4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Filsafat, Jalan Ninja Ide Hebat

Henry Manampiring by Henry Manampiring
August 20, 2024
in Esai
Filsafat, Jalan Ninja Ide Hebat

Henry Manampiring | desain tatkala.co

  • Artikel ini adalah materi dalam panel diskusi “Filsafat, Sains dan Sastra”, Sabtu, 24 Agustus 2024 di Museum Buleleng, Singaraja
  • Artikel ini disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Singaraja Literary Festival (SLF), 23-25 Agustus 2024

***

Filsafat, Seni Berpikir

Filsafat sering kali dianggap sebagai dunia yang rumit dan hanya bisa dipahami oleh para profesor atau akademisi. Namun, sebenarnya filsafat adalah alat yang sangat berguna untuk kita semua, terutama bagi penulis yang ingin menghasilkan karya yang mendalam dan bermakna. Dengan memahami filsafat, kita bisa melatih otak kita untuk berpikir lebih kritis dan jernih dalam melihat isu-isu yang ada di sekitar kita.

Jadi, apa sih filsafat itu? Secara sederhana, filsafat adalah studi tentang pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai kehidupan, eksistensi, pengetahuan, nilai, dan realitas. Filsafat mengajak kita untuk mempertanyakan segala sesuatu, dari hal-hal yang tampak sepele hingga isu-isu yang sangat kompleks. Dengan kata lain, filsafat adalah kunci untuk membuka pintu pemikiran yang lebih dalam.

Ketika kita berbicara tentang berpikir jernih, kita berbicara tentang kemampuan untuk melihat suatu isu dari berbagai sudut pandang. Filsafat mengajarkan kita untuk tidak hanya menerima informasi begitu saja, tetapi untuk menganalisis, mengevaluasi, dan mempertanyakan argumen yang ada. Misalnya, ketika kita membaca berita atau artikel, kita bisa menggunakan pendekatan filsafat untuk mempertanyakan sumber informasi, bias yang mungkin ada, dan implikasi dari apa yang kita baca.

Dengan cara ini, filsafat membantu kita menghindari pemikiran yang dangkal dan mendorong kita untuk menggali lebih dalam. Ini sangat penting bagi penulis, karena tulisan yang baik adalah tulisan yang mampu menggugah pemikiran dan emosi pembaca. Ketika kita mampu melihat suatu isu dari berbagai perspektif, kita bisa menyajikan argumen yang lebih kuat dan tulisan yang lebih menarik.

Filsafat Memotivasi Penulis

Memahami filsafat bisa memberikan kita darah dan alasan menulis.

Contohnya, mari kita lihat bagaimana filsafat eksistensialisme, yang dipopulerkan oleh Jean-Paul Sartre, bisa memberikan inspirasi bagi penulis. Eksistensialisme menekankan pentingnya individu dan kebebasan dalam menentukan makna hidupnya sendiri. Dalam konteks penulisan, ini bisa berarti bahwa kita memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi tema-tema yang mungkin dianggap tabu atau kontroversial. Dengan memahami dan menerapkan prinsip-prinsip eksistensialisme, penulis bisa menciptakan karakter yang lebih kompleks dan cerita yang lebih mendalam.

Selain itu, filsafat utilitarianisme juga bisa menjadi panduan bagi penulis dalam menciptakan karya yang bermanfaat bagi masyarakat. Utilitarianisme menekankan bahwa tindakan yang baik adalah tindakan yang menghasilkan kebahagiaan terbesar bagi jumlah orang terbanyak. Dalam penulisan, ini bisa berarti bahwa kita harus mempertimbangkan dampak dari tulisan kita terhadap pembaca dan masyarakat secara keseluruhan. Dengan cara ini, kita tidak hanya menulis untuk diri sendiri, tetapi juga untuk kebaikan bersama.

Lebih jauh lagi, filsafat Stoikisme bisa memberikan perspektif yang berharga bagi penulis. Stoikisme mengajarkan kita untuk menerima hal-hal yang tidak bisa kita kontrol dan fokus pada apa yang bisa kita lakukan. Dalam konteks penulisan, ini bisa berarti bahwa kita harus belajar untuk tidak terpengaruh oleh kritik atau penilaian orang lain. Dengan menginternalisasi prinsip-prinsip Stoikisme, kita bisa lebih percaya diri dalam mengekspresikan ide-ide kita dan tidak takut untuk mengambil risiko dalam penulisan.

Jadi, filsafat bukan hanya untuk para akademisi atau orang-orang yang suka berdebat di kafe. Filsafat adalah alat yang bisa kita gunakan untuk memperdalam pemahaman kita tentang dunia dan meningkatkan kemampuan kita dalam berpikir kritis. Dengan mempelajari filsafat, kita bisa merombak cara pandang kita dan menemukan suara unik kita sebagai penulis. Filsafat adalah kunci untuk berpikir jernih, dan dengan kunci ini, kita bisa membuka pintu menuju dunia penulisan yang lebih kaya dan bermakna. Filsafat juga bisa memandu dan memotivasi kita untuk menulis, karena memberikan kita purpose, tujuan dalam menulis.

