14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menggali Khazanah Rempah dalam Lontar Bali: Usadha, Gandha, dan Boga

Jaswanto by Jaswanto
August 29, 2024
in Khas
Menggali Khazanah Rempah dalam Lontar Bali: Usadha, Gandha, dan Boga

Wicaksono Adi saat memaparkan materinya dalam seminar "Khazanah Rempah dalam Lontar" | Foto: Dian

TIGA puluh penulis dari Bali dan luar Bali duduk di kursi berselimut di wantilan Desa Adat Buleleng. Selama tiga hari mereka serius mendengar, memahami, pula mendiskusikan materi-materi khazanah (jalur) rempah yang dibawakan para narasumber.

Acara yang yang berlangsung dari 23 sampai 25 Agustus 2024 itu bertajuk “Khazanah Rempah dalam Lontar Bali”—program khusus Singaraja Literary Festival 2024. Seminar tersebut mendatangkan Wicaksono Adi, penulis esai seni-budaya, dan tiga narasumber yang ahli dalam bidang pembacaan, penelitian, dan kajian lontar, seperti  Ni Made Ari Dwijayanti, IGA Darma Putra, dan Putu Eka Guna Yasa.

Kegiatan tersebut didukung oleh keterlibatan Direktorat PPK (Pengembangan & Pemanfaatan Kebudayaan), Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia.

Rempah adalah kekayaan alam Indonesia yang sudah terkenal sejak berabad-abad silam. Citra rempah yang hangat dan bisa dijadikan penyedap makanan menyebabkan bangsa Barat rela menjelajah lautan untuk mendapatkannya di bumi Nusantara. Konsekuensi memiliki kekayaan alam yang menggiurkan ini, bangsa Eropa yang semula menjelajah rempah, akhirnya menjelma-rupa menjadi menjajah.

Zakariyya al-Qazwini (w. 1283 M) dalam manuskrip kitab “Aja’ib al-Makhluqat wa Ghara’ib al-Maujudat”, sebagaimana disampaikan Wicaksono Adi dalam materinya, menyebutkan bahwa pulau-pulau “Zabaj” (Nusantara) dikuasai oleh orang bergelar “al-Maharaj” (Maharaja). la juga menyatakan bahwa Nusantara dikenal sebagai wilayah yang kaya emas dan tempat asal segala jenis rempah.

Tetu saja itu tak mengherankan. Sebab, sekali lagi mengutip materi Wicaksono Adi, Nusantara adalah rumah besar keanekaragaman hayati dunia. 11 persen tumbuhan dunia ada di hutan tropis negeri ini. Lebih dari 30.000 spesies, sebagian di antaranya sekitar 275 spesies dapat digolongkan sebagai rempah, beberapa adalah tanaman introduksi dari belahan dunia lain.

Komoditas penting pada masa perniagaan hingga abad ke-17: Cengkih (endemik Ternate, Tidore, Moti, Makian, Bacan); pala (endemik Banda); aromatik getah pohon: kemenyan, kamper atau kapur (endemik Sumatra), kayumanis, lada (introduksi); dan cendana (endemik pulau Timor.) adalah sihir bagi bangsa Eropa.

“Abad ke-1 M, ahli geografi, matematika, dan astronomi Alexandria, Claudius Ptolemeus, menulis Guide to Geography, peta kuno yang mencatumkan Barus sebagai kota pelabuhan penting di dunia. Ia memperkirakan jalur ke lokasi-lokasi Asia melalui Venesia, Alexandria, Yaman, India, Barus, dan Tiongkok,” ujar Wicaksono Adi saat mempresentasikan materinya, Jumat (23/8/2024) pagi.

Di berbagai kota itu, lanjut Adi sebagaimana ia mengutip Drakard (1989), berlangsung transaksi minyak wangi dan keramik dari Yunani dengan kapur barus (cinnamomum camphora). Barousai adalah sebutan untuk Barus yang berada di pesisir barat Sumatra sebagai produsen kapur barus terpenting di dunia pada masa kuno.

Laporan arkeologis menemukan aroma kapur barus pada mumi-mumi Mesir 500 SM (Czarra, 2009: 31). Menurut Turner (2011), sebelum Masehi rempah Nusantara diperdagangkan di Mediterania oleh pedagang India dan Arab. Mula-mula dibawa ke Malabar, India lalu ke Roma dan Venesia.

