22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Demokrasi  dalam  Pilkada dan Partai  Politik

Suradi Al Karim by Suradi Al Karim
August 20, 2024
in Opini
Demokrasi  dalam  Pilkada dan Partai  Politik

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari gambar Google

APA beda democracy dan democrazy? Democracy berarti, petani-pekebun boleh jadi Gubemur, Bupati dan Walikota.  Sedangkan democrazy berarti,  petani pekebun boleh berbuat apa  saja, kecuali jadi  Gubemur, Bupati dan Walikota. Lho, kok begitu? Memang begitu. Dalam kamus bahasa  Inggris  John  M.  Echols  dan  Hasan  Shadily,  disebutkan  democracy jelas  artinya  : demokrasi.

Tetapi democrazy? Saya telah membalik-balik kamus tersebut tiga hari tiga malam, tapi tidak ketemu. Bahkan juga dalam kamus bahasa prokem yang disusun Prathama Raharja dan Hendri Chambert-Loir terbitan Grafiti, juga tidak ditemukan istilah democrazy. Jadi democrazy terserah pembaca menerjemahkan.

Kalau menurut kaidah bahasa Inggris atau hukum MD ( menerangkan-diterangkan), maka democrazy bisa berarti :   gila menghalalakan segala cara, yang hari-hari kerjanya hanya jilat dan carmuk (cari muka), tak peduli siapa kawan siapa lawan angkat atas injak bawah (belah bambu). Berbuat apa saja karena dibayar atau bila perlu membayar agar bisa menjilat. Nah gila kan?

Tapi prolog di atas mungkin hanya di “Konoha”. Di Jawa-Tengah, khususnya di Kabupaten Banyumas, mana ada yang gila-gilaan seperti itu, kalupun ada paling setengah gila.. Barangkali  karena  kedengarannya  hampir  sama,  padahal  kosakata  ini jauh  berbeda,  maka democrazy dipergunakan sebagai plesetan dari democracy. Democrazy adalah demokrasi yang gila-gilaan, begitulah kira-kira.  Tetapi sesungguhnya, democracy dan democrazy jelas berbeda.

Mantan Presiden Amerika-Serikat Abraham Lincoln, memberikan rumusan yang terkenal, demokrasi  adalah pemerintahan  yang berasal  dari rakyat,  oleh rakyat  dan untuk rakyat  ( a government from  the people,  by the people,  and for  the people),  artinya pemerintahan  oleh mereka yang diperintah. Demokrasi kalau tidak diplesetkan, sebenamya kedaulatan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Tetapi kini telah bergeser menjadi dari rakyat, oleh penguasa, dan untuk  penguasa,  Rakyat  kini justru  kehilangan  hak-hak  dasamya  sebagai  pemegang  kedaulatan tertinggi.

Sebagai  pemegang   kedaulatan,   partispasi   rakyat  tidak  seharusnya   berhenti  di bilik  suara.  Lebih dari itu, dalam  setiap tahapan  kehidupan  bemegara  dalam  skala apapun,  rakyat  memiliki  hak dan kewajiban   untuk  berpartisipasi.   Dinamika   kehidupan   demokrasi   secara  esensial  terletak  dalam partisipasi  yang lebih luas dan menyeluruh.

Deliar  Noer  (1983)  mengemukakan   bahwa  demokrasi   sebagai  dasar  hidup  bemegara   memberi pengertian    bahwa   pada   tingkat   terakhir   masyarakat    memberikan    ketentuan   pada   masalah• masalah pokok mengenai kehidupanya,  termasuk dalam menilai kebijaksanaan  negara, karena kebijaksanaan   tersebut  menentukan  kehidupan  rakyat.

Mahfud   MD  ( 1999), secara  historis   tercatat   bahwa  prinsip   demokrasi   lahir  sebagai   saudara kembar  dari prinsip  hukum  dalam  negara-negara   demokrasi  modern.  Jadi demokrasi  dan hukum lahir dari ibu kandung  yang  sama  sehingga  sering  muncul  adigum  bahwa  demokrasi  dan hukum ibarat  dua  sisi  dari  sebuah  mata  uang.  Tidak  ada  demokrasi   tanpa  ada  hukum  yang  tegak  dan tidak ada hukum  yang tegak tanpa pembangunan   kehidupan  politik  yang demokratis

Gila-Gilaan

Demokrasi dalam Pilkada serentak digelar tanggal 27 November 2024 menjadi bom waktu bagi demokrasi  kita.  Demokrasi  diharapakan  hadir  untuk  menjelmakan  kedaultan  rakyat, justru menjadi ajang berebut pengaruh dan uang membuat orag lepas kendali, lupa diri dan tampak seperti orang gila atau setengah gila.

