2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Transformasi Radio: Menolak Mati dalam Gelombang Digitalisasi

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
September 11, 2024
in Esai
Transformasi Radio: Menolak Mati dalam Gelombang Digitalisasi

Ilustrasi diolah dari Canva

RADIO di Indonesia memiliki sejarah penting sebagai media massa yang berperan signifikan, terutama saat masa perjuangan kemerdekaan. Pada 17 Agustus 1945, berita mengenai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pertama kali disiarkan melalui radio oleh kantor berita Domei (sekarang RRI), meskipun ada ancaman dari Jepang yang masih menduduki Indonesia.

Siaran tersebut membantu menyebarluaskan kabar kemerdekaan ke berbagai wilayah negeri, bahkan hingga ke pelosok, sehingga masyarakat Indonesia segera mengetahui bahwa negara mereka telah merdeka. Terbayang betapa euforia saat itu tentu sangat luar biasa.

Setelah kemerdekaan, radio tetap menjadi alat penting untuk mempersatukan bangsa. Radio Republik Indonesia (RRI) didirikan pada 11 September 1945 dengan tujuan menyebarkan berita kemerdekaan, menggalang dukungan, dan membangun semangat nasionalisme.

Pada masa revolusi, radio juga digunakan untuk menyampaikan strategi dan perkembangan politik, serta menjadi media informasi yang andal di tengah keterbatasan media cetak dan televisi saa itu. Radio bukan hanya media informasi, tetapi juga simbol perlawanan dan kedaulatan bangsa, yang memainkan peran vital dalam menghubungkan rakyat dan pemerintah selama perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia tercinta.

Transformasi Radio di Era Digital

Masa berganti, namun hingga kini radio tetap menjadi media yang penting di Indonesia, terutama di daerah-daerah yang akses terhadap internet masih terbatas. Radio, sebagai media tradisional, menghadapi tantangan besar dalam era digital dengan munculnya streaming online dan podcasting.

Perubahan ini menuntut radio untuk melakukan adaptasi yang tidak hanya teknis, tetapi juga konseptual. Salah satu adaptasi yang menyolok salah satunya adalah, bahwa penyiar kini harus menjadi lebih multitalenta, menggabungkan kemampuan penyiaran klasik dengan kemampuan digital seperti pengelolaan media sosial dan podcasting. Penyiar tak lagi hanya berkomunikasi dengan suara, tetapi juga dengan video, teks, dan gambar di platform media sosial dan streaming.

Kebiasaan mendengar pun telah berubah. Platform digital menyerahkan kontrol yang kuat pada pendengar. Mereka dapat memilih apa yang ingin mereka dengar, kapan, dan di mana saja. Ini bertentangan dengan karakter radio tradisional yang sifatnya linier, di mana pendengar harus menunggu program tertentu pada jam tertentu. Akibatnya, kini pendengar menjadi lebih otonom, cenderung mengkonsumsi konten berdasarkan preferensi pribadi, bukan jadwal stasiun (Pandusaputri, 2024).

Dengan adanya perubahan ini, mau tak mau radio di era digital ini perlu melakukan reposisi, ia harus menjadi bagian dari ekosistem multiplatform, di mana tradisi siaran langsung tetap dijaga, namun juga dibarengi dengan fleksibilitas teknologi digital. Hal ini menjadi mutlak agar bisa bertahan dan berkembang.

Radio digital kini memungkinkan interaksi langsung dengan pendengar melalui berbagai saluran, seperti media sosial, aplikasi, dan fitur interaktif lainnya. Ini menciptakan ruang dialog dua arah yang sebelumnya tidak dimungkinkan dalam radio tradisional. Melalui media sosial, pendengar dapat memberikan umpan balik secara real-time, berpartisipasi dalam polling, atau bahkan terlibat dalam siaran langsung melalui komentar dan pesan.

Aplikasi radio digital memungkinkan pendengar mengirimkan permintaan lagu, ikut serta dalam kuis, atau mengirimkan pertanyaan kepada bintang  tamu acara. Fitur interaktif seperti ini secara drastis mengubah cara radio berfungsi, bukan lagi sebagai media satu arah, tetapi menjadi platform komunikasi dua arah yang lebih partisipatif.

Di tengah perubahan sosial zaman yang ditandai oleh individualisme dan fragmentasi komunitas, radio digital dengan fitur interaktifnya, mampu menjembatani keterpisahan sosial dan memberi pendengar rasa keterlibatan yang lebih kuat. Para pendengar tidak lagi menjadi objek pasif, tetapi aktor yang terlibat aktif dalam narasi siaran. Ini menumbuhkan rasa inklusi sosial yang sangat dibutuhkan di tengah dinamika masyarakat modern liquid society yang semakin terpolarisasi dalam era yang ditandai oleh letupan perubahan begitu cepat pada pelbagai bidang (Bauman, 2000).

Secara lebih filosofis, interaksi langsung melalui teknologi ini bisa dilihat sebagai upaya manusia modern untuk menegosiasikan ruang-ruang keterhubungan yang makin sulit dicapai dalam kehidupan fisik. Dengan adanya radio digital yang interaktif, komunikasi tidak hanya menjadi suatu proses teknis, tetapi juga menjadi fenomena sosial yang lebih mendalam, di mana relasi manusia diredefinisi melalui media suara dan teknologi digital (Castell, 2010).

