13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Sandyakalaning” Demokrasi Indonesia

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
February 10, 2024
in Esai
Kekuatan Politik Baru Itu Bernama Majelis Desa Adat

Gambar ilustrasi: tatkala.co

EMPAT hari jelang hari pencoblosan pada Rabu, 14 Februari mendatang sekaligus hari terakhir kampanye bagi peserta pemilu, situasi kebangsaan tampak tidak baik-baik saja. Seminggu belakangan ramai-ramai civitas akademika perguruan tinggi yang tersebar di Indonesia menyatakan sikapnya perihal demokrasi bangsa yang dianggap kini terancam keberadaannya. Para akademisi tersebut menyatakan bahwa demokrasi Indonesia hari ini sedang terancam, tentu oleh ulah para penguasa yang terlihat sedang menyalahgunakan kekuasaannya untuk “berkuasa kembali”.

Pemilu 2024 menjadi ajang pemilu keenam yang diselenggarakan oleh Indonesia pasca reformasi. Dalam berbagai studi, demokrasi sebuah negara akan masuk ke tahap matang ketika telah berhasil menyelenggarakan 7 (tujuh) kali pemilu tanpa ada gesekan yang mengarah pada disintegrasi bangsa. Pemilu tahun ini sejatinya menjadi momentum bagi bangsa Indonesia untuk mengkonsolidasikan nilai-nilai demokrasi dan institusi demokrasi.

Pada tahap ini seharusnya demokrasi Indonesia sudah lebih mapan, stabil, profesional, serta mandiri. Pemilu sebagai instrumen penting demokrasi dalam proses pergantian kekuasaan seharusnya dijalankan oleh sumber daya yang mampu menjalankan tata kelola dan manajemen pemilu secara terbuka, pasti, transparan, dan partisipatif guna mencerdaskan pemilih.

Reformasi sebagai milestone demokrasi Indonesia sudah berlalu 25 tahun lalu. Tetapi kehidupan demokrasi Indonesia tampak seperti jalan di tempat. Economist Intelligence Unit (EIU) dalam Democracy Indeks yang disusun pada tahun 2021 menyebutkan bahwa Indonesia masih berada di dalam kategori Flawed Democracy atau sederhananya dapat disebut “cacat demokrasi”.

Bahkan oleh Freedom House, demokrasi Indonesia masuk ke dalam kategori Partly Free atau semi bebas—kebebasan berekspresi dan berkeyakinan, hak berasosiasi dan berorganisasi, serta aturan hukum adalah variabel yang mendapatkan skor di bawah rata-rata global. Menguatkan hasil riset dua lembaga tersebut, Titi Anggraeni seorang pemerhati demokrasi yang saat ini sebagai Dewan Pembina Perludem menyebutkan bahwa Pemilu 2024 adalah pemilu terburuk pasca reformasi karena tidak mampu memberikan kepastian hukum dalam setiap tahapannya.

Cacat Etika

Alih-alih medekatkan asa demokrasi yang semakin matang, realitas hari ini sudah jelas jauh panggang dari api. Banyaknya permasalahan dan polemik yang dihadirkan penyelenggara pemilu itu sendiri justru menjadi pemicu ketidakpercayaan publik terhadap lembaga yang disebut-sebut sebagai lembaga mandiri dan independen tersebut. Mulai dari tahapan verifikasi partai politik peserta pemilu yang cukup menyita perhatian publik karena ada dugaan kecurangan yang mengakibatkan lolos dan tidaknya partai politik sebagai peserta pemilu 2024, pendaftaran pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang belakangan diketahui menyalahi kode etik, hingga perbedaan pandangan KPU dan Bawaslu menyikapi telah terkirimnya surat suara di Taiwan di luar jadwalnya—perbedaan tersebut menjadi aneh karena dua lembaga tersebut berpedoman pada undang-undang yang sama.

Ketidakpercayaan publik semakin terakumulasi dengan keluarnya vonis-vonis pelanggaran etik kepada garda terdepan penyelenggara demokrasi. Misalnya terbuktinya Ketua KPU RI dan Anggota lainnya melanggar etik penyelenggara pemilu karena meloloskan pendaftaran Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden, padahal belum dilakukan revisi terhadap PKPU pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK).

