5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dunia Penuh Luka Dalam Kumpulan Cerpen “Luka Batu” Karya Komang Adnyana

Kadek Windari by Kadek Windari
December 25, 2022
in Ulas Buku
Dunia Penuh Luka Dalam Kumpulan Cerpen “Luka Batu” Karya Komang Adnyana

Sampul buku kumpulan cerpen Luka Batu karya Komang Adnyana

HIDUP ADALAH pilihan. Manusia diciptakan untuk menikmati kehidupan di dunia. Manusia berhak memilih kehidupan yang ingin ditempuh. Namun sejatinya, hanya Tuhanlah yang pantas menentukan kehidupan makhluk-makhluk di dunia. Ketika Tuhan sudah berkehendak, makhluk-makhluk ciptaannya pun tak bisa berbuat apa.

Kehidupan adalah sebuah proses. Begitu banyak proses yang dilewati untuk menikmati kehidupan. Tak jarang juga proses itu gagal untuk dinikmati. Walau demikian, proses tersebut tetap menjadi sebuah perjalanan menuju kehidupan sesungguhnya. Dalam berkehidupan, tak hanya manusia yang dapat merasakan setiap prosesnya tetapi semua makhluk ciptaan Tuhan baik itu benda hidup atau benda mati pasti akan menikmati setiap proses dalam kehidupan.

Penulis kumpulan cerpen “Luka Batu” ini juga merasakan proses dari kehidupan. Komang Adnyana, sang penulis, menuangkan semua perasaan pada setiap proses kehidupan tokoh-tokohnya dalam buku ini. Tak jarang proses tersebut menimbulkan “perih”, “pedih”, bahkan seringkali “luka” bagi diri.

Terluka dalam menikmati sebuah proses adalah hal yang biasa. Di dunia, tak semua hal dapat terbentuk dengan indah. Banyak pergulatan, persinggungan, bahkan pertumpahan darah dapat menyertai sebuah proses kehidupan di dunia.

Kumpulan cerpen “Luka Batu” karya Komang Adnyana ini sangat menarik, judul dan isi sangat sesuai dengan yang diinterpretasikan. Buku ini diterbitkan tahun 2022 oleh Mahima Institute Indonesia. Dalam buku yang memiliki 150 halaman dan  terdapat 18 judul cerpen yang masing-masing judulnya memiliki cerita serta karakter yang hampir sama.

Cerpen-cerpen ini merupakan interpretasi kehidupan di dunia yang penuh dengan luka. Semua tokoh dalam kumpulan cerpen ini memiliki luka tersendiri dalam proses menikmati kehidupannya.

Sesuai dengan judulnya yaitu “Luka Batu”, penulis selalu menyisipkan atau memberikan luka pada setiap karakter tokoh utama di kumpulan cerpen ini. Namun, tak semua luka tersebut dijelaskan apa penyebabnya bahkan penulis juga tak menjelaskan sesungguhnya apa arti luka itu. Pola penulisan seperti ini sangat menantang pembaca atau penikmat karena membuat mereka berpikir dan bertanya-tanya tentang kebenaran sehingga menimbulkan interpretasi cerita sendiri.

Kumpulan cerpen ini memang memiliki ciri khasnya sendiri. Mulai dari judul cerpen, karakter tokoh bahkan isi ceritanya pun tidak mudah untuk ditebak. Pembaca ataupun penikmat buku ini memerlukan konsentrasi penuh agar dapat memahami jalannya cerita.

Sebagian besar kumpulan cerpen di buku ini memiliki alur dan akhir cerita yang masih ‘menggantung’ dalam artian tidak dituntaskan oleh penulis. Sehingga pembaca atau penikmat karyanya harus memikirkan sendiri akhir dari cerita yang dibaca.

Problematika dalam kumpulan cerpen “Luka Batu’ ini merupakan interpretasi problematika kehidupan manusia di dunia. Dalam cerpen-cerpennya menceritakan bahwa semua makhluk yang ada di dunia pasti bisa terluka.

Tak hanya manusia bahkan benda mati pun juga bisa terluka. Dengan merasakan perasaan itulah penulis menuangkannya dalam kumpulan cerpen ini sehingga pembaca ataupun penikmat karya mengetahui bahwa dunia tak selamanya bercerita tentang keindahan.

