22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Sandyakalaning” Demokrasi Indonesia

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
February 10, 2024
in Esai
Kekuatan Politik Baru Itu Bernama Majelis Desa Adat

Gambar ilustrasi: tatkala.co

EMPAT hari jelang hari pencoblosan pada Rabu, 14 Februari mendatang sekaligus hari terakhir kampanye bagi peserta pemilu, situasi kebangsaan tampak tidak baik-baik saja. Seminggu belakangan ramai-ramai civitas akademika perguruan tinggi yang tersebar di Indonesia menyatakan sikapnya perihal demokrasi bangsa yang dianggap kini terancam keberadaannya. Para akademisi tersebut menyatakan bahwa demokrasi Indonesia hari ini sedang terancam, tentu oleh ulah para penguasa yang terlihat sedang menyalahgunakan kekuasaannya untuk “berkuasa kembali”.

Pemilu 2024 menjadi ajang pemilu keenam yang diselenggarakan oleh Indonesia pasca reformasi. Dalam berbagai studi, demokrasi sebuah negara akan masuk ke tahap matang ketika telah berhasil menyelenggarakan 7 (tujuh) kali pemilu tanpa ada gesekan yang mengarah pada disintegrasi bangsa. Pemilu tahun ini sejatinya menjadi momentum bagi bangsa Indonesia untuk mengkonsolidasikan nilai-nilai demokrasi dan institusi demokrasi.

Pada tahap ini seharusnya demokrasi Indonesia sudah lebih mapan, stabil, profesional, serta mandiri. Pemilu sebagai instrumen penting demokrasi dalam proses pergantian kekuasaan seharusnya dijalankan oleh sumber daya yang mampu menjalankan tata kelola dan manajemen pemilu secara terbuka, pasti, transparan, dan partisipatif guna mencerdaskan pemilih.

Reformasi sebagai milestone demokrasi Indonesia sudah berlalu 25 tahun lalu. Tetapi kehidupan demokrasi Indonesia tampak seperti jalan di tempat. Economist Intelligence Unit (EIU) dalam Democracy Indeks yang disusun pada tahun 2021 menyebutkan bahwa Indonesia masih berada di dalam kategori Flawed Democracy atau sederhananya dapat disebut “cacat demokrasi”.

Bahkan oleh Freedom House, demokrasi Indonesia masuk ke dalam kategori Partly Free atau semi bebas—kebebasan berekspresi dan berkeyakinan, hak berasosiasi dan berorganisasi, serta aturan hukum adalah variabel yang mendapatkan skor di bawah rata-rata global. Menguatkan hasil riset dua lembaga tersebut, Titi Anggraeni seorang pemerhati demokrasi yang saat ini sebagai Dewan Pembina Perludem menyebutkan bahwa Pemilu 2024 adalah pemilu terburuk pasca reformasi karena tidak mampu memberikan kepastian hukum dalam setiap tahapannya.

Cacat Etika

Alih-alih medekatkan asa demokrasi yang semakin matang, realitas hari ini sudah jelas jauh panggang dari api. Banyaknya permasalahan dan polemik yang dihadirkan penyelenggara pemilu itu sendiri justru menjadi pemicu ketidakpercayaan publik terhadap lembaga yang disebut-sebut sebagai lembaga mandiri dan independen tersebut. Mulai dari tahapan verifikasi partai politik peserta pemilu yang cukup menyita perhatian publik karena ada dugaan kecurangan yang mengakibatkan lolos dan tidaknya partai politik sebagai peserta pemilu 2024, pendaftaran pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang belakangan diketahui menyalahi kode etik, hingga perbedaan pandangan KPU dan Bawaslu menyikapi telah terkirimnya surat suara di Taiwan di luar jadwalnya—perbedaan tersebut menjadi aneh karena dua lembaga tersebut berpedoman pada undang-undang yang sama.

Ketidakpercayaan publik semakin terakumulasi dengan keluarnya vonis-vonis pelanggaran etik kepada garda terdepan penyelenggara demokrasi. Misalnya terbuktinya Ketua KPU RI dan Anggota lainnya melanggar etik penyelenggara pemilu karena meloloskan pendaftaran Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden, padahal belum dilakukan revisi terhadap PKPU pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK).