Sebelumnya, seluruh hakim MK juga divonis melakukan pelanggaran etik berat karena dianggap telah membuka ruang intervensi dari pihak-pihak tertentu. Namun alih-alih memilih untuk menyatakan permintaan maaf ke publik, pihak-pihak tersebut lebih memilih bungkam, bahkan mantan Ketua MK Anwar Usman mengajukan gugatan ke PTUN untuk mengembalikan jabatan Ketua MK kepada dirinya.

Dalam debat capres dan cawapres pun perihal etika kerap kali diangkat—setidaknya oleh paslon 1 dan 3 untuk menyerang paslon 2 yang dianggap diuntungkan karena putusan MK yang berhasil memuluskan jalan putera sulung Jokowi sebagai cawapres. Pada debat capres yang diselenggarakan oleh KPU RI tersebutlah keluar kata-kata “Ndasmu Etik” dari salah satu capres.

Menurut penulis, ungkapan tersebut adalah standing position capres tersebut dalam memandang etika. Dugaan penulis, capres tersebut memandang etika bukanlah aspek penting dalam berpolitik. Penulis jadi ingat pandangan yang disampaikan oleh Prof. Dr. Franz Magnis Suseno (Romo Magnis) soal etika. Ia menyebutkan bahwa etika adalah aspek yang membedakan manusia dengan binatang. Artinya aspek etik seharusnya menjadi poin pertama yang harus dijunjung paling utama tinimbang aspek kepentingan untuk berkuasa.

Preseden Buruk

Munculnya pernyataan sikap dari civitas akademika perguruan tinggi dan organisasi pergerakan, sampai aksi-aksi demonstrasi oleh mahasiswa yang kini mulai ramai tentu saja tidak “ujug-ujug”, semua pasti ada pemicunya. Mulai dari munculnya pernyataan Presiden bahwa dirinya diperbolehkan oleh undang-undang untuk berkampanye, jajaran menteri yang secara terang-terangan melakukan kampanya di saat menyandang tugas sebagai menteri, terjadinya pelanggaran etik berat di MK sebagai rumah penjaga konstitusi bangsa, pelanggaran etik oleh penyelenggara pemilu, dugaan politisasi bansos oleh Presiden, hingga dugaan tidak netralnya ASN, TNI, dan Polri telah terakumulasi dan berhasil memantik amarah publik. Bahkan amarah publik pun tidak membuat parlemen untuk merespon dugaan abuse of power dari cabang kekuasaan eksekutif. Kira-kira kemana mereka? Ohh, iya. Mereka sedang sibuk berkampanye untuk memenangkan paslon-nya dan juga dirinya.

Hal-hal yang disebutkan di atas adalah tindakan yang jelas-jelas menciderai semangat demokrasi Indonesia. Demokrasi seharusnya menghadirkan kesetaraan, keadilan, serta inklusivitas terhadap seluruh warga negaranya. Namun berkaca pada apa yang terjadi hari ini, ketiga aspek tersebut tampaknya belum dijalankan secara penuh oleh negara. Masing-masing cabang kekuasaan seharusnya memberi penghormatan satu sama lain dan menghindari praktik-praktik intervensi satu sama lain.

Namun terlepas dari pelbagai persoalan yang menguatkan riset EIU yang memasukkan Indonesia ke dalam kategori Flawed Democracy, rakyat Indonesia yang memiliki hak pilih harus datang ke TPS dan menggunakan hak suaranya. Karena seperti kata Romo Magnis, bahwa pemilu bukanlah ajang untuk memilih yang terbaik, tetapi pemilu adalah ajang untuk mencegah yang terburuk untuk berkuasa. [T]

  • Baca esai-esai politik TEDDY CHRISPRIMANATA PUTRA lainnya DI SINI
Membaca Masa Depan Koster
Gincu Politik: Manis dan Menghanyutkan
Mempertanyakan Diamnya Gibran
Tags: Pemilu 2024PilpresPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perayaan Imlek di Klenteng Ling Gwan Kiong: Kelincahan Barongsai, Sukacita Warga Singaraja

Next Post

Demokrasi, Politik Dinasti Ataukah Dinasti Politik?

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Demokrasi, Politik Dinasti Ataukah Dinasti Politik?

Demokrasi, Politik Dinasti Ataukah Dinasti Politik?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co