23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca “Sembahyang Bhuvana” Karya Saras Dewi Dari Perspektif Wittgenstein

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
March 18, 2022
in Ulasan
Membaca “Sembahyang Bhuvana” Karya Saras Dewi Dari Perspektif Wittgenstein

Membaca Sembahyang Bhuvana karya Saras Dewi bagi saya adalah sebuah perjalanan panjang dari perjalanan tubuh, perjalanan pikiran, perjalanan spiritual, sekaligus pertanyaan yang belum hadir, memungkinkan segala hal yang terjadi; kemungkinan sekaligus segala ketakmungkinan.

Saya merindukan kelas filsafat bahasa yang bagi saya sangat saya gandrungi di kelas doctoral saya, dengan pengampu Prof. Januarius Mujiyanto. Kala itu saya mendapat pemahaman lebih dalam soal filsafat, dan kebetulan saya mendapat tugas membedah Wittgenstein.

 Ketika saya membaca Sembahyang Bhuvana, kembali saya menemukan Wittgenstein disini. Bahwa filsafat memang mempertemukan semua kerinduan pada sebuah pertanyaan yang belum hendak selesai.

Tulisan saya soal Wittgenstein dapat disimak di Tatkala.co:

  • Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein
Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein

Bagi saya, dalam sebuah peristiwa membaca buku, ada banyak realitas dan imajinasi yang dihidupkan kembali. Menariknya, tidak satupun dari model pikiran itu yang dapat kita pahami dengan utuh sebagai sebuah makna yang tunggal, sebab dia hanya representasi gagasan dengan bahasa.

Sementara bahasa tidak akan pernah cukup digunakan untuk merepresentasikan gagasan, sama juga dengan pelukis yang tak pernah bisa menyuguhkan realita dengan gambar, semirip apapun objek dengan subjek yang digambar. Selalu ada hal-hal yang tak dapat dijelaskan oleh bahasa, oleh kata, oleh metafora. Dan disinilah barangkali, ini hanya barangkali, kita bisa menangguhkan kembali keyakinan kita pada apapun. Alih-alih yakin, kita harus terus mengupayakan penerjemahan makna yang baru terhadap apapun. Sebab, lagi lagi, tak ada yang bisa kita bahasakan dengan cukup.

Bagi saya Sembahyang Bhuvana adalah rangkuman dari rentetan pertanyaan, pernyataan, kegelisahan, dan suara Saras Dewi

dalam mencoba merepresentasikan gagasannya dalam tiga hal; tubuh, seni, dan lingkungan. Saya membatasi penjelasan saya pada perspektif Wittgenstein dalam konteks Tractatus-Logico Philosophicus, sebuah batas yang membingkai tulisan ini.

Tubuh sebagai Awal Tanya

Dalam tulisan pembukanya, Saras mengemukakan ide tentang bagaimana dia memulai pelajaran filsafat di jurusan Filsafat, ketika dia berusia 17 tahun. Ditanya buku filsafat apa yang dia baca, sejenak dia menimbang antara Bhagavad Gita atau Apologia nya Plato.

Ruang lingkup ilmu filsafat menjadi sebuah cabang pertanyaan pertama. Batang tubuh filsafat adalah awal tanya. Bagaimana membedakan atau mengkotakkan ilmu filsafat dari sistematika logosnya. Bhagavad Gita bertumpu pada kesadaran manusia sedangkan Apologia bertumpu pada sistematika logos yang kokoh.

Namun kemudian Saras menyadari bahwa tubuh adalah wahana yang digunakan untuk mengurai makna, memaknai realitas, atau mendudukkan realitas, yang tidak semata tercapai dengan struktur yang formal dan logis, namun juga dengan struktur yang sakral, struktur yang tak dapat terkatakan, seperti dalam konteks budaya Bali, dimana tubuh seringkali menjadi sebuah sarana untuk upacara sakral semacam Tari Sang Hyang. Ada struktur yang tak dapat terdefinisikan dengan jernih, karena keterbatasan kita memberi definisi, atau juga karena keterbatasan pengalaman dan imajinasi.

