21 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pelestarian Gebug Ende: Dari Seraya Culture Fest di Karangasem Hingga Desa Sumberkima di Buleleng

I Kadek Susila Priangga by I Kadek Susila Priangga
January 6, 2023
in Panggung, Pilihan Editor
Pelestarian Gebug Ende: Dari Seraya Culture Fest di Karangasem Hingga Desa Sumberkima di Buleleng

Penari/pemain/pelaku gebug ende dari Sekeha Gebug Ki Kopang Kanthi Seraya

DESA SERAYA, sebuah desa di ujung timur Pulau Bali memiliki sebuah tradisi yang masih dijaga dan dilestarikan hingga kini. Tradisi itu adalah atraksi seni atau tarian sakral, yakni tarian perang dengan menggunakan senjata rotan dan tameng.

Tarian ini digunakan sebagai tarian perang ketika zaman kerajaan dahulu. Tujuannya untuk melatih keterampilan para prajurit dalam menggunakan senjata dari rotan dan tameng. Tameng atau perisai terbuat dari kulit sapi sebagai pelindung dan menangkis serangan lawan.

Tarian ini bernama Gebug Ende. Gebug berarti pukul dengan rotan atau penyalin panjang, Ende sebutan tameng yang terbuat dari kulit sapi.  Tarian Gebug Ende juga digunakan sebagai tarian memohon hujan oleh masyarakat Desa Seraya.

Desa Seraya adalah daerah yang memiliki curah hujan yang rendah, tapi air hujan sangat diandalkan untuk keperluan pertanian dan air konsumsi. Kemarau panjang selalu menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat di desa itu. Maka dengan menggelar tarian Gebug Ende, masyarakat percaya hujan akan segera turun membasahi tanah tandus dan bebatuan.

Oleh sebagian orang, tarian ini terlihat menakutkan. Karena apabila rotan itu mengenai kulit, maka luka yang ditimbukan akan memunculkan rasa ngeri dari orang yang menontonnya. Luka seperti terbakar akan langsung muncul ketika rotan telak mengenai kulit. Dan sensasi panas serta perih yang ditimbulkan tentu akan terasa berhari-hari. Apalagi rotan sampai mengenai kepala, alhasil darah akan mengalir membasahi penutup kepala yang digunakan.

Masyarakat Desa Seraya percaya, ketika tarian itu digelar dan terdapat petarung yang sampai berdarah di kepala karena terkena rotan, hujan akan lebih cepat turun. Seakan darah dan luka dibayar hujan yang ditunggu-tunggu.

Luka dan nyeri tak mengurangi semangat para petarung untuk tetap magebug dan melestarikan tarian ini hingga kini. Ketika alunan gamelan terdengar, para pemuda seakan ditarik, dan api semangat mereka akan tersulut untuk beradu keterampilan menggunakan rotan dan tameng, menangkis dan memukul. Saling jual beli serangan.

Sekeha Gebug Ki Kopang Kanthi Seraya

Pelestarian tarian ini tetap dilakukan dengan memperkenalkannya keluar desa. Selain pada musim kemarau panjang, tarian ini sering dipentaskan ketika ada event-event besar. Tarian ini tidak pernah absen mengikuti pembukaan Pesta Kesenian Bali setiap tahunnya, sebagai perwakilan dari Karangasem.

Belum lama ini, tepatnya pada 14-16 Oktober 2022 diadakan Seraya Culture Fest yang pertama. Event ini digelar sebagai ajang untuk melestarikan tradisi dan menarik wisatawan agar datang dan mengenal Gebug Ende Seraya.

Acara itu dibuka langsung oleh Bupati Karangasem, sebagai langkah awal pelestarian tradisi yang memang perlu untuk tetap dijaga kelestariannya. Harapannya agar Seraya Culture Fest diadakan setiap tahun, sehingga dapat menjadi daya tarik baru bagi wisatawan dan tentunya generasi muda ikut bersama melestarikan tradisi. Dan tidak menutup kemungkinan dapat di padukan dengan tradisi dari daerah lain sehingga bisa saling mengenal keunikan daerah masing-masing.

Antusiasme masyarakat terlihat begitu besar. Lapangan Ki Kopang, tempat diadakannya acara itu, penuh dengan penonton. Pertarungan sengit terjadi, karena banyak petarung turun gunung ikut meramaikan acara dan mempertontonkan keahlian menggunakan penyalin dan ende dalam jual beli serangan.

