2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sains & Fiksi, Puncak Kelindan Fakta dan Imajinasi

Dee Lestari by Dee Lestari
August 20, 2024
in Esai
Sains & Fiksi, Puncak Kelindan Fakta dan Imajinasi

Dee Lestari | desain: tatkala.co

  • Artikel ini adalah materi dalam panel diskusi “Filsafat, Sains dan Sastra”, Sabtu, 24 Agustus 2024 di Museum Buleleng, Singaraja
  • Artikel ini disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Singaraja Literary Festival (SLF), 23-25 Agustus 2024

***

Genre Fiksi Sains: Sebuah Jembatan yang Strategis

SAINs dan fiksi adalah dua dunia yang tampaknya terpisah, bahkan bertolak belakang. Sains berbasis fakta, sementara fiksi berbasis imajinasi. Namun, ketika keduanya bertemu, hasilnya bisa menakjubkan, bahkan penting.

Dari novel klasik hingga film blockbuster, fiksi sains telah menjadi jendela bagi kita untuk melihat jauh serta memahami kemungkinan-kemungkinan baru. Genre ini dapat memengaruhi cara kita melihat dunia dan berinteraksi dengan teknologi. Ketika kita membaca tentang perjalanan luar angkasa, teknologi canggih, atau kehidupan di planet lain, kita tidak hanya terhibur, tetapi juga diajak untuk membayangkan inovasi apa yang mungkin terjadi dalam hidup kita.

Dengan laju perkembangan informasi dan teknologi yang kian cepat, kita perlu memiliki kemampuan untuk menganalisis dan mempertanyakan apa yang kita terima sebagai kebenaran. Genre ini memicu kita mempertanyakan realitas yang kita jalani sehari-hari, mengajak kita untuk berpikir kritis. Tak jarang fiksi sains mengangkat isu-isu sosial, etika, dan moral yang relevan dengan perkembangan teknologi. Dalam novel Do Androids Dream of Electric Sheep? karya Philip K. Dick misalnya, kita diajak untuk mempertanyakan apa artinya menjadi manusia pada era di mana mesin bisa meniru emosi dan perilaku manusia.

Tak berhenti di sana, fiksi sains pun mampu mengeksplorasi isu-isu sosial dan politik. Film The Matrix tidak hanya menawarkan aksi yang seru, tetapi juga mengajak kita untuk berpikir tentang realitas, kontrol, dan kebebasan. Dengan menggunakan elemen fiksi sains, seorang kreator dapat menyampaikan pesan yang lebih kuat dan mendalam, yang mungkin sulit untuk disampaikan dalam konteks yang lebih realistis.

Salah satu kontribusi terbesar fiksi sains adalah kemampuannya sebagai katalisator untuk kreativitas dan inovasi. Banyak penemuan teknologi modern yang terinspirasi oleh ide-ide yang awalnya muncul dalam fiksi sains. Ini menunjukkan bahwa fiksi sains tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai pendorong inovasi. Novel 2001: A Space Odyssey karya Arthur C. Clarke memperkenalkan kita kepada konsep kecerdasan buatan dan eksplorasi luar angkasa yang sangat futuristik. Arthur C. Clarke juga menggambarkan tablet dan video call, yang bagi kita sekarang menjadi sebuah keniscayaan. Meskipun ditulis pada tahun 1968, banyak detail imajinatif dalam bukunya kini menjadi kenyataan, termasuk penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan segala keterkaitan tadi, terbaca jelas bahwa sains dan fiksi memiliki hubungan yang saling menguntungkan. Sains memberikan bahan baku bagi fiksi, sementara fiksi memberikan konteks dan imajinasi yang diperlukan untuk menjelajahi ide-ide baru. Ketika keduanya berpadu, kita tidak hanya mendapatkan cerita yang menarik, tetapi juga wawasan yang mendalam tentang dunia di sekitar kita. Fiksi sains tak hanya membantu kita untuk menerima teknologi, tetapi juga untuk memahami implikasi yang mungkin ditimbulkannya.

Fiksi sains dapat menjadi jembatan strategis antara imajinasi dan realitas, mendorong kita untuk berpikir lebih jauh dan berani bermimpi. Ketika kita membaca fiksi sains, kita tidak hanya terlibat dalam sebuah petualangan imajinatif, tetapi juga berpartisipasi dalam sebuah dialog yang lebih besar tentang sains, teknologi, dan masa depan. Kita diajak untuk berpikir, bertanya, dan membayangkan. Di situlah letak keajaiban fiksi sains: ia mampu merangsang pikiran dan membawa kita ke tempat dan peristiwa yang segar serta visioner.

