18 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Galungan dan Representasi Budaya Bali Dalam Kumpulan Puisi “Menanam Puisi di Emperan Matamu” Karya Wayan Esa Bhaskara

Ni Made Wina Utari by Ni Made Wina Utari
January 4, 2023
in Ulas Buku
Galungan dan Representasi Budaya Bali Dalam Kumpulan Puisi “Menanam Puisi di Emperan Matamu” Karya Wayan Esa Bhaskara

Buku karya Wayan Esa Bhaskara

KUMPULAN PUISI “Menanam Puisi di Emperan Matamu” merupakan sebuah buku yang berisikan puisi-puisi karya Wayan Esa Bhaskara. Buku ini merupakan buku kumpulan puisi pertamanya yang dapat dikatakan sebagai seorang penulis sajak yang giat. Buku ini diterbitkan Mahima Institute Indonesia.

Puisi merupakan karya sastra yang mengungkapkan perasaan dan pikiran penulis ke dalam kata-kata yang indah dan menggugah. Selain sebagai bentuk ekspresi, puisi juga berperan sebagai salah satu sarana untuk menyampaikan ide atau gagasan terhadap suatu hal atau peristiwa.  Barangkali seperti itulah yang bisa dibaca dari puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara.

Wayan Esa Bhaskara lahir di Tabanan, Bali. Sejak duduk di bangku SMA ia sudah mulai menulis puisi, cerpen dan esai. Karya-karyanya terangkum dalam beberapa antologi bersama, seperti Senyum Kopi (2012).

Tulisan Esa Bhaskara juga telah dimuat di berbagai media cetak di Bali seperti Bali Post, Denpost, Tribun Bali, dan Pos Bali. Wayan Esa Bhaskara telah beberapa kali memenangkan sayembara penulisan-penulisan puisi tingkat lokal dan juga nasional.

Selain seorang penulis yang bergaul di Komunitas Mahima Singaraja, ternyata Wayan Esa Bhaskara juga seorang pengajar atau tenaga pendidik dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Tidak perlu diragukan lagi bahwa puisi-puisi karya Wayan Esa Bhaskara dapat menarik perhatian pembaca.

Buku dengan sampul berwarna biru dan putih itu yang sangat menarik perhatian pembaca memiliki ketebalan 106 halaman. Namun tidak hanya sampul yang dapat menarik perhatian, melainkan isi dalam buku itu juga dapat memikat hati pembaca.

Kumpulan puisi karya Wayan Esa Bhaskara bertema tentang romansa dan ritual sederhana yang disajikan dengan rapi dan anggun. Membaca puisi dalam buku “Menanam Puisi di Emperan Matamu” rasanya seperti menikmati secangkir kopi pagi ditemani sepotong singkong rebus dan sebatang rokok, rasanya sungguh nikmat. Begitu kata salah satu cerpenis Bali.

Pulau Bali dikenal sebagai sebutan Pulau Dewata (Pulau Seribu Pura), karena kentalnya budaya Hindu dalam ritual keagamaan yang mempengaruhi hampir setiap unsur dan gerak kehidupan masyarakat Bali. Hal itu menjadikan Bali tidak hanya memiliki pemandangan yang indah namun juga memiliki kebudayaan yang unik, eksotis dan terjaga.

Hingga saat ini masyarakat Bali masih tetap menjaga tradisi atau adat istiadat yang diwariskan oleh leluhurnya. Tidak hanya penduduk lokal, namun wisatawan asing pun mengagumi keindahan dari pulau Bali.

Setelah membaca kumpulan puisi karya Wayan Esa Bhaskara dalam buku “Menanam Puisi di Emperan Matamu”, banyak hal menarik perhatian saya, terutama adanya nuansa budaya Bali atau lokalitas Bali di dalam puisi-puisinya. Dimana si penulis secara tidak langsung telah memperkenalkan budaya Bali pada pembaca yang mungkin belum mengetahui lebih tentang budaya-budaya atau tradisi-tradisi yang ada di Bali.

Saat membaca kumpulan puisi-puisi karya Wayan Esa Bhaskara rasanya saya senantiasa takjub akan keindahan dari budaya Bali ini dan juga rasa bangga yang menyelimuti sebagai seorang warga asli Bali.

Wayan Esa Bhaskara merupakan warga asli Bali, jadi kumpulan puisi dalam buku “Menanam Puisi di Emperan Matamu” tidak jauh dari budaya ataupun lokalitas Bali. Seperti judul puisi Galungan (hari raya umat Hindu), Tumpek Landep (persembahyangan terhadap benda tajam), Saraswati (perayaan atas turunnya ilmu pengetahuan), Nyepi (hari suci umat Hindu), Lawar Buatan Nenek (makanan khas daerah Bali), Sambel Matah (makanan khas daerah Bali) dan lain sebagainya.

Pada puisi yang berjudul Galungan yang dibuat dalam empat bait karya Wayan Esa Bhaskara memiliki makna bahwa hari raya Galungan jatuh pada hari Rabu. Yang dimana seluruh umat Hindu berkumpul untuk melakukan persembahyangan bersama dalam rangka merayakan kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan).

Di sebuah rabu
Desa-desa dalam kemenangan
Diliputi bahagia, doa, aman sentosa
Jiwaku menahan pilu

Puisi di atas merupakan bait ketiga dalam judul puisi Galungan yang memiliki makna perasaan bahagia dan penuh syukur karena di Hari Raya Galungan itulah warga Bali dapat berkumpul atau bersilaturahmi dengan keluarga.

Pada puisi yang berjudul Nyepi yang dibuat dalam empat bait karya Wayan Esa Bhaskara memiliki makna bagaimana situasi Bali pada hari raya Nyepi yang begitu sunyi dan tidak adanya aktivitas manusia, hanya terdengar suara jangkrik dan kerabatnya yang saling bersautan.

