3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tergerusnya Demokrasi Indonesia

I Made Pria Dharsana by I Made Pria Dharsana
March 3, 2021
in Opini
Hilangnya Peran Notaris Dalam Pendirian PT UMKM

Dr. I. Made Pria Dharsana. SH. M.Hum

Perjalanan Demokrasi Indonesia dari tahun ke tahun nampaknya menurun sebagaimana  hasil Indek demokrasi, dan ini terjadi di seluruh dunia, salah satu contoh juga terjadi di Amerika dengan  terpilihnya Donal Trumph yang memenangkan pemilihan Presiden dengan  populisme yang sangat kuat. Amerika sebagai sebuah negara demokrasi terbesar di dunia yang seharusnya dapat menguatkan  demokrasi akan tetapi justru Trumph melakukan  apa yang disebut membajak demokrasi. Demokrasi mati ditangan seorang demokrat.

Kultur politik di Indonesia begitu kuat, akan tetapi belakangan ini dikatakan semakin memburuk, yang menyebabkan kemunduran indeks demokrasi Indonesia 2020. sebagaimana disampaikan oleh The Economist Intelligence Unit (EIU) penurunan ini, menjadikan terendah sejak 14 tahun terakhir. Secara global juga terjadi penurunan nilai rata-rata indeks. Dengan skor Indonesia 6,30 di tahun 2020, yang sebelumnya 6,48 ditahun 2019. Dengan skor  rata-rata 6,30 Indonesia tergolong Flawed democracy (demokrasi yang cacat).

Dari lima aspek demokrasi yang diukur EIU, penurunan tajam dialami Indonesia pada indicator budaya politik yang hanya memperoleh 4,38 poin. Skor ini anjlok dari capaian tahun 2019 yakni 5,63. Aspek budaya politik indikator yang dikaji, antara lain, konsesus tentang demokrasi, persepsi atas kepemimpinan di legislative dan eksekutif , dan persepsi kepemimpinan militer. Selain itu ada persepsi lainnya termasuk soal ekonomi dan pemisahan institusi keagamaan dengan pemerintahan.

Sedangkan skor Indonesia stagnan di tiga aspek yakni partisipasi politik (6,11) proses electoral dan pluralisme (7,92), dan kebebasan sipil (5,59). Satu-satunya yang membaik ialah keberfungsian pemerintahan (7,50) naik dari 2019 yang 7,14. (kompas, 3 februari 2021).

Sejak Indonesia Merdeka di tahun 1945, negeri kita terus bergumul untuk mewujudkan kultur politik demokrasi. (Tjuk Atmadi dalam Bung Hatta, 2004). Presiden RI Pertama Ir. Soekarno, mencetuskan gagasan untuk menciptakan keadilan dan kemakmuran rakyat, melalui Demokrasi Terpimpin. Sedangkan Presiden RI Kedua Jenderal Soeharto, ingin mewujudkan keadilan dan kemakmuran rakyat tersebut, dalam suasana pembangunan nasional dengan menerapkan apa yang disebut sebagai Demokrasi Pancasila.

Akan tetapi kita tahu bahwa gagasan , ide cemerlang yang  dilaksanakan kemudian tidak secemerlang hasilnya. Banyak hal yang di tengah jalan atau diujung jalan berbelok ke arah yang tidak diharapkan. Tjuk Atmadi mengatakan inilah celakanya, keindahan kultur politik tersebut selalu saja terjebak kultur kekuasaan yang dinilai koruptif, dalam arti sistem kekuasaan yang selalu saja membusuk pada sendi-sendi tertentu. Tjuk Admadi , melihat bahwa dalam hal ini, sistem kekuasaan siapapun diseluruh dunia ini sudah terperangkap oleh frasa yang diruangkan oleh sejarawan Inggris Lord Acton, yang mengatakan bahwa “power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely”, kekuasaan itu cenderung membusuk, dan kekuasaan absolut akan membusuk total.

Jika demikian yang disampaikan Tjuk Atmadi dalam bukunya Bung Hatta, apakah kultur politik kita semakin buruk sehingga menyebabkan indeks demokrasi kita semakin menurun? Kajian yang mendalam sangat penting untuk terus dilakukan mengingat simpulan sampai sekarang semakin demokrasi sebuah bangsa maka rakyatnya semakin sejahtera. Walaupun teori ini sekarang mendapat tantangan yang kuat mengingat bagaimana negeri China yang menjalankan pemerintahan sosialis, tanpa “demokrasi” ternyata rakyatnya secara ekonomi sejahtera. China telah membalikkan apa arti demokrasi. Sehingga muncul ucapan untuk apa demokrasi jika kemiskinan dan korupsi merajalela?

Demokrasi tidak hanya procedural

Bagaimana membangun sebuah Negara demokrasi , tergantung type Negara demokrasi apa yang dijalankan sebuah bangsa. Ada beberapa type demokrasi  yaitu; Demokrasi secara Konstitutional (constitutional), Demokrasi secara Substantif (Substantive), Demokrasi secara Prosedural (Procedural) dan Demokrasi secara Orientasi Proses (process-oriented).  

