23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merdeka Berbangsa, Merdeka Bermedia

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 17, 2024
in Esai
Merdeka Berbangsa, Merdeka Bermedia

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari Canva by Russy

KEMERDEKAAN suatu bangsa seperti oksigen yang memberi kehidupan pada warganya. Ia bukan sekadar simbol, melainkan fondasi utama yang menopang harkat dan martabat setiap individu. Tanpa kemerdekaan, warga negara tidak bisa berkembang dan mengekspresikan potensi mereka secara bebas.

Kemerdekaan memberi peluang bagi setiap orang untuk mengejar impian dan meraih cita-cita, sehingga menciptakan masyarakat yang berdaya. Maka penting sekali suatu bangsa untuk mengejar dan meraih kemerdekaannya sendiri.  

Kehadiran kemerdekaan juga menjaga keberagaman dan keunikan setiap individu, memastikan bahwa hak-hak asasi manusia dihormati dan dilindungi. Dengan kemerdekaan, warga negara dapat merasa dihargai dan diakui sebagai bagian yang penting dalam kemajuan suatu bangsa. Karenanya, bukanlah hanya sekadar kemerdekaan politik, tetapi juga kemerdekaan dalam berpikir, berpendapat, dan bertindak yang menjadi kunci bagi setiap individu meraih kehidupan yang lebih bermartabat.

Bagi bangsa Indonesia,  kemerdekaan  membuat masyarakat memiliki kesempatan untuk membangun harga diri yang kuat dan mengembangkan karakter khas Indonesia yang penuh dengan tata nilai mulia dan luhur. Kemerdekaan memberikan ruang bagi individu dan kelompok masyarakat untuk mengekspresikan identitas budaya, keyakinan, dan nilai-nilai yang penting bagi masyarakat Indonesia.  

Dengan memiliki kontrol atas nasib dan keputusan kita sendiri, kita bisa lebih percaya diri dalam mempertahankan nilai-nilai yang kita yakini mulia dan luhur.  Indonesia yang merdeka juga lebih mampu untuk menghargai dan melestarikan warisan budaya serta tradisi yang menjadi bagian dari identitas bangsa . Dengan demikian, kemerdekaan dapat memperkuat konsep diri , harga diri bangsa dan mendorong perkembangan karakter khas yang mencerminkan nilai-nilai yang mulia dan luhur, warisan dari para leluhur dan nenek-kakek moyang bangsa kita.

Masyarakat Terjajah di Jagat Digital

Dewasa ini, masyarakat sering kali terjebak dalam “penjajahan” informasi yang disebabkan oleh keberagaman media, terutama media sosial. Masyarakat dapat menjadi tidak berdaya dalam menghadapi arus informasi yang tidak terpercaya dan berpotensi merugikan. Mereka dengan mudah dipengaruhi oleh narasi-narasi  yang beredar tanpa mampu melakukan verifikasi yang memadai di jagat digital.

Hal ini disebabkan sebagian besar anggota masyarakat tidak memiliki keterampilan atau pengetahuan yang cukup untuk memilah informasi, mana yang benar dan mana yang palsu. Memang, masyarakat bisa “terjajah” oleh media, terutama jika media digunakan sebagai alat untuk menyebarkan ideologi, budaya, atau informasi yang dapat mengubah pandangan dan perilaku secara massal. Maka ketika masyarakat secara pasif menerima informasi tanpa kritis, mereka bisa terpengaruh oleh narasi yang dibentuk oleh media, baik itu dalam bentuk berita, iklan, atau konten di media sosial.

Penelitian menunjukkan bahwa ketika masyarakat tidak memiliki literasi media yang memadai, mereka lebih rentan terhadap manipulasi informasi dan dapat kehilangan otonomi dalam membentuk opini dan membuat keputusan yang rasional. Media sosial memiliki kekuatan untuk membentuk opini publik dan mempengaruhi norma sosial (Putra, 2024).

