12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merandai Cakrawala Sinema: Membangun Karakter Generasi Milenial hingga Alpha

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
November 19, 2024
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

TAHUN 2024 FFI atau Festival Film Indonesia kembali digelar. Dengan tema “Merandai Cakrawala Sinema Indonesia”, Festival Film Indonesia (FFI) 2024 dimulai dari tanggal 22 April 2024  dan berakhir dengan malam Anugerah FFI tanggal 20 November 2024. Festival Film Indonesia (FFI) adalah ajang penghargaan yang memiliki peran penting dalam memperkuat industri perfilman tanah air.

Tidak hanya sebagai sarana untuk mengapresiasi karya sinematik terbaik, FFI juga berfungsi sebagai wadah untuk menampilkan keberagaman tema, cerita, dan teknik perfilman yang mencerminkan kekayaan sosial, budaya, serta sejarah Indonesia. Melalui berbagai jenis penghargaan yang diberikan, FFI mendorong para sineas Indonesia untuk terus berkarya dan menciptakan film yang berkualitas.

Tidak hanya itu, lebih jauh lagi, festival ini tentu dapat menjadi medium yang strategis untuk turut serta ambil bagian membangun karakter generasi muda, mengingat film memiliki kekuatan besar dalam membentuk cara pandang dan sikap seseorang terhadap realitas sosial.

Dalam konteks ini, teori resepsi dari Hans Robert Jauss (1977), memberikan perspektif yang relevan, dimana penonton dipandang tidak hanya sebagai penerima pesan pasif, tetapi juga aktif dalam menafsirkan makna dari sebuah karya. Film-film yang diputar dalam FFI yang sering kali mengangkat isu-isu sosial dan budaya Indonesia, memberikan ruang bagi penonton terutama generasi muda, untuk merefleksikan realitas kehidupan mereka.

Hal ini sejalan dengan pandangan Stuart Hall tentang representasi, yang menekankan bahwa media, termasuk film, tidak hanya menggambarkan dunia, tetapi juga membentuk cara kita melihat dan memahami dunia tersebut. FFI, dengan ragam film yang diperlombakan, tentu saja dapat berfungsi sebagai sarana menyemarakkan pembelajaran sosial yang dapat mempengaruhi cara generasi muda dalam memahami nilai-nilai, norma, dan identitas mereka sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Dengan demikian, FFI tidak hanya berperan sebagai festival, tetapi juga turut berperan sebagai katalisator pembentukan karakter para penontonnya, terutama generasi muda Indonesia,  melalui kekuatan seni film.

Film Sebagai Penghubung Nilai dan Moralitas Antar Generasi

Berbicara tentang generasi muda, generasi milenial, Gen Z, dan Gen Alpha kita terbiasa mendengar adanya cap negatif seperti “mager,” “terlalu tergantung pada digital,” “kurang mandiri,” hingga “apatis.” Seolah-olah saja generasi ini adalah simbol dekadensi moral, jauh dari nilai tanggung jawab dan pribadi tangguh, yang diklaim dimiliki oleh generasi sebelumnya. Namun, apakah stigma ini sepenuhnya adil? Atau, mungkin saja sebenarnya generasi ini hanyalah hasil dari perubahan kemajuan teknologi, pergeseran nilai-nilai sosial, serta perkembangan globalisasi yang begitu cepat, yang menciptakan tantangan baru yang tak pernah dihadapi dan juga dipahami generasi sebelumnya.

Di tengah dunia yang semakin cepat dalam arus informasi dan teknologi, penulis yakin adalah tidak mudah, bagi generasi apapun itu, untuk bisa menyeimbangkan kebutuhan moral dengan tuntutan realitas digital saat ini. Bisa saja label ini muncul dari fakta, atau memang sekadar hasil dari ketidakpahaman generasi sebelumnya. Kenyataannya, perbedaan perspektif lintas generasi sering menciptakan konflik nilai. Labelisasi ini bisa jadi lebih mencerminkan ketidakmampuan generasi sebelumnya untuk memahami realitas baru yang dihadapi dan disodorkan oleh generasi saat ini.