Melihat Dari Berbagai Sudut Pandang

Filsafat mengajarkan kita untuk melihat dunia ini dengan cara yang berbeda. Bayangkan, setiap kali kamu menghadapi sebuah isu, ada banyak cara untuk memandangnya. Dari sudut pandang Plato yang idealis hingga Kant yang lebih analitis, setiap pemikir punya cara unik untuk mengurai masalah. Ini bukan hanya tentang berpikir kritis, tapi juga tentang memperkaya perspektif kita. Dengan memahami berbagai sudut pandang, tulisanmu bisa jadi lebih dalam dan menarik.

Plato, misalnya, terkenal dengan teori bentuknya. Dia percaya bahwa dunia nyata hanyalah bayangan dari dunia ide yang lebih sempurna. Ketika kamu menulis, coba deh gunakan pendekatan ini. Misalnya, saat menggambarkan karakter dalam novel, pikirkan tentang ‘bentuk ideal’ dari karakter tersebut. Apa yang mereka wakili? Apa nilai-nilai yang mereka bawa? Dengan cara ini, pembaca tidak hanya melihat karakter sebagai individu, tetapi juga sebagai simbol dari ide yang lebih besar.

Beranjak ke Aristoteles, dia lebih pragmatis. Dia mengajarkan kita untuk melihat realitas dengan cara yang lebih konkret. Dalam menulis, ini bisa berarti memperhatikan detail-detail kecil yang sering terabaikan. Misalnya, saat mendeskripsikan setting, jangan hanya sebutkan lokasi, tapi juga bagaimana suasana di sana. Apa yang bisa didengar, dilihat, atau bahkan dicium? Dengan memperhatikan hal-hal ini, tulisanmu akan terasa lebih hidup dan nyata.

Selanjutnya, kita punya Descartes yang terkenal dengan ungkapan ‘Cogito, ergo sum’—’Aku berpikir, maka aku ada’. Ini mengingatkan kita bahwa berpikir kritis adalah fondasi dari eksistensi kita. Segala sesuatu di luar ‘aku yang berpikir’ bisa jadi adalah ilusi. Dalam konteks menulis, ini berarti kamu harus mempertanyakan segala sesuatu. Jangan terima begitu saja informasi yang ada. Cobalah untuk menggali lebih dalam, mencari tahu alasan di balik setiap ide. Dengan cara ini, tulisanmu akan lebih kuat dan meyakinkan.

Filsafat eksistensialisme, yang dipopulerkan oleh Sartre, juga menawarkan perspektif yang menarik. Mereka menekankan bahwa hidup itu absurd dan kita harus menciptakan makna kita sendiri. Dalam menulis, ini bisa berarti memberi kebebasan pada karakter untuk membuat pilihan mereka sendiri, meskipun pilihan itu tidak selalu logis. Ini akan menambah kedalaman pada cerita dan membuat pembaca merenung tentang makna hidup.

Filsafat Stoikisme juga bisa memberi inspirasi plot dan karakter. Filsuf Stoa seperti Seneca dan Epictetus mengajarkan kita untuk tetap tenang di tengah badai kehidupan, dengan fokus pada diri rasional kita yang ada di bawah kendali kita. Dalam menulis, ini bisa berarti mengekspresikan emosi dengan cara yang terukur. Alih-alih terjebak dalam drama, kamu bisa menunjukkan bagaimana karakter menghadapi tantangan dengan ketenangan yang berdasarkan rasionalitas. Ini akan membuat pembaca terhubung dengan karakter dan situasi yang mereka hadapi, bahkan mengambil pelajaran dari tulisanmu.

Film-film seperti ‘Inception’ dan ‘The Matrix’ juga mengajak kita untuk mempertanyakan realitas. Konsep-konsep ini berakar dari pemikiran filsafat yang dalam. Ketika kamu menulis, jangan ragu untuk mengeksplorasi tema-tema besar seperti realitas, identitas, dan eksistensi. Ini akan memberikan dimensi tambahan pada tulisanmu dan membuat pembaca terpesona.

Dengan mempelajari berbagai perspektif filsafat, kamu tidak hanya memperkaya cara berpikirmu, tetapi juga cara menulismu. Setiap pemikir menawarkan alat dan cara pandang yang bisa kamu gunakan untuk menciptakan tulisan yang lebih mendalam dan menarik. Jadi, saat kamu menghadapi sebuah isu, ingatlah untuk melihatnya dari berbagai sudut pandang. Dengan cara ini, tulisanmu akan lebih hidup, berwarna, dan pastinya, lebih memikat bagi pembaca.