Udara yang terasa sejuk karena tidak adanya pencemaran polusi dari asap kendaraan. Di malam hari yang begitu terlihat sangat indah karena langit dihiasi dengan lautan bintang yang menyinari pulau Bali pada saat gelapnya malam Nyepi. Saat itu rasanya seperti mimpi dan terlahir kembali, dimana warga non-Hindu yang tinggal di Bali ikut serta dan menghargai hari raya umat Hindu yaitu Nyepi.

Mungkin sebagian besar orang luar Bali tidak mengetahui bahwa di Hari Raya Nyepi ada empat pantangan yang harus dilaksanakan dan dipatuhi. Warga Bali menyebutnya Catur Brata Penyepian antara lain tidak berkegiatan dan bekerja (Amati Karya), tidak menyalakan api (Amati Geni), tidak bepergian (Amati Lelungan), dan tidak berfoya-foya (Amati Lelanguan).

Pada puisi yang berjudul Lawar Buatan Nenek yang dibuat dalam tiga bait karya Wayan Esa Bhaskara memiliki makna bahwa lawar itu penyembuh rasa kerinduan akan Bali. Jika makan lawar dimana pun kita berada, kita akan selalu ingat yang namanya Bali. Karena lawar merupakan makanan khas daerah Bali yang biasanya dibuat dari daun pakis, nangka muda, dan juga daun belimbing yang dipadukan dengan daging cincang.

Ditinjau dari bahannya masing-masing lawar mempunyai rasa yang berbeda seperti kelapa parut dengan rasa manisnya, garam dengan rasa asinnya, terasi dengan aroma yang agak busuk, darah ayam atau babi yang amis serta dengan bumbu pedas lainnya. Namun setelah bumbu-bumbu itu dicampur jadilah sebuah makanan yang amat digemari dan dapat membuat kenangan tersendiri dengan pulau Bali, sehingga tak ragu lagi untuk kembali ke Bali.

Mungkin di luar sana tidak banyak yang mengetahui bahwa lawar merupakan salah satu makanan khas Bali yang menjadi sarana dalam upacara adat dan keagamaan di Bali. Bisa dibilang lawar Bali ini tidak akan hilang selama kebudayaan Bali masih melekat erat dalam diri masyarakat Bali, bahkan semakin lama semakin populer keberadaannya.

Dalam kumpulan-kumpulan puisi yang ditulis oleh Wayan Esa Bhaskara dalam buku “Menanam Puisi di Emperan Matamu” menyajikan banyak hal sederhana mengenai budaya Bali. Kita sering lupa bahwa Bali begitu indah sehingga orang lokal ataupun wisatawan asing senang berkunjung ke Bali karena Bali memiliki berbagai ragam budaya, adat istiadat, dan hari raya.

Setelah membaca buku kumpulan puisi karya Wayan Esa Bhaskara kita dapat merasakan bagaimana kentalnya budaya Bali. Kata-kata sederhana yang digunakan penulis sehingga terkesan menarik untuk dibaca. Warga asli Bali yang membaca buku kumpulan puisi karya Wayan Esa Bhaskara ini pun akan diselimuti dengan rasa bangga. [T]

Puisi-puisi Jong Santiasa Putra | Ayam Tepung Sambel Wijen
Yang Nyata dan Tidak Nyata Dalam Buku Cerpen “Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci”
Analisis Psikologi Kepribadian Tokoh Dalam Novel “Hanya Nestapa” Karya Sunaryono Basuki Ks
Tags: Budaya Balibuku puisikumpulan puisiPuisisastraSastra IndonesiaWayan Esa Bhaskara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Putu Mara, Transmigrasi dari Buleleng ke Sumatera: Tantangan Awalnya, Sukses Akhirnya…

Next Post

Betapa “Insecure”-nya Aku Dulu — Kini Kuciptakan Panggung Untuk Diriku Sendiri

Ni Made Wina Utari

Ni Made Wina Utari

Mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, jurusan Pendidikkan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Related Posts

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails
Next Post
Betapa “Insecure”-nya Aku Dulu — Kini Kuciptakan Panggung Untuk Diriku Sendiri

Betapa “Insecure”-nya Aku Dulu -- Kini Kuciptakan Panggung Untuk Diriku Sendiri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

SUASANA Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat, 17 Juli 2026, terasa berbeda. Tak terdengar dentuman gamelan atau hingar-bingar...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye
Ulas Buku

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

by Azwar
July 17, 2026
“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia
Panggung

“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia

MALAM itu Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi penonton dari berbagai penjuru. Kamis, 16 Juli 2026, kursi-kursi tribun tak...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia
Panggung

“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia

GELAK tawa pecah bahkan sebelum adegan pertama benar-benar usai. Di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Rabu malam, 15 Juli 2026,...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif
Panggung

Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

KEMAJUAN seni teater di Bali kembali menemukan panggungnya melalui Pawimba (Lomba) Teater Modern Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru
Khas

Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru

MEMASUKI penyelenggaraan ke-48, Pesta Kesenian Bali (PKB) telah menempuh perjalanan panjang sebagai festival seni budaya terbesar di Pulau Dewata. Selama...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi
Khas

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi

MENJELANG usianya yang mengarah pada setengah abad, Pesta Kesenian Bali (PKB) dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Festival seni terbesar...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme
Khas

Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme

DI tengah riuh tepuk tangan yang mengiringi setiap pementasan Pesta Kesenian Bali (PKB), ada pekerjaan lain yang berlangsung tanpa sorot...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia
Esai

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan
Ulas Buku

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

by I Made Sujaya
July 16, 2026
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.” Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah...

by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co