6 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bertemu Dee Lestari di UWRF 2024, Bertemu “Tanpa Rencana”, Sebuah Karya yang Jujur

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
October 26, 2024
in Khas
Bertemu Dee Lestari di UWRF 2024, Bertemu “Tanpa Rencana”, Sebuah Karya yang Jujur

Dee, Ratih Kumala, dan Sonia | Foto: Rusdi

MENGHADIRI peluncuran buku Dee Lestari adalah salah satu tujuan saya di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2024. Menerima undangan via Whatsapp langsung dari Dee adalah sebuah kehormatan dan kebahagiaan. Isi Whatsapp-nya humble, sebuah undangan hadir di peluncurannya. Tentu saya girang karena Dee adalah salah satu penulis favorit saya.

Saya pun menyusun rencana dengan matang. Tapi hidup tak selalu bisa direncanakan. Pada tanggal 24 Oktober itu, jadwal saya di UWRF 2024 sangatlah padat. Ada 4 acara hampir berentetan. Pertama, agenda memandu panel di main program bersama Bora Chung, penulis asal Korea dengan karya-karya fenomenal The Cursed Bunny (shortlisted for 2022 International Booker Prize) dan Your Utopia.

Agenda sore hampir berbarengan, yaitu book launch Pandora, Patiwangi, dan Saiban karya Oka Rusmini di Threads of Life, acara book launch Dee di Titik Dua, acara dinner dengan penulis, dan poetry slam di Casaluna.

Dee Lestari (tengah) bersama pembaca dan sahabatnya. Dari kiri ke kanan, Nova Aryani, Sophie Navita, Kadek Sonia Piscayanti, Pranita Dewi | Foto: Dok. Dee

Menghadiri sekian banyak agenda di tempat yang berbeda-beda dalam konteks Ubud yang macet dan padat, dan kompleks dengan acara yang mengalihkan lalu lintas, memerlukan sebuah keahlian khusus. Saya dan sahabat sejak belia penyair Pranita Dewi memutuskan mengejar agenda dengan motor. Kami berdua, masih sama seperti kami 20 tahun lalu, selalu tersesat tapi selalu percaya diri akan sampai. Apalagi kini dengan Google Map.

Dulu, 20 tahun lalu, waktu belum ada Google Map saja kami sampai, masa sekarang dengan Google Map ga sampai, demikianlah kira-kira. Namun benar saja, mencari Titik Dua dari Google Map bukan butuh titik dua, tapi titik-titik banyak sekali, yang membuat kami seperti biasa linglung, hahaha.

Akhirnya tibalah jua (kami skip cerita perjalanannya, tapi kurang lebih begini, Google Map mengatakan kami sudah sampai, tapi ternyata belum, lalu berbalik lagi, lalu belum lagi, repeat sampai sekitar 25 menit). Dan tiba di Titik Dua, acara pertama ternyata sudah berlalu. Lalu berlanjut ke acara intinya, syukurlah belum terlambat benar. 

Dee, Ratih Kumala, dan Sonia | Foto: Rusdi

Akhirnya saya mendapat kesempatan membeli bukunya langsung, berfoto-foto dengan Dee, ngobrol singkat, dan menonton pentasnya membaca 2 karya dari buku Tanpa Rencana.  Dee membaca karya soal kenangan dengan Bapaknya. Mengharukan hingga sumsum tulang, Dee menahan tangis sejak membaca menit pertama.

Yang kedua, soal Transedensi Ampas Insani, disingkat TAI. Sesuatu yang ringan, namun mindful. Mengapa karya Dee ini menjadi berbeda dari karya Dee yang sebelumnya, karena Dee lebih spontan, lebih mengalir, lebih lepas, lebih lapang, dan lebih tanpa beban di sini. Bahkan dia melibatkan kehadiran penggemarnya dalam karya ini.

Tanpa Rencana secara filosofis mengedepankan sisi Dee yang humble dan merangkul semua yang hadir padanya dengan natural dan tanpa rencana. Melihat sosok Dee saat ini dengan Dee belasan tahun lalu—karena saya memang sering satu panel bersamanya sejak dahulu di UWRF—saya melihat bahwa secara alami Dee memang lebih lepas, lebih mengalir, dan tanpa rencana, sebuah ideologi mindfulness yang dia terapkan dengan jelas sejak awal proses kreatifnya.

Buku Tanpa Rencana karya Dee Lestari | Foto: Mizanstore

Dari social media-nya saya memperhatikan bahwa Dee tahu benar yang dia inginkan, selalu mindful dalam semua yang dia kerjakan, dan selalu total dalam project-nya. Maka saya percaya, Dee akan berusia panjang dalam karya-karyanya. Secara natural dia telah meninggalkan legacy bukan hanya kepada pembacanya namun kepada sahabatnya-keluarganya-penggemarnya-siapa pun yang pernah hadir di hidupnya.

Berikut ini adalah bonus interview ringan dengan Dee di luar banyak sekali percakapan ringan-berat-sedang-somewhere in between yang bisa dijadikan referensi soal karyanya. Saya mengirim pertanyaan dengan cepat via Whatsapp. Yang dibalas dengan cepat juga, khusus untuk Tatkala.co.

