7 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pelestarian Gebug Ende: Dari Seraya Culture Fest di Karangasem Hingga Desa Sumberkima di Buleleng

I Kadek Susila Priangga by I Kadek Susila Priangga
January 6, 2023
in Panggung, Pilihan Editor
Pelestarian Gebug Ende: Dari Seraya Culture Fest di Karangasem Hingga Desa Sumberkima di Buleleng

Penari/pemain/pelaku gebug ende dari Sekeha Gebug Ki Kopang Kanthi Seraya

DESA SERAYA, sebuah desa di ujung timur Pulau Bali memiliki sebuah tradisi yang masih dijaga dan dilestarikan hingga kini. Tradisi itu adalah atraksi seni atau tarian sakral, yakni tarian perang dengan menggunakan senjata rotan dan tameng.

Tarian ini digunakan sebagai tarian perang ketika zaman kerajaan dahulu. Tujuannya untuk melatih keterampilan para prajurit dalam menggunakan senjata dari rotan dan tameng. Tameng atau perisai terbuat dari kulit sapi sebagai pelindung dan menangkis serangan lawan.

Tarian ini bernama Gebug Ende. Gebug berarti pukul dengan rotan atau penyalin panjang, Ende sebutan tameng yang terbuat dari kulit sapi.  Tarian Gebug Ende juga digunakan sebagai tarian memohon hujan oleh masyarakat Desa Seraya.

Desa Seraya adalah daerah yang memiliki curah hujan yang rendah, tapi air hujan sangat diandalkan untuk keperluan pertanian dan air konsumsi. Kemarau panjang selalu menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat di desa itu. Maka dengan menggelar tarian Gebug Ende, masyarakat percaya hujan akan segera turun membasahi tanah tandus dan bebatuan.

Oleh sebagian orang, tarian ini terlihat menakutkan. Karena apabila rotan itu mengenai kulit, maka luka yang ditimbukan akan memunculkan rasa ngeri dari orang yang menontonnya. Luka seperti terbakar akan langsung muncul ketika rotan telak mengenai kulit. Dan sensasi panas serta perih yang ditimbulkan tentu akan terasa berhari-hari. Apalagi rotan sampai mengenai kepala, alhasil darah akan mengalir membasahi penutup kepala yang digunakan.

Masyarakat Desa Seraya percaya, ketika tarian itu digelar dan terdapat petarung yang sampai berdarah di kepala karena terkena rotan, hujan akan lebih cepat turun. Seakan darah dan luka dibayar hujan yang ditunggu-tunggu.

Luka dan nyeri tak mengurangi semangat para petarung untuk tetap magebug dan melestarikan tarian ini hingga kini. Ketika alunan gamelan terdengar, para pemuda seakan ditarik, dan api semangat mereka akan tersulut untuk beradu keterampilan menggunakan rotan dan tameng, menangkis dan memukul. Saling jual beli serangan.

Sekeha Gebug Ki Kopang Kanthi Seraya

Pelestarian tarian ini tetap dilakukan dengan memperkenalkannya keluar desa. Selain pada musim kemarau panjang, tarian ini sering dipentaskan ketika ada event-event besar. Tarian ini tidak pernah absen mengikuti pembukaan Pesta Kesenian Bali setiap tahunnya, sebagai perwakilan dari Karangasem.

Belum lama ini, tepatnya pada 14-16 Oktober 2022 diadakan Seraya Culture Fest yang pertama. Event ini digelar sebagai ajang untuk melestarikan tradisi dan menarik wisatawan agar datang dan mengenal Gebug Ende Seraya.

Acara itu dibuka langsung oleh Bupati Karangasem, sebagai langkah awal pelestarian tradisi yang memang perlu untuk tetap dijaga kelestariannya. Harapannya agar Seraya Culture Fest diadakan setiap tahun, sehingga dapat menjadi daya tarik baru bagi wisatawan dan tentunya generasi muda ikut bersama melestarikan tradisi. Dan tidak menutup kemungkinan dapat di padukan dengan tradisi dari daerah lain sehingga bisa saling mengenal keunikan daerah masing-masing.

Antusiasme masyarakat terlihat begitu besar. Lapangan Ki Kopang, tempat diadakannya acara itu, penuh dengan penonton. Pertarungan sengit terjadi, karena banyak petarung turun gunung ikut meramaikan acara dan mempertontonkan keahlian menggunakan penyalin dan ende dalam jual beli serangan.

