12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orang Bali Bukan Penganut Jam Karet, Tapi Plastik Kepanasan

Agus Wiratama by Agus Wiratama
March 4, 2021
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Siapa sebenarnya yang memberi label pada orang lain; sebagai kaum pemalas, kaum “Yes Man”, atau kaum penganut jam karet, misalnya? Saya sepakat dengan ungkapan “Orang Bali jamnya karet,” tapi dulu. Apabila sekarang masih ada yang menujukan kesimpulan itu pada semua orang, saya akan menyarankannya untuk sekali-sekali main-mainlah ke kampung-kampung, dan sekali saja—diucapkan dengan volume kecil namun nada tinggi—untuk mengikuti persiapan upacara adat. 

Jam karet memang berlaku, tapi jangan mengikat semua orang, seluruh sikap, dan setiap hal dalam karet-karetan itu. Masalahnya begini lo, wan-kawan; pada suatu hari hidup seorang putri cantik yang menunggu pangeran ayah saya meminta bantuan pada saudara dan tetangga untuk mempersiapkan sesajen upacara. Karena persiapannya cukup banyak—seperti biasa—jadi kegiatan akan dimulai pagi-pagi buta; pukul empat pagi.

Saya curiga pada diri saya sendiri, sebab bangun jam 4 pagi adalah ilusi bagi saya. Nah, karena itu, saya memutuskan untuk tidak tidur. Itung-itung sambil menjaga sesajen agar tidak diporak-porandakan kucing atau anjing. Hingga jam 3 pagi, saya belum juga tidur, sementara saudara seumuran yang mestinya berjaga sudah lelap.

Tiba-tiba, anjing saya menggonggong, karena khawatir ia mendapati kucing yang akan mencuri makanan dari banten, saya mendekati anjing itu; dan rupanya tak lain dan tak bukan, yang digonggong itu adalah saudara saya yang sudah lengkap dengan pakaian adat: udeng, kamen, dan perkakas.

Segera saya bangunkan saudara yang masih lelap.  Mereka langsung meloncat dan pergi ke kamar mandi dan bergegas menggunakan pakaian serupa. Sementara paman, bibi, dan orang tua saya rupanya sudah siap pula. Tidak lama berselang, tetangga dan saudara-saudara yang dimintai bantuan mulai meramaikan rumah. Saya lihat jam, dan jarum jam saya menunjukkan jam empat kurang. Sementara itu, saya berkesimpulan: jam tangan saya rupanya lebih karet dari pada jam-jam saudara saya.

Tak ada jam karet untuk urusan adat. Saya pernah mengalami karet-karetan ini dan rasanya memang memalukan. Ketika itu, saya hendak datang ke rumah tetangga yang sedang melakukan persiapan upacara, saya memakai kaca mata jam karet. Kegiatan itu semestinya dimulai pada pukul 05.00 Wita, saya berpikir menunda tidur beberapa menit, “Palingan ngaret,” pikir saya, dan sialnya, saya terlambat: mata saya masih merah, bekas bantal masih melintang di pipi, dan rambut saya rapikan hanya dengan jari. Sesampai di tempat tetangga, saya merasa bingung harus mengerjakan apa ketika orang-orang sudah mengambil pekerjaannya masing-masing.

Jika kita datang terlambat ke rumah saudara atau tetangga untuk membantu persiapan, memang tidak akan ada yang menegur, tetapi rasanya itu seperti ketinggalan bus untuk tamasya: kebayang ‘kan?

Kita harus bergegas memilih tugas yang bisa diambil sebelum ibu-ibu membawakan sumping atau teh dan kopi. Bila itu terjadi, sama saja kita menerima gaji buta dan menambah rasa tak enak. “Masak saudara dan tetangga kerja dulu baru dapat minuman dan jajan, sementara kita yang posisinya sama, datang-datang langsung nyeruput kopi, misalnya?” Dalam situasi seperti ini, kita akan beruntung bila ada kegiatan yang membutuhkan orang banyak, biasanya manggang sate. Tapi, celakalah kita bila itu sudah selesai.

Nah, ini tips ampuh bagi kawan-kawan yang mengamini dirinya sebagai penganut jam karet, kalau kawan-kawan terlambat, langsung saja jongkok di pinggir api, mainkan saja batok kelapa yang dibakar. Itu pun biasanya hanya diisi anak-anak muda, saya sih tak masalah, tapi untuk orang tua, hal itu akan terkesan aneh, sementara kalau bengong-bengong tanpa mengerjakan sesuatu, sedikit tidak berarti pemalas atau lugu, dan kedua itu berarti sama: memalukan.

Dalam hal ini, waktu memang sangat ketat. Tidak ada waktu karet, tapi justru waktu plastik kepanasan; alias mengetat. Saya ingin mengusulkan satu hal kongkret yang bisa mengubah Dunia anggapan awal itu: de-pang baanga anake ngadanin! Mungkin dalam beberapa hal, kita memang penganut waktu karet, tapi jangan dikaburkan, seolah-olah dalam segala hal, semua orang, berpegangan pada konsep itu.

Saya khawatir; jangan-jangan orang Bali belum bisa menerjemahkan dirinya sendiri, sehingga orang lainlah yang lebih banyak menerjemahkan kebiasaan, sikap, dan kebudayaan kita. Di satu sisi orang bali sangat terbuka, tapi kiranya kita perlu berada di antara: menerima hal yang berasal dari luar dan membaca diri secara teliti dari dalam.  Dalam banyak hal, kita sering disodorkan konsep-konsep asing yang menyenangkan; Bali dengan penduduknya yang ramah-ramah, Bali sebagai pulau surga, Bali memiliki budaya adiluhung, Bali memiliki adat yang kuat, Bali itu terbuka alias open-minded, yang semua itu terangkum menjadi: Bali itu indah.

Tapi pertanyaannya, siapa yang menamai Bali demikian? Benarkah seperti itu? Kita tidak perlu betul-betul menutup diri sebab, dari luar kita akan mendapat referensi untuk membaca diri; seperti menatap diri lewat cermin, tapi cermin hanya memberi bayangan, bukan diri kita yang sesungguhnya. Di sisi lain, kita perlu meraba, melihat, mencium, dan mendengar diri sendiri untuk kemudian melabelinya.[T]

Tags: balijam karetorang bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tergerusnya Demokrasi Indonesia

Next Post

Mom Called Killer Melompat dengan “The Crow and The Serpent Crown”

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Mom Called Killer Melompat dengan “The Crow and The Serpent Crown”

Mom Called Killer Melompat dengan “The Crow and The Serpent Crown”

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co