Kontribusi Fiksi Sains: Mendorong Batas Inovasi

Fiksi sains punya dampak nyata dalam kehidupan kita. Dari pengembangan teknologi hingga perubahan sosial, fiksi sains telah membentuk cara kita berpikir dan berinovasi.

Kontribusi fiksi sains dalam kehidupan sehari-hari tidak bisa dianggap remeh. Fiksi sains seringkali menjadi jembatan antara sains dengan masyarakat, membantu orang untuk memahami konsep-konsep ilmiah yang kompleks dengan cara yang lebih mudah dicerna. Lewat film dan novel fiksi sains, tak jarang terpicu diskusi tentang isu-isu penting seperti perubahan iklim, teknologi, dan etika. Dalam konteks ini, fiksi sains berfungsi sebagai cermin yang memantulkan kekhawatiran dan harapan kita terhadap masa depan.

Sejak awal kemunculannya, fiksi sains telah menjadi medium yang kuat untuk mengeksplorasi ide-ide futuristik. Karya-karya seperti 1984 karya George Orwell dan Brave New World karya Aldous Huxley tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pandangan kritis terhadap masyarakat dan teknologi. Mereka mengajak pembaca untuk mempertanyakan norma-norma yang ada dan membayangkan dunia yang berbeda. Kontribusi fiksi sains dalam inovasi teknologi juga tidak bisa diabaikan. Banyak penemuan yang awalnya muncul dari imajinasi para penulis fiksi sains. Contohnya, konsep telepon pintar yang kita gunakan sehari-hari sudah ada dalam karya-karya seperti Star Trek. Dalam serial tersebut, perangkat komunikasi yang digunakan oleh karakter-karakternya mirip dengan smartphone modern. Hal ini menunjukkan bagaimana imajinasi dapat memicu inovasi nyata di dunia nyata.

Fiksi sains juga berfungsi sebagai ruang eksperimen untuk ide-ide baru. Dalam banyak cerita, penulis menciptakan dunia yang sepenuhnya baru dengan aturan dan logika yang berbeda. Ini memungkinkan mereka untuk mengeksplorasi konsep-konsep yang mungkin tidak dapat diterima dalam konteks dunia nyata. Misalnya, dalam novel Snow Crash karya Neal Stephenson, penulis menciptakan dunia virtual yang memungkinkan pembaca untuk membayangkan kemungkinan-kemungkinan baru dalam interaksi manusia dan teknologi.

Dengan mengintegrasikan fakta ilmiah ke dalam narasi, cerita tidak hanya berpotensi menjadi lebih menarik, tetapi juga bisa memberikan pembaca pemahaman yang lebih baik tentang konsep-konsep ilmiah. Dalam buku The Martian karya Andy Weir, pembaca diajak untuk memahami prinsip-prinsip dasar sains dan teknik bertahan hidup di Mars, sambil menikmati petualangan yang mendebarkan.

Setiap kali kita menikmati cerita-cerita fiksi sains, ingatlah bahwa kita tidak hanya sedang bersenang-senang, tetapi juga berpartisipasi dalam dialog yang lebih besar tentang masa depan kita. Fiksi sains adalah jembatan yang menghubungkan imajinasi dan realitas, dan setiap cerita yang kita baca dapat menjadi sumber inspirasi untuk inovasi dan perubahan.

Fiksi Sains Dunia & Tanah Air: Menyemai Bumbu Sains dalam Fiksi

Fiksi sains telah menjadi salah satu genre yang paling menarik dan berpengaruh dalam dunia sastra. Dari kapal selam yang menjelajahi lautan dalam Twenty Thousand Leagues Under the Sea karya Jules Verne hingga dunia distopia yang penuh teknologi dalam novel-novel cyberpunk, fiksi sains telah mengubah cara kita melihat sains dan teknologi.

Jules Verne, sering disebut sebagai Bapak Fiksi Sains, adalah salah satu penulis yang paling berpengaruh dalam genre ini. Karya-karyanya, seperti Journey to the Center of the Earth dan From the Earth to the Moon, tidak hanya memikat imajinasi pembaca, tetapi juga memprediksi banyak penemuan ilmiah yang akan datang. Verne berhasil menggabungkan fakta ilmiah dengan imajinasi yang liar, menciptakan dunia yang seolah-olah mungkin untuk dijelajahi. Dengan deskripsi detail tentang teknologi yang belum ada saat itu, Verne membuka jalan bagi penulis-penulis selanjutnya untuk mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru dalam fiksi sains.

