5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Galungan dan Representasi Budaya Bali Dalam Kumpulan Puisi “Menanam Puisi di Emperan Matamu” Karya Wayan Esa Bhaskara

Ni Made Wina Utari by Ni Made Wina Utari
January 4, 2023
in Ulas Buku
Galungan dan Representasi Budaya Bali Dalam Kumpulan Puisi “Menanam Puisi di Emperan Matamu” Karya Wayan Esa Bhaskara

Buku karya Wayan Esa Bhaskara

KUMPULAN PUISI “Menanam Puisi di Emperan Matamu” merupakan sebuah buku yang berisikan puisi-puisi karya Wayan Esa Bhaskara. Buku ini merupakan buku kumpulan puisi pertamanya yang dapat dikatakan sebagai seorang penulis sajak yang giat. Buku ini diterbitkan Mahima Institute Indonesia.

Puisi merupakan karya sastra yang mengungkapkan perasaan dan pikiran penulis ke dalam kata-kata yang indah dan menggugah. Selain sebagai bentuk ekspresi, puisi juga berperan sebagai salah satu sarana untuk menyampaikan ide atau gagasan terhadap suatu hal atau peristiwa.  Barangkali seperti itulah yang bisa dibaca dari puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara.

Wayan Esa Bhaskara lahir di Tabanan, Bali. Sejak duduk di bangku SMA ia sudah mulai menulis puisi, cerpen dan esai. Karya-karyanya terangkum dalam beberapa antologi bersama, seperti Senyum Kopi (2012).

Tulisan Esa Bhaskara juga telah dimuat di berbagai media cetak di Bali seperti Bali Post, Denpost, Tribun Bali, dan Pos Bali. Wayan Esa Bhaskara telah beberapa kali memenangkan sayembara penulisan-penulisan puisi tingkat lokal dan juga nasional.

Selain seorang penulis yang bergaul di Komunitas Mahima Singaraja, ternyata Wayan Esa Bhaskara juga seorang pengajar atau tenaga pendidik dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Tidak perlu diragukan lagi bahwa puisi-puisi karya Wayan Esa Bhaskara dapat menarik perhatian pembaca.

Buku dengan sampul berwarna biru dan putih itu yang sangat menarik perhatian pembaca memiliki ketebalan 106 halaman. Namun tidak hanya sampul yang dapat menarik perhatian, melainkan isi dalam buku itu juga dapat memikat hati pembaca.

Kumpulan puisi karya Wayan Esa Bhaskara bertema tentang romansa dan ritual sederhana yang disajikan dengan rapi dan anggun. Membaca puisi dalam buku “Menanam Puisi di Emperan Matamu” rasanya seperti menikmati secangkir kopi pagi ditemani sepotong singkong rebus dan sebatang rokok, rasanya sungguh nikmat. Begitu kata salah satu cerpenis Bali.

Pulau Bali dikenal sebagai sebutan Pulau Dewata (Pulau Seribu Pura), karena kentalnya budaya Hindu dalam ritual keagamaan yang mempengaruhi hampir setiap unsur dan gerak kehidupan masyarakat Bali. Hal itu menjadikan Bali tidak hanya memiliki pemandangan yang indah namun juga memiliki kebudayaan yang unik, eksotis dan terjaga.

Hingga saat ini masyarakat Bali masih tetap menjaga tradisi atau adat istiadat yang diwariskan oleh leluhurnya. Tidak hanya penduduk lokal, namun wisatawan asing pun mengagumi keindahan dari pulau Bali.

Setelah membaca kumpulan puisi karya Wayan Esa Bhaskara dalam buku “Menanam Puisi di Emperan Matamu”, banyak hal menarik perhatian saya, terutama adanya nuansa budaya Bali atau lokalitas Bali di dalam puisi-puisinya. Dimana si penulis secara tidak langsung telah memperkenalkan budaya Bali pada pembaca yang mungkin belum mengetahui lebih tentang budaya-budaya atau tradisi-tradisi yang ada di Bali.

Saat membaca kumpulan puisi-puisi karya Wayan Esa Bhaskara rasanya saya senantiasa takjub akan keindahan dari budaya Bali ini dan juga rasa bangga yang menyelimuti sebagai seorang warga asli Bali.

Wayan Esa Bhaskara merupakan warga asli Bali, jadi kumpulan puisi dalam buku “Menanam Puisi di Emperan Matamu” tidak jauh dari budaya ataupun lokalitas Bali. Seperti judul puisi Galungan (hari raya umat Hindu), Tumpek Landep (persembahyangan terhadap benda tajam), Saraswati (perayaan atas turunnya ilmu pengetahuan), Nyepi (hari suci umat Hindu), Lawar Buatan Nenek (makanan khas daerah Bali), Sambel Matah (makanan khas daerah Bali) dan lain sebagainya.

Pada puisi yang berjudul Galungan yang dibuat dalam empat bait karya Wayan Esa Bhaskara memiliki makna bahwa hari raya Galungan jatuh pada hari Rabu. Yang dimana seluruh umat Hindu berkumpul untuk melakukan persembahyangan bersama dalam rangka merayakan kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan).