Secara imajinatif, jalur rempah adalah suatu lintasan peradaban dalam bermacam bentuk, berupa garis lurus, lingkaran, silang, bahkan berbentuk jejaring. Jalur perdagangan antarbenua itu dikenal dengan “jalur rempah”—merujuk kepada salah satu komoditas utama perdagangan pada zaman kejayaannya, yaitu rempah.

“Jalur Rempah berkelindan dengan terbentuknya jalur-jalur pelayaran, baik jalur di wilayah Nusantara maupun jalur pelayaran global. Jalur-jalur pelayaran tersebut menimbulkan konektivitas dalam berbagai dimensi,” terang Wicaksono.

Bersama dengan komoditas bernilai lainnya, rempah menyusuri pelabuhan demi pelabuhan dari Asia hingga Eropa. Dalam konteks perkembangannya di Bali, rempah tumbuh dari utara Bali yang merupakan salah satu titik berlabuh dan bertolaknya rempah Nusantara. Para pelawat manca negara, terutama India dan Cina, telah tiba di Bali sejak awal abad Masehi.

“Di Bali utara terdapat pelabuhan alam yang tersebar dari Gilimanuk, Celukan Bawang, Tanjung Ser, Pangkung Paruk, Manasa, Pacung dan Sembiran. Pelabuhan tersebut cukup terlindung dari dari ombak besar sehingga kapal-kapal pedagang dari berbagai daerah Nusantara, India, Arab dan Cina dapat berlabuh dengan aman,” ucap Wicaksono.

Hingga saat ini, masyarakat Bali, secara kreatif, masih melestarikan rempah dan memanfaatkannya untuk kepentingan ketahanan alam, elemen ritual, ramuan pengobatan dan perawatan, serta mengembangkan gastronomi. Hal ini membuktikan bahwa jalur rempah adalah jalur budaya dan jalur perdagangan sekaligus yang selama berabad-abad dapat kita teroka jejak legasinya dalam masyarakat dunia, termasuk Indonesia.

Rajutan hubungan antara masyarakat Bali dengan rempah menyebabkan sistem pengetahuan kerempahan juga tercatat dalam warisan naskah. Naskah Bali seperti Geguritan Megantaka, Tutur Dharma Caruban, dan Usadha Bali dapat dijadikan literasi tentang fungsi rempah.

Berdasarkan pustaka-pustaka itu, rempah setidaknya memiliki tiga fungsi utama, yaitu dalam konteks gandha, boga, dan usadha. Dalam Geguritan Megantaka dijelaskan bahwa rempah berfungsi sebagai sarana minyak wangi atau parfum (gandha).

Demikian pula dalam konteks boga, naskah lontar Dharma Caruban menjelaskan berbagai bumbu, terutama basa genep, untuk membuat olahah betutu, sate, timbungan, dan yang lainnya. Selanjutnya, dalam konteks usadha atau obat-obatan, lontar Usadha Rare membabar betapa pentingnya rempah sebagai sarana kesehatan, seperti obat batuk, radang, luka, dan seterusnya.

Rempah sebagai Usadha

Menurut IGA Darma Putra—pembaca, peneliti, dan pengkaji lontar—dalam konteks rempah sebagai usadha, terdapat banyak lontar yang membahasnya. Ada Usadha Purus, Usadha Gede, Dharma Usadha, Usadha Parembon, Usadha Upas, dan masih banyak lagi. Kata usadha, sebagaimana dikatakan Darma Putra, berarti obat, atau tamba—obat, pengobatan.

“Dalam usadha, sebagaimana dokter di era modern, ada empat hal yang harus kita kuasai kalau mau menjadi balian [ahli pengobatan Bali], yaitu tenger, mantra, cara, dan sarana. Tenger itu semacam ciri-ciri, atau diagnosis awal atas penyakit yang diderita pasien sebelum pengobatan,” jelas Darma Putra, Jumat (23/8/2024) siang, setelah Wicaksono Adi memaparkan materinya.

Pada hari pertama itu Darma Putra juga menyampaikan daftar nama rempah yang termuat dalam prasasti Bali Kuno. Asam—atau asem—disebut camalagi dalam Prasarti Bebetin (818 S) Klungkung; dalam Prasasti Buwahan A ((916 S) dan Batur Pura Abang A (933 S) bawang merah ditulis bawang; sedangkan bawang putih disebut rasuna dalam Prasasti Sembiran AII (897 S).

Lalu cabai dikenal dengan nama cabya dalam Prasasti Sembiran AI (844 S), Bwahan A (916 S), dan selalu berimpitan dengan minyak (lngis). Jahe adalah halya menurut Prasasti Sembiran AII (897 S); dan jahe disebut pipakan dalam Prasasti Batur Pura Abang A (933 S). Kemiri adalah kamiri dalam Prasasti Ujung (962 S); berbeda dengan sebutan tersebut, dalam Prasasri Sembiran AI (844 S) dan Ujung (962 S) kemiri juga disebut tingkir.

