14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hewan Pemakan Suara | Cerpen Fatah Anshori

Fatah Anshori by Fatah Anshori
March 19, 2022
in Cerpen
Hewan Pemakan Suara | Cerpen Fatah Anshori

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari karya Satia Guna

“Mereka mungkin serupa Singa Nemea, Burung Simurgh, atau hewan-hewan mengerikan di Mitologi Nordik bahkan mungkin lebih buruk dari itu, hanya Gin yang tahu bagaimana Nanda kini tidak bisa bicara.”

Aku kembali meneguk teh hangat di meja. Di luar hujan seperti mempertebal ingatanku pada bocah itu. Udara dingin mulai melumati setiap yang bisa merasakan suhu di ruangan ini. Mail yang duduk di sampingku mulai mengusap-usap bahu dengan telapak tangannya. Secara cepat dan hanya sekilas. Itu hanya gerakan alternatif untuk menghangatkan bagian tubuhnya yang terasa kedinginan secara tiba-tiba. Tak lama kemudian suara pemantik menciptakan api terdengar. Mail kembali menyulut sebatang rokok. Sementara aku merasa seperti sedang tenggelam pada kubangan lendir hitam pekat dan lengket. Aku memang tidak menyukai saat-saat di mana matahari surup di sebelah barat.

“Sandeolo!” Mail lalu menghisap lagi sebatang rokok yang terselip di sela jari telunjuk dan jari tengahnya.

Aku menatapnya sejenak dan hampir lupa bagaimana orang-orang desaku memberikan istilah pada sore atau senja di mana orang-orang masa kini sangat mendambakannya sebagai sebuah jeda yang patut dirayakan di luar rumah, di pinggir pantai, di kafe atau warung kopi yang saat ini semakin berjejalan di sudut-sudut kota. Sementara itu aku teringat bagaimana setiap anak kecil atau wajaranya orang-orang harus sudah berada di rumah masing-masing. Jika sudah menginjak sore, Setiap orang tua pasti akan mencari dan mengajak pulang anaknya yang sedang asyik bermain di luar sambil mengatakan, sandeolo ayo pulang. Lalu para orang tua menggandeng tangan anak-anaknya.

“Kau pasti sudah dengar sendiri dari Gin soal Nanda yang tak bisa bicara lagi.”

Aku mengangguk. Itu adalah sore dengan langit berwarna merah keungu-unguan. Nanda dan Gin memaksa untuk melanggar larangan para orang tua. Jangan pernah masuk ke barongan saat sore. Tapi semua anak kecil tahu tempat paling nyaman dan aman untuk bersembunyi adalah di dalam barongan. Dan anak-anak kecil juga tahu barongan adalah sarang Wewe Kopek, demit perempuan yang dipercaya orang-orang desa memiliki payudara menggantung hingga menyentuh tanah yang suka sekali menyembunyikan anak-anak di sela-sela payudara dan ketiaknya.

Nanda dan Gin sore itu memutuskan untuk masuk ke dalam barongan. Hanya bocah-bocah cengeng, goblok, dan penakut saja yang mempercayai kata-kata orang tua yang kebanyakan tidak masuk akal dan bohong dan kita dipaksa untuk memercayainya. Begitu gumam Gin pada Nanda. Sementara Nanda adalah bocah perempuan yang tidak seperti bocah perempuan kebanyakan. Ia mencintai kebanalan dan perkara-perkara menyimpang dengan kehendak orang pada umumnya, tak peduli benar atau salah, baik atau buruk. Ia selalu berada pada pilihan yang paling sedikit dipilih orang. Soal paras, jangan ditanya lagi ia memang gadis tomboi, namun tingkah laku lelakinya tak bisa melunturkan keayuan alami wajahnya. Di saat-saat itu dadanya juga sudah mulai tumbuh, ia benar-benar serupa mawar yang hendak merekah, dan harum aromanya sedikit-sedikit telah terhirup oleh orang-orang di sekitarnya, termasuk Gin.

Sebelum tragedi itu, Gin seperti insan yang ingin memulai kehidupan dari nol. Tapi itu mustahil, meski bengal Gin juga termasuk muslim seperti aku dan teman-teman desa lainnya. Jadi konsep reinkarnasi tentu tidak diimaninya. Ia merasa sangat berdosa, dan dosa di mata Gin serupa setumpuk penyesalan yang membebani kedua pundaknya. Sebelum ia tidak terlihat lagi untuk beberapa waktu yang tidak kami sadari, ia menemuiku saat sore menjelang magrib di sebuah gubuk yang berada di tengah-tengah ladang jagung keluargaku. Ia mendadak menghadangku yang hendak beranjak pulang. Bagaimanapun hanya anak tidak beradab yang tidak pulang ke rumah sewaktu sore menjelang.

