25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orang Bali Bukan Penganut Jam Karet, Tapi Plastik Kepanasan

Agus Wiratama by Agus Wiratama
March 4, 2021
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Siapa sebenarnya yang memberi label pada orang lain; sebagai kaum pemalas, kaum “Yes Man”, atau kaum penganut jam karet, misalnya? Saya sepakat dengan ungkapan “Orang Bali jamnya karet,” tapi dulu. Apabila sekarang masih ada yang menujukan kesimpulan itu pada semua orang, saya akan menyarankannya untuk sekali-sekali main-mainlah ke kampung-kampung, dan sekali saja—diucapkan dengan volume kecil namun nada tinggi—untuk mengikuti persiapan upacara adat. 

Jam karet memang berlaku, tapi jangan mengikat semua orang, seluruh sikap, dan setiap hal dalam karet-karetan itu. Masalahnya begini lo, wan-kawan; pada suatu hari hidup seorang putri cantik yang menunggu pangeran ayah saya meminta bantuan pada saudara dan tetangga untuk mempersiapkan sesajen upacara. Karena persiapannya cukup banyak—seperti biasa—jadi kegiatan akan dimulai pagi-pagi buta; pukul empat pagi.

Saya curiga pada diri saya sendiri, sebab bangun jam 4 pagi adalah ilusi bagi saya. Nah, karena itu, saya memutuskan untuk tidak tidur. Itung-itung sambil menjaga sesajen agar tidak diporak-porandakan kucing atau anjing. Hingga jam 3 pagi, saya belum juga tidur, sementara saudara seumuran yang mestinya berjaga sudah lelap.

Tiba-tiba, anjing saya menggonggong, karena khawatir ia mendapati kucing yang akan mencuri makanan dari banten, saya mendekati anjing itu; dan rupanya tak lain dan tak bukan, yang digonggong itu adalah saudara saya yang sudah lengkap dengan pakaian adat: udeng, kamen, dan perkakas.

Segera saya bangunkan saudara yang masih lelap.  Mereka langsung meloncat dan pergi ke kamar mandi dan bergegas menggunakan pakaian serupa. Sementara paman, bibi, dan orang tua saya rupanya sudah siap pula. Tidak lama berselang, tetangga dan saudara-saudara yang dimintai bantuan mulai meramaikan rumah. Saya lihat jam, dan jarum jam saya menunjukkan jam empat kurang. Sementara itu, saya berkesimpulan: jam tangan saya rupanya lebih karet dari pada jam-jam saudara saya.

Tak ada jam karet untuk urusan adat. Saya pernah mengalami karet-karetan ini dan rasanya memang memalukan. Ketika itu, saya hendak datang ke rumah tetangga yang sedang melakukan persiapan upacara, saya memakai kaca mata jam karet. Kegiatan itu semestinya dimulai pada pukul 05.00 Wita, saya berpikir menunda tidur beberapa menit, “Palingan ngaret,” pikir saya, dan sialnya, saya terlambat: mata saya masih merah, bekas bantal masih melintang di pipi, dan rambut saya rapikan hanya dengan jari. Sesampai di tempat tetangga, saya merasa bingung harus mengerjakan apa ketika orang-orang sudah mengambil pekerjaannya masing-masing.

Jika kita datang terlambat ke rumah saudara atau tetangga untuk membantu persiapan, memang tidak akan ada yang menegur, tetapi rasanya itu seperti ketinggalan bus untuk tamasya: kebayang ‘kan?

Kita harus bergegas memilih tugas yang bisa diambil sebelum ibu-ibu membawakan sumping atau teh dan kopi. Bila itu terjadi, sama saja kita menerima gaji buta dan menambah rasa tak enak. “Masak saudara dan tetangga kerja dulu baru dapat minuman dan jajan, sementara kita yang posisinya sama, datang-datang langsung nyeruput kopi, misalnya?” Dalam situasi seperti ini, kita akan beruntung bila ada kegiatan yang membutuhkan orang banyak, biasanya manggang sate. Tapi, celakalah kita bila itu sudah selesai.

Nah, ini tips ampuh bagi kawan-kawan yang mengamini dirinya sebagai penganut jam karet, kalau kawan-kawan terlambat, langsung saja jongkok di pinggir api, mainkan saja batok kelapa yang dibakar. Itu pun biasanya hanya diisi anak-anak muda, saya sih tak masalah, tapi untuk orang tua, hal itu akan terkesan aneh, sementara kalau bengong-bengong tanpa mengerjakan sesuatu, sedikit tidak berarti pemalas atau lugu, dan kedua itu berarti sama: memalukan.

Dalam hal ini, waktu memang sangat ketat. Tidak ada waktu karet, tapi justru waktu plastik kepanasan; alias mengetat. Saya ingin mengusulkan satu hal kongkret yang bisa mengubah Dunia anggapan awal itu: de-pang baanga anake ngadanin! Mungkin dalam beberapa hal, kita memang penganut waktu karet, tapi jangan dikaburkan, seolah-olah dalam segala hal, semua orang, berpegangan pada konsep itu.

Saya khawatir; jangan-jangan orang Bali belum bisa menerjemahkan dirinya sendiri, sehingga orang lainlah yang lebih banyak menerjemahkan kebiasaan, sikap, dan kebudayaan kita. Di satu sisi orang bali sangat terbuka, tapi kiranya kita perlu berada di antara: menerima hal yang berasal dari luar dan membaca diri secara teliti dari dalam.  Dalam banyak hal, kita sering disodorkan konsep-konsep asing yang menyenangkan; Bali dengan penduduknya yang ramah-ramah, Bali sebagai pulau surga, Bali memiliki budaya adiluhung, Bali memiliki adat yang kuat, Bali itu terbuka alias open-minded, yang semua itu terangkum menjadi: Bali itu indah.

Tapi pertanyaannya, siapa yang menamai Bali demikian? Benarkah seperti itu? Kita tidak perlu betul-betul menutup diri sebab, dari luar kita akan mendapat referensi untuk membaca diri; seperti menatap diri lewat cermin, tapi cermin hanya memberi bayangan, bukan diri kita yang sesungguhnya. Di sisi lain, kita perlu meraba, melihat, mencium, dan mendengar diri sendiri untuk kemudian melabelinya.[T]

Tags: balijam karetorang bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tergerusnya Demokrasi Indonesia

Next Post

Mom Called Killer Melompat dengan “The Crow and The Serpent Crown”

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Mom Called Killer Melompat dengan “The Crow and The Serpent Crown”

Mom Called Killer Melompat dengan “The Crow and The Serpent Crown”

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co