14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orang Bali Bukan Penganut Jam Karet, Tapi Plastik Kepanasan

Agus Wiratama by Agus Wiratama
March 4, 2021
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Siapa sebenarnya yang memberi label pada orang lain; sebagai kaum pemalas, kaum “Yes Man”, atau kaum penganut jam karet, misalnya? Saya sepakat dengan ungkapan “Orang Bali jamnya karet,” tapi dulu. Apabila sekarang masih ada yang menujukan kesimpulan itu pada semua orang, saya akan menyarankannya untuk sekali-sekali main-mainlah ke kampung-kampung, dan sekali saja—diucapkan dengan volume kecil namun nada tinggi—untuk mengikuti persiapan upacara adat. 

Jam karet memang berlaku, tapi jangan mengikat semua orang, seluruh sikap, dan setiap hal dalam karet-karetan itu. Masalahnya begini lo, wan-kawan; pada suatu hari hidup seorang putri cantik yang menunggu pangeran ayah saya meminta bantuan pada saudara dan tetangga untuk mempersiapkan sesajen upacara. Karena persiapannya cukup banyak—seperti biasa—jadi kegiatan akan dimulai pagi-pagi buta; pukul empat pagi.

Saya curiga pada diri saya sendiri, sebab bangun jam 4 pagi adalah ilusi bagi saya. Nah, karena itu, saya memutuskan untuk tidak tidur. Itung-itung sambil menjaga sesajen agar tidak diporak-porandakan kucing atau anjing. Hingga jam 3 pagi, saya belum juga tidur, sementara saudara seumuran yang mestinya berjaga sudah lelap.

Tiba-tiba, anjing saya menggonggong, karena khawatir ia mendapati kucing yang akan mencuri makanan dari banten, saya mendekati anjing itu; dan rupanya tak lain dan tak bukan, yang digonggong itu adalah saudara saya yang sudah lengkap dengan pakaian adat: udeng, kamen, dan perkakas.

Segera saya bangunkan saudara yang masih lelap.  Mereka langsung meloncat dan pergi ke kamar mandi dan bergegas menggunakan pakaian serupa. Sementara paman, bibi, dan orang tua saya rupanya sudah siap pula. Tidak lama berselang, tetangga dan saudara-saudara yang dimintai bantuan mulai meramaikan rumah. Saya lihat jam, dan jarum jam saya menunjukkan jam empat kurang. Sementara itu, saya berkesimpulan: jam tangan saya rupanya lebih karet dari pada jam-jam saudara saya.

Tak ada jam karet untuk urusan adat. Saya pernah mengalami karet-karetan ini dan rasanya memang memalukan. Ketika itu, saya hendak datang ke rumah tetangga yang sedang melakukan persiapan upacara, saya memakai kaca mata jam karet. Kegiatan itu semestinya dimulai pada pukul 05.00 Wita, saya berpikir menunda tidur beberapa menit, “Palingan ngaret,” pikir saya, dan sialnya, saya terlambat: mata saya masih merah, bekas bantal masih melintang di pipi, dan rambut saya rapikan hanya dengan jari. Sesampai di tempat tetangga, saya merasa bingung harus mengerjakan apa ketika orang-orang sudah mengambil pekerjaannya masing-masing.

Jika kita datang terlambat ke rumah saudara atau tetangga untuk membantu persiapan, memang tidak akan ada yang menegur, tetapi rasanya itu seperti ketinggalan bus untuk tamasya: kebayang ‘kan?

Kita harus bergegas memilih tugas yang bisa diambil sebelum ibu-ibu membawakan sumping atau teh dan kopi. Bila itu terjadi, sama saja kita menerima gaji buta dan menambah rasa tak enak. “Masak saudara dan tetangga kerja dulu baru dapat minuman dan jajan, sementara kita yang posisinya sama, datang-datang langsung nyeruput kopi, misalnya?” Dalam situasi seperti ini, kita akan beruntung bila ada kegiatan yang membutuhkan orang banyak, biasanya manggang sate. Tapi, celakalah kita bila itu sudah selesai.

Nah, ini tips ampuh bagi kawan-kawan yang mengamini dirinya sebagai penganut jam karet, kalau kawan-kawan terlambat, langsung saja jongkok di pinggir api, mainkan saja batok kelapa yang dibakar. Itu pun biasanya hanya diisi anak-anak muda, saya sih tak masalah, tapi untuk orang tua, hal itu akan terkesan aneh, sementara kalau bengong-bengong tanpa mengerjakan sesuatu, sedikit tidak berarti pemalas atau lugu, dan kedua itu berarti sama: memalukan.

Dalam hal ini, waktu memang sangat ketat. Tidak ada waktu karet, tapi justru waktu plastik kepanasan; alias mengetat. Saya ingin mengusulkan satu hal kongkret yang bisa mengubah Dunia anggapan awal itu: de-pang baanga anake ngadanin! Mungkin dalam beberapa hal, kita memang penganut waktu karet, tapi jangan dikaburkan, seolah-olah dalam segala hal, semua orang, berpegangan pada konsep itu.

Saya khawatir; jangan-jangan orang Bali belum bisa menerjemahkan dirinya sendiri, sehingga orang lainlah yang lebih banyak menerjemahkan kebiasaan, sikap, dan kebudayaan kita. Di satu sisi orang bali sangat terbuka, tapi kiranya kita perlu berada di antara: menerima hal yang berasal dari luar dan membaca diri secara teliti dari dalam.  Dalam banyak hal, kita sering disodorkan konsep-konsep asing yang menyenangkan; Bali dengan penduduknya yang ramah-ramah, Bali sebagai pulau surga, Bali memiliki budaya adiluhung, Bali memiliki adat yang kuat, Bali itu terbuka alias open-minded, yang semua itu terangkum menjadi: Bali itu indah.

Tapi pertanyaannya, siapa yang menamai Bali demikian? Benarkah seperti itu? Kita tidak perlu betul-betul menutup diri sebab, dari luar kita akan mendapat referensi untuk membaca diri; seperti menatap diri lewat cermin, tapi cermin hanya memberi bayangan, bukan diri kita yang sesungguhnya. Di sisi lain, kita perlu meraba, melihat, mencium, dan mendengar diri sendiri untuk kemudian melabelinya.[T]

Tags: balijam karetorang bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tergerusnya Demokrasi Indonesia

Next Post

Mom Called Killer Melompat dengan “The Crow and The Serpent Crown”

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Mom Called Killer Melompat dengan “The Crow and The Serpent Crown”

Mom Called Killer Melompat dengan “The Crow and The Serpent Crown”

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co