2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Putu Mara, Transmigrasi dari Buleleng ke Sumatera: Tantangan Awalnya, Sukses Akhirnya…

I Luh Febi Lorensa by I Luh Febi Lorensa
January 3, 2023
in Feature
Putu Mara, Transmigrasi dari Buleleng ke Sumatera: Tantangan Awalnya, Sukses Akhirnya…

Putu Mara bersama istri di daerah transmigrasi di Sumatera Selatan

TIGA PULUH tahun lalu, tepatnya tahun 1992, Putu Mara, memantapkan diri untuk menjelajah kehidupan baru di daerah yang baru. Ia pun bersiap untuk bertualang, tepatnya bertransmigrasi dari desanya di Anturan, Buleleng, Bali, menuju Sumatera Selatan.

Selama 30 tahun itu banyak liku-liku hidup yang dilaluinya. Penuh suka, juga duka. Penuh tantangan, penuh pelajaran. Hingga kini, di usianya yang ke-65, Putu Mara boleh dibilang sebagai salah satu warga transmigran Bali yang sukses.  

Tantangan pertama ia hadapi ketika naik kapal untuk berangkat ke bumi Sumatera melalui laut. Untuk pertamakalinya, saat itu. Ia naik kapal laut.

“Saya ingat, saat itu saya menempuh perjalanan menggunakan kapal laut selama dua hari dua malam dan terjadi gelombang laut yang sangat besar,” cerita Putu Mara mengenang awal perjalanannya menuju Sumatera.

Peristiwa itu membuatnya trauma. Ditambah lagi, saat di kapal laut itu, terdapat warga transmigrasi lain yang mengalami serangan jantung dan meninggal di tempat. Namun trauma itu berusaha ditelannya. Putu Mara bersama warga transmigrasi lainnya tetap memiliki prinsip dan tujuan yang teguh untuk mengubah nasib.

Alasan Putu Mara bersama warga transmigrasi lainnya dengan rela meninggalkan tanah kelahiran karena factor ekonomi.

“Meski Bali adalah tanah kelahiran saya, tetapi pada saat itu saya tidak mempunyai apa-apa. Saya mempunyai saudara kandung laki-laki banyak, sedangkan saya anak pertama yang sudah berkeluarga tidak memungkinkan untuk saya tinggal satu atap di rumah orang tua saya yang kecil. Jadi saya memutuskan untuk ikut program transmigrasi inidengan  harapan saya pada saat itu dapat mengubah nasib saya,”  kata Putu Mara.

Setelah melewati tantangan di laut lepas, Putu Mara bersama keluarga dan warga transmigran lainnya pun tiba di daratan. Mereka naik kendaraan menuju dearh di mana mereka akan tinggal dan menyambung hidup. Daerah yang ditempati Putu Mara bernama Desa Penilikan, Kecamatan Peninjauan, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatra Selatan.

Di tempat itu, Putu Mara mendapatkan bekal untuk memulai kehidupan baru. Ia mendapatkan sebuah rumah berbahan dasar kayu, tanah seluas 1 hektar beserta bibit pohon karet, dan tanah seluas 1 hektar lagi lengkap dengan bibit pohon kelapa sawit.

“Kami merasa senang dengan hal itu dan membuat perjalanan kami tidak sia-sia,” kata Putu Mara.

Putu Mara langsung bersiap untuk bekerja. Tekadnya sudah bulat ingin mengubah hidupnya menjadi lebih baik, meski berada di negeri orang.

Namun, mengubah kehidupan bukanlah pekerjaan instans. Lahan yang diserahkan oleh pemerintah itu masih berupa hutan.

“Kami harus benar-benar dari nol merintis perkebunan, mulai dari menebang hutan, hingga menanam jatah bibit yang telah diberikan oleh pemerintah,” katanya.

Setelah itu, Putu Mara dan kawan-kawan harus menunggu bertahun-tahun, hingga belasan tahun baru bisa menuai kerja keras itu.

Sehari-hari Putu Mara melakukan pembersihan lahan, pembibitan, pengairan, hingga pemupukan tanaman. Tak jarang Putu Mara dan kawan-kawan juga mendapatkan gangguang hewan buas seperti beruang, tapi semuanya dihadapi dengan sabar dan penuh perjuangan.

 “Semua itu dilakukan dengan sabar dan  tidak sedikit modal dan tenaga yang telah dikeluarkan sehingga ia akhirnya mendapatkan hasil yang memuaskan seperti sekarang ini,” ujar Putu Mara.

Kini Putu Mara hidup berkecukupan di Dusun 1, Desa Penilikan, Kecamatan Peninjauan, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatra Selatan.