Tak hanya di Desa Seraya, tarian Gebug Ende juga ada di Lombok. Konon zaman kerajaan dulu, tarian ini dikenalkan di Lombok ketika Kerajaan Karangasem memperluas kekuasaan sampai ke Lombok. Tarian ini juga masih sering digelar di daerah Gerokgak, Buleleng. Masyarakat asli Desa Seraya yang tinggal di daerah itu tetap percaya akan kesakralan tarian ini dan tujuan digelarnya tarian ini juga untuk memohon hujan.

Pada 28 Desember lalu, Sekeha Gebug Ki Kopang Kanthi Seraya berangkat ke Desa Semberkima, Gerokgak, untuk menghadiri undangan sebagai bentuk pelestarian tradisi Gebug Ende dan tentunya memohon hujan.

Undangan itu dihadiri 30 orang Sekeha Gebug di dampingi Bendesa Adat Seraya, I Made Salin, yang juga ikut menghadiri acara tersebut.

Ketua Sekeha Gebug Ki Kopang Kanthi Seraya, I Made Jineng Adnyana, menuturkan Sekeha Gebug yang resmi didirikan pada bulan Agustus 2022 itu mendapat undangan menghadiri gelaran gebug di Desa Sumberkima. Karena di daerah itu hujan tak kunjung turun sehingga berpengaruh terhadap hasil pertanian di sana.

Pada tanggal 22 Desember kedua belah pihak sepakat menggelar tarian Gebug Ende yang dimulai pada 28 hingga 30 Desember di Desa Sumberkima. Dan siap memberangkatkan anggota sekeha dari Desa Seraya untuk ikut memeriahkan acara tersebut.

Hal ini disambut positif dan mendapat dukungan penuh dari Bendesa Adat, karena ikut melestarikan tarian Gebug Ende walau berada di luar Desa Seraya dan menjalin silahturahmi sesama masyarakat asli Desa Seraya.

Sekeha Gebug Ki Kopang Kanthi Seraya

Masyarakat di Desa Sumberkima pun menyambut baik kedatangan rombongan Sekeha Gebug yang berangkat dari Seraya. Walau hujan mengiringi gelaran tarian sakral itu, semangat petarung dan penonton memenuhi arena Gebug itu.

Masyarakat Desa Sumberkima yang masih melestarikan tarian Gebug Ende menamakan kelompok mereka Sekeha Ngayah. Ngayah untuk melestarian tradisi, ngayah mempertaruhkan kulit mereka terluka terkena penyalin. Dan bahkan ngayah darah mereka bercucuran terkena penyalin yang mendarat di kepala. Ngayah untuk hujan, untuk hasil panen, untuk kesuburan tanah.

Berbicara tradisi memang tidak akan pernah habis. Kekayaan yang luar biasa tak akan bisa tergantikan dengan materi. Melestarikan tradisi tersebut memerlukan tekad yang kuat, saling rangkul dan bergandengan. Layaknya tarian Gebug Ende, pertarungan hanya di arena, sesudahnya tetap saudara. Saat bertarung memang terlihat sangat bengis dan keras, setelah selesai saling peluk dan kembali menjadi saudara. Di mana pun berada, jangan pernah melupakan tradisi. [T]

Seraya Popcorn, Usaha Kreatif Agus Tripayana Membangkitkan Jagung Desa Seraya
“Pemuteran Bay Festival”, Harapan Baru dan Profil Kebangkitan Bersama
Upaya & Kiat Pembinaan Gending Gender Wayang Banaspati Gaya Tenganan Pegringsingan
Tags: Desa SerayaDesa Sumberkimakarangasemkesenian baliTradisitradisi gebug ende
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teater Kalangan Pamit

Next Post

Putu Mara, Transmigrasi dari Buleleng ke Sumatera: Tantangan Awalnya, Sukses Akhirnya…

I Kadek Susila Priangga

I Kadek Susila Priangga

Lahir di Karangasem. Guru seni budaya di SMPN 3 Sukasada, Buleleng, Bali

Related Posts

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
0
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

Read moreDetails

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

Read moreDetails

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

Read moreDetails

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
0
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

Read moreDetails

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
0
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

Read moreDetails

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

by Yahya Umar
July 28, 2026
0
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

Read moreDetails

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

Read moreDetails

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

Read moreDetails

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
0
Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

Read moreDetails

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

Read moreDetails
Next Post
Putu Mara, Transmigrasi dari Buleleng ke Sumatera: Tantangan Awalnya, Sukses Akhirnya…

Putu Mara, Transmigrasi dari Buleleng ke Sumatera: Tantangan Awalnya, Sukses Akhirnya…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026
Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan
Ulas Film

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

by Satria Aditya
August 7, 2026
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan
Khas

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

by tatkala
August 6, 2026
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co