4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bertemu Dee Lestari di UWRF 2024, Bertemu “Tanpa Rencana”, Sebuah Karya yang Jujur

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
October 26, 2024
in Khas
Bertemu Dee Lestari di UWRF 2024, Bertemu “Tanpa Rencana”, Sebuah Karya yang Jujur

Dee, Ratih Kumala, dan Sonia | Foto: Rusdi

MENGHADIRI peluncuran buku Dee Lestari adalah salah satu tujuan saya di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2024. Menerima undangan via Whatsapp langsung dari Dee adalah sebuah kehormatan dan kebahagiaan. Isi Whatsapp-nya humble, sebuah undangan hadir di peluncurannya. Tentu saya girang karena Dee adalah salah satu penulis favorit saya.

Saya pun menyusun rencana dengan matang. Tapi hidup tak selalu bisa direncanakan. Pada tanggal 24 Oktober itu, jadwal saya di UWRF 2024 sangatlah padat. Ada 4 acara hampir berentetan. Pertama, agenda memandu panel di main program bersama Bora Chung, penulis asal Korea dengan karya-karya fenomenal The Cursed Bunny (shortlisted for 2022 International Booker Prize) dan Your Utopia.

Agenda sore hampir berbarengan, yaitu book launch Pandora, Patiwangi, dan Saiban karya Oka Rusmini di Threads of Life, acara book launch Dee di Titik Dua, acara dinner dengan penulis, dan poetry slam di Casaluna.

Dee Lestari (tengah) bersama pembaca dan sahabatnya. Dari kiri ke kanan, Nova Aryani, Sophie Navita, Kadek Sonia Piscayanti, Pranita Dewi | Foto: Dok. Dee

Menghadiri sekian banyak agenda di tempat yang berbeda-beda dalam konteks Ubud yang macet dan padat, dan kompleks dengan acara yang mengalihkan lalu lintas, memerlukan sebuah keahlian khusus. Saya dan sahabat sejak belia penyair Pranita Dewi memutuskan mengejar agenda dengan motor. Kami berdua, masih sama seperti kami 20 tahun lalu, selalu tersesat tapi selalu percaya diri akan sampai. Apalagi kini dengan Google Map.

Dulu, 20 tahun lalu, waktu belum ada Google Map saja kami sampai, masa sekarang dengan Google Map ga sampai, demikianlah kira-kira. Namun benar saja, mencari Titik Dua dari Google Map bukan butuh titik dua, tapi titik-titik banyak sekali, yang membuat kami seperti biasa linglung, hahaha.

Akhirnya tibalah jua (kami skip cerita perjalanannya, tapi kurang lebih begini, Google Map mengatakan kami sudah sampai, tapi ternyata belum, lalu berbalik lagi, lalu belum lagi, repeat sampai sekitar 25 menit). Dan tiba di Titik Dua, acara pertama ternyata sudah berlalu. Lalu berlanjut ke acara intinya, syukurlah belum terlambat benar. 

Dee, Ratih Kumala, dan Sonia | Foto: Rusdi

Akhirnya saya mendapat kesempatan membeli bukunya langsung, berfoto-foto dengan Dee, ngobrol singkat, dan menonton pentasnya membaca 2 karya dari buku Tanpa Rencana.  Dee membaca karya soal kenangan dengan Bapaknya. Mengharukan hingga sumsum tulang, Dee menahan tangis sejak membaca menit pertama.

Yang kedua, soal Transedensi Ampas Insani, disingkat TAI. Sesuatu yang ringan, namun mindful. Mengapa karya Dee ini menjadi berbeda dari karya Dee yang sebelumnya, karena Dee lebih spontan, lebih mengalir, lebih lepas, lebih lapang, dan lebih tanpa beban di sini. Bahkan dia melibatkan kehadiran penggemarnya dalam karya ini.

Tanpa Rencana secara filosofis mengedepankan sisi Dee yang humble dan merangkul semua yang hadir padanya dengan natural dan tanpa rencana. Melihat sosok Dee saat ini dengan Dee belasan tahun lalu—karena saya memang sering satu panel bersamanya sejak dahulu di UWRF—saya melihat bahwa secara alami Dee memang lebih lepas, lebih mengalir, dan tanpa rencana, sebuah ideologi mindfulness yang dia terapkan dengan jelas sejak awal proses kreatifnya.

Buku Tanpa Rencana karya Dee Lestari | Foto: Mizanstore

Dari social media-nya saya memperhatikan bahwa Dee tahu benar yang dia inginkan, selalu mindful dalam semua yang dia kerjakan, dan selalu total dalam project-nya. Maka saya percaya, Dee akan berusia panjang dalam karya-karyanya. Secara natural dia telah meninggalkan legacy bukan hanya kepada pembacanya namun kepada sahabatnya-keluarganya-penggemarnya-siapa pun yang pernah hadir di hidupnya.

