12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menggali Khazanah Rempah dalam Lontar Bali: Usadha, Gandha, dan Boga

Jaswanto by Jaswanto
August 29, 2024
in Khas
Menggali Khazanah Rempah dalam Lontar Bali: Usadha, Gandha, dan Boga

Wicaksono Adi saat memaparkan materinya dalam seminar "Khazanah Rempah dalam Lontar" | Foto: Dian

TIGA puluh penulis dari Bali dan luar Bali duduk di kursi berselimut di wantilan Desa Adat Buleleng. Selama tiga hari mereka serius mendengar, memahami, pula mendiskusikan materi-materi khazanah (jalur) rempah yang dibawakan para narasumber.

Acara yang yang berlangsung dari 23 sampai 25 Agustus 2024 itu bertajuk “Khazanah Rempah dalam Lontar Bali”—program khusus Singaraja Literary Festival 2024. Seminar tersebut mendatangkan Wicaksono Adi, penulis esai seni-budaya, dan tiga narasumber yang ahli dalam bidang pembacaan, penelitian, dan kajian lontar, seperti  Ni Made Ari Dwijayanti, IGA Darma Putra, dan Putu Eka Guna Yasa.

Kegiatan tersebut didukung oleh keterlibatan Direktorat PPK (Pengembangan & Pemanfaatan Kebudayaan), Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia.

Rempah adalah kekayaan alam Indonesia yang sudah terkenal sejak berabad-abad silam. Citra rempah yang hangat dan bisa dijadikan penyedap makanan menyebabkan bangsa Barat rela menjelajah lautan untuk mendapatkannya di bumi Nusantara. Konsekuensi memiliki kekayaan alam yang menggiurkan ini, bangsa Eropa yang semula menjelajah rempah, akhirnya menjelma-rupa menjadi menjajah.

Zakariyya al-Qazwini (w. 1283 M) dalam manuskrip kitab “Aja’ib al-Makhluqat wa Ghara’ib al-Maujudat”, sebagaimana disampaikan Wicaksono Adi dalam materinya, menyebutkan bahwa pulau-pulau “Zabaj” (Nusantara) dikuasai oleh orang bergelar “al-Maharaj” (Maharaja). la juga menyatakan bahwa Nusantara dikenal sebagai wilayah yang kaya emas dan tempat asal segala jenis rempah.

Tetu saja itu tak mengherankan. Sebab, sekali lagi mengutip materi Wicaksono Adi, Nusantara adalah rumah besar keanekaragaman hayati dunia. 11 persen tumbuhan dunia ada di hutan tropis negeri ini. Lebih dari 30.000 spesies, sebagian di antaranya sekitar 275 spesies dapat digolongkan sebagai rempah, beberapa adalah tanaman introduksi dari belahan dunia lain.

Komoditas penting pada masa perniagaan hingga abad ke-17: Cengkih (endemik Ternate, Tidore, Moti, Makian, Bacan); pala (endemik Banda); aromatik getah pohon: kemenyan, kamper atau kapur (endemik Sumatra), kayumanis, lada (introduksi); dan cendana (endemik pulau Timor.) adalah sihir bagi bangsa Eropa.

“Abad ke-1 M, ahli geografi, matematika, dan astronomi Alexandria, Claudius Ptolemeus, menulis Guide to Geography, peta kuno yang mencatumkan Barus sebagai kota pelabuhan penting di dunia. Ia memperkirakan jalur ke lokasi-lokasi Asia melalui Venesia, Alexandria, Yaman, India, Barus, dan Tiongkok,” ujar Wicaksono Adi saat mempresentasikan materinya, Jumat (23/8/2024) pagi.

Di berbagai kota itu, lanjut Adi sebagaimana ia mengutip Drakard (1989), berlangsung transaksi minyak wangi dan keramik dari Yunani dengan kapur barus (cinnamomum camphora). Barousai adalah sebutan untuk Barus yang berada di pesisir barat Sumatra sebagai produsen kapur barus terpenting di dunia pada masa kuno.

Laporan arkeologis menemukan aroma kapur barus pada mumi-mumi Mesir 500 SM (Czarra, 2009: 31). Menurut Turner (2011), sebelum Masehi rempah Nusantara diperdagangkan di Mediterania oleh pedagang India dan Arab. Mula-mula dibawa ke Malabar, India lalu ke Roma dan Venesia.

