3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hewan Pemakan Suara | Cerpen Fatah Anshori

Fatah Anshori by Fatah Anshori
March 19, 2022
in Cerpen
Hewan Pemakan Suara | Cerpen Fatah Anshori

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari karya Satia Guna

“Mereka mungkin serupa Singa Nemea, Burung Simurgh, atau hewan-hewan mengerikan di Mitologi Nordik bahkan mungkin lebih buruk dari itu, hanya Gin yang tahu bagaimana Nanda kini tidak bisa bicara.”

Aku kembali meneguk teh hangat di meja. Di luar hujan seperti mempertebal ingatanku pada bocah itu. Udara dingin mulai melumati setiap yang bisa merasakan suhu di ruangan ini. Mail yang duduk di sampingku mulai mengusap-usap bahu dengan telapak tangannya. Secara cepat dan hanya sekilas. Itu hanya gerakan alternatif untuk menghangatkan bagian tubuhnya yang terasa kedinginan secara tiba-tiba. Tak lama kemudian suara pemantik menciptakan api terdengar. Mail kembali menyulut sebatang rokok. Sementara aku merasa seperti sedang tenggelam pada kubangan lendir hitam pekat dan lengket. Aku memang tidak menyukai saat-saat di mana matahari surup di sebelah barat.

“Sandeolo!” Mail lalu menghisap lagi sebatang rokok yang terselip di sela jari telunjuk dan jari tengahnya.

Aku menatapnya sejenak dan hampir lupa bagaimana orang-orang desaku memberikan istilah pada sore atau senja di mana orang-orang masa kini sangat mendambakannya sebagai sebuah jeda yang patut dirayakan di luar rumah, di pinggir pantai, di kafe atau warung kopi yang saat ini semakin berjejalan di sudut-sudut kota. Sementara itu aku teringat bagaimana setiap anak kecil atau wajaranya orang-orang harus sudah berada di rumah masing-masing. Jika sudah menginjak sore, Setiap orang tua pasti akan mencari dan mengajak pulang anaknya yang sedang asyik bermain di luar sambil mengatakan, sandeolo ayo pulang. Lalu para orang tua menggandeng tangan anak-anaknya.

“Kau pasti sudah dengar sendiri dari Gin soal Nanda yang tak bisa bicara lagi.”

Aku mengangguk. Itu adalah sore dengan langit berwarna merah keungu-unguan. Nanda dan Gin memaksa untuk melanggar larangan para orang tua. Jangan pernah masuk ke barongan saat sore. Tapi semua anak kecil tahu tempat paling nyaman dan aman untuk bersembunyi adalah di dalam barongan. Dan anak-anak kecil juga tahu barongan adalah sarang Wewe Kopek, demit perempuan yang dipercaya orang-orang desa memiliki payudara menggantung hingga menyentuh tanah yang suka sekali menyembunyikan anak-anak di sela-sela payudara dan ketiaknya.

Nanda dan Gin sore itu memutuskan untuk masuk ke dalam barongan. Hanya bocah-bocah cengeng, goblok, dan penakut saja yang mempercayai kata-kata orang tua yang kebanyakan tidak masuk akal dan bohong dan kita dipaksa untuk memercayainya. Begitu gumam Gin pada Nanda. Sementara Nanda adalah bocah perempuan yang tidak seperti bocah perempuan kebanyakan. Ia mencintai kebanalan dan perkara-perkara menyimpang dengan kehendak orang pada umumnya, tak peduli benar atau salah, baik atau buruk. Ia selalu berada pada pilihan yang paling sedikit dipilih orang. Soal paras, jangan ditanya lagi ia memang gadis tomboi, namun tingkah laku lelakinya tak bisa melunturkan keayuan alami wajahnya. Di saat-saat itu dadanya juga sudah mulai tumbuh, ia benar-benar serupa mawar yang hendak merekah, dan harum aromanya sedikit-sedikit telah terhirup oleh orang-orang di sekitarnya, termasuk Gin.

Sebelum tragedi itu, Gin seperti insan yang ingin memulai kehidupan dari nol. Tapi itu mustahil, meski bengal Gin juga termasuk muslim seperti aku dan teman-teman desa lainnya. Jadi konsep reinkarnasi tentu tidak diimaninya. Ia merasa sangat berdosa, dan dosa di mata Gin serupa setumpuk penyesalan yang membebani kedua pundaknya. Sebelum ia tidak terlihat lagi untuk beberapa waktu yang tidak kami sadari, ia menemuiku saat sore menjelang magrib di sebuah gubuk yang berada di tengah-tengah ladang jagung keluargaku. Ia mendadak menghadangku yang hendak beranjak pulang. Bagaimanapun hanya anak tidak beradab yang tidak pulang ke rumah sewaktu sore menjelang.

