25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

12 Makna | 12 Bulan Covid-19

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
March 3, 2021
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Dua Maret 2020, diidentifikasi 2 orang WNI terkonfirmasi virus SARS-Cov-2, penyebab Covid-19, secara istimewa saat itu diumumkan langsung oleh presiden Jokowi dari istana negara. Sejak itu, hingga kini, pandemi Covid-19 memang istimewa, membingungkan, menyusahkan dan mengerikan. Namun demikian, dalam 12 bulan ini, ia setidaknya telah berbagi 12 makna untuk kita.

1. Kita tak pernah siap menghadapai wabah 

Kapankah kita akan siap menghadapi pandemi? Entahlah… Menyiapkan diri menghadapi wabah seakan sesulit menyiapkan diri menerima kematian. Semua bangsa, semua negara pun demikian. Sudah menjadi tradisi, kita lebih bersuka menyiapkan kelahiran, perayaan atau kemenangan. Kita enggan dan hati selalu suram saat menyiapkan diri menghadapi kekalahan, kematian atau wabah. Sudah saatnya, berikan fokus yang sama baik pada pembangunan menuju kejayaan maupun pada kemungkinan bencana atau wabah yang siap menghanguskan.

2. Yang kecil yang unggul

SARS-Cov-2 adalah generasi terkini virus grup Corona. Strain sebelumnya yang sempat mendera kita adalah wabah SARS dan MERS. Virus diyakini tak pernah mati. Mungkin lantaran ia terlalu kecil dan sederhana. Mereka adalah penguasa dalam kegelapan, karena kita tak pernah melihatnya. Bahkan dinosaurus yang pernah menguasai bumi sekitar 250 juta tahun lalu kini tinggal sejarah. Dinosaurus yang besar mudah hancur oleh musuh maupun bencana alam. Maka, virus mengajari kita untuk selalu menghargai mereka yang kecil dan terpinggirkan.

3. Sebuah insting pelestarian

Kita begitu berambisi hendak melenyapka virus “jahat” dari kehidupan kita di muka bumi ini. Seakan-akan kitalah, manusia yang paling benar dan penting di dunia ini. Kita lupa, virus juga punya hak-hak hidup yang sama sebagai penghuni bumi. Jangankan mereka menginvasi tubuh kita, hidup berdampingan saja kita sering tak sudi dengan mereka. Lalu dengan semena-mena kita babat habitat segala fauna dan mungkin saja jasad renik yang tak kita lihat. Kita memang lebih ngeri dengan hantu dan jin penghuni hutan yang kita telah berangus “tempat tinggal” mereka. Lalu dengan mudah kita menyuap dengan sesajen untuk berdamai. Sayang sekali, macan tutul atau virus tak bisa disogok. Mereka lebih suka mengambil nyawa kita, pun untuk melestarikan spesies mereka.

4. Wabah tak sekedar aksi jasad renik

Wabah telah menyempitkan pandangan mata kita hanya pada spesies sangat kecil bernama virus. Kita terlambat menyadari pandangan lebar yang bijak dan penuh warna kehidupan di alam yang indah ini. Kalau saja kita berhenti pada kerendahan hati menjaga alam yang indah ini lestari, mungkin saja kita tak bersua dengan virus Covid-19 di medan pertempuran yang penuh aroma kematian ini. Siksa berulang-ulang yang telah kita lakukan pada alam ini, telah membuat mereka banyak belajar dan bertahan dalam strategi yang disebut mutasi.

5. Tes rapid dan carut marut persepsi masyarakat

Pemeriksaan standar diagnosis RT-PCR yang tidak dapat serta merta terdistribusi sampai pelosok, memaksa kita menggunakan cara-cara lain yang lebih sumir. Dengan sendirinya telah menimbulkan berbagai perdebatan. Keadaan yang sepenuhnya tak kita harapkan, namun tak bisa juga kita elakkan. Kelelahan nakes dan rasa frustasi masyarakat adalah keadaan ideal terciptanya berbagai konflik, bahkan sampai ke meja hijau. Dalam situasi sulit dan belum menentu ini, masyarakat seharusnya memberi kepercayaan kepada nakes dan sebaliknya nakes menyediakan waktu yang cukup untuk memberi edukasi yang sejelas-jelasnya kepada pasien dan keluarganya terkait interpretasi hasil tes Covid-19.

6. Ruang isolasi, pengap namun penuh romantika

Nuansa kelam telah melekat erat mengelilingi ruang isolasi. Baik untuk pasien maupun untuk nakes yang akan bekerja di sana. Bagi pasien, ruang isolasi seakan ruang pembuangan dengan penantian panjang tiada kepastian. Bagi nakes, di sanalah gulag yang kapan saja virus maut ini akan dapat menggerogotinya. Pakaian APD level 3 yang membekap dan ruang isolasi yang pengap, adalah kombinasi yang sedemikian melelahkan. Padahal, dengan skema pakaian seperti itu, risiko tertular hampir 0%. Dan bagi pasien, keberadaannya di sana sudah pasti dapat melindungi keluarganya dari mara bahaya. Pada sisi romantika kisah di atas adalah, ada kebanggan tersendiri yang tak bisa dinilai dengan apapun saat nakes menggunakan pakaian kebesaran APD level 3 lalu dengan heroik melaju ke ruang isolasi, sebuah pengabdian untuk kemanusiaan.