Di tengah dunia yang penuh distraksi digital, generasi ini sebenarnya sangat membutuhkan refleksi moral yang mendalam. Mereka tumbuh di era yang menawarkan akses informasi tanpa batas, namun sekaligus membanjiri mereka dengan krisis eksistensial, mulai dari perubahan norma hingga masalah identitas. Hal inilah yang membuat film sangat relevan sebagai suatu cermin moral, atau dalam bahasa Jawa sebagai Kaca Benggala, karena generasi ini dalam kondisi darurat memerlukan alat untuk merefleksikan nilai-nilai mereka di tengah dunia yang terus berubah.

Film adalah media yang memiliki kekuatan untuk menjembatani nilai-nilai klasik dengan konteks modern. Misalnya, film superhero dengan tema tanggung jawab dan pengorbanan atau film animasi yang mengajarkan keberanian dan kolaborasi. Dengan begitu, nilai-nilai moral tidak terasa usang atau klise bagi generasi muda karena terbungkus dalam cerita yang relevan dan mudah diterima. Sebenarnya dengan masih diterimanya film-film semacam ini maka hal itu memperlihatkan bahwa generasi sekarang masih mampu memaknai nilai tanggung jawab, hanya saja dengan cara yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Film sebagai Sarana Edukasi

Seperti yang dikatakan oleh Denis McQuail (2020), film sebagai media massa tentu bukan sekadar hiburan. Dia mengatakan bahwa media seperti film membantu dalam proses sosialisasi dengan menyebarkan norma dan nilai-nilai budaya, yang sekaligus mendorong adanya perubahan sosial.

Roger Ebert, kritikus film terkemuka pada masanya (1942-2013), menggambarkan film sebagai suatu mesin empati. Bagi Ebert, film adalah alat yang mampu menjembatani emosi antar individu, menyentuh sisi-sisi terdalam manusia yang terkadang sulit diekspresikan. Di Indonesia, sineas lama Indonesia nan kesohor, Usmar Ismail (1921-1971) sebagai Bapak Perfilman Indonesia, bahkan melihat film sebagai media untuk menggambarkan karakter bangsa dan membentuk identitas moral yang kuat.

Sementara itu, pemikir seperti Sigmund Freud (1856-1939) yang seorang ahli psikologi, mengaitkan film dengan refleksi dari konflik bawah sadar manusia, menjadikannya medium yang ampuh untuk memperkuat empati dan kesadaran diri. Di sisi lain, pemikir-pemikir dari Frankfurt School, seperti Max Horkheimer dan Theodor Adorno pada masa 1930-an, justru melihat film sebagai sarana untuk mengkritik status quo, membuka ruang bagi penonton untuk mempertanyakan nilai-nilai masyarakat. Mereka menegaskan bahwa film bisa menjadi alat perlawanan yang kuat terhadap penindasan budaya, yang secara kritis mendorong generasi muda untuk menyelami makna dan mempertanyakan norma yang ada.

Mengasah Empati dan Kesadaran Sosial melalui Cerita Film

Menilik para pemikir tersebut, tentu dapat dipahami posisi strategis film dalam perkembangan sosial masyarakat khususnya generasi muda. Film dapat menjadi alat untuk menumbuhkan empati dan kesadaran sosial. Kita ambil contoh misalnya ”Imperfect”(2019),  film ini mengangkat isu body shaming dan tekanan sosial terhadap penampilan.

 Sedangkan “Perempuan Tanah Jahanam” (2019) mengangkat isu tentang ketidakadilan sosial, ketimpangan ekonomi, dan perjuangan perempuan dalam menghadapi sistem yang menindas melalui berbagai genre film, generasi milenial hingga Alpha bisa diajak untuk memahami kompleksitas sosial melalui cerita film yang menantang mereka untuk bisa berpikir kritis, sekaligus menanamkan kesadaran kepada mereka untuk mau terkoneksi dan terlibat dalam isu-isu kemanusiaan.