“Tapi kau harus mendengar ini semua, jika kau benar-benar mencintai Nanda!” Gin seperti sedang mengacungkan lading ke depan leherku. Dari mana bocah yang paling aku benci di desa ini tahu perasaanku pada Nanda.

Ia memaksa untuk kembali duduk di dipan gubuk yang terbuat dari bambu itu.

“Aku tahu semuanya, aku tahu kau membenciku dan aku tahu kau terlalu mencintainya. Tapi yakinlah aku tidak melakukan apa-apa pada perempuan tomboi itu.”

Aku hanya diam saja waktu itu, memang siapa juga yang tahu kalo ia berkata jujur atau sedang berbohong. Apa yang berada di benak seseorang mustahil diketahui orang lain, kebenaran dan kepalsuannya jika tak ada bukti nyata.

“Aku akan menceritakan padamu semuanya, jadi simak baik-baik!” perintahnya. Aku pikir itu hanya semacam pembelaan agar dosa-dosa dipundaknya sedikit meringan. Tapi sedikit banyak aku sudah tahu apa yang mereka lakukan waktu itu, aku mengira-ngira semuanya. Dan entah kenapa sore itu aku ingin mendengarkan seluruh yang keluar dari mulut bocah itu.

*

Saat Kamni yang menjadi penjaga mulai menyandarkan dahinya di batang pohon mangga dan menutup mata sambil menghitung. Gin segera menggandeng tangan Nanda. Gin menatap Nanda sambil tersenyum, dalam senyumnya seolah ada maksud yang tersembunyi. Sementara wajah Nanda tampak biasa saja, tak ada tanda-tanda kecemasan sedikitpun. Ia memang perempuan yang semacam itu.

“Aku tahu tempat sembunyi paling aman dan bocah-bocah cengeng itu tak akan tahu,” ucap Gin sambil berlari melewati anak-anak lainnya yang berlarian ke sana kemari, kebingungan mencari tempat sembunyi paling aman.

Sementara Gin dan Nanda berbeda ia berlari ke arah timur melewati rumah-rumah warga, hingga ia sampai di hadapan barongan, tampak duri-duri pohon bambu menjalar ke sana kemari seolah melindungi diri mereka sekaligus mencegah tak ada yang boleh masuk ke dalamnya. Nanda sempat bertanya apakah ada jalan masuk ke dalam. Sementara Gin hanya tersenyum, seolah berkata ‘tentu saja’. Aroma tidak sedap sesekali tercium. Angin yang berhembus seolah membawa aroma-aroma yang entah dari mana. Saat itu aku mengamati mereka dari balik tumpukan karung berisi jerami kering. Dan ketika pandanganku teralihkan oleh beberapa lalat yang mengerubungi borok di lututku mereka berdua sudah tidak ada, seperti terhisap entah ke mana. Tidak lama kemudian sayup-sayup azan magrib terdengar dari kejauhan. Dan waktu itu aku segera berlari pulang, sambil mengingat wejangan para orang tua, ‘setiap anak harus di rumah menjelang magrib’ sambil berlari aku memikirkan dengan keras, ‘ke mana mereka berdua pergi?’.

Jawaban itu baru datang sekitar enam tahun kemudian. Ketika kami lulus SMA, dari mulut Gin yang entah bisa dipercaya atau tidak. Sebab semua bocah seisi desa tahu bahwa ia memang tukang bual. Tapi waktu itu aku heran dengan diriku sendiri yang dengan tanpa ada keterpaksaan mendengarkan seluruh cerita Gin hingga habis.

Begini ceritanya, menurut versi Gin yang akan kuceritakan seingatku.

Saat itu ia berhasil memasuki barongan melalui sebuah celah yang terbentuk dari lekukan-lekukan alami pohon bambu, dan hanya bisa dimasuki dengan merangkak. Gin dan Nanda merangkak bergantian. Dan saat mereka berdiri sambil mengibas-ngibaskan baju dan telapak tangan yang kotor, mereka melihat sebuah pemandangan yang berbeda. Gin hanya bergeming tidak percaya denga apa yang ia lihat, tidak seperti biasanya begitu pikirnya.

