3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Haru Menguar dengan Tetes atau Tanpa Tetes Air Mata : Dari Pemutaran Film Eksil di UWRF 2024

Rusdy Ulu by Rusdy Ulu
October 29, 2024
in Khas
Haru Menguar dengan Tetes atau Tanpa Tetes Air Mata : Dari Pemutaran Film Eksil di UWRF 2024

Pemutaran film Eksil di UWRF 2024 | Foto; tatkala.co/Rusdi

“Ini yang paling ramai sejak hari pertama,” ucap Erma yang berdiri di samping saya. General Manager UWRF ini harus berdiri dengan saya di sisi luar Alang-Alang Stage karena kursi yang disediakan sudah penuh.

Penonton terus berdatangan, mereka yang tidak mendapatkan tempat duduk akan berdiri seperti saya dan Erma. Kami menonton film “Eksil” yang diputar pada film program di acara Ubud Writer and Readers Festival (UWRF) 2024, Sabtu malam, 26 Oktober 2024.

Film dokumenter Indonesia karya Lola Amaria itu menjadi salah satu film atau bahkan satu-satunya film yang membuat Alang-Alang Stage seperti sebuah bioskop alternatif. Malam itu penonton penuh, dan yang menarik lagi banyak orang Indonesia yang hadir—biasanya setiap sesi acara UWRF ini didominasi oleh orang asing (bule), termasuk pemutaran film. Tapi, kali ini pemandangannya berbeda.

Jangankan kursi di dalam area Alang-alang Stage, di sisi luarnya pun, jika tidak rebutan posisi, maka sulit menonton dengan nyaman—karena layar di depan akan ketutupan tiang atau badan orang lain yang lebih tinggi.

Penonton memenuhi Alang-alang Stage pada pemutaran film Eksil di UWRF 2024 | Foto; tatkala.co/Rusdi

Kami menonton dengan senyap, bahkan orang-orang yang hadir menahan untuk berbisik-bisik. Selama pemutaran masih ada yang tiba-tiba berdatangan dan menyela barisan untuk mendapat posisi terbaik di hadapan layar.

Sepertinya ada semacam panggilan batin yang membuat orang-orang antusias memenuhi sesi nobar (nonton bareng) malam itu. Mereka tidak mendadak muncul dan ikut nonton begitu saja. Ada banyak rasa penasaran yang dibawa oleh mereka, termasuk saya pribadi.

Sejak kemunculannya pertama kali di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2022, film yang berdurasi 120 menit itu langsung mendapat penghargaan kategori best film. Setelah itu menjadi pembicaraan banyak orang, sampai soal desa-desus pelarangan pemutarannya.

Sesuai dengan namanya, Eksil merupakan film yang menyorot kisah yang dialami oleh para ‘eksil’ atau orang buangan—pelajar indonesia yang terdampar di luar negeri pasca konflik 1965. Kisah mereka—orang buangan—selama ini layaknya mitos yang jarang terdengar atau menjadi perhatian, kisah ini tidak akan pernah didapatkan di bangku sekolah maupun kelas-kelas perkuliahan.

Situasi pasca 1965 menggeser paradigma sosial kala itu. Apapun yang berkaitan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah bola api yang selalu dihindari, temasuk siapapun yang dianggap terafiliasi dengan itu. “Generasi pasca 65 dididik untuk membeci PKI, lewat propaganda film dan lain sebagainya.” Demikian petikan ungkapan dalam Film Eksil malam itu.

Bahkan orang yang pernah memiliki hubungan dengan Soekarno ikut terseret, karena Soekarna dianggap berpihak kepada PKI. Maka diambil kesimpulan siapa pun yang mendukung Soekarno harus dilenyapkan juga.

Sepuluh narasumber yang menjadi subjek Film Eksil adalah orang-orang yang dulunya pelajar atau mahasiswa yang dikirim oleh Presiden Soekarno untuk studi ke luar negeri.

Tetapi, setelah 65 mereka mengalami skrining dan dicap PKI, menjadi eksil; tidak bisa kembali ke bangsanya sendiri; kewarganegaraanya dicabut; dan luntang-lanting di negeri orang.