“Tapi kau harus mendengar ini semua, jika kau benar-benar mencintai Nanda!” Gin seperti sedang mengacungkan lading ke depan leherku. Dari mana bocah yang paling aku benci di desa ini tahu perasaanku pada Nanda.

Ia memaksa untuk kembali duduk di dipan gubuk yang terbuat dari bambu itu.

“Aku tahu semuanya, aku tahu kau membenciku dan aku tahu kau terlalu mencintainya. Tapi yakinlah aku tidak melakukan apa-apa pada perempuan tomboi itu.”

Aku hanya diam saja waktu itu, memang siapa juga yang tahu kalo ia berkata jujur atau sedang berbohong. Apa yang berada di benak seseorang mustahil diketahui orang lain, kebenaran dan kepalsuannya jika tak ada bukti nyata.

“Aku akan menceritakan padamu semuanya, jadi simak baik-baik!” perintahnya. Aku pikir itu hanya semacam pembelaan agar dosa-dosa dipundaknya sedikit meringan. Tapi sedikit banyak aku sudah tahu apa yang mereka lakukan waktu itu, aku mengira-ngira semuanya. Dan entah kenapa sore itu aku ingin mendengarkan seluruh yang keluar dari mulut bocah itu.

*

Saat Kamni yang menjadi penjaga mulai menyandarkan dahinya di batang pohon mangga dan menutup mata sambil menghitung. Gin segera menggandeng tangan Nanda. Gin menatap Nanda sambil tersenyum, dalam senyumnya seolah ada maksud yang tersembunyi. Sementara wajah Nanda tampak biasa saja, tak ada tanda-tanda kecemasan sedikitpun. Ia memang perempuan yang semacam itu.

“Aku tahu tempat sembunyi paling aman dan bocah-bocah cengeng itu tak akan tahu,” ucap Gin sambil berlari melewati anak-anak lainnya yang berlarian ke sana kemari, kebingungan mencari tempat sembunyi paling aman.

Sementara Gin dan Nanda berbeda ia berlari ke arah timur melewati rumah-rumah warga, hingga ia sampai di hadapan barongan, tampak duri-duri pohon bambu menjalar ke sana kemari seolah melindungi diri mereka sekaligus mencegah tak ada yang boleh masuk ke dalamnya. Nanda sempat bertanya apakah ada jalan masuk ke dalam. Sementara Gin hanya tersenyum, seolah berkata ‘tentu saja’. Aroma tidak sedap sesekali tercium. Angin yang berhembus seolah membawa aroma-aroma yang entah dari mana. Saat itu aku mengamati mereka dari balik tumpukan karung berisi jerami kering. Dan ketika pandanganku teralihkan oleh beberapa lalat yang mengerubungi borok di lututku mereka berdua sudah tidak ada, seperti terhisap entah ke mana. Tidak lama kemudian sayup-sayup azan magrib terdengar dari kejauhan. Dan waktu itu aku segera berlari pulang, sambil mengingat wejangan para orang tua, ‘setiap anak harus di rumah menjelang magrib’ sambil berlari aku memikirkan dengan keras, ‘ke mana mereka berdua pergi?’.

Jawaban itu baru datang sekitar enam tahun kemudian. Ketika kami lulus SMA, dari mulut Gin yang entah bisa dipercaya atau tidak. Sebab semua bocah seisi desa tahu bahwa ia memang tukang bual. Tapi waktu itu aku heran dengan diriku sendiri yang dengan tanpa ada keterpaksaan mendengarkan seluruh cerita Gin hingga habis.

Begini ceritanya, menurut versi Gin yang akan kuceritakan seingatku.

Saat itu ia berhasil memasuki barongan melalui sebuah celah yang terbentuk dari lekukan-lekukan alami pohon bambu, dan hanya bisa dimasuki dengan merangkak. Gin dan Nanda merangkak bergantian. Dan saat mereka berdiri sambil mengibas-ngibaskan baju dan telapak tangan yang kotor, mereka melihat sebuah pemandangan yang berbeda. Gin hanya bergeming tidak percaya denga apa yang ia lihat, tidak seperti biasanya begitu pikirnya.

