12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerpen “Sumur” Eka Kurniawan: Soal Alam dan Hari Ini

Putu Dinda Ayudia by Putu Dinda Ayudia
April 7, 2022
in Ulasan
Cerpen “Sumur” Eka Kurniawan: Soal Alam dan Hari Ini

Sumber foto: Page Facebook Gramedia Pustaka Utama

“Lalu satu malam, dua pria dewasa berduel. Duel itu berakhir dengan yang satunya terkapar dengan perut tersabit parang dan ususnya terburai”

Begitulah salah satu line yang diceritakan dalam cerpen Sumur oleh Eka Kurniawan. Dan, itulah yang sungguh disayangkan, dua tokoh utama, sepasang anak muda yang saling menyukai satu sama lain, Toyib dan Siti, langsung dihadapkan pada masalah ayah mereka yang saling berduel.

Kisah ‘Sumur’ pada dasarnya bertutur di semesta Toyib dan Siti. Seorang laki-laki dan perempuan desa yang sudah berkawan sejak kecil. Tipikal kisah persahabatan laki-laki dan perempuan, ujung-ujungnya saling menyimpan rasa. Dan begitulah Toyib dan Siti, yang sejak kecil sudah saling menaruh hati.

Walaupun kisah sahabat jadi cinta antara Toyib dan Siti sudah sangat klasik, tapi jika membaca ‘Sumur’ tak sekalipun ada potret so sweet ala sinetron tentang cerita cinta muda-mudi desa yang tulus, polos, manis, dan penuh bunga-bunga atau lebih tepatnya bukan itu yang menjadi fokus. Alih-alih memusatkan pada kemesraan dan romantisasi cerita cintanya, cerpen ini memotret isu sosial yang mengitari Toyib dan Siti.

Tetapi mungkin sebaiknya pertama-tama kita melihat cerita “Sumur” sebagai palagan sandiwara kehidupan Toyib dan Siti. Jika berbicara kisah mereka, yang ada di antara Toyib dan Siti adalah kisah cinta yang realistis.

Cerpen “Sumur” Eka Kurniawan | Air Dengan Segala Persoalan yang Ditimbulkan

Eka Kurniawan menuliskannya dengan sangat jujur tanpa meromantisasi berlebihan perasaan Toyib dan Siti. Mulai dari ayah mereka yang berduel dan berakhir dengan terbunuhnya ayah Siti, dari situlah titik balik hubungan persahabatan mereka berdua kendatipun cinta mereka tidak pernah benar-benar hilang hingga saat Toyib dan Siti yang harus menikah dengan orang lain.

Percakapan keduanya yang sangat sederhana walaupun terkesan basa-basi terasa begitu nyelekit, entah kenapa, mungkin karena memang benar bahwa cinta adalah pergumulan bukanlah happily ever after seperti di kisah disney princess atau drama series.

Dan mungkin memang benar juga bahwa tanpa adanya tantangan, cinta belum terlihat kuasanya. Kondisi desa, keluarga, hingga kenyataan bahwa mereka harus kehilangan ayah mereka menjadi alasan yang kuat bagi mereka untuk semakin frustrasi atas perasaan yang masih mereka simpan satu sama lain. Peristiwa yang seharusnya menimbulkan kebencian sesungguhnya ternyata adalah bagian dari cinta mereka. Mungkin cinta mereka ibarat sebuah hadiah, dan rasa sakit menjadi resiko utama ketika menerimanya. 

Membaca “Sembahyang Bhuvana” Karya Saras Dewi Dari Perspektif Wittgenstein

Namun ketika menyelami cerita cinta Toyib dan Siti, ada satu hal yang menjadi penyebab segala konflik dalam cerpen ini. Paceklik yang melanda desa. Jika kita melihat kembali ke halaman awal saat ayah Toyib dan Siti berduel, pada pertengahan buku kita akan tahu bahwa ternyata penyebab mereka berduel adalah sengketa pembagian air desa, dikarenakan sulitnya air di masa kemarau panjang.

Termasuk keputusan Siti dan para pemuda desa untuk mencari pekerjaan di kota, adalah karena mereka tak lagi bisa mengharapkan penghidupan dari bertani di desa. Ya, tidak ada air, mau bertani dengan apa? Kesulitan air bermuara pada masyarakat desa yang tidak lagi bisa subsisten dari pertanian. Dan kondisi ini jelas memaksa mereka untuk masuk ke dalam pasar melalui perantauan di kota. 

Selama membaca cerpen Sumur, saya sendiri ikut mengingat dan memaknai kondisi alam di masa sekarang. Melihat perubahan iklim telah terjadi, kita sudah cukup sulit dalam membaca pergerakan kondisi alam. Kondisi-kondisi seperti ini yang memantik refleksi bahwa permasalahan sosial, datangnya dari permasalahan alam juga, begitu pula permasalahan alam yang tercipta akibat ketimpangan pada sistem dan praktik eksploitasinya. Tergambar jelas, bahwasanya alam dan manusia bukanlah dualisme, melainkan menjadi kesatuan yang saling mempengaruhi.