Bisa dibayangkan bagaimana perasaan para eksil kala itu; kesal bercampur rindu kampung halaman, kecewa dan kehilangan semua yang telah mereka bangun dan impikan. Perasaan mereka itulah yang berusaha ditangkap oleh Lola dalam filmnya—yang membuat saya dan peserta  UWRF lainnya harus berkaca-kaca pada mata saat menonton malam itu.

Pemutaran film Eksil di UWRF 2024 | Foto; tatkala.co/Rusdi

Kali ini saya beruntung, UWRF 2024 tidak hanya menggelar pemutaran film “Eksil”, tetapi mendatangkan juga Lola Amaria sebagai narasumber dan Eni Puji Utami sebagai moderator untuk sesi diskusi setelah pemutaran,.

Produser film Eksil itu datang menggunakan drees motif bunga yang memadukan antara warna putih dan ungu. Lola bercerita soal proses produksi hingga distribusi filmnya yang sampai 10 tahun, melalui jalan panjang yang bekelok-kelok.

“Ini bermula dari rasa penasaran dan takut,” ucap Lola Amaria saat sesi diskusi. Dua hal itu telah memicunya menggali tentang kejadian 65, yang kala itu masih tabu untuk diperbincangkan.

Lola yang melewati hidup di era 1990-an, menurutnya sedari zaman sekolah telah diberi tontotan wajib setiap tanggal 30 September, sebuah film berjudul Penumpasan Penghianatan G30S/PKI.

Ia tidak pernah punya kesempatan untuk bertanya seperti apa kejadian sebenarnya. Masa sekolahnya penuh dengan dokrin kebecian terhadap komunisme.

Dalam waktu yang bersamaan ia malah berpikir kenapa komunisme atau  PKI itu bisa bersalah; kenapa mereka harus takut dengan PKI—banyak pertanyaan kritis tentang 65 yang muncul di kepalanya saat dulu.

Hanya saja situasi kala itu, guru dan orang-orang di sekitarnya membuat Lola takut untuk terus terang mempertanyakan konflik 65. Ia tidak bisa bertanya ke siapapun, kecuali mencari tahu sendiri.

Dalam penelusurannya, Lola menemukan banyak hal tentang PKI, mulai dari soal pembunuhan/pembantaian massal, buruh, gerwani sampai soal eksil yang menggelitik pikirannya dan kemudian mencari tahu lebih dalam tentang kisah eksil.

“Mereka tidak dibunuh atau tidak dipenjara tetapi mereka tidak boleh pulang, mereka dituduh, padahal mereka bukan PKI atau komunis. Mereka hanya mahasiswa yang dipilih Soekarno untuk dapat beasiswa dan nggak tau apa-apa,” terang Sutradara film Eksil itu di depan puluhan orang yang menonton malam itu.

Lola merasa heran kenapa aset negara yang sebenarnya para intelektual seperti itu malah menjadi korban karena dikaitkan dengan Soekarno yang mengirim mereka ke luar negeri. Mereka malah dikhianati oleh bangsanya sendiri.

“Mereka 32 tahun di negara orang, badannya aja di Eropa tapi hati mereka itu di sini (Indonesia),” lanjut Lola.

Di balik kaca mata beningnya, kedua mata Lola sedikit memerah dan berair. Sepertinya emosional Lola terpantik karena ia telah menampung seluruh perasaan dan cerita yang begitu bermakna dari para eksil—selama ia mengunjungi mereka di luar negeri kala itu.

Lola Amaria Sempat Dikira Intel Oleh Para Eksil dan Hampir Putus Asa

Lola adalah seorang produser film dan sutradara, sekitar tahun 2012-2013 ia mendapat undangan screening film di Jerman. Selama satu minggu di sana, lalu bertemu seorang teman yang memperkenalkannya ke seorang bapak, yang ternyata adalah seorang eksil. 

Lewat pertemuan itu, Lola terus bertanya apa yang sebenarnya terjadi kepada bapak itu dan bagaimana nasib para eksil lainnya. Dan ia keget, di tahun 2013, kata bapak itu, ada lebih dari 200 orang yang dikenal sebagai eksil di Eropa, yang tersebar dari eropa barat dan timur.