Saat ini ia sudah memiliki aset tanah yang sudah atas namanya sendiri yaitu seluas 6 hektar. Dari 6 hektar itu, sebanyak 2 hektar berupa perkebunan kelapa sawit, dan 4 hektar perkebunan karet.

Putu Mara juga memilik dua rumah dengan model yang berbeda-beda. Satuu rumah mengikuti bangunan modern sesuai model bangunan rumah warga asli Sumatra Selatan karena kebanyakan rumah warga Bali di  daerah itu memang mengikuti model rumah yang sama, agar dapat berbaur dengan warga lokal.

Satu rumah lagi adalah rumah kayu yang didapatinya saat pertama kali datang ke daerah itu sebagai warga transmigran.

“Rumah itu masih saya rawat dengan baik karena mengandung banyak kenangan sehingga enggan untuk mengganti rumah itu,” kata Putu Mara.

Putu Mara pun mendukung dengan serius pendidikan dan pekerjaan anak-anak-anaknya. Ia memiliki empat anak, yakni 3 laki-laki san seorang perempuan. Anak-anak laki-lakinya sudah menikah dan mempunyai rumah sendiri-sendiri mereka juga dibekali perkebunan karet.

Anak perempuannya sedang menempuh pendidikan S1 di Pulau Bali dan satu anak laki-lakinya juga merupakan lulusan S1 pendidikan olahraga di kampus PGRI Palembang.

Warga etnis Bali di daerah transmigrasi Desa Penilikan dan sekitar hidup rukun sesama warga Bali maupun warga lokal. Putu Mara dan warga Bali lain masih memegang erat tradisi menyamabraya atau saling bantu-membantu saat ada upacara adat dan upacara agama, seperti upacara pengabenan dan  tiga bulanan anak.

Pada saat Hari Raya Galungan dan Kuningan warga etnis Bali di daerah masih tetap mendirikan penjor di depan rumah sehingga suasana Galungan di daerah itu sama dengan di Bali. Pada saat Hari Raya Nyepi warga masih menerapkan rentetan yang menyesuaikan tradisi di Bali seperti melasti, mengarak ogoh-ogoh keliling desa, dan menerapkan catur brata penyepian.

Putu Mara menjelaskan, kini tercatat kurang lebih warga Bali yang mendiami Desa Penilikan sekitar 113 KK. Mereka berasal dari berbagai desa di Bali, seperti dari desa-desa di Buleleng, di Nusa Penida di klungkung, Desa Seraya di Karangasem, dari Bangli, dan kabupaten lain dinya.

Warga etnis Bali di desa itu memiliki balai banjar dan desa itu memiliki akses jalan yang dibeton dan lumayan bagus, meski masih terdapat sejumlah jalan tanah yang becek dan licin jikalau musim hujan.

Saat menyamabraya mereka biasa saling mendatangi satu rumah dengan rumah lain dengan melewati akses jalan di desa itu. Jika menyamabraya keluar desa, misalnya menghadiri upacara warga Bali di daerah lain, warga Bali di Desa Penilikan tak jarang harus melewati jalan yang berada di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit dan karet.

“Karena saking kuatnya hubungan antara warga etnis Bali di desa satu dengan desa lainnya, sekaligus untuk menjaga tradisi leluhur di daerah transmigrasi, warga tetap bertekad untuk melewati jalan yang becek dan jauh bahkan kadang dengan mengendarai sepeda motor. Itu demi menjaga tradisi leluhur,” kata Putu Mara.[T]

Riset BRIN | Etnik Bali di Daerah Transmigrasi Sultra: Melestarikan Bahasa Bali, Menyesuaikan dengan Bahasa Etnik Lain
Ketut Suci dari Tejakula, dan Kesetiaan Menjual Bubur Mengguh
Galungan di Nusa Penida, Ceritamu Dulu: Tren TKW dan Dagelan “Nyen Kal Ganti”
Tags: balibulelengdaerah transmigrasiperkebunanpertanianSumatera Selatantransmigrasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pelestarian Gebug Ende: Dari Seraya Culture Fest di Karangasem Hingga Desa Sumberkima di Buleleng

Next Post

Galungan dan Representasi Budaya Bali Dalam Kumpulan Puisi “Menanam Puisi di Emperan Matamu” Karya Wayan Esa Bhaskara

I Luh Febi Lorensa

I Luh Febi Lorensa

Mahasiswa STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails
Next Post
Galungan dan Representasi Budaya Bali Dalam Kumpulan Puisi “Menanam Puisi di Emperan Matamu” Karya Wayan Esa Bhaskara

Galungan dan Representasi Budaya Bali Dalam Kumpulan Puisi “Menanam Puisi di Emperan Matamu” Karya Wayan Esa Bhaskara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co