3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lika-liku Ambisi Perempuan Dalam Novel “Aroma Karsa” Karya Dee Lestari

IGA Putu Preti Meliani by IGA Putu Preti Meliani
February 23, 2023
in Ulas Buku
Lika-liku Ambisi Perempuan Dalam Novel “Aroma Karsa” Karya Dee Lestari

Novel Aroma Karsa

DALAM BERBAGAI CERITA kerap perempuan digambarkan sebagai sosok yang tangguh dan tidak mudah mengeluh. Kesibukan perempuan dalam meniti karier, tak berarti dia mesti melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu.

Hal ini mengingatkan saya akan sebuah novel Aroma Karsa karya Dee Lestari. Aroma Karsa merupakan salah satu buku best seller karya Dee Lestari yang ke-12.

Aroma Karsa adalah novel bergenre fiksi, romansa, dan fantasi yang mengangkat tema aroma dan penciuman yang memiliki relasi kuat dengan parfum, kosmetik, dan daya tarik erotis. Bahkan aromanya kental akan karsa feminisme.

Meskipun bergenre fantasi, Aroma Karsa tidak mengambil latar di dunia rekaan sehingga pembaca tidak kesulitan membayangkan adegan-adegannya.

Novel ini diterbitkan Bentang Pustaka (2018). Dalam novel ini, yang menarik, ada beberapa unsur cerita seperti petualangan, misteri, percintaan, keluarga, dan legenda kuno dari zaman Majapahit yang merupakan perpaduan antara imajinasi dan riset mendalam oleh pengarangnya mengenai folklore, filosofi, budaya, humanisme, kekayaan diksi.

Memang ciri khas Dee Lestari adalah mengangkat kisah-kisah yang berkaitan dengan mitologi, berbau klenik, sejarah, dan petualangan yang kemudian ia tuangkan ke dalam sebuah cerita.

Dalam novel Arom Karsa diceritakan juga tokoh perempuan yang kuat dan tangguh bernama Raras Prayagung. Raras Prayagung digambarkan sebagai seorang wanita berkelas, anggun, dan sukses rasanya membuat iri para pembaca wanita melihat betapa kuatnya sosok ini.

Novel ini dimulai dengan penceritaan tentang lontar-lontar yang berisi tentang petunjuk keberadaan Puspa Karsa yang memiliki kesinambungan dengan Prasasti Planggatan yang ada di Sukuh, Lawu Karanganyar.

Terdapat satu tempat yang cukup menonjol dalam Aroma Karsa ialah Gunung Lawu dengan segala kompleksitas unsur mistiknya. Kita ketahui sendiri bahwa Gunung Lawu adalah salah satu gunung yang ada di Jawa, yang konon menyimpan hal magis di dalamnya. Tidak semua orang diberi anugerah untuk melihat bahkan mencium wanginya. Untuk itu, pembaca harus mau menembus batas pikir dan logika manusia yang tidak masuk akal.

Puspa Karsa memang bukan bunga biasa, maka itu mencarinya bukanlah hal yang mudah dan harus memasuki alam yang berbeda. Alam yang bukan disinggahi manusia, melainkan Alam Para Dewa. Puspa Karsa adalah sebuah tumbuhan yang digambarkan dengan aroma yang dapat mengubah seluruh dunia.

Di awal cerita Aroma Karsa, pembaca telah dibuat penasaran dengan Puspa Karsa (sebuah bunga Anggrek magis yang diyakini memiliki daya (karsa) yang luar biasa). Apakah benar-benar ada atau hanya fiktif belaka?

Digambarkan tokoh Raras Prayagung yang di masa kecilnya tidak percaya dengan cerita neneknya (Janirah Prayagung), dengan semakin tumbuh besarnya Raras, ia meyakini keberadaan Puspa Karsa bertempat di Gunung Lawu dengan bantuan Profesor Sudjatmiko melalui hasil penelitian dari lontar-lontar kuno. Lokasi taman Puspa Karsa memanfaatkan lingkungan budaya masyarakat Jawa Tengah yang melahirkan beragam mitos, namun masih diyakini kebenarannya.

