22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Resep Manis Menulis Prosa ala Henry Manampiring dan Dee Lestari

Son Lomri by Son Lomri
August 28, 2024
in Khas
Resep Manis Menulis Prosa ala Henry Manampiring dan Dee Lestari

Dee Lestari saat menyampaikan materi "Workshop Menulis Puisi" | Foto: SLF/Saka

BAGI seorang cerpenis atau penulis prosa pemula, untuk menulis satu cerita saja bisa berminggu-minggu dan sangat mungkin berbulan-bulan. Lebih horor lagi, tidak selesai-selesai dengan waktu segitu karena masih dirasa kurang ini kurang itu saat menulis. Dirasa harus ditambah waktu lagi, lagi, dan lagi—untuk menyempurnakan ini dan itu dalam satu waktu, akhirnya timbul sebagai hasrat paling buas.

Bergelut dengan kata apa yang cocok di kalimat pertama, seperti menghadapi hutan lebat—kebingungan yang luar biasa. Belum lagi tentang premis apa yang mesti dibahas, mau diapakan lagi agar tulisan bisa lebih terstruktur dan jernih jika dibaca dalam sekali duduk itu.

Fenomena di atas, tentu saja siapa pun pernah mengalami di posisi demikian, lebih-lebih menulis menunggu mood baik adalah salah satu ritual yang sering dijumpai oleh setiap orang, terutama bagi penulis pemula yang baru saja terilhami oleh gaya menulis yang bagus dari seorang penulis. Lalu ia mengidolakan, dan ingin menulis seperti sang idola. Atau alasan lainnya yang tak terduga, misalnya, karena kebutuhan kerja.

Dee Lestari saat menyampaikan materi dalam “Workshop Menulis Prosa” di SLF 2024 | Foto: SLF/Saka

Tetapi dengan air muka yang sangat kalem dan membuat suasana menjadi riang di Bale Agung, Kelurahan Paket Agung, Buleleng—tempat masa kecilnya Ida Ayu Nyoman Rai, ibunda presiden pertama bangsa ini, Soekarno, dengan penuh rasa mendorong dan tegas meyakinkan kepada peserta di sana, Dee Lestari, penulis novel Supernova yang laris manis itu, memberikan resep yang gampang sekali untuk menulis bagi penulis pemula pada “Workshop Menulis Prosa” dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF) pada Jumat, 23 Agustus 2024.

Bahkan, ini lebih dari apa yang sebelumnya dibayangkan jika ternyata untuk memulai menulis dan menyelesaikannya cukup sederhana. Menulis itu, kata Dee sambil tersenyum, “Jangan cepet-cepet pengen bagus. Harus bertahap. Biar kita bisa menemukan apa yang kurang dari kita sebelum menulis ide-ide yang lain di lain tulisan,” ucapnya dengan lembut.

Ia memiliki perangai yang baik sebagai penulis. Sangat murah senyum. Para peserta dibuatnya seperti tak ada sekat, tak ada kasta. Benar-benar suasana menjadi setara di siang itu—bahwa tempat itu sebagai tempat belajar bersama walaupun panas sudah menjarah semuanya dengan gerah.

“Gas aja dulu. Habiskan semuanya, sampai tamat. Edit belakangan!” lanjut penulis Filosofi Kopi yang menggetarkan itu.

Peserta “Workshop Menulis Prosa” di SLF 2024 | Foto: SLF/Saka

Ia juga menegaskan jika menulis jangan sambil mengedit. Karena itu dua hal yang berbeda, katanya lagi. Menulis ya menulis—mengeluarkan ide. Setelah selesai, itulah kemudian tahap pengeditan, jangan disatukan dalam proses penulisan. “Jadi, biar kita gak berat saat menulis. Pokoknya, tulis-tulis aja deh dulu hehe..” Ia terkekeh.

Sampai di sini, ia juga memberikan teknik yang lain agar menulis tak dirasanya sebagai aktifitas yang berat. Mendiamkan tulisan menjadi sebuah draft beberapa waktu itu penting, biar inspirasi penulisan berkembang.

“Berikan waktu pada tulisan kita juga itu perlu agar kita mendapatkan celah apa yang kurang. Dari sanalah perkembangan pada tulisan akan terlihat, dari pada sibuk menulis sekaligus mengedit itu kan rasanya pasti berat sekali sehingga tulisan gak selesai-selesai,” terang Dee.

Manusia tidak akan pernah bisa menulis yang bagus. Maksudnya, pasti ada saja yang dianggap kurang oleh si penulis—walaupun itu hanya tanda baca, atau satu kata yang kurang, dan atau premis dan lainnya. Dari pada stress memikirkan itu menghabiskan waktu, sebagaimana dikatakan Dee, sebaikknya kita mesti belajar menerima ketidaksempurnaan itu.

“Jadi, menulis itu tak hanya sekadar membuat karya, tetapi juga bagaimana kita mengeluarkan sampah-sampah yang ada di dalam pikiran kita. Itulah efek baiknya dari menulis. Muntahkan semuanya dalam tulisan—ingat, nanti editnya belakangan!” Dee seperti mengajar anak SD yang masih belum sempurna menulis huruf.