Tak hanya di Desa Seraya, tarian Gebug Ende juga ada di Lombok. Konon zaman kerajaan dulu, tarian ini dikenalkan di Lombok ketika Kerajaan Karangasem memperluas kekuasaan sampai ke Lombok. Tarian ini juga masih sering digelar di daerah Gerokgak, Buleleng. Masyarakat asli Desa Seraya yang tinggal di daerah itu tetap percaya akan kesakralan tarian ini dan tujuan digelarnya tarian ini juga untuk memohon hujan.

Pada 28 Desember lalu, Sekeha Gebug Ki Kopang Kanthi Seraya berangkat ke Desa Semberkima, Gerokgak, untuk menghadiri undangan sebagai bentuk pelestarian tradisi Gebug Ende dan tentunya memohon hujan.

Undangan itu dihadiri 30 orang Sekeha Gebug di dampingi Bendesa Adat Seraya, I Made Salin, yang juga ikut menghadiri acara tersebut.

Ketua Sekeha Gebug Ki Kopang Kanthi Seraya, I Made Jineng Adnyana, menuturkan Sekeha Gebug yang resmi didirikan pada bulan Agustus 2022 itu mendapat undangan menghadiri gelaran gebug di Desa Sumberkima. Karena di daerah itu hujan tak kunjung turun sehingga berpengaruh terhadap hasil pertanian di sana.

Pada tanggal 22 Desember kedua belah pihak sepakat menggelar tarian Gebug Ende yang dimulai pada 28 hingga 30 Desember di Desa Sumberkima. Dan siap memberangkatkan anggota sekeha dari Desa Seraya untuk ikut memeriahkan acara tersebut.

Hal ini disambut positif dan mendapat dukungan penuh dari Bendesa Adat, karena ikut melestarikan tarian Gebug Ende walau berada di luar Desa Seraya dan menjalin silahturahmi sesama masyarakat asli Desa Seraya.

Sekeha Gebug Ki Kopang Kanthi Seraya

Masyarakat di Desa Sumberkima pun menyambut baik kedatangan rombongan Sekeha Gebug yang berangkat dari Seraya. Walau hujan mengiringi gelaran tarian sakral itu, semangat petarung dan penonton memenuhi arena Gebug itu.

Masyarakat Desa Sumberkima yang masih melestarikan tarian Gebug Ende menamakan kelompok mereka Sekeha Ngayah. Ngayah untuk melestarian tradisi, ngayah mempertaruhkan kulit mereka terluka terkena penyalin. Dan bahkan ngayah darah mereka bercucuran terkena penyalin yang mendarat di kepala. Ngayah untuk hujan, untuk hasil panen, untuk kesuburan tanah.

Berbicara tradisi memang tidak akan pernah habis. Kekayaan yang luar biasa tak akan bisa tergantikan dengan materi. Melestarikan tradisi tersebut memerlukan tekad yang kuat, saling rangkul dan bergandengan. Layaknya tarian Gebug Ende, pertarungan hanya di arena, sesudahnya tetap saudara. Saat bertarung memang terlihat sangat bengis dan keras, setelah selesai saling peluk dan kembali menjadi saudara. Di mana pun berada, jangan pernah melupakan tradisi. [T]

Seraya Popcorn, Usaha Kreatif Agus Tripayana Membangkitkan Jagung Desa Seraya
“Pemuteran Bay Festival”, Harapan Baru dan Profil Kebangkitan Bersama
Upaya & Kiat Pembinaan Gending Gender Wayang Banaspati Gaya Tenganan Pegringsingan
Tags: Desa SerayaDesa Sumberkimakarangasemkesenian baliTradisitradisi gebug ende
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teater Kalangan Pamit

Next Post

Putu Mara, Transmigrasi dari Buleleng ke Sumatera: Tantangan Awalnya, Sukses Akhirnya…

I Kadek Susila Priangga

I Kadek Susila Priangga

Lahir di Karangasem. Guru seni budaya di SMPN 3 Sukasada, Buleleng, Bali

Related Posts

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails
Next Post
Putu Mara, Transmigrasi dari Buleleng ke Sumatera: Tantangan Awalnya, Sukses Akhirnya…

Putu Mara, Transmigrasi dari Buleleng ke Sumatera: Tantangan Awalnya, Sukses Akhirnya…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co