3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merandai Cakrawala Sinema: Membangun Karakter Generasi Milenial hingga Alpha

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
November 19, 2024
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

TAHUN 2024 FFI atau Festival Film Indonesia kembali digelar. Dengan tema “Merandai Cakrawala Sinema Indonesia”, Festival Film Indonesia (FFI) 2024 dimulai dari tanggal 22 April 2024  dan berakhir dengan malam Anugerah FFI tanggal 20 November 2024. Festival Film Indonesia (FFI) adalah ajang penghargaan yang memiliki peran penting dalam memperkuat industri perfilman tanah air.

Tidak hanya sebagai sarana untuk mengapresiasi karya sinematik terbaik, FFI juga berfungsi sebagai wadah untuk menampilkan keberagaman tema, cerita, dan teknik perfilman yang mencerminkan kekayaan sosial, budaya, serta sejarah Indonesia. Melalui berbagai jenis penghargaan yang diberikan, FFI mendorong para sineas Indonesia untuk terus berkarya dan menciptakan film yang berkualitas.

Tidak hanya itu, lebih jauh lagi, festival ini tentu dapat menjadi medium yang strategis untuk turut serta ambil bagian membangun karakter generasi muda, mengingat film memiliki kekuatan besar dalam membentuk cara pandang dan sikap seseorang terhadap realitas sosial.

Dalam konteks ini, teori resepsi dari Hans Robert Jauss (1977), memberikan perspektif yang relevan, dimana penonton dipandang tidak hanya sebagai penerima pesan pasif, tetapi juga aktif dalam menafsirkan makna dari sebuah karya. Film-film yang diputar dalam FFI yang sering kali mengangkat isu-isu sosial dan budaya Indonesia, memberikan ruang bagi penonton terutama generasi muda, untuk merefleksikan realitas kehidupan mereka.

Hal ini sejalan dengan pandangan Stuart Hall tentang representasi, yang menekankan bahwa media, termasuk film, tidak hanya menggambarkan dunia, tetapi juga membentuk cara kita melihat dan memahami dunia tersebut. FFI, dengan ragam film yang diperlombakan, tentu saja dapat berfungsi sebagai sarana menyemarakkan pembelajaran sosial yang dapat mempengaruhi cara generasi muda dalam memahami nilai-nilai, norma, dan identitas mereka sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Dengan demikian, FFI tidak hanya berperan sebagai festival, tetapi juga turut berperan sebagai katalisator pembentukan karakter para penontonnya, terutama generasi muda Indonesia,  melalui kekuatan seni film.

Film Sebagai Penghubung Nilai dan Moralitas Antar Generasi

Berbicara tentang generasi muda, generasi milenial, Gen Z, dan Gen Alpha kita terbiasa mendengar adanya cap negatif seperti “mager,” “terlalu tergantung pada digital,” “kurang mandiri,” hingga “apatis.” Seolah-olah saja generasi ini adalah simbol dekadensi moral, jauh dari nilai tanggung jawab dan pribadi tangguh, yang diklaim dimiliki oleh generasi sebelumnya. Namun, apakah stigma ini sepenuhnya adil? Atau, mungkin saja sebenarnya generasi ini hanyalah hasil dari perubahan kemajuan teknologi, pergeseran nilai-nilai sosial, serta perkembangan globalisasi yang begitu cepat, yang menciptakan tantangan baru yang tak pernah dihadapi dan juga dipahami generasi sebelumnya.

Di tengah dunia yang semakin cepat dalam arus informasi dan teknologi, penulis yakin adalah tidak mudah, bagi generasi apapun itu, untuk bisa menyeimbangkan kebutuhan moral dengan tuntutan realitas digital saat ini. Bisa saja label ini muncul dari fakta, atau memang sekadar hasil dari ketidakpahaman generasi sebelumnya. Kenyataannya, perbedaan perspektif lintas generasi sering menciptakan konflik nilai. Labelisasi ini bisa jadi lebih mencerminkan ketidakmampuan generasi sebelumnya untuk memahami realitas baru yang dihadapi dan disodorkan oleh generasi saat ini.