Secara imajinatif, jalur rempah adalah suatu lintasan peradaban dalam bermacam bentuk, berupa garis lurus, lingkaran, silang, bahkan berbentuk jejaring. Jalur perdagangan antarbenua itu dikenal dengan “jalur rempah”—merujuk kepada salah satu komoditas utama perdagangan pada zaman kejayaannya, yaitu rempah.

“Jalur Rempah berkelindan dengan terbentuknya jalur-jalur pelayaran, baik jalur di wilayah Nusantara maupun jalur pelayaran global. Jalur-jalur pelayaran tersebut menimbulkan konektivitas dalam berbagai dimensi,” terang Wicaksono.

Bersama dengan komoditas bernilai lainnya, rempah menyusuri pelabuhan demi pelabuhan dari Asia hingga Eropa. Dalam konteks perkembangannya di Bali, rempah tumbuh dari utara Bali yang merupakan salah satu titik berlabuh dan bertolaknya rempah Nusantara. Para pelawat manca negara, terutama India dan Cina, telah tiba di Bali sejak awal abad Masehi.

“Di Bali utara terdapat pelabuhan alam yang tersebar dari Gilimanuk, Celukan Bawang, Tanjung Ser, Pangkung Paruk, Manasa, Pacung dan Sembiran. Pelabuhan tersebut cukup terlindung dari dari ombak besar sehingga kapal-kapal pedagang dari berbagai daerah Nusantara, India, Arab dan Cina dapat berlabuh dengan aman,” ucap Wicaksono.

Hingga saat ini, masyarakat Bali, secara kreatif, masih melestarikan rempah dan memanfaatkannya untuk kepentingan ketahanan alam, elemen ritual, ramuan pengobatan dan perawatan, serta mengembangkan gastronomi. Hal ini membuktikan bahwa jalur rempah adalah jalur budaya dan jalur perdagangan sekaligus yang selama berabad-abad dapat kita teroka jejak legasinya dalam masyarakat dunia, termasuk Indonesia.

Rajutan hubungan antara masyarakat Bali dengan rempah menyebabkan sistem pengetahuan kerempahan juga tercatat dalam warisan naskah. Naskah Bali seperti Geguritan Megantaka, Tutur Dharma Caruban, dan Usadha Bali dapat dijadikan literasi tentang fungsi rempah.

Berdasarkan pustaka-pustaka itu, rempah setidaknya memiliki tiga fungsi utama, yaitu dalam konteks gandha, boga, dan usadha. Dalam Geguritan Megantaka dijelaskan bahwa rempah berfungsi sebagai sarana minyak wangi atau parfum (gandha).

Demikian pula dalam konteks boga, naskah lontar Dharma Caruban menjelaskan berbagai bumbu, terutama basa genep, untuk membuat olahah betutu, sate, timbungan, dan yang lainnya. Selanjutnya, dalam konteks usadha atau obat-obatan, lontar Usadha Rare membabar betapa pentingnya rempah sebagai sarana kesehatan, seperti obat batuk, radang, luka, dan seterusnya.

Rempah sebagai Usadha

Menurut IGA Darma Putra—pembaca, peneliti, dan pengkaji lontar—dalam konteks rempah sebagai usadha, terdapat banyak lontar yang membahasnya. Ada Usadha Purus, Usadha Gede, Dharma Usadha, Usadha Parembon, Usadha Upas, dan masih banyak lagi. Kata usadha, sebagaimana dikatakan Darma Putra, berarti obat, atau tamba—obat, pengobatan.

“Dalam usadha, sebagaimana dokter di era modern, ada empat hal yang harus kita kuasai kalau mau menjadi balian [ahli pengobatan Bali], yaitu tenger, mantra, cara, dan sarana. Tenger itu semacam ciri-ciri, atau diagnosis awal atas penyakit yang diderita pasien sebelum pengobatan,” jelas Darma Putra, Jumat (23/8/2024) siang, setelah Wicaksono Adi memaparkan materinya.

Pada hari pertama itu Darma Putra juga menyampaikan daftar nama rempah yang termuat dalam prasasti Bali Kuno. Asam—atau asem—disebut camalagi dalam Prasarti Bebetin (818 S) Klungkung; dalam Prasasti Buwahan A ((916 S) dan Batur Pura Abang A (933 S) bawang merah ditulis bawang; sedangkan bawang putih disebut rasuna dalam Prasasti Sembiran AII (897 S).

Lalu cabai dikenal dengan nama cabya dalam Prasasti Sembiran AI (844 S), Bwahan A (916 S), dan selalu berimpitan dengan minyak (lngis). Jahe adalah halya menurut Prasasti Sembiran AII (897 S); dan jahe disebut pipakan dalam Prasasti Batur Pura Abang A (933 S). Kemiri adalah kamiri dalam Prasasti Ujung (962 S); berbeda dengan sebutan tersebut, dalam Prasasri Sembiran AI (844 S) dan Ujung (962 S) kemiri juga disebut tingkir.

