5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dunia Patriarki Dalam Novel “Lelaki Harimau” Karya Eka Kurniawan

Komang Putri by Komang Putri
February 22, 2023
in Ulas Buku
Dunia Patriarki Dalam Novel “Lelaki Harimau” Karya Eka Kurniawan

Novel Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan

PEREMPUAN ADALAH sosok istimewa yang diciptakan Tuhan.  Perempuan layak untuk dihargai dan dihormati.

Namun seringkali perempuan hanyalah dipandang sebelah mata. Perempuan hanya bekerja di dapur, atau bahkan perempuan hanyalah dianggap budak seks bagi laki-laki.

Jika dalam buku-buku sejarah sudah banyak terjadi fenomena-fenomena kekerasan pada perempuan, maka Eka Kurniawan menyuguhkan sebuah novel berjudul “Lelaki Harimau”.

Novel yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama (2004) ini menghidangkan kisah-kisah perempuan yang mengalami kekerasan fisik dan juga kekerasan bathin.

Dalam novel ini terdapat dua keluarga yang berbeda kasta. Yakni keluarga Komar Bin Syueb yang terdiri dari istrinya Nuraeni, dan tiga anaknya yaitu Margio, Mameh, dan Marian. Dan satu lagi adalah keluarga dari Anwar Sadat yang terdiri dari istrinya Kasia, dan tiga anak perempuan yaitu Laila, Maesa Dewi, dan Maharani. Namun sayangnya pertemuan dua keluarga ini melahirkan sebuah tragedi.

Dunia patriarki mengingatkan saya pada sinetron di TV. Ya pada hampir tiap episodenya menyuguhkan tentang perempuan yang menjadi korban monster patriarki. Perempuan seolah-olah terjebak dalam penjara dunia patriarki itu. Perempuan itu manusia. Ia juga memiliki hak yang sama seperti lelaki.

B.J. Habibie pernah berkata, “Tak perlu yang sempurna, cukup temukan orang yang selalu membuat anda bahagia dan berarti lebih dari siapa pun”.

Ya, mantan Presiden yang satu ini merupakan orang sangat amat menghargai wanitanya, Bu Ainun. Sosok Bu Ainun adalah wanita beruntung yang menemukan pangeran baik hati.

Setiap Pak Habibie pulang, Bu Ainun sudah menunggu di depan, dan saat Pak Habibie turun dari kereta kaki empatnya itu mereka akan bergandengan tangan masuk ke dalam istananya.

Namun Nuraeni, dalam novel Lelaki Harimau, tak seberuntung Bu Ainun. Jika Komar Bin Syueb, suaminya, pulang setelah mencukur clien-nya, Nuraeni tak akan mendapat senyuman manis dari Komar atau bahkan bergandengan tangan menuju rumahnya, melainkan hadiah rotanlah yang akan diterimanya.

Nuraeni adalah gadis cantik. Ia dipinang bak pernikahan gambaran jaman Siti Nurbaya. Orang tua selalu ingin yang terbaik untuk anaknya namun tak semua pilihan orang tua itu juga baik. Kala Nuraeni berumur enam belas tahun, usia yang masih dini, ia sudah harus duduk di pelaminan bersama lelaki yang empat belas tahun lebih tua dari usianya. Ia adalah Komar Bin Syueb.

Keinginan untuk berbakti pada orang tuanya memaksa Nuareni duduk di samping Komar saat bejabat tangan dengan penghulu.

“Nyai, kelak kau akan menikah dengan Komar Bin Syueb” —hlm 96

Sejak awal pernikahan inilah kisah bak film The Invisible Man dimulai, Di rumah 131 reot milik seorang janda veteran bernama Ma Rabiah ini terekam kisah pilu Nuraeni yang selalu ditonton Margio dan Mameh anaknya, dan setiap hari-hari berlalu selalu diwarnai dengan pukulan dan sabetan rotan.

Itulah yang membuat Nuraeni seperti orang sinting, tingkah aneh berbicara pada panci dan kompor yang ada di dapurnya sudah menjadi ritual yang dilakukannya setiap hari. Jika bagi setiap pasutri, seks menjadi obat stress, tetapi itu tidak berlaku bagi Nuraeni.

Nuraeni tak pernah menikmati indahnya surga dunia ketika melakukan senggama dengan suaminya. Lelaki bengis itu hanya memuaskan nafsunya saja, tidak peduli apa yang dirasakan istrinya.