1. Demokrasi secara Konstitusional. Dalam demokrasi ini kajian demokrasi dikonsentrasikan pada produk undang-undang yang dihasilkan suatu rezim (pemerintah yang berkuasa) dan berhubungan dengan dinamika proses aktivitas pada politik itu sendiri;

2. Demokrasi secara Substantif. Demokrasi pada tatanan ini difokuskan kepada kondisi kehidupan dan politik yang dikembangkan pada suatu rezim.  Rezim yang dimaksud mengenai kebebasan individual, keamanan, kesetaraan, kesejahteraan sosial, pilihan publik ataupun resolusi konflik secara damai;

3. Demokrasi secara Prosedural.  Demokrasi model ini lebih kepada memperhatikan prosedur-prosedur yang berjalan dan terjadi di pemerintahan yang dilakukan sendiri oleh pemerintah yang kajian berfokus pada aspek pemilihan umum;

4. Demokrasi secara Orientasi. Pada demokrasi ini secara Orientasi Proses sangat berbeda dengan tiga pengertian demokrasi sebelumnya, yang dimaksud disini merupakan pengidentifikasi sejumlah persyaratan minimum agar suatu pemerintahan atau Negara dinyatakan sebagai demokrasi. (CharlesTilly , Kelemahan dan Keterbatasan Demokrasi dalam Seta Basri ,2021)

Nanda Ayu AR menyebutkan Demokrasi Prosedural adalah (aturan, tata cara demokrasi), yaitu demokrasi merupakan sistem yang ditegaskan oleh prosedur-prosedur formal yang memungkinkan budaya demokrasi itu berjalan. Aspek prosedural demokrasi itu mencakup adanya Pemilu yang bebas dan adil, adanya DPR, dan adanya lembaga yudikatif yang independen. Sedangkan demokrasi substantif adalah (nilai hakiki demokrasi), yaitu menekankan demokrasi sebagai suatu nilai-nilai yang sesungguhnya. Beberapa nilai hakiki demokrasi adalah kebebasan, budaya menghormati hak dan kebebasan orang lain, adanya pluralisme budaya, adanya toleransi, anti kekerasan dan lain- lain.

Sejak Era Reformasi nampak demokrasi Indonesia dapat dikatakan telah memenuhi ketentuan demokrasi prosedural, dengan adanya PEMILU, adanya peralihan kekuasaan setiap 5 tahun sekali secara langsung, bebas dan rahasia, telah memiliki beberapa Presiden yang terpilih melalui Pilpres yang transparan yang dipercaya oleh rakyat, walaupun di dalam perjalanannya adanya gugatan hasil Pilpres ke Mahkamah Konstitusi, ini sangat bagus, karena sengketa pemilu ataupun Pilpres diselesaikan di ruang siding pengadilan, bukan diselesaikan lewat sadang jalanan. Dapat dikatakan Pilpres berjalan aman. Namun apakah demokrasi yang dijalankan tersebut sudah memenuhi  ketentuan demokrasi substansial, tidak cukup hanya pemenuhan syarat sebuah demokrasi procedural saja.

Dalam menjalan Demokrasi di sebuah negara sebesar Indonesia tidaklah dapat hanya menjalankan demokrasi prosedural ,dengan diadakannya Pemilu, Pilkada, Pilpres secara periodik yang hanya menghasilkan legislatif dan eksekutif yang kering tanpa arah yang jelas.   Demokrasi harus mengatasi proseduralnya yang sekarang, meskipun proseduralnya sendiri tidak dapat dihilangkan tetapi demokrasi substansial mutlak diperlukan. (Munawar Noor, 2018). Sependapat seperti apa yang dikatakan Charles Tilly, titik lemah dalam proses Pemilu ini krusial, oleh sebab lewat prosedur tersebut perubahan kebijakan dan personil pemerintahan akan terjadi, nah jika proses dan prosedur pelaksanaan Pemilu tidak mengandung nuansa kompetitif, maka cara prosedural ini suatu Negara tidaklah demokratis.

Jika mencontohkan beberapa pemilihan yang kompetitif yang dilaksanakan tanpa adanya tekanan dan upaya yang dapat dikatakan  demokrati prosedural seperti  dalam Pilkada DKI 2017 dan Pilpres 2019 terjadi pelaksanaan pilkada dan pemilihan Presiden yang yang dalam pelaksanaannya mengalami pembelahan pemilih. Hal ini terjadi apakah  disebabkan menguatnya politik identitas. Tidak dipahami adanya ruang terbuka kebebasan dalam menentukan pilihan dan menghargai setiap pilihan yang merupakan hak yang dilindungi oleh Undang-Undang.