Begitu pula jika kita merefleksikan apa yang terjadi pada ‘Sumur’ dan COVID-19, kemungkinan besar juga diakibatkan karena “ekstraksi” pada alam yang tidak berimbang. Kita sadari atau tidak, model peradaban saat ini telah banyak mengubah tatanan alam dan kualitas hidup. Toyib dan Siti contohnya.

Kendatipun cerita ‘Sumur’ nampaknya hanyalah sebuah kisah fiksi yang sangat personal tentang hidup Toyib dan Siti yang entah siapa mereka dan tinggal di desa apa. Tapi hanya dengan membacanya, saya (dan bisa juga anda) akan merasakan menjadi Toyib dan Siti bagaimana paceklik itu membunuh hidup mereka perlahan.

Kita akan sama-sama membayangkan, ada berapa Toyib dan Siti yang mungkin merasakan hal ini. Terutama jika kita berbicara perkara masalah penghidupan. Masalah personal Siti yang dikisahkan menjadi penjaga warung di kota membuat saya mengingat para pekerja rentan di kota, yang banyak juga datang dari pedesaan.

Bukankah mereka juga orang-orang yang sudah tidak bisa mengharapkan penghidupan layak di desa? Karena mungkin hanya dengan hidup di desa perut tidak bisa kenyang dan dapur tidak bisa mengepul.

Kajian Struktur dan Nilai Bahasa dalam Buku Kumpulan Cerpen “Joged lan Bojog Lua Ane Setata Ngantiang Ulungan Bulan Rikala Bintange Makacakan di Langite”

Lalu pada akhirnya kepada siapa kita harus meminta pertanggung-jawaban? Pada sistem yang eksploitatif dan absennya negara? Tentu seharusnya kita melihat problem ini sebagai hasil dari ketimpangan pada struktur. Namun ini pula yang menjadi pergumulan kita, tentang pertanyaan “bagaimana”

Mungkin sulit bagi orang-orang yang memiliki privilese untuk mengenyam pendidikan, bisa relate dengan kehidupan mereka yang untuk perkara makan masih harus berpikir keras. Orang-orang berpendidikan terus menggaungkan tentang persaingan di dunia global, perkembangan teknologi yang pada akhirnya bermuara pada industrialisasi dan lagi-lagi, eksploitatif pada lingkungan. Pertanyaannya juga, untuk siapa semua itu?

Dan bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki “privilese”? Mungkin jargon revolusi industri tidak akan berguna bagi mereka, toh, buat makan hari ini aja masih belum pasti. Dan lebih dari itu, cara kerja sistem saat ini juga telah banyak merusak penghidupan yang telah mereka lakoni dari generasi ke generasi, seperti yang terjadi pada beberapa komunitas adat, contohnya.

Dunia yang semakin timpang itu nyata, begitu pula perubahan alam saat ini. Tidak bisa lagi kita mengelak bahwa perubahan alam telah banyak memengaruhi kehidupan manusia. Sesungguhnya laku kapitalisme yang mengeksploitasi alam sudah terlalu kompleks untuk kita lemparkan pertanggungjawaban atas problematika kita, belum lagi jika kita tidak sadar akan hal itu.

Memahami Tuhan, Manusia, dan Keterikatan Dalam Tutur Damuhmukti

Meminjam istilah Syarif Maulana dalam tulisannya tentang demotivasi, mentok-mentok kita akan terus dicekoki dengan “motivasi artifisial” yang terlampau individualis seperti “jadilah pekerja keras” tanpa tahu bahwa sistem itu sendiri yang membuat kita tidak bisa sama-sama memiliki penghidupan layak dan terjerat dalam problem-problem klasik ketimpangan kelas. Dan lagi-lagi, telah tampak jelas masyarakat kelas mana yang paling terdampak.

Kita mungkin telah sampai pada tahap mengkhawatirkan kualitas hidup dengan kenyataan dunia masa sekarang, namun yang pasti menciptakan ruang “bebas” masih sangat bisa dilakukan. Menciptakan ruang bagi kita untuk berdiskusi, berserikat, dan berjuang untuk kehidupan masih harus terus berlanjut. Salah satunya adalah dengan melihat dan bertanya, karena dengan itu kita bisa tanamkan keraguan kita pada kehidupan “normal” saat ini. Barangkali juga dengan membaca ‘Sumur’ perasaan dilematis itu akan terbangun kembali dalam diri masing-masing kita.

Pada akhirnya, Sumur hanya menunjukkan kenyataan sosial dengan sangat jujur. [T]

Tags: BukuCerpenEka Kurniawanresensi buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Iri Dulu, Berusaha Kemudian | Catatan Mahasiswa yang Biasa-Biasa Saja

Next Post

Gejolak Kenangan Pentas Teater “Rai Srimben” | Catatan Sutradara SMPN 1 Gerokgak

Putu Dinda Ayudia

Putu Dinda Ayudia

Mahasiswa ilmu komunikasi tahun ketiga. Menyukai fenomena dengan isu perempuan, adat, serta pendidikan. Saat ini punya dua hobi: main sama kucing dan nonton anime.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Gejolak Kenangan Pentas Teater “Rai Srimben” | Catatan Sutradara SMPN 1 Gerokgak

Gejolak Kenangan Pentas Teater “Rai Srimben” | Catatan Sutradara SMPN 1 Gerokgak

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co