Saat itu juga Lola meminta kontak para eksil dan menghungi mereka, “Ada sekitar 50-an orang yang saya dapatkan kontaknya,” ucap Lola. 

“Kemudian saya ke Belanda dan bertemu beberapa dari mereka, saya bermodal HP aja, lalu saya rekam dan tanya mereka,” lanjutnya.

Lola Amaria dalam diskusi usai pemutaran film Eksil di UWRF 2024 | Foto; tatkala.co/Rusdi

Beberapa dari eksil yang ia temui ada yang awalnya dikirim ke Tiongkok lalu pindah ke Uni Soviet (sekarang Rusia) dan berakhir di Belanda; ada juga dari Swedia berakhir di Belanda; dan statusnya bermacam-macam.

Saat menelusuri para eksil itu ia sempat dimarahi, ditolak dan dikira intelegen. “Kamu ini siapa? Siapa yang mengutusmu? Berapa kamu dapat dana? Siapa di balik organisasi kamu ini, kata mereka ke saya,” ucap Lola.

Kecurigaan itu tentu hadir karena para eksil punya pengalaman traumatis yang tidak pernah kita bayangkan. Bahkan salah satu eksil di filmnya Lola memberikan keterangan pernah memiliki pacar saat di Belanda yang ternyata adalah seorang intel yang dikirim pemerintah.

Lola sempat berada di titik di mana ia ingin berhenti. Penerimaan eksil terhadap dirinya tidak semulus rencana film yang ia susun. Satu tahun ia terhambat melanjutkan projectnya. Sampai ia mencoba menghubungi temannya di Amsterdam untuk membantunya.

“Saya minta tolong untuk meyakinkan para eksil kalau saya bukan intel, saya tidak berbahaya, dan saya kasih film-film yang pernah saya buat agar mereka tau kalo saya ini hanya pembuat film,” terangnya.

Diskusi usai pemutaran film Eksil di UWRF 2024 | Foto; tatkala.co/Rusdi

Berkat bantuan temannya itu ia berhasil meyakinkan sekitar 30 eksil dan diantaranya adalah perempuan. Hanya saja, cuma 10 orang yang mau terlibat dalam produksi film dokumenternya. Para eksil lain merasa takut untuk lebih jauh muncul di permukaan. Menurut Lola, mereka masih takut dan tidak tahu siapa yang akan menjamin mereka beserta keluarganya yang ada di Indonesia jika mereka muncul ke publik.

Lola akhirnya syuting tahun 2015 dan hanya memiliki tim lima orang termasuk dirinya. Narasumber yang terpilih antara lain Asahan Aidit (alm), Chalik Hamid (alm), Djumaini Kartaprawira (alm), Kuslan Budiman (alm), Sardjio Mintardjo (alm), Sarmadji (alm), Hartoni Ubes, I Gede Arka, Tom Iljas, Waruno Mahdi, Herutjagio Mintardjo, dan Nurkasih Mintardjo.

Keluarga dan Kerabat Eksil Ikut Hadir di UWRF 2024

Sebelum menutup ceritanya, Lola memanggil seorang pria berbaju kuning dengan badan yang kekar dan warna kulit sawo matang seperti saya. Ia melangkah ke depan dan duduk di sebelah kanan Lola.

“Nama saya Manto dan bapak saya eksil yang tidak bisa kembali ke Indonesia,” ucap pria itu.

Manto adalah anak seorang eksil yang hidup di Tiongkok sejak kecil, lalu sekitar umur 6 tahun ia bersama ayahnya pindah ke Belanda. Kini ia telah menjadi seorang bapak.

Ia tumbuh dan besar di luar negeri, tapi entah bagaimana saat berbicara Manto begitu fasih berbahasa Indonesia. Suaranya bulat mengucapkan setiap kata dan kalimat Bahasa Indonesia. Saya tidak mau heran sebenarnya, tapi umumnya orang yang tumbuh dan besar di luar negeri tidak akan selancar itu berbicara dalam Bahasa Indonesia.

Kebetulan saat itu, Manto sedang berlibur di Bali dan langsung dikontak oleh Lola untuk ikut nonton “Eksil” di acara UWRF.