Dee Lestari dan Henry Manampiring saat menyampaikan materi dalam “Workshop Menulis Prosa” di SLF 2024 | Foto: SLF/Saka

Kemudian untuk inspirasi, agar tulisan lebih kaya akan cerita secara imajinasi, Henry Manampiring melanjutkan menyampaikan materinya kemudian. Ya, lokakarya ini memang diisi oleh Dee dan Henry, penulis Filosofi Teras yang terkenal itu.

Media sosial dan film, kata Henry menjelaskan, dapat menjadi pemantik bagaimana imajinasi akan bermunculan saat menulis, baik itu pada cerita humor atau  cerita yang serius—atau cerita-cerita receh dari media sosial yang kita lihat secara tidak sengaja.

“Di sana juga, secara filsafati kita sebagai penulis, bisa kita bawa ke arah mana atau dipakai buat apa itu, sebagai bahan penulisan, jika memang dianggap bagus atau ada. Saya sering mendapatkan ide dari media sosial, dari memperhatikan tingkah netizen. Kemudian juga film-film seperti Joker dan lain sebagainya,” kata Henry

Dalam mewujudkan perwatakan pada si tokoh dalam membangun cerita yang lebih hidup, cerita-cerita di sekitar kita juga bisa kita tiru atau diambil. Satu waktu, kata Henry memulai cerita, temannya mengeluh kepadanya, kok bisa bawahannya lebih hedon—dengan mobil bagus dan jam tangan lebih mahal—daripada temannya yang sebagai bos.

“Kemudian dia, teman saya itu, bertanyalah kepada bawahannya yang ia curigai dan siniskan, ‘Kok kamu lebih mewah gaya hidupnya dari saya? Padahal gajimu pas-pasan?’ Anak buahnya kemudian menjawab, ‘Bapak pernah waktu kecil menahan lapar? Tak bisa membeli baju bagus? Atau tadi, bingung besok mau makan apa?” Henry memutus ceritanya.

Dengan ritme lebih santai Henry melanjutkan—ia memandang wajah para peserta yang menunggunya melanjutkan cerita. “Gue udah kenyang ama miskin!” lanjut Henry menceritakan jawaban anak buah temannya itu dalam kisah.

Dee Lestari dan Henry Manampiring saat menyampaikan materi dalam “Workshop Menulis Prosa” di SLF 2024 | Foto: SLF/Saka

Para peserta tertegun saat mendengar kalimat “Gue udah kenyang ama miskin!”. Benar-benar cerita yang tak bisa ditebak. Dalam mengisahkan perwatakan, lanjut Henry, kita bisa membuat bagaimana si tokoh tak dapat dikira sebenarnya ia memiliki alasan dalam berbuat sesuat, dan atau mengapa ia seperti itu.

“Seperti cerita singkat tadi, kita bisa menilai bahwa anak buah teman saya itu dulunya miskin, dan ia ingin mengubah dan menujukan ke dunia jika ia bisa melakukan sesuatu hal—dengan usaha dan kerja kerasnya sendiri. Sebab itulah back story, itu sangat diperlukan dalam menuliskan kisah atau menanamkan watak pada si tokoh,” kata Henry.  

Sampai di sini, terkait tulisan yang membuat kesal karena tidak selesai-selesai, yang kerap menjangkiti para penulis muda—yang tulisannya ingin terlihat bagus dalam sekali belajar dalam sekali menulis, itu akan sulit, dan hanya menhadirkan deretan panjang ketidaksempurnaan yang lain—dalam keterampilan menulis.

Henry sepakat apa yang dikatakan oleh Dee Lestari jika memberi “tenggat selesai” pada tulisan yang sedang digarap sangatlah diperlukan walaupun masih pemula. Itu baik untuk menemukan kekurangan diri sendiri.

“Selesai atau gak selesai, pokonya harus selesai.. haha..” Jelas penulis yang pupuler itu penuh humor sambil menyemangati. “Dan pokoknya, jangan sesekali menunggu mood bagus untuk menulis selesai, karena bergantung pada kondisi semacam itu tidak akan bisa membawa kita kepada tahap kepenulisan yang berkembang,” tambahnya sambil tersenyum.[T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto

BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024

Tambal Sulam Ekranisasi Teks Lama ke Film
Menelusuri Jejak Pembahasan Pertanian dalam Sastra Dulu dan Kini
Tribute to Cok Sawitri: Merawat Ingatan, Mengalirkan Pengetahuan
Jam Session Kolaborasi 9 Seniman Bali Utara di Singaraja Literary Festival 2024
Merayakan Lontar, Sastra, dan Kebudayaan di Singaraja Literary Festival 2024
Siap-siap, 23-25 Agustus, Singaraja Literary Festival 2024 dengan Tema Dharma Pemaculan
Merayakan Khazanah Rempah dalam Lontar Bali, Sesi Khusus Singaraja Literary Festival 2024
Tags: Dee LestariHenry ManampiringprosaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Urgensi Penerapan ESG dalam Bisnis Pariwisata

Next Post

Menggali Khazanah Rempah dalam Lontar Bali: Usadha, Gandha, dan Boga

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Menggali Khazanah Rempah dalam Lontar Bali: Usadha, Gandha, dan Boga

Menggali Khazanah Rempah dalam Lontar Bali: Usadha, Gandha, dan Boga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co