2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

12 Makna | 12 Bulan Covid-19

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
March 3, 2021
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Dua Maret 2020, diidentifikasi 2 orang WNI terkonfirmasi virus SARS-Cov-2, penyebab Covid-19, secara istimewa saat itu diumumkan langsung oleh presiden Jokowi dari istana negara. Sejak itu, hingga kini, pandemi Covid-19 memang istimewa, membingungkan, menyusahkan dan mengerikan. Namun demikian, dalam 12 bulan ini, ia setidaknya telah berbagi 12 makna untuk kita.

1. Kita tak pernah siap menghadapai wabah 

Kapankah kita akan siap menghadapi pandemi? Entahlah… Menyiapkan diri menghadapi wabah seakan sesulit menyiapkan diri menerima kematian. Semua bangsa, semua negara pun demikian. Sudah menjadi tradisi, kita lebih bersuka menyiapkan kelahiran, perayaan atau kemenangan. Kita enggan dan hati selalu suram saat menyiapkan diri menghadapi kekalahan, kematian atau wabah. Sudah saatnya, berikan fokus yang sama baik pada pembangunan menuju kejayaan maupun pada kemungkinan bencana atau wabah yang siap menghanguskan.

2. Yang kecil yang unggul

SARS-Cov-2 adalah generasi terkini virus grup Corona. Strain sebelumnya yang sempat mendera kita adalah wabah SARS dan MERS. Virus diyakini tak pernah mati. Mungkin lantaran ia terlalu kecil dan sederhana. Mereka adalah penguasa dalam kegelapan, karena kita tak pernah melihatnya. Bahkan dinosaurus yang pernah menguasai bumi sekitar 250 juta tahun lalu kini tinggal sejarah. Dinosaurus yang besar mudah hancur oleh musuh maupun bencana alam. Maka, virus mengajari kita untuk selalu menghargai mereka yang kecil dan terpinggirkan.

3. Sebuah insting pelestarian

Kita begitu berambisi hendak melenyapka virus “jahat” dari kehidupan kita di muka bumi ini. Seakan-akan kitalah, manusia yang paling benar dan penting di dunia ini. Kita lupa, virus juga punya hak-hak hidup yang sama sebagai penghuni bumi. Jangankan mereka menginvasi tubuh kita, hidup berdampingan saja kita sering tak sudi dengan mereka. Lalu dengan semena-mena kita babat habitat segala fauna dan mungkin saja jasad renik yang tak kita lihat. Kita memang lebih ngeri dengan hantu dan jin penghuni hutan yang kita telah berangus “tempat tinggal” mereka. Lalu dengan mudah kita menyuap dengan sesajen untuk berdamai. Sayang sekali, macan tutul atau virus tak bisa disogok. Mereka lebih suka mengambil nyawa kita, pun untuk melestarikan spesies mereka.

4. Wabah tak sekedar aksi jasad renik

Wabah telah menyempitkan pandangan mata kita hanya pada spesies sangat kecil bernama virus. Kita terlambat menyadari pandangan lebar yang bijak dan penuh warna kehidupan di alam yang indah ini. Kalau saja kita berhenti pada kerendahan hati menjaga alam yang indah ini lestari, mungkin saja kita tak bersua dengan virus Covid-19 di medan pertempuran yang penuh aroma kematian ini. Siksa berulang-ulang yang telah kita lakukan pada alam ini, telah membuat mereka banyak belajar dan bertahan dalam strategi yang disebut mutasi.

5. Tes rapid dan carut marut persepsi masyarakat

Pemeriksaan standar diagnosis RT-PCR yang tidak dapat serta merta terdistribusi sampai pelosok, memaksa kita menggunakan cara-cara lain yang lebih sumir. Dengan sendirinya telah menimbulkan berbagai perdebatan. Keadaan yang sepenuhnya tak kita harapkan, namun tak bisa juga kita elakkan. Kelelahan nakes dan rasa frustasi masyarakat adalah keadaan ideal terciptanya berbagai konflik, bahkan sampai ke meja hijau. Dalam situasi sulit dan belum menentu ini, masyarakat seharusnya memberi kepercayaan kepada nakes dan sebaliknya nakes menyediakan waktu yang cukup untuk memberi edukasi yang sejelas-jelasnya kepada pasien dan keluarganya terkait interpretasi hasil tes Covid-19.

6. Ruang isolasi, pengap namun penuh romantika

Nuansa kelam telah melekat erat mengelilingi ruang isolasi. Baik untuk pasien maupun untuk nakes yang akan bekerja di sana. Bagi pasien, ruang isolasi seakan ruang pembuangan dengan penantian panjang tiada kepastian. Bagi nakes, di sanalah gulag yang kapan saja virus maut ini akan dapat menggerogotinya. Pakaian APD level 3 yang membekap dan ruang isolasi yang pengap, adalah kombinasi yang sedemikian melelahkan. Padahal, dengan skema pakaian seperti itu, risiko tertular hampir 0%. Dan bagi pasien, keberadaannya di sana sudah pasti dapat melindungi keluarganya dari mara bahaya. Pada sisi romantika kisah di atas adalah, ada kebanggan tersendiri yang tak bisa dinilai dengan apapun saat nakes menggunakan pakaian kebesaran APD level 3 lalu dengan heroik melaju ke ruang isolasi, sebuah pengabdian untuk kemanusiaan.