Campagna dalam tulisan Saras ini meminjam Chandogya Upanisad soal keterbatasan bahasa. Disinilah kemudian Saras juga mengupas rasa frustasi Wittgeinstein soal keterbatasan bahasa. Bahwa apapun yang belum dapat dikatakan dengan jernih, harus dibuang dalam kesunyian, atau tak dikatakan sama sekali.

BACA JUGA:

Seni Dalam Lipatan Pandemi
Seni Dalam Lipatan Pandemi

Bagi Wittgenstein dalam Tractatus Logico-Philosophicus, khususnya dalam tractatus nomor 1.1 The world is the totality of facts, not of things

Dunia ini kumpulan fakta, dan bukan kumpulan benda. Fakta itu sendiri bukan datang dan jatuh tiba-tiba, sendiri dan terpisah dari fakta lainnya. Hal ini dia nyatakan dengan tractatus 1.11. The world is determined by the facts, and by their being all the facts.

Tubuh, dalam perspektif Wittgenstein, adalah kumpulan fakta-fakta, bukan benda. Bukan object. Bukan sama sekali. Ia adalah kumpulan fakta, yang tidak berdiri sendiri.

Pada pengantarnya ia menjelaskan bahwa tractatus berusaha memberi batasan pada pikiran, atau pengejawantahan pikiran, dimana di dalam pembatasan pemikiran itu, kita harus menentukan batas apa yang terpikirkan dan yang tak terpikirkan. Jadi pembatasan bertumpu pada bahasa, dan apa yang tak dapat dibahasakan adalah nonsense.

Dan secara rendah hati dia mengatakan bahwa kekuatannya tak cukup untuk menyelesaikan semua problem pikiran dan bahasa, dan menyilakan filsuf lain melengkapinya. Dan bahkan diapun kelak menggugat pikirannya sendiri.

Kembali ke Sembahyang Bhuvana, Saras Dewi mencoba menguraikan persoalan tubuh dengan lebih kompleks, bahwa tubuh tidak sesederhana yang kita lihat, karena dia merangkum segenap fakta-fakta, sebab-sebab, akibat-akibat, trauma-trauma, dan banyak pertanyaan lainnya. Sehingga definisi tubuh tidak akan pernah mungkin menjadi definisi tunggal, jernih, dan terang-benderang, namun harus terus menerus dikupas, bahkan hingga muncul lapisan-lapisan baru yang mengejutkan dan tak dapat dijelaskan.

Tubuh memiliki suara yang dibawanya dan memiliki beban yang diwakilinya secara ideologi dan spiritual. Bahwa tubuh memiliki sebuah kekebasan yang bergerak ke ‘dalam’ dan ke ‘luar’, sebagai tubuh yang mewakili diri sendiri, dan sebagai tubuh yang mewakili sistem pikiran masyarakat. Seperti yang ditulis Merleau-Ponty soal tubuh dan keterjalinannya dengan lingkungan, dimana menurut Merleau-Ponty bahwa tubuh adalah sebuah keterjalinan antara manusia dengan alam, dimana manusia diwakili oleh tubuhnya berinteraksi dengan alam.

Seni sebagai Angan untuk Pembebasan

Seni adalah sebuah gagasan yang kita rindukan, karena sesungguhnya kita rindu pada kebebasan. Kita rindu pada kebebasan, barangkali sekali saja, sebelum semua berakhir sia-sia (?) atau berakhir tak sesuai harapan. Lalu kematian menjemput. Jadi apakah seni?

Dalam tulisannya “Seni dalam Lipatan Pandemi”, Saras mengatakan bahwa seni bisa menjadi sebuah cara mengekspresikan rasa, sebuah luapan perasaan yang terpendam selama pandemi, sebuah komunikasi antar batin yang membangkitkan empati dan sekaligus sebuah harapan, sebagai salah satu pegangan dalam mengatasi keputusasaan.

Seni adalah sebuah halaman yang lapang untuk mempertahankan kemanusiaan kita, bahwa masih ada harapan, masih ada hal-hal yang perlu dikerjakan. Setidaknya masih ada makna yang bisa dicapai atau dilengkapi.

