22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Transformasi Radio: Menolak Mati dalam Gelombang Digitalisasi

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
September 11, 2024
in Esai
Transformasi Radio: Menolak Mati dalam Gelombang Digitalisasi

Ilustrasi diolah dari Canva

RADIO di Indonesia memiliki sejarah penting sebagai media massa yang berperan signifikan, terutama saat masa perjuangan kemerdekaan. Pada 17 Agustus 1945, berita mengenai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pertama kali disiarkan melalui radio oleh kantor berita Domei (sekarang RRI), meskipun ada ancaman dari Jepang yang masih menduduki Indonesia.

Siaran tersebut membantu menyebarluaskan kabar kemerdekaan ke berbagai wilayah negeri, bahkan hingga ke pelosok, sehingga masyarakat Indonesia segera mengetahui bahwa negara mereka telah merdeka. Terbayang betapa euforia saat itu tentu sangat luar biasa.

Setelah kemerdekaan, radio tetap menjadi alat penting untuk mempersatukan bangsa. Radio Republik Indonesia (RRI) didirikan pada 11 September 1945 dengan tujuan menyebarkan berita kemerdekaan, menggalang dukungan, dan membangun semangat nasionalisme.

Pada masa revolusi, radio juga digunakan untuk menyampaikan strategi dan perkembangan politik, serta menjadi media informasi yang andal di tengah keterbatasan media cetak dan televisi saa itu. Radio bukan hanya media informasi, tetapi juga simbol perlawanan dan kedaulatan bangsa, yang memainkan peran vital dalam menghubungkan rakyat dan pemerintah selama perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia tercinta.

Transformasi Radio di Era Digital

Masa berganti, namun hingga kini radio tetap menjadi media yang penting di Indonesia, terutama di daerah-daerah yang akses terhadap internet masih terbatas. Radio, sebagai media tradisional, menghadapi tantangan besar dalam era digital dengan munculnya streaming online dan podcasting.

Perubahan ini menuntut radio untuk melakukan adaptasi yang tidak hanya teknis, tetapi juga konseptual. Salah satu adaptasi yang menyolok salah satunya adalah, bahwa penyiar kini harus menjadi lebih multitalenta, menggabungkan kemampuan penyiaran klasik dengan kemampuan digital seperti pengelolaan media sosial dan podcasting. Penyiar tak lagi hanya berkomunikasi dengan suara, tetapi juga dengan video, teks, dan gambar di platform media sosial dan streaming.

Kebiasaan mendengar pun telah berubah. Platform digital menyerahkan kontrol yang kuat pada pendengar. Mereka dapat memilih apa yang ingin mereka dengar, kapan, dan di mana saja. Ini bertentangan dengan karakter radio tradisional yang sifatnya linier, di mana pendengar harus menunggu program tertentu pada jam tertentu. Akibatnya, kini pendengar menjadi lebih otonom, cenderung mengkonsumsi konten berdasarkan preferensi pribadi, bukan jadwal stasiun (Pandusaputri, 2024).

Dengan adanya perubahan ini, mau tak mau radio di era digital ini perlu melakukan reposisi, ia harus menjadi bagian dari ekosistem multiplatform, di mana tradisi siaran langsung tetap dijaga, namun juga dibarengi dengan fleksibilitas teknologi digital. Hal ini menjadi mutlak agar bisa bertahan dan berkembang.

Radio digital kini memungkinkan interaksi langsung dengan pendengar melalui berbagai saluran, seperti media sosial, aplikasi, dan fitur interaktif lainnya. Ini menciptakan ruang dialog dua arah yang sebelumnya tidak dimungkinkan dalam radio tradisional. Melalui media sosial, pendengar dapat memberikan umpan balik secara real-time, berpartisipasi dalam polling, atau bahkan terlibat dalam siaran langsung melalui komentar dan pesan.

Aplikasi radio digital memungkinkan pendengar mengirimkan permintaan lagu, ikut serta dalam kuis, atau mengirimkan pertanyaan kepada bintang  tamu acara. Fitur interaktif seperti ini secara drastis mengubah cara radio berfungsi, bukan lagi sebagai media satu arah, tetapi menjadi platform komunikasi dua arah yang lebih partisipatif.

Di tengah perubahan sosial zaman yang ditandai oleh individualisme dan fragmentasi komunitas, radio digital dengan fitur interaktifnya, mampu menjembatani keterpisahan sosial dan memberi pendengar rasa keterlibatan yang lebih kuat. Para pendengar tidak lagi menjadi objek pasif, tetapi aktor yang terlibat aktif dalam narasi siaran. Ini menumbuhkan rasa inklusi sosial yang sangat dibutuhkan di tengah dinamika masyarakat modern liquid society yang semakin terpolarisasi dalam era yang ditandai oleh letupan perubahan begitu cepat pada pelbagai bidang (Bauman, 2000).

Secara lebih filosofis, interaksi langsung melalui teknologi ini bisa dilihat sebagai upaya manusia modern untuk menegosiasikan ruang-ruang keterhubungan yang makin sulit dicapai dalam kehidupan fisik. Dengan adanya radio digital yang interaktif, komunikasi tidak hanya menjadi suatu proses teknis, tetapi juga menjadi fenomena sosial yang lebih mendalam, di mana relasi manusia diredefinisi melalui media suara dan teknologi digital (Castell, 2010).

