4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Filsafat, Jalan Ninja Ide Hebat

Henry Manampiring by Henry Manampiring
August 20, 2024
in Esai
Filsafat, Jalan Ninja Ide Hebat

Henry Manampiring | desain tatkala.co

  • Artikel ini adalah materi dalam panel diskusi “Filsafat, Sains dan Sastra”, Sabtu, 24 Agustus 2024 di Museum Buleleng, Singaraja
  • Artikel ini disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Singaraja Literary Festival (SLF), 23-25 Agustus 2024

***

Filsafat, Seni Berpikir

Filsafat sering kali dianggap sebagai dunia yang rumit dan hanya bisa dipahami oleh para profesor atau akademisi. Namun, sebenarnya filsafat adalah alat yang sangat berguna untuk kita semua, terutama bagi penulis yang ingin menghasilkan karya yang mendalam dan bermakna. Dengan memahami filsafat, kita bisa melatih otak kita untuk berpikir lebih kritis dan jernih dalam melihat isu-isu yang ada di sekitar kita.

Jadi, apa sih filsafat itu? Secara sederhana, filsafat adalah studi tentang pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai kehidupan, eksistensi, pengetahuan, nilai, dan realitas. Filsafat mengajak kita untuk mempertanyakan segala sesuatu, dari hal-hal yang tampak sepele hingga isu-isu yang sangat kompleks. Dengan kata lain, filsafat adalah kunci untuk membuka pintu pemikiran yang lebih dalam.

Ketika kita berbicara tentang berpikir jernih, kita berbicara tentang kemampuan untuk melihat suatu isu dari berbagai sudut pandang. Filsafat mengajarkan kita untuk tidak hanya menerima informasi begitu saja, tetapi untuk menganalisis, mengevaluasi, dan mempertanyakan argumen yang ada. Misalnya, ketika kita membaca berita atau artikel, kita bisa menggunakan pendekatan filsafat untuk mempertanyakan sumber informasi, bias yang mungkin ada, dan implikasi dari apa yang kita baca.

Dengan cara ini, filsafat membantu kita menghindari pemikiran yang dangkal dan mendorong kita untuk menggali lebih dalam. Ini sangat penting bagi penulis, karena tulisan yang baik adalah tulisan yang mampu menggugah pemikiran dan emosi pembaca. Ketika kita mampu melihat suatu isu dari berbagai perspektif, kita bisa menyajikan argumen yang lebih kuat dan tulisan yang lebih menarik.

Filsafat Memotivasi Penulis

Memahami filsafat bisa memberikan kita darah dan alasan menulis.

Contohnya, mari kita lihat bagaimana filsafat eksistensialisme, yang dipopulerkan oleh Jean-Paul Sartre, bisa memberikan inspirasi bagi penulis. Eksistensialisme menekankan pentingnya individu dan kebebasan dalam menentukan makna hidupnya sendiri. Dalam konteks penulisan, ini bisa berarti bahwa kita memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi tema-tema yang mungkin dianggap tabu atau kontroversial. Dengan memahami dan menerapkan prinsip-prinsip eksistensialisme, penulis bisa menciptakan karakter yang lebih kompleks dan cerita yang lebih mendalam.

Selain itu, filsafat utilitarianisme juga bisa menjadi panduan bagi penulis dalam menciptakan karya yang bermanfaat bagi masyarakat. Utilitarianisme menekankan bahwa tindakan yang baik adalah tindakan yang menghasilkan kebahagiaan terbesar bagi jumlah orang terbanyak. Dalam penulisan, ini bisa berarti bahwa kita harus mempertimbangkan dampak dari tulisan kita terhadap pembaca dan masyarakat secara keseluruhan. Dengan cara ini, kita tidak hanya menulis untuk diri sendiri, tetapi juga untuk kebaikan bersama.

Lebih jauh lagi, filsafat Stoikisme bisa memberikan perspektif yang berharga bagi penulis. Stoikisme mengajarkan kita untuk menerima hal-hal yang tidak bisa kita kontrol dan fokus pada apa yang bisa kita lakukan. Dalam konteks penulisan, ini bisa berarti bahwa kita harus belajar untuk tidak terpengaruh oleh kritik atau penilaian orang lain. Dengan menginternalisasi prinsip-prinsip Stoikisme, kita bisa lebih percaya diri dalam mengekspresikan ide-ide kita dan tidak takut untuk mengambil risiko dalam penulisan.

Jadi, filsafat bukan hanya untuk para akademisi atau orang-orang yang suka berdebat di kafe. Filsafat adalah alat yang bisa kita gunakan untuk memperdalam pemahaman kita tentang dunia dan meningkatkan kemampuan kita dalam berpikir kritis. Dengan mempelajari filsafat, kita bisa merombak cara pandang kita dan menemukan suara unik kita sebagai penulis. Filsafat adalah kunci untuk berpikir jernih, dan dengan kunci ini, kita bisa membuka pintu menuju dunia penulisan yang lebih kaya dan bermakna. Filsafat juga bisa memandu dan memotivasi kita untuk menulis, karena memberikan kita purpose, tujuan dalam menulis.