Setelah Verne, penulis seperti H.G. Wells muncul dengan karya-karya yang lebih gelap dan kritis. Dalam novel The War of the Worlds, Wells mengeksplorasi tema invasi alien dan dampaknya terhadap masyarakat. Karya ini tidak hanya menjadi salah satu contoh awal dari fiksi sains yang menggabungkan elemen horor, tetapi juga mencerminkan ketakutan masyarakat terhadap teknologi dan perubahan sosial pada masa itu. Wells berhasil menunjukkan bagaimana sains dapat menjadi alat untuk menggambarkan ketakutan dan harapan manusia.

Masuk ke era modern, kita tidak bisa melewatkan nama-nama seperti Isaac Asimov dan Philip K. Dick. Asimov, dengan Foundation dan Robot series-nya, memperkenalkan konsep-konsep seperti kecerdasan buatan dan robotika yang masih relevan hingga saat ini. Dia tidak hanya menciptakan cerita yang menarik, tetapi juga mengajak pembaca untuk mempertimbangkan etika dan moralitas di balik kemajuan teknologi. Di sisi lain, Philip K. Dick, dengan karya-karya seperti Do Androids Dream of Electric Sheep?, mengeksplorasi identitas dan realitas dalam dunia yang semakin dipenuhi oleh teknologi. Karya-karya Dick sering kali mempertanyakan apa artinya menjadi manusia pada zaman ketika batas antara manusia dan mesin semakin kabur.

Dengan perkembangan teknologi yang pesat, fiksi sains juga beradaptasi. Cyberpunk, sebagai subgenre fiksi sains, menggambarkan dunia di mana teknologi dan kehidupan manusia saling berinteraksi dengan cara kompleks. Karya-karya seperti Neuromancer oleh William Gibson dan Snow Crash oleh Neal Stephenson mengeksplorasi tema-tema seperti realitas virtual, kecerdasan buatan, dan dampak sosial dari teknologi. Dalam dunia cyberpunk, kita sering kali melihat gambaran masyarakat yang terfragmentasi, saat teknologi membawa kemudahan sekaligus tantangan baru.

Dalam dunia yang semakin terhubung, fiksi sains juga membantu kita memahami budaya dan perspektif yang berbeda. Karya-karya dari penulis non-Barat, seperti Liu Cixin dari Tiongkok, memberikan sudut pandang yang berbeda tentang masa depan dan teknologi. Dengan membaca fiksi sains dari berbagai budaya, kita dapat memperluas wawasan kita dan memahami bagaimana orang lain melihat dunia.

Fiksi sains di Indonesia mungkin belum sepopuler di negara-negara barat, tetapi tidak sedikit upaya penulis lokal untuk mengangkat tema-tema ilmiah dengan cara yang menarik dan inspiratif, termasuk yang saya lakukan lewat serial Supernova. Meski tidak pernah yakin untuk menyebut Supernova sebagai fiksi sains (saya selalu merasa penyematan tajuk genre seperti ini bukanlah tugas saya, melainkan tugas kritikus dan pengamat), dengan cukup terang saya memasukkan diskusi-diskusi bernuansa saintifik di dalam banyak adegan di sepanjang serial Supernova.

Menulis Fiksi Sains: Menggabungkan Data dan Imajinasi

Menulis fiksi sains itu seperti memasak. Kita butuh bahan-bahan yang tepat untuk menciptakan hidangan yang lezat dan menggugah selera. Dalam hal ini, bahan-bahan tersebut adalah fakta ilmiah, imajinasi, dan unsur-unsur dramatis. Menggabungkan semua itubisa jadi tantangan, tapi dengan beberapa tips praktis, kamu bisa meramu cerita yang bukan hanya menarik, tetapi juga cerdas.

Pertama-tama, penting untuk memahami bahwa fiksi sains bukan hanya soal teknologi canggih atau alien yang datang dari luar angkasa. Ini adalah tentang bagaimana sains dapat memengaruhi kehidupan manusia dan bagaimana kita berinteraksi dengan dunia di sekitar kita.

Mulailah dengan melakukan riset. Ini langkah krusial. Tanpa pemahaman yang baik tentang konsep ilmiah yang ingin kamu masukkan ke dalam cerita, narasi yang kamu buat bisa terasa datar atau bahkan tidak kredibel. Misalnya, jika kamu ingin menulis tentang perjalanan luar angkasa, pelajari tentang fisika ruang angkasa, gravitasi, dan teknologi roket. The Martian oleh Andy Weir bisa menjadi referensi yang bagus untuk memahami bagaimana sains dapat diintegrasikan dengan menarik ke dalam cerita.