Radio modern yang kini menggunakan media sosial sebagai perpanjangan dari jangkauan siarannya, memperluas pengaruhnya ke audiens yang mungkin tak terjangkau oleh frekuensi tradisional. Stasiun radio membangun akun di platform digital seperti Instagram, Twitter (atau X), dan TikTok untuk berinteraksi dengan audiens secara langsung, mempromosikan konten, dan bahkan memicu diskusi. Melalui media sosial, mereka dapat menjangkau generasi muda yang lebih akrab dengan format digital.

Media sosial juga memungkinkan penyebaran viral dari konten radio, memperkuat daya jangkau dan menciptakan berbagai komunitas virtual (Boyd & Ellison, 2007). Melalui kampanye media sosial, stasiun radio dapat menarik audiens untuk berpartisipasi aktif dalam program-programnya, saling berbagi pengalaman, atau mempengaruhi konten melalui polling dan saran. Ini membuat radio tidak lagi sekadar platform penyiaran, tetapi bagian dari ekosistem media yang dinamis, interaktif, dan inklusif (Castells, 2010).

Tantangan dan Ancaman Radio di Era Digital

Bila ditilik dengan cermat, ada ancaman terselubung dalam fenomena ini. Ketergantungan pada media sosial berpotensi mengurangi independensi radio sebagai media, karena algoritma platform digital menentukan distribusi dan visibilitas konten. Jika sebuah stasiun terlalu terikat dengan mekanisme media sosial, ia bisa-bisa akan terjebak dalam logika viralitas, yang mengorbankan kedalaman konten demi popularitas instan.

Selain itu, polarisasi sosial yang dipicu oleh hitungan algoritma media sosial dapat menciptakan segmen-segmen audiens yang terfragmentasi, di mana komunitas yang terbentuk bukan lagi inklusif, tetapi menjadi lingkungan eksklusif tanpa adanya hal baru, yang memperkuat bias dan pemikiran sempit (Pariser, 2011).

Fenomena ini juga dapat mengubah etos penyiaran, dari upaya penyediaan informasi dan hiburan yang berkualitas, menjadi sekadar memancing reaksi dan keterlibatan singkat demi jumlah “likes” dan “shares.” Ini membawa risiko penyiaran kehilangan fungsinya sebagai alat pendidikan publik dan justru terjebak dalam budaya digital media yang kehilangan bobot.

Radio Komunitas: Solusi untuk Daerah dengan Koneksi Terbatas

Stasiun radio dengan coverage akses internet yang luas memiliki tantangannya sendiri. Namun bagaimana dengan radio yang beroperasi di daerah dengan akses internet terbatas? Pemikiran Adorno dan Horkheimer mungkin bisa mengingatkan, bahwa meskipun teknologi dianggap bisa menjadi pembebas, teknologi justru seringkali menjadi alat dominasi jika tidak dikendalikan dengan baik.

Oleh karena itu, radio di daerah  harus mempertahankan kemandiriannya dari kepentingan  agenda kapitalistik yang menyamar melalui konten yang hanya berorientasi komersial (Adorno & Horkheimer, 1944). Untuk itu radio komunitas yang non-profit bisa menjadi alat perlawanan budaya, memberi platform bagi suara-suara yang sering diabaikan oleh media arus utama, dan inilah yang membuatnya relevan di era digital, bahkan di saat tanpa adanya akses internet yang kencang.

Untuk daerah dengan koneksi internet terbatas, bentuk siaran radio yang ideal harus menggabungkan efisiensi teknologi analog dengan pendekatan interaktif sederhana, tanpa bergantung pada infrastruktur digital yang rumit.

Radio analog tradisional tetap menjadi pilihan terbaik karena keandalannya dalam menjangkau wilayah yang sulit diakses jaringan internet. Dalam konteks ini, radio berfungsi sebagai media yang convivial dalam pengertian Ivan Illich—media yang menjadi sarana kreatif antar manusia, namun tidak menciptakan ketergantungan teknologidan sosial yang berlebihan (Illich, 1973).

Meski demikian, siaran radio semacam ini tidak harus berhenti pada format tradisional. Ada potensi untuk mengintegrasikan teknologi sederhana, seperti penggunaan SMS atau panggilan telepon, untuk memungkinkan pendengar bisa berinteraksi dengan stasiun radio. Ini memberi kesempatan untuk menciptakan dialog dua arah, sesuatu yang sangat dihargai dalam era komunikasi modern, tanpa harus bergantung pada platform digital yang melulu membutuhkan jaringan internet.

Dalam hal ini, radio analog yang interaktif secara lokal, dengan pendekatan yang melibatkan teknologi rendah, tetap menjadi bentuk siaran yang paling ideal bagi daerah yang koneksi internetnya terbatas. Selamat Hari Radio Nasional, Selamat Ulang Tahun kepada Radio Republik Indonesia yang ke 79. Sekali di Udara, Tetap di Udara![T]

Teknologi Komunikasi dan Perubahan Masyarakat
Televisi, Riwayatmu Dulu
Gema Pelangi di Ambara Tabanan – Nostalgia Radio pada HUT PRSSNI
Tags: digitalisasimedia sosialradio
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

A Tribute to Maestro I Made Sija: Menengok Sudut Memori Sang Maestro

Next Post

Pondok Literasi Sabih Pedawa dan Kolaborasi Lintas Negara

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Pondok Literasi Sabih Pedawa dan Kolaborasi Lintas Negara

Pondok Literasi Sabih Pedawa dan Kolaborasi Lintas Negara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co