cara pandang mereka terhadap lingkungan sekitar mereka dari lingkup kecil keluarga, tetangga, sekolah, hingga dunia.

Janganlah sampai kita kemudian tertipu oleh kesenangan yang anak-anak ini rasakan saat bermain gadget, karena media tidak hanya sekadar alat hiburan, tetapi seperti kata Marshall McLuhan dalam bukunya  “Understanding Media:The Extensions of Man”, media juga agen yang membentuk masa depan generasi ini tanpa kita sadari (McLuhan, 1964). Bagaimana teori yang sudah lama ini masih relevan hingga sekarang? Mari kita tilik pelan-pelan.

Frekuensi dan Durasi Konsumsi Media

Kita kembali ke Marshall McLuhan yang pernah mengatakan bahwa “the medium is the message”. Artinya dalam konteks ini, media yang anak-anak konsumsi bukan hanya alat untuk menyampaikan konten, tetapi juga akan mengubah cara mereka berpikir, menyelami, dan memahami dunia. Jika dalam sehari mereka beberapa kali membuka Instagram atau TikTok, hal ini bukan semata hanya soal durasi, tetapi bagaimana kemudian media ini lalu bisa membentuk dan mengatur pola pikir mereka.

Anak-anak yang terlalu sering terpaku pada media sosial cenderung kehilangan kemampuan untuk fokus dan berpikir kritis. Ada suatu kebiasaan dalam konsumsi gadget yaitu berpindah dari satu konten ke konten lain dalam hitungan detik  seperti doomscrolling, doom surfing atau ada juga yang menyebut sebagai content grazing, hal ini menciptakan budaya instan yang bisa berbahaya bagi perkembangan kognitif dan afektif anak dalam jangka panjang. Konsumsi konten media yang macam ini membuat mereka terbiasa dengan interaksi cepat dan serba tanggap, tapi sayangnya, dangkal.

Penelitian menunjukkan bahwa hal ini bisa memengaruhi kemampuan berpikir secara mendalam.

Menurut laporan Common Sense Media (2022), rata-rata anak-anak menghabiskan 7,5 jam per hari di depan layar gadget. Sekali lagi mengingatkan, ini bukan hanya soal kehilangan waktu untuk bermain atau belajar, tetapi juga menyoal bagaimana media secara perlahan menggantikan cara mereka berinteraksi dengan dunia nyata. Coba kita amati, mereka lebih banyak mendapatkan informasi dari layar yang mereka pegang, ketimbang mendapatkan pengalaman langsung, dan inilah yang kemudian membentuk pola pikir mereka, membentuk cara mereka memahami lingkungan di sekitar mereka (Carr, 2010).

Pengaruh Konten

Di satu sisi, konten media memang diakui  bisa memberikan manfaat edukatif yang signifikan. Video tutorial, dokumenter tentang alam, hingga berbagai aplikasi edukasi yang dapat menstimulasi perkembangan intelektual anak. Sesuai dengan teori Jean Piaget tentang perkembangan kognitif, anak-anak membutuhkan konten yang selaras dengan tahap perkembangan mereka, agar mentalnya dapat berkembang secara  optimal.

 Harapannya demikian, tapi realitasnya, banyak dari mereka justru terpapar konten yang jauh dari itu—kekerasan, seksualisasi dini, dan promosi gaya hidup adiktif menjadi bom waktu bagi perkembangan moral dan emosional anak. Konten-konten ini bukan hanya tidak sesuai, tapi juga bisa menghambat perkembangan kognitif yang seharusnya terjadi secara bertahap, seperti dijelaskan oleh Piaget. Misalnya, paparan kekerasan di video game atau film sering kali membuat anak lebih agresif dan tumpul terhadap kekerasan nyata (Anderson & Bushman, 2001). Tidak hanya kekerasan, seksualitas dini dan sensualitas juga kerap disisipkan dalam game dan film.

Penuh Persahabatan Virtual namun Kesepian di Dunia Nyata

Media sosial telah mengubah cara anak-anak jaman sekarang berinteraksi dengan teman sebaya dan keluarga mereka. Lewat platform seperti Instagram, TikTok, atau WhatsApp, mereka dapat berkomunikasi secara instan, intens, dan terus-menerus.

Namun, apakah ini membuat interaksi sosial mereka lebih kaya dan bermakna? Atau justru semakin dangkal dan hampa? Menurut teori perkembangan kognitif Lev Vygotsky, interaksi sosial adalah komponen kunci dalam perkembangan mental anak (Vygotsky, 1978).

 Namun, media sosial cenderung membatasi interaksi menjadi teks singkat, emoji, dan gambar, yang sering kali tidak dapat menggantikan kedalaman komunikasi tatap muka.

Sebuah penelitian oleh Twenge et al. (2018) menemukan bahwa peningkatan penggunaan media sosial pada anak-anak justru berkorelasi dengan peningkatan kesepian, depresi, dan kecemasan sosial. Hal ini tentu saja lalu menjadi serius.

