12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Resep Manis Menulis Prosa ala Henry Manampiring dan Dee Lestari

Son Lomri by Son Lomri
August 28, 2024
in Khas
Resep Manis Menulis Prosa ala Henry Manampiring dan Dee Lestari

Dee Lestari saat menyampaikan materi "Workshop Menulis Puisi" | Foto: SLF/Saka

BAGI seorang cerpenis atau penulis prosa pemula, untuk menulis satu cerita saja bisa berminggu-minggu dan sangat mungkin berbulan-bulan. Lebih horor lagi, tidak selesai-selesai dengan waktu segitu karena masih dirasa kurang ini kurang itu saat menulis. Dirasa harus ditambah waktu lagi, lagi, dan lagi—untuk menyempurnakan ini dan itu dalam satu waktu, akhirnya timbul sebagai hasrat paling buas.

Bergelut dengan kata apa yang cocok di kalimat pertama, seperti menghadapi hutan lebat—kebingungan yang luar biasa. Belum lagi tentang premis apa yang mesti dibahas, mau diapakan lagi agar tulisan bisa lebih terstruktur dan jernih jika dibaca dalam sekali duduk itu.

Fenomena di atas, tentu saja siapa pun pernah mengalami di posisi demikian, lebih-lebih menulis menunggu mood baik adalah salah satu ritual yang sering dijumpai oleh setiap orang, terutama bagi penulis pemula yang baru saja terilhami oleh gaya menulis yang bagus dari seorang penulis. Lalu ia mengidolakan, dan ingin menulis seperti sang idola. Atau alasan lainnya yang tak terduga, misalnya, karena kebutuhan kerja.

Dee Lestari saat menyampaikan materi dalam “Workshop Menulis Prosa” di SLF 2024 | Foto: SLF/Saka

Tetapi dengan air muka yang sangat kalem dan membuat suasana menjadi riang di Bale Agung, Kelurahan Paket Agung, Buleleng—tempat masa kecilnya Ida Ayu Nyoman Rai, ibunda presiden pertama bangsa ini, Soekarno, dengan penuh rasa mendorong dan tegas meyakinkan kepada peserta di sana, Dee Lestari, penulis novel Supernova yang laris manis itu, memberikan resep yang gampang sekali untuk menulis bagi penulis pemula pada “Workshop Menulis Prosa” dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF) pada Jumat, 23 Agustus 2024.

Bahkan, ini lebih dari apa yang sebelumnya dibayangkan jika ternyata untuk memulai menulis dan menyelesaikannya cukup sederhana. Menulis itu, kata Dee sambil tersenyum, “Jangan cepet-cepet pengen bagus. Harus bertahap. Biar kita bisa menemukan apa yang kurang dari kita sebelum menulis ide-ide yang lain di lain tulisan,” ucapnya dengan lembut.

Ia memiliki perangai yang baik sebagai penulis. Sangat murah senyum. Para peserta dibuatnya seperti tak ada sekat, tak ada kasta. Benar-benar suasana menjadi setara di siang itu—bahwa tempat itu sebagai tempat belajar bersama walaupun panas sudah menjarah semuanya dengan gerah.

“Gas aja dulu. Habiskan semuanya, sampai tamat. Edit belakangan!” lanjut penulis Filosofi Kopi yang menggetarkan itu.

Peserta “Workshop Menulis Prosa” di SLF 2024 | Foto: SLF/Saka

Ia juga menegaskan jika menulis jangan sambil mengedit. Karena itu dua hal yang berbeda, katanya lagi. Menulis ya menulis—mengeluarkan ide. Setelah selesai, itulah kemudian tahap pengeditan, jangan disatukan dalam proses penulisan. “Jadi, biar kita gak berat saat menulis. Pokoknya, tulis-tulis aja deh dulu hehe..” Ia terkekeh.

Sampai di sini, ia juga memberikan teknik yang lain agar menulis tak dirasanya sebagai aktifitas yang berat. Mendiamkan tulisan menjadi sebuah draft beberapa waktu itu penting, biar inspirasi penulisan berkembang.

“Berikan waktu pada tulisan kita juga itu perlu agar kita mendapatkan celah apa yang kurang. Dari sanalah perkembangan pada tulisan akan terlihat, dari pada sibuk menulis sekaligus mengedit itu kan rasanya pasti berat sekali sehingga tulisan gak selesai-selesai,” terang Dee.

Manusia tidak akan pernah bisa menulis yang bagus. Maksudnya, pasti ada saja yang dianggap kurang oleh si penulis—walaupun itu hanya tanda baca, atau satu kata yang kurang, dan atau premis dan lainnya. Dari pada stress memikirkan itu menghabiskan waktu, sebagaimana dikatakan Dee, sebaikknya kita mesti belajar menerima ketidaksempurnaan itu.

“Jadi, menulis itu tak hanya sekadar membuat karya, tetapi juga bagaimana kita mengeluarkan sampah-sampah yang ada di dalam pikiran kita. Itulah efek baiknya dari menulis. Muntahkan semuanya dalam tulisan—ingat, nanti editnya belakangan!” Dee seperti mengajar anak SD yang masih belum sempurna menulis huruf.

