2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

12 Makna | 12 Bulan Covid-19

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
March 3, 2021
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Dua Maret 2020, diidentifikasi 2 orang WNI terkonfirmasi virus SARS-Cov-2, penyebab Covid-19, secara istimewa saat itu diumumkan langsung oleh presiden Jokowi dari istana negara. Sejak itu, hingga kini, pandemi Covid-19 memang istimewa, membingungkan, menyusahkan dan mengerikan. Namun demikian, dalam 12 bulan ini, ia setidaknya telah berbagi 12 makna untuk kita.

1. Kita tak pernah siap menghadapai wabah 

Kapankah kita akan siap menghadapi pandemi? Entahlah… Menyiapkan diri menghadapi wabah seakan sesulit menyiapkan diri menerima kematian. Semua bangsa, semua negara pun demikian. Sudah menjadi tradisi, kita lebih bersuka menyiapkan kelahiran, perayaan atau kemenangan. Kita enggan dan hati selalu suram saat menyiapkan diri menghadapi kekalahan, kematian atau wabah. Sudah saatnya, berikan fokus yang sama baik pada pembangunan menuju kejayaan maupun pada kemungkinan bencana atau wabah yang siap menghanguskan.

2. Yang kecil yang unggul

SARS-Cov-2 adalah generasi terkini virus grup Corona. Strain sebelumnya yang sempat mendera kita adalah wabah SARS dan MERS. Virus diyakini tak pernah mati. Mungkin lantaran ia terlalu kecil dan sederhana. Mereka adalah penguasa dalam kegelapan, karena kita tak pernah melihatnya. Bahkan dinosaurus yang pernah menguasai bumi sekitar 250 juta tahun lalu kini tinggal sejarah. Dinosaurus yang besar mudah hancur oleh musuh maupun bencana alam. Maka, virus mengajari kita untuk selalu menghargai mereka yang kecil dan terpinggirkan.

3. Sebuah insting pelestarian

Kita begitu berambisi hendak melenyapka virus “jahat” dari kehidupan kita di muka bumi ini. Seakan-akan kitalah, manusia yang paling benar dan penting di dunia ini. Kita lupa, virus juga punya hak-hak hidup yang sama sebagai penghuni bumi. Jangankan mereka menginvasi tubuh kita, hidup berdampingan saja kita sering tak sudi dengan mereka. Lalu dengan semena-mena kita babat habitat segala fauna dan mungkin saja jasad renik yang tak kita lihat. Kita memang lebih ngeri dengan hantu dan jin penghuni hutan yang kita telah berangus “tempat tinggal” mereka. Lalu dengan mudah kita menyuap dengan sesajen untuk berdamai. Sayang sekali, macan tutul atau virus tak bisa disogok. Mereka lebih suka mengambil nyawa kita, pun untuk melestarikan spesies mereka.

4. Wabah tak sekedar aksi jasad renik

Wabah telah menyempitkan pandangan mata kita hanya pada spesies sangat kecil bernama virus. Kita terlambat menyadari pandangan lebar yang bijak dan penuh warna kehidupan di alam yang indah ini. Kalau saja kita berhenti pada kerendahan hati menjaga alam yang indah ini lestari, mungkin saja kita tak bersua dengan virus Covid-19 di medan pertempuran yang penuh aroma kematian ini. Siksa berulang-ulang yang telah kita lakukan pada alam ini, telah membuat mereka banyak belajar dan bertahan dalam strategi yang disebut mutasi.

5. Tes rapid dan carut marut persepsi masyarakat

Pemeriksaan standar diagnosis RT-PCR yang tidak dapat serta merta terdistribusi sampai pelosok, memaksa kita menggunakan cara-cara lain yang lebih sumir. Dengan sendirinya telah menimbulkan berbagai perdebatan. Keadaan yang sepenuhnya tak kita harapkan, namun tak bisa juga kita elakkan. Kelelahan nakes dan rasa frustasi masyarakat adalah keadaan ideal terciptanya berbagai konflik, bahkan sampai ke meja hijau. Dalam situasi sulit dan belum menentu ini, masyarakat seharusnya memberi kepercayaan kepada nakes dan sebaliknya nakes menyediakan waktu yang cukup untuk memberi edukasi yang sejelas-jelasnya kepada pasien dan keluarganya terkait interpretasi hasil tes Covid-19.

6. Ruang isolasi, pengap namun penuh romantika

Nuansa kelam telah melekat erat mengelilingi ruang isolasi. Baik untuk pasien maupun untuk nakes yang akan bekerja di sana. Bagi pasien, ruang isolasi seakan ruang pembuangan dengan penantian panjang tiada kepastian. Bagi nakes, di sanalah gulag yang kapan saja virus maut ini akan dapat menggerogotinya. Pakaian APD level 3 yang membekap dan ruang isolasi yang pengap, adalah kombinasi yang sedemikian melelahkan. Padahal, dengan skema pakaian seperti itu, risiko tertular hampir 0%. Dan bagi pasien, keberadaannya di sana sudah pasti dapat melindungi keluarganya dari mara bahaya. Pada sisi romantika kisah di atas adalah, ada kebanggan tersendiri yang tak bisa dinilai dengan apapun saat nakes menggunakan pakaian kebesaran APD level 3 lalu dengan heroik melaju ke ruang isolasi, sebuah pengabdian untuk kemanusiaan.