 Dampak negatif lain dari media sosial adalah meningkatnya kasus cyberbullying. UNICEF mencatat, sepertiga anak muda di 32 negara melaporkan alami perundungan di dunia maya atau cyber bullying, yang bisa berdampak buruk pada kesehatan mental mereka. Interaksi sosial yang seharusnya memperkaya kehidupan anak-anak justru berubah menjadi arena yang penuh tekanan dan kecemasan.

Bahaya Tersembunyi Media Sosial

Tahap perkembangan identitas, seperti yang dijelaskan oleh Erik Erikson, adalah periode kritis dalam hidup anak-anak, terutama selama masa remaja (Erikson, 1968). Dikuatkan oleh Jane Kroger (2007), dalam bukunya “Identity Development: Adolescence Through Adulthood”, pada tahap ini, anak-anak mulai mencari tahu siapa mereka sebenarnya dan bagaimana mereka ingin dilihat oleh dunia. Media sosial saat ini, dengan berbagai tipe gaya influencer dan tren yang berubah-ubah, memainkan peran besar dalam pembentukan identitas ini.

Namun sayangnya pengaruh media sosial sering kali lebih merusak daripada membantu. Anak-anak dibanjiri dengan citra tubuh yang sempurna, gaya hidup mewah, dan tren yang tidak realistis, yang dapat menimbulkan rasa tidak puas terhadap diri mereka sendiri dan keluarga mereka.

Sebuah studi oleh Tiggemann & Slater (2014) menemukan bahwa remaja yang sering terpapar media sosial cenderung memiliki citra tubuh yang negatif dan lebih rentan terhadap masalah kesehatan mental seperti anoreksia atau bulimia.

Bagaimana anak-anak dapat membangun identitas yang sehat di tengah banjir informasi ini? Salah satu kuncinya adalah membekali mereka dengan kesadaran kritis. Orang tua dan para pendidik perlu mengajarkan anak-anak untuk memandang media dengan skeptis, artinya memberikan suatu pemahaman, bahwa apa yang mereka lihat di media sosial tidak selalu mencerminkan kenyataan. Banyak yang merupakan suatu pseudeo reality, kenyataan semu. Erikson menekankan pentingnya pencarian identitas yang autentik, dan media sosial dapat menjadi alat untuk eksplorasi, selama digunakan dengan kesadaran penuh (Erikson, 1968). Tentu saja ini memerlukan peran pendampingan dan bimbingan orang tua.

Apakah Kita Memilih Kalah?

Di era di mana media telah menyusup ke dalam hampir setiap aspek kehidupan anak-anak, penting bagi kita sebagai orang dewasa untuk tidak melepaskan kendali begitu saja. Media bukan sekadar alat komunikasi namun ia adalah kekuatan yang membentuk cara berpikir, merasa, dan bertindak anak-anak kita.

Jika kita hanya diam dan tidak bertindak, pola konsumsi media anak-anak akan membentuk masa depan mereka dengan cara yang mungkin tidak pernah kita inginkan. Anda bisa bayangkan, setiap kali mereka menggulir layar ponsel, algoritma di balik platform-platform besar sedang mengukir pikiran mereka, menentukan apa yang harus mereka prioritaskan, bagaimana mereka merasa, bahkan siapa mereka, dan seharusnya menjadi apa. Semua ini bahkan sudah terjadi tanpa pengawasan kita, tanpa kita memahami, betapa kuatnya pengaruh media dalam hidup anak-anak kita ini.

Maka dari itu, penulis yakin ini saatnya kita bertindak, bukan dengan cara melarang, tetapi dengan cara mendampingi mereka untuk memahami dan menggunakan media secara bijak. Jangan biarkan mereka tersesat dalam suatu dunia yang mereka sendiri tidak paham, terjebak dalam ilusi kesempurnaan yang ditawarkan oleh influencer atau tren yang terus berganti, demi cuan dan popularitas. Kita harus mengambil alih kendali, waspada, jangan gadaikan masa depan mereka pada layar yang berpendar. Pertanyaan reflektif untuk kita semua: Apakah kita sudah kalah? [T]

ACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Merdeka Berbangsa, Merdeka Bermedia
Iklan Modern: Seni Menjual Mimpi atau Manipulasi Tersembunyi?
Candu Media Sosial dan Kesehatan Mental
Media Sosial dan Judi Online: Kombinasi Mematikan bagi Ketahanan Negara
Teknologi Komunikasi dan Perubahan Masyarakat
Transformasi Radio: Menolak Mati dalam Gelombang Digitalisasi
Tags: anak-anakInstagrammedia sosialtiktok
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berguru ke Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Next Post

Pentas Produksi Teater Gadhang: Gog dan Magog

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Pentas Produksi Teater Gadhang: Gog dan Magog

Pentas Produksi Teater Gadhang: Gog dan Magog

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co