Dalam buku yang terdiri dari 18 judul cerpen ini memang menarik dan layak untuk dibaca. Dari semua judul cerpen dalam buku karya Komang Adnyana ini lebih cenderung membahas aktifitas sosial manusia. Mulai dari kematian lelaki yang dibunuh sekelompok anggota ormas, rahasia dibalik tato seorang wanita penggoda, wasiat dari seorang pengusaha, perempuan yang menenggelamkan diri, bahkan pernikahan seorang gadis dengan pria pencinta semua wanita diceritakannya dalam kumpulan cerpen ini.

Semua cerpen ini memiliki konfliknya sendiri tetapi dalam tema yang sama yaitu membahas tentang dunia yang penuh dengan luka.

Problematika pada salah satu judul cerpen “Lina dan Angsa Taman Kota” dalam buku ini mengisahkan Lina, seorang perempuan berumur sembilan belas tahun sedang patah hati. Ia mencoba melupakan masa lalu dan menjalani kehidupannya hari demi hari.

Setiap dua kali seminggu, tepat pada tengah hari, Lina mengunjungi sebuah taman yang terdapat danau buatan didalamnya serta ada beberapa angsa berbulu indah yang berenang dengan bebas. Ia sangat senang melihat langit biru yang terlihat sangat indah dari taman itu.

Namun, kebiasaannya yang melihat langit biru di tengah hari itu ternyata membuat dirinya pergi dengan selamanya. Apakah Lina sudah pergi ke langit biru sekarang? Tepat di bawah langit biru yang maha kuasa Lina mengakhiri hidupnya dan tepat setelah ia mengatakan ingin melupakan masa lalu.

Permasalahan yang dihadapi Lina itu merupakan salah satu fenomena yang dihadapi oleh anak muda masa kini. Kebanyakan dari mereka yang memilih mengakhiri hidupnya setelah putus cinta. Pemikiran dan sikap yang seperti itu sudah meracuni generasi muda bangsa ini. Hanya dengan satu ‘luka’ mereka sudah bisa memilih keputusan itu.

Penulis kumpulan cerpen ini secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa dunia sebenarnya penuh dengan permasalahan, penuh dengan kepedihan. Setiap manusia bisa terluka, namun manusia bisa memilih cara dalam menghadapi luka itu.

Seperti pada judul cerpen “Penari Api” dalam buku ini juga menceritakan fenomena yang ditemukan dalam kehidupan. Dalam cerpen ini mengisahkan Sandat, seorang perempuan penari joget yang dipandang sebagai pembawa aib dan membuat malu keluarga.

Penari joget dianggap tidak baik dan selalu terkesan buruk karena penggoda laki-laki dan milik setiap orang. Sekalipun pada dasarnya mereka gadis baik-baik dan terhormat. Orang tua Sandat sangat melarang dirinya untuk menari sebab mereka malu dan merasa terhina melihat anaknya sendiri berada di panggung dengan melenggokkan pinggulnya.

Suatu ketika ada dua orang datang bertamu ke rumah Sandat. Mereka menginginkan Sandat untuk menari serta meneken kontrak dengan pihak hotel selama enam bulan. Namun, keluarga Sandat tidak mengizinkannya. Dengan terkejutnya, dua orang itu mengungkapkan rahasia besar kepada Sandat. Mereka mengatakan bahwa dahulunya orang tua Sandat merupakan seorang penari joget dan pengibing. Semenjak mendengar hal itu, taka da lagi batasan bagi Sandat untuk menari.

Melihat fenomena itu, masalah sosial yang dihadapi orang tua Sandat juga merupakan masalah yang dihadapi dalam masyarakat sekitar terutama yang tinggal di desa. Orang tua Sandat tidak ingin dirinya dihina ataupun dikucilkan masyarakat hanya karena dirinya seorang penari joget. Dalam kehidupan masyarakat juga masih menganggap bahwa penari joget itu memiliki kesan yang buruk. Padahal penari hanyalah penari, mereka hanya seorang penari di atas panggung. Selepas itu mereka tetap seorang manusia yang bermasyarakat.

Cerpen-cerpen yang disebutkan itu hanya beberapa cerpen yang terdapat dalam buku kumpulan cerpen “Luka Batu” karya Komang Adnyana. Cerpen-cerpen tersebut memiliki pola penulisan yang sama dari segi isi cerita.

Penulis selalu memberikan tokoh utama ‘luka’ dalam proses penceritaannya. Namun, ada beberapa cerpen yang penulis juga tak mengungkapkan apakah ‘luka’ tersebut sembuh atau masih ada dalam diri tokoh. Penulis memiliki pola pikir yang unik dengan menuangkan pikiran dan perasaannya tentang kejamnya dunia dalam sebuah tulisan.            

