23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Putu Mara, Transmigrasi dari Buleleng ke Sumatera: Tantangan Awalnya, Sukses Akhirnya…

I Luh Febi Lorensa by I Luh Febi Lorensa
January 3, 2023
in Feature
Putu Mara, Transmigrasi dari Buleleng ke Sumatera: Tantangan Awalnya, Sukses Akhirnya…

Putu Mara bersama istri di daerah transmigrasi di Sumatera Selatan

TIGA PULUH tahun lalu, tepatnya tahun 1992, Putu Mara, memantapkan diri untuk menjelajah kehidupan baru di daerah yang baru. Ia pun bersiap untuk bertualang, tepatnya bertransmigrasi dari desanya di Anturan, Buleleng, Bali, menuju Sumatera Selatan.

Selama 30 tahun itu banyak liku-liku hidup yang dilaluinya. Penuh suka, juga duka. Penuh tantangan, penuh pelajaran. Hingga kini, di usianya yang ke-65, Putu Mara boleh dibilang sebagai salah satu warga transmigran Bali yang sukses.  

Tantangan pertama ia hadapi ketika naik kapal untuk berangkat ke bumi Sumatera melalui laut. Untuk pertamakalinya, saat itu. Ia naik kapal laut.

“Saya ingat, saat itu saya menempuh perjalanan menggunakan kapal laut selama dua hari dua malam dan terjadi gelombang laut yang sangat besar,” cerita Putu Mara mengenang awal perjalanannya menuju Sumatera.

Peristiwa itu membuatnya trauma. Ditambah lagi, saat di kapal laut itu, terdapat warga transmigrasi lain yang mengalami serangan jantung dan meninggal di tempat. Namun trauma itu berusaha ditelannya. Putu Mara bersama warga transmigrasi lainnya tetap memiliki prinsip dan tujuan yang teguh untuk mengubah nasib.

Alasan Putu Mara bersama warga transmigrasi lainnya dengan rela meninggalkan tanah kelahiran karena factor ekonomi.

“Meski Bali adalah tanah kelahiran saya, tetapi pada saat itu saya tidak mempunyai apa-apa. Saya mempunyai saudara kandung laki-laki banyak, sedangkan saya anak pertama yang sudah berkeluarga tidak memungkinkan untuk saya tinggal satu atap di rumah orang tua saya yang kecil. Jadi saya memutuskan untuk ikut program transmigrasi inidengan  harapan saya pada saat itu dapat mengubah nasib saya,”  kata Putu Mara.

Setelah melewati tantangan di laut lepas, Putu Mara bersama keluarga dan warga transmigran lainnya pun tiba di daratan. Mereka naik kendaraan menuju dearh di mana mereka akan tinggal dan menyambung hidup. Daerah yang ditempati Putu Mara bernama Desa Penilikan, Kecamatan Peninjauan, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatra Selatan.

Di tempat itu, Putu Mara mendapatkan bekal untuk memulai kehidupan baru. Ia mendapatkan sebuah rumah berbahan dasar kayu, tanah seluas 1 hektar beserta bibit pohon karet, dan tanah seluas 1 hektar lagi lengkap dengan bibit pohon kelapa sawit.

“Kami merasa senang dengan hal itu dan membuat perjalanan kami tidak sia-sia,” kata Putu Mara.

Putu Mara langsung bersiap untuk bekerja. Tekadnya sudah bulat ingin mengubah hidupnya menjadi lebih baik, meski berada di negeri orang.

Namun, mengubah kehidupan bukanlah pekerjaan instans. Lahan yang diserahkan oleh pemerintah itu masih berupa hutan.

“Kami harus benar-benar dari nol merintis perkebunan, mulai dari menebang hutan, hingga menanam jatah bibit yang telah diberikan oleh pemerintah,” katanya.

Setelah itu, Putu Mara dan kawan-kawan harus menunggu bertahun-tahun, hingga belasan tahun baru bisa menuai kerja keras itu.

Sehari-hari Putu Mara melakukan pembersihan lahan, pembibitan, pengairan, hingga pemupukan tanaman. Tak jarang Putu Mara dan kawan-kawan juga mendapatkan gangguang hewan buas seperti beruang, tapi semuanya dihadapi dengan sabar dan penuh perjuangan.

 “Semua itu dilakukan dengan sabar dan  tidak sedikit modal dan tenaga yang telah dikeluarkan sehingga ia akhirnya mendapatkan hasil yang memuaskan seperti sekarang ini,” ujar Putu Mara.

Kini Putu Mara hidup berkecukupan di Dusun 1, Desa Penilikan, Kecamatan Peninjauan, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatra Selatan.

