31 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Galungan dan Representasi Budaya Bali Dalam Kumpulan Puisi “Menanam Puisi di Emperan Matamu” Karya Wayan Esa Bhaskara

Ni Made Wina Utari by Ni Made Wina Utari
January 4, 2023
in Ulas Buku
Galungan dan Representasi Budaya Bali Dalam Kumpulan Puisi “Menanam Puisi di Emperan Matamu” Karya Wayan Esa Bhaskara

Buku karya Wayan Esa Bhaskara

KUMPULAN PUISI “Menanam Puisi di Emperan Matamu” merupakan sebuah buku yang berisikan puisi-puisi karya Wayan Esa Bhaskara. Buku ini merupakan buku kumpulan puisi pertamanya yang dapat dikatakan sebagai seorang penulis sajak yang giat. Buku ini diterbitkan Mahima Institute Indonesia.

Puisi merupakan karya sastra yang mengungkapkan perasaan dan pikiran penulis ke dalam kata-kata yang indah dan menggugah. Selain sebagai bentuk ekspresi, puisi juga berperan sebagai salah satu sarana untuk menyampaikan ide atau gagasan terhadap suatu hal atau peristiwa.  Barangkali seperti itulah yang bisa dibaca dari puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara.

Wayan Esa Bhaskara lahir di Tabanan, Bali. Sejak duduk di bangku SMA ia sudah mulai menulis puisi, cerpen dan esai. Karya-karyanya terangkum dalam beberapa antologi bersama, seperti Senyum Kopi (2012).

Tulisan Esa Bhaskara juga telah dimuat di berbagai media cetak di Bali seperti Bali Post, Denpost, Tribun Bali, dan Pos Bali. Wayan Esa Bhaskara telah beberapa kali memenangkan sayembara penulisan-penulisan puisi tingkat lokal dan juga nasional.

Selain seorang penulis yang bergaul di Komunitas Mahima Singaraja, ternyata Wayan Esa Bhaskara juga seorang pengajar atau tenaga pendidik dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Tidak perlu diragukan lagi bahwa puisi-puisi karya Wayan Esa Bhaskara dapat menarik perhatian pembaca.

Buku dengan sampul berwarna biru dan putih itu yang sangat menarik perhatian pembaca memiliki ketebalan 106 halaman. Namun tidak hanya sampul yang dapat menarik perhatian, melainkan isi dalam buku itu juga dapat memikat hati pembaca.

Kumpulan puisi karya Wayan Esa Bhaskara bertema tentang romansa dan ritual sederhana yang disajikan dengan rapi dan anggun. Membaca puisi dalam buku “Menanam Puisi di Emperan Matamu” rasanya seperti menikmati secangkir kopi pagi ditemani sepotong singkong rebus dan sebatang rokok, rasanya sungguh nikmat. Begitu kata salah satu cerpenis Bali.

Pulau Bali dikenal sebagai sebutan Pulau Dewata (Pulau Seribu Pura), karena kentalnya budaya Hindu dalam ritual keagamaan yang mempengaruhi hampir setiap unsur dan gerak kehidupan masyarakat Bali. Hal itu menjadikan Bali tidak hanya memiliki pemandangan yang indah namun juga memiliki kebudayaan yang unik, eksotis dan terjaga.

Hingga saat ini masyarakat Bali masih tetap menjaga tradisi atau adat istiadat yang diwariskan oleh leluhurnya. Tidak hanya penduduk lokal, namun wisatawan asing pun mengagumi keindahan dari pulau Bali.

Setelah membaca kumpulan puisi karya Wayan Esa Bhaskara dalam buku “Menanam Puisi di Emperan Matamu”, banyak hal menarik perhatian saya, terutama adanya nuansa budaya Bali atau lokalitas Bali di dalam puisi-puisinya. Dimana si penulis secara tidak langsung telah memperkenalkan budaya Bali pada pembaca yang mungkin belum mengetahui lebih tentang budaya-budaya atau tradisi-tradisi yang ada di Bali.

Saat membaca kumpulan puisi-puisi karya Wayan Esa Bhaskara rasanya saya senantiasa takjub akan keindahan dari budaya Bali ini dan juga rasa bangga yang menyelimuti sebagai seorang warga asli Bali.

Wayan Esa Bhaskara merupakan warga asli Bali, jadi kumpulan puisi dalam buku “Menanam Puisi di Emperan Matamu” tidak jauh dari budaya ataupun lokalitas Bali. Seperti judul puisi Galungan (hari raya umat Hindu), Tumpek Landep (persembahyangan terhadap benda tajam), Saraswati (perayaan atas turunnya ilmu pengetahuan), Nyepi (hari suci umat Hindu), Lawar Buatan Nenek (makanan khas daerah Bali), Sambel Matah (makanan khas daerah Bali) dan lain sebagainya.

Pada puisi yang berjudul Galungan yang dibuat dalam empat bait karya Wayan Esa Bhaskara memiliki makna bahwa hari raya Galungan jatuh pada hari Rabu. Yang dimana seluruh umat Hindu berkumpul untuk melakukan persembahyangan bersama dalam rangka merayakan kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan).