Radio modern yang kini menggunakan media sosial sebagai perpanjangan dari jangkauan siarannya, memperluas pengaruhnya ke audiens yang mungkin tak terjangkau oleh frekuensi tradisional. Stasiun radio membangun akun di platform digital seperti Instagram, Twitter (atau X), dan TikTok untuk berinteraksi dengan audiens secara langsung, mempromosikan konten, dan bahkan memicu diskusi. Melalui media sosial, mereka dapat menjangkau generasi muda yang lebih akrab dengan format digital.

Media sosial juga memungkinkan penyebaran viral dari konten radio, memperkuat daya jangkau dan menciptakan berbagai komunitas virtual (Boyd & Ellison, 2007). Melalui kampanye media sosial, stasiun radio dapat menarik audiens untuk berpartisipasi aktif dalam program-programnya, saling berbagi pengalaman, atau mempengaruhi konten melalui polling dan saran. Ini membuat radio tidak lagi sekadar platform penyiaran, tetapi bagian dari ekosistem media yang dinamis, interaktif, dan inklusif (Castells, 2010).

Tantangan dan Ancaman Radio di Era Digital

Bila ditilik dengan cermat, ada ancaman terselubung dalam fenomena ini. Ketergantungan pada media sosial berpotensi mengurangi independensi radio sebagai media, karena algoritma platform digital menentukan distribusi dan visibilitas konten. Jika sebuah stasiun terlalu terikat dengan mekanisme media sosial, ia bisa-bisa akan terjebak dalam logika viralitas, yang mengorbankan kedalaman konten demi popularitas instan.

Selain itu, polarisasi sosial yang dipicu oleh hitungan algoritma media sosial dapat menciptakan segmen-segmen audiens yang terfragmentasi, di mana komunitas yang terbentuk bukan lagi inklusif, tetapi menjadi lingkungan eksklusif tanpa adanya hal baru, yang memperkuat bias dan pemikiran sempit (Pariser, 2011).

Fenomena ini juga dapat mengubah etos penyiaran, dari upaya penyediaan informasi dan hiburan yang berkualitas, menjadi sekadar memancing reaksi dan keterlibatan singkat demi jumlah “likes” dan “shares.” Ini membawa risiko penyiaran kehilangan fungsinya sebagai alat pendidikan publik dan justru terjebak dalam budaya digital media yang kehilangan bobot.

Radio Komunitas: Solusi untuk Daerah dengan Koneksi Terbatas

Stasiun radio dengan coverage akses internet yang luas memiliki tantangannya sendiri. Namun bagaimana dengan radio yang beroperasi di daerah dengan akses internet terbatas? Pemikiran Adorno dan Horkheimer mungkin bisa mengingatkan, bahwa meskipun teknologi dianggap bisa menjadi pembebas, teknologi justru seringkali menjadi alat dominasi jika tidak dikendalikan dengan baik.

Oleh karena itu, radio di daerah  harus mempertahankan kemandiriannya dari kepentingan  agenda kapitalistik yang menyamar melalui konten yang hanya berorientasi komersial (Adorno & Horkheimer, 1944). Untuk itu radio komunitas yang non-profit bisa menjadi alat perlawanan budaya, memberi platform bagi suara-suara yang sering diabaikan oleh media arus utama, dan inilah yang membuatnya relevan di era digital, bahkan di saat tanpa adanya akses internet yang kencang.

Untuk daerah dengan koneksi internet terbatas, bentuk siaran radio yang ideal harus menggabungkan efisiensi teknologi analog dengan pendekatan interaktif sederhana, tanpa bergantung pada infrastruktur digital yang rumit.

Radio analog tradisional tetap menjadi pilihan terbaik karena keandalannya dalam menjangkau wilayah yang sulit diakses jaringan internet. Dalam konteks ini, radio berfungsi sebagai media yang convivial dalam pengertian Ivan Illich—media yang menjadi sarana kreatif antar manusia, namun tidak menciptakan ketergantungan teknologidan sosial yang berlebihan (Illich, 1973).

Meski demikian, siaran radio semacam ini tidak harus berhenti pada format tradisional. Ada potensi untuk mengintegrasikan teknologi sederhana, seperti penggunaan SMS atau panggilan telepon, untuk memungkinkan pendengar bisa berinteraksi dengan stasiun radio. Ini memberi kesempatan untuk menciptakan dialog dua arah, sesuatu yang sangat dihargai dalam era komunikasi modern, tanpa harus bergantung pada platform digital yang melulu membutuhkan jaringan internet.

Dalam hal ini, radio analog yang interaktif secara lokal, dengan pendekatan yang melibatkan teknologi rendah, tetap menjadi bentuk siaran yang paling ideal bagi daerah yang koneksi internetnya terbatas. Selamat Hari Radio Nasional, Selamat Ulang Tahun kepada Radio Republik Indonesia yang ke 79. Sekali di Udara, Tetap di Udara![T]

Teknologi Komunikasi dan Perubahan Masyarakat
Televisi, Riwayatmu Dulu
Gema Pelangi di Ambara Tabanan – Nostalgia Radio pada HUT PRSSNI
Tags: digitalisasimedia sosialradio
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

A Tribute to Maestro I Made Sija: Menengok Sudut Memori Sang Maestro

Next Post

Pondok Literasi Sabih Pedawa dan Kolaborasi Lintas Negara

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Pondok Literasi Sabih Pedawa dan Kolaborasi Lintas Negara

Pondok Literasi Sabih Pedawa dan Kolaborasi Lintas Negara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co