“Alkisah di sebuah gunung suci, terdapat kerajaan hutan bernama Alas Kalingga. Alas Kalingga bukan hutan biasa. Alas Kalingga terhubung langsung dengan alam dewa-dewi yang disebut Batarawana. Hewan-hewan hidup seribu tahun lamanya, bunga-bunga mekar wangi sepanjang masa. Di sanalah tempat segala dewa-dewi tumbuhan menyebarkan serbuk mereka, sudah saatnya Puspa Karsa yang memiliki daya pikat tiada duanya. Wangi kembangnya membuat apapun dan siapapun tergila-gila, bertekuk lutut pada kehendaknya. Lebah-lebah dan serangga penyerbuk rela datang dari ujung Nusantara hanya untuk mengecap sari Puspa Karsa”. (Aroma Karsa; 419-420)

Lontar-lontar tersebutlah yang membawa Raras Prayagung, sebagai tokoh seorang Direktur Utama, dari Perusahaan Kosmetik dan Parfum terkemuka, Kemara, terobsesi pada bunga memikat yang mampu meredam bau dan memegang kendali tubuh semua makhluk yakni Puspa Karsa dan mengatur sebuah ekspedisi beserta penelitian untuk mengunduh wanginya sang legenda Puspa Karsa.

Tidak hanya itu novel ini juga mengisahkan seorang pemuda yang dibesarkan di kawasan kumuh, TPA Bantar Gebang bernama Jati Wesi. Ia digambarkan memiliki penciuman aroma yang tidak biasa, berbeda dengan orang-orang pada umumnya sehingga ia mampu bekerja di Toko parfum refill Attarwala milik Khalil Batarfi, sebagai peracik parfum.

Di sisi lain Raras Prayagung diceritakan memiliki seorang anak perempuan bernama Tanaya suma yang mempunyai kemampuan serupa dengan jati. Perkenalan antara Jati Wesi dengan keluarga Prayagung bermula ketika Jati wesi memalsukan sebuah parfum buatan PT. Kemara milik keluarga Prayagung.

Aroma Karsa sejatinya adalah kisah perjalanan Suma dan Jati dalam mencari jati dirinya. Suma dan Jati merupakan dua orang yang sama-sama memiliki kemampuan dalam penciuman yang ditakdirkan Tuhan untuk bertemu. Aroma adalah kunci bagi keduanya untuk saling mengerti.

Dua tokoh utama ini menjadi fokus cerita pada akhirnya harus bersama-sama menuruti ambisi Raras Prayagung dalam mencari Puspa Karsa. Ambisi seorang tokoh perempuan, Raras Prayagung untuk menemukan Puspa Karsa merupakan amanat neneknya, Janirah. Raras Prayagung mengabdikan hidupnya untuk mencari Puspa Karsa, dengan iming-iming dunia akan digenggamnya ia pun rela kehilangan banyak.

Terlepas dari itu semua, tak bisa dipungkiri bahwa menjelaskan sebuah aroma merupakan fenomena yang cukup sulit untuk dipahami. Aroma tidak hanya berhubungan dengan persoalan biologis dan psikologis, melainkan juga budaya. Yang terkait dengan kompleksitas sosial dan sejarah.

Dengan menerapkan teori Strukturalisme Claude Levi-Strauss yang berupa miteme yaitu unsur-unsur terkecil dalam mitos, kehadiran Puspa Karsa dan tokoh-tokoh mitologi lainnya memberikan fungsi tersendiri, salah satunya untuk memberikan pemahaman bahwa ada kekuatan lain yang hidup berdampingan dengan manusia.

Tokoh Raras digambarkan memang mempunyai ambisi untuk menemukan Puspa karsa, sebuah tanaman legenda yang hanya memberi petunjuk kepada orang-orang pilihan lewat baunya dan dipercaya mampu mengendalikan kehendak sang pemilik.

Awalnya ia tidak percaya dengan legenda tersebut, namun cerita-cerita yang diceritakan neneknya dan lembaran lontar kuno beserta tiga tube perunggu yang ditemukan neneknya membuat Raras menjadi yakin bahwa Puspa Karsa benar-benar ada.

            Porsi pertama akan mengubah nasibmu.

            Porsi kedua akan mengubah nasib keturunanmu.