Manto pertama kali ke Indonesia umur 30 tahun, dan merasa sedih atas apa yang dilakukan oleh bangsanya, terhadap ayahnya.

“Di Belanda kami dikasih passport stateless person, khusus untuk orang yang tak berkewarganegaraan. Dan bapak saya, sampai ia meninggal, tidak pernah mau mengambil status kewarganegaraan Belanda,” ucap Manto dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.

Badan Manto memang besar dan kekar tetapi saat ia bercerita perasaannya tidak bisa menipu

Ayahnya selalu meyakinkan Manto bahwa mereka adalah orang Indonesia, sampai kapan pun. Dan ayahnya selalu merasa ia adalah Soekarnois, bukan PKI.

Persis seperti itu juga yang dirasakan oleh para eksil di film, mereka mengakui bahwa dirinya utusan Soekarno dan tidak memiliki hubungan apa-apa dengan ideologi atau partai politik manapun kala itu.

Lola Amaria berincang dengan penonton | Foto: tatkala.co/Rusdi

Diskusi malam itu semakin menyita perhatian saya, seorang ibu tiba-tiba mengacungkan tangan untuk menyampaikan sesuatu. Saat diberi kesempatan oleh moderator, ia tidak ingin berdiri, hanya duduk. Seolah tidak ingin disorot oleh kamera, bahkan tidak sempat memberitahu namanya.

“Adik bapak saya juga seorang eksil,” katanya. Ibu itu hadir dengan seorang anak perempuan. Dan ia tidak pernah tahu apa sebenarnya yang terjadi terhadap pamannya.

Belum sampai tiga kalimat yang ia ucapkan, ibu itu tiba-tiba meneteskan air mata. Baginya setelah menonton eksil seperti diingatkan kembali dengan pamannya dulu. Tidak banyak yang ia ceritakan, tapi ia sangat berterima kasih terhadap Lola untuk film yang menyentuh perasaan itu.

Saya merasakan hal yang sama, film Eksil menyita emosional. Puncaknya ada di akhir film ketika Lola Amaria dan tim pamit kepada para eksil di luar negeri. Mereka melambaikan tangan kepada Lola seolah itu adalah pertemuan terakhir mereka. Dan benar saja, beberapa eksil telah meninggal, sesaat setelah Lola di Indonesia dan film itu tayang saat ini.

Karena ingin lebih dekat mendengarkan cerita Lola, saya memutuskan menyerobot kerumunan penonton dan mencari posisi yang memungkinkan kaki tidak cepat keram atau pegal. Kebetulan saat itu juga ada seorang yang minggalkan kursinya di depan, tentu tanpa pikir panjang langsung saya duduki.

Tepat di kursi sebelah saya, duduk seorang perempuan dengan kaca mata dan baju hitam yang dipadukan dengan rok putih bermotif bunga. Rambutnya diikat ke belakang dan menggunakan tas kulit coklat, tentunya bukan kulit buaya. Kalung yang ia pakai memiliki permata hitam seukuran biji nangka. Saya pikir ia kolektor batu akik.

Awalnya saya tidak begitu memperhatikannya, sampai ia menyatakan hal yang mengejutkan bagi saya bahkan orang-orang di sana saat itu.

“Waktu di Jogja saya bersama suami cepat-cepat harus menonton film ini, jaga-jaga film ini akan di-breakdown. Tapi, bukan karena kami ingin tercerahkan soal 65, kami sudah tercerahkan oleh film-film sebelumnya,” ungkapnya.

Lalu tiba-tiba ia mengatakan, “Kami kangen dengan Pak Min. Saya dan suami adalah dua dari mahasiswa yang selalu mendatangi Pak Min atau Pak Kuslan.”

Seketika itu ia langsung menjauhkan mic dari mulutnya, sedikit gemetar seperti tersendak. “Aduh jangan,” ucapnya pelan.

Ia hampir saja meneteskan air mata, seorang ibu yang duduk di sebelah langsung memegang pundaknya dan menguatkannya. Saya menunggu air matanya menetes, barangkali tisu di dalam totebag yang saya bawa akan berguna.

Ia mengatur napas dan lanjut berkata “Saya bukan keluarga tapi mereka seperti bapak bagi kami mahasiswa-mahasiswa di Belanda,” ucapnya soal Pak Min atau yang bernama asli Sardjio Mintardjo, salah satu narasumber film Eksil itu.