Filsafat dan Kreativitas

Filsafat sering kali dianggap sebagai bidang yang kaku dan rumit, padahal sebenarnya ia bisa jadi sahabat terbaik dalam proses kreatif kita. Ketika kita berbicara tentang kreativitas, kita berbicara tentang kemampuan untuk melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang, dan di sinilah filsafat berperan. Dengan menggali pemikiran mendalam, kita bisa menemukan ide-ide segar yang mungkin tidak pernah kita pikirkan sebelumnya.

Filsafat mengajarkan kita untuk mempertanyakan segala sesuatu. Ketika kita menulis, kita sering terjebak dalam pola pikir yang sama. Kita merasa bahwa kita harus mengikuti formula tertentu untuk menghasilkan karya yang baik. Namun, filsafat mendorong kita untuk keluar dari zona nyaman tersebut.

Karena ada banyak aliran filsafat, kita bisa melihat isu dari berbagai sudut pandang. Dalam dunia penulisan, ini bisa melahirkan banyak ide. Misalnya, saat ingin menulis mengenai “hidup yang sukses”. Apa kriteria dari hidup sukses? Filsafat Epicurean mengajarkan hidup yang sukses adalah bebas dari kesusahan dan rasa sakit. Aristoteles mengajarkan bahwa hidup seseorang dianggap baik ketika ia hidup mendekati kualitas unggul Keutamaan. Eksistensialisme mengajarkan kesuksesan sebagai hidup yang autentik.

Atau tentang keputusan-keputusan sulit dan dilematis. Bagaimana cara kita memilih? Memahami teori etika bisa membantu menghasilkan ide. Misalnya, karakter yang deontologis. Ia hidup hanya menuruti ayat suci secara literal, tanpa memandang konteks dan belas kasihan. Atau karakter yang utilitarianis, yang memutuskan berdasarkan hitung-hitungan saja. Memahami ini membuka ruang kreativitas dalam memikirkan plot dan karakter. Skenario film Hollywood yang dramatis sering membenturkan etika yang berbeda untuk menciptakan ketegangan dan emosi.

Dalam konteks penulisan, filsafat juga bisa menjadi sumber ide yang tak terbatas. Banyak karya sastra dan film yang terinspirasi oleh pemikiran filsafat. Misalnya, film seperti ‘Inception’ dan ‘The Matrix’ mengajak kita untuk mempertanyakan realitas dan eksistensi. Dengan memahami konsep-konsep filsafat yang mendasari karya-karya ini, kita bisa mendapatkan wawasan baru yang bisa diterapkan dalam tulisan kita sendiri.

Penulis sendiri menggunakan filsafat untuk novel pertamanya ‘Hitam 2045’. Bergenre distopia, dengan setting Indonesia di tahun 2045 yang diperintah rejim diktator, penulis mengeksplorasi tegangan (tension) antara kebebasan berekspresi dan kestabilan dan keamanan. Apakah kita rela menghilangkan hak azasi demi bangsa bebas korupsi? Apakah boleh rakyat ditipu atas nama kemakmuran dan kesejahteraan? Pertanyaan-pertanyaan filosofis ini dijadikan dasar inspirasi ide kreatif menulis ‘Hitam 2045’.

Filsafat bukan hanya sekadar teori yang harus dipelajari, tetapi juga alat yang bisa kita gunakan untuk memperkaya proses kreatif kita. Dengan menggali pemikiran mendalam, kita bisa menemukan ide-ide segar, melihat isu dari berbagai sudut pandang, dan menemukan suara unik kita sebagai penulis. Jadi, jangan ragu untuk menjadikan filsafat sebagai teman setia dalam perjalanan menulismu. Siapa tahu, harta karun ide yang kamu temukan bisa mengubah cara pandangmu dan menghasilkan karya yang luar biasa.

Filsafat dalam Budaya Pop

Siapa bilang filsafat cuma ada di buku tebal? Filsafat sudah meresap ke dalam budaya pop, dari film blockbuster hingga novel best-seller. Ini bukan hanya tentang teori-teori yang rumit, tapi bagaimana ide-ide tersebut bisa menginspirasi kita untuk berkarya. Mari kita telusuri bagaimana filsafat bisa menjadi bahan bakar kreativitas kita.

Novel Brave New World karya Aldous Huxley mempertanyakan bagaimana kita memperlakukan teknologi, dan apakah teknologi yang kita kembangkan justru mengancam kemanusiaan kita sendiri. 2001: A Space Odyssey jauh sebelum masanya telah mengangkat isu Artificial Intelligence dan apakah kita siap menjadi Tuhan yang menghadapi pemberontakan ciptaanNya.