Nuraeni adalah wanita yang begitu malang, kekerasan demi kekerasan yang dialaminya tidak dapat terelakkan. Jika dalam perang Bharata Yudha, Abimanyu tidak dapat keluar dalam sangkar Cakrabyuha, maka Nuraeni tidak dapat keluar dari sangkar patriarki ini.

Bercinta memang hal yang diidam-idamkan setiap pasangan, namun rasa enggan nuraeni ketika bercinta dengan Komar membuatnya tidak pernah menikmati getaran-getaran cinta yang dinginkan Nuraeni. Komar kerap kali melemparkan dan menyetubuhi Nuraeni layaknya Ia sedang diperkosa.

“Ayahmu Anwar Sadat meniduri ibuku Nuraeni, dan lahirlah si gadis kecil yang mati di hari ke tujuh Bernama Marian, sebab ayahku mengetahuinya dan memukuli ibuku hingga Marian lahir bahkan telah sekarat,” kata Margio pada Maharani (hal 186)

Bibit-bibit patriarki yang membudaya pada masyarakat akhirnya menjadi alat untuk seseorang melakukan penindasan serta kekerasan pada perempuan. Perlakuan kasar yang kerap diterima Nuraeni menyebabkan ia berpaling pada lelaki hidung belang Anwar Sadat.

Rayuan manis bak madu membuat wanita melayang ke angkasa, namun wanita tidak sadar ada udang di balik batu. Hasil senggama Nuareni dan Anwar Sadat telah membuahkan jabang bayi. Hal ini membuat Nuraeni kembali mendapat kekerasan dari Komar sedangkan Anwar sendiri tidak memperdulikan Nuraeni lagi.

Sementara Kasia, perempuan yang berprofesi sebagai bidan juga merupakan anak dari orang yang kaya raya. Ia dipersunting oleh seniman yang bernama Anwar Sadat, berbeda dengan lelaki pada umumnya yang membanting tulang untuk istri dan anaknya, lelaki simbiosis parasitisme ini hanya menjadi benalu dalam kehidupan Kasia.

Namun nasib Kasia lebih beruntung dari pada Nuraeni. Ia tidak pernah mendapat perlakuan kasar, tetapi perilaku suaminya juga sama menjijikannya dengan Komar Bin Syueb, suami mata keranjangnya itu kerap jajan di luar rumah.

Nuraeni maupun Kasia adalah dua wanita korban patriarki, nasib mereka tidak jauh berbeda, tetapi keduanya adalah wanita tangguh yang mampu menjalani kekerasan dan sakit hati dari suami yang menjadi parasit dalam kehidupannya.

Nuraeni yang mendapat perlakuan kasar dari suaminya dan Kasia yang harus menerima kenyataan bahwa teman hidupnya telah menjadi rafflesia bagi dirinya yang menjadi pohon mangga. Tidak penting seberapa banyak Anwar Sadat bermain perempuan asalkan tidak tercipta jabang bayi.

Pengalaman Nuraeni dan Kasia bukanlah hanya sekedar tayangan suara hati istri dalam sinetron TV lagi, tetapi ini merupakan fenomena sosial yang kerap terjadi.

Masih banyak orang yang mengaggung-agungkan lelaki dan menyepelekan perempuan, karena tugas perempuan dianggap hanya memasak, menjadi budak seks, dan melahirkan anak.

Perspekstif masyarakat seperti inilah yang harus dikesampingkan. Perempuan juga layak untuk mendapat perlakuan sama seperti laki-laki. [T]

Cerpen “Sumur” Eka Kurniawan: Soal Alam dan Hari Ini
Cerpen “Sumur” Eka Kurniawan | Air Dengan Segala Persoalan yang Ditimbulkan
Tags: Eka KurniawannovelsastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Raka Bujangga, Budiarta Aryawan, dan Andika Darmawan Juara Lomba Foto Bulan Bahasa Bali 2023

Next Post

Lika-liku Ambisi Perempuan Dalam Novel “Aroma Karsa” Karya Dee Lestari

Komang Putri

Komang Putri

Lahir di Nagasepaha, Buleleng. Saat ini sedang menempuh S1 Pendidikan Sastra Agama dan Bahasa Bali di STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Anggota UKM Dharma Githa dan UKM Kaligrafi, dan sebagai pengurus anggota bidang penelitian dan pengembangan dalam HMPS Pendidikan Sastra Agama dan Bahasa Bali.

Related Posts

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails
Next Post
Lika-liku Ambisi Perempuan Dalam Novel “Aroma Karsa” Karya Dee Lestari

Lika-liku Ambisi Perempuan Dalam Novel “Aroma Karsa” Karya Dee Lestari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co