Film kerap menggambarkan karakter yang berhadapan dengan dilema moral atau krisis identitas, yang sangat relevan bagi generasi masa kini. Sebut saja “Ngeri-Ngeri Sedap” (2022) yang membawa pesan sosial yang kuat mengenai nilai kebersamaan dalam keluarga dan pentingnya empati terhadap pandangan hidup orang lain, khususnya di tengah perbedaan budaya dan generasi.

Film yang kritis seperti “Penyalin Cahaya” (2021) menantang penonton untuk berpikir ulang tentang realitas, etika, dan pengaruh teknologi. Karya-karya ini memperlihatkan bahwa film bisa merangsang pikiran kritis, mendorong generasi muda untuk mempertanyakan dan memahami dunia yang semakin, kompleks serta memberikan ruang bagi mereka untuk mengembangkan pemahaman diri yang lebih dalam.

Film sebagai Katalis Perubahan Moral dan Mental

Generasi milenial, Gen Z, dan Gen Alpha adalah generasi yang kita yakini mampu untuk tumbuh hebat dengan panduan moral yang baik, dan tentu saja musti didukung dengan bantuan media yang tepat dan salah satunya adalah film. Dengan film sebagai sarana edukasi moral, mereka dapat berkembang menjadi individu yang bijaksana, reflektif, dan kritis dalam menghadapi tantangan zaman.

 Film-film dengan tema refleksi moral dan mental harus menjadi bagian dari konsumsi budaya generasi ini. Dengan mendorong generasi muda untuk memilih film yang mendukung pengembangan diri, masyarakat dapat membantu mereka membentuk perspektif yang lebih matang, kritis, dan peduli terhadap dunia di sekitar mereka.

Sangat penting bagi generasi ini untuk menyaring tontonan yang mereka pilih. Salah satunya dengan menghindari film yang mengandung nilai negatif dan memilih tontonan yang dapat memperkaya perspektif mereka untuk menjadi pribadi yang lebih bijaksana dan berwawasan luas. Film sebagai media refleksi dan edukasi, jika dipilih dengan bijak, bisa menjadi penuntun dalam membentuk nilai-nilai positif yang lebih kuat. Jaya selalu perfilman Indonesia! [T]

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Tambal Sulam Ekranisasi Teks Lama ke Film
Haru Menguar dengan Tetes atau Tanpa Tetes Air Mata : Dari Pemutaran Film Eksil di UWRF 2024
Festival Film Sinema Akhir Tahun #9: Diikuti 300 Film, 21 Lolos Kurasi, 1 Karya Film dari Bali 
Suitcase (2023) dan Suku Kurdi yang Masih Terdiskriminasi
Tertawa Bersama Phone Call Man Woman
Europe by Bidon (2022): Nasib Baik Tak Ada yang Tahu
Utopia di Padang Beton dalam Fantasy Is a Concrete Jungle
In the Shadow of the Cypress (2023) dan Post-Traumatic Stress Disorder
Black Rain in My Eyes (2023): “Kebohongan” Seorang Penyair kepada Putrinya yang Buta
Tags: festival filmFestival Film IndonesiaFFIfilmFilm Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lewat Lorong Karang Menjelajah Keindahan Tersembunyi Pantai Suluban di Bali

Next Post

Bubuh Nyawan Dadong Rinten dari Blahkiuh, Bubur Bali dengan Cita Rasa Autentik

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Bubuh Nyawan Dadong Rinten dari Blahkiuh, Bubur Bali dengan Cita Rasa Autentik

Bubuh Nyawan Dadong Rinten dari Blahkiuh, Bubur Bali dengan Cita Rasa Autentik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co