Film seperti “Inception” dan “The Matrix” bukan hanya sekadar hiburan. Mereka mengajak kita untuk berpikir lebih dalam tentang realitas dan eksistensi. Dalam “Inception”, kita diajak untuk mempertanyakan apa yang nyata dan apa yang hanya mimpi. Konsep ini berakar dari filsafat Descartes yang terkenal dengan ungkapan “Cogito, ergo sum”. Dengan kata lain, “Saya berpikir, maka saya ada”. Ini mengajak kita untuk merenungkan tentang kesadaran dan eksistensi kita sendiri. Ketika menulis, kita bisa mengambil inspirasi dari pertanyaan-pertanyaan ini dan menciptakan karakter atau plot yang menggugah pemikiran.

Bahkan film-film superhero seperti “The Dark Knight” juga mengangkat pertanyaan moral yang kompleks. Karakter seperti Batman dan Joker mewakili dualitas antara kebaikan dan kejahatan. Dalam konteks ini, kita bisa menggali pemikiran filsafat moral, seperti utilitarianisme. Apa yang benar dan salah? Apakah tujuan yang ‘benar’ bisa membenarkan cara yang ‘salah’? Pertanyaan-pertanyaan ini bisa menjadi inti dari konflik dalam cerita kita.

Jadi jika kamu buntu dalam mencari ide buku, coba lah membaca berbagai konsep filsafat yang baru. Bisa jadi menjadi pemantik ide-ide segar.

Menerapkan Filsafat dalam Menulis

Filsafat bukan hanya sekadar teori yang terjebak dalam buku-buku tebal. Ia adalah alat yang bisa kita gunakan untuk memperdalam pemahaman dan kreativitas dalam menulis. Ketika kita berbicara tentang menerapkan filsafat dalam proses menulis, kita sebenarnya sedang membahas bagaimana cara berpikir kritis dan kreatif. Mari kita lihat beberapa cara konkret untuk menerapkan pemikiran filsafat dalam tulisan kita.

Pertama, coba gunakan metode Socratic questioning. Metode ini mengajak kita untuk bertanya lebih dalam tentang ide-ide yang kita miliki. Misalnya, jika kamu sedang menulis tentang kebahagiaan, tanyakan pada dirimu sendiri: Apa itu kebahagiaan? Apakah kebahagiaan itu sama untuk semua orang? Dengan bertanya seperti ini, kamu bisa menggali lebih dalam dan menemukan sudut pandang baru yang mungkin belum pernah kamu pikirkan sebelumnya. Ini bisa jadi bahan yang kaya untuk tulisanmu.

Kedua, gunakan berbagai aliran filsafat untuk mencari ide cerita. Filsafat mengajarkan kita untuk melihat suatu isu dari berbagai sudut pandang. Cobalah untuk menulis dari perspektif yang berbeda. Misalnya, jika kamu menulis tentang konflik, coba tulis dari sudut pandang kedua belah pihak. Misalnya, apakah bahagia itu cukup dari kenikmatan, seperti ajaran Epicurus? Atau kebahagiaan hanya bisa datang dari karakter yang baik, seperti ajaran Aristoteles? Apakah ada dunia jiwa yang tak berbadan, seperti dipahami kaum dualis Plato dan Descartes? Atau roh itu tidak ada, dan seluruh jiwa kita hanya terdiri dari sinyal-sinyal listrik sel otak, seperti kesimpulan Spinoza? Memahami berbagai pandangan dalam filsafat tidak hanya akan memperkaya ide tulisanmu, tetapi juga membantu pembaca memahami kompleksitas situasi yang kamu bahas.

Penutup

Jadi, saatnya untuk merombak cara pandangmu dalam menulis. Filsafat bukan hanya untuk dipelajari, tetapi juga untuk diterapkan. Dengan menerapkan pemikiran filsafat dalam proses menulis, kamu bisa menciptakan karya yang lebih dalam, berwarna, dan menggugah pemikiran. Ingat, setiap ide yang kamu tulis adalah hasil dari pemikiran yang mendalam. Jadi, jangan ragu untuk menggali lebih dalam dan menemukan suara unikmu sebagai penulis.[T]

BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024

Sains & Fiksi, Puncak Kelindan Fakta dan Imajinasi
Khasanah Rempah, Makanan dan Obat Bagi Raga
Tags: filsafatHenry Manampiringmenulissainsseni berpikirSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sains & Fiksi, Puncak Kelindan Fakta dan Imajinasi

Next Post

Khasanah Rempah, Makanan dan Obat Bagi Raga

Henry Manampiring

Henry Manampiring

Penulis buku best seller "Filosofi Teras"

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Khasanah Rempah, Makanan dan Obat Bagi Raga

Khasanah Rempah, Makanan dan Obat Bagi Raga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co