Dee Lestari dan Henry Manampiring saat menyampaikan materi dalam “Workshop Menulis Prosa” di SLF 2024 | Foto: SLF/Saka

Kemudian untuk inspirasi, agar tulisan lebih kaya akan cerita secara imajinasi, Henry Manampiring melanjutkan menyampaikan materinya kemudian. Ya, lokakarya ini memang diisi oleh Dee dan Henry, penulis Filosofi Teras yang terkenal itu.

Media sosial dan film, kata Henry menjelaskan, dapat menjadi pemantik bagaimana imajinasi akan bermunculan saat menulis, baik itu pada cerita humor atau  cerita yang serius—atau cerita-cerita receh dari media sosial yang kita lihat secara tidak sengaja.

“Di sana juga, secara filsafati kita sebagai penulis, bisa kita bawa ke arah mana atau dipakai buat apa itu, sebagai bahan penulisan, jika memang dianggap bagus atau ada. Saya sering mendapatkan ide dari media sosial, dari memperhatikan tingkah netizen. Kemudian juga film-film seperti Joker dan lain sebagainya,” kata Henry

Dalam mewujudkan perwatakan pada si tokoh dalam membangun cerita yang lebih hidup, cerita-cerita di sekitar kita juga bisa kita tiru atau diambil. Satu waktu, kata Henry memulai cerita, temannya mengeluh kepadanya, kok bisa bawahannya lebih hedon—dengan mobil bagus dan jam tangan lebih mahal—daripada temannya yang sebagai bos.

“Kemudian dia, teman saya itu, bertanyalah kepada bawahannya yang ia curigai dan siniskan, ‘Kok kamu lebih mewah gaya hidupnya dari saya? Padahal gajimu pas-pasan?’ Anak buahnya kemudian menjawab, ‘Bapak pernah waktu kecil menahan lapar? Tak bisa membeli baju bagus? Atau tadi, bingung besok mau makan apa?” Henry memutus ceritanya.

Dengan ritme lebih santai Henry melanjutkan—ia memandang wajah para peserta yang menunggunya melanjutkan cerita. “Gue udah kenyang ama miskin!” lanjut Henry menceritakan jawaban anak buah temannya itu dalam kisah.

Dee Lestari dan Henry Manampiring saat menyampaikan materi dalam “Workshop Menulis Prosa” di SLF 2024 | Foto: SLF/Saka

Para peserta tertegun saat mendengar kalimat “Gue udah kenyang ama miskin!”. Benar-benar cerita yang tak bisa ditebak. Dalam mengisahkan perwatakan, lanjut Henry, kita bisa membuat bagaimana si tokoh tak dapat dikira sebenarnya ia memiliki alasan dalam berbuat sesuat, dan atau mengapa ia seperti itu.

“Seperti cerita singkat tadi, kita bisa menilai bahwa anak buah teman saya itu dulunya miskin, dan ia ingin mengubah dan menujukan ke dunia jika ia bisa melakukan sesuatu hal—dengan usaha dan kerja kerasnya sendiri. Sebab itulah back story, itu sangat diperlukan dalam menuliskan kisah atau menanamkan watak pada si tokoh,” kata Henry.  

Sampai di sini, terkait tulisan yang membuat kesal karena tidak selesai-selesai, yang kerap menjangkiti para penulis muda—yang tulisannya ingin terlihat bagus dalam sekali belajar dalam sekali menulis, itu akan sulit, dan hanya menhadirkan deretan panjang ketidaksempurnaan yang lain—dalam keterampilan menulis.

Henry sepakat apa yang dikatakan oleh Dee Lestari jika memberi “tenggat selesai” pada tulisan yang sedang digarap sangatlah diperlukan walaupun masih pemula. Itu baik untuk menemukan kekurangan diri sendiri.

“Selesai atau gak selesai, pokonya harus selesai.. haha..” Jelas penulis yang pupuler itu penuh humor sambil menyemangati. “Dan pokoknya, jangan sesekali menunggu mood bagus untuk menulis selesai, karena bergantung pada kondisi semacam itu tidak akan bisa membawa kita kepada tahap kepenulisan yang berkembang,” tambahnya sambil tersenyum.[T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto

BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024

Tambal Sulam Ekranisasi Teks Lama ke Film
Menelusuri Jejak Pembahasan Pertanian dalam Sastra Dulu dan Kini
Tribute to Cok Sawitri: Merawat Ingatan, Mengalirkan Pengetahuan
Jam Session Kolaborasi 9 Seniman Bali Utara di Singaraja Literary Festival 2024
Merayakan Lontar, Sastra, dan Kebudayaan di Singaraja Literary Festival 2024
Siap-siap, 23-25 Agustus, Singaraja Literary Festival 2024 dengan Tema Dharma Pemaculan
Merayakan Khazanah Rempah dalam Lontar Bali, Sesi Khusus Singaraja Literary Festival 2024
Tags: Dee LestariHenry ManampiringprosaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Urgensi Penerapan ESG dalam Bisnis Pariwisata

Next Post

Menggali Khazanah Rempah dalam Lontar Bali: Usadha, Gandha, dan Boga

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Menggali Khazanah Rempah dalam Lontar Bali: Usadha, Gandha, dan Boga

Menggali Khazanah Rempah dalam Lontar Bali: Usadha, Gandha, dan Boga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co