            Porsi ketiga akan mengubah dunia sebagaimana keinginanmu. (Aroma Karsa; 9)

Ketika manusia dikendalikan oleh ambisi maka tak satupun hal yang dapat menghalangi. Obsesi tokoh Raras pada novel Aroma Karsa dalam memburu Puspa Karsa yang dikenal sebagai bunga sakti yang konon mampu mengendalikan kehendak dan hanya mampu diidentifikasi melalui aroma itu, mengalami banyak lika-liku perjalanan yang sulit dilalui.

Dimulai dari ekspedisi pertamanya yang gagal sehingga mengakibatkan kakinya lumpuh total. Namun, hal itu tetap tidak mematahkan tekad bulat Raras untuk berambisi menemukan Puspa Karsa. Siapa sangka ambisi bisa mengalahkan segalanya, sementara ekspedisi kedua, yang masih dalam kontrol Raras, tak cukup dengan kemampuan anak tunggalnya, Tanaya Suma, Raras nekat memanfaatkan kemampuan Jati yang mempunyai kemampuan serupa dengan anaknya untuk memenuhi hasrat dan keinginannya demi mendapatkan Puspa Karsa yang diincarnya.

Sayangnya niat busuk Raras untuk memperalat Jati dan Suma guna mendapatkan Puspa Karsa perlu dibayar dengan nyawanya. Raras meninggal sebelum ia benar-benar tahu apa dan bagaimana persisnya bentuk serta aroma Puspa Karsa itu.

Demikianlah akhir perjalanan dari lika-liku ambisi perempuan dalam novel Aroma Karsa. Akhir yang begitu tragis bukan? bagi seorang perempuan yang ambis, rela mengorbankan orang lain demi kepentingan pribadi yang penuh ambisi tetapi juga sekaligus menjadi penjemput ajalnya. Cerminan seorang perempuan yang penuh ambisi sangat melekat pada tokoh Raras Prayagung, di dalam novel Aroma Karsa benar-benar terpampang jelas disetiap alur ceritanya, namun akhir cerita yang dibuat ’menggantung’ tentunya akan menimbulkan banyak pertanyaan dibenak para pembaca.

Meskipun berhasil dalam karier, seorang tokoh Raras Prayagung gagal menjadi sosok ibu yang baik bagi anaknya, sehingga berbanding terbalik dengan perempuan pada umumnya yang lebih mementingkan anaknya melebihi nyawanya sendiri. Kendati demikian, tidak mesti menyurutkan pembaca untuk tetap mencari sisi positif dari tokoh tersebut. [T]

BACA artikel lain tentang ULASAN BUKU

Dunia Patriarki Dalam Novel “Lelaki Harimau” Karya Eka Kurniawan
Galungan dan Representasi Budaya Bali Dalam Kumpulan Puisi “Menanam Puisi di Emperan Matamu” Karya Wayan Esa Bhaskara
Dunia Penuh Luka Dalam Kumpulan Cerpen “Luka Batu” Karya Komang Adnyana
Tags: Dee LestarinovelPerempuanSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dunia Patriarki Dalam Novel “Lelaki Harimau” Karya Eka Kurniawan

Next Post

Kisah Sukses Digitalisasi di Buleleng, Salah Satunya Pengelolaan Parkir di Pasar Anyar

IGA Putu Preti Meliani

IGA Putu Preti Meliani

I Gusti Ayu Putu Preti Meliani. Lahir di Banjar, 1Buleleng. Sekarang sedang menempuh pendidikan di STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Gemar menulis puisi dan sering mengikuti kegiatan menulis bersama, dalam antologi puisi. Beberapa puisinya sempat terpilih dan dibukukan dalam antologi puisi buku yang berjudul Pesan Dari Hujan/Gerimis Hujan Menyemai Perasaan, Pintu Keluar Toko Kenangan, dan Dialog Senja Di Pelupuk Mata.

Related Posts

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Sukses Digitalisasi di Buleleng, Salah Satunya Pengelolaan Parkir di Pasar Anyar

Kisah Sukses Digitalisasi di Buleleng, Salah Satunya Pengelolaan Parkir di Pasar Anyar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co