Beberapa cerpen ini juga terkesan ‘menggantung’ pada akhir ceritanya karena penulis tak menuntaskan dengan jelas akhir dari cerita. Hal ini membuat pembaca sangat bertanya-tanya bagaimana akhir yang sebenarnya dari cerita-cerita ini.

Dengan begitu, cerpen-cerpen ini tidak hanya memiliki satu sudut pandang dari penulis saja melainkan juga sudut pandang dari penikmat karya karena akhir cerita yang ‘menggantung’ seperti inilah membuat isi dari cerpen-cerpen ini banyak menimbulkan interpretasi tersendiri.

Sisi psikologi penulis sangat terlihat dalam buku ini. Dilihat dari judulnya “Luka Batu” sudah bisa menggambarkan bagaimana isi dari kumpulan cerpen ini. Penulis seolah-olah ingin menggambarkan seluruh cerita dalam buku ini dengan sebuah luka yang bisa disembuhkan ataupun tidak. Namun, tak disangka bahwa arti dari judul kumpulan cerpen ini ternyata bukan seperti itu yang dimaksudkan.

Sepertinya, penulis memberikan judul “Luka Batu” bukan semata-mata hanya ingin menggambarkan luka apa yang dihadapi oleh tokoh. Tetapi penulis juga ingin menggambarkan bahwa setiap makhluk di dunia tentu saja dapat terluka. Dalam buku ini, penulis menjelaskan apa arti dari kehidupan yang sesungguhnya. Bahwa kehidupan tak selamanya terbentuk indah tetapi juga dapat terbentuk luka. Itulah yang dimaksud dengan “Luka Batu”. Luka yang selalu ada dan selamanya akan tetap menyertai proses kehidupan semua makhluk di dunia.

Kumpulan cerpen “Luka Batu” karya Komang Adnyana ini sangat bagus dan menarik untuk dibaca semua kalangan. Cerpen ini sangat menginspirasi pembaca atau penikmat karya dengan problematika yang ada dalam kumpulan cerpen ini. Dari semua judul menggambarkan tentang dunia yang penuh dengan problematika kehidupan yang membuat semua makhluk dapat terluka. Namun, selalu ada banyak cara untuk menghadapi problematika tersebut.

Dari semua cerpen dalam buku ini, banyak hal yang dapat dipetik salah satunya, manusia memang diciptakan untuk menikmati sebuah luka agar dapat menuju proses kehidupan yang lebih layak. Dengan luka itu manusia berhak memilih untuk melanjutkan kehidupannya. Manusia hanya bisa berencana tetapi hanya Tuhanlah yang pada akhirnya selalu menentukan nasib dan takdir semua makhluk yang ada di dunia.

“Dunia memang penuh luka bagi semua makhluk ciptaan Tuhan” [T]

Cerminan Sejarah Bali Pada Novel “Kota Kabut Walli Jing-Kang” Karya Manik Sukadana
Dilema Masa Lalu dan Masa Depan Dalam “Langit Dibelah Dua” Karya Gde Aryantha Soethama
Ngurah Parsua dan Karyanya: Prosa yang Reflektif, Puisi yang Jernih
Tags: Cerpenresensi bukusastraUniversitas PGRI Mahadewa Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Khotbah di Bukit’, Sebuah Kenangan Iman

Next Post

Misteri Cinta dan Kematian Dalam Kumpulan Cerpen “Kisah Cinta dan Dongeng Yang Dimakamkan” Karya I Putu Agus Phebi Rosadi

Kadek Windari

Kadek Windari

Tinggal dan menetap di Denpasar. Gemar menulis dan bercerita

Related Posts

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails
Next Post

Misteri Cinta dan Kematian Dalam Kumpulan Cerpen “Kisah Cinta dan Dongeng Yang Dimakamkan” Karya I Putu Agus Phebi Rosadi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane
Cerpen

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

by Wayan Gde Yudane
June 5, 2026
Puisi-puisi Ama Gaspar
Puisi

Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

by Ama Gaspar
June 5, 2026
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui
Khas

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif
Panggung

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku
Esai

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

by I Wayan Artika
June 5, 2026
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem
Panggung

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta
Esai

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

by Chusmeru
June 5, 2026
‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co