“Kalau kasumba disebut kasumbha dalam Prasasti Buwahan A (916 S), Batur Pura Abang A (933 S), dan Sembiran AIII (938 S). Kunyit, tetap sama sebutannya, yaitu kunyit dalam Prasasti Kintamani C (-) dan Kintamani D (1122 S). Sedangkan pinang itu sebutannya pucang dalam Prasasti Batuan (944 S) atau wwah dalam Prasasti Batur Pura Abang A (933 S). Dan sirih disebut sereh dalam Prasasti Batuan (944 S),” lanjut Darma Putra.

Darma Putra, sebagaimana ia mengutip Crawfurd (1820), menyatakan bahwa menurut La Loubere (1691), “bagi orang Siam obat-obatan tidak patut disebut ilmu (science), melainkan hanya sejumlah resep, yang telah mereka warisi dari leluhur, dan yang tidak pemah mereka ubah. Mereka tidak peduli dengan gejala-gejala khusus penyakit: toh itu jarang gagal menyembuhkan banyak penyakit.”

Dari semua jamu yang dikonsumsi, kata Darma Pura, perhatian khusus harus diberikan kepada daun sirih, karena itu daun sirih terus-menerus dikunyah oleh orang Asia Tenggara dari segala umur. “Menurut tradisi setempat, mengunyah sirih dapat mencegah kerusakan gigi serta disentri,” kata Darma.

Dalam materi Darma Putra, air daun sirih biasanya digunakan untuk mengobati infeksi mata, infeksi Iuka atau kepegalan, berbagai penyakit menstruasi, dan penyakit lainnya (Reid 1985: 533-535). Penelitian modern atas masalah ini, meskipun baru pada tahap dini, telah banyak membenarkan pernyataan tersebut. Pengunyah sirih jelas jarang diserang kerusakan gigi (Schamschula et al., 1977; Moller et al., 1977).

Masih dari sumber yang sama, campuran pinang telah terbukti bisa rnembunuh parasit di usus, terutama cacing gelang dan cacing pita (Hsia 1937; Chung dan Ko 1976; Chopra et al., 1956: 23). Sari daun sirih ternyata efektif terhadap sejumlah bakteri, termasuk beberapa dari jenis shigella penyebab disentri dan jenis salmonella penyebab tipus (Nguyen Due Minh: 68-69).

“Tampaknya mungkin bahwa mengunyah sirih saja sudah banyak melindungi orang Asia Tenggara dari penyakit-penyakit yang berjangkit dari air, di samping mengebalkan tubuh dari infeksi seperti yang dicatat oleh beberapa pengamat,” terang Darma Putra.

Rempah sebagai Gandha

Tak hanya sebagai pengobatan saja, sebagaimana telah disinggung di atas, rempah di Bali juga difungsikan sebagai wewangian (gandha)—atau dalam bahasa hari ini: parfum. Materi ini disampaikan dengan baik oleh Ni Made Ari Dwijayanti, penulis dan akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja.

Dalam presentasinya berjudul Dunia Rempah dan Turunan-turunannya dalam Lontar, perempuan muda yang kerap dipanggil Mis J itu menjelaskan bahwa di dalam tubuh perempuan terdapat 36 dewi (Indrani Sastra), 7 bidadari dan karakteristiknya (Kakawin Arjuna Wiwaha), dan 4 skintone-warna kulit (Rsi Shambina).

“Keempat warna kulit itu terdiri dari: putih atau kuning (Singa Wikranta)-singa, merah (Padma Prasita)-bunga lotus, hijau (Ratha Wahana)-kereta, dan gelap (Sarpa Nuya Pana)-ular,” jelasnya, Sabtu (24/8/2024).

Perempuan-perempuan Nusantara, khususnya Bali, di zaman dulu sudah mengenal treatment-treatment kecantikan—yang diabadikan dalam lontar-lontar kuno. Dalam lontar Indrani Sastra (hal. 20a), misalnya, menyebutkan resep penghitam rambut.

“Nyan pacameng kesa, sunguning wedus padu, jambu hireng, gedang warangan, tunu ika katiga apisan, wamanuhu hening jeruk, pupurek, wekasan karamasemehan.”