Melihat Dari Berbagai Sudut Pandang

Filsafat mengajarkan kita untuk melihat dunia ini dengan cara yang berbeda. Bayangkan, setiap kali kamu menghadapi sebuah isu, ada banyak cara untuk memandangnya. Dari sudut pandang Plato yang idealis hingga Kant yang lebih analitis, setiap pemikir punya cara unik untuk mengurai masalah. Ini bukan hanya tentang berpikir kritis, tapi juga tentang memperkaya perspektif kita. Dengan memahami berbagai sudut pandang, tulisanmu bisa jadi lebih dalam dan menarik.

Plato, misalnya, terkenal dengan teori bentuknya. Dia percaya bahwa dunia nyata hanyalah bayangan dari dunia ide yang lebih sempurna. Ketika kamu menulis, coba deh gunakan pendekatan ini. Misalnya, saat menggambarkan karakter dalam novel, pikirkan tentang ‘bentuk ideal’ dari karakter tersebut. Apa yang mereka wakili? Apa nilai-nilai yang mereka bawa? Dengan cara ini, pembaca tidak hanya melihat karakter sebagai individu, tetapi juga sebagai simbol dari ide yang lebih besar.

Beranjak ke Aristoteles, dia lebih pragmatis. Dia mengajarkan kita untuk melihat realitas dengan cara yang lebih konkret. Dalam menulis, ini bisa berarti memperhatikan detail-detail kecil yang sering terabaikan. Misalnya, saat mendeskripsikan setting, jangan hanya sebutkan lokasi, tapi juga bagaimana suasana di sana. Apa yang bisa didengar, dilihat, atau bahkan dicium? Dengan memperhatikan hal-hal ini, tulisanmu akan terasa lebih hidup dan nyata.

Selanjutnya, kita punya Descartes yang terkenal dengan ungkapan ‘Cogito, ergo sum’—’Aku berpikir, maka aku ada’. Ini mengingatkan kita bahwa berpikir kritis adalah fondasi dari eksistensi kita. Segala sesuatu di luar ‘aku yang berpikir’ bisa jadi adalah ilusi. Dalam konteks menulis, ini berarti kamu harus mempertanyakan segala sesuatu. Jangan terima begitu saja informasi yang ada. Cobalah untuk menggali lebih dalam, mencari tahu alasan di balik setiap ide. Dengan cara ini, tulisanmu akan lebih kuat dan meyakinkan.

Filsafat eksistensialisme, yang dipopulerkan oleh Sartre, juga menawarkan perspektif yang menarik. Mereka menekankan bahwa hidup itu absurd dan kita harus menciptakan makna kita sendiri. Dalam menulis, ini bisa berarti memberi kebebasan pada karakter untuk membuat pilihan mereka sendiri, meskipun pilihan itu tidak selalu logis. Ini akan menambah kedalaman pada cerita dan membuat pembaca merenung tentang makna hidup.

Filsafat Stoikisme juga bisa memberi inspirasi plot dan karakter. Filsuf Stoa seperti Seneca dan Epictetus mengajarkan kita untuk tetap tenang di tengah badai kehidupan, dengan fokus pada diri rasional kita yang ada di bawah kendali kita. Dalam menulis, ini bisa berarti mengekspresikan emosi dengan cara yang terukur. Alih-alih terjebak dalam drama, kamu bisa menunjukkan bagaimana karakter menghadapi tantangan dengan ketenangan yang berdasarkan rasionalitas. Ini akan membuat pembaca terhubung dengan karakter dan situasi yang mereka hadapi, bahkan mengambil pelajaran dari tulisanmu.

Film-film seperti ‘Inception’ dan ‘The Matrix’ juga mengajak kita untuk mempertanyakan realitas. Konsep-konsep ini berakar dari pemikiran filsafat yang dalam. Ketika kamu menulis, jangan ragu untuk mengeksplorasi tema-tema besar seperti realitas, identitas, dan eksistensi. Ini akan memberikan dimensi tambahan pada tulisanmu dan membuat pembaca terpesona.

Dengan mempelajari berbagai perspektif filsafat, kamu tidak hanya memperkaya cara berpikirmu, tetapi juga cara menulismu. Setiap pemikir menawarkan alat dan cara pandang yang bisa kamu gunakan untuk menciptakan tulisan yang lebih mendalam dan menarik. Jadi, saat kamu menghadapi sebuah isu, ingatlah untuk melihatnya dari berbagai sudut pandang. Dengan cara ini, tulisanmu akan lebih hidup, berwarna, dan pastinya, lebih memikat bagi pembaca.