Sebelumnya, di dalam barongan yang berada di timur desa ia hanya mendapati tempat yang teduh. Dengan tanah yang dipenuhi daun-daun bambu kering, jika siang hari kau akan mendapati burung murai batu, cendet, juga bajing berseliweran di antara pohon-pohon bambu. Di dalamnya memang agak gelap, dan di sela-sela pohon bambu tumbuh beberapa tanaman liar sejenis umbi-umbian. Orang dulu mengatakan barongan tidak lebih adalah pagar desa, untuk menghalau balak, angin kencang, atau serangan kawanan hewan liar yang datang dari hutan. Tapi sejauh aku tinggal di desa, tak pernah ada serangan hewan liar atau semacamnya, yang ada hanya larangan dari orang tua agar anak-anak tak memasuki barongan.

*

“Tapi apa kau percaya cerita ayah Kamni yang mengatakan adanya pasar setan atau Wewe Kopek, lelembut perempuan dengan kedua payudara nglewer menyentuh tanah.”

“Goblok, itu hanya akal-akalan orang tua agar anak-anak kecil tak masuk ke barongan.” Mail mematikan putung rokoknya di asbak kayu yang berada di meja, dan kembali mengambil lagi dari bungkus rokoknya.

“Jika itu akal-akalan kenapa dulu kau tak berani masuk juga.”

“Bukan tidak berani aku hanya tidak tertarik.”

“Kau hanya tidak mau mengakui bahwa kau pernah takut,” aku kembali memandangi halaman rumah dari balik kaca jendela. Hujan masih belum reda. Hujan putih memang memiliki durasi waktu yang lebih lama, berjam-jam bahkan biasanya tembus pagi. Air sungai di sebelah selatan jalan raya tampak sudah mulai meluap. Orang-orang yang berada di tenda-tenda makan kaki lima tampak kesusahan atas hujan yang tidak terlalu deras namun enggan untuk berhenti. Air mulai menenggelamkan kaki-kaki kursi dan meja makan mereka. “Bukankah ketika Nanda kehilangan suara hujan juga turun seperti ini, apa kau ingat Il?”

“Aku bukan penderita Amnesia, Fud!” Mail mengangkat kedua kakinya ke atas kursi, lalu kembali menghisap sebatang rokok yang menyala di sela jari tangan kirinya. “Bagaimana aku lupa peristiwa besar di Tegal Singit, itu serupa G30SPKI di Indonesia, atau Holocaust di Eropa. hanya saja punya Tegal Singit ini lebih tidak masuk akal dan tak pernah tercatat dalam buku sejarah manapun.”

*

Usai magrib, menurut orang-orang desa masih dalam rentang waktu sandeolo. Langit mendadak putih dan hujan segera turun mengguyur Tegal Singit. Sore itu aku duduk di beranda mencemaskan mereka berdua, ah sejujurnya hanya Nanda yang aku cemaskan. Sama sekali tidak peduli pada Gin, bahkan jika ada kesempatan aku ingin memasukkannya ke lubang buaya, biar lenyap ia dari semesta. Aku  hanya bisa mengira-ngira apa yang terjadi dengan mereka sebelum Gin menceritakan semuanya padaku sore itu.

Ia melihat sebuah perayaan besar di pusat kota, lebih meriah dari karnaval HUT RI yang dirayakan setiap bulan Agustus di kecamatan-kecamatan, berkali-kali lipat katanya. Sesaat bocah itu—maksudku Gin—hanya terpaku, kakinya terasa berat, saat itu ia merasa ada yang aneh. Tapi Nanda tampak sumringah, ia seperti kupu-kupu yang baru keluar dari kepompongnya dan tentu saja Ia ingin segera terbang dengan sayao barunya.

“Kenapa kau tidak cerita dari dulu jika ada tempat yang semenyenangkan ini? Ini seratus kali lebih seru dari Pasar Malam di Kecamatan,” katanya sambil berlari tanpa menghadap ke arah bocah itu. “Ayo, tunggu apalagi!”

Nanda meraih tangan bocah itu, dan berlari di sekitar wahana bermain dan tenda-tenda kecil atau stan jualan. Stan-stan itu menjual apapun: makanan, mainan, juga pakaian. Tapi mereka berdua tidak bawa uang. Mereka berdua hanya berlari, tapi diam-diam bocah itu memperhatikan wajah orang-orang yang berada di sana, hampir dari semua yang tidak memakai topeng atau tidak tertutup rambut, memilik wajah yang tampak pucat mirip mayat katanya. Nanda sepertinya tidak pernah memperhatikan orang-orang yang berwajah pucat, atau ia sudah tahu tapi tidak terlalu peduli, begitu cerita Gin padaku.

“Lubang tadi seperti pintu ke mana saja milik Doraemon, aku ingin memukulmu Gin karena merahasiakannya.” Begitu ujar Nanda pada bocah itu, sambil melotot, sedikit jengkel dan tampak girang.