Saat ini ia sudah memiliki aset tanah yang sudah atas namanya sendiri yaitu seluas 6 hektar. Dari 6 hektar itu, sebanyak 2 hektar berupa perkebunan kelapa sawit, dan 4 hektar perkebunan karet.

Putu Mara juga memilik dua rumah dengan model yang berbeda-beda. Satuu rumah mengikuti bangunan modern sesuai model bangunan rumah warga asli Sumatra Selatan karena kebanyakan rumah warga Bali di  daerah itu memang mengikuti model rumah yang sama, agar dapat berbaur dengan warga lokal.

Satu rumah lagi adalah rumah kayu yang didapatinya saat pertama kali datang ke daerah itu sebagai warga transmigran.

“Rumah itu masih saya rawat dengan baik karena mengandung banyak kenangan sehingga enggan untuk mengganti rumah itu,” kata Putu Mara.

Putu Mara pun mendukung dengan serius pendidikan dan pekerjaan anak-anak-anaknya. Ia memiliki empat anak, yakni 3 laki-laki san seorang perempuan. Anak-anak laki-lakinya sudah menikah dan mempunyai rumah sendiri-sendiri mereka juga dibekali perkebunan karet.

Anak perempuannya sedang menempuh pendidikan S1 di Pulau Bali dan satu anak laki-lakinya juga merupakan lulusan S1 pendidikan olahraga di kampus PGRI Palembang.

Warga etnis Bali di daerah transmigrasi Desa Penilikan dan sekitar hidup rukun sesama warga Bali maupun warga lokal. Putu Mara dan warga Bali lain masih memegang erat tradisi menyamabraya atau saling bantu-membantu saat ada upacara adat dan upacara agama, seperti upacara pengabenan dan  tiga bulanan anak.

Pada saat Hari Raya Galungan dan Kuningan warga etnis Bali di daerah masih tetap mendirikan penjor di depan rumah sehingga suasana Galungan di daerah itu sama dengan di Bali. Pada saat Hari Raya Nyepi warga masih menerapkan rentetan yang menyesuaikan tradisi di Bali seperti melasti, mengarak ogoh-ogoh keliling desa, dan menerapkan catur brata penyepian.

Putu Mara menjelaskan, kini tercatat kurang lebih warga Bali yang mendiami Desa Penilikan sekitar 113 KK. Mereka berasal dari berbagai desa di Bali, seperti dari desa-desa di Buleleng, di Nusa Penida di klungkung, Desa Seraya di Karangasem, dari Bangli, dan kabupaten lain dinya.

Warga etnis Bali di desa itu memiliki balai banjar dan desa itu memiliki akses jalan yang dibeton dan lumayan bagus, meski masih terdapat sejumlah jalan tanah yang becek dan licin jikalau musim hujan.

Saat menyamabraya mereka biasa saling mendatangi satu rumah dengan rumah lain dengan melewati akses jalan di desa itu. Jika menyamabraya keluar desa, misalnya menghadiri upacara warga Bali di daerah lain, warga Bali di Desa Penilikan tak jarang harus melewati jalan yang berada di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit dan karet.

“Karena saking kuatnya hubungan antara warga etnis Bali di desa satu dengan desa lainnya, sekaligus untuk menjaga tradisi leluhur di daerah transmigrasi, warga tetap bertekad untuk melewati jalan yang becek dan jauh bahkan kadang dengan mengendarai sepeda motor. Itu demi menjaga tradisi leluhur,” kata Putu Mara.[T]

Riset BRIN | Etnik Bali di Daerah Transmigrasi Sultra: Melestarikan Bahasa Bali, Menyesuaikan dengan Bahasa Etnik Lain
Ketut Suci dari Tejakula, dan Kesetiaan Menjual Bubur Mengguh
Galungan di Nusa Penida, Ceritamu Dulu: Tren TKW dan Dagelan “Nyen Kal Ganti”
Tags: balibulelengdaerah transmigrasiperkebunanpertanianSumatera Selatantransmigrasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pelestarian Gebug Ende: Dari Seraya Culture Fest di Karangasem Hingga Desa Sumberkima di Buleleng

Next Post

Galungan dan Representasi Budaya Bali Dalam Kumpulan Puisi “Menanam Puisi di Emperan Matamu” Karya Wayan Esa Bhaskara

I Luh Febi Lorensa

I Luh Febi Lorensa

Mahasiswa STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails
Next Post
Galungan dan Representasi Budaya Bali Dalam Kumpulan Puisi “Menanam Puisi di Emperan Matamu” Karya Wayan Esa Bhaskara

Galungan dan Representasi Budaya Bali Dalam Kumpulan Puisi “Menanam Puisi di Emperan Matamu” Karya Wayan Esa Bhaskara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co