Setelah melakukan riset, pikirkan tentang bagaimana sains dapat menjadi bagian dari karakter dan plot. Karakter yang terlibat dalam dunia sains sering kali memiliki motivasi yang kuat untuk mengeksplorasi dan memahami dunia. Misalnya, dalam novel Frankenstein karya Mary Shelley, karakter Victor Frankenstein didorong oleh keinginan untuk memahami kehidupan dan kematian. Motivasi ini menciptakan ketegangan dan konflik yang menarik dalam cerita.

Selanjutnya, jangan takut untuk berimajinasi. Fiksi sains memberi kamu kebebasan untuk mengeksplorasi ide-ide yang mungkin tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Namun, penting untuk tetap menjaga elemen ilmiah agar tetap relevan. Jika kamu menarasikan sebuah teknologi baru misalnya, pastikan untuk memberikan penjelasan yang logis tentang bagaimana teknologi tersebut bekerja. Ini akan membantu pembaca merasa terhubung dengan cerita dan membuatnya lebih meyakinkan.

Jangan lupa untuk mempertimbangkan dampak sosial dari sains dalam ceritamu. Fiksi sains sering kali mencerminkan kekhawatiran dan harapan masyarakat terhadap teknologi dan kemajuan ilmiah. Novel Brave New World karya Aldous Huxley mengeksplorasi tema kontrol sosial dan dampak teknologi pada kehidupan manusia dapat menjadi contoh yang baik. Dengan memasukkan elemen ini, kamu dapat memberikan kedalaman tambahan pada cerita dan membuat pembaca berpikir lebih jauh tentang implikasi dari sains.

Fiksi sains bukan hanya tentang teknologi dan fakta, tetapi juga tentang manusia dan pengalaman mereka. Karakter yang kuat dan emosi yang mendalam akan membuat cerita lebih menarik. Pertimbangkan bagaimana penemuan ilmiah atau teknologi baru memengaruhi kehidupan karakter. Apakah itu membawa mereka lebih dekat atau justru menjauhkan mereka dari orang-orang yang mereka cintai? Dengan menggabungkan elemen ilmiah dengan pengembangan karakter yang baik, kamu bisa menciptakan cerita yang lebih mendalam dan berkesan.

Gunakan elemen naratif yang kuat. Cerita yang baik tidak hanya bergantung pada ide-ide ilmiah, tetapi juga pada karakter yang menarik dan plot yang menegangkan. Struktur cerita harus tetap dijaga untuk menciptakan runutan peristiwa dan sebab-akibat yang logis. Ini faktor krusial yang akan membuat pembaca merasa terlibat dan ingin terus membaca.

Terakhir, jangan lupa untuk menikmati proses menulis. Fiksi sains adalah tentang eksplorasi dan imajinasi. Biarkan ide-ide mengalir dan jangan terlalu keras pada diri sendiri. Ingat, setiap penulis memiliki gaya dan suara uniknya sendiri. Temukan apa yang paling cocok untukmu dan jangan takut untuk bereksperimen.

Setelah selesai menulis, penting untuk mendapatkan umpan balik. Ajak teman atau rekan penulis untuk membaca karya kamu dan memberikan masukan. Mereka bisa memberikan perspektif baru dan membantu kamu melihat bagian-bagian yang mungkin perlu diperbaiki. Lebih baik lagi jika bisa mendapatkan narasumber ahli yang relevan untuk mengecek ulang ceritamu.  Jangan ragu untuk melakukan revisi berdasarkan umpan balik yang kamu terima. Proses ini bisa sangat membantu dalam meningkatkan kualitas cerita.

Terakhir, banyaklah membaca karya-karya fiksi sains lainnya. Bukan hanya untuk mendapatkan inspirasi, melainkan juga untuk memahami bagaimana penulis lain menggabungkan fakta ilmiah dengan imajinasi. Perhatikan bagaimana mereka membangun dunia, mengembangkan karakter, dan menyampaikan informasi ilmiah. Dengan cara ini, kamu bisa belajar banyak dan mengembangkan gaya penulisanmu sendiri.

Menulis fiksi sains adalah perjalanan yang menarik dan penuh tantangan. Sains dan imajinasi bisa berjalan beriringan, dan jika dilakukan dengan baik, rangkaian keduanya menjadi sebuah karya yang luar biasa. Bahkan mengubah dunia. [T]

BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024

Filsafat, Jalan Ninja Ide Hebat
Khasanah Rempah, Makanan dan Obat Bagi Raga
Tags: Dee LestarifaktafiksisainssastraSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Demokrasi  dalam  Pilkada dan Partai  Politik

Next Post

Filsafat, Jalan Ninja Ide Hebat

Dee Lestari

Dee Lestari

Dee Lestari dengan nama lengkap Dewi Lestari adalah novelis dan musisi

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Filsafat, Jalan Ninja Ide Hebat

Filsafat, Jalan Ninja Ide Hebat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co