2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Khotbah di Bukit’, Sebuah Kenangan Iman

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 25, 2022
in Esai
‘Khotbah di Bukit’, Sebuah Kenangan Iman

Foto ilustrasi: Puncak Gereja Katedral Denpasar | Sumber foto; https://katedraldenpasar.com/

AYAH ANGKAT saya punya teman pendeta Kristen, namanya Om Runkaat. Beliau bertugas di Gereja Pantekosta di Negara, Jembrana, Bali. Setiap Natal tiba, ayah saya diundang menghadiri perayaan di gereja tersebut. Meski terlahir sebagai pemeluk Hindu, ayah tidak merasa keberatan datang ke gereja, ikut merasakan damai-sukacita atas kelahiran Sang Juru Selamat.

Saya menemani ayah ke gereja. Waktu itu saya duduk di sekolah menengah pertama. Masa itu, keberagaman tidak sekadar teori dan wacana tetapi dipraktikkan dalam keseharian. Dialog antar-iman yang ramai dibicarakan sekarang sudah dilakukan sejak dulu. Dibandingkan wilayah lain di Bali, Jembrana memang lebih heterogen.

Sejak ratusan lalu, warga lokal hidup berdampingan dengan suku lain: Melayu, Bugis, Arab, Cina, Jawa, dan Madura. Hidup damai dan toleran. Perbedaan tidak menjadi hal tabu. Bahkan, akulturasi agamadan budaya terjadi secara alami, tidak menjadi persoalan yang berarti.

Ikut dalam kebaktian di gereja, menjadi sebuah pengalaman yang lekat di ingatan bahkan setelah puluhan tahun berlalu.

Sekitar usia 6 tahun, saya pertama kali ‘mengenal’ sosok Yesus. Potretnya tergantung di dinding rumah sekaligus warung milik Ibu Lidya, tetangga kerabat saya. Tidak ada pertanyaan tentang siapa Yesus. Saya seakan paham, wajahnya yang teduh begitu meneduhkan. Dalam pemahaman anak kecil, hanya ada satu kata; beliau orang suci. Kesuciannya tergambar dalam potret.

Ashram Gandhi

Saat lulus SMA, saya melanjutkan studi ke Denpasar. Suatu hari saya menghadiri diskusi sastra di Ashram Gandhi Vidyapith, Jalan Sudirman, Denpasar. Rumah tua dengan arsitektur Belanda. Ashram, padepokan spiritual dalam terminologi Hindu. Ada nama Gandhi karena ashram tersebut mengajarkan nilai-nilai dan kebajikan Mahatma Gandhi, tokoh emoh kekerasan dan Bapak Bangsa India. Ashram Gandhi Vidyapith didirikan oleh Ibu Gedong Bagoes Oka yang pada waktu itu dosen Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Udayana.

Saya mengajukan diri untuk menjadi warga ashram. Saat itu Ibu Gedong sudah berpulang. Saya hanya mendengar tentang beliau dari para murid-muridnya. Selain di Denpasar, ashram Gandhi juga ada di Yogyakarta, diperuntukkan bagi para mahasiswa sama seperti ashram di Denpasar. Pusat ashram ada di Candidasa, Karangasem, kabupaten di ujung timur Bali. Ketika libur semester, saya dan warga ashram Denpasar menghabiskan waktu di sana.

Berlokasi di pinggir pantai, ashram itu dihuni para siswa sekolah selain tamu ashram, biasanya wisatawan asing yang berlibur ke Candidasa dan ingin merasakan suasana berbeda; spiritualitas. Ada kegiatan rutin seperti puja (sembahyang), yoga, meditasi, memasak, belajar bahasa Inggris yang semuanya dilakukan secara kolektif. Kebersamaan amat terasa. Meskipun kami berasal dari wilayah berbeda, semua seperti saudara dan keluarga sendiri.

Ashram Gandhi menjadi eksperimen bagaimana orang-orang yang berbeda keyakinan dapat hidup dan tinggal bersama tanpa rasa curiga, saling menghormati bahkan mengapresiasi ajaran agama di luar keyakinannya. Sesuatu yang kini dibutuhkan di masa fanatisme, fundamentalisme bahkan radikalisme agama menjadi sesuatu yang menakutkan dan membahayakan persatuan.

Pluralisme

Doa-doa yang dipanjatkan dan dikidungkan di Ashram Gandhi berasal dari berbagai agama. Hati saya tersentuh saat ‘Khotbah di Atas Bukit’ atau Sermon on the Mount dilantunkan oleh anak-anak ashram secara bergantian, dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Semilir angin pantai di  tempat kami duduk bersila membuat suasana semakin hening dan syahdu. Suasana meditatif itu membawa saya pada kisah Yesus saat duduk bersama para murid-Nya berbagi pencerahan.  

Setelah tidak lagi tinggal di ashram,bekerja dan tenggelam dalam rutinitas keseharian, saya merindukan kehidupan ashram. Pemahaman lintas-agama, pengalaman iman yang saya dapatkan dulu di ashram menjadi tidak sekadar kenangan, tetapi juga bekal kehidupan ketika berada di tengah masyarakat kota yang makin plural. Menerima dan menghargai perbedaan.

Di tengah pencarian identitas yang juga membuat politik identitas menguat beberapa tahun terakhir di Bali, keberadaan ashram dianggap sesuatu yang ‘mengancam’ eksistensi budaya Bali dan agama Hindu di Bali. Dalam amatan saya, dialektika yang terjadi tidak dilakukan melalui dialog terbuka sehingga menjadi sebuah pemaksaan kehendak. Sayang sekali hal ini terkesan dibiarkan, menjadi api dalam sekam yang bisa menciptakan konflik horizontal di masyarakat.

Bali mengajarkan sejak zaman dahulu bahwa perbedaan bukan menjadi penghalang untuk kita bisa hidup damai. Iman kita tidak akan ternoda jika mengapresiasi keyakinan lain. Kita akan merindukan sosok seperti Ibu Gedong Bagoes Oka yang terbuka untuk bersahabat dengan Gus Dur atau T.H. Sumartana dan para pendeta juga ulama. Bergandengan tangan mencari jalan keluar masalah-masalah riil yang dihadapi masyarakat. Agama tidak menjadi sekadar teks, tetapi juga tindakan  nyata dalam keseharian. Agama benar-benar hidup dan menghidupi manusia.

Selamat Natal untuk kita bersama. Semoga pikiran baik datang dari segala penjuru.[T]

Malam Natal di Singaraja, Santa Claus di Antara Pakaian Adat Bali
Natal, Imaji Tentang Awatara dan Evolusi
Jong Santiasa Putra || Empat Sajak di Hari Natal
Tags: baliHari NatalKristianiNataltoleransi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Flowers On Paper: Penyatuan Kertas Daur Ulang dan Bunga-Bunga Kecintaan

Next Post

Dunia Penuh Luka Dalam Kumpulan Cerpen “Luka Batu” Karya Komang Adnyana

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Dunia Penuh Luka Dalam Kumpulan Cerpen “Luka Batu” Karya Komang Adnyana

Dunia Penuh Luka Dalam Kumpulan Cerpen “Luka Batu” Karya Komang Adnyana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co