9 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dunia Penuh Luka Dalam Kumpulan Cerpen “Luka Batu” Karya Komang Adnyana

Kadek Windari by Kadek Windari
December 25, 2022
in Ulas Buku
Dunia Penuh Luka Dalam Kumpulan Cerpen “Luka Batu” Karya Komang Adnyana

Sampul buku kumpulan cerpen Luka Batu karya Komang Adnyana

HIDUP ADALAH pilihan. Manusia diciptakan untuk menikmati kehidupan di dunia. Manusia berhak memilih kehidupan yang ingin ditempuh. Namun sejatinya, hanya Tuhanlah yang pantas menentukan kehidupan makhluk-makhluk di dunia. Ketika Tuhan sudah berkehendak, makhluk-makhluk ciptaannya pun tak bisa berbuat apa.

Kehidupan adalah sebuah proses. Begitu banyak proses yang dilewati untuk menikmati kehidupan. Tak jarang juga proses itu gagal untuk dinikmati. Walau demikian, proses tersebut tetap menjadi sebuah perjalanan menuju kehidupan sesungguhnya. Dalam berkehidupan, tak hanya manusia yang dapat merasakan setiap prosesnya tetapi semua makhluk ciptaan Tuhan baik itu benda hidup atau benda mati pasti akan menikmati setiap proses dalam kehidupan.

Penulis kumpulan cerpen “Luka Batu” ini juga merasakan proses dari kehidupan. Komang Adnyana, sang penulis, menuangkan semua perasaan pada setiap proses kehidupan tokoh-tokohnya dalam buku ini. Tak jarang proses tersebut menimbulkan “perih”, “pedih”, bahkan seringkali “luka” bagi diri.

Terluka dalam menikmati sebuah proses adalah hal yang biasa. Di dunia, tak semua hal dapat terbentuk dengan indah. Banyak pergulatan, persinggungan, bahkan pertumpahan darah dapat menyertai sebuah proses kehidupan di dunia.

Kumpulan cerpen “Luka Batu” karya Komang Adnyana ini sangat menarik, judul dan isi sangat sesuai dengan yang diinterpretasikan. Buku ini diterbitkan tahun 2022 oleh Mahima Institute Indonesia. Dalam buku yang memiliki 150 halaman dan  terdapat 18 judul cerpen yang masing-masing judulnya memiliki cerita serta karakter yang hampir sama.

Cerpen-cerpen ini merupakan interpretasi kehidupan di dunia yang penuh dengan luka. Semua tokoh dalam kumpulan cerpen ini memiliki luka tersendiri dalam proses menikmati kehidupannya.

Sesuai dengan judulnya yaitu “Luka Batu”, penulis selalu menyisipkan atau memberikan luka pada setiap karakter tokoh utama di kumpulan cerpen ini. Namun, tak semua luka tersebut dijelaskan apa penyebabnya bahkan penulis juga tak menjelaskan sesungguhnya apa arti luka itu. Pola penulisan seperti ini sangat menantang pembaca atau penikmat karena membuat mereka berpikir dan bertanya-tanya tentang kebenaran sehingga menimbulkan interpretasi cerita sendiri.

Kumpulan cerpen ini memang memiliki ciri khasnya sendiri. Mulai dari judul cerpen, karakter tokoh bahkan isi ceritanya pun tidak mudah untuk ditebak. Pembaca ataupun penikmat buku ini memerlukan konsentrasi penuh agar dapat memahami jalannya cerita.

Sebagian besar kumpulan cerpen di buku ini memiliki alur dan akhir cerita yang masih ‘menggantung’ dalam artian tidak dituntaskan oleh penulis. Sehingga pembaca atau penikmat karyanya harus memikirkan sendiri akhir dari cerita yang dibaca.

Problematika dalam kumpulan cerpen “Luka Batu’ ini merupakan interpretasi problematika kehidupan manusia di dunia. Dalam cerpen-cerpennya menceritakan bahwa semua makhluk yang ada di dunia pasti bisa terluka.

Tak hanya manusia bahkan benda mati pun juga bisa terluka. Dengan merasakan perasaan itulah penulis menuangkannya dalam kumpulan cerpen ini sehingga pembaca ataupun penikmat karya mengetahui bahwa dunia tak selamanya bercerita tentang keindahan.