Sebelumnya, di dalam barongan yang berada di timur desa ia hanya mendapati tempat yang teduh. Dengan tanah yang dipenuhi daun-daun bambu kering, jika siang hari kau akan mendapati burung murai batu, cendet, juga bajing berseliweran di antara pohon-pohon bambu. Di dalamnya memang agak gelap, dan di sela-sela pohon bambu tumbuh beberapa tanaman liar sejenis umbi-umbian. Orang dulu mengatakan barongan tidak lebih adalah pagar desa, untuk menghalau balak, angin kencang, atau serangan kawanan hewan liar yang datang dari hutan. Tapi sejauh aku tinggal di desa, tak pernah ada serangan hewan liar atau semacamnya, yang ada hanya larangan dari orang tua agar anak-anak tak memasuki barongan.

*

“Tapi apa kau percaya cerita ayah Kamni yang mengatakan adanya pasar setan atau Wewe Kopek, lelembut perempuan dengan kedua payudara nglewer menyentuh tanah.”

“Goblok, itu hanya akal-akalan orang tua agar anak-anak kecil tak masuk ke barongan.” Mail mematikan putung rokoknya di asbak kayu yang berada di meja, dan kembali mengambil lagi dari bungkus rokoknya.

“Jika itu akal-akalan kenapa dulu kau tak berani masuk juga.”

“Bukan tidak berani aku hanya tidak tertarik.”

“Kau hanya tidak mau mengakui bahwa kau pernah takut,” aku kembali memandangi halaman rumah dari balik kaca jendela. Hujan masih belum reda. Hujan putih memang memiliki durasi waktu yang lebih lama, berjam-jam bahkan biasanya tembus pagi. Air sungai di sebelah selatan jalan raya tampak sudah mulai meluap. Orang-orang yang berada di tenda-tenda makan kaki lima tampak kesusahan atas hujan yang tidak terlalu deras namun enggan untuk berhenti. Air mulai menenggelamkan kaki-kaki kursi dan meja makan mereka. “Bukankah ketika Nanda kehilangan suara hujan juga turun seperti ini, apa kau ingat Il?”

“Aku bukan penderita Amnesia, Fud!” Mail mengangkat kedua kakinya ke atas kursi, lalu kembali menghisap sebatang rokok yang menyala di sela jari tangan kirinya. “Bagaimana aku lupa peristiwa besar di Tegal Singit, itu serupa G30SPKI di Indonesia, atau Holocaust di Eropa. hanya saja punya Tegal Singit ini lebih tidak masuk akal dan tak pernah tercatat dalam buku sejarah manapun.”

*

Usai magrib, menurut orang-orang desa masih dalam rentang waktu sandeolo. Langit mendadak putih dan hujan segera turun mengguyur Tegal Singit. Sore itu aku duduk di beranda mencemaskan mereka berdua, ah sejujurnya hanya Nanda yang aku cemaskan. Sama sekali tidak peduli pada Gin, bahkan jika ada kesempatan aku ingin memasukkannya ke lubang buaya, biar lenyap ia dari semesta. Aku  hanya bisa mengira-ngira apa yang terjadi dengan mereka sebelum Gin menceritakan semuanya padaku sore itu.

Ia melihat sebuah perayaan besar di pusat kota, lebih meriah dari karnaval HUT RI yang dirayakan setiap bulan Agustus di kecamatan-kecamatan, berkali-kali lipat katanya. Sesaat bocah itu—maksudku Gin—hanya terpaku, kakinya terasa berat, saat itu ia merasa ada yang aneh. Tapi Nanda tampak sumringah, ia seperti kupu-kupu yang baru keluar dari kepompongnya dan tentu saja Ia ingin segera terbang dengan sayao barunya.

“Kenapa kau tidak cerita dari dulu jika ada tempat yang semenyenangkan ini? Ini seratus kali lebih seru dari Pasar Malam di Kecamatan,” katanya sambil berlari tanpa menghadap ke arah bocah itu. “Ayo, tunggu apalagi!”

Nanda meraih tangan bocah itu, dan berlari di sekitar wahana bermain dan tenda-tenda kecil atau stan jualan. Stan-stan itu menjual apapun: makanan, mainan, juga pakaian. Tapi mereka berdua tidak bawa uang. Mereka berdua hanya berlari, tapi diam-diam bocah itu memperhatikan wajah orang-orang yang berada di sana, hampir dari semua yang tidak memakai topeng atau tidak tertutup rambut, memilik wajah yang tampak pucat mirip mayat katanya. Nanda sepertinya tidak pernah memperhatikan orang-orang yang berwajah pucat, atau ia sudah tahu tapi tidak terlalu peduli, begitu cerita Gin padaku.

“Lubang tadi seperti pintu ke mana saja milik Doraemon, aku ingin memukulmu Gin karena merahasiakannya.” Begitu ujar Nanda pada bocah itu, sambil melotot, sedikit jengkel dan tampak girang.