7. Kembali ke rumah

Stay at home, adalah salah satu protokol penting melawan pandemi Covid-19. Saya selalu mengutip sabda Sang Budha yang begitu memukau, “Jika kau ingin memperbaiki dunia, pulanglah ke rumah dan temui keluargamu.” Bagaimana mungkin, SARS-Cov-2 telah mengirimkan pesan yang sama untuk kita semua agar pulang ke rumah? Keadaan ini telah mengurangi polusi kendaraan yang selama ini telah mencabik-cabik atmosfer bumi dan nun jauh di sana dari atmosfer, terkumpul di dalam rumah, kita diberikan kesempatan untuk lebih sering memadu kasih dengan belahan jiwa dan buah hati kita.

8. Perang melawan stigma

Stigmatisme adalah penyakit kronis lain yang memang sulit disembuhkan. Ia mulai populer ketika ditemukannya kasus Aids di negeri ini. Budaya buruk ini bukan hanya akan menyudutkan seorang pasien pada rasa malu dan hina yang tak terperikan namun juga dapat menghilangkan kesempatan mereka untuk berobat. Dari pada mendapat cemooh dan hinaan, lebih baik penyakit itu mereka diamkan lalu membunuhnya. Betapa kejamnya stigmatisme. Oleh karenanya, kita wajib terus memerangi budaya tak berkeprimanusiaan ini.

9. Nakes, maut dan pengabdian

Selamanya dada kita teriris perih saat membahas, berapa banyak nakes yang telah gugur dalam pengabdiannya “memberikan nafasnya untuk yang lain.” Mereka tak pernah menuntut tanda jasa, layaknya prajurit yang harus berangkat menuju medan pertempuran membela negeri. Cukup hargai mereka yang telah meninggalkan keluarga untuk merawat pasien Covid-19, jangan ada lagi tuduhan dan kesangsian yang teramat menyakitkan.

10. Cahaya lilin dalam keremangan

Pandemi boleh saja telah berlarut-larut, namun ia tak dapat menahan manusia dalam rasa frustasi terlalu lama. Beraneka kreatifitas dan solidaritas telah tercipta. Berbagai masker modifikasi, tak sedikit usaha kuliner antar jemput, sejumlah hobi menarik dan berpadu untuk membantu yang membutuhkan telah memberi warna indah diberbagai sudut pandemi yang kelam ini. Darwin sejak dulu telah meyakini, bukanlah yang kuat akan bertahan hidup, melainkan yang pintar beradaptasi.

11. Kecemerlangan sains

Baru kali ini dalam sejarah, vaksin mampu diciptakan hanya dalam setahun. Covid-19 telah memacu kecemerlangan segenap ilmuwan dalam bidang sains medis  untuk memberi yang terbaik bagi umat manusia. Mungkin sudah menjadi sebuah dalil, dalam keterdesakan manusia harus berjuang lebih keras untuk bisa bertahan. Kini vaksin telah memasuki tahap 2 yang diberikan untuk masyarakat umum setelah tahap 1 tuntas untuk nakes. Kita harus dengan senang hati mengikuti program ini agar lebih cepat tercapai kekebalan kelompok (herd immunity) sebagai syarat wabah dapat dihentikan.

12. Kapan berakhir?

Secara teoritis, wabah akan berhenti dan akan hanya tersisa sebagai kasus endemis jika sudah terwujud setidaknya 70% populasi kebal. Kebal bisa melalui mekanisme alami akibat tertular virus Covid-19 maupun kebal buatan dengan vaksinasi. Jika misalnya sesuai target bulan September 70% masyarakat Indonesia mendapat vaksinasi dan kebal, maka saat itu wabah seharusnya telah berakhir.

Dua Maret 2021, sejak vaksinasi digalakkan di seluruh dunia, data global dalam enam pekan berturut-turut telah memberikan harapan yang sangat besar. Jumlah kasus baru dan angka kematian menurun drastis. Situasi ini merupakan penurunan yang paling besar dalam setahun pandemi ini. Kita dapat kembali lagi pada kehidupan normal seperti dulu yang selalu kita rindukan, mungkin sebuah khayalan, namun vaksinasi bisa jadi akan memberikan sebuah kenyataan. [T]

KOLOM DOKTER SELENGKAPNYA…

Tags: dokterkesehatanpandemi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dua Kota Dua Ingatan | Memaknai Oposisi Biner pada Puisi “Orang-orang Gila”

Next Post

Tergerusnya Demokrasi Indonesia

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Hilangnya Peran Notaris Dalam Pendirian PT UMKM

Tergerusnya Demokrasi Indonesia

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co