7. Kembali ke rumah

Stay at home, adalah salah satu protokol penting melawan pandemi Covid-19. Saya selalu mengutip sabda Sang Budha yang begitu memukau, “Jika kau ingin memperbaiki dunia, pulanglah ke rumah dan temui keluargamu.” Bagaimana mungkin, SARS-Cov-2 telah mengirimkan pesan yang sama untuk kita semua agar pulang ke rumah? Keadaan ini telah mengurangi polusi kendaraan yang selama ini telah mencabik-cabik atmosfer bumi dan nun jauh di sana dari atmosfer, terkumpul di dalam rumah, kita diberikan kesempatan untuk lebih sering memadu kasih dengan belahan jiwa dan buah hati kita.

8. Perang melawan stigma

Stigmatisme adalah penyakit kronis lain yang memang sulit disembuhkan. Ia mulai populer ketika ditemukannya kasus Aids di negeri ini. Budaya buruk ini bukan hanya akan menyudutkan seorang pasien pada rasa malu dan hina yang tak terperikan namun juga dapat menghilangkan kesempatan mereka untuk berobat. Dari pada mendapat cemooh dan hinaan, lebih baik penyakit itu mereka diamkan lalu membunuhnya. Betapa kejamnya stigmatisme. Oleh karenanya, kita wajib terus memerangi budaya tak berkeprimanusiaan ini.

9. Nakes, maut dan pengabdian

Selamanya dada kita teriris perih saat membahas, berapa banyak nakes yang telah gugur dalam pengabdiannya “memberikan nafasnya untuk yang lain.” Mereka tak pernah menuntut tanda jasa, layaknya prajurit yang harus berangkat menuju medan pertempuran membela negeri. Cukup hargai mereka yang telah meninggalkan keluarga untuk merawat pasien Covid-19, jangan ada lagi tuduhan dan kesangsian yang teramat menyakitkan.

10. Cahaya lilin dalam keremangan

Pandemi boleh saja telah berlarut-larut, namun ia tak dapat menahan manusia dalam rasa frustasi terlalu lama. Beraneka kreatifitas dan solidaritas telah tercipta. Berbagai masker modifikasi, tak sedikit usaha kuliner antar jemput, sejumlah hobi menarik dan berpadu untuk membantu yang membutuhkan telah memberi warna indah diberbagai sudut pandemi yang kelam ini. Darwin sejak dulu telah meyakini, bukanlah yang kuat akan bertahan hidup, melainkan yang pintar beradaptasi.

11. Kecemerlangan sains

Baru kali ini dalam sejarah, vaksin mampu diciptakan hanya dalam setahun. Covid-19 telah memacu kecemerlangan segenap ilmuwan dalam bidang sains medis  untuk memberi yang terbaik bagi umat manusia. Mungkin sudah menjadi sebuah dalil, dalam keterdesakan manusia harus berjuang lebih keras untuk bisa bertahan. Kini vaksin telah memasuki tahap 2 yang diberikan untuk masyarakat umum setelah tahap 1 tuntas untuk nakes. Kita harus dengan senang hati mengikuti program ini agar lebih cepat tercapai kekebalan kelompok (herd immunity) sebagai syarat wabah dapat dihentikan.

12. Kapan berakhir?

Secara teoritis, wabah akan berhenti dan akan hanya tersisa sebagai kasus endemis jika sudah terwujud setidaknya 70% populasi kebal. Kebal bisa melalui mekanisme alami akibat tertular virus Covid-19 maupun kebal buatan dengan vaksinasi. Jika misalnya sesuai target bulan September 70% masyarakat Indonesia mendapat vaksinasi dan kebal, maka saat itu wabah seharusnya telah berakhir.

Dua Maret 2021, sejak vaksinasi digalakkan di seluruh dunia, data global dalam enam pekan berturut-turut telah memberikan harapan yang sangat besar. Jumlah kasus baru dan angka kematian menurun drastis. Situasi ini merupakan penurunan yang paling besar dalam setahun pandemi ini. Kita dapat kembali lagi pada kehidupan normal seperti dulu yang selalu kita rindukan, mungkin sebuah khayalan, namun vaksinasi bisa jadi akan memberikan sebuah kenyataan. [T]

KOLOM DOKTER SELENGKAPNYA…

Tags: dokterkesehatanpandemi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dua Kota Dua Ingatan | Memaknai Oposisi Biner pada Puisi “Orang-orang Gila”

Next Post

Tergerusnya Demokrasi Indonesia

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Hilangnya Peran Notaris Dalam Pendirian PT UMKM

Tergerusnya Demokrasi Indonesia

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co