Keterbelahan masyarakat pemilih yang disebabkan menguatnya polarisasi ditingkat elite kemudian lebih keras terjadi di masyarakat. adanya faksi faksi dan masih terus adanya saling hujatan di media social yang kita rasakan sampai saat ini, tentu tidak dapat dibiarkan karena akan berakibat buruk bagi Negara kita. Membangun kohesi keterhubungan yang sesungguhnya sebagai bangsa yang beradab memang tidak mudah, akan tetapi para elite politik di pusat, di daerah dan diakar rumput mesti terus menerus membangun pemahaman bahwa perbedaan pilihan adalah sehat dan berbeda tidak menjadikan permusuhan.

Kultur Demokrasi memberi ruang yang sama bagi perbedaan dan menghargai atas pilihan .Akan tetapi pemahaman tentang demokrasi belum sepenuhnya dimaknai sebagai hal yang biasa, kritik pada kekuasaan dianggap sebagai lawan yang mesti dibungkam, jika hal itu terjadi maka ini menjadi pertanda tidak sehatnya demokrasi kita. Inilah akan menjadi sebab menguatnya otoritarian.

Penurunan tingkat Demokrasi di dunia, begitu juga di Indonesia karena disebabkan banyak faktor. Apakah ini dapat disebabkan oleh menguat nya populisme di tengah masa pandemi, adanya kekuatan dinasti politik yang sedang berkuasa, adanya kekuatan ekonomi atau rente ekonomi yang berkolusi dengan penguasa. Apalagi biaya politik sangat tinggi sehingga diperlukan biaya yang tidak saja dipikul oleh partai politik , juga dapat dijadikan bagian negosiasi membiayai beban politik oleh politisi.  Terjadi simbiose mutualisme yang mencengkeram produk politik bagi kepentingan pelaku ekonomi tertentu.

Politik biaya tinggi tidak terlepas adanya  3 tipe pemilih di dalam masyarakat berdasarkan pilihan : pemilih berdasarkan kecerdasan. jadi memilih dengan nalar, rasionalitas. pemilih dengan hati, jadi memilih dengan rasa, apapun warnanya akan tetep memilih secara idiologi. memilih dengan  perut, yaitu pemilih yang menggunakan pertimbangan logistik. Jika dibayar maka akan memilih tanpa dasar pertimbangan rasionalitas, tanpa pertimbangan idiologi.

Jika diartikan sebagian besar hasil pilihan oleh kelompok masyarakat yang memilih karena ada barter logistic, maka seperti apakah hasil pilihannya tersebut, baik legislative maupun eksekutif? Jelas kwalitas tidak sepenuhnya dapat dihasilkan, jelas juga kemudian banyak anggota legislatif dan  eksekutif yang ditangkap KPK.

Salah satu sebab dari 5 faktor yang menyebabkan menurunnya Indek demokrasi.. Hal ini tidak saja di Indonesia tapi juga di dunia. Oleh karenanya patut semua stakeholder, akademisi untuk memberikan pembelajaran agar nilai2 pemilih makin meningkat, melalui penguatan partisipasi pemilih secara efektif, menyambapikan bahwa pemilih dan sebagai warga Negara mempunyai hak yang sama, melakukan upaya control atas semua kebijakan pemerintah apalagi yang menyangkut kehidupan masyarakat baik, politik, ekonomi serta budaya. Melakukan dekontruksi UU pemilu dan pemilihan Presiden agar dapat  dihasilkan anggota dewan, gubernur, bupati/walikota dan Presiden yang punya integritas, kapabelitas dan moralitas  yang mumpuni. Apalagi akan dilangsungkannya Pemilu serentak di tahun 2024.

Faktor lain dari penurunan demokrasi Indonesia disebabkan  adanya  dinasti politik, yang dapat menyebabkan penurunan indek demokrasi, walaupun di banyak Negara dinasti politik masih ada dan tumbuh subur. Tidak salah memang, akan tetapi harus perlahan dikurangi. Memang dimana mana terjadi.. apalagi dengan berkolusi dengan para pengusaha.. maka pemilih dengan perut akan semakin dijadikan peluang kolusi yang kemudian terjadi banyaknya korupsi. yang menyebabkan rusaknya  demokrasi yang telah dihasilkan melalui Pemilu yang dikeluarkan dengan biaya yang tidak kecil.

Oleh karena itu harus dilakukan modernisasi dan peningkatan peran-peran masyarakat, akademisi untuk  peduli memperbaharui perangkat demokrasi Indonesia , agar jangan hanya menghasilkan DEMOKRASI FORMALISTIK yang justru menggerus Demokrasi konstitusional, Substansial, dan kehilangan orientasi   untuk mencapai masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil dan makmur. Semoga hal ini dapat terwujud sebagai cita-cita mulia. Bukan hanya utopia. [T]

Bali, Februari 2021

Tags: demokrasiPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

12 Makna | 12 Bulan Covid-19

Next Post

Orang Bali Bukan Penganut Jam Karet, Tapi Plastik Kepanasan

I Made Pria Dharsana

I Made Pria Dharsana

Praktisi, akademisi dan penggiat Prabu Capung Mas

Related Posts

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

Read moreDetails

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails
Next Post
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Orang Bali Bukan Penganut Jam Karet, Tapi Plastik Kepanasan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co