“Kalau kasumba disebut kasumbha dalam Prasasti Buwahan A (916 S), Batur Pura Abang A (933 S), dan Sembiran AIII (938 S). Kunyit, tetap sama sebutannya, yaitu kunyit dalam Prasasti Kintamani C (-) dan Kintamani D (1122 S). Sedangkan pinang itu sebutannya pucang dalam Prasasti Batuan (944 S) atau wwah dalam Prasasti Batur Pura Abang A (933 S). Dan sirih disebut sereh dalam Prasasti Batuan (944 S),” lanjut Darma Putra.

Darma Putra, sebagaimana ia mengutip Crawfurd (1820), menyatakan bahwa menurut La Loubere (1691), “bagi orang Siam obat-obatan tidak patut disebut ilmu (science), melainkan hanya sejumlah resep, yang telah mereka warisi dari leluhur, dan yang tidak pemah mereka ubah. Mereka tidak peduli dengan gejala-gejala khusus penyakit: toh itu jarang gagal menyembuhkan banyak penyakit.”

Dari semua jamu yang dikonsumsi, kata Darma Pura, perhatian khusus harus diberikan kepada daun sirih, karena itu daun sirih terus-menerus dikunyah oleh orang Asia Tenggara dari segala umur. “Menurut tradisi setempat, mengunyah sirih dapat mencegah kerusakan gigi serta disentri,” kata Darma.

Dalam materi Darma Putra, air daun sirih biasanya digunakan untuk mengobati infeksi mata, infeksi Iuka atau kepegalan, berbagai penyakit menstruasi, dan penyakit lainnya (Reid 1985: 533-535). Penelitian modern atas masalah ini, meskipun baru pada tahap dini, telah banyak membenarkan pernyataan tersebut. Pengunyah sirih jelas jarang diserang kerusakan gigi (Schamschula et al., 1977; Moller et al., 1977).

Masih dari sumber yang sama, campuran pinang telah terbukti bisa rnembunuh parasit di usus, terutama cacing gelang dan cacing pita (Hsia 1937; Chung dan Ko 1976; Chopra et al., 1956: 23). Sari daun sirih ternyata efektif terhadap sejumlah bakteri, termasuk beberapa dari jenis shigella penyebab disentri dan jenis salmonella penyebab tipus (Nguyen Due Minh: 68-69).

“Tampaknya mungkin bahwa mengunyah sirih saja sudah banyak melindungi orang Asia Tenggara dari penyakit-penyakit yang berjangkit dari air, di samping mengebalkan tubuh dari infeksi seperti yang dicatat oleh beberapa pengamat,” terang Darma Putra.

Rempah sebagai Gandha

Tak hanya sebagai pengobatan saja, sebagaimana telah disinggung di atas, rempah di Bali juga difungsikan sebagai wewangian (gandha)—atau dalam bahasa hari ini: parfum. Materi ini disampaikan dengan baik oleh Ni Made Ari Dwijayanti, penulis dan akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja.

Dalam presentasinya berjudul Dunia Rempah dan Turunan-turunannya dalam Lontar, perempuan muda yang kerap dipanggil Mis J itu menjelaskan bahwa di dalam tubuh perempuan terdapat 36 dewi (Indrani Sastra), 7 bidadari dan karakteristiknya (Kakawin Arjuna Wiwaha), dan 4 skintone-warna kulit (Rsi Shambina).

“Keempat warna kulit itu terdiri dari: putih atau kuning (Singa Wikranta)-singa, merah (Padma Prasita)-bunga lotus, hijau (Ratha Wahana)-kereta, dan gelap (Sarpa Nuya Pana)-ular,” jelasnya, Sabtu (24/8/2024).

Perempuan-perempuan Nusantara, khususnya Bali, di zaman dulu sudah mengenal treatment-treatment kecantikan—yang diabadikan dalam lontar-lontar kuno. Dalam lontar Indrani Sastra (hal. 20a), misalnya, menyebutkan resep penghitam rambut.

“Nyan pacameng kesa, sunguning wedus padu, jambu hireng, gedang warangan, tunu ika katiga apisan, wamanuhu hening jeruk, pupurek, wekasan karamasemehan.”