Di sebuah rabu
Desa-desa dalam kemenangan
Diliputi bahagia, doa, aman sentosa
Jiwaku menahan pilu

Puisi di atas merupakan bait ketiga dalam judul puisi Galungan yang memiliki makna perasaan bahagia dan penuh syukur karena di Hari Raya Galungan itulah warga Bali dapat berkumpul atau bersilaturahmi dengan keluarga.

Pada puisi yang berjudul Nyepi yang dibuat dalam empat bait karya Wayan Esa Bhaskara memiliki makna bagaimana situasi Bali pada hari raya Nyepi yang begitu sunyi dan tidak adanya aktivitas manusia, hanya terdengar suara jangkrik dan kerabatnya yang saling bersautan.

Udara yang terasa sejuk karena tidak adanya pencemaran polusi dari asap kendaraan. Di malam hari yang begitu terlihat sangat indah karena langit dihiasi dengan lautan bintang yang menyinari pulau Bali pada saat gelapnya malam Nyepi. Saat itu rasanya seperti mimpi dan terlahir kembali, dimana warga non-Hindu yang tinggal di Bali ikut serta dan menghargai hari raya umat Hindu yaitu Nyepi.

Mungkin sebagian besar orang luar Bali tidak mengetahui bahwa di Hari Raya Nyepi ada empat pantangan yang harus dilaksanakan dan dipatuhi. Warga Bali menyebutnya Catur Brata Penyepian antara lain tidak berkegiatan dan bekerja (Amati Karya), tidak menyalakan api (Amati Geni), tidak bepergian (Amati Lelungan), dan tidak berfoya-foya (Amati Lelanguan).

Pada puisi yang berjudul Lawar Buatan Nenek yang dibuat dalam tiga bait karya Wayan Esa Bhaskara memiliki makna bahwa lawar itu penyembuh rasa kerinduan akan Bali. Jika makan lawar dimana pun kita berada, kita akan selalu ingat yang namanya Bali. Karena lawar merupakan makanan khas daerah Bali yang biasanya dibuat dari daun pakis, nangka muda, dan juga daun belimbing yang dipadukan dengan daging cincang.

Ditinjau dari bahannya masing-masing lawar mempunyai rasa yang berbeda seperti kelapa parut dengan rasa manisnya, garam dengan rasa asinnya, terasi dengan aroma yang agak busuk, darah ayam atau babi yang amis serta dengan bumbu pedas lainnya. Namun setelah bumbu-bumbu itu dicampur jadilah sebuah makanan yang amat digemari dan dapat membuat kenangan tersendiri dengan pulau Bali, sehingga tak ragu lagi untuk kembali ke Bali.

Mungkin di luar sana tidak banyak yang mengetahui bahwa lawar merupakan salah satu makanan khas Bali yang menjadi sarana dalam upacara adat dan keagamaan di Bali. Bisa dibilang lawar Bali ini tidak akan hilang selama kebudayaan Bali masih melekat erat dalam diri masyarakat Bali, bahkan semakin lama semakin populer keberadaannya.

Dalam kumpulan-kumpulan puisi yang ditulis oleh Wayan Esa Bhaskara dalam buku “Menanam Puisi di Emperan Matamu” menyajikan banyak hal sederhana mengenai budaya Bali. Kita sering lupa bahwa Bali begitu indah sehingga orang lokal ataupun wisatawan asing senang berkunjung ke Bali karena Bali memiliki berbagai ragam budaya, adat istiadat, dan hari raya.

Setelah membaca buku kumpulan puisi karya Wayan Esa Bhaskara kita dapat merasakan bagaimana kentalnya budaya Bali. Kata-kata sederhana yang digunakan penulis sehingga terkesan menarik untuk dibaca. Warga asli Bali yang membaca buku kumpulan puisi karya Wayan Esa Bhaskara ini pun akan diselimuti dengan rasa bangga. [T]

Puisi-puisi Jong Santiasa Putra | Ayam Tepung Sambel Wijen
Yang Nyata dan Tidak Nyata Dalam Buku Cerpen “Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci”
Analisis Psikologi Kepribadian Tokoh Dalam Novel “Hanya Nestapa” Karya Sunaryono Basuki Ks
Tags: Budaya Balibuku puisikumpulan puisiPuisisastraSastra IndonesiaWayan Esa Bhaskara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Putu Mara, Transmigrasi dari Buleleng ke Sumatera: Tantangan Awalnya, Sukses Akhirnya…

Next Post

Betapa “Insecure”-nya Aku Dulu — Kini Kuciptakan Panggung Untuk Diriku Sendiri

Ni Made Wina Utari

Ni Made Wina Utari

Mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, jurusan Pendidikkan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Related Posts

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails
Next Post
Betapa “Insecure”-nya Aku Dulu — Kini Kuciptakan Panggung Untuk Diriku Sendiri

Betapa “Insecure”-nya Aku Dulu -- Kini Kuciptakan Panggung Untuk Diriku Sendiri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane
Cerpen

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

by Wayan Gde Yudane
June 5, 2026
Puisi-puisi Ama Gaspar
Puisi

Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

by Ama Gaspar
June 5, 2026
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui
Khas

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif
Panggung

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku
Esai

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

by I Wayan Artika
June 5, 2026
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem
Panggung

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta
Esai

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

by Chusmeru
June 5, 2026
‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co