Yang terjemahannya—sebagaimana disampaikan oleh Ari Dwijayanthi—“Inilah penghitam rambut, tanduk domba, jambu hitam, pisang kekuning-kuningan, panggang ketiganya dan jadikan satu, basahi dengan air jeruk, dilumatkan hingga lembut, kemudian berkeramas.”

Selain belajar merawat diri dari lontar, Ari mengaku juga memiliki resep merawat rambut menggunakan  bahan-bahan (rempah) alami. Untuk minyak rambut, Ari biasa menggunakan tandusan, klabet, akar wangi, daun nilam, bunga cempaka, kenanga, dan pudak.

“Sedangkan kalau sampo menggunakan santan, waru, kembang sepatu, dan ratu magelung. Dan sebagai kondisioner, bisa menggunakan kemiri bakar. Masker rambut menggunakan kemiri bakar, tanah liat-tanah lempung, dan santan. Hair tonic, rendam hitungan ganjil biji klabet dengan air,” uajrnya.

Namun, kata Ari, saat ia menggunakan resep ini ketika hamil, mengandung, menyusui, rambutnya malah rontok. “Jadi, mungkin tidak cocok bagi ibu yang sedang menyusui,” ujarnya. Menurut Ari Dwijayanthi, lontar Indrani Sastra tak hanya memuat tentang bagaimana merawat rambut, tapi juga wajah, tubuh, dan vagina.

Dalam mengembalikan kekenyalan kulit wajah, misalnya, lontar tersebut menuliskan, “Watutwan mirica, mramangsi, kembang padma, rinuk, husir, jyotismati, mipalimula, witning cabe, jalu kumapang, ciraka, kembang ning cemara, jambu, bunga landep, sama baga kabeh, pipis, panampel muka, byakta kadi wulan purnama denya ikang muka.”

Terjemahan: Biji merica, mangsi, bunga teratai merah, dihancurkan, diaduk, jyotismati, mipalimula, biji cabai, akar jalu mampang, ciraka, bunga cemara, jambu, bunga landep, komposisi seluruhnya sama, dilumat, untuk masker wajah sehingga bercahaya seperti bulan purnama (Dwijayanthi, 2023).

Dalam konteks aroma, menurut Ari, terdapat dua golongan, yakni rempah dalam ranah dan golongan rempah yang menggantung. Golongan rempah dalam tanah seperti kencur, jahe, dan temu-temuan. Sedangkan golongan rempah gantung (pala bungkah) terdiri dari merica dan pala.

“Ada tiga jenis aroma untuk wewangian, yaitu fresh (temu-temuan yang setengah mentah), warm (temu-temuan kering, jahe,cengkeh, kencur), dan powdery (tanah liat, gula aren, cengkeh). Ini yang paling umum,” Kata Ari.

Ari juga menyinggung soal aroma rempah pada makanan dan minuman. Menurutnya, hal tersebut dibahas dalam lontar Dharma Caruban. Di sana disebutkan terdapat unsur rempah sebagai pengundang selera dan unsur rempah sebagai perasa makanan dan minuman. “Lalu ada juga aroma rempah dalam obat. Semua lontar Usadha membahas tentang khasiat rempah sebagai aroma dalam obat dan khasiat rempah sebagai penyembuh dalam obat,” ujarnya.

Rempah sebagai Boga

Kini giliran Putu Eka Guna Yasa, akademisi sastra Bali Universitas Udayana, yang menjelaskan materi tentang rempah sebagai boga. Guna Yasa mempresentasikan materi yang ia beri judul “Dari Literasi Menuju Industri: Revitalisasi Rempah dalam Naskah”. Dalam materi tersebut, selain memuat khazanah rempah sebagai boga, pula sedikit menjelaskan tentang gandha dan usadha—seolah ingin menyegarkan kembali ingatakan peserta seminar atas dua materi sebelumnya.

Guna membuka seminar dengan dua kata: rempah dan penjajah. Ia merasa bahwa dua kata tersebut memiliki hubungan yang erat. “Rempah sebagai salah satu kekayaan alam Indonesia pada masa lampau sempat menjadi primadona bangsa Eropa. Semula mereka menjelajahi daratan dan lautan untuk mencari rempah, tetapi kemudian lama-kelamaan mereka menjarah lalu menjajah,” kata Guna, Minggu (25/8/2024).

Selanjutnya, setelah menyinggung sedikit tentang gandha dan usadha, Guna menjelaskan tentang rempah dan boga (pemanfaatan rempah dalam kuliner) dalam lontar Bali. Menurut Guna, ada tiga lontar di Bali yang membahas rempah sebagai boga, yaitu Dharma Caruban, Purincining Ebatan, dan Usadha. “Lontar-lontar ini merupakan pegangan bagi belawa (ahli masak kerajaan),” terang Guna.