Yang terjemahannya—sebagaimana disampaikan oleh Ari Dwijayanthi—“Inilah penghitam rambut, tanduk domba, jambu hitam, pisang kekuning-kuningan, panggang ketiganya dan jadikan satu, basahi dengan air jeruk, dilumatkan hingga lembut, kemudian berkeramas.”

Selain belajar merawat diri dari lontar, Ari mengaku juga memiliki resep merawat rambut menggunakan  bahan-bahan (rempah) alami. Untuk minyak rambut, Ari biasa menggunakan tandusan, klabet, akar wangi, daun nilam, bunga cempaka, kenanga, dan pudak.

“Sedangkan kalau sampo menggunakan santan, waru, kembang sepatu, dan ratu magelung. Dan sebagai kondisioner, bisa menggunakan kemiri bakar. Masker rambut menggunakan kemiri bakar, tanah liat-tanah lempung, dan santan. Hair tonic, rendam hitungan ganjil biji klabet dengan air,” uajrnya.

Namun, kata Ari, saat ia menggunakan resep ini ketika hamil, mengandung, menyusui, rambutnya malah rontok. “Jadi, mungkin tidak cocok bagi ibu yang sedang menyusui,” ujarnya. Menurut Ari Dwijayanthi, lontar Indrani Sastra tak hanya memuat tentang bagaimana merawat rambut, tapi juga wajah, tubuh, dan vagina.

Dalam mengembalikan kekenyalan kulit wajah, misalnya, lontar tersebut menuliskan, “Watutwan mirica, mramangsi, kembang padma, rinuk, husir, jyotismati, mipalimula, witning cabe, jalu kumapang, ciraka, kembang ning cemara, jambu, bunga landep, sama baga kabeh, pipis, panampel muka, byakta kadi wulan purnama denya ikang muka.”

Terjemahan: Biji merica, mangsi, bunga teratai merah, dihancurkan, diaduk, jyotismati, mipalimula, biji cabai, akar jalu mampang, ciraka, bunga cemara, jambu, bunga landep, komposisi seluruhnya sama, dilumat, untuk masker wajah sehingga bercahaya seperti bulan purnama (Dwijayanthi, 2023).

Dalam konteks aroma, menurut Ari, terdapat dua golongan, yakni rempah dalam ranah dan golongan rempah yang menggantung. Golongan rempah dalam tanah seperti kencur, jahe, dan temu-temuan. Sedangkan golongan rempah gantung (pala bungkah) terdiri dari merica dan pala.

“Ada tiga jenis aroma untuk wewangian, yaitu fresh (temu-temuan yang setengah mentah), warm (temu-temuan kering, jahe,cengkeh, kencur), dan powdery (tanah liat, gula aren, cengkeh). Ini yang paling umum,” Kata Ari.

Ari juga menyinggung soal aroma rempah pada makanan dan minuman. Menurutnya, hal tersebut dibahas dalam lontar Dharma Caruban. Di sana disebutkan terdapat unsur rempah sebagai pengundang selera dan unsur rempah sebagai perasa makanan dan minuman. “Lalu ada juga aroma rempah dalam obat. Semua lontar Usadha membahas tentang khasiat rempah sebagai aroma dalam obat dan khasiat rempah sebagai penyembuh dalam obat,” ujarnya.

Rempah sebagai Boga

Kini giliran Putu Eka Guna Yasa, akademisi sastra Bali Universitas Udayana, yang menjelaskan materi tentang rempah sebagai boga. Guna Yasa mempresentasikan materi yang ia beri judul “Dari Literasi Menuju Industri: Revitalisasi Rempah dalam Naskah”. Dalam materi tersebut, selain memuat khazanah rempah sebagai boga, pula sedikit menjelaskan tentang gandha dan usadha—seolah ingin menyegarkan kembali ingatakan peserta seminar atas dua materi sebelumnya.

Guna membuka seminar dengan dua kata: rempah dan penjajah. Ia merasa bahwa dua kata tersebut memiliki hubungan yang erat. “Rempah sebagai salah satu kekayaan alam Indonesia pada masa lampau sempat menjadi primadona bangsa Eropa. Semula mereka menjelajahi daratan dan lautan untuk mencari rempah, tetapi kemudian lama-kelamaan mereka menjarah lalu menjajah,” kata Guna, Minggu (25/8/2024).

Selanjutnya, setelah menyinggung sedikit tentang gandha dan usadha, Guna menjelaskan tentang rempah dan boga (pemanfaatan rempah dalam kuliner) dalam lontar Bali. Menurut Guna, ada tiga lontar di Bali yang membahas rempah sebagai boga, yaitu Dharma Caruban, Purincining Ebatan, dan Usadha. “Lontar-lontar ini merupakan pegangan bagi belawa (ahli masak kerajaan),” terang Guna.

