12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Transformasi Radio: Menolak Mati dalam Gelombang Digitalisasi

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
September 11, 2024
in Esai
Transformasi Radio: Menolak Mati dalam Gelombang Digitalisasi

Ilustrasi diolah dari Canva

RADIO di Indonesia memiliki sejarah penting sebagai media massa yang berperan signifikan, terutama saat masa perjuangan kemerdekaan. Pada 17 Agustus 1945, berita mengenai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pertama kali disiarkan melalui radio oleh kantor berita Domei (sekarang RRI), meskipun ada ancaman dari Jepang yang masih menduduki Indonesia.

Siaran tersebut membantu menyebarluaskan kabar kemerdekaan ke berbagai wilayah negeri, bahkan hingga ke pelosok, sehingga masyarakat Indonesia segera mengetahui bahwa negara mereka telah merdeka. Terbayang betapa euforia saat itu tentu sangat luar biasa.

Setelah kemerdekaan, radio tetap menjadi alat penting untuk mempersatukan bangsa. Radio Republik Indonesia (RRI) didirikan pada 11 September 1945 dengan tujuan menyebarkan berita kemerdekaan, menggalang dukungan, dan membangun semangat nasionalisme.

Pada masa revolusi, radio juga digunakan untuk menyampaikan strategi dan perkembangan politik, serta menjadi media informasi yang andal di tengah keterbatasan media cetak dan televisi saa itu. Radio bukan hanya media informasi, tetapi juga simbol perlawanan dan kedaulatan bangsa, yang memainkan peran vital dalam menghubungkan rakyat dan pemerintah selama perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia tercinta.

Transformasi Radio di Era Digital

Masa berganti, namun hingga kini radio tetap menjadi media yang penting di Indonesia, terutama di daerah-daerah yang akses terhadap internet masih terbatas. Radio, sebagai media tradisional, menghadapi tantangan besar dalam era digital dengan munculnya streaming online dan podcasting.

Perubahan ini menuntut radio untuk melakukan adaptasi yang tidak hanya teknis, tetapi juga konseptual. Salah satu adaptasi yang menyolok salah satunya adalah, bahwa penyiar kini harus menjadi lebih multitalenta, menggabungkan kemampuan penyiaran klasik dengan kemampuan digital seperti pengelolaan media sosial dan podcasting. Penyiar tak lagi hanya berkomunikasi dengan suara, tetapi juga dengan video, teks, dan gambar di platform media sosial dan streaming.

Kebiasaan mendengar pun telah berubah. Platform digital menyerahkan kontrol yang kuat pada pendengar. Mereka dapat memilih apa yang ingin mereka dengar, kapan, dan di mana saja. Ini bertentangan dengan karakter radio tradisional yang sifatnya linier, di mana pendengar harus menunggu program tertentu pada jam tertentu. Akibatnya, kini pendengar menjadi lebih otonom, cenderung mengkonsumsi konten berdasarkan preferensi pribadi, bukan jadwal stasiun (Pandusaputri, 2024).

Dengan adanya perubahan ini, mau tak mau radio di era digital ini perlu melakukan reposisi, ia harus menjadi bagian dari ekosistem multiplatform, di mana tradisi siaran langsung tetap dijaga, namun juga dibarengi dengan fleksibilitas teknologi digital. Hal ini menjadi mutlak agar bisa bertahan dan berkembang.

Radio digital kini memungkinkan interaksi langsung dengan pendengar melalui berbagai saluran, seperti media sosial, aplikasi, dan fitur interaktif lainnya. Ini menciptakan ruang dialog dua arah yang sebelumnya tidak dimungkinkan dalam radio tradisional. Melalui media sosial, pendengar dapat memberikan umpan balik secara real-time, berpartisipasi dalam polling, atau bahkan terlibat dalam siaran langsung melalui komentar dan pesan.

Aplikasi radio digital memungkinkan pendengar mengirimkan permintaan lagu, ikut serta dalam kuis, atau mengirimkan pertanyaan kepada bintang  tamu acara. Fitur interaktif seperti ini secara drastis mengubah cara radio berfungsi, bukan lagi sebagai media satu arah, tetapi menjadi platform komunikasi dua arah yang lebih partisipatif.

Di tengah perubahan sosial zaman yang ditandai oleh individualisme dan fragmentasi komunitas, radio digital dengan fitur interaktifnya, mampu menjembatani keterpisahan sosial dan memberi pendengar rasa keterlibatan yang lebih kuat. Para pendengar tidak lagi menjadi objek pasif, tetapi aktor yang terlibat aktif dalam narasi siaran. Ini menumbuhkan rasa inklusi sosial yang sangat dibutuhkan di tengah dinamika masyarakat modern liquid society yang semakin terpolarisasi dalam era yang ditandai oleh letupan perubahan begitu cepat pada pelbagai bidang (Bauman, 2000).

Secara lebih filosofis, interaksi langsung melalui teknologi ini bisa dilihat sebagai upaya manusia modern untuk menegosiasikan ruang-ruang keterhubungan yang makin sulit dicapai dalam kehidupan fisik. Dengan adanya radio digital yang interaktif, komunikasi tidak hanya menjadi suatu proses teknis, tetapi juga menjadi fenomena sosial yang lebih mendalam, di mana relasi manusia diredefinisi melalui media suara dan teknologi digital (Castell, 2010).