Berikut isinya:

Sonia:

Anda mengatakan bahwa Tanpa Rencana adalah ‘benar-benar dirimu’. Apa yang membedakan karya ini dari karyamu yang lain?

Dee:

Selama ini saya dikenal sebagai penulis yang penuh perencanaan, terutama karena karya saya kebanyakan novel, dan sulit sekali membuat novel tanpa perencanaan sama sekali. Kita harus sangat strategis menata alur, struktur, sekaligus jadwal kerja.

Menulis Tanpa Rencana menjadi sebuah penyegaran buat saya karena prosesnya yang spontan dan minim—bahkan seringkali tanpa—perencanaan apa-apa. Satu-satunya “rencana” yang jelas adalah ketika saya memutuskan untuk membuat antologi kumpulan karya-karya cenderung spontan itu.

Tapi, apa konten serta temanya, saya lepaskan mengalir saja sesuai apa yang hinggap dan rasakan saat itu. Hasilnya adalah kumpulan karya yang cenderung katarsis. Saya hanya sepenuhnya bersandar pada aliran ide dan navigasi internal saja.

Otomatis banyak pengalaman pribadi yang keluar, perasaan-perasaan terkuat, bahkan diri saya sebagai “Sang Penulis” terkadang ikut bocor. Sesuatu yang tidak pernah saya lakukan dalam karya fiksi saya lainnya.

Dee sedang membaca karya saat peluncuran buku Tanpa Rencana | Foto: Nova Aryani

Plus, karakter-karakter berusia matang juga mulai muncul dalam karya ini, yang menurut saya menunjukkan evolusi saya secara pribadi dalam hal memandang cinta, relationship, dsb. Tentu saja ini pun menambah perspektif baru dalam bercerita, yang sebelumnya belum terlalu mengemuka di karya saya lainnya.

Sonia:

Karyamu TAI benar-benar menggelitik. Apakah ini refleksi dirimu yang sesungguhnya. Merayakan apa yang ada dalam dirimu?

Dee:

Buat orang yang mengenal saya secara langsung, mereka akan tahu bahwa saya sebetulnya orang yang sangat humoris dan relaks, meskipun tulisan saya banyak yang sangat serius. Dari kecil saya memang luwes dengan humor toilet, nggak ada masalah dengan jorok-jorokan, dan menulis cerpen Transendensi Ampas Insani menjadi pengalaman sangat menyenangkan, karena saya bisa mengombinasikan sisi humor saya yang “kacau” dan keseriusan saya memahami hidup dan meditasi.

Sonia:

Cerita soal Bapak benar-benar menyentuh. Bagaimana sosok Bapak membentukmu menjadi sekarang?

Dee saat peluncuran buku Tanpa Rencana | Foto: Nova Aryani

Dee:

Bapak baru berpulang Februari 2024. Saya sangat terbiasa memiliki Bapak dalam hidup, sehingga kepergian beliau benar-benar memukul. Hubungan kami sebetulnya cenderung santai, praktis, tidak sentimental. Karena itulah saya sendiri tidak menyangka rasa kehilangannya sedalam ini. Saya merasa kehilangan seorang Bapak dan sahabat terbaik sekaligus. I owe him my sense of humor, my practical approach in life. His strive for excellence and “get the job done” mentality really inspired me.

Sonia:

⁠Saya melihat filosofi mindfulness dalam Tanpa Rencana. Hal ini seperti “being at the present moment” dan merayakan semua tanpa rencana.

Dee:

Very true. Lewat Tanpa Rencana, saya kembali diingatkan magisnya interaksi dengan alam ide, mendengarkan yang abstrak dan halus, serta menjadi seorang medium yang melayani dan rendah hati. Prinsip saya adalah melayani karya. Tanpa Rencana melatih saya menjadi pendengar ide yang baik, percaya penuh pada bisikan dan keajaibannya.

Demikianlah percakapan mengalir saya dengan Dee. Ubud masih akan macet hari ini, saya pun bergerak mengalir saja, tanpa banyak rencana.[T]

Ubud, 26 Oktober 2024

Sains & Fiksi, Puncak Kelindan Fakta dan Imajinasi
Resep Manis Menulis Prosa ala Henry Manampiring dan Dee Lestari
Lika-liku Ambisi Perempuan Dalam Novel “Aroma Karsa” Karya Dee Lestari
Singaraja Literary Festival, Sebuah Reuni dan Pertemuan yang Hangat — Catatan Volunteer
Tags: apresiasi sastraDee LestariUbud Writers and Readers FestivalUWRFUWRF 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bertemu Kawan Lama: Menemukan Orang Baru

Next Post

Sastra Bali dan Kebangkitan Daya Budi

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails
Next Post
Sastra Bali dan Kebangkitan Daya Budi

Sastra Bali dan Kebangkitan Daya Budi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane
Cerpen

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

by Wayan Gde Yudane
June 5, 2026
Puisi-puisi Ama Gaspar
Puisi

Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

by Ama Gaspar
June 5, 2026
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui
Khas

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif
Panggung

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku
Esai

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

by I Wayan Artika
June 5, 2026
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem
Panggung

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta
Esai

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

by Chusmeru
June 5, 2026
‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co