Lalu Guna menyebut satu sosok belawa yang tak terduga, yaitu Bima atau Werkudara—Pandawa nomor dua itu. Dalam lontar Geguritan Kicaka menyebutkan bahwa Bima telah menyamar sebagai tukang masak disebuah kerajaan. “Sang Wrekodara masalin warni, ngangken sudra mawasta Prabu Belawa, juru olah gegunane, kang ngawe yun sang ratu.”

Setidaknya ada lima resep masakan Bali dalam perspektif lontar Dharma Caruban yang disampaikan Guna Yasa. Pertama, timbungan. Kuliner ini memiliki campuran bumbu bawang merah, gamongan, kemiri, galoban, santan encer, bawang putih, terasi, kencur, bangle, lengkuas, ketumbar, merica, dan jinten.

Kedua, lawar penyu dan salwiring lawar (segala jenis lawar). Dalam lontar tersebut, bumbu masakan ini terdiri dari bawang merah, bawang putih, terasi, bebeka, jinten, cabai, merica sedikit, semua digoreng menggunakan minyak kelapa baru. Ketiga, ayam panggang. Jika ingin memasak ayam panggang ala Dharma Caruban maka Anda harus mempersiapkan merica, jinten, bawang putih, kencur. Dihaluskan, diberi santan, dibuatkan kuat kare setelah ayamnya matang, pulasi, dan dipanggang lagi.

Keempat, barengkes babi. Kuliner ini memiliki bumbu seperti bawang merah, bawang putih, kencur, jahe, lengkuas, kemiri, terasi, gula, dan daun salam. Lalu ditambah putih telur yang diremas bersamaan dengan santan kental, daun salam, lalu ditambah jeruk purut dan diremas-remas dalam waktu yang lama. Bawang putih, jinten, terasi, gula, dihaluskan, diberikan tangkai, tempatnya seperti cangkang telur, untuk dipakai tempat, lalu dikukus.

Kelima, jajatah ayam (sate ayam). Bumbunya cukup simpel. Hanya ada merica, jinten, bawang putih, kencur, jeruk, dan santan kental. Sedangkan dalam dua lontar lainnya, Purincining Ebatan dan Kakawin Dharma Sawita, Guna juga menyebutkan beberapa nama kuliner beserta resepnya—dengan detail.

Di Bali, seperti yang tertuang dalam materi Guna Yasa, beberapa rempah berfungsi sebagai bumbu dalam kuliner atau sebagai penguat cita rasa agar makanan menjadi lebih enak. Penggunaan basa genep yang berbahan rempah juga berfungsi sebagai penghambat dan atau pembunuh mikroba seperti bakteri seperti E. coli, Sthapicollocus aureus, dan Salmonella thypi (Ardika, dkk. 2018: 44).

Sampai di sini, menurut Guna Yasa, untuk mendekatkan dan memanfaatkan kembali rempah-rempah yang multikhasiat itu, konsep Udiana Usada—taman yang berfungsi sebagai pengobatan di pekarangan—mesti dihidupkan dan dikampanyekan secara berulang-ulang, lagi, lagi, dan lagi. Sebab, ini dapat menjadi pertolongan pertama sewaktu-waktu terserang sakit secara tiba-tiba.

Akhirnya, seminar yang terbagi dalam tiga topik ini mengharuskan para penulis yang menjadi peserta untuk mendalami khazanah pengetahuan rempah dalam manuskrip lontar, sehingga dapat menyebarkan pengetahuan tersebut kepada khalayak luas melalui satu buah pikiran berupa esai mendalam yang akan dimuat di tatkala.co. Jadi, nantikan pikiran-pikiran para penulis tersebut, sekali lagi, di tatkala.co.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024

Resep Manis Menulis Prosa ala Henry Manampiring dan Dee Lestari
Tambal Sulam Ekranisasi Teks Lama ke Film
Menelusuri Jejak Pembahasan Pertanian dalam Sastra Dulu dan Kini
Tags: balijalur rempahlontarrempahSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Resep Manis Menulis Prosa ala Henry Manampiring dan Dee Lestari

Next Post

Drama Tari “Kesempatan Kedua” dari ISI Denpasar di Living World

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Drama Tari “Kesempatan Kedua” dari ISI Denpasar di Living World

Drama Tari “Kesempatan Kedua” dari ISI Denpasar di Living World

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co