Lalu Guna menyebut satu sosok belawa yang tak terduga, yaitu Bima atau Werkudara—Pandawa nomor dua itu. Dalam lontar Geguritan Kicaka menyebutkan bahwa Bima telah menyamar sebagai tukang masak disebuah kerajaan. “Sang Wrekodara masalin warni, ngangken sudra mawasta Prabu Belawa, juru olah gegunane, kang ngawe yun sang ratu.”

Setidaknya ada lima resep masakan Bali dalam perspektif lontar Dharma Caruban yang disampaikan Guna Yasa. Pertama, timbungan. Kuliner ini memiliki campuran bumbu bawang merah, gamongan, kemiri, galoban, santan encer, bawang putih, terasi, kencur, bangle, lengkuas, ketumbar, merica, dan jinten.

Kedua, lawar penyu dan salwiring lawar (segala jenis lawar). Dalam lontar tersebut, bumbu masakan ini terdiri dari bawang merah, bawang putih, terasi, bebeka, jinten, cabai, merica sedikit, semua digoreng menggunakan minyak kelapa baru. Ketiga, ayam panggang. Jika ingin memasak ayam panggang ala Dharma Caruban maka Anda harus mempersiapkan merica, jinten, bawang putih, kencur. Dihaluskan, diberi santan, dibuatkan kuat kare setelah ayamnya matang, pulasi, dan dipanggang lagi.

Keempat, barengkes babi. Kuliner ini memiliki bumbu seperti bawang merah, bawang putih, kencur, jahe, lengkuas, kemiri, terasi, gula, dan daun salam. Lalu ditambah putih telur yang diremas bersamaan dengan santan kental, daun salam, lalu ditambah jeruk purut dan diremas-remas dalam waktu yang lama. Bawang putih, jinten, terasi, gula, dihaluskan, diberikan tangkai, tempatnya seperti cangkang telur, untuk dipakai tempat, lalu dikukus.

Kelima, jajatah ayam (sate ayam). Bumbunya cukup simpel. Hanya ada merica, jinten, bawang putih, kencur, jeruk, dan santan kental. Sedangkan dalam dua lontar lainnya, Purincining Ebatan dan Kakawin Dharma Sawita, Guna juga menyebutkan beberapa nama kuliner beserta resepnya—dengan detail.

Di Bali, seperti yang tertuang dalam materi Guna Yasa, beberapa rempah berfungsi sebagai bumbu dalam kuliner atau sebagai penguat cita rasa agar makanan menjadi lebih enak. Penggunaan basa genep yang berbahan rempah juga berfungsi sebagai penghambat dan atau pembunuh mikroba seperti bakteri seperti E. coli, Sthapicollocus aureus, dan Salmonella thypi (Ardika, dkk. 2018: 44).

Sampai di sini, menurut Guna Yasa, untuk mendekatkan dan memanfaatkan kembali rempah-rempah yang multikhasiat itu, konsep Udiana Usada—taman yang berfungsi sebagai pengobatan di pekarangan—mesti dihidupkan dan dikampanyekan secara berulang-ulang, lagi, lagi, dan lagi. Sebab, ini dapat menjadi pertolongan pertama sewaktu-waktu terserang sakit secara tiba-tiba.

Akhirnya, seminar yang terbagi dalam tiga topik ini mengharuskan para penulis yang menjadi peserta untuk mendalami khazanah pengetahuan rempah dalam manuskrip lontar, sehingga dapat menyebarkan pengetahuan tersebut kepada khalayak luas melalui satu buah pikiran berupa esai mendalam yang akan dimuat di tatkala.co. Jadi, nantikan pikiran-pikiran para penulis tersebut, sekali lagi, di tatkala.co.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024

Resep Manis Menulis Prosa ala Henry Manampiring dan Dee Lestari
Tambal Sulam Ekranisasi Teks Lama ke Film
Menelusuri Jejak Pembahasan Pertanian dalam Sastra Dulu dan Kini
Tags: balijalur rempahlontarrempahSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Resep Manis Menulis Prosa ala Henry Manampiring dan Dee Lestari

Next Post

Drama Tari “Kesempatan Kedua” dari ISI Denpasar di Living World

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Drama Tari “Kesempatan Kedua” dari ISI Denpasar di Living World

Drama Tari “Kesempatan Kedua” dari ISI Denpasar di Living World

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co