Radio modern yang kini menggunakan media sosial sebagai perpanjangan dari jangkauan siarannya, memperluas pengaruhnya ke audiens yang mungkin tak terjangkau oleh frekuensi tradisional. Stasiun radio membangun akun di platform digital seperti Instagram, Twitter (atau X), dan TikTok untuk berinteraksi dengan audiens secara langsung, mempromosikan konten, dan bahkan memicu diskusi. Melalui media sosial, mereka dapat menjangkau generasi muda yang lebih akrab dengan format digital.

Media sosial juga memungkinkan penyebaran viral dari konten radio, memperkuat daya jangkau dan menciptakan berbagai komunitas virtual (Boyd & Ellison, 2007). Melalui kampanye media sosial, stasiun radio dapat menarik audiens untuk berpartisipasi aktif dalam program-programnya, saling berbagi pengalaman, atau mempengaruhi konten melalui polling dan saran. Ini membuat radio tidak lagi sekadar platform penyiaran, tetapi bagian dari ekosistem media yang dinamis, interaktif, dan inklusif (Castells, 2010).

Tantangan dan Ancaman Radio di Era Digital

Bila ditilik dengan cermat, ada ancaman terselubung dalam fenomena ini. Ketergantungan pada media sosial berpotensi mengurangi independensi radio sebagai media, karena algoritma platform digital menentukan distribusi dan visibilitas konten. Jika sebuah stasiun terlalu terikat dengan mekanisme media sosial, ia bisa-bisa akan terjebak dalam logika viralitas, yang mengorbankan kedalaman konten demi popularitas instan.

Selain itu, polarisasi sosial yang dipicu oleh hitungan algoritma media sosial dapat menciptakan segmen-segmen audiens yang terfragmentasi, di mana komunitas yang terbentuk bukan lagi inklusif, tetapi menjadi lingkungan eksklusif tanpa adanya hal baru, yang memperkuat bias dan pemikiran sempit (Pariser, 2011).

Fenomena ini juga dapat mengubah etos penyiaran, dari upaya penyediaan informasi dan hiburan yang berkualitas, menjadi sekadar memancing reaksi dan keterlibatan singkat demi jumlah “likes” dan “shares.” Ini membawa risiko penyiaran kehilangan fungsinya sebagai alat pendidikan publik dan justru terjebak dalam budaya digital media yang kehilangan bobot.

Radio Komunitas: Solusi untuk Daerah dengan Koneksi Terbatas

Stasiun radio dengan coverage akses internet yang luas memiliki tantangannya sendiri. Namun bagaimana dengan radio yang beroperasi di daerah dengan akses internet terbatas? Pemikiran Adorno dan Horkheimer mungkin bisa mengingatkan, bahwa meskipun teknologi dianggap bisa menjadi pembebas, teknologi justru seringkali menjadi alat dominasi jika tidak dikendalikan dengan baik.

Oleh karena itu, radio di daerah  harus mempertahankan kemandiriannya dari kepentingan  agenda kapitalistik yang menyamar melalui konten yang hanya berorientasi komersial (Adorno & Horkheimer, 1944). Untuk itu radio komunitas yang non-profit bisa menjadi alat perlawanan budaya, memberi platform bagi suara-suara yang sering diabaikan oleh media arus utama, dan inilah yang membuatnya relevan di era digital, bahkan di saat tanpa adanya akses internet yang kencang.

Untuk daerah dengan koneksi internet terbatas, bentuk siaran radio yang ideal harus menggabungkan efisiensi teknologi analog dengan pendekatan interaktif sederhana, tanpa bergantung pada infrastruktur digital yang rumit.

Radio analog tradisional tetap menjadi pilihan terbaik karena keandalannya dalam menjangkau wilayah yang sulit diakses jaringan internet. Dalam konteks ini, radio berfungsi sebagai media yang convivial dalam pengertian Ivan Illich—media yang menjadi sarana kreatif antar manusia, namun tidak menciptakan ketergantungan teknologidan sosial yang berlebihan (Illich, 1973).

Meski demikian, siaran radio semacam ini tidak harus berhenti pada format tradisional. Ada potensi untuk mengintegrasikan teknologi sederhana, seperti penggunaan SMS atau panggilan telepon, untuk memungkinkan pendengar bisa berinteraksi dengan stasiun radio. Ini memberi kesempatan untuk menciptakan dialog dua arah, sesuatu yang sangat dihargai dalam era komunikasi modern, tanpa harus bergantung pada platform digital yang melulu membutuhkan jaringan internet.

Dalam hal ini, radio analog yang interaktif secara lokal, dengan pendekatan yang melibatkan teknologi rendah, tetap menjadi bentuk siaran yang paling ideal bagi daerah yang koneksi internetnya terbatas. Selamat Hari Radio Nasional, Selamat Ulang Tahun kepada Radio Republik Indonesia yang ke 79. Sekali di Udara, Tetap di Udara![T]

Teknologi Komunikasi dan Perubahan Masyarakat
Televisi, Riwayatmu Dulu
Gema Pelangi di Ambara Tabanan – Nostalgia Radio pada HUT PRSSNI
Tags: digitalisasimedia sosialradio
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

A Tribute to Maestro I Made Sija: Menengok Sudut Memori Sang Maestro

Next Post

Pondok Literasi Sabih Pedawa dan Kolaborasi Lintas Negara

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Pondok Literasi Sabih Pedawa dan Kolaborasi Lintas Negara

Pondok Literasi Sabih Pedawa dan Kolaborasi Lintas Negara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co