Berikut ini adalah bonus interview ringan dengan Dee di luar banyak sekali percakapan ringan-berat-sedang-somewhere in between yang bisa dijadikan referensi soal karyanya. Saya mengirim pertanyaan dengan cepat via Whatsapp. Yang dibalas dengan cepat juga, khusus untuk Tatkala.co.

Berikut isinya:

Sonia:

Anda mengatakan bahwa Tanpa Rencana adalah ‘benar-benar dirimu’. Apa yang membedakan karya ini dari karyamu yang lain?

Dee:

Selama ini saya dikenal sebagai penulis yang penuh perencanaan, terutama karena karya saya kebanyakan novel, dan sulit sekali membuat novel tanpa perencanaan sama sekali. Kita harus sangat strategis menata alur, struktur, sekaligus jadwal kerja.

Menulis Tanpa Rencana menjadi sebuah penyegaran buat saya karena prosesnya yang spontan dan minim—bahkan seringkali tanpa—perencanaan apa-apa. Satu-satunya “rencana” yang jelas adalah ketika saya memutuskan untuk membuat antologi kumpulan karya-karya cenderung spontan itu.

Tapi, apa konten serta temanya, saya lepaskan mengalir saja sesuai apa yang hinggap dan rasakan saat itu. Hasilnya adalah kumpulan karya yang cenderung katarsis. Saya hanya sepenuhnya bersandar pada aliran ide dan navigasi internal saja.

Otomatis banyak pengalaman pribadi yang keluar, perasaan-perasaan terkuat, bahkan diri saya sebagai “Sang Penulis” terkadang ikut bocor. Sesuatu yang tidak pernah saya lakukan dalam karya fiksi saya lainnya.

Dee sedang membaca karya saat peluncuran buku Tanpa Rencana | Foto: Nova Aryani

Plus, karakter-karakter berusia matang juga mulai muncul dalam karya ini, yang menurut saya menunjukkan evolusi saya secara pribadi dalam hal memandang cinta, relationship, dsb. Tentu saja ini pun menambah perspektif baru dalam bercerita, yang sebelumnya belum terlalu mengemuka di karya saya lainnya.

Sonia:

Karyamu TAI benar-benar menggelitik. Apakah ini refleksi dirimu yang sesungguhnya. Merayakan apa yang ada dalam dirimu?

Dee:

Buat orang yang mengenal saya secara langsung, mereka akan tahu bahwa saya sebetulnya orang yang sangat humoris dan relaks, meskipun tulisan saya banyak yang sangat serius. Dari kecil saya memang luwes dengan humor toilet, nggak ada masalah dengan jorok-jorokan, dan menulis cerpen Transendensi Ampas Insani menjadi pengalaman sangat menyenangkan, karena saya bisa mengombinasikan sisi humor saya yang “kacau” dan keseriusan saya memahami hidup dan meditasi.

Sonia:

Cerita soal Bapak benar-benar menyentuh. Bagaimana sosok Bapak membentukmu menjadi sekarang?

Dee saat peluncuran buku Tanpa Rencana | Foto: Nova Aryani

Dee:

Bapak baru berpulang Februari 2024. Saya sangat terbiasa memiliki Bapak dalam hidup, sehingga kepergian beliau benar-benar memukul. Hubungan kami sebetulnya cenderung santai, praktis, tidak sentimental. Karena itulah saya sendiri tidak menyangka rasa kehilangannya sedalam ini. Saya merasa kehilangan seorang Bapak dan sahabat terbaik sekaligus. I owe him my sense of humor, my practical approach in life. His strive for excellence and “get the job done” mentality really inspired me.

Sonia:

⁠Saya melihat filosofi mindfulness dalam Tanpa Rencana. Hal ini seperti “being at the present moment” dan merayakan semua tanpa rencana.

Dee:

Very true. Lewat Tanpa Rencana, saya kembali diingatkan magisnya interaksi dengan alam ide, mendengarkan yang abstrak dan halus, serta menjadi seorang medium yang melayani dan rendah hati. Prinsip saya adalah melayani karya. Tanpa Rencana melatih saya menjadi pendengar ide yang baik, percaya penuh pada bisikan dan keajaibannya.

Demikianlah percakapan mengalir saya dengan Dee. Ubud masih akan macet hari ini, saya pun bergerak mengalir saja, tanpa banyak rencana.[T]

Ubud, 26 Oktober 2024

Sains & Fiksi, Puncak Kelindan Fakta dan Imajinasi
Resep Manis Menulis Prosa ala Henry Manampiring dan Dee Lestari
Lika-liku Ambisi Perempuan Dalam Novel “Aroma Karsa” Karya Dee Lestari
Singaraja Literary Festival, Sebuah Reuni dan Pertemuan yang Hangat — Catatan Volunteer
Tags: apresiasi sastraDee LestariUbud Writers and Readers FestivalUWRFUWRF 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bertemu Kawan Lama: Menemukan Orang Baru

Next Post

Sastra Bali dan Kebangkitan Daya Budi

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Sastra Bali dan Kebangkitan Daya Budi

Sastra Bali dan Kebangkitan Daya Budi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co