Hingga sampailah mereka di sebuah tenda besar serupa Dom atau gedung olahraga di kabupaten kota. Setelah membaca pernyataan di dekat pintu: Masuk Gratis. Nanda tentu saja mengajak bocah itu masuk. Tapi Gin hanya menggeleng, ia mengaku padaku bahwa ia benar-benar takut berada di tempat itu. Baru kali itu ia merasa takut. Nanda hanya tertawa sebentar, sambil mengejeknya dengan pernyataan yang tampak sepele. Tapi bocah itu merasa seperti sedang dihantam palu besar. Kau tidak asyik, begitu ujar Nanda sambil tertawa mengejek. Kemudian Nanda meninggalkannya sendirian. Ia memilih memasuki Dom sendiri, tanpa bocah itu.

Sehingga bocah itu mengaku tampak menyedihkan, mata orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya terasa seperti sedang menertawakannya dan secara tidak langsung mengatakan, bocah menyedihkan, pengecut, kampungan, cengeng. Tapi entah kenapa bocah itu tak bisa ke mana-mana, kakinya terasa berat. Tubuhnya tidak seperti biasanya seolah paku besar menancap dari kepala hingga jantung bumi. Hingga tidak lama kemudian ia merasakan ada sebuah tangan yang mendorongnya tapi ia tidak bisa menoleh ke belakang. Ia terhuyung-huyung lantas membuka pintu Dom itu. Di dalamnya ia menemukan Nanda berada di tengah-tengah Dom diselimuti kegelapan yang entah mengapa terasa pekat dan kental, ia duduk di lantai sendirian sambil memeluk lutut, sorot cahaya dari atas mengguyurnya. Bocah itu bertanya banyak pada Nanda, tapi tak satupun pertanyaan dijawab. Ia juga menggoyang-goyang bahu Nanda. Tapi Nanda tidak beranjak atau sedikitpun melawan. Saat itulah ia merasa Nanda telah berubah, ada sesuatu yang telah dicuri darinya. Tapi oleh siapa?

Hingga beberapa saat kemudian, Dom mendadak lenyap. Suara rebana, kentongan dan perkakas memasak yang dipukul dengan pemukul seadanya lamat-lamat terdengar mendekat. Kerumunan warga dusun dengan obor dan suara berisik perkusi menggantikan semuanya. Suasana hiruk pikuk kota yang tadi Bocah itu lihat mendadak lenyap entah ke mana. Itulah saat warga desa bersukaria menemukan Nanda dengan Bocah itu. Sebelum mereka tahu Nanda telah berubah dan bocah itu atau Gin yang dituduh orang-orang dusun menjadi penyebabnya. Setelah menceritakan semuanya Gin tidak pernah terlihat lagi di dusun. Mungkin saja ia tidak tahan dengan perlakuan orang-orang padanya. Aku juga tidak mengerti mana cerita yang bisa dipercaya mana yang tidak. Itu hanya cerita dari Gin yang aku ceritakan ulang seingatku.

*

“Jika seperti itu hanya Nanda yang tahu, apa yang terjadi.”

“Berarti tidak mungkin ada Burung Simurgh, Singa Nemea atau hewan pemakan suara, seperti yang sering kau ungkit-ungkit itu dari novel bersampul biru berilustrasi Datsun Bluebird tahun 1979 warna kuning.” Kataku sambil mendengus dan meliriknya dengan sedikit kebencian yang menggumpal di dada.

“Tapi apa yang tidak mungkin di dunia nyata, jika perkara-perkara tidak masuk akal sering terjadi.” Mail mendadak bangkit dari duduknya, dan berjalan masuk ke raung tengah. “Aku ingin ke toilet.”

Sepertinya aku juga sama, kandung kemihku sudah terasa penuh sejak tadi. [T]

—Januari 2021

_____

BACA PUISI DAN CERPEN FATAH ANSHORI YANG LAIN

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca “Sembahyang Bhuvana” Karya Saras Dewi Dari Perspektif Wittgenstein

Next Post

Percakapan Tengah Malam

Fatah Anshori

Fatah Anshori

Lahir di Lamongan, bukunya yang telah terbit Ilalang di Kemarau Panjang (2015), Hujan yang Hendak Menyalakan Api (2018), Melalui Mimpi, Ia Mencari Cinta yang Niscaya (Frase Pinggir, 2021). Cerpen dan puisinya telah dimuat beberapa media online, juga Majalah Suluk (DK Jatim), Terpilih sebagai Penulis Cerpen Unggulan Litera.co (2018). Bergiat di Guneman Sastra dan Songgolangit Creative Space.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Percakapan Tengah Malam

Percakapan Tengah Malam

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co