Hingga sampailah mereka di sebuah tenda besar serupa Dom atau gedung olahraga di kabupaten kota. Setelah membaca pernyataan di dekat pintu: Masuk Gratis. Nanda tentu saja mengajak bocah itu masuk. Tapi Gin hanya menggeleng, ia mengaku padaku bahwa ia benar-benar takut berada di tempat itu. Baru kali itu ia merasa takut. Nanda hanya tertawa sebentar, sambil mengejeknya dengan pernyataan yang tampak sepele. Tapi bocah itu merasa seperti sedang dihantam palu besar. Kau tidak asyik, begitu ujar Nanda sambil tertawa mengejek. Kemudian Nanda meninggalkannya sendirian. Ia memilih memasuki Dom sendiri, tanpa bocah itu.

Sehingga bocah itu mengaku tampak menyedihkan, mata orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya terasa seperti sedang menertawakannya dan secara tidak langsung mengatakan, bocah menyedihkan, pengecut, kampungan, cengeng. Tapi entah kenapa bocah itu tak bisa ke mana-mana, kakinya terasa berat. Tubuhnya tidak seperti biasanya seolah paku besar menancap dari kepala hingga jantung bumi. Hingga tidak lama kemudian ia merasakan ada sebuah tangan yang mendorongnya tapi ia tidak bisa menoleh ke belakang. Ia terhuyung-huyung lantas membuka pintu Dom itu. Di dalamnya ia menemukan Nanda berada di tengah-tengah Dom diselimuti kegelapan yang entah mengapa terasa pekat dan kental, ia duduk di lantai sendirian sambil memeluk lutut, sorot cahaya dari atas mengguyurnya. Bocah itu bertanya banyak pada Nanda, tapi tak satupun pertanyaan dijawab. Ia juga menggoyang-goyang bahu Nanda. Tapi Nanda tidak beranjak atau sedikitpun melawan. Saat itulah ia merasa Nanda telah berubah, ada sesuatu yang telah dicuri darinya. Tapi oleh siapa?

Hingga beberapa saat kemudian, Dom mendadak lenyap. Suara rebana, kentongan dan perkakas memasak yang dipukul dengan pemukul seadanya lamat-lamat terdengar mendekat. Kerumunan warga dusun dengan obor dan suara berisik perkusi menggantikan semuanya. Suasana hiruk pikuk kota yang tadi Bocah itu lihat mendadak lenyap entah ke mana. Itulah saat warga desa bersukaria menemukan Nanda dengan Bocah itu. Sebelum mereka tahu Nanda telah berubah dan bocah itu atau Gin yang dituduh orang-orang dusun menjadi penyebabnya. Setelah menceritakan semuanya Gin tidak pernah terlihat lagi di dusun. Mungkin saja ia tidak tahan dengan perlakuan orang-orang padanya. Aku juga tidak mengerti mana cerita yang bisa dipercaya mana yang tidak. Itu hanya cerita dari Gin yang aku ceritakan ulang seingatku.

*

“Jika seperti itu hanya Nanda yang tahu, apa yang terjadi.”

“Berarti tidak mungkin ada Burung Simurgh, Singa Nemea atau hewan pemakan suara, seperti yang sering kau ungkit-ungkit itu dari novel bersampul biru berilustrasi Datsun Bluebird tahun 1979 warna kuning.” Kataku sambil mendengus dan meliriknya dengan sedikit kebencian yang menggumpal di dada.

“Tapi apa yang tidak mungkin di dunia nyata, jika perkara-perkara tidak masuk akal sering terjadi.” Mail mendadak bangkit dari duduknya, dan berjalan masuk ke raung tengah. “Aku ingin ke toilet.”

Sepertinya aku juga sama, kandung kemihku sudah terasa penuh sejak tadi. [T]

—Januari 2021

_____

BACA PUISI DAN CERPEN FATAH ANSHORI YANG LAIN

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca “Sembahyang Bhuvana” Karya Saras Dewi Dari Perspektif Wittgenstein

Next Post

Percakapan Tengah Malam

Fatah Anshori

Fatah Anshori

Lahir di Lamongan, bukunya yang telah terbit Ilalang di Kemarau Panjang (2015), Hujan yang Hendak Menyalakan Api (2018), Melalui Mimpi, Ia Mencari Cinta yang Niscaya (Frase Pinggir, 2021). Cerpen dan puisinya telah dimuat beberapa media online, juga Majalah Suluk (DK Jatim), Terpilih sebagai Penulis Cerpen Unggulan Litera.co (2018). Bergiat di Guneman Sastra dan Songgolangit Creative Space.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Percakapan Tengah Malam

Percakapan Tengah Malam

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co