Karya seni pada akhirnya adalah salah satu cara bagi manusia berbagi kegelisahan melalui simbol-simbol realita.  Bahwa tujuan tidak pernah benar-benar kita raih, seperti rasa frustasi Wittgenstein pada realitas bahasa. Bahwa kita tak pernah benar-benar sampai. Ataukah apa mungkin kita benar-benar ingin sampai?

Saras menelusuri hal-hal yang lebih mendalam soal bagaimana seni mewakili hal-hal yang tak dapat kita terjemahkan dengan bahasa. Bahwa segala sesuatu adalah fenomena yang belum sepenuhnya dapat kita definisikan seperti bahasa yang belum dapat mengungkap dengan jernih sebuah fakta atau realita. Misalnya pada dunia Tari Sang Hyang dimana ada dua realitas tubuh; tubuh empiris dan tubuh non empiris. Di dalam dua realitas itu, selalu ada yang tak dapat dikatakan, sebuah fakta yang tak sesederhana bahasa, atau struktur logika.

Alam Sebagai yang Tak Terbatas Seluruhnya

Alam adalah sebuah realitas yang paling luas yang tak dapat didefinisikan dengan bahasa. Alam memiliki struktur sendiri, yang meskipun dikuliti dengan berbagai pendekatan saintifik, tetap menyisakan lubang besar dan hitam yang misteri. Apapun yang dilakukan oleh alam, hanya dapat dipahami oleh alam itu sendiri, dia bergerak dengan keinginannya sendiri, meskipun dapat dipicu atau diprovokasi oleh manusia.

Serangkaian fakta-fakta alam terlalu mustahil diterjemahkan dengan bahasa, sehingga dalam konteks laku budaya, alam memiliki pertautan dengan budaya. Dimana budaya memelihara alam, memuliakan alam adalah bahasa yang seharusnya digunakan untuk terus membuat alam ada, memelihara manusia dengan kebutuhannya.

Namun konteks ini berubah seiring dengan kemajuan jaman, bahwa alam diperalat untuk memahami manusia, bahkan dikerdilkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sehingga alampun membuat bahasa sendiri, yang sering disebut bencana.

BACA JUGA:

Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki
Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki

Saras Dewi dengan tawaran ekofeminisme mengatakan bahwa alam dan manusia harus berjalan beriringan, bukan berlawanan. Melalui kajian ritual Sang Hyang Dedari, Saras Dewi mengaktualisasikan teori Merleau-Ponty soal dualisme sisi alam yaitu sisi visible dan invisible. Sekala-niskala. Bhuana alit dan bhuana agung. Diri dan alam. Mikrokosmos dan makrokosmos.  Seperti kata Wittgenstein dalam tractatus nomor 6.522. There are, indeed, things that cannot be put into words. They make themselves manifest. They are what is mystical.

Alam adalah pemilik segala pengetahuan yang maha. Kita hanya sebagian kecil yang menerka-nerka, mencoba-coba berusaha, memahami dengan keterbatasan. Akhirnya kita tiba pada tractatus nomor 7. What we cannot speak about we must pass over in silence. Dan segala hal yang belum dapat disampaikan dengan jelas, jernih, dan betul-betul pasti, harus kita lempar dalam kesunyian. [T]

Referensi

  • Dewi, S. (2022). Sembahyang Bhuvana: Renungan Filosofis tentang Tubuh, Seni dan Lingkungan. Pojok Cerpen dan Tanda Baca.
  • Lycan, W.G. (2000). Philosophy of Language. Routledge Contemporary Introductions to Philosophy.
  • Wittgenstein, L. (1974). Tractatus Logico Philosophicus. Routledge Classic.

Catatan:

  • Tulisan ini akan disampaikan dalam acara panel diskusi Philosophy in Language and Thought, Mahima March March March, 19 Maret 2022
Tags: Bukufilsafatresensi bukuSaras DewiUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tiga Upaya yang Sebaiknya Dilakukan Untuk Menyelamatkan Joged Bumbung Klasik

Next Post

Hewan Pemakan Suara | Cerpen Fatah Anshori

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Hewan Pemakan Suara | Cerpen Fatah Anshori

Hewan Pemakan Suara | Cerpen Fatah Anshori

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co