Dalam buku yang terdiri dari 18 judul cerpen ini memang menarik dan layak untuk dibaca. Dari semua judul cerpen dalam buku karya Komang Adnyana ini lebih cenderung membahas aktifitas sosial manusia. Mulai dari kematian lelaki yang dibunuh sekelompok anggota ormas, rahasia dibalik tato seorang wanita penggoda, wasiat dari seorang pengusaha, perempuan yang menenggelamkan diri, bahkan pernikahan seorang gadis dengan pria pencinta semua wanita diceritakannya dalam kumpulan cerpen ini.

Semua cerpen ini memiliki konfliknya sendiri tetapi dalam tema yang sama yaitu membahas tentang dunia yang penuh dengan luka.

Problematika pada salah satu judul cerpen “Lina dan Angsa Taman Kota” dalam buku ini mengisahkan Lina, seorang perempuan berumur sembilan belas tahun sedang patah hati. Ia mencoba melupakan masa lalu dan menjalani kehidupannya hari demi hari.

Setiap dua kali seminggu, tepat pada tengah hari, Lina mengunjungi sebuah taman yang terdapat danau buatan didalamnya serta ada beberapa angsa berbulu indah yang berenang dengan bebas. Ia sangat senang melihat langit biru yang terlihat sangat indah dari taman itu.

Namun, kebiasaannya yang melihat langit biru di tengah hari itu ternyata membuat dirinya pergi dengan selamanya. Apakah Lina sudah pergi ke langit biru sekarang? Tepat di bawah langit biru yang maha kuasa Lina mengakhiri hidupnya dan tepat setelah ia mengatakan ingin melupakan masa lalu.

Permasalahan yang dihadapi Lina itu merupakan salah satu fenomena yang dihadapi oleh anak muda masa kini. Kebanyakan dari mereka yang memilih mengakhiri hidupnya setelah putus cinta. Pemikiran dan sikap yang seperti itu sudah meracuni generasi muda bangsa ini. Hanya dengan satu ‘luka’ mereka sudah bisa memilih keputusan itu.

Penulis kumpulan cerpen ini secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa dunia sebenarnya penuh dengan permasalahan, penuh dengan kepedihan. Setiap manusia bisa terluka, namun manusia bisa memilih cara dalam menghadapi luka itu.

Seperti pada judul cerpen “Penari Api” dalam buku ini juga menceritakan fenomena yang ditemukan dalam kehidupan. Dalam cerpen ini mengisahkan Sandat, seorang perempuan penari joget yang dipandang sebagai pembawa aib dan membuat malu keluarga.

Penari joget dianggap tidak baik dan selalu terkesan buruk karena penggoda laki-laki dan milik setiap orang. Sekalipun pada dasarnya mereka gadis baik-baik dan terhormat. Orang tua Sandat sangat melarang dirinya untuk menari sebab mereka malu dan merasa terhina melihat anaknya sendiri berada di panggung dengan melenggokkan pinggulnya.

Suatu ketika ada dua orang datang bertamu ke rumah Sandat. Mereka menginginkan Sandat untuk menari serta meneken kontrak dengan pihak hotel selama enam bulan. Namun, keluarga Sandat tidak mengizinkannya. Dengan terkejutnya, dua orang itu mengungkapkan rahasia besar kepada Sandat. Mereka mengatakan bahwa dahulunya orang tua Sandat merupakan seorang penari joget dan pengibing. Semenjak mendengar hal itu, taka da lagi batasan bagi Sandat untuk menari.

Melihat fenomena itu, masalah sosial yang dihadapi orang tua Sandat juga merupakan masalah yang dihadapi dalam masyarakat sekitar terutama yang tinggal di desa. Orang tua Sandat tidak ingin dirinya dihina ataupun dikucilkan masyarakat hanya karena dirinya seorang penari joget. Dalam kehidupan masyarakat juga masih menganggap bahwa penari joget itu memiliki kesan yang buruk. Padahal penari hanyalah penari, mereka hanya seorang penari di atas panggung. Selepas itu mereka tetap seorang manusia yang bermasyarakat.

Cerpen-cerpen yang disebutkan itu hanya beberapa cerpen yang terdapat dalam buku kumpulan cerpen “Luka Batu” karya Komang Adnyana. Cerpen-cerpen tersebut memiliki pola penulisan yang sama dari segi isi cerita.