Filsafat dan Kreativitas

Filsafat sering kali dianggap sebagai bidang yang kaku dan rumit, padahal sebenarnya ia bisa jadi sahabat terbaik dalam proses kreatif kita. Ketika kita berbicara tentang kreativitas, kita berbicara tentang kemampuan untuk melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang, dan di sinilah filsafat berperan. Dengan menggali pemikiran mendalam, kita bisa menemukan ide-ide segar yang mungkin tidak pernah kita pikirkan sebelumnya.

Filsafat mengajarkan kita untuk mempertanyakan segala sesuatu. Ketika kita menulis, kita sering terjebak dalam pola pikir yang sama. Kita merasa bahwa kita harus mengikuti formula tertentu untuk menghasilkan karya yang baik. Namun, filsafat mendorong kita untuk keluar dari zona nyaman tersebut.

Karena ada banyak aliran filsafat, kita bisa melihat isu dari berbagai sudut pandang. Dalam dunia penulisan, ini bisa melahirkan banyak ide. Misalnya, saat ingin menulis mengenai “hidup yang sukses”. Apa kriteria dari hidup sukses? Filsafat Epicurean mengajarkan hidup yang sukses adalah bebas dari kesusahan dan rasa sakit. Aristoteles mengajarkan bahwa hidup seseorang dianggap baik ketika ia hidup mendekati kualitas unggul Keutamaan. Eksistensialisme mengajarkan kesuksesan sebagai hidup yang autentik.

Atau tentang keputusan-keputusan sulit dan dilematis. Bagaimana cara kita memilih? Memahami teori etika bisa membantu menghasilkan ide. Misalnya, karakter yang deontologis. Ia hidup hanya menuruti ayat suci secara literal, tanpa memandang konteks dan belas kasihan. Atau karakter yang utilitarianis, yang memutuskan berdasarkan hitung-hitungan saja. Memahami ini membuka ruang kreativitas dalam memikirkan plot dan karakter. Skenario film Hollywood yang dramatis sering membenturkan etika yang berbeda untuk menciptakan ketegangan dan emosi.

Dalam konteks penulisan, filsafat juga bisa menjadi sumber ide yang tak terbatas. Banyak karya sastra dan film yang terinspirasi oleh pemikiran filsafat. Misalnya, film seperti ‘Inception’ dan ‘The Matrix’ mengajak kita untuk mempertanyakan realitas dan eksistensi. Dengan memahami konsep-konsep filsafat yang mendasari karya-karya ini, kita bisa mendapatkan wawasan baru yang bisa diterapkan dalam tulisan kita sendiri.

Penulis sendiri menggunakan filsafat untuk novel pertamanya ‘Hitam 2045’. Bergenre distopia, dengan setting Indonesia di tahun 2045 yang diperintah rejim diktator, penulis mengeksplorasi tegangan (tension) antara kebebasan berekspresi dan kestabilan dan keamanan. Apakah kita rela menghilangkan hak azasi demi bangsa bebas korupsi? Apakah boleh rakyat ditipu atas nama kemakmuran dan kesejahteraan? Pertanyaan-pertanyaan filosofis ini dijadikan dasar inspirasi ide kreatif menulis ‘Hitam 2045’.

Filsafat bukan hanya sekadar teori yang harus dipelajari, tetapi juga alat yang bisa kita gunakan untuk memperkaya proses kreatif kita. Dengan menggali pemikiran mendalam, kita bisa menemukan ide-ide segar, melihat isu dari berbagai sudut pandang, dan menemukan suara unik kita sebagai penulis. Jadi, jangan ragu untuk menjadikan filsafat sebagai teman setia dalam perjalanan menulismu. Siapa tahu, harta karun ide yang kamu temukan bisa mengubah cara pandangmu dan menghasilkan karya yang luar biasa.

Filsafat dalam Budaya Pop

Siapa bilang filsafat cuma ada di buku tebal? Filsafat sudah meresap ke dalam budaya pop, dari film blockbuster hingga novel best-seller. Ini bukan hanya tentang teori-teori yang rumit, tapi bagaimana ide-ide tersebut bisa menginspirasi kita untuk berkarya. Mari kita telusuri bagaimana filsafat bisa menjadi bahan bakar kreativitas kita.

Novel Brave New World karya Aldous Huxley mempertanyakan bagaimana kita memperlakukan teknologi, dan apakah teknologi yang kita kembangkan justru mengancam kemanusiaan kita sendiri. 2001: A Space Odyssey jauh sebelum masanya telah mengangkat isu Artificial Intelligence dan apakah kita siap menjadi Tuhan yang menghadapi pemberontakan ciptaanNya.

