23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Khotbah di Bukit’, Sebuah Kenangan Iman

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 25, 2022
in Esai
‘Khotbah di Bukit’, Sebuah Kenangan Iman

Foto ilustrasi: Puncak Gereja Katedral Denpasar | Sumber foto; https://katedraldenpasar.com/

AYAH ANGKAT saya punya teman pendeta Kristen, namanya Om Runkaat. Beliau bertugas di Gereja Pantekosta di Negara, Jembrana, Bali. Setiap Natal tiba, ayah saya diundang menghadiri perayaan di gereja tersebut. Meski terlahir sebagai pemeluk Hindu, ayah tidak merasa keberatan datang ke gereja, ikut merasakan damai-sukacita atas kelahiran Sang Juru Selamat.

Saya menemani ayah ke gereja. Waktu itu saya duduk di sekolah menengah pertama. Masa itu, keberagaman tidak sekadar teori dan wacana tetapi dipraktikkan dalam keseharian. Dialog antar-iman yang ramai dibicarakan sekarang sudah dilakukan sejak dulu. Dibandingkan wilayah lain di Bali, Jembrana memang lebih heterogen.

Sejak ratusan lalu, warga lokal hidup berdampingan dengan suku lain: Melayu, Bugis, Arab, Cina, Jawa, dan Madura. Hidup damai dan toleran. Perbedaan tidak menjadi hal tabu. Bahkan, akulturasi agamadan budaya terjadi secara alami, tidak menjadi persoalan yang berarti.

Ikut dalam kebaktian di gereja, menjadi sebuah pengalaman yang lekat di ingatan bahkan setelah puluhan tahun berlalu.

Sekitar usia 6 tahun, saya pertama kali ‘mengenal’ sosok Yesus. Potretnya tergantung di dinding rumah sekaligus warung milik Ibu Lidya, tetangga kerabat saya. Tidak ada pertanyaan tentang siapa Yesus. Saya seakan paham, wajahnya yang teduh begitu meneduhkan. Dalam pemahaman anak kecil, hanya ada satu kata; beliau orang suci. Kesuciannya tergambar dalam potret.

Ashram Gandhi

Saat lulus SMA, saya melanjutkan studi ke Denpasar. Suatu hari saya menghadiri diskusi sastra di Ashram Gandhi Vidyapith, Jalan Sudirman, Denpasar. Rumah tua dengan arsitektur Belanda. Ashram, padepokan spiritual dalam terminologi Hindu. Ada nama Gandhi karena ashram tersebut mengajarkan nilai-nilai dan kebajikan Mahatma Gandhi, tokoh emoh kekerasan dan Bapak Bangsa India. Ashram Gandhi Vidyapith didirikan oleh Ibu Gedong Bagoes Oka yang pada waktu itu dosen Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Udayana.

Saya mengajukan diri untuk menjadi warga ashram. Saat itu Ibu Gedong sudah berpulang. Saya hanya mendengar tentang beliau dari para murid-muridnya. Selain di Denpasar, ashram Gandhi juga ada di Yogyakarta, diperuntukkan bagi para mahasiswa sama seperti ashram di Denpasar. Pusat ashram ada di Candidasa, Karangasem, kabupaten di ujung timur Bali. Ketika libur semester, saya dan warga ashram Denpasar menghabiskan waktu di sana.

Berlokasi di pinggir pantai, ashram itu dihuni para siswa sekolah selain tamu ashram, biasanya wisatawan asing yang berlibur ke Candidasa dan ingin merasakan suasana berbeda; spiritualitas. Ada kegiatan rutin seperti puja (sembahyang), yoga, meditasi, memasak, belajar bahasa Inggris yang semuanya dilakukan secara kolektif. Kebersamaan amat terasa. Meskipun kami berasal dari wilayah berbeda, semua seperti saudara dan keluarga sendiri.

Ashram Gandhi menjadi eksperimen bagaimana orang-orang yang berbeda keyakinan dapat hidup dan tinggal bersama tanpa rasa curiga, saling menghormati bahkan mengapresiasi ajaran agama di luar keyakinannya. Sesuatu yang kini dibutuhkan di masa fanatisme, fundamentalisme bahkan radikalisme agama menjadi sesuatu yang menakutkan dan membahayakan persatuan.

Pluralisme

Doa-doa yang dipanjatkan dan dikidungkan di Ashram Gandhi berasal dari berbagai agama. Hati saya tersentuh saat ‘Khotbah di Atas Bukit’ atau Sermon on the Mount dilantunkan oleh anak-anak ashram secara bergantian, dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Semilir angin pantai di  tempat kami duduk bersila membuat suasana semakin hening dan syahdu. Suasana meditatif itu membawa saya pada kisah Yesus saat duduk bersama para murid-Nya berbagi pencerahan.  

Setelah tidak lagi tinggal di ashram,bekerja dan tenggelam dalam rutinitas keseharian, saya merindukan kehidupan ashram. Pemahaman lintas-agama, pengalaman iman yang saya dapatkan dulu di ashram menjadi tidak sekadar kenangan, tetapi juga bekal kehidupan ketika berada di tengah masyarakat kota yang makin plural. Menerima dan menghargai perbedaan.

Di tengah pencarian identitas yang juga membuat politik identitas menguat beberapa tahun terakhir di Bali, keberadaan ashram dianggap sesuatu yang ‘mengancam’ eksistensi budaya Bali dan agama Hindu di Bali. Dalam amatan saya, dialektika yang terjadi tidak dilakukan melalui dialog terbuka sehingga menjadi sebuah pemaksaan kehendak. Sayang sekali hal ini terkesan dibiarkan, menjadi api dalam sekam yang bisa menciptakan konflik horizontal di masyarakat.

Bali mengajarkan sejak zaman dahulu bahwa perbedaan bukan menjadi penghalang untuk kita bisa hidup damai. Iman kita tidak akan ternoda jika mengapresiasi keyakinan lain. Kita akan merindukan sosok seperti Ibu Gedong Bagoes Oka yang terbuka untuk bersahabat dengan Gus Dur atau T.H. Sumartana dan para pendeta juga ulama. Bergandengan tangan mencari jalan keluar masalah-masalah riil yang dihadapi masyarakat. Agama tidak menjadi sekadar teks, tetapi juga tindakan  nyata dalam keseharian. Agama benar-benar hidup dan menghidupi manusia.

Selamat Natal untuk kita bersama. Semoga pikiran baik datang dari segala penjuru.[T]

Malam Natal di Singaraja, Santa Claus di Antara Pakaian Adat Bali
Natal, Imaji Tentang Awatara dan Evolusi
Jong Santiasa Putra || Empat Sajak di Hari Natal
Tags: baliHari NatalKristianiNataltoleransi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Flowers On Paper: Penyatuan Kertas Daur Ulang dan Bunga-Bunga Kecintaan

Next Post

Dunia Penuh Luka Dalam Kumpulan Cerpen “Luka Batu” Karya Komang Adnyana

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Dunia Penuh Luka Dalam Kumpulan Cerpen “Luka Batu” Karya Komang Adnyana

Dunia Penuh Luka Dalam Kumpulan Cerpen “Luka Batu” Karya Komang Adnyana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co