Memperbincangkan tentang demokrasi haruslah membicarakan juga  Pilkada dan Partai Politik. Demokrasi dalam Pilkada telah banyak beredar di Google, namun mengenai figur yang dicalonkan ada terbatas jumlahnya dan kebanyakan hanya berisi info mengenai koalisi Parpol. Padahal dalam proses pencalonan Pilkada diduga kuat calon yang bersangkutan harus mendapat tiket dari Parpol untuk bisa menjadi calon kepala daerah.

Praktek jual beli dukungan seperti  ini  samakin  gila  karena  memang   sang  calon  membutuhkan   suara  20  % kursi di DPRD (koalisi Parpol). Meskipun dalam kenyataanya hanya koalisi Parpol (koalisi papan nama) tetapi akar rumput (grassroot), atau kader partai yang akhirnya membelot memberikan dukungan kepada calon lain ( lapisan bawah yang menjadi target pengumpulan suara sia-sia).

Biaya belanja tiket yang dikeluarkan minmal 2 miliar untuk sebuah Parpol oleh calon inilah yang potensial menjadi penyebab korupsi. Jika terpilih, tentu saja yang akan menjadi pekerjaan rumah bagi sang calon kepala daerah yang terpilih adalah untuk mengembalikan semua modal yang telah dikeluarkan dalam proses politik pencalonannya.

Kini beberapa hal yang harus diperjuangkan   antara lain,   memperkuat kesadaran masyarakat tentang demokrasi kerakyatan. Usaha ini dapat dilakukan dengan pendidikan politik secara luas kepada rakyat. Dengan melakukan pendidikan politik  secara terus-menerus,  diharapkan akan tumbuh kesadaran tegaknya demokrasi. Bahwa tidak dapat dijadikan alat untuk mencapai kekuasaan, tetapi sarana untuk menjaga amanah bagi kesehateraan rakyat.

Pelajaran berarti dari fenomena ini telah disosialisakan oleh KPU mengenai pendidikan pemilih, diharapkan tumbuhnya kesadaran  hak dan kewajiban masyarakat dan tergugahnya sikap kritis masyarakat untuk mencegah beragam potensi kecurangan akan terjadi dalam Pilkada nanti. Hal demikian ini hendaknya melecut aktivis partai untuk benar-benar setia terhadap idelogi, platform dan moralitas politik sehingga harapan konstituen yang diemban partai dapat dicapai dan sekaligus   mampu   mengeluarkan   daerah   masing-masing   dari   malapetaka   Kemelaratan (kemeskinan akut),  KKN dan ketidakadilan yang melingkupi wajah NKRI saat ini.

Democracy dan demokrazy, diftongnya memang hampir sama, tetapi sebenamya dalam kosakata sangat jauh berbeda. Namun kalau di lapangan sekarang kedua kosa-kata ini sulit dibedakan, itu barangkali karena kita sedang mulai menikmati demokrasi sambil belajar, atau mulai balajar sambil menikmati demokrasi. Wallahu a’lam bil-shawab. [T]

Demokrasi, Politik Dinasti Ataukah Dinasti Politik?
“Sandyakalaning” Demokrasi Indonesia
Tergerusnya Demokrasi Indonesia
Tags: demokrasiPilkadapilkada serentakPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Iam Murda dan Papua Melawan Dunia

Next Post

Sains & Fiksi, Puncak Kelindan Fakta dan Imajinasi

Suradi Al Karim

Suradi Al Karim

Penasihat MD KAHMI Banyumas Raya, Penasihat DPC Peradi Purwokerto, Fungsionaris BPPH MPC PP Kab. Banyumas dan LBH AP PDM Kab. Banyumas, serta Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Hukum KONI Kab. Banyumas.

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Sains & Fiksi, Puncak Kelindan Fakta dan Imajinasi

Sains & Fiksi, Puncak Kelindan Fakta dan Imajinasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co