Sebelumnya, seluruh hakim MK juga divonis melakukan pelanggaran etik berat karena dianggap telah membuka ruang intervensi dari pihak-pihak tertentu. Namun alih-alih memilih untuk menyatakan permintaan maaf ke publik, pihak-pihak tersebut lebih memilih bungkam, bahkan mantan Ketua MK Anwar Usman mengajukan gugatan ke PTUN untuk mengembalikan jabatan Ketua MK kepada dirinya.

Dalam debat capres dan cawapres pun perihal etika kerap kali diangkat—setidaknya oleh paslon 1 dan 3 untuk menyerang paslon 2 yang dianggap diuntungkan karena putusan MK yang berhasil memuluskan jalan putera sulung Jokowi sebagai cawapres. Pada debat capres yang diselenggarakan oleh KPU RI tersebutlah keluar kata-kata “Ndasmu Etik” dari salah satu capres.

Menurut penulis, ungkapan tersebut adalah standing position capres tersebut dalam memandang etika. Dugaan penulis, capres tersebut memandang etika bukanlah aspek penting dalam berpolitik. Penulis jadi ingat pandangan yang disampaikan oleh Prof. Dr. Franz Magnis Suseno (Romo Magnis) soal etika. Ia menyebutkan bahwa etika adalah aspek yang membedakan manusia dengan binatang. Artinya aspek etik seharusnya menjadi poin pertama yang harus dijunjung paling utama tinimbang aspek kepentingan untuk berkuasa.

Preseden Buruk

Munculnya pernyataan sikap dari civitas akademika perguruan tinggi dan organisasi pergerakan, sampai aksi-aksi demonstrasi oleh mahasiswa yang kini mulai ramai tentu saja tidak “ujug-ujug”, semua pasti ada pemicunya. Mulai dari munculnya pernyataan Presiden bahwa dirinya diperbolehkan oleh undang-undang untuk berkampanye, jajaran menteri yang secara terang-terangan melakukan kampanya di saat menyandang tugas sebagai menteri, terjadinya pelanggaran etik berat di MK sebagai rumah penjaga konstitusi bangsa, pelanggaran etik oleh penyelenggara pemilu, dugaan politisasi bansos oleh Presiden, hingga dugaan tidak netralnya ASN, TNI, dan Polri telah terakumulasi dan berhasil memantik amarah publik. Bahkan amarah publik pun tidak membuat parlemen untuk merespon dugaan abuse of power dari cabang kekuasaan eksekutif. Kira-kira kemana mereka? Ohh, iya. Mereka sedang sibuk berkampanye untuk memenangkan paslon-nya dan juga dirinya.

Hal-hal yang disebutkan di atas adalah tindakan yang jelas-jelas menciderai semangat demokrasi Indonesia. Demokrasi seharusnya menghadirkan kesetaraan, keadilan, serta inklusivitas terhadap seluruh warga negaranya. Namun berkaca pada apa yang terjadi hari ini, ketiga aspek tersebut tampaknya belum dijalankan secara penuh oleh negara. Masing-masing cabang kekuasaan seharusnya memberi penghormatan satu sama lain dan menghindari praktik-praktik intervensi satu sama lain.

Namun terlepas dari pelbagai persoalan yang menguatkan riset EIU yang memasukkan Indonesia ke dalam kategori Flawed Democracy, rakyat Indonesia yang memiliki hak pilih harus datang ke TPS dan menggunakan hak suaranya. Karena seperti kata Romo Magnis, bahwa pemilu bukanlah ajang untuk memilih yang terbaik, tetapi pemilu adalah ajang untuk mencegah yang terburuk untuk berkuasa. [T]

  • Baca esai-esai politik TEDDY CHRISPRIMANATA PUTRA lainnya DI SINI
Membaca Masa Depan Koster
Gincu Politik: Manis dan Menghanyutkan
Mempertanyakan Diamnya Gibran
Tags: Pemilu 2024PilpresPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perayaan Imlek di Klenteng Ling Gwan Kiong: Kelincahan Barongsai, Sukacita Warga Singaraja

Next Post

Demokrasi, Politik Dinasti Ataukah Dinasti Politik?

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Demokrasi, Politik Dinasti Ataukah Dinasti Politik?

Demokrasi, Politik Dinasti Ataukah Dinasti Politik?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co