Film seperti “Inception” dan “The Matrix” bukan hanya sekadar hiburan. Mereka mengajak kita untuk berpikir lebih dalam tentang realitas dan eksistensi. Dalam “Inception”, kita diajak untuk mempertanyakan apa yang nyata dan apa yang hanya mimpi. Konsep ini berakar dari filsafat Descartes yang terkenal dengan ungkapan “Cogito, ergo sum”. Dengan kata lain, “Saya berpikir, maka saya ada”. Ini mengajak kita untuk merenungkan tentang kesadaran dan eksistensi kita sendiri. Ketika menulis, kita bisa mengambil inspirasi dari pertanyaan-pertanyaan ini dan menciptakan karakter atau plot yang menggugah pemikiran.

Bahkan film-film superhero seperti “The Dark Knight” juga mengangkat pertanyaan moral yang kompleks. Karakter seperti Batman dan Joker mewakili dualitas antara kebaikan dan kejahatan. Dalam konteks ini, kita bisa menggali pemikiran filsafat moral, seperti utilitarianisme. Apa yang benar dan salah? Apakah tujuan yang ‘benar’ bisa membenarkan cara yang ‘salah’? Pertanyaan-pertanyaan ini bisa menjadi inti dari konflik dalam cerita kita.

Jadi jika kamu buntu dalam mencari ide buku, coba lah membaca berbagai konsep filsafat yang baru. Bisa jadi menjadi pemantik ide-ide segar.

Menerapkan Filsafat dalam Menulis

Filsafat bukan hanya sekadar teori yang terjebak dalam buku-buku tebal. Ia adalah alat yang bisa kita gunakan untuk memperdalam pemahaman dan kreativitas dalam menulis. Ketika kita berbicara tentang menerapkan filsafat dalam proses menulis, kita sebenarnya sedang membahas bagaimana cara berpikir kritis dan kreatif. Mari kita lihat beberapa cara konkret untuk menerapkan pemikiran filsafat dalam tulisan kita.

Pertama, coba gunakan metode Socratic questioning. Metode ini mengajak kita untuk bertanya lebih dalam tentang ide-ide yang kita miliki. Misalnya, jika kamu sedang menulis tentang kebahagiaan, tanyakan pada dirimu sendiri: Apa itu kebahagiaan? Apakah kebahagiaan itu sama untuk semua orang? Dengan bertanya seperti ini, kamu bisa menggali lebih dalam dan menemukan sudut pandang baru yang mungkin belum pernah kamu pikirkan sebelumnya. Ini bisa jadi bahan yang kaya untuk tulisanmu.

Kedua, gunakan berbagai aliran filsafat untuk mencari ide cerita. Filsafat mengajarkan kita untuk melihat suatu isu dari berbagai sudut pandang. Cobalah untuk menulis dari perspektif yang berbeda. Misalnya, jika kamu menulis tentang konflik, coba tulis dari sudut pandang kedua belah pihak. Misalnya, apakah bahagia itu cukup dari kenikmatan, seperti ajaran Epicurus? Atau kebahagiaan hanya bisa datang dari karakter yang baik, seperti ajaran Aristoteles? Apakah ada dunia jiwa yang tak berbadan, seperti dipahami kaum dualis Plato dan Descartes? Atau roh itu tidak ada, dan seluruh jiwa kita hanya terdiri dari sinyal-sinyal listrik sel otak, seperti kesimpulan Spinoza? Memahami berbagai pandangan dalam filsafat tidak hanya akan memperkaya ide tulisanmu, tetapi juga membantu pembaca memahami kompleksitas situasi yang kamu bahas.

Penutup

Jadi, saatnya untuk merombak cara pandangmu dalam menulis. Filsafat bukan hanya untuk dipelajari, tetapi juga untuk diterapkan. Dengan menerapkan pemikiran filsafat dalam proses menulis, kamu bisa menciptakan karya yang lebih dalam, berwarna, dan menggugah pemikiran. Ingat, setiap ide yang kamu tulis adalah hasil dari pemikiran yang mendalam. Jadi, jangan ragu untuk menggali lebih dalam dan menemukan suara unikmu sebagai penulis.[T]

BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024

Sains & Fiksi, Puncak Kelindan Fakta dan Imajinasi
Khasanah Rempah, Makanan dan Obat Bagi Raga
Tags: filsafatHenry Manampiringmenulissainsseni berpikirSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sains & Fiksi, Puncak Kelindan Fakta dan Imajinasi

Next Post

Khasanah Rempah, Makanan dan Obat Bagi Raga

Henry Manampiring

Henry Manampiring

Penulis buku best seller "Filosofi Teras"

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Khasanah Rempah, Makanan dan Obat Bagi Raga

Khasanah Rempah, Makanan dan Obat Bagi Raga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co