Di sebuah rabu
Desa-desa dalam kemenangan
Diliputi bahagia, doa, aman sentosa
Jiwaku menahan pilu

Puisi di atas merupakan bait ketiga dalam judul puisi Galungan yang memiliki makna perasaan bahagia dan penuh syukur karena di Hari Raya Galungan itulah warga Bali dapat berkumpul atau bersilaturahmi dengan keluarga.

Pada puisi yang berjudul Nyepi yang dibuat dalam empat bait karya Wayan Esa Bhaskara memiliki makna bagaimana situasi Bali pada hari raya Nyepi yang begitu sunyi dan tidak adanya aktivitas manusia, hanya terdengar suara jangkrik dan kerabatnya yang saling bersautan.

Udara yang terasa sejuk karena tidak adanya pencemaran polusi dari asap kendaraan. Di malam hari yang begitu terlihat sangat indah karena langit dihiasi dengan lautan bintang yang menyinari pulau Bali pada saat gelapnya malam Nyepi. Saat itu rasanya seperti mimpi dan terlahir kembali, dimana warga non-Hindu yang tinggal di Bali ikut serta dan menghargai hari raya umat Hindu yaitu Nyepi.

Mungkin sebagian besar orang luar Bali tidak mengetahui bahwa di Hari Raya Nyepi ada empat pantangan yang harus dilaksanakan dan dipatuhi. Warga Bali menyebutnya Catur Brata Penyepian antara lain tidak berkegiatan dan bekerja (Amati Karya), tidak menyalakan api (Amati Geni), tidak bepergian (Amati Lelungan), dan tidak berfoya-foya (Amati Lelanguan).

Pada puisi yang berjudul Lawar Buatan Nenek yang dibuat dalam tiga bait karya Wayan Esa Bhaskara memiliki makna bahwa lawar itu penyembuh rasa kerinduan akan Bali. Jika makan lawar dimana pun kita berada, kita akan selalu ingat yang namanya Bali. Karena lawar merupakan makanan khas daerah Bali yang biasanya dibuat dari daun pakis, nangka muda, dan juga daun belimbing yang dipadukan dengan daging cincang.

Ditinjau dari bahannya masing-masing lawar mempunyai rasa yang berbeda seperti kelapa parut dengan rasa manisnya, garam dengan rasa asinnya, terasi dengan aroma yang agak busuk, darah ayam atau babi yang amis serta dengan bumbu pedas lainnya. Namun setelah bumbu-bumbu itu dicampur jadilah sebuah makanan yang amat digemari dan dapat membuat kenangan tersendiri dengan pulau Bali, sehingga tak ragu lagi untuk kembali ke Bali.

Mungkin di luar sana tidak banyak yang mengetahui bahwa lawar merupakan salah satu makanan khas Bali yang menjadi sarana dalam upacara adat dan keagamaan di Bali. Bisa dibilang lawar Bali ini tidak akan hilang selama kebudayaan Bali masih melekat erat dalam diri masyarakat Bali, bahkan semakin lama semakin populer keberadaannya.

Dalam kumpulan-kumpulan puisi yang ditulis oleh Wayan Esa Bhaskara dalam buku “Menanam Puisi di Emperan Matamu” menyajikan banyak hal sederhana mengenai budaya Bali. Kita sering lupa bahwa Bali begitu indah sehingga orang lokal ataupun wisatawan asing senang berkunjung ke Bali karena Bali memiliki berbagai ragam budaya, adat istiadat, dan hari raya.

Setelah membaca buku kumpulan puisi karya Wayan Esa Bhaskara kita dapat merasakan bagaimana kentalnya budaya Bali. Kata-kata sederhana yang digunakan penulis sehingga terkesan menarik untuk dibaca. Warga asli Bali yang membaca buku kumpulan puisi karya Wayan Esa Bhaskara ini pun akan diselimuti dengan rasa bangga. [T]

Puisi-puisi Jong Santiasa Putra | Ayam Tepung Sambel Wijen
Yang Nyata dan Tidak Nyata Dalam Buku Cerpen “Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci”
Analisis Psikologi Kepribadian Tokoh Dalam Novel “Hanya Nestapa” Karya Sunaryono Basuki Ks
Tags: Budaya Balibuku puisikumpulan puisiPuisisastraSastra IndonesiaWayan Esa Bhaskara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Putu Mara, Transmigrasi dari Buleleng ke Sumatera: Tantangan Awalnya, Sukses Akhirnya…

Next Post

Betapa “Insecure”-nya Aku Dulu — Kini Kuciptakan Panggung Untuk Diriku Sendiri

Ni Made Wina Utari

Ni Made Wina Utari

Mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, jurusan Pendidikkan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Betapa “Insecure”-nya Aku Dulu — Kini Kuciptakan Panggung Untuk Diriku Sendiri

Betapa “Insecure”-nya Aku Dulu -- Kini Kuciptakan Panggung Untuk Diriku Sendiri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan
Esai

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co