Di tengah dunia yang penuh distraksi digital, generasi ini sebenarnya sangat membutuhkan refleksi moral yang mendalam. Mereka tumbuh di era yang menawarkan akses informasi tanpa batas, namun sekaligus membanjiri mereka dengan krisis eksistensial, mulai dari perubahan norma hingga masalah identitas. Hal inilah yang membuat film sangat relevan sebagai suatu cermin moral, atau dalam bahasa Jawa sebagai Kaca Benggala, karena generasi ini dalam kondisi darurat memerlukan alat untuk merefleksikan nilai-nilai mereka di tengah dunia yang terus berubah.

Film adalah media yang memiliki kekuatan untuk menjembatani nilai-nilai klasik dengan konteks modern. Misalnya, film superhero dengan tema tanggung jawab dan pengorbanan atau film animasi yang mengajarkan keberanian dan kolaborasi. Dengan begitu, nilai-nilai moral tidak terasa usang atau klise bagi generasi muda karena terbungkus dalam cerita yang relevan dan mudah diterima. Sebenarnya dengan masih diterimanya film-film semacam ini maka hal itu memperlihatkan bahwa generasi sekarang masih mampu memaknai nilai tanggung jawab, hanya saja dengan cara yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Film sebagai Sarana Edukasi

Seperti yang dikatakan oleh Denis McQuail (2020), film sebagai media massa tentu bukan sekadar hiburan. Dia mengatakan bahwa media seperti film membantu dalam proses sosialisasi dengan menyebarkan norma dan nilai-nilai budaya, yang sekaligus mendorong adanya perubahan sosial.

Roger Ebert, kritikus film terkemuka pada masanya (1942-2013), menggambarkan film sebagai suatu mesin empati. Bagi Ebert, film adalah alat yang mampu menjembatani emosi antar individu, menyentuh sisi-sisi terdalam manusia yang terkadang sulit diekspresikan. Di Indonesia, sineas lama Indonesia nan kesohor, Usmar Ismail (1921-1971) sebagai Bapak Perfilman Indonesia, bahkan melihat film sebagai media untuk menggambarkan karakter bangsa dan membentuk identitas moral yang kuat.

Sementara itu, pemikir seperti Sigmund Freud (1856-1939) yang seorang ahli psikologi, mengaitkan film dengan refleksi dari konflik bawah sadar manusia, menjadikannya medium yang ampuh untuk memperkuat empati dan kesadaran diri. Di sisi lain, pemikir-pemikir dari Frankfurt School, seperti Max Horkheimer dan Theodor Adorno pada masa 1930-an, justru melihat film sebagai sarana untuk mengkritik status quo, membuka ruang bagi penonton untuk mempertanyakan nilai-nilai masyarakat. Mereka menegaskan bahwa film bisa menjadi alat perlawanan yang kuat terhadap penindasan budaya, yang secara kritis mendorong generasi muda untuk menyelami makna dan mempertanyakan norma yang ada.

Mengasah Empati dan Kesadaran Sosial melalui Cerita Film

Menilik para pemikir tersebut, tentu dapat dipahami posisi strategis film dalam perkembangan sosial masyarakat khususnya generasi muda. Film dapat menjadi alat untuk menumbuhkan empati dan kesadaran sosial. Kita ambil contoh misalnya ”Imperfect”(2019),  film ini mengangkat isu body shaming dan tekanan sosial terhadap penampilan.

 Sedangkan “Perempuan Tanah Jahanam” (2019) mengangkat isu tentang ketidakadilan sosial, ketimpangan ekonomi, dan perjuangan perempuan dalam menghadapi sistem yang menindas melalui berbagai genre film, generasi milenial hingga Alpha bisa diajak untuk memahami kompleksitas sosial melalui cerita film yang menantang mereka untuk bisa berpikir kritis, sekaligus menanamkan kesadaran kepada mereka untuk mau terkoneksi dan terlibat dalam isu-isu kemanusiaan.