Misalnya, jika masyarakat menyukai dan mengkonsumsi media sosial yang  terus-menerus menyoroti gaya hidup yang materialistik dan konsumtif, maka masyarakat secara umum bisa terdorong untuk menilai kebahagiaan dan kesuksesan dari sisi materi semata, yang bisa menggeser nilai-nilai budaya lokal yang lebih menekankan pada kebersamaan dan kesederhanaan. Timbullah budaya untuk menghalalkan segala cara termasuk maraknya tindakan korupsi yang sekarang menjadi keprihatinan kita bersama.

Rasa malu memudar dan jabatan bukan  dianggap lagi sebagai amanah, namun layak diperebutkan sebagai sarana memperkaya diri. Sebuah contoh yang sederhana betapa pergeseran nilai amat berpengaruh pada kehidupan suatu bangsa. Bila ditarik ke fenomena saat ini, kita dapat melihat betapa masifnya pertukaran informasi antar individu di media sosial sebagai sarana interaksi social tanpa batasan usia, negara dan ideologi. Tak pelak, harkat dan martabat individu pun dapat terbentuk dan terpapar melalui interaksi mereka di dunia maya dan membentuk tata nilai dan moralitas baru.

Merdeka Bermedia Sosial

Dengan demikian, penting bagi masyarakat untuk meningkatkan literasi digital dan kritis terhadap informasi yang diterima dari media sosial, agar tidak “terjajah” oleh pengaruh media yang tidak selalu netral atau positif. Perilaku konsumtif dan hedonistik, penyebaran informasi palsu, serta kurangnya rasa empati dan kepedulian terhadap sesama adalah contoh dari budaya negatif yang dapat muncul akibat pengaruh buruk bermedia sosial yang kurang arif. Penting bagi masyarakat untuk bijak dalam menyaring informasi yang diterima agar tidak terpengaruh oleh budaya negatif yang dapat merusak tata nilai dan kepribadian bangsa Indonesia.

Media sosial saat ini memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap tatanan nilai dan moral bangsa Indonesia, yang kaya dengan kearifan lokal. Platform-platform ini sering kali memperlihatkan gaya hidup dan nilai-nilai yang berbeda dari budaya asli kita, yang dapat menggiring generasi muda untuk meninggalkan tradisi dan norma yang sudah ada.

 Misalnya, budaya konsumtif, hedonisme, dan individualisme yang sering dipromosikan di media sosial bisa mengikis nilai-nilai tepa selira, kebersamaan, gotong royong, dan kesederhanaan yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia. Ketidaksesuaian konten dengan nilai-nilai lokal sering kali membuat generasi muda kehilangan jati diri mereka dan menjauh dari akar budaya yang seharusnya menjadi fondasi identitas bangsa (Wijayanti, 2021).

Apakah berarti kita sudah terjajah oleh media sosial?  Jika kita mulai merasa, harkat dan martabat bangsa jatuh karena keliru bermedia sosial , mari kita mulai  pikirkan strategi melawan penjajah baru kita ini. Jika kita malas memikirkannya, mari kita tengok sejenak kata Bung Karno, “Kemerdekaan hanyalah didapat dan dimiliki oleh bangsa yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad, ‘Merdeka! Merdeka atau mati’!”. Merdeka ! [T]

ACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Iklan Modern: Seni Menjual Mimpi atau Manipulasi Tersembunyi?
Candu Media Sosial dan Kesehatan Mental
Media Sosial dan Judi Online: Kombinasi Mematikan bagi Ketahanan Negara
Media Sosial untuk Revolusi Kesadaran Lingkungan
Tags: Hari Kemerdekaan RIHUT Kemerdekaan RIkemerdekaanmedia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Amburadul Usai Menyaksikan VMO (Violent Magic Orchestra) di Bali — Serangkain Indonesia Tour VMO

Next Post

Menikmati Sate Ikan Marlin di Buleleng Development Festival 2024: “Jadi Pengin Bungkus!”

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Menikmati Sate Ikan Marlin di Buleleng Development Festival 2024: “Jadi Pengin Bungkus!”

Menikmati Sate Ikan Marlin di Buleleng Development Festival 2024: “Jadi Pengin Bungkus!”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co