7. Kembali ke rumah

Stay at home, adalah salah satu protokol penting melawan pandemi Covid-19. Saya selalu mengutip sabda Sang Budha yang begitu memukau, “Jika kau ingin memperbaiki dunia, pulanglah ke rumah dan temui keluargamu.” Bagaimana mungkin, SARS-Cov-2 telah mengirimkan pesan yang sama untuk kita semua agar pulang ke rumah? Keadaan ini telah mengurangi polusi kendaraan yang selama ini telah mencabik-cabik atmosfer bumi dan nun jauh di sana dari atmosfer, terkumpul di dalam rumah, kita diberikan kesempatan untuk lebih sering memadu kasih dengan belahan jiwa dan buah hati kita.

8. Perang melawan stigma

Stigmatisme adalah penyakit kronis lain yang memang sulit disembuhkan. Ia mulai populer ketika ditemukannya kasus Aids di negeri ini. Budaya buruk ini bukan hanya akan menyudutkan seorang pasien pada rasa malu dan hina yang tak terperikan namun juga dapat menghilangkan kesempatan mereka untuk berobat. Dari pada mendapat cemooh dan hinaan, lebih baik penyakit itu mereka diamkan lalu membunuhnya. Betapa kejamnya stigmatisme. Oleh karenanya, kita wajib terus memerangi budaya tak berkeprimanusiaan ini.

9. Nakes, maut dan pengabdian

Selamanya dada kita teriris perih saat membahas, berapa banyak nakes yang telah gugur dalam pengabdiannya “memberikan nafasnya untuk yang lain.” Mereka tak pernah menuntut tanda jasa, layaknya prajurit yang harus berangkat menuju medan pertempuran membela negeri. Cukup hargai mereka yang telah meninggalkan keluarga untuk merawat pasien Covid-19, jangan ada lagi tuduhan dan kesangsian yang teramat menyakitkan.

10. Cahaya lilin dalam keremangan

Pandemi boleh saja telah berlarut-larut, namun ia tak dapat menahan manusia dalam rasa frustasi terlalu lama. Beraneka kreatifitas dan solidaritas telah tercipta. Berbagai masker modifikasi, tak sedikit usaha kuliner antar jemput, sejumlah hobi menarik dan berpadu untuk membantu yang membutuhkan telah memberi warna indah diberbagai sudut pandemi yang kelam ini. Darwin sejak dulu telah meyakini, bukanlah yang kuat akan bertahan hidup, melainkan yang pintar beradaptasi.

11. Kecemerlangan sains

Baru kali ini dalam sejarah, vaksin mampu diciptakan hanya dalam setahun. Covid-19 telah memacu kecemerlangan segenap ilmuwan dalam bidang sains medis  untuk memberi yang terbaik bagi umat manusia. Mungkin sudah menjadi sebuah dalil, dalam keterdesakan manusia harus berjuang lebih keras untuk bisa bertahan. Kini vaksin telah memasuki tahap 2 yang diberikan untuk masyarakat umum setelah tahap 1 tuntas untuk nakes. Kita harus dengan senang hati mengikuti program ini agar lebih cepat tercapai kekebalan kelompok (herd immunity) sebagai syarat wabah dapat dihentikan.

12. Kapan berakhir?

Secara teoritis, wabah akan berhenti dan akan hanya tersisa sebagai kasus endemis jika sudah terwujud setidaknya 70% populasi kebal. Kebal bisa melalui mekanisme alami akibat tertular virus Covid-19 maupun kebal buatan dengan vaksinasi. Jika misalnya sesuai target bulan September 70% masyarakat Indonesia mendapat vaksinasi dan kebal, maka saat itu wabah seharusnya telah berakhir.

Dua Maret 2021, sejak vaksinasi digalakkan di seluruh dunia, data global dalam enam pekan berturut-turut telah memberikan harapan yang sangat besar. Jumlah kasus baru dan angka kematian menurun drastis. Situasi ini merupakan penurunan yang paling besar dalam setahun pandemi ini. Kita dapat kembali lagi pada kehidupan normal seperti dulu yang selalu kita rindukan, mungkin sebuah khayalan, namun vaksinasi bisa jadi akan memberikan sebuah kenyataan. [T]

KOLOM DOKTER SELENGKAPNYA…

Tags: dokterkesehatanpandemi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dua Kota Dua Ingatan | Memaknai Oposisi Biner pada Puisi “Orang-orang Gila”

Next Post

Tergerusnya Demokrasi Indonesia

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Hilangnya Peran Notaris Dalam Pendirian PT UMKM

Tergerusnya Demokrasi Indonesia

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co