Penulis selalu memberikan tokoh utama ‘luka’ dalam proses penceritaannya. Namun, ada beberapa cerpen yang penulis juga tak mengungkapkan apakah ‘luka’ tersebut sembuh atau masih ada dalam diri tokoh. Penulis memiliki pola pikir yang unik dengan menuangkan pikiran dan perasaannya tentang kejamnya dunia dalam sebuah tulisan.            

Beberapa cerpen ini juga terkesan ‘menggantung’ pada akhir ceritanya karena penulis tak menuntaskan dengan jelas akhir dari cerita. Hal ini membuat pembaca sangat bertanya-tanya bagaimana akhir yang sebenarnya dari cerita-cerita ini.

Dengan begitu, cerpen-cerpen ini tidak hanya memiliki satu sudut pandang dari penulis saja melainkan juga sudut pandang dari penikmat karya karena akhir cerita yang ‘menggantung’ seperti inilah membuat isi dari cerpen-cerpen ini banyak menimbulkan interpretasi tersendiri.

Sisi psikologi penulis sangat terlihat dalam buku ini. Dilihat dari judulnya “Luka Batu” sudah bisa menggambarkan bagaimana isi dari kumpulan cerpen ini. Penulis seolah-olah ingin menggambarkan seluruh cerita dalam buku ini dengan sebuah luka yang bisa disembuhkan ataupun tidak. Namun, tak disangka bahwa arti dari judul kumpulan cerpen ini ternyata bukan seperti itu yang dimaksudkan.

Sepertinya, penulis memberikan judul “Luka Batu” bukan semata-mata hanya ingin menggambarkan luka apa yang dihadapi oleh tokoh. Tetapi penulis juga ingin menggambarkan bahwa setiap makhluk di dunia tentu saja dapat terluka. Dalam buku ini, penulis menjelaskan apa arti dari kehidupan yang sesungguhnya. Bahwa kehidupan tak selamanya terbentuk indah tetapi juga dapat terbentuk luka. Itulah yang dimaksud dengan “Luka Batu”. Luka yang selalu ada dan selamanya akan tetap menyertai proses kehidupan semua makhluk di dunia.

Kumpulan cerpen “Luka Batu” karya Komang Adnyana ini sangat bagus dan menarik untuk dibaca semua kalangan. Cerpen ini sangat menginspirasi pembaca atau penikmat karya dengan problematika yang ada dalam kumpulan cerpen ini. Dari semua judul menggambarkan tentang dunia yang penuh dengan problematika kehidupan yang membuat semua makhluk dapat terluka. Namun, selalu ada banyak cara untuk menghadapi problematika tersebut.

Dari semua cerpen dalam buku ini, banyak hal yang dapat dipetik salah satunya, manusia memang diciptakan untuk menikmati sebuah luka agar dapat menuju proses kehidupan yang lebih layak. Dengan luka itu manusia berhak memilih untuk melanjutkan kehidupannya. Manusia hanya bisa berencana tetapi hanya Tuhanlah yang pada akhirnya selalu menentukan nasib dan takdir semua makhluk yang ada di dunia.

“Dunia memang penuh luka bagi semua makhluk ciptaan Tuhan” [T]

Cerminan Sejarah Bali Pada Novel “Kota Kabut Walli Jing-Kang” Karya Manik Sukadana
Dilema Masa Lalu dan Masa Depan Dalam “Langit Dibelah Dua” Karya Gde Aryantha Soethama
Ngurah Parsua dan Karyanya: Prosa yang Reflektif, Puisi yang Jernih
Tags: Cerpenresensi bukusastraUniversitas PGRI Mahadewa Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Khotbah di Bukit’, Sebuah Kenangan Iman

Next Post

Misteri Cinta dan Kematian Dalam Kumpulan Cerpen “Kisah Cinta dan Dongeng Yang Dimakamkan” Karya I Putu Agus Phebi Rosadi

Kadek Windari

Kadek Windari

Tinggal dan menetap di Denpasar. Gemar menulis dan bercerita

Related Posts

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails
Next Post

Misteri Cinta dan Kematian Dalam Kumpulan Cerpen “Kisah Cinta dan Dongeng Yang Dimakamkan” Karya I Putu Agus Phebi Rosadi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co