Film kerap menggambarkan karakter yang berhadapan dengan dilema moral atau krisis identitas, yang sangat relevan bagi generasi masa kini. Sebut saja “Ngeri-Ngeri Sedap” (2022) yang membawa pesan sosial yang kuat mengenai nilai kebersamaan dalam keluarga dan pentingnya empati terhadap pandangan hidup orang lain, khususnya di tengah perbedaan budaya dan generasi.

Film yang kritis seperti “Penyalin Cahaya” (2021) menantang penonton untuk berpikir ulang tentang realitas, etika, dan pengaruh teknologi. Karya-karya ini memperlihatkan bahwa film bisa merangsang pikiran kritis, mendorong generasi muda untuk mempertanyakan dan memahami dunia yang semakin, kompleks serta memberikan ruang bagi mereka untuk mengembangkan pemahaman diri yang lebih dalam.

Film sebagai Katalis Perubahan Moral dan Mental

Generasi milenial, Gen Z, dan Gen Alpha adalah generasi yang kita yakini mampu untuk tumbuh hebat dengan panduan moral yang baik, dan tentu saja musti didukung dengan bantuan media yang tepat dan salah satunya adalah film. Dengan film sebagai sarana edukasi moral, mereka dapat berkembang menjadi individu yang bijaksana, reflektif, dan kritis dalam menghadapi tantangan zaman.

 Film-film dengan tema refleksi moral dan mental harus menjadi bagian dari konsumsi budaya generasi ini. Dengan mendorong generasi muda untuk memilih film yang mendukung pengembangan diri, masyarakat dapat membantu mereka membentuk perspektif yang lebih matang, kritis, dan peduli terhadap dunia di sekitar mereka.

Sangat penting bagi generasi ini untuk menyaring tontonan yang mereka pilih. Salah satunya dengan menghindari film yang mengandung nilai negatif dan memilih tontonan yang dapat memperkaya perspektif mereka untuk menjadi pribadi yang lebih bijaksana dan berwawasan luas. Film sebagai media refleksi dan edukasi, jika dipilih dengan bijak, bisa menjadi penuntun dalam membentuk nilai-nilai positif yang lebih kuat. Jaya selalu perfilman Indonesia! [T]

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Tambal Sulam Ekranisasi Teks Lama ke Film
Haru Menguar dengan Tetes atau Tanpa Tetes Air Mata : Dari Pemutaran Film Eksil di UWRF 2024
Festival Film Sinema Akhir Tahun #9: Diikuti 300 Film, 21 Lolos Kurasi, 1 Karya Film dari Bali 
Suitcase (2023) dan Suku Kurdi yang Masih Terdiskriminasi
Tertawa Bersama Phone Call Man Woman
Europe by Bidon (2022): Nasib Baik Tak Ada yang Tahu
Utopia di Padang Beton dalam Fantasy Is a Concrete Jungle
In the Shadow of the Cypress (2023) dan Post-Traumatic Stress Disorder
Black Rain in My Eyes (2023): “Kebohongan” Seorang Penyair kepada Putrinya yang Buta
Tags: festival filmFestival Film IndonesiaFFIfilmFilm Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lewat Lorong Karang Menjelajah Keindahan Tersembunyi Pantai Suluban di Bali

Next Post

Bubuh Nyawan Dadong Rinten dari Blahkiuh, Bubur Bali dengan Cita Rasa Autentik

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Bubuh Nyawan Dadong Rinten dari Blahkiuh, Bubur Bali dengan Cita Rasa Autentik

Bubuh Nyawan Dadong Rinten dari Blahkiuh, Bubur Bali dengan Cita Rasa Autentik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co