Penonton tampak puas usai menonton film Eksil di UWRF 2024 | Foto: tatkala.co/Rusdi

Tidak ada respon dari Lola atas apa yang diucapkan perempuan itu. Hanya senyuman singkat tetapi tampaknya amat bermakna. Barangkali Lola sadar perempuan itu hadir bukan untuk bertanya atau menginginkan jawaban darinya. Melainkan hanya ingin mengatakan ke semua orang tentang apa yang ditayangkan malam itu adalah kebenaran yang terabaikan selama ini. Sebab, ia sendiri pernah menjadi saksi kisah hidup para eksil itu di negeri orang.

Perempuan itu bernama Rhomayda, dari Jogja sengaja datang untuk menonton film Eksil yang diputar pada UWRF 2024. Dulu selama di Belanda ia dan mahasiswa lain sering mengadakan acara diskusi atau hanya sekadar ngumpul di rumah Pak Min. Dan bagi Pak Min sendiri, kehadiran mereka adalah obat untuk kerinduannya terhadap bangsa.

Bertemu dengan mahasiswa Indonesia bagi Pak Min sama saja dengan ia merasa berkumpul dengan keluarganya di kampung.

Sejak di Belanda, Rhomayda baru tahu soal-soal tentang 65. Awalnya ia tidak tahu apa-apa, bahkan sempat tidak mengetahui kalau Pak Min adalah orang yang dibuang bangsa Indonesia. Baru ketika sering mendengar cerita seniornya di Belanda-lah yang mendorong Rhomayda kembali membaca sejarah kelam bangsanya sendiri.

Saat berbincang dengan saya setelah sesi diskusi, Rhomayda mengatakan salah satu kekuatan film ini adalah sisi humanity-nya. Berbeda dengan film lain yang lebih menampilkan sisi yang keras dan mengerikan. Menurutnya filmnya Lola Amaria berhasil menyentuh hati setiap orang yang menonton.

Saya memahami betul apa yang disampaikan perempuan Jogja itu. Beberapa kali rasa-rasanya mata saya seolah-olah berair ketika khusuk menonton. Sungguh, semakin mendekati menit-menit akhir film ini semakin memancing sisi cengeng semua orang.

Haru demi haru menguar di Alang-alang Stage, dan sekitarnya, di UWRF 2024 ini, dengan tetes air mata atau tanpa tetes air mata.

Apalagi ketika momen seorang eksil yang dikubur dengan diiringi lagu Indonesia Pusaka. Sepertinya bukan hanya saya, semua orang mulai berkaca-kaca saat menyaksikkan momen itu di layar. Betapa seorang yang rindu bangsanya, di sisa hidupnya pun berwasiat untuk diiringi pemakanannya dengan lagu Indonesia Pusaka, walau dirinya dikubur di tanah orang asing. [T] 

Reporter/Penulis: Rusdy Ulu
Editor: Adnyana Ole

Bertemu Dee Lestari di UWRF 2024, Bertemu “Tanpa Rencana”, Sebuah Karya yang Jujur
Spirit Membenci Ketertindasan | Dari Diskusi Buku “Representasi Ideologi Sastra Lekra” Karya I Wayan Artika
Tags: eksilfilmFilm EksilLola AmariaUbudUWRFUWRF 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merintis Penulisan “Sejarah Total” di Bali

Next Post

Menyemai Harmoni Gambelan Tradisi di Jantung Budaya Bali: Pembinaan dan Pementasan Iringan Batel Wayang Wong di Banjar Pesalakan, Gianyar

Rusdy Ulu

Rusdy Ulu

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
0
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

Read moreDetails

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
0
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

Read moreDetails
Next Post
Menyemai Harmoni Gambelan Tradisi di Jantung Budaya Bali: Pembinaan dan Pementasan Iringan Batel Wayang Wong di Banjar Pesalakan, Gianyar

Menyemai Harmoni Gambelan Tradisi di Jantung Budaya Bali: Pembinaan dan Pementasan Iringan Batel Wayang Wong di Banjar Pesalakan, Gianyar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co