3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Resep Manis Menulis Prosa ala Henry Manampiring dan Dee Lestari

Son Lomri by Son Lomri
August 28, 2024
in Khas
Resep Manis Menulis Prosa ala Henry Manampiring dan Dee Lestari

Dee Lestari saat menyampaikan materi "Workshop Menulis Puisi" | Foto: SLF/Saka

BAGI seorang cerpenis atau penulis prosa pemula, untuk menulis satu cerita saja bisa berminggu-minggu dan sangat mungkin berbulan-bulan. Lebih horor lagi, tidak selesai-selesai dengan waktu segitu karena masih dirasa kurang ini kurang itu saat menulis. Dirasa harus ditambah waktu lagi, lagi, dan lagi—untuk menyempurnakan ini dan itu dalam satu waktu, akhirnya timbul sebagai hasrat paling buas.

Bergelut dengan kata apa yang cocok di kalimat pertama, seperti menghadapi hutan lebat—kebingungan yang luar biasa. Belum lagi tentang premis apa yang mesti dibahas, mau diapakan lagi agar tulisan bisa lebih terstruktur dan jernih jika dibaca dalam sekali duduk itu.

Fenomena di atas, tentu saja siapa pun pernah mengalami di posisi demikian, lebih-lebih menulis menunggu mood baik adalah salah satu ritual yang sering dijumpai oleh setiap orang, terutama bagi penulis pemula yang baru saja terilhami oleh gaya menulis yang bagus dari seorang penulis. Lalu ia mengidolakan, dan ingin menulis seperti sang idola. Atau alasan lainnya yang tak terduga, misalnya, karena kebutuhan kerja.

Dee Lestari saat menyampaikan materi dalam “Workshop Menulis Prosa” di SLF 2024 | Foto: SLF/Saka

Tetapi dengan air muka yang sangat kalem dan membuat suasana menjadi riang di Bale Agung, Kelurahan Paket Agung, Buleleng—tempat masa kecilnya Ida Ayu Nyoman Rai, ibunda presiden pertama bangsa ini, Soekarno, dengan penuh rasa mendorong dan tegas meyakinkan kepada peserta di sana, Dee Lestari, penulis novel Supernova yang laris manis itu, memberikan resep yang gampang sekali untuk menulis bagi penulis pemula pada “Workshop Menulis Prosa” dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF) pada Jumat, 23 Agustus 2024.

Bahkan, ini lebih dari apa yang sebelumnya dibayangkan jika ternyata untuk memulai menulis dan menyelesaikannya cukup sederhana. Menulis itu, kata Dee sambil tersenyum, “Jangan cepet-cepet pengen bagus. Harus bertahap. Biar kita bisa menemukan apa yang kurang dari kita sebelum menulis ide-ide yang lain di lain tulisan,” ucapnya dengan lembut.

Ia memiliki perangai yang baik sebagai penulis. Sangat murah senyum. Para peserta dibuatnya seperti tak ada sekat, tak ada kasta. Benar-benar suasana menjadi setara di siang itu—bahwa tempat itu sebagai tempat belajar bersama walaupun panas sudah menjarah semuanya dengan gerah.

“Gas aja dulu. Habiskan semuanya, sampai tamat. Edit belakangan!” lanjut penulis Filosofi Kopi yang menggetarkan itu.

Peserta “Workshop Menulis Prosa” di SLF 2024 | Foto: SLF/Saka

Ia juga menegaskan jika menulis jangan sambil mengedit. Karena itu dua hal yang berbeda, katanya lagi. Menulis ya menulis—mengeluarkan ide. Setelah selesai, itulah kemudian tahap pengeditan, jangan disatukan dalam proses penulisan. “Jadi, biar kita gak berat saat menulis. Pokoknya, tulis-tulis aja deh dulu hehe..” Ia terkekeh.

Sampai di sini, ia juga memberikan teknik yang lain agar menulis tak dirasanya sebagai aktifitas yang berat. Mendiamkan tulisan menjadi sebuah draft beberapa waktu itu penting, biar inspirasi penulisan berkembang.

“Berikan waktu pada tulisan kita juga itu perlu agar kita mendapatkan celah apa yang kurang. Dari sanalah perkembangan pada tulisan akan terlihat, dari pada sibuk menulis sekaligus mengedit itu kan rasanya pasti berat sekali sehingga tulisan gak selesai-selesai,” terang Dee.

Manusia tidak akan pernah bisa menulis yang bagus. Maksudnya, pasti ada saja yang dianggap kurang oleh si penulis—walaupun itu hanya tanda baca, atau satu kata yang kurang, dan atau premis dan lainnya. Dari pada stress memikirkan itu menghabiskan waktu, sebagaimana dikatakan Dee, sebaikknya kita mesti belajar menerima ketidaksempurnaan itu.

“Jadi, menulis itu tak hanya sekadar membuat karya, tetapi juga bagaimana kita mengeluarkan sampah-sampah yang ada di dalam pikiran kita. Itulah efek baiknya dari menulis. Muntahkan semuanya dalam tulisan—ingat, nanti editnya belakangan!” Dee seperti mengajar anak SD yang masih belum sempurna menulis huruf.

Dee Lestari dan Henry Manampiring saat menyampaikan materi dalam “Workshop Menulis Prosa” di SLF 2024 | Foto: SLF/Saka

Kemudian untuk inspirasi, agar tulisan lebih kaya akan cerita secara imajinasi, Henry Manampiring melanjutkan menyampaikan materinya kemudian. Ya, lokakarya ini memang diisi oleh Dee dan Henry, penulis Filosofi Teras yang terkenal itu.

Media sosial dan film, kata Henry menjelaskan, dapat menjadi pemantik bagaimana imajinasi akan bermunculan saat menulis, baik itu pada cerita humor atau  cerita yang serius—atau cerita-cerita receh dari media sosial yang kita lihat secara tidak sengaja.

“Di sana juga, secara filsafati kita sebagai penulis, bisa kita bawa ke arah mana atau dipakai buat apa itu, sebagai bahan penulisan, jika memang dianggap bagus atau ada. Saya sering mendapatkan ide dari media sosial, dari memperhatikan tingkah netizen. Kemudian juga film-film seperti Joker dan lain sebagainya,” kata Henry

Dalam mewujudkan perwatakan pada si tokoh dalam membangun cerita yang lebih hidup, cerita-cerita di sekitar kita juga bisa kita tiru atau diambil. Satu waktu, kata Henry memulai cerita, temannya mengeluh kepadanya, kok bisa bawahannya lebih hedon—dengan mobil bagus dan jam tangan lebih mahal—daripada temannya yang sebagai bos.

“Kemudian dia, teman saya itu, bertanyalah kepada bawahannya yang ia curigai dan siniskan, ‘Kok kamu lebih mewah gaya hidupnya dari saya? Padahal gajimu pas-pasan?’ Anak buahnya kemudian menjawab, ‘Bapak pernah waktu kecil menahan lapar? Tak bisa membeli baju bagus? Atau tadi, bingung besok mau makan apa?” Henry memutus ceritanya.

Dengan ritme lebih santai Henry melanjutkan—ia memandang wajah para peserta yang menunggunya melanjutkan cerita. “Gue udah kenyang ama miskin!” lanjut Henry menceritakan jawaban anak buah temannya itu dalam kisah.

Dee Lestari dan Henry Manampiring saat menyampaikan materi dalam “Workshop Menulis Prosa” di SLF 2024 | Foto: SLF/Saka

Para peserta tertegun saat mendengar kalimat “Gue udah kenyang ama miskin!”. Benar-benar cerita yang tak bisa ditebak. Dalam mengisahkan perwatakan, lanjut Henry, kita bisa membuat bagaimana si tokoh tak dapat dikira sebenarnya ia memiliki alasan dalam berbuat sesuat, dan atau mengapa ia seperti itu.

“Seperti cerita singkat tadi, kita bisa menilai bahwa anak buah teman saya itu dulunya miskin, dan ia ingin mengubah dan menujukan ke dunia jika ia bisa melakukan sesuatu hal—dengan usaha dan kerja kerasnya sendiri. Sebab itulah back story, itu sangat diperlukan dalam menuliskan kisah atau menanamkan watak pada si tokoh,” kata Henry.  

Sampai di sini, terkait tulisan yang membuat kesal karena tidak selesai-selesai, yang kerap menjangkiti para penulis muda—yang tulisannya ingin terlihat bagus dalam sekali belajar dalam sekali menulis, itu akan sulit, dan hanya menhadirkan deretan panjang ketidaksempurnaan yang lain—dalam keterampilan menulis.

Henry sepakat apa yang dikatakan oleh Dee Lestari jika memberi “tenggat selesai” pada tulisan yang sedang digarap sangatlah diperlukan walaupun masih pemula. Itu baik untuk menemukan kekurangan diri sendiri.

“Selesai atau gak selesai, pokonya harus selesai.. haha..” Jelas penulis yang pupuler itu penuh humor sambil menyemangati. “Dan pokoknya, jangan sesekali menunggu mood bagus untuk menulis selesai, karena bergantung pada kondisi semacam itu tidak akan bisa membawa kita kepada tahap kepenulisan yang berkembang,” tambahnya sambil tersenyum.[T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto

BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024

Tambal Sulam Ekranisasi Teks Lama ke Film
Menelusuri Jejak Pembahasan Pertanian dalam Sastra Dulu dan Kini
Tribute to Cok Sawitri: Merawat Ingatan, Mengalirkan Pengetahuan
Jam Session Kolaborasi 9 Seniman Bali Utara di Singaraja Literary Festival 2024
Merayakan Lontar, Sastra, dan Kebudayaan di Singaraja Literary Festival 2024
Siap-siap, 23-25 Agustus, Singaraja Literary Festival 2024 dengan Tema Dharma Pemaculan
Merayakan Khazanah Rempah dalam Lontar Bali, Sesi Khusus Singaraja Literary Festival 2024
Tags: Dee LestariHenry ManampiringprosaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Urgensi Penerapan ESG dalam Bisnis Pariwisata

Next Post

Menggali Khazanah Rempah dalam Lontar Bali: Usadha, Gandha, dan Boga

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
0
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

Read moreDetails

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
0
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

Read moreDetails
Next Post
Menggali Khazanah Rempah dalam Lontar Bali: Usadha, Gandha, dan Boga

Menggali Khazanah